Tak terasa waktu telah membawa kita ke dunia yang tak pernah kita ketahui, dunia seperti apakah itu. Terkadang aku berfikir, ini hanya permainan belaka, namun setelah kita menciptakan begitu banyak kenangan yang hanya tersimpan dalam memori, aku baru menyadari, waktu yang berjalan itu membuat kita semakin dekat, hingga tak ada batasan di antara kita.
Semakin hari, semakin dekat, hingga aku mulai ingin menarik kembali diriku yang begitu dekat denganmu, aku ingin mengembalikan hubungan kita kembali menjadi teman biasa, aku hanya ingin kita bisa saling memiliki hanya sebatas teman, tidak untuk lebih.
Aku hanya takut untuk mencintaimu, aku takut untuk sayang kamu lebih dari sebatas teman, aku takut untuk merasa sakit dan kehilangan, karena aku begitu berbeda denganmu, aku tak pantas untukmu, karena kamu begiru bersinar, begitu indah, dan terlallu berharga untuk ku miliki.
Aku hanya seseorang yang tidak begitu bersinar, aku begitu 'jauh' darimu, aku tak pantas untukmu, intinya, aku tak ingin mencintai seseorang yang begitu 'tinggi' dariku.
Arrrrrrrrrrrrrrrrrgth!!
Tapi permasalahan terbesarnya adalah, cinta itu tidak bisa memilih, dan aku tidak bisa menarik kembali diriku yang telah jatuh untukmu. Aku harus bagaimana? Aku bingung.
Meski aku tau kamu suka yang lain, tapi tetap aja kamu dekat denganku. Seandainya aku bisa mengulang waktu, andai aku tidak memulainya duluan. Tapi tetap aja, nggak ada kata 'Seandainya'.
Kini, aku hanya bisa berdoam agar Tuhan menjaga hatiku, agar aku tak jatuh untukmu.
_karena Tuhan lebih tau apa yang terbaik untuk hambaNya.
Trrrrrrrrrrrrt trrrrrrrrrrrrrrt,,,
"Assalamu'alaikum, Rin?" suara di seberang menyapaku ramah.
"Wa'alaikumsalam, Rey. Ada apa?" tanyaku datar.
"Nggak ada, cuma mau ngobrol aja sama Rin, Rin nggak sibuk, kan?" ramah, to the point, dan nggak basa-basi.
"Mau ngobrol apa, Rey?"
"Rin tau nggak, Rin itu sebenarnya manis lho, Rin nyadar nggak, klo Rin itu terkadang bisa membuat cowok salah tingkah hanya karena mbak lihatin, makanya Rin, jangan minder ya Rin." aku hanya bisa tersenyum tipis menanggapi kata-katanya yang terdengar serius.
"Iya. Tapi klo dipikir-pikir, tumben banget lu ngomong gue manis, sejak kapan, ni?" tanyaku diiringi tawa renyah.
"Gue serius, Rin."
"Yayaya. Gue boleh ngomong sesuatu nggak, Rey?"
"Apa?"
"Kalau boleh jujur, gue takut dengan hubungan kita yang begitu dekat, gue takut jatuh cinta sama loe, Ray." kataku meluncur mulus.
"...."
tak ada jawaban dari seberang.
"Rey..."
"Gue juga sama. Gue juga takut. Terus, loe punya solusi untuk masalah ini?" tanyanya terdengar serius.
"Hmm... apa ya? gimana kalau untuk simester depan, kita hanya sms or nelponan kalau ada perlu, kalau nggak, ya nggak usah, gimana?"
"Hmm... loe yakin bisa?"
"..."
"Rin..."
"Ya. Gue yakin bisa, kita coba aja, gimana?"
"Ok, kalau loe udah mantap sama keyakinan loe, gue setuju. Mulai simester depan, kita contek-an kalau hanya ada perlu penting, kalau nggak, diam. Deal?"
"Deal."
"Ok lah kalau begitu, kita mulai dari hari ini ya, bye, Assalamu'alaikum, Rin."
"Wa'alaikumsalam, Rey."
_________________to be continue..
Minggu, 30 Juni 2013
Senin, 24 Juni 2013
Pusing
"Kalau di pikir-pikir, yang kamu katakan itu sama sekali tidak masuk akal, bikin pusing aja" Darman geleng-geleng kepala sambil memasukkan sepotong kue ke mulutnya.
"Lho, aku cuma mengatakan yang pernah aku baca, salah?" Salim cemberut.
"Buku yang kamu baca yang salah, atau pemikiranmu yang nggak benar? nggak mungkin banget Tuhan serupa dengan manusia." Heri kembali fokus ke laptopnya.
"Buku itu yang sesat, bukan aku." Salim kembali membaca buku.
"Kalau memikirkan Dzat Tuhan, hanya akan membuat manusia pusing dan sesat. padahal sudah jelas dikatakan, jangan pernah memikirkan bentukk Tuhan, namun pikirkan apa yang diciptakanNya." kata Heri sambil menutup laptopnya.
" Ya udah, pulang yuk. sebentar lagi adzan." lanjutnya sambil bangun dari duduknya.
tanpa kata, ke tiga prmuda itu pun keluar dari coffe dan serempak menuju mesjid untuk menunggu adzan dhuhur dan sekaligus melaksanakan ibadah shalat dhuhur berjama'ah.
"Lho, aku cuma mengatakan yang pernah aku baca, salah?" Salim cemberut.
"Buku yang kamu baca yang salah, atau pemikiranmu yang nggak benar? nggak mungkin banget Tuhan serupa dengan manusia." Heri kembali fokus ke laptopnya.
"Buku itu yang sesat, bukan aku." Salim kembali membaca buku.
"Kalau memikirkan Dzat Tuhan, hanya akan membuat manusia pusing dan sesat. padahal sudah jelas dikatakan, jangan pernah memikirkan bentukk Tuhan, namun pikirkan apa yang diciptakanNya." kata Heri sambil menutup laptopnya.
" Ya udah, pulang yuk. sebentar lagi adzan." lanjutnya sambil bangun dari duduknya.
tanpa kata, ke tiga prmuda itu pun keluar dari coffe dan serempak menuju mesjid untuk menunggu adzan dhuhur dan sekaligus melaksanakan ibadah shalat dhuhur berjama'ah.
Jumat, 14 Juni 2013
يا ربي
إنت بعدك حلوة وصرتى أحلى
شو هالصدفة مافى أحلى
وقلبى بيشوفك يا ما استحلى قوليلى كيفك انت
انت بعدك وما بتتغير
محيرلى قلبى ومحير
وبعدو قلبك طفل صغير طمننى كيفك انت
ماشى نتذكر عا دروب
ويمرجحنا الغرام
ليش بعدنا وكيف قدرنا
ننسى هاك الأحلام
ياليل البعدو ناطرنا
عا مفارق هالايام
ياربى تدوم ايامنا سوى
ويبقى عا طول جامعنا الهوى
ياربى تدوم ياربى تدوم
يارب تعيد هالحب اللى كان
احلى بكتير من الماضى كمان
ياربى تعيد يا ربى تعيد
شو هالصدفة مافى أحلى
وقلبى بيشوفك يا ما استحلى قوليلى كيفك انت
انت بعدك وما بتتغير
محيرلى قلبى ومحير
وبعدو قلبك طفل صغير طمننى كيفك انت
ماشى نتذكر عا دروب
ويمرجحنا الغرام
ليش بعدنا وكيف قدرنا
ننسى هاك الأحلام
ياليل البعدو ناطرنا
عا مفارق هالايام
ياربى تدوم ايامنا سوى
ويبقى عا طول جامعنا الهوى
ياربى تدوم ياربى تدوم
يارب تعيد هالحب اللى كان
احلى بكتير من الماضى كمان
ياربى تعيد يا ربى تعيد
Langganan:
Postingan (Atom)