Sabtu, 16 Desember 2017

JEY

Jalanan tampak lenggang, sepi. Gue cowok tapi jujur kalau situasi jalannya seperti ini, gue takut juga. Siapa yang nggak takut ngelewatin jalan kuburan di jam tengah malam begini, belum lagi yang lewat cowok yang tampangnya tampan pake banget kayak gue, ntar kalau ada kutilanak atau hantu perawan yang ngejar gue gimana, ogah banget gue!
"WOI!"
"Kutu Kupret! Astagfirullah, Man, nepuk bahu gue sih boleh, tapi jangan sampe ngebuat gue jantungan juga kali," gue masih ngelus dada saat Arman sobat gue yang ntah nonggol dari mana itu hanya cengengesan.
"Sorry sob, gue ngeliat elo dari jauh, nampak banget lu ketakutan gitu, ya sekalian aja gue kerjain, hahaha." dan sekarang ia tertawa dengan seenak jidatnya.
"Woi Man, lu kudu tau, ini kuburan memang angker, dan gue nggak mau ambil resiko buat pulang lewat jalan ini, tapi lu juga tau, ini satu-satunya jalan," gue ngeluh dengan situasi yang ini, kapan kelarnya sih, lorong yang sedang direnovasi di sebelah.
"Lah lu sendiri dari mana? Kenapa jam segini baru pulang?" Arman mengamati gue.
Ops! Gue lupa bilang, kalau gue mulai malam ini ikut pengajian di Mesjid Agung yang tak jauh dari rumah gue, dan gue ngga tahu tuh pengajian kelarnya sampe tangah malam gini, tau gitu gue pake motor tadi, ini gue malah jalan kaki lumayan dekat.
"Woi! Ditanyain malah bengong," Arman kembali menepuk bahu gue. Kini giliran gue yang cengengesan.
"Gue mulai ikut pengajian di mesjid Agung, bro, dan gue nggak tahu bakal kelar tengah malam, gue malah asik jalan kaki ke mesjid, tau gini kan gue enakan pake motor," gue mulai menatap sekitar, melihat kali aja ada yang lewat ke jalan kuburan sama kaya gue.
"Gue pake mobil, mau gue anter sampe rumah?" Arman menggoda gue sambil tersenyum jail.
Gue tepok juga noh kepalanya, mana muat jalan segitu di pake buat masuin mobil, mulai nggak waras ni kawan.
"Lu baca doa banyak-banyak bro, gue musti cabut pulang juga ni, baru kelar belajar bareng anak kampus tadi, gue duluan yo bro, good luck!" Arman ngacir sambil terus ngetawain gue.
Sial!

Kamis, 14 Desember 2017

TULUS

"Pergi!!" hardiknya keras.
"Aku tidak butuh bantuanmu!" lanjutnya sambil pergi dari hadapanku, meski langkahnya masih tertatih. Aku mengikutinya dari belakang, ia msih terus berjalan.
"Berhenti mengikutiku, Kin!" spontan langkahku terhenti. Ia masih memunggungiku, namun langkahnya kembali berlanjut. 
Aku memang keras kepala karena masih mengikuti gadisku yang ngambek. Kupercepat langkahku agar bisa mensejajarkan langkahnya.
"Aku minta maaf, Na, aku nggak mau kehilangan kamu dengan cara seperti ini, aku mohon kamu mau mendengar penjelasankku," kutatap matanya lembut, berusaha menyalurkan kasih sayangku padanya. Aku sangat mencintai gadisku ini, tapi sikap keras kepalanya yang tidak kalah denganku membuat hubungan kami kerap kali retak seperti sekarang ini.
"Aku mau pulang, Kin, kakiku rasanya keram," tiba-tiba sikapnya berubah manja, ia menatapku sendu, kemudian menunjukkan kakinya. 
"Kita bicarakan di rumahku kalau kamu mau," kataku sambil menahan senyum.
"Aku masih marah, Kin, aku belum memaafkanmu," katanya mulai berpegangan pada lenganku.
"Bukannya tadi kamu tidak butuh bantuanku?" godaku sambil memegang pinggangnya kuat agar ia tidak jatuh.
"Aku terpaksa, kalau bukan karena kakiku yang mulai ketulungan sakitnya, aku juga tidak akan memintamu menolongku," ujarnya kesal.
Aku memilih diam, ia masih kesal dan marah padaku dan aku tidak ingin menambah kekesalannya. 
Kami sampai di tempat dimana aku memarkirkan mobilku, aku membantunya untuk masuk ke mobil, aku pun menyusulnya, kulajukan mobilku dengan kecepatan ringan, aku masih ingin berlama-lama bersamanya.

Jumat, 08 Desember 2017

Jaringan Cinta

Emosi yang terus kutahan  kini mulai meluap.
PLAK!
Tamparan keras dariku membuat wajah tampan itu meringgis, ia memegang pipinya yang memerah.
"Akira?" ia menatapku sendu.
"Selama ini aku selalu sabar menerima semua kebohonganmu, Vin, dan aku sudah muak memberikanmu uang yang terus kau pakai untuk bermain dengan wanita lain di belakangku, kau fikir aku tidak tahu, selama aku pergi ke luar kota, kau asik-asikkan bermain dengan wanita simpananmu itu," ia menundukkan kepalannya dalam.
"Kamu tetap tidak bisa berpisah dariku, Ra, karena aku tau, kamu hanya mencintaiku," aku memalingkan wajahku darinya.
Ia sangat tahu tentang perasaanku, entah kenapa perasaanku tetap tidak bisa berubah, aku tidak bisa benar-benar membencinya, aku sangat membenci diriku sendiri, ingin rasanya aku bunuh perasaan cinta ini, tapi aku tetap jatuh dihadapannya. Oh Tuhan!
"Aku sangat meridukanmu, Ra, alasan semua itu kulakukan karena aku sangat merindukanmu, bisakah kamu meninggalkan pekerjaanmu, dan hanya fokus padaku? Aku menginginkan kehadiran tawa bayi di rumah ini, Ra. Kamu selalu menolak itu, dan aku tidak punya pilihan lain selain bermain dengan wanita manapun yang ingin memiliki anak denganku, aku bahkan tidak keberatan saat Keila mengatakan bahwa ia mengandung bayiku, aku bahagia mendengarnya, namun aku tak menyadari bahwa hatiku menangis, kenapa bukan kamu yang mengandung bayiku, kamu adalah wanita sahku, sedangkan Keila hanya wanita yang kunikahi karena kesalahan fatal itu, dan sekarang kamu marah karena berita ini?"
Aku masih terdiam di dalam pelukannya yang hangat. Apa sebesar itu keinginannya untuk memiliki bayi? Apa aku salah karena membiarkannya mengurus rumah sedangkan aku bekerja?  
"Aku memenuhi semua keinginanmu, termasuk melepaskan pekerjaanku hanya karena aku ingin kamu bahagia, dan sekarang aku tanya padamu, apa kamu bahagia dengan keadaan kita sekarang? Terlebih dengan kehadiran Keila dan bayi kami?" 
Aku masih diam. Ia semakin mengeratkan pelukannya, aku mulai merasa akan kehilangan pria yang selalu ada untukku dan memenuhi semua keinginanku ini, aku tidak mahu, kubalas pelukannya dan semakin menenggelamkan wajahku di dada bidangnya, kuhirup aroma tubuhnya yang begitu kurindukan, aku tak ingin berpisah darinya, aku ingin dia selalu ada untukku setiap kali aku pulang kerja dan kami akan menghabiskan waktu dengan menonton tv sambil bercanda hingga aku tertidur di dalam pelukannya.
"Jangan pernah lepaskan aku, Vin, aku sangat mencintaimu, aku membutuhkanmu," serakku yang mulai menangis. Biasanya ia akan luluh jika aku menangis.
"Maafkan aku, Ra, pernikahan ini memang kita lakukan dengan cinta, tapi, kepergiaanmu keluar kota yang hampir sebulan, bahkan kamu seprti lupa padaku, meski sesekali kamu menyempatkan diri meneleponku, itu tidak cukup, Ra," suaranya serak, apa ia juga menangis?
"Kalau begitu, aku tidak akan lupa untuk selalu memberi kabar jika aku bekerja di luar negeri lagi, aku akan sering skype denganmu, jadi jangan tinggalkan aku, ya," kulepaskan pelukannya dan menatapnya lembut.
"Aku minta maaf telah marah, aku tahu aku salah, tapi masih ingin bekerja dan aku masih ingin kamu tetap di sisiku, Vin, aku tahu aku egois karena tidak ingin memiliki bayi, tapi ini demi pekerjaanku, apa kamu mau aku sedih karena selalu meninggalkan bayiku demi pekerjaanku kelak, tentu tidak, kan, jadi,"
"CUKUP!"