Kamis, 28 Mei 2015

Hijrah Cinta

Mulanya, aku masih berfikir dua kali untuk menjawab ‘iya’ dalam situasi yang buruk ini. Namun, aku juga tak ingin kehilangan orang yang paling kusayang. Aku hanya mampu menganggukkan kepalaku, menandakan bahwa aku bersedia menjadi pendamping hidupnya. Dan sekarang wanita yang berdiri dihadapanku kini menatapku tajam.
“Kamu serius, Sha?” Tatapan Kei membuatku hanya mampu tersenyum dan kembali menganggukkan kepalaku.
Dalam sekejab, Kei langsung menyentuh lembut kepalaku. Sikapnya yang seperti ini mampu mempuatku tersipu.
“Thanks.” Katanya lembut.
PLAK!!

Kamis, 21 Mei 2015

Aku & Para Inspirator



   Berangkat dari rumah pukul 13.30 WIB, dan aku mermarkirkan hondaku di parkiran gedung Sultan Selim II tepat pukul 14.30 WIB, kalau diperhitungkan, jarak dari rumahku ke genung ini, hanya menghabiskan 15 menit perjalanan, namun, karena aku lupa di mana gedung megah ini berada, akhirnya aku menemukannya saat aku hampir putus asa mencari dimana letak gedung indah ini.
Aku dan temamku, Ratna berjanji akan berangkat bersama ke gedung ini untuk menghadiri Seminar dan Peluncuran buku yang di adakan di lantai II gedung ini, namun karena satu dan dua hal, ia tak bisa berangkat bersamaku, aku sempat bertanya padanya, “Dimana letak gedung Sultan Selim II?” kataku saat teleponku tersambung dengannya, “Di belakang taman Putroe Phang.” Jawabnya cepat. Dan aku mulai mencari gedung itu, hingga aku sempat tiga kali putar-putar di jalan seputaran taman Putroe Phang itu. Saat aku hampir putus asa, aku menemukan Gapura bertuliskan nama Sultan Selim II tepat di depan taman Putroe Phang, dan dengan senyum semeringah, aku memasuki kawasan gedung tersebut.
Setelah parkir, aku langsung menuju ke lantai dua, dan ternyata seminar nya sedang berlangsung. Dengan cepat aku menulis namaku di buku tamu, kemudian mereka memberiku secarik kertas bertuliskan angka 74, aku sempat bertanya pada panitia, apa mereka menyediakan buku yang akan diluncurkan untuk di jual, namun mereka menerangkan bahwa secarik kertas itu yang akan membuatku memiliki buku yang akan diluncurkan itu secara gratis, dalam hati aku bersyukur.  suasana sepi menyelimuti ruangan berAC itu.
Setelah regristrasi, aku langsung memasuki ruangan berAC itu. Aku memilih duduk di deretan atas sebelah kiri, tempat yang masih sangat kosong. Sebelumnya, saat aku memasuki ruangan ini, aku melihat guru sekaligus pendiri Sekolah Hamzah Fansuri, bang Thayeb, duduk di kursi bawah paling depan. Sebenarnya hari ini kami para siswa Sekolah Hamzah Fansuri memiliki jadwa belajar hari ini, pada jam 15.00 WIB.
Namun, karena adanya acara seminar dan peluncuran buku tersebut, aku pun memilih mengikuti acara ini terlebih dahulu, sebelum pembelajaran dimulai. Dalam dudukku sambil memperhatikan pemateri yang bernama bapak Muhammad Fauzan Azim Syah itu, aku juga memperhatikan gerak guruku tersebut, jika beliau keluar tepat jam 3, aku pun akan keluar dari ruangan ini, agar aku tak ketinggalan pelajaran, pikirku.
Dalam materi yang di sampaikan oleh pak Fauzan tersebut menjelaskan sejarah singkat tentang pembangunan gedung ACC Sultan Selim II tersebut. “Gedung ini dapat digunakan oleh masyarakat dan terbuka untuk siapa saja,” ujar pak Fauzan. Para hadirin tampak menyimak dengan khidmat.
Direktur gedung ACC Sultan Selim II tersebut juga menerangkan bahwa, dalam kepemimpinan harus bisa menghormati orang lain, untuk menciptakan tim kerja yang tak perlu di pantau, dan menyeleksi tim kerja yang sesuai dengan bidangnya, serta mereka menyukai apa yang dikerjakan.
Di sela-sela apa yang di sampaikannya, Ratna, temanku datang dan duduk di sampingku. Tak berapa lama kemudian, ku perhatikan guruku telah keluar ruangan, dan dengan cepat, aku pun ikut keluar ruangan. Tapi, saat ingin menuruni tangga, aku berpas-pasan dengan beliau, aku bertanya, gimana dengan sekolah, kapan kita mulai belajar, beliau dengan tenang menjawab, “Kita ikuti acara ini dulu sebentar, kemudian kita baru mulai belajar.”
Aku pun mulai bingung juga malu, tadi dengan sedikit terburu, aku keluar dari ruangan itu dengan meninggalkan temanku sendirian, sekarang, aku harus masuk kembali. Aku fikir, lebih baik aku menunggu temanku yang katanya tadi sedang dalam perjalanan menuju gedung ini.
Tak berapa lama kemudian, ia pun hadir, dan dengan ramah aku tersenyum padanya sambil berkata, “Yang lain pada kemana, Mad?”, dengan santai, Rahmad menjawab, “Tadi aku ke Keudah dan dari sana aku langsung ke sini, jadi kami tidak barengan,” sambil tersenyum aku menambahkan, “Biasanya 4 serangkai nggak pernah pisah.” Ia hanya tersenyum menanggapi kata-kataku itu. 4 serangkai yang tak lain juga siswa Sekolah Hamzah Fansuri yaitu terdiri dari Rahmad, Kautsar, Nazar dan Reza.
Aku mulai kembali masuk ke ruangan, dan dia menyusulku, namun, kami duduk terpisah. Aku mulai kembali memperhatikan pemateri yang ternyata sudah berganti orang, kalau yang tadinya berbicara adalah pak Muhammad Fauzan Azim Syah, kini yang berbicara adalah seorang narasumber pemilik kedai Taufik Kupi Banda Aceh yang tak pernah sepi.
Menurut beliau, kita hidup harus berusaha, dan berpendidikan sederhana dengan S5 (Salam, senyum, sapa, sopan, dan santun). “Bekal utama kepemimpinan adalah kejujuran, sehat dan tenaga, serta salam, senyum, sapa, sopan, dan santun, atau S5,” kata pak Taufik. Tak lama kemudian, narasumber yang ke tiga ambil bagian.
Bapak Nahar Aba Hakeem menerangkan bahwa kepemimpinan adalah seorang yang berani mengambil tanggung jawab yang lebih atas orang lain. Dan dalam kepemimpinan juga butuh rasa empati, “Rasa empati terhadap orang lain juga sangat di butuhkan. Jangan menilai orang lain, sebelum merasakan apa yang mereka rasakan. Itu lah rasa empati.” Kata bapak pengamat sukarelawan dan kepemimpinan ini.
Saat narasumber ke tiga berbicara, Kautsar, Nazar dan Reza memasuki ruangan ini, dan mereka duduk terpisah, meskipun terlambat, namun mereka masih bisa menerima sedikit materi yang sempat di utarakan narasumber ke tiga tentang kepemimpinan dan sukarelawan.
Setelah ke tiga narasumber mengakhiri materinya, kini beralih ke sesi tanya-jawab. Ada tiga penanya yang bertanya tiga hal yang berbeda, mulai dari Zia anak biologi Unsyiah yang bertanya bagaimana mengahadapi tim kerja yang dalam bekerja tidak lagi mengerjakan hal yang telah di sepakati, dan pertanyaan tersebut ditanggapi pak Fauzan dengan mengatakan agar bisa bersikap tegas terhadap mereka. Hingga pertanyaan yang di tujukan kepada pak Taufik, bagaimana system dalam menjalankan kedai Taufik Kupi yang terlihat selalu ramai dengan pengunjung, dan pak Taufik menjawab bahwa, beliau hidup dengan S5 dan konsep hidup dengan apa yang sudah diberikan oleh Allah SWT. dan menjalaninya dengan baik.
Setelah sesi Tanya-jawab, Juanda Jamal sebagai pemandu acara menutup seson seminar tersebut, dan kemudian membuka seson peluncuran buku Istanbul warna ibukota dunia. Acara selanjutnya di pandu oleh salah satu Mc yang langsung mengambil alih panggung. Dengan sopan, Mc menyapa para hadirin sebelum akhirnya memanggil salah seorang dosen yang hadir dalam acara tersebut, Sulaiman Tripa, beliau menerangkan bahwa, “Buku ini menarik karena wartawan foto yang menulis, ini saya kira luar biasa, karena orang foto saja bisa menulis sebuah buku, apalagi jika wartawan tulis.” Ujar pak Sulaiman.
Mc kemudian memanggil sang wartawan foto yang telah berhasil menulis sebuah buku tersebut untuk naik ke atas panggung. Ariful Azmi Usman mengatakan bahwa ia  hanya sebulan di Turki, dan ia mulai menulis setelah kepulangannya ke Aceh, proses penulisan berlangsung dalam 3 bulan. Pemuda ini tidak takut menulis karena dengan menulis ia bisa merasa hidup 1000 tahun lagi. Siapa pun bisa menulis, jika ia mau. Pemuda yang kuliah di Unsyiah tersebut juga menegaskan bahwa, buku yang ditulisnya tidak di jual, jadi akan di bagikan secara gratis.
Peluncuran buku dilakukan secara simbolis hanya sekedar tanda tangan para pendukung besar serta panitia pelaksana acara. Acara kemudian di tutup setelah Mc mengabarkan bahwa buku akan di bagikan secara gratis bagi yang mendapat kupon saat registrasi.
Ke dua seson acara yang berlangsung pada Selasa (19/05/2015) sejak pukul 14.00 s/d selesai tersebut menjadi inspirasi tersendiri bagi kami siswa Sekolah Hamzah Fansuri serta para hadirin, baik itu tentang kepemimpinan, sukarelawan maupun tentang kepenulisan.

***

Setelah acara berakhir, aku bersama Ratna mengantri untuk mengambil buku Istanbul tersebut, setelah itu, aku yang akan mengikuti belajar kembali ke ruangan, sedangkan Ratna memilih untuk pulang. Saat aku kembali, aku mendekati ke empat pria teman sekolahku, saat hampir mendekati mereka, Rahmad mendekatiku dan langsung mengambil buku Istanbul dari tanganku dan membuka sampulnya, “Minta tanda tangan penulisnya langsung.” Katanya yang didukung anggukan dari teman-teman lainnya.  “Ok.”
Bergegas aku menuju kerumunan orang yang sedang mengerumuni sang penulis, cukup lama aku mengantri, sehingga aku tak menyadari bahwa ke empat teman-temanku telah keluar dari ruangan. Setelah bukuku di tanda-tangani, aku pun langsung keluar ruangan dan mendapati Nazar dan Reza sedang memandangi jalan di bawah melalui jendela kaca yang terletak di pertengahan tangga.
“Yang lain, kemana?” tanyaku sambil menuruni tangga.
“Shalat dulu, kata bg Muhajir,” jawab Nazar dan Reza barengan.
Ke dua nya menuju keluar gedung, sedangkan aku memilih shalat ashar di mushalla kecil yang terletak di bawah tangga. Setelah shalat, aku langsung ke luar dari gedung dan kudapati Kautsar dan Rahmad datang mendekati gedung.
“Mereka kemana?” Tanya Kautsar padaku.

After School

“Zinta tak pernah mengerti apa yang kamu bicarakan sekarang, Ranbir. Zinta hanya ingin menjadi lebih dari sahabat kamu, tapi kenapa jawaban kamu  membuat Zinta bingung?”
Cowok tanpan itu memperbaiki pecinya. Dan tersenyum sebelum akhirnya berkata, “Ok, aku akan lebih menghaluskan jawabanku. Zinta binti Hendra, saya, Ranbir menolak untuk menjadikanmu lebih dari seorang sahabat, maaf.”
Zinta terdiam, ia menatap Ranbir penuh kasih, Ranbir hanya tersenyum tak enak ke Zinta. Tak terasa air mata jatuh membasahi pipi Zinta. Ranbir terkejut melihatnya, begitupun Shena, Hira dan Deo yang ikut menyaksikan pengakuan Zinta tersebut, mereka tak menyangka bahwa Zinta akan menjatuhkan air mata demi cinta, karena Zinta terkenal ‘dingin’ dan susah menangis.
“Ok kalau itu jawabanmu, thanks pernah menjadi sahabat Zinta, sekalian, Zinta mau pamit. Sampai jumpa lagi, dan Zinta berharap kita masih bisa jadi teman, meskipun kita berjauhan.” Kata Zinta sambil tersenyum simpul.
“Lu mau kemana, Zi?” kali ini Hira yang berbicara dengan nada masih terkejut.
“Alhamdulillah Zinta lulus S2 di Turki.”
“Ouh…” sahut Ranbir dan Deo barengan.
“Gue juga lulus di sana, Zi.” Kata Hira sambil tersenyum tipis ke Zinta, ia tak menyadari kata-katanya membuat Deo, Shena dan Ranbir terkejut.
Ke lima mahasiswa yang belum lama menggenggam gelar S1 ini bukanlah sahabat dekat, hanya Ranbir dan Zinta serta Shena yang sahabat dekat, tidak dengan Hira, dan Deo. Mereka tak sengaja dipersatukan dalam kepanitiaan tasyakkuran bagi yang baru lulus S1. Saat itu lah, kebersamaan mereka dalam kepanitiaan membuat keakraban di antara mereka menjadi hangat dan serasa seperti memilik keluarga ke dua. Namun, mereka kembali dipisahkan, karena situasi yang berbeda-beda dan waktu yang terus berjalan.


to be continue...


Berawal Di Gunung Seulawah

Gunung Seulawah
“Bek bagah that mee Honda hai, Tya.!”[1] Lengkingan suara Rya membuat Tya tak melambatkan laju motornya.
“Tya, istirahat dulu, yuk.”
Kali ini Tya setuju dengan kata-kata Rya. Perjalanan mereka hampir mencapai tujuannya. Dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh mereka tempuh hanya dengan mengendarai motor Vario. Wajar jika mereka kelelahan. Perjalanan mereka hampir menempuh waktu 6 jam.
Keduanya singgah di salah satu tempat peristirahatan Bus atau mobil L300. Warung makan, mushalla, toilet serta pasar buah ada di sana. Rya dan Tya duduk di salah satu tempat makan, mereka memilih kursi yang terletak sedikit jauh dari pengunjung yang lain.
“Hei! Awak droe neuh agoe! Pajan trouh keuno?”[2] kata-kata itu membuat Tya dan Rya memaling menghadap ke arah suara berasal.
Empat cowok yang mereka kenal berdiri santai menatap keduanya sambil tersenyum senang. Mereka pun bergabung bersama Tya dan Rya. Percakapan mereka terdengar santai sambil makan.
“Rizkan kapan kembali dari Mesir, gimana kuliahnya di sana, lagi liburan semester, ya?” pertanyaan Tya membuat cowok manis dengan kulit kecoklatannya itu menatap Tya sambil tersenyum.
“Iya. Cukup menyenangkan kuliah di sana.” Jawabnya singkat.
“Ah, mimpi ke sana selalu tertunda, suatu hari nanti, pasti bisa ke sana.” Kata kautsar sambil menerawang jauh.
Obrolan mereka pun menjurus ke bagaimana gambaran kuliah di negeri timur tengah itu. Mereka benar-benar menikmati obrolan mereka, bercanda ria hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB.
Mereke pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Banda Aceh. Tak ada yang berubah, Rizkan tetap bersama Syukrijal, Kautsar dengan Muazar, dan Tya tetap bersama Rya. Perjalanan Tya dan Rya sedikit berbeda karena Rizkan dan Kautsar serasa mengawasi mereka, tetap menjaga jarak antara motor mereka dengan motor Tya dan Rya. Sedangkan motor Syukrijal dan Muazar telah jauh ke depan. Mereka kembali berhenti, namun sekarang mereka berhenti di Mesjid Seulimum, masjid yang tak jauh dari tempat mereka istirahat tadi.

Senin, 18 Mei 2015

PENCURI



Kriingg,,kriingg,,kriiing,,
Tepat pukul 05.15 WIB jam beker dalam kamar Amat berdering, memecah kesunyian. Amat menyingkap selimutnya, mengocek matanya yang masih kotor, dan sedikit menggerakkan anggota tubuhnya ke kanan dan kiri untuk meregangkan sendi-sendi otot tubuhnya. Tak lama kemudian, ia beranjak dari tempat tidurnya yang masih berserakan, ia menuju kamar mandi berdinding pohon rumbia yang berada dibelakang rumahnya. Amat mengambil air whuduk untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang Mukmin. Tak berapa lama kemudian, Amat larut dalam shalat nya.
Selepas shalat, Amat bergegas melepas sarung yang masih melekat dipinggangnya, menggantinya dengan celana dan menukar baju shalatnya dengan baju lengan panjang yang sudah kecoklatan karena hampir tiap hari di kenakan nya setiap kali ia sedang memotong pisang di kebun nya, hingga baju tersebut terkena cipratan getah pisang dan membuat baju nya berubah warna.
“Mat, bergegas lah ke kebun, mungkin durian ada yang jatuh, kalau kamu terlambat,  nanti durian nya bisa diambil orang,” ujar neneknya yang sedang memanaskan kuah asam keu’eung[1] didapur.
“Iya nek, aku akan ke kebun, sekarang,” jawab Amat yang langsung keluar dari rumah nya.
Udara masih sejuk, ujung rumput dan ilalang masih menampung butiran embun yang sedang menunggu jemputan cahaya pagi.  Ayam masih saling berkokok satu sama lain. Amat melangkahkan kakinya dijalan yang berbatuan, sesekali apabila sandal jepangnya bergeser posisi, maka tapak kaki kasarnya langsung kena jalan yg berbatu, “Duhh, sakit juga,” keluhnya setiap tapak kakinya meginjak batu-batu runcing di jalanan itu.

Kisah Tentang Razi


Seperti setiap hari Senin sejak tiga minggu yang lalu, Razi, Haris dan Kiki kembali membuka komunitas mereka- “Rimba Raya” di depan Museum kampus. Komunitas ini adalah komunitas yang baru di bentuk dan bertujuan untuk menarik minat baca masyarakat. Karena ini baru permulaan, jadi  mereka hanya menetapkan satu hari yaitu setiap hari Senin untuk membaca di komunitas mereka yang telah menyediakan buku-buku yang terdiri dari Novel dan Motivasi.  
Tak seperti hari-hari Senin sebelumnya, Senin kali ini komunitas tersebut sepi, meski ada dua orang pengunjung dari Sekolah Hamzah Fznsuri yang singgah di komunitas, namun kedua nya tak bertahan lama, karena ada kepentingan lain yang membuat mereka harus segera pergi dari komunitas tersebut.
Kini hanya tinggal Haris, Razi dan Kiki. Ke tiga nya mulai berbincang-bincang tentang ide yang sempat di utarakan Rahmad-tamu dari SHF, usul tentang sebuah komunitas menulis. Sedang asyik berbincang, Kiki pamit pergi ke toilet. Sekembalinya Kiki dari toilet, ia langsung melemparkan pertanyaan kepada dua temannya itu.
“Ada nggak cara untuk membuat suara menjadi lebih dewasa?” Tanya Kiki sambil duduk di atas spanduk yang dijadikan sebagai alas untuk duduk di bawah pohon rindang tempat mereka memamerkan beberapa Novel dan buku Motivasi tersebut.
“Ada, bangun pagi, makan cabe banyak-banyak,” jawab Razi sambil tertawa ringan, membuat Kiki ikut tertawa dan mengatakan “Ada pula,”
“Ada ni, makan jeruk nipis banyak-banyak,” kali ini Haris ikut menjawab sambil tersenyum simpul.
“Ah, serius dong.” Kiki sedikit kesal namun ia masih tersenyum.
“Ki, kalau ada seseorang yang komentar tentang DP mu di BBM, gimana?” Tanya Haris tiba-tiba mengganti topic pembicaraan.
“Biasa aja.” Jawab Kiki seadanya.

Jumat, 15 Mei 2015

Desiran angin rindu

Tertulis berjuta kata untukmu
Menuturkan rindu terpendam
Tak sampai waktu melihat
Adakah kau seirama
Lewat desiran angin..
Ku layangkan seribu rasa..
Tak terhingga masa
Tak tertutup fatamorgana
Kau selalu ku rindu..

Ku amankan kau
Dalam doa dan bangun malamku
Tak terbaca malam
Atau pun siang..
Hingga singgasana emas
Terpahat kita
Dalam bingkai halal dan abadi..

Amin...

"Tak terasa begitu lama ia pergi, Na. Tapi, hanya aku yang slalu mengirimkannya email, namun tak pernah ada balasan." ujar Sinta sambil menutup laptopnya dan merebahkan dirinya di sisi Nina yang masih asyik membaca bukunya.
"Liburan simester ini, kau susul saja dia ke sana, dia pasti senang." kata Nina sambil tersenyum.
"Tapi, dia tak mengizinkanku ke sana."
"Oh come on, Ta. Dia itu tunangan kau, tak seharusnya dia bersikap seperti ini padamu, kau susul dia ke sana, dan perjelas, mengapa dia tak pernah membalas email kau selama hampir lima tahu  ini." kali ini Nina sedikit meninggikan suaranya.
"Oke. Aku ke sana, dengan syarat, kau juga harus ikut."
"Oke."

To be continue....