Jumat, 20 Desember 2013
Kamis, 19 Desember 2013
Love Story

Satu jam yang lalu
“Maaf, An. Aku udah nggak bisa ngelanjutin hubungan ini.
Aku sedang ingin sendiri.”
Ucapan itu mengalun begitu lembut dari bibirnya. Tak ada
keraguan di sana. Kata-kata itu begitu tegas, namun, tak bermakna. Dan sebutan
nama itu telah berganti, dari sebutan abang, menjadi An akhir dari namaku_ Aan,
aku sempat tersentak, namun semua masih bisa ku hadapi dengan tenang.
“Ya udah, untuk saat ini, kamu sendiri aja dulu, abang
janji, nggak bakalan ngeganggu kamu dulu.”
“An, ku mohon. Aku benar-benar ingin sendiri, dan focus
pada kuliahku, aku belum berfikir untuk serius menikah, jadi, aku harap kamu
mengerti. Aku masih ada impian dan harapan yang masih belum tercapai, jadi,
hubungan ini, kita cukupkan sampai di sini saja, ya. Maaf.”
Tanpa menghiraukanku, ia pergi begitu saja setelah
kata-kata itu keluar dari mulutnya. Meninggalkanku yang masih terdiam membisu.
Aku masih menatap kepergiannya hingga ia hilang di balik dinding kampusnya.
Aku hanya tersenyum sambil melangkah pergi meninggalkan
kampus itu. Aku memutar balik mobilku, dan melajukannya dengan kecepatan
tinggi. Aku tak peduli, apa yang akan terjadi selanjutnya, yang jelas sekarang
yang ku inginkan adalah mengadu padaNya. Aku tak butuh siapa-siapa sekarang,
yang ku butuhkan hanya lah ketenangan.
Ketika
kau hadir dalam hidupku, mengganggu pikiranku, dan merusak fokusku, aku tak
keberatan. Saat kau hadir mengacaukan semua pekerjaanku, membuatku tak mampu
berkutik, aku tak marah. Namun, saat kau hadir menghancurkan semua mimpiku,
membuatku tersakiti begitu dalam, hingga untuk berdiripun aku tak mampu. Kau
hadir dengan sejuta alasan agar kita putus. Aku tak menyangka, hanya sebatas
itu kau menyayangiku, hanya sebesar itu cintamu padaku?? Begitu mudahnya kau
menghancurkan semua yang telah terbina. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat,
dan begitu banyak kenangan yang telah tebingkai indah dalam memori. Tak ku
sangka, kau mampu mengucapkan kata pisah hanya karena alasan, kau sedang ingin
sendiri, aku tak percaya.
Sepersekian menit kemudian, mobilku masuk jurang, aku tak
tau bagaimana jelas kejadiannya, karena begitu cepatnya mobil yang ku
kemudikan, aku tak tau, mengapa ini bisa terjadi, yang pasti sekarang aku
begitu kesakitan hingga tak mampu bernafas, hanya suara segerombolan
orang-orang yang terdengar di telingaku. Begitu dekat dan keras, namun perlahan
suara itu memudar, hingga aku tak mampu mendengar apa pun.
Hening
Sepi
Hitam
Seminggu kemudian
“Aan…”
Suara
itu terdengar lirih. Itu suara mama, perlahan ku mampu membuka mataku,
samar-samar terlihat orang-orang di sekelilingku. Semakin jelas ku melihat,
mereka keluargaku, mama, papa, dik Arin dan perempuan yang menyakitiku, Icha.
“Sayang, kamu kenal mama, papa, dik Arin dan Icha, ingat
nggak sayang?”
Aku tak tahu apa penjelasan dokter tentangku hingga mama
menanyakanku tentang mereka. Namun, ku fikir, ini ada bagusnya juga, jadi aku
bisa pura-pura lupa ingatan tentang Icha.
“Bang…” suaranya masih seindah dulu, namun, itu takkan
membuatku merubah keputusanku.
“Siapa?”
Wajahnya
sedikit berubah saat aku bertanya siapa dirinya. Mungkin aku bisa dibilang
cowok paling tega, karena jujur, mata Icha masih berkaca-kaca saat ia memanggilku,
dan aku sama sekali tak menyangka, air matanya jatuh.
“Maaf, tapi, aku benar-benar nggak tau.” Aku jadi nggak
tega. Aku masih sangat menyayanginya, meski kata-kata yang diucapkan hari itu
begitu menyakitiku.
“Ma,
berapa lama Aan tak sadarkan diri? Kenapa Aan bisa di sini?” ku alihkan
pandanganku ke mama yang hanya tersenyum.
“Seminggu sayang. Mobilmu jatuh ke jurang sepulang ngantar
Icha ke kampusnya.” Jawab mama sambil mengelus rambutku.
“Icha…?” suaraku lirih, kembali ku tatap wajah itu.
Matanya sembab, dia hanya menunduk.
“Dokter bilang, kamu hanya butuh istirahat penuh, karena
kepalamu masih harus di ronsen, tak ada kemungkinan kamu lupa ingatan, An, jadi
kamu masih baik-baik saja, hanya butuh istirahat penuh. Mamamu terlalu
khawatir, makanya dia nanya ke kamu, apa masih kenal mama, papa, Arin dan Icha.
Kamu, sih, kalau mengemudi itu, pasang sabuk pengaman, jadi kamu pun aman, ini,
karena kecerobohanmu, kamu terlempar keluar mobil, hingga kepalamu membentur
batu besar, syukur kamu selamat dan tak apa-apa.”
Penjelasan
panjang papa itu membuatku membisu. Jadi, percuma aku pura-pura tak ingat Icha
dong! Arrrgh! Kenapa jadi begini, sih.
“Udah
papa. Sayang, papa, mama dan dik Arin
keluar sebentar ya, sayang. Sepertinya, kalian berdua harus bicara. “
Mereka keluar dari ruanganku di rawat. Perlahan Icha
mendekatiku. Ia duduk di sisi ranjang tempat ku berbaring. Aku benar-benar
membeku, tak tahu harus bagaimana. Ketahuan bohong itu sama sekali tak enak.
“Aku tau abang cuma pura-pura nggak kenal aku. Tapi,
kalau memang itu yang abang mau, aku terima. Aku pantas dapatin perlakuan
seperti itu, bahkan lebih, mungkin. Bang, aku benar-benar menyesal dan ingin
meminta maaf. Aku udah nggak tau harus ngapain.”
Ia berhenti sejenak sambil menyeka air matanya yang mulai
kembali mengalir. Air mata itu adalah kelemahanku, Cha, dan kamu tau itu.
“Aku mulai menyukai orang lain, bang. Aku mulai
menyayanginya sebulan yang lalu, namun, aku tak berani bicara sama abang, aku
takut abang marah dan tersakiti. Aku sayang abang, meski kita pacaran, tapi aku
tak bisa membalas cinta abang yang begitu dalam untukku. Aku minta maaf bang.”
Aku hanya mampu diam. Tak ada yang perlu ku katakana,
Icha…
“Tapi, saat abang masuk rumah sakit, aku baru sadar,
ternyata orang yang paling kubutuhkan adalah abang, aku baru menyadari kalau abang
adalah orang yang paling penting bagiku. Aku nggak mau yang lain, aku hanya
ingin abang sembuh dan kembali ada untukku.”
Kali ini aku hanya bisa tersenyum. Wajahnya memerah dan
ia kembali menunduk. Isaknya masih terdengar.
Hening…
Tak ada lanjutan dari kata-katanya. Tangannya memainkan
ujung kiri selimutku. Perlahan ku raih jemarinya, dan dengan otomatis, ia
langsung menatapku. Hatiku begitu sakit saat melihatnya seperti ini.
“Icha sayang abang, Icha nggak mau kehilangan abang.”
Katanya lirih sambil mengenggam tanganku yang lebih dulu menyentuhnya.
“Abang benci kamu.” Kataku sambil tersenyum kecut.
Wajahnya langsung cemberut.
“Nggak mungkin dong, abang juga sayang kamu, Cha.” Lanjutku
diiringi tawa ringan yang mampu membuat hatiku sedikit nyeri, dan kembali susah
bernafas.
“Aish! Abang!”
ujarnya kesal sambil memukul lenganku ringan.
“Outch! Sakit tau.”
“Oups! Sorry.” Katanya yang langsung mengelus lembut
lenganku.
“Will you merry me?”
Icha yang pemalu hanya mengangguk pelan, wajahnya
memerah. Aku hanya bisa mengelus kepalanya pelan.
Kami hanya saling diam dalam tatapan sayang dan senyuman
kebahagian. Rasa sakitku kalah dengan rasa senangku yang tak mampu diungkapkan
dengan kata-kata. Terima kasih Icha, kau telah sempurnakan cintaku. Terima kasih
Tuhan, atas semua pemberianMu, terutama atas bidadari yang satu ini.
THE END
Sky
Lover
Rabu, 18 Desember 2013
Selasa, 17 Desember 2013
Sabtu, 07 Desember 2013
Senja Dan Malam
"Kalau kamu di tanya, lebih suka saat senja atau saat malam? apa yang akan kamu jawab?" Tanya Riani saat Tari sibuk membolak-balikkan daging yang sedang di paganggangnya.
"Hmm...yang mana ya, tapi, aku lebih suka senja. Tapi, aku juga suka malam. Ah, bingung. Kenapa, Ri, tumben lu nanya yang gituan ke gue??" Kata Tari sambil berpaling menatap Riani.
"Saat lu di tanya seperti itu, lu bingung mau jawab apa, kan. Karena lu suka ke duanya. Gue di suruh pilih, sekolah di luar negeri atau tetap di sekolah ini bersama kalian."
Tuturan Riani tak hanya membuat Tari menghentikan aktivitasnya memanggang daging, namun, Aira dan Shaura juga berhenti mengatur minuman dan lalapan.
Mereka bertiga menatap Riani diam.
Hening
"Pilih mana yang lebih lu suka dan lu butuh." Kata Aira yang mulai kembali mengatur gelas-gelas dan botol minuman.
"Ya, gue lebih suka di sini, gue butuh kalian. Tapi, gue juga ingin wujudkan impian gue sekolah di luar negeri." Suara Riani mulai parau.
Mereka kembali terdiam, keheningan memenuhi halaman belakang rumah Aira.
"Kita ngerti kok. Lagi pun, kita juga senang, kalau lu bisa wujutin impian lu. Jadi, sekarang, jangan bahas itu dulu, boleh. Kita kan lagi mau having fun ja. Jomblo-jomblo Manis, ya, nggak, Ra." Kata Shaura ingin mencairkan suasana yang hening itu.
"Iya, Ri. Kita senang-senang aja dulu." Kali ini Tari menimpalinya sambil tersenyum manis.
"Gue berangkat besok."
__________________________to be countinue
Jumat, 06 Desember 2013
Hujan
"Alasan kamu suka aku apa?" Tanya Dani sedikit tersenyum.
Maria hanya diam, berusaha mengatur nafasnya, ia begitu gugup, saat Dani memintanya untuk berbicara 4 mata di salah satu ruang di kampus.
"Oke. Aku mulai suka kamu saat kita jalan bareng Alan, Damar, Karin dan Shaura ke event PKA. Tak tau kenapa, saat kamu pamit pulang dan tak ikut makan bareng kita, aku merasa ada yang hilang. Di tambah lagi dengan teman-teman di sekelilingku yang membuat hipotesa, kamu suka aku. Mereka melihat tingkahmu yang begitu super menggangguku, dan mereka mengganggap itu adalah cara kamu memperlihatkan rasa sukamu ke aku. Tapi kamu tenang aja, aku mulai belajar melupakan rasa itu, tapi, bagaimanapun, itu butuh waktu, dan tak secepat yang aku pikirkan. Kalau kamu terus bertanya, apa alasanku menyukaimu, aku tidak tahu." Jawaban itu membuat Dani tersenyum tipis. Maria hanya bisa bersikap acuh.
"Ouh... jadi begitu. Bukannya kamu mulai suka aku, saat aku memberi gelar nama 'Korea' ke kamu? Aku nggak percaya, masak, sih, nggak ada alasan khusus. Kamu tau nggak, Karin juga sebenarnya suka aku, tapi dia memiliki alasan, mengapa dia suka aku, dia suka aku karena aku ahli dalam memainkan gitar, nah, kamu, masak, sih, nggak ada.?! "
Suara Dani sedikit meninggi.
"Jujur, aku juga nggak mau suka sama kamu, tapi aku juga nggak kuasa menghalangi rasa yang ada, yang masuk tanpa permisi. Udah lah, kamu juga udah nerangin dengan jelas, kalau kamu nggak suka sama aku. Ya udah."
Maria bangun dari duduknya dan keluar dari ruangan itu.
"Aku nggak ngerti." Kata Dani yang juga ikut keluar dari ruangan itu.
Sepanjang perjalanan pulang, Maria hanya diam. Brina yang mengemudikan mobil, juga tak ikut bertanya dan berbicara. Hingga sampai di rumah.
"Aku benci Dani!" Teriakan Maria itu sedikit keras, dan mampu menyita perhatian Shaura yang juga tinggal serumah dengan Brina.
"Kenapa, Ri. Udah, jangan dipikirkan lagi, dia itu nggak pantas buat kamu, kamu itu terlalu baik bbuat dia, Ri. Udah, jangan nangis, Ri."
Kata Shaura sambil mengelus pundak Maria yang mulai berguncang karena terisak tangis yang dalam. Brina hanya menatapnya sedih.
"Aku mau ngelupain dia, Ra. Tapi itu sulit banget, karena dai selalu ada di sekitarku."
"Iya, Ri. Kamu pasti bisa kok, seiring berjalannya waktu."
"Amin, semoga bisa secepatnya."
"Udahan nangisnya dong, Ri. Di luar juga hujan tuh, langit ikut nangis juga lihat kamu nangis, Ri."
"Ntar, jemuranku nggak kering, Ri. Nggak sayang?"
pertanyaan Brina membuat seulas senyuman muncul di bibir Maria.
"Ah, Na. Emang, kalau aku berhenti nangis, hujan juga bakal berhenti, gitu."
"Bisa jadi."
Senyuman Brina membuat Maria ikut tersenyum.
"Thanks."
"Itulah gunanya teman."
-----
"Apa kabar hatimu hari ini?"
"Lebih baik."
Maria berjalan memasuki kampus dengan senyum ria di wajahnya, bercanda ria dengan teman-temannya. Tak ada yang berubah dari sisi luarnya yang ceria dan having fun terus bawaannya. Jailnya pun tetap ada.
Meskipun Dani tetap ada di sekitarnya, namun, Dani tak lagi mengganggunya seperti yang biasanya dia lakukan. Tak ada lagi seruan-seruan 'korea' di sekelilingnya. Tak ada lagi Dani yang bersuara menyerukan nama itu. Meski, di saat di butuhkan, dia tetap memanggil Maria dengan sebutan itu.
Tak ada yang tau, bagaimana isi hati Dani sebenarnya, tapi yang jelas, Maria mulai berjalan tanpa menghiraukan Dani, dan meskipun Dani tetap mengganggunya sekali-kali waktu, dia sudah mampu menanggapinya dengan tenang.
Hari demi hari terus berjalan, setelah kejadian di ruang tertutup itu, kini Maria kembali menjadi dirinya sendiri. Tak ada lagi air mata yang keluar karena lelaki bernama Dani. Meski hujan tetap turun di waktu-waktu tertentu, namun, Maria tak lagi menghiraukannya sebagai pengikut dirinya yang menangis, namun, Maria lebih menikmati, setiap butir-butir air yang turun membasahi bumi itu dengan senyuman. Karena hujan, mampu membersihkan rasa sakit di hatinya. Dan semakin hari, rasa itu sembuh dengan sendirinya.
Hanya saja, Dani masih seperti dirinya sendiri, tanpa peduli dengan sekelilingnya. Ia masih menjadi sosok yang tak begitu menghiraukan apa yang terjadi, hanya saja, ia mulai sedikit menjadi sosok yang pendiam. Meski tak jarang juga, ia masih suka berbicara, namun, seiring berjalannya waktu, ada dimensi lain dalam kehidupan Dani yang tak mampu di pahami oleh siapapun, yang mampu membat Dani sedikit berubah menjadi lelaki yang mulai peka akan perasaan orang lain.
Apakah Dani mulai memperhatikan Maria, dan mulai menyadari akan kehilangan orang yang selama ini di ganggunya, atau kah, Dani hanya merasa bersalah, telah bersikap sesuka hatinya yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya salah faham atas sikapnya itu? Hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang tau.
____________________________________________The End
sky lover
Selasa, 03 Desember 2013
Kamis, 21 November 2013
Pesona Cinta

Ketika
kau hadir dalam hidupku, mengganggu pikiranku, dan merusak fokusku, aku tak
keberatan. Saat kau hadir mengacaukan semua pekerjaanku, membuatku tak mampu
berkutik, aku tak marah. Namun, saat kau hadir menghancurkan semua mimpiku,
membuatku tersakiti begitu dalam, hingga untuk berdiripun aku tak mampu. Kau
hadir dengan sejuta alasan agar kita putus. Aku tak menyangka, hanya sebatas
itu kau menyayangiku, hanya sebesar itu cintamu padaku?? Begitu mudahnya kau
menghancurkan semua yang telah terbina. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat,
dan begitu banyak kenangan yang telah tebingkai indah dalam memori. Tak ku
sangka, kau mampu mengucapkan kata pisah hanya karena alasan, kau sedang ingin
sendiri, aku tak percaya.
Satu
jam yang lalu
“Maaf, Lan. Aku udah nggak bisa
ngelanjutin hubungan ini. Aku sedang ingin sendiri.”
Ucapan itu mengalun begitu lembut
dari bibirnya. Tak ada keraguan di sana. Kata-kata itu begitu tegas, namun, tak
bermakna. Dan sebutan nama itu telah berganti, dari sebutan kakak menjadi Lan
akhir dari namaku_ Alan, aku sempat tersentak, namun semua masih bisa ku hadapi
dengan tenang.
“Ya udah, untuk saat ini, kamu
sendiri aja dulu, kakak janji, nggak bakalan ngeganggu kamu dulu.”
“Alan, ku mohon. Aku benar-benar
ingin sendiri, dan focus pada kuliahku, aku belum berfikir untuk serius
menikah, jadi, aku harap kamu mengerti. Aku masih ada impian dan harapan yang
masih belum tercapai, jadi, hubungan ini, kita cukupkan sampai di sini saja,
ya. Maaf.”
Tanpa menghiraukanku, ia pergi
begitu saja setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya. Meninggalkanku yang
masih terdiam membisu. Aku masih menatap kepergiannya hingga ia hilang di balik
dinding kampusnya.
Aku hanya tersenyum sambil melangkah
pergi meninggalkan kampusnya. Aku memutar balik mobilku, dan melajukannya
dengan kecepatan tinggi. Aku tak peduli, apa yang akan terjadi selanjutnya,
yang jelas sekarang yang ku inginkan adalah mengadu padaNya. Aku tak butuh
siapa-siapa sekarang, yang ku butuhkan hanya lah ketenangan.
Ketika
kau hadir dalam hidupku, mengganggu pikiranku, dan merusak fokusku, aku tak
keberatan. Saat kau hadir mengacaukan semua pekerjaanku, membuatku tak mampu
berkutik, aku tak marah. Namun, saat kau hadir menghancurkan semua mimpiku,
membuatku tersakiti begitu dalam, hingga untuk berdiripun aku tak mampu. Kau
hadir dengan sejuta alasan agar kita putus. Aku tak menyangka, hanya sebatas
itu kau menyayangiku, hanya sebesar itu cintamu padaku?? Begitu mudahnya kau
menghancurkan semua yang telah terbina. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat,
dan begitu banyak kenangan yang telah tebingkai indah dalam memori. Tak ku
sangka, kau mampu mengucapkan kata pisah hanya karena alasan, kau sedang ingin
sendiri, aku tak percaya.
Sepersekian menit kemudian, mobilku
masuk jurang, aku tak tau bagaimana jelas kejadiannya, karena begitu cepatnya
mobil yang ku kemudikan, aku tak tau, mengapa ini bisa terjadi, yang pasti
sekarang aku begitu kesakitan hingga tak mampu bernafas, hanya suara
segerombolan orang-orang yang terdengar di telingaku. Begitu dekat dan keras,
namun perlahan suara itu memudar, hingga aku tak mampu mendengar apa pun.
Hening
Sepi
Hitam
Seminggu
kemudian
“Alan…”
Suara
itu terdengar lirih. Itu suara mama, perlahan ku mampu membuka mataku,
samar-samar terlihat orang-orang di sekelilingku. Semakin jelas ku melihat,
mereka keluargaku, mama, papa, dik Arini dan perempuan yang menyakitiku, Aira.
“Sayang, kamu ingat mama, ini papa,
dik Arin dan Aira, ingat nggak sayang?”
Aku tak tahu apa penjelasan dokter
tentangku hingga mama menanyakanku tentang mereka. Namun, ku fikir, ini ada
bagusnya juga, jadi aku bisa pura-pura lupa ingatan tentang Aira.
“Kak…” suaranya masih seindah dulu,
namun, itu takkan membuatku merubah keputusanku.
“Siapa?”
Wajahnya
sedikit berubah saat aku bertanya siapa dirinya. Mungkin aku bisa dibilang
cowok paling tega, karena jujur, mata Aira masih berkaca-kaca saat ia menegurku
tadi, dan aku sama sekali tak menyangka, air matanya jatuh.
“Maaf, tapi, aku benar-benar nggak
tau.” Aku jadi nggak tega. Aku masih sangat menyayanginya, meski kata-kata yang
diucapkan hari itu begitu menyakitiku.
“Ma,
berapa lama Alan tak sadarkan diri? Kenapa Alan bisa di sini?” ku alihkan
pandanganku ke mama yang hanya tersenyum.
“Seminggu sayang. Mobilmu jatuh ke
jurang sepulang ngantar Aira ke kampusnya.” Jawab mama sambil mengelus
rambutku.
“Aira…” suaraku lirih, kembali ku
tatap wajah itu. Matanya sembab, dia hanya menunduk.
“Dokter bilang, kamu hanya butuh
istirahat penuh, karena kepalamu masih harus di ronsen, tak ada kemungkinan
kamu lupa ingatan, Lan, jadi kamu masih baik-baik saja, hanya butuh istirahat
penuh. Kamu, sih, kalau mengemudi itu, pasang sabuk pengaman, jadi kamu pun
aman, ini, karena kecerobohanmu, kamu terlempar keluar mobil, hingga kepalamu
membentur batu besar, syukur kamu selamat dan taka pa-apa.”
Penjelasan
panjang papa itu membuatku membisu. Jadi, percuma aku pura-pura tak ingat Aira
dong! Arrrgh! Kenapa jadi begini, sih.
“Udah
papa. Sayang, papa, mama dan dik Arin
keluar sebentar ya, sayang. Sepertinya, kalian harus bicara berdua. “
Mereka keluar dari ruanganku di
rawat. Perlahan Aira mendekatiku. Ia duduk di sisi ranjang tempat ku berbaring.
Aku benar-benar membeku, tak tahu harus bagaimana. Ketahuan bohong itu sama
sekali tak enak.
“Aku tau kakak cuma pura-pura nggak
kenal aku, kak. Tapi, kalau memang itu yang kakak mau, aku terima. Aku pantas
dapatin perlakuan seperti itu, bahkan lebih, mungkin. Kak, aku benar-benar
menyesal dan ingin meminta maaf dari kakak. Aku udah nggak tau harus ngapain.”
Ia berhenti sejenak sambil menyeka
air matanya yang mulai mengalir. Air mata itu adalah kelemahanku, Ra, dan kamu
tau itu.
“Aku mulai menyukai orang lain, kak.
Aku mulai menyayanginya sebulan yang lalu, namun, aku tak berani bicara sama
kakak, aku takut kakak marah dan kecewa padaku. Aku sayang kakak, tapi aku tak
bisa membalas cinta kakak yang begitu dalam untukku. Aku minta maaf kak.”
Aku hanya mampu diam. Tak ada yang
perlu ku katakana. Aira…
“Tapi, saat kakak masuk rumah sakit,
aku baru sadar, ternyata orang yang paling kubutuhkan adalah kakak, aku baru
menyadari, kalau kakak adalah orang yang paling penting bagiku. Aku nggak mau
yang lain, aku hanya ingin kakak sembuh dan kembali ada untukku.”
Kali ini aku hanya bisa tersenyum.
Wajahnya memerah dan ia kembali menunduk. Isaknya masih terdengar.
Hening…
Tak ada lanjutan dari kata-katanya.
Tangannya memainkan ujung kiri selimutku. Perlahan ku raih jemarinya, dan
dengan otomatis, ia langsung menatapku. Hatiku begitu sakit saat melihatnya
seperti ini.
“Aira sayang kakak, Aira nggak mau
kehilangan kakak.” Katanya lirih sambil mengenggam tanganku yang lebih dulu
menyentuhnya. Kata-kata manjanya mulai keluar.
“Kakak benci kamu.” Kataku sambil
tersenyum kecut.
Wajahnya langsung cemberut.
“Nggak mungkin dong, kakak juga
sayang kamu, Ra.” Lanjutku diiringi tawa ringan yang mampu membuat hatiku
sedikit nyeri.
“Aish! Kakak!” ujarnya kesal sambil memukul lenganku ringan.
“Outch! Sakit tau.”
“Oups! Sorry.” Katanya yang langsung
mengelus lembut lenganku.
“Will you merry me?”
Aira yang pemalu hanya mengangguk
pelan, wajahnya memerah. Aku hanya bisa mengelus kepalanya pelan.
Kami hanya saling diam dalam tatapan
sayang dan senyuman kebahagian. Rasa sakitku kalah dengan rasa senangku yang
tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Terima kasih Aira, kau telah
sempurnakan cintaku. Terima kasih Tuhan, atas semua pemberianMu, terutama atas
bidadari yang satu ini.
THE
END
Skylover
Minggu, 30 Juni 2013
Berbeda
Tak terasa waktu telah membawa kita ke dunia yang tak pernah kita ketahui, dunia seperti apakah itu. Terkadang aku berfikir, ini hanya permainan belaka, namun setelah kita menciptakan begitu banyak kenangan yang hanya tersimpan dalam memori, aku baru menyadari, waktu yang berjalan itu membuat kita semakin dekat, hingga tak ada batasan di antara kita.
Semakin hari, semakin dekat, hingga aku mulai ingin menarik kembali diriku yang begitu dekat denganmu, aku ingin mengembalikan hubungan kita kembali menjadi teman biasa, aku hanya ingin kita bisa saling memiliki hanya sebatas teman, tidak untuk lebih.
Aku hanya takut untuk mencintaimu, aku takut untuk sayang kamu lebih dari sebatas teman, aku takut untuk merasa sakit dan kehilangan, karena aku begitu berbeda denganmu, aku tak pantas untukmu, karena kamu begiru bersinar, begitu indah, dan terlallu berharga untuk ku miliki.
Aku hanya seseorang yang tidak begitu bersinar, aku begitu 'jauh' darimu, aku tak pantas untukmu, intinya, aku tak ingin mencintai seseorang yang begitu 'tinggi' dariku.
Arrrrrrrrrrrrrrrrrgth!!
Tapi permasalahan terbesarnya adalah, cinta itu tidak bisa memilih, dan aku tidak bisa menarik kembali diriku yang telah jatuh untukmu. Aku harus bagaimana? Aku bingung.
Meski aku tau kamu suka yang lain, tapi tetap aja kamu dekat denganku. Seandainya aku bisa mengulang waktu, andai aku tidak memulainya duluan. Tapi tetap aja, nggak ada kata 'Seandainya'.
Kini, aku hanya bisa berdoam agar Tuhan menjaga hatiku, agar aku tak jatuh untukmu.
_karena Tuhan lebih tau apa yang terbaik untuk hambaNya.
Trrrrrrrrrrrrt trrrrrrrrrrrrrrt,,,
"Assalamu'alaikum, Rin?" suara di seberang menyapaku ramah.
"Wa'alaikumsalam, Rey. Ada apa?" tanyaku datar.
"Nggak ada, cuma mau ngobrol aja sama Rin, Rin nggak sibuk, kan?" ramah, to the point, dan nggak basa-basi.
"Mau ngobrol apa, Rey?"
"Rin tau nggak, Rin itu sebenarnya manis lho, Rin nyadar nggak, klo Rin itu terkadang bisa membuat cowok salah tingkah hanya karena mbak lihatin, makanya Rin, jangan minder ya Rin." aku hanya bisa tersenyum tipis menanggapi kata-katanya yang terdengar serius.
"Iya. Tapi klo dipikir-pikir, tumben banget lu ngomong gue manis, sejak kapan, ni?" tanyaku diiringi tawa renyah.
"Gue serius, Rin."
"Yayaya. Gue boleh ngomong sesuatu nggak, Rey?"
"Apa?"
"Kalau boleh jujur, gue takut dengan hubungan kita yang begitu dekat, gue takut jatuh cinta sama loe, Ray." kataku meluncur mulus.
"...."
tak ada jawaban dari seberang.
"Rey..."
"Gue juga sama. Gue juga takut. Terus, loe punya solusi untuk masalah ini?" tanyanya terdengar serius.
"Hmm... apa ya? gimana kalau untuk simester depan, kita hanya sms or nelponan kalau ada perlu, kalau nggak, ya nggak usah, gimana?"
"Hmm... loe yakin bisa?"
"..."
"Rin..."
"Ya. Gue yakin bisa, kita coba aja, gimana?"
"Ok, kalau loe udah mantap sama keyakinan loe, gue setuju. Mulai simester depan, kita contek-an kalau hanya ada perlu penting, kalau nggak, diam. Deal?"
"Deal."
"Ok lah kalau begitu, kita mulai dari hari ini ya, bye, Assalamu'alaikum, Rin."
"Wa'alaikumsalam, Rey."
_________________to be continue..
Semakin hari, semakin dekat, hingga aku mulai ingin menarik kembali diriku yang begitu dekat denganmu, aku ingin mengembalikan hubungan kita kembali menjadi teman biasa, aku hanya ingin kita bisa saling memiliki hanya sebatas teman, tidak untuk lebih.
Aku hanya takut untuk mencintaimu, aku takut untuk sayang kamu lebih dari sebatas teman, aku takut untuk merasa sakit dan kehilangan, karena aku begitu berbeda denganmu, aku tak pantas untukmu, karena kamu begiru bersinar, begitu indah, dan terlallu berharga untuk ku miliki.
Aku hanya seseorang yang tidak begitu bersinar, aku begitu 'jauh' darimu, aku tak pantas untukmu, intinya, aku tak ingin mencintai seseorang yang begitu 'tinggi' dariku.
Arrrrrrrrrrrrrrrrrgth!!
Tapi permasalahan terbesarnya adalah, cinta itu tidak bisa memilih, dan aku tidak bisa menarik kembali diriku yang telah jatuh untukmu. Aku harus bagaimana? Aku bingung.
Meski aku tau kamu suka yang lain, tapi tetap aja kamu dekat denganku. Seandainya aku bisa mengulang waktu, andai aku tidak memulainya duluan. Tapi tetap aja, nggak ada kata 'Seandainya'.
Kini, aku hanya bisa berdoam agar Tuhan menjaga hatiku, agar aku tak jatuh untukmu.
_karena Tuhan lebih tau apa yang terbaik untuk hambaNya.
Trrrrrrrrrrrrt trrrrrrrrrrrrrrt,,,
"Assalamu'alaikum, Rin?" suara di seberang menyapaku ramah.
"Wa'alaikumsalam, Rey. Ada apa?" tanyaku datar.
"Nggak ada, cuma mau ngobrol aja sama Rin, Rin nggak sibuk, kan?" ramah, to the point, dan nggak basa-basi.
"Mau ngobrol apa, Rey?"
"Rin tau nggak, Rin itu sebenarnya manis lho, Rin nyadar nggak, klo Rin itu terkadang bisa membuat cowok salah tingkah hanya karena mbak lihatin, makanya Rin, jangan minder ya Rin." aku hanya bisa tersenyum tipis menanggapi kata-katanya yang terdengar serius.
"Iya. Tapi klo dipikir-pikir, tumben banget lu ngomong gue manis, sejak kapan, ni?" tanyaku diiringi tawa renyah.
"Gue serius, Rin."
"Yayaya. Gue boleh ngomong sesuatu nggak, Rey?"
"Apa?"
"Kalau boleh jujur, gue takut dengan hubungan kita yang begitu dekat, gue takut jatuh cinta sama loe, Ray." kataku meluncur mulus.
"...."
tak ada jawaban dari seberang.
"Rey..."
"Gue juga sama. Gue juga takut. Terus, loe punya solusi untuk masalah ini?" tanyanya terdengar serius.
"Hmm... apa ya? gimana kalau untuk simester depan, kita hanya sms or nelponan kalau ada perlu, kalau nggak, ya nggak usah, gimana?"
"Hmm... loe yakin bisa?"
"..."
"Rin..."
"Ya. Gue yakin bisa, kita coba aja, gimana?"
"Ok, kalau loe udah mantap sama keyakinan loe, gue setuju. Mulai simester depan, kita contek-an kalau hanya ada perlu penting, kalau nggak, diam. Deal?"
"Deal."
"Ok lah kalau begitu, kita mulai dari hari ini ya, bye, Assalamu'alaikum, Rin."
"Wa'alaikumsalam, Rey."
_________________to be continue..
Senin, 24 Juni 2013
Pusing
"Kalau di pikir-pikir, yang kamu katakan itu sama sekali tidak masuk akal, bikin pusing aja" Darman geleng-geleng kepala sambil memasukkan sepotong kue ke mulutnya.
"Lho, aku cuma mengatakan yang pernah aku baca, salah?" Salim cemberut.
"Buku yang kamu baca yang salah, atau pemikiranmu yang nggak benar? nggak mungkin banget Tuhan serupa dengan manusia." Heri kembali fokus ke laptopnya.
"Buku itu yang sesat, bukan aku." Salim kembali membaca buku.
"Kalau memikirkan Dzat Tuhan, hanya akan membuat manusia pusing dan sesat. padahal sudah jelas dikatakan, jangan pernah memikirkan bentukk Tuhan, namun pikirkan apa yang diciptakanNya." kata Heri sambil menutup laptopnya.
" Ya udah, pulang yuk. sebentar lagi adzan." lanjutnya sambil bangun dari duduknya.
tanpa kata, ke tiga prmuda itu pun keluar dari coffe dan serempak menuju mesjid untuk menunggu adzan dhuhur dan sekaligus melaksanakan ibadah shalat dhuhur berjama'ah.
"Lho, aku cuma mengatakan yang pernah aku baca, salah?" Salim cemberut.
"Buku yang kamu baca yang salah, atau pemikiranmu yang nggak benar? nggak mungkin banget Tuhan serupa dengan manusia." Heri kembali fokus ke laptopnya.
"Buku itu yang sesat, bukan aku." Salim kembali membaca buku.
"Kalau memikirkan Dzat Tuhan, hanya akan membuat manusia pusing dan sesat. padahal sudah jelas dikatakan, jangan pernah memikirkan bentukk Tuhan, namun pikirkan apa yang diciptakanNya." kata Heri sambil menutup laptopnya.
" Ya udah, pulang yuk. sebentar lagi adzan." lanjutnya sambil bangun dari duduknya.
tanpa kata, ke tiga prmuda itu pun keluar dari coffe dan serempak menuju mesjid untuk menunggu adzan dhuhur dan sekaligus melaksanakan ibadah shalat dhuhur berjama'ah.
Jumat, 14 Juni 2013
يا ربي
إنت بعدك حلوة وصرتى أحلى
شو هالصدفة مافى أحلى
وقلبى بيشوفك يا ما استحلى قوليلى كيفك انت
انت بعدك وما بتتغير
محيرلى قلبى ومحير
وبعدو قلبك طفل صغير طمننى كيفك انت
ماشى نتذكر عا دروب
ويمرجحنا الغرام
ليش بعدنا وكيف قدرنا
ننسى هاك الأحلام
ياليل البعدو ناطرنا
عا مفارق هالايام
ياربى تدوم ايامنا سوى
ويبقى عا طول جامعنا الهوى
ياربى تدوم ياربى تدوم
يارب تعيد هالحب اللى كان
احلى بكتير من الماضى كمان
ياربى تعيد يا ربى تعيد
شو هالصدفة مافى أحلى
وقلبى بيشوفك يا ما استحلى قوليلى كيفك انت
انت بعدك وما بتتغير
محيرلى قلبى ومحير
وبعدو قلبك طفل صغير طمننى كيفك انت
ماشى نتذكر عا دروب
ويمرجحنا الغرام
ليش بعدنا وكيف قدرنا
ننسى هاك الأحلام
ياليل البعدو ناطرنا
عا مفارق هالايام
ياربى تدوم ايامنا سوى
ويبقى عا طول جامعنا الهوى
ياربى تدوم ياربى تدوم
يارب تعيد هالحب اللى كان
احلى بكتير من الماضى كمان
ياربى تعيد يا ربى تعيد
Langganan:
Postingan (Atom)



































