Belum terlalu lama Fajri meninggalkanku, ia kembali lagi ke hadapanku.
"Za, kalau ntar nyokap ngusir gua, gua tinggal di rumah loe ya, please...sekali ini aja, ya." katanya memelas.
"Iya. Udah, loe jujur aja dulu sama ngokab loe, urusan gimana reaksi nyokap loe ntar, itu urusan belakangan."
"Iya, bro. Udah, cepetan gih, sebelum ngokap loe pergi." kali ini Ammar menimpali perkataanku.
"Ok!"
Akhirnya, Fajri kembali berlari mengejar langkah mamanya yang baru saja meninggalkan gedung sekolah kami.
Ceritanya, mamanya Fajri di panggil ke sekolah, karena Fajri jarang masuk sekolah, padahal, dia selalu berangkat pagi-pagi sekali dari rumah menuju sekolah, namun, ternyata Fajri tidak ke sekolah, melainkan ke tempat rehabilitas untuk mengurus pacarnya.
Aku dan Ammar sudah berulang kali memperingatinya untuk fokus belajar dan membiarkan pacarnya di urus oleh pengurus di sana, dan dengan tegas juga Fajri mengatakan "Aku yang bertanggung jawab atas dirinya sepenuhnya.".
Wajar ia mengatakan seperti itu, karena Fajri lah yang memperkenalkan barang haram itu ke Nina, dan Nina mulai ketagihan hingga tak bisa hidup tanpa barang itu, lain halnya dengan Fajri, cowok gondrong itu juga memakainya, namun ia tak begitu parah, Fajri masih bisa hidup tanpa barang itu.
Kamis, 06 Desember 2012
Selasa, 04 Desember 2012
Rintihan
Hatiku
mulai menangis sendu, air mataku terus mengalir tanpa henti. Aku terduduk di
sisi pusara yang masih sangat basah itu. Aku masih menangis namun tak bersuara.
Ku sentuh pusara itu dengan lembut,
“Zhafran, mari kita pulang.” Tepukan
di bahuku membuatku terisak.
“Zhafran…” suara lembut dan halus
itu semakin membuatku tak mampu berhenti menangis.
Dan di sepersekian menit kemudian,
mereka meninggalkanku sendiri.
“Ma…” suaraku begitu berat dan
lirih, aku tak mampu mengeluarkan suara. Relung hatiku dipenuhi rasa bersalah dan
penyesalan yang luar biasa. Aku hanya mampu terisak sambil terus menatap pusara
itu.
Pusara di mana mamaku dimakamkan. Mamaku
yang mengasuhku sedari kecil itu kini tak lagi bernafas, tak lagi bersuara, tak
lagi bergerak. Mamaku yang sempat kumaki karena perbuatannya yang tak senonoh,
yang selalu pulang-pergi tengah malam, yang sempat kunasehati dengan kasar
karena terpancing oleh emosiku yang begitu memblundak karena pelanggarannya
terhadap agama dengan berduaan di dalam rumahku dengan lelaki asing.
Mamaku yang terima ku maki, ku
nasehati dengan kasar demi anaknya tidak khawatir akan penyakitnya yang begitu
parah, demi menyembunyikan penyakit penyebab kematiannya hari ini. Demi semua
itu, ia tak pernah marah padaku, ia tak pernah membenciku, ia tak pernah
memukuliku.
Lelaki asing yang sempat membuatku
marah besar itu ternyata dokter yang selama ini merawatnya, oh, betapa tak
perhatiannya aku, oh, betapa tak pedulinya aku, oh Tuhan. Aku kembali merintih
dia atas pusaranya.
Aku ingin agar waktu bisa berputar
kembali, kembali ke masa di mana aku begitu sibuk dengan pekerjaanku, begitu
sibuk dan tergila-gila dengan uang, hingga aku jarang bersamanya, jarang
memperhatikannya di masa-masanya menahan kesakitan akibat penyakit kanker otak
stadium 3 itu.
Oh Tuhan…
Bahkan aku tak ada disisinya saat ia
melepas nafas terakhirnya…
Betapa rakusnya aku akan kemewahan
dunia ini, hingga meninggalkan seseorang yang lebih berharga dari apapun di
dunia ini. Penyesalanku yang begitu besar pun takkan mampu mengembalikan
waktu-waktu itu.
“Mama…” suaraku semakin berat,
hingga tak ku dapati secercah cahaya pun di sisiku.
The end
Sky
lovers
Langganan:
Postingan (Atom)