Selasa, 17 November 2015

Tertulis Untukkmu

Dalam hembusan nafas, doaku selalu untukmu
Dalam derap langkah, juga ada doa untukmu
Dalam keheningan malam, tak henti doa untukmu
Karena cintaku abadi untukmu

Kuhentikan tulisanku untukmu hanya sampai di sini. Aku tak ingin mengusikmu dengan panjangnya tulisanku. Aku haya ingin agar kau bahagia membaca tulisan-tulisanku. Maaf, jika selama ini aku tak pernah ada untukmu, jauh darimu, dan tak pernah membalas pesan-pesanmu. Aku hanya ingin kita bisa sama-sama menahan rasa ini hingga kita halal kelak. Bukannya aku sok naif, tapi aku hanya ingin menjalankan sunnah Rasulullah. Pacaran setelah menikah itu akan sangat indah dan tentu saja jauh dari dosa.
Apa harapanku salah? Atau terlalu berlebihan? Aku hanya ingin seperti mereka, yang mampu menjaga hubungan mereka dengan jalan halal. Aku harap kau mengerti dan membantuku mewujudkan impian ini.

                              Zataluna

"Serius amat, Zan? Surat dari siapa?" pertanyaan Surya membuatku langsung menutup lembaran itu dan memasukkannya ke saku celanaku.
"Dari Luna. Ngapain kau ke sini, Ya? Ada yang bisa kubantu?" tanyaku sambil merebahkan diriku di atas kasurku.
"Aku tak ingin kau membantuku, tapi aku ingin kau ikut denganku sekarang," kata cowok bertubuh tinggi itu sambil menarikku keluar dari kamarku. Dengan sedikit kesal kuikuti langkahnya keluar rumah.
"Mau kemana, sih?" tanyaku kesal saat Surya membuatku masuk ke mobilnya.

Kamis, 05 November 2015

Jalan Hidup



Perjalanan hidup itu masih panjang, kata pamanku tempo hari. Tidak bagiku, perjalanan hidup bagiku pendek. Aku tak begitu mengerti mengapa pamanku mengatakan seperti itu, apa karena ia telah hidup berpuluh-puluh tahun, atau karena ia yakin, bahwa ia takkan meninggal dengan cepat. Bukannya aku mendoakan agar pamanku cepat meninggal, tapi aku hanya ingin mengatakan bahwa mati itu tak ada yang bisa memprediksikannya.
Aku tak bisa memprediksikan apa yang akan terjadi semenit kemudian, apakah aku masih hidup esok, atau tidak. Oleh karena itu, aku mengatakan bahwa perjalanan hidup itu pendek. Meski kita selalu berdoa agar diberikan panjang umur, tapi tetap saja kita tak bisa tahu apa besok kita masih hidup.
"Saat doa kamu ucapkan, kamu harus yakin satu hal, positive thinking sama Tuhanmu, bahwa umurmu akan panjang, begitu pun dengan perjalanan hidupmu," kata sahabatku Jun saat aku mengutarakan pendapatku tentang perjalanan hidup bagiku pendek.
"Aku selalu percaya, Allah tuhanku selalu mendengar doa kami, tapi aku mengatakan itu karena aku tak bisa memprediksikan apa yang akan terjani semenit kemudian," kataku sambil menerawang jauh ke ujung pantai yang sedang kami kunjungi.
"Oke, kalau itu pendapatmu, tapi jangan salahkan mereka juga yang mengatakan bahwa perjalanan itu panjang, karena mereka juga memiliki alasan tersendiri mengapa mereka mengatakan demikian," kata Jun sambil melemparkan batu ke pantai yang sepi dari pengunjung itu.
"Aku tak terima, mereka mengatakan itu seakan mereka bisa memprediksikan bahwa mereka memiki umur panjang, itu salah menurutku, Jun," kataku menatap sahabat bertopi itu tajam.
"Terserah katamu, Nad, aku masih tak mengerti, mengapa kamu bisa berpikiran pendek seperti itu," kata Jun kembali melemparkan batu ke pantai.
Aku diam, hening.
Lama kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku masih duduk di pasir putih dan menikmati angin yang berhembus membawaku menerawang jauh.
"Nadin," suara lirih Jun membuatku menatapnya yang kini duduk di sisiku.