Sabtu, 29 Juli 2017

THE AMAZING JOURNEY



Gemuruh ombak dan angin kencang menemani empat manusia yang sedang duduk di jembatan dipenuhi lautan di bawahnya. Dua perempuan dan lelaki itu mulanya hanya berfoto dan menikmati keadaan sejuk dengan awan mendung. Mereka berhenti mengambil gambar dan mulai berbagi cerita. Panggil saja perempuan yang pertama dengan sebutan Anggi, selanjutnya Aira, Fai dan terakhir George.
Anggi, Aira dan Faiz berasal dari Negara yang kini sedang mereka nikmati alamnya, sedangkan lelaki yang satunya lagi, George adalah teman yang datang dari benua lain, tepatnya dari benua Afrika. Kedatangan teman jauh itu membuat mereka harus berbiara menggunakan bahasa asing, yaitu bahasa Inggris.
Percakapan mereka masih seputaran nama, tempat tinggal, dan tempat belajar George. Pria tinggi putih itu menjawab semua pertanyaan dari tiga temannya dengan tenang. Ia mengatakan bahwa ia tinggal di Afrika Utara, namun ia sekolah di Cina. Ia menceritakan sedikit tentang penduduk Cina yang awet muda.
Kebanyakan penduduk Negeri itu tenaga maupun wajahnya terlihat lebih muda dari usianya, bahkan sampai ke titik yang tidak bisa kita bayangkan, contoh katanya, ada nenek-nenek yang sudah berumur empat puluh tahun, namun masih terlihat seperti dua puluh tahunn lebih muda. Ada pula yang berusia lima puluh tahun terlihat seperti baru tiga puluh tahun.
Setelah percakapan singkat yang terjadi di sisi pantai Ulee Lheu, mereka beralih ke coffee. Mempertimbangkan bahwa George suka ngopi, ke tiga lainnya pun setuju membawa George ke salah satu Coffee yang terkenal di daerahnya.
***
Interior coffeenya yang indah dengan jendela-jendela kaca, kursi-kursi sofa, kayu, semua tertada rapi. Wallpaper dengan gambar bangunan itu membuat nuansa coffee semakin nyaman. Anggi, Aira, Faiz maupun George kompak masuk dan masih berdiri melihat di mana posisi duduk yang bisa membuat mereka nyaman.
Dengan pasti Fai memilihg satu set tempat duduk dengan meja yang sedikit sempit. Ia duduk dan dengan otomatis, ke tiga lainnya pun ikut duduk. Mereka mulai memesan minuman kesukaan mereka. Sambil menunggu pesanan, Anggi angkat bicara, ia mengatakan bahwa tempat duduk sofa di samping mereka akan sitinggalkan oleh pengunjung yang duduk di sana, perempuan berkaca mata itu mengusulkan agar mereka pindah duduk ke sofa, dan yang lainnya pun setuju.
Pesanan kami pun sampai, sambil menikmati minuman kami, cerita pun kembali berlanjut. Anggi mulai bertanya tentang apa yang membuatnya penasaran, yaitu tentang George yang baru saja masuk Islam setahun silam. Ia bertanya, kenapa pria itu mau memeluk agama Islam, apa yang membuatnya interest pada Islam?

Selasa, 25 Juli 2017

Jangan Salahkan Aku

Pasal pertama, perempuan nggak pernah salah, pasal ke dua, kalau perempuan salah, maka harus kembali ke pasal pertama. Dua pasal yang dinobatkan kebanyakan pria bagi wanita. Jujur, aku kurang setuju dengan pasal tersebut, mengapa? Karena perempuan juga manusia, dan manusia tidak pernah luput dari kesalahan.
Mungkin, pasal di atas muncul dikarenakan sikap para anita itu sendiri. Kebanyakan dari mereka tanpa sengaja telah menganut hal itu. Perihal yang bisa menimbulkan sebuah kehancuran. Tak ingin disalahkan meski ia salah itu suatu sikap yang egois, dan  bisa menimbulkan permasalahan lainnya. 
Memang dalam realita, tak semua perempuan menganut pasal yang sedemikan itu, hanya saja, kebanyakan lelaki mengakui hal itu. 
Bukan hanya bagian pasal di atas, perempuan terkadang juga membuat para lelaki kesal dan jengkel karena sikap mereka yang ribet. Tak perlu jauh, sangat banyak contoh yang kita temui dalam keseharian kita tentang sikap ribet itu, salah satunya, saat terjadi sesuatu dengan si perempuan, maka ia akan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, meski telah ditanyai dan diperhatikan, tapi ia tetap kekeuh untuk tidka mengakui bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Karena sikap itu, lelaki atau perempuan yang memberikan perhatian kepada si perempuan yang memiliki masalah tersebut akan meninggalkannya begitu saja, dan saat itu terjadi, tak jarang si yang terkena masalah menganggap bahwa mereka tidak peduli, dan akhirnya memendam kemarahan lainnya lagi.
Selain dua hal di atas, ada juga tipekal cewek yang cuek, luar biasa cuek. Tipe yang begini juga sering membuat orang lain jengkel, meski pun orang asing yang tidak saling kenal, akan lebih baik jika mereka bertanya maka setidaknya kita menjawab. Jangan sampai mengacuhkan bahkan meninggalkan mereka begitu saja, padahal ia dengar dan melihat satu sama lain.

Sikap, etika, dan norma memang telah di atur sedemikian rupa. Kesemua itu telah ada dalam diri manusia, hanya tinggal bagaimana cara mereka menggunakan dan membudidayakan kesemuanya itu dalam visi dan misi positif, bisa bermanfaat bagi mereka dan orang lain.

*skylover, 12:34 PM

Senin, 24 Juli 2017

SINAR DI BALIK AWAN


I
Darel duduk di atas gedung sekolah dengan menjulurkan kedua kaki ke bawah dan sebatang rokok di tangan kiri yang tinggal setengah. Kemeja biru bertengger manis di bahu kiri sedang ia kini hanya mengenakan kaos biru pekat dengan tulisan Be Mine. Rambut yang semula tertata rapi kini acak-acakan, kulitnya yang berwarna putih pucat berubah sedikit memerah karena menahan emosi, bola mata berwarna hitam pekat itu menatap sayu ke bawah gedung. Cowok yang terkenal jenius ini terus larut dalam dunia fikirannya sendiri hingga ia tak menyadari seseorang telah berdiri di sampingnya.
“Kamu belum pulang? Sekolah sudah sepi, pesta kelulusan pun sudah berakhir, apa kamu berniat untuk menginap di sekolah?” pertanyaan itu membawa Darel kembali ke dunia nyata.
Ia tak langsung menjawab, dihisap habis rokok yang tinggal sedikit, kemudian memadamkan api dan melemparnya ke bawah gedung.
“Aku masih memikirkan sesuatu,” ucapan Darel mampu membuat orang disisinya itu ikut duduk.
“Apa yang kamu fikirkan? Masa depan yang sudah papa tentukan untukmu?”
Tebakan cowok yang memiliki wajah yang sama dengan Darel itu hanya mendapat anggukan darinya.
“Aku tau papa hanya menumpukkan semua harapan masa depan perusahaan itu padamu, tapi menurutku itu yang terbaik bagimu, kak,” Darel menatap kembarannya tajam.
Cowok yang masih rapi itu dengan tenang melanjukan kata-katanya.
“Aku akan sangat berterima kasih jika kamu memenuhi harapan papa,” ucap Farel menatap Darel dengan tersenyum hangat. Hal itu membuat Darel semakin emosi.
“Apa kamu melakukan sesuatu?! Apa yang kamu katakan pada papa hingga papa memberiku pesan seperti itu?!” tanya Darel dengan suara meninggi.
“Aku hanya mengatakan pada papa bahwa kamu bersedia menggantikan papa mengurus perusahaan,” jawaban Farel semakin membuat Darel hilang kendali.
“Kamu tahu aku sudah mendaftar di Art University di Paris, dan aku lulus beasiswa. Kamu ikut senang mendengarnya tapi, kenapa sekarang kamu melakukan ini? Apa saat itu kamu hanya berpura-pura?” suara Darel mulai serak, matanya memerah menahan agar air matanya tak jatuh. Ia bangun dari duduknya.
“Kamu kakakku, dan sudah seharusnya kamu tidak bermimpi untuk melarikan diri dari tanggung jawab seorang penerus, kamu harus dan wajib menanggungnya, kak,” kata Farel sambil ikut berdiri. Ia menatap Darel datar.
“Aku tidak pernah berpura-pura saat itu, aku ikut bahagia tentunya. Tapi, keadaan yang membuatku harus melakukan hal itu, kak,” kata Farel menekankan.
“Apa alasan yang membuatmu ikut campur dalam hal itu?” tanya Darel datar. Ia mulai bisa menguasai emosinya, bagaimana pun, mereka berada di tempat yang memungkinkan mereka kehilangan nyawa mereka,  jika saja mereka salah langkah, meski gedungnya hanya sampai 3 tingkat.
“Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di Jepang, dan aku tak mau jika harus meninggalkan mimpiku hanya untuk menggantikanmu di perusahaan,” jujur Farel sambil pergi, Darel menatapnya tak percaya.
“Aku pulang naik taxi,” lanjutnya sebelum menghilang dari pandangan Darel.
Farel sangat mencintai dunia tekhnologi dan mesin, sedangkan Darel sangat mencintai dunia seni, lebih ke arah seni lukis, mereka sama-sama mencintai mimpi mereka. Namun, perusahaan orang tuanya yang terjun di bidang produksi makanan ringan dan softdrink membuat keduanya tidak tertarik untuk menggantikan posisi papa mengurus perusahaan itu.
Darel kemudian turun dari tembok pembatas dengan pikiran yang masih kacau balau. Ia tau, Farel sama egois dengan dirinya tapi, ia pun tak ingin kalau Farel harus meninggalkan mimpinya. Ia begitu menyayangi adiknya itu.
Ia masih teringat dengan perkataan Farel tadi yang terlihat egois, ia tak pernah menyangka kalau kembarannya itu mengatakan semua dengan tenang. Meski sejak dulu mereka akur, saling membantu, lepih tepatnya, Darel yang sering membantu Farel mengatasi semua masalah yang ia lakukan saat di sekolah, agar tidak diketahui papa mereka. Darel sering menggantikan Farel mengerjakan hukumannya. Semua itu ia lakukan semata karena ia menyayangi Farel dan tak ingin Farel kena hukuman apapun, hatinya yang lebih lembut jelas tak ingin adiknya lelah atau pun sakit.
“Apa selama ini aku terlalu memanjakan dan mengabulkan semua keinginannya hingga ia bisa berkata demikian dengan mudahnya?” lirih Darel sambil menuruni tangga menuju ke parkiran.
 ***

TAMAT



Ia menatapku datar, tatapan yang sudah sering kulihat. Ia tak pernah menampakkan ekspresi apapun dalam tatapannya itu, selama lima tahun hidup bersama, aku sudah terbiasa dengannya. Pria tampan itu melihat jam tangannya, mengehembuskan nafas beratnya, seakan ia menanggung beban yang berat. Aku tahu ia duduk di sini ingin berbicara serius denganku tapi, lima belas menit hanya kami lewatkan dalam keheningan. Aku tak berani membuka suaraku, meski kami hidup sebagai suami-istri, tak ada cinta darinya untukku.
Wajah maskulinnya terlihat cemas, ia masih setia diam tanpa menatapku sama sekali. Apa yang terjadi dengannya? Sejak ia duduk di hadapanku, pakaiannya yang sudah tak rapi, rambut yang acak-acakan, semakin menambah ketampanannya, dan kaca mata yang sudah dilepaskannya, membuatku sangat penasaran, apa yang telah terjadi di kantornya?
Suara getaran hp di atas meja membuatnya dengan cepat mengambilnya dan mulai serius membaca isi pesan tersebut. Rahang dan wajahnya mengeras, mata itu menyipit, ia sedang menahan kemarahannya. Sebenarnya, apa yang terjadi, Juan?
 “Aku hanya ngomong sekali, dengar baik-baik,” tiba-tiba suara bariton itu membuatku beku. Ia menyimpan kembali hpnya, kemudian menatapku sendu. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk mengerti.

MENGAPA HARUS MENULIS?


Menulis bisa dilakukan oleh siapa saja, dengan berbagai alasan kenapa ia harus menulis. Penulis itu sendiri terkadang tidak mau ambil pusing dengan alasan kenapa ia harus menulis, baginya menulis saja hingga selesai, sudah cukup sampai di situ saja. Meski begitu, banyak juga dari penulis yang peduli dengan semua itu.
Mengapa kita harus menulis?
Pertanyaan diatas membuat saya berfikir kembali, apa alasan saya menulis, dan mengapa harus menulis. Setelah berkutat dengan pemikiran saya,  banyak jawaban yang saya temukan. Dengan ini, saya ingin berbagi tentang jawaban dari pertanyaan di atas, semoga bermanfaat.
Ada beberapa alasan mengapa kita harus menulis, di antaranya;
v  Sebagai Media Dakwah
Dakwah kebaikan tak hanya bisa dengan cara berdiri di atas podium dan berceramah, dakwah juga bisa dilakukan dengan menulis. Tak sedikit pembaca yang tergerak hatinya jika membaca tentang kebaikan maupun keburukan. Maka dari itu, menulis berbagai hal tentang kebaikan dan mengandung unsur positif lainnya bisa bermanfaat bagi pembaca jika mereka bisa tergerak untuk berbuat baik.
v  Tempat Menyalurkan Ide dan Pikiran
Isi pikiran yang terlalu banyak dan tak bisa diungkapkan dengan berbicara, bisa diungkapkan dengan cara menulis. Menulis dapat membuat kita mengurangi beban-beban pikiran hingga kita bisa mengekspresikan diri dengan bebas.
v  Karya Nyata
Menulis bisa menjadi sejarah nyata bahwa kita pernah menulis. Dengan menulis, maka kita telah meninggalkan sebuah sejarah nyata tentang diri kita. Menghasilkan karya yang bisa member manfaat bagi banyak orang akan menjadi amal tersendiri bagi kita.
Dengan membaca, kita bisa mengenal dunia.
Dengan menulis, kita akan dikenal dunia.

Tetap semangat, dan terus berjuang, karena sukses itu ‘mahal’.