Kembali
kuamati instagram artis yang kubenci itu. Mengapa tidak? Bukan hanya satu
perempuan yang menjadi sasaran untuk dipatahkan hatinya, dasar playboy cap
kapak! Aku melihat satu foto yang di uploadnya tiga menit lalu, dia sedang
merangkul seorang cewek dan jelas-jelas itu bukan pacarnya, karena semalam dia
juga baru saja mengupload sebuah gambar mesra bersama pacarnya dengan caption, selamat
ulang tahun sayang. I love you so much, dan sekarang dia dengan cewek lain
dan captionya yang membuatku geram, selamat hari mawar, sayang, aku akan
selalu menyayangimu, berada disisimu, selamanya, karena kamu adalah pilihan
terakhirku.
Bagaimana
bisa seorang artis berganti pacar dalam waktu semalam? Apalagi dia termasuk
actor papan atas milik TI (TimeIn) menejemen. Aku menyukai artis-artis papan
atas dari TI, tapi tidak dengan lelaki satu ini, Juan Kinder. Dengan geram, kuputuskan
untuk mengirim komentar yang sedikit pedas.
Semalam
baru mengucapkan I love you so much pada pacar, tapi sekarang langsung dengan
pilihan yang lain, semoga langgeng dan semoga nanti malam tidak dengan love
yang lainnya lagi.
Sent.
“Hai,
kenapa senyum-senyum sendiri?” suara lembut itu membuatku langsung menutup
laman instagram.
“Lagi
isengin orang jahat,” aku masih tersenyum terlebih melihat pacarku yang
mengerutkan keningnya bingung.
“Siapa?”
biasanya cowok berkaca mata di hadapanku ini memilih cuek saat jawabanku
menbingungkannya, kenapa sekarang dia mulai penasaran.
“Aktor
playboy,” kulihat dirinya hanya menganggukkan kepalanya sambil melepas kaca
mata. Taqin tidak tahu siapa actor yang kumaksud, makanya dia memilih tidak
memperpanjang cerita ini.
“Udah
makan? Aku tadi udah makan di kantor, kamu tau sendiri kan, aku sangat
kelaparan jika lembur, dan aku baru tidur dua jam, aku sangat menyesal karena
lupa member tahumu, aku tidak bisa lama
menemanimu, sebisa mungkin aku harus segera kembali ke kantor,” curhatnya
panjang lebar.
Kutatap
wajahnya yang kelelahan, aku tahu pria ini workaholics, bahkan aku tidak pernah
diizinkan datang ke kantornya, karena kedatanganku akan merusak konsentrasinya
bekerja, begitu melihatku, maka dia dengan senang hati meninggalkan
pekerjaannya demi diriku. Aku menyukainya karena dia sangat perhatian padaku,
bahkan sesibuk apapun, dia akan menyempatkan dirinya untuk menemaniku makan,
seperti saat ini.
“Aku
menunggumu, biar kita bisa makan bareng. Aku tidak tahu kamu sudah makan siang,
dan buru-buru, aku tidak apa-apa jika kamu mau kembali ke kantor, aku bisa
makan sendiri,” kusuguhi senyum termanisku padanya agar dia merasa lega, dan
tidak terbebani olehku.
“Mana
bisa seperti itu, aku akan menemanimu makan, aku bisa mengulur waktuku sedikit,
pesanlah,” dia mulai mengedipkan matanya jahil. Aku tahu Taqin seorang menejer
utama di kantornya, tapi aku juga tahu kantor itu milik papanya yang terkenal
tegas dan disiplin.
“Baiklah,
aku tidak akan bertanggung jawab jika papamu memarahimu, oke,” aku langsung
memesan makanan dan minuman agar kekasihku ini bisa segera kembali ke
kantornya.
“Tenang
sayang, papa tidak akan marah jika alasanku adalah kamu,” dia mengelus pipiku
lembut. Aku merona karena malu dan bahagia. Aku hanya bisa berharap agar pria
tampan ini segera meresmikan hubungan kami ke jenjang lebih serius, aku sudah
terlalu mencintainya.
Aku
tersenyum saat hpnya bergetar, sepintas aku melihat nama Rerei di halaman
Hpnya. Sekertarisnya itu memang kerap kali mengganggu di saat seperti ini.
Kulihat wajah lelah dihadapanku berubah datar. Taqin langsung menolak panggilan
itu.
“Angkatlah,
Qin, sepertinya itu penting,” aku memang cemburu dengan perempuan yang selalu
menemani pria tampanku saat bekerja itu, tapi aku sangat percaya Taqin tidak
akan selingkuh.
“Baiklah,”
saat hpnya kembali berdering dan memang Rerei yang menelponnya, Taqin menjawab
panggilan itu. kulihat wajahnya sedikit tersenyum, apa yang dikatakan Rerei
hingga membuatnya tersenyum semanis itu.
“Baiklah,
letakkan berkas itu diatas mejaku, aku akan kembali sebentar lagi, terima
kasih, Rei,” Taqin mematikan hpnya dan masih tersenyum. Aku menatapnya
penasaran, dan saat tatapan kami bertemu, kulihat dia sedikit terkejut dan
wajahnya kembali terlihat senang. Aku mengerutkan keningku, bingung.
“Sepertinya
aku harus kembali sekarang, sayang, maafkan aku, sampai jumpa besok,” dia
memakai kembali kaca matanya dan mengelus kepalaku pelan sebelum pergi
meninggalkanku yang masih dilanda kebingungan, kenapa Taqin begitu mudah
meninggalkanku hanya karena telepon dari Rerei? Oh ayolah Yuzel, kamu tidak
boleh curiga.
“Silahkan
dinikmati,” suara pelayan membuatku memilih untuk melupakan kebingunganku dan
makan dengan tenang, semoga bisa.
***