Dalam hembusan nafas, doaku selalu untukmu
Dalam derap langkah, juga ada doa untukmu
Dalam keheningan malam, tak henti doa untukmu
Karena cintaku abadi untukmu
Kuhentikan tulisanku untukmu hanya sampai di sini. Aku tak ingin mengusikmu dengan panjangnya tulisanku. Aku haya ingin agar kau bahagia membaca tulisan-tulisanku. Maaf, jika selama ini aku tak pernah ada untukmu, jauh darimu, dan tak pernah membalas pesan-pesanmu. Aku hanya ingin kita bisa sama-sama menahan rasa ini hingga kita halal kelak. Bukannya aku sok naif, tapi aku hanya ingin menjalankan sunnah Rasulullah. Pacaran setelah menikah itu akan sangat indah dan tentu saja jauh dari dosa.
Apa harapanku salah? Atau terlalu berlebihan? Aku hanya ingin seperti mereka, yang mampu menjaga hubungan mereka dengan jalan halal. Aku harap kau mengerti dan membantuku mewujudkan impian ini.
Zataluna
"Serius amat, Zan? Surat dari siapa?" pertanyaan Surya membuatku langsung menutup lembaran itu dan memasukkannya ke saku celanaku.
"Dari Luna. Ngapain kau ke sini, Ya? Ada yang bisa kubantu?" tanyaku sambil merebahkan diriku di atas kasurku.
"Aku tak ingin kau membantuku, tapi aku ingin kau ikut denganku sekarang," kata cowok bertubuh tinggi itu sambil menarikku keluar dari kamarku. Dengan sedikit kesal kuikuti langkahnya keluar rumah.
"Mau kemana, sih?" tanyaku kesal saat Surya membuatku masuk ke mobilnya.
