Minggu, 06 Mei 2018

HATER



Kembali kuamati instagram artis yang kubenci itu. Mengapa tidak? Bukan hanya satu perempuan yang menjadi sasaran untuk dipatahkan hatinya, dasar playboy cap kapak! Aku melihat satu foto yang di uploadnya tiga menit lalu, dia sedang merangkul seorang cewek dan jelas-jelas itu bukan pacarnya, karena semalam dia juga baru saja mengupload sebuah gambar mesra bersama pacarnya dengan caption, selamat ulang tahun sayang. I love you so much, dan sekarang dia dengan cewek lain dan captionya yang membuatku geram, selamat hari mawar, sayang, aku akan selalu menyayangimu, berada disisimu, selamanya, karena kamu adalah pilihan terakhirku.
Bagaimana bisa seorang artis berganti pacar dalam waktu semalam? Apalagi dia termasuk actor papan atas milik TI (TimeIn) menejemen. Aku menyukai artis-artis papan atas dari TI, tapi tidak dengan lelaki satu ini, Juan Kinder. Dengan geram, kuputuskan untuk mengirim komentar yang sedikit pedas.
Semalam baru mengucapkan I love you so much pada pacar, tapi sekarang langsung dengan pilihan yang lain, semoga langgeng dan semoga nanti malam tidak dengan love yang lainnya lagi.
Sent.
“Hai, kenapa senyum-senyum sendiri?” suara lembut itu membuatku langsung menutup laman instagram.
“Lagi isengin orang jahat,” aku masih tersenyum terlebih melihat pacarku yang mengerutkan keningnya bingung.
“Siapa?” biasanya cowok berkaca mata di hadapanku ini memilih cuek saat jawabanku menbingungkannya, kenapa sekarang dia mulai penasaran.
“Aktor playboy,” kulihat dirinya hanya menganggukkan kepalanya sambil melepas kaca mata. Taqin tidak tahu siapa actor yang kumaksud, makanya dia memilih tidak memperpanjang cerita ini.
“Udah makan? Aku tadi udah makan di kantor, kamu tau sendiri kan, aku sangat kelaparan jika lembur, dan aku baru tidur dua jam, aku sangat menyesal karena lupa member tahumu,  aku tidak bisa lama menemanimu, sebisa mungkin aku harus segera kembali ke kantor,” curhatnya panjang lebar.
Kutatap wajahnya yang kelelahan, aku tahu pria ini workaholics, bahkan aku tidak pernah diizinkan datang ke kantornya, karena kedatanganku akan merusak konsentrasinya bekerja, begitu melihatku, maka dia dengan senang hati meninggalkan pekerjaannya demi diriku. Aku menyukainya karena dia sangat perhatian padaku, bahkan sesibuk apapun, dia akan menyempatkan dirinya untuk menemaniku makan, seperti saat ini.
“Aku menunggumu, biar kita bisa makan bareng. Aku tidak tahu kamu sudah makan siang, dan buru-buru, aku tidak apa-apa jika kamu mau kembali ke kantor, aku bisa makan sendiri,” kusuguhi senyum termanisku padanya agar dia merasa lega, dan tidak terbebani olehku.
“Mana bisa seperti itu, aku akan menemanimu makan, aku bisa mengulur waktuku sedikit, pesanlah,” dia mulai mengedipkan matanya jahil. Aku tahu Taqin seorang menejer utama di kantornya, tapi aku juga tahu kantor itu milik papanya yang terkenal tegas dan disiplin.
“Baiklah, aku tidak akan bertanggung jawab jika papamu memarahimu, oke,” aku langsung memesan makanan dan minuman agar kekasihku ini bisa segera kembali ke kantornya.
“Tenang sayang, papa tidak akan marah jika alasanku adalah kamu,” dia mengelus pipiku lembut. Aku merona karena malu dan bahagia. Aku hanya bisa berharap agar pria tampan ini segera meresmikan hubungan kami ke jenjang lebih serius, aku sudah terlalu mencintainya.
Aku tersenyum saat hpnya bergetar, sepintas aku melihat nama Rerei di halaman Hpnya. Sekertarisnya itu memang kerap kali mengganggu di saat seperti ini. Kulihat wajah lelah dihadapanku berubah datar. Taqin langsung menolak panggilan itu.
“Angkatlah, Qin, sepertinya itu penting,” aku memang cemburu dengan perempuan yang selalu menemani pria tampanku saat bekerja itu, tapi aku sangat percaya Taqin tidak akan selingkuh.
“Baiklah,” saat hpnya kembali berdering dan memang Rerei yang menelponnya, Taqin menjawab panggilan itu. kulihat wajahnya sedikit tersenyum, apa yang dikatakan Rerei hingga membuatnya tersenyum semanis itu.
“Baiklah, letakkan berkas itu diatas mejaku, aku akan kembali sebentar lagi, terima kasih, Rei,” Taqin mematikan hpnya dan masih tersenyum. Aku menatapnya penasaran, dan saat tatapan kami bertemu, kulihat dia sedikit terkejut dan wajahnya kembali terlihat senang. Aku mengerutkan keningku, bingung.
“Sepertinya aku harus kembali sekarang, sayang, maafkan aku, sampai jumpa besok,” dia memakai kembali kaca matanya dan mengelus kepalaku pelan sebelum pergi meninggalkanku yang masih dilanda kebingungan, kenapa Taqin begitu mudah meninggalkanku hanya karena telepon dari Rerei? Oh ayolah Yuzel, kamu tidak boleh curiga.
“Silahkan dinikmati,” suara pelayan membuatku memilih untuk melupakan kebingunganku dan makan dengan tenang, semoga bisa.
***

REMORSE



PLAK!!!
Tamparan itu membuat wajahku berpaling ke kiri, panas, perih, dan pastinya membekas dipipiku, kuarahkan kembali wajahku menatap lelaki di depanku, mataku perih namun aku masih menahannya. Kutatap perempuan yang hanya menundukkan wajahnya di belakang tubuh tegap yang masih melindunginya dariku.
“Papa tidak bermaksud menamparmu, Yu, tapi kemu sendiri yang memintanya,” suara papa melembut, dan itu mampu membuat pertahananku jatuh.
“Apa foto ini tidak cukup menjadi bukti, pa?” lirihku sambil menunjukkan foto yang ada di dalam hpku.
“Kamu fikir papa tidak tahu, itu foto lama, dan sekarang perempuan itu telah menjadi pengganti mamamu, Yu,” papa masih bersikeras dengan pemikirannya.
“Perempuan yang papa nikahi itu bukan mamaku, dan aku tak sudi menganggap wanita jalang itu…”
PLAK!!!
Lagi.
Kali ini papa kembali menampar pipiku, di tempat yang sama.
“Sekali lagi kau mengatai mamamu dengan kata-kata kurang ajar, papa tidak akan segan-segan mengusirmu dari rumah ini,”
Aku terpaku mendengar ucapan papa yang tegas tanpa ragu. Kulihat mata papa yang menatapku tajam, aku putri satu-satunya yang ia miliki, apa ia tega melepasku demi wanita yang baru saja menjadi ibu tiriku setahun yang lalu itu? Bahkan wanita jalang itu tersenyum miring melihatku, ia masih seumuran denganku, dan foto yang kuambil dengan tanganku sendiri saat ia sedang bermesraan dengan pacarku menjadi bukti bahwa ia menduakan papaku. Jelas aku tidak akan melepaskan papaku untuknya. Aku telah kehilangan kekasihku karenanya, dan aku tak ingin kehilangan papa.
“Papa mau bukti lebih nyata tentang perselingkuhan istri papa dengan pacarku?” tanyaku menatap papa tanpa takut.
“Keluar kamu dari rumah ini dan begitu kamu sudah menyadari kesalahanmu dan minta maaf sama mamamu, kamu baru boleh kembali ke sini,” papa melangkah pergi, tapi sebelum ia sempat keluar rumah, ia kembali menatapku dan berkata, “tapi kamu jangan pernah lupa dengan tanggung jawabmu di kantor,” setelah itu, ia menghilang di balik pintu besar itu.
“Papamu sangat mencintaiku, Yu, ia tidak akan percaya dengan semua kata-katamu, dan jangan harap kamu bisa mengambil kembali perhatian papamu yang sudah tertuju padaku seutuhnya,” perempuan itu berkata lembut tapi licik, ia menyentuh pipiku yang masih memerah akibat tamparan papa.
“Kau bisa keluar dari rumah ini setelah mengompres pipi mulusmu ini, sayang,” lanjutnya sebelum tersenyum sinis.
Kulangkahkan kakiku dengan cepat menuju kamarku, kumasukkan beberapa baju yang aku beli dengan uangku sendiri, dan langsung keluar dari rumah ini.
***
Kuambil daun-daun yang menutupi pusara mama, kuusap papan nama yang berdiri tegak itu, air mataku jatuh dengan sendirinya. Aku tak sanggup jika harus menceritakan semua perlakuan papa padaku, tapi aku tidak juga mampu menahannya sendiri. Hanya mama satu-satunya sahabat tempat ku berbagi segala ceritaku. Saat aku senang, sedih bahkan saat aku galau karena pacarku.
Aku bukan orang yang ramah dan baik, bahkan aku terkenal cuek dan pendiam, sejak di bangku sekolah pun aku tidak memiliki banyak sahabat baik, hanya ada satu, tapi aku sudah kehilangan satu-satunya sahabat baikku itu. Kini di kantor pun aku hanya disegani dan dihormati sebagai atasan, meski ada yang bermanis muka denganku, itu hanya karena mereka ada maunya.
Aku muak dengan orang-orang munafik. Cukup sekali aku memiliki sahabat yang menusukku dari belakang, dan aku bersyukur kali ini aku tidak lagi melihat wajahnya, iya, dialah perempuan yang menjadi mama tiriku. Ia bahkan selingkuh dengan pacarku, aku tak tahu, apa yang merasukinya hingga ia menjadi seperti ini.
“Maaf ma, aku membawa kabar yang tidak baik, papa mengusirku dari rumah, aku tahu aku bisa dan mampu hidup sendiri, tapi aku tak ingin papa mencintai wanita yang salah, aku tidak mau tempat mama digantikan oleh wanita ular itu,” lirihku. Aku memang anak mama yang manja, tapi sekarang aku harus kuat demi papa.
“Aku janji sama mama, aku akan berusaha sekuat mungkin agar papa berpisah dengan wanita itu, aku janji ma,” tegasku sambil menghapus bersih sisa air mata di pipiku.
Tekadku sudah bulat, kutinggalkan makam mama dengan perasaan yang lebih tenang dan lega, terima kasih, ma, mama tetap menjadi tenagaku dimana pun mama berada.