Sabtu, 16 Desember 2017

JEY

Jalanan tampak lenggang, sepi. Gue cowok tapi jujur kalau situasi jalannya seperti ini, gue takut juga. Siapa yang nggak takut ngelewatin jalan kuburan di jam tengah malam begini, belum lagi yang lewat cowok yang tampangnya tampan pake banget kayak gue, ntar kalau ada kutilanak atau hantu perawan yang ngejar gue gimana, ogah banget gue!
"WOI!"
"Kutu Kupret! Astagfirullah, Man, nepuk bahu gue sih boleh, tapi jangan sampe ngebuat gue jantungan juga kali," gue masih ngelus dada saat Arman sobat gue yang ntah nonggol dari mana itu hanya cengengesan.
"Sorry sob, gue ngeliat elo dari jauh, nampak banget lu ketakutan gitu, ya sekalian aja gue kerjain, hahaha." dan sekarang ia tertawa dengan seenak jidatnya.
"Woi Man, lu kudu tau, ini kuburan memang angker, dan gue nggak mau ambil resiko buat pulang lewat jalan ini, tapi lu juga tau, ini satu-satunya jalan," gue ngeluh dengan situasi yang ini, kapan kelarnya sih, lorong yang sedang direnovasi di sebelah.
"Lah lu sendiri dari mana? Kenapa jam segini baru pulang?" Arman mengamati gue.
Ops! Gue lupa bilang, kalau gue mulai malam ini ikut pengajian di Mesjid Agung yang tak jauh dari rumah gue, dan gue ngga tahu tuh pengajian kelarnya sampe tangah malam gini, tau gitu gue pake motor tadi, ini gue malah jalan kaki lumayan dekat.
"Woi! Ditanyain malah bengong," Arman kembali menepuk bahu gue. Kini giliran gue yang cengengesan.
"Gue mulai ikut pengajian di mesjid Agung, bro, dan gue nggak tahu bakal kelar tengah malam, gue malah asik jalan kaki ke mesjid, tau gini kan gue enakan pake motor," gue mulai menatap sekitar, melihat kali aja ada yang lewat ke jalan kuburan sama kaya gue.
"Gue pake mobil, mau gue anter sampe rumah?" Arman menggoda gue sambil tersenyum jail.
Gue tepok juga noh kepalanya, mana muat jalan segitu di pake buat masuin mobil, mulai nggak waras ni kawan.
"Lu baca doa banyak-banyak bro, gue musti cabut pulang juga ni, baru kelar belajar bareng anak kampus tadi, gue duluan yo bro, good luck!" Arman ngacir sambil terus ngetawain gue.
Sial!

Kamis, 14 Desember 2017

TULUS

"Pergi!!" hardiknya keras.
"Aku tidak butuh bantuanmu!" lanjutnya sambil pergi dari hadapanku, meski langkahnya masih tertatih. Aku mengikutinya dari belakang, ia msih terus berjalan.
"Berhenti mengikutiku, Kin!" spontan langkahku terhenti. Ia masih memunggungiku, namun langkahnya kembali berlanjut. 
Aku memang keras kepala karena masih mengikuti gadisku yang ngambek. Kupercepat langkahku agar bisa mensejajarkan langkahnya.
"Aku minta maaf, Na, aku nggak mau kehilangan kamu dengan cara seperti ini, aku mohon kamu mau mendengar penjelasankku," kutatap matanya lembut, berusaha menyalurkan kasih sayangku padanya. Aku sangat mencintai gadisku ini, tapi sikap keras kepalanya yang tidak kalah denganku membuat hubungan kami kerap kali retak seperti sekarang ini.
"Aku mau pulang, Kin, kakiku rasanya keram," tiba-tiba sikapnya berubah manja, ia menatapku sendu, kemudian menunjukkan kakinya. 
"Kita bicarakan di rumahku kalau kamu mau," kataku sambil menahan senyum.
"Aku masih marah, Kin, aku belum memaafkanmu," katanya mulai berpegangan pada lenganku.
"Bukannya tadi kamu tidak butuh bantuanku?" godaku sambil memegang pinggangnya kuat agar ia tidak jatuh.
"Aku terpaksa, kalau bukan karena kakiku yang mulai ketulungan sakitnya, aku juga tidak akan memintamu menolongku," ujarnya kesal.
Aku memilih diam, ia masih kesal dan marah padaku dan aku tidak ingin menambah kekesalannya. 
Kami sampai di tempat dimana aku memarkirkan mobilku, aku membantunya untuk masuk ke mobil, aku pun menyusulnya, kulajukan mobilku dengan kecepatan ringan, aku masih ingin berlama-lama bersamanya.

Jumat, 08 Desember 2017

Jaringan Cinta

Emosi yang terus kutahan  kini mulai meluap.
PLAK!
Tamparan keras dariku membuat wajah tampan itu meringgis, ia memegang pipinya yang memerah.
"Akira?" ia menatapku sendu.
"Selama ini aku selalu sabar menerima semua kebohonganmu, Vin, dan aku sudah muak memberikanmu uang yang terus kau pakai untuk bermain dengan wanita lain di belakangku, kau fikir aku tidak tahu, selama aku pergi ke luar kota, kau asik-asikkan bermain dengan wanita simpananmu itu," ia menundukkan kepalannya dalam.
"Kamu tetap tidak bisa berpisah dariku, Ra, karena aku tau, kamu hanya mencintaiku," aku memalingkan wajahku darinya.
Ia sangat tahu tentang perasaanku, entah kenapa perasaanku tetap tidak bisa berubah, aku tidak bisa benar-benar membencinya, aku sangat membenci diriku sendiri, ingin rasanya aku bunuh perasaan cinta ini, tapi aku tetap jatuh dihadapannya. Oh Tuhan!
"Aku sangat meridukanmu, Ra, alasan semua itu kulakukan karena aku sangat merindukanmu, bisakah kamu meninggalkan pekerjaanmu, dan hanya fokus padaku? Aku menginginkan kehadiran tawa bayi di rumah ini, Ra. Kamu selalu menolak itu, dan aku tidak punya pilihan lain selain bermain dengan wanita manapun yang ingin memiliki anak denganku, aku bahkan tidak keberatan saat Keila mengatakan bahwa ia mengandung bayiku, aku bahagia mendengarnya, namun aku tak menyadari bahwa hatiku menangis, kenapa bukan kamu yang mengandung bayiku, kamu adalah wanita sahku, sedangkan Keila hanya wanita yang kunikahi karena kesalahan fatal itu, dan sekarang kamu marah karena berita ini?"
Aku masih terdiam di dalam pelukannya yang hangat. Apa sebesar itu keinginannya untuk memiliki bayi? Apa aku salah karena membiarkannya mengurus rumah sedangkan aku bekerja?  
"Aku memenuhi semua keinginanmu, termasuk melepaskan pekerjaanku hanya karena aku ingin kamu bahagia, dan sekarang aku tanya padamu, apa kamu bahagia dengan keadaan kita sekarang? Terlebih dengan kehadiran Keila dan bayi kami?" 
Aku masih diam. Ia semakin mengeratkan pelukannya, aku mulai merasa akan kehilangan pria yang selalu ada untukku dan memenuhi semua keinginanku ini, aku tidak mahu, kubalas pelukannya dan semakin menenggelamkan wajahku di dada bidangnya, kuhirup aroma tubuhnya yang begitu kurindukan, aku tak ingin berpisah darinya, aku ingin dia selalu ada untukku setiap kali aku pulang kerja dan kami akan menghabiskan waktu dengan menonton tv sambil bercanda hingga aku tertidur di dalam pelukannya.
"Jangan pernah lepaskan aku, Vin, aku sangat mencintaimu, aku membutuhkanmu," serakku yang mulai menangis. Biasanya ia akan luluh jika aku menangis.
"Maafkan aku, Ra, pernikahan ini memang kita lakukan dengan cinta, tapi, kepergiaanmu keluar kota yang hampir sebulan, bahkan kamu seprti lupa padaku, meski sesekali kamu menyempatkan diri meneleponku, itu tidak cukup, Ra," suaranya serak, apa ia juga menangis?
"Kalau begitu, aku tidak akan lupa untuk selalu memberi kabar jika aku bekerja di luar negeri lagi, aku akan sering skype denganmu, jadi jangan tinggalkan aku, ya," kulepaskan pelukannya dan menatapnya lembut.
"Aku minta maaf telah marah, aku tahu aku salah, tapi masih ingin bekerja dan aku masih ingin kamu tetap di sisiku, Vin, aku tahu aku egois karena tidak ingin memiliki bayi, tapi ini demi pekerjaanku, apa kamu mau aku sedih karena selalu meninggalkan bayiku demi pekerjaanku kelak, tentu tidak, kan, jadi,"
"CUKUP!" 

Jumat, 17 November 2017

RENUNGAN JUMAT

Dalam perjalanan menemukan jati diri, kita akan menghadapi berbagai macam cobaan, cobaan tingkat rendah atau pun tinggi, hingga bisa membuat kita susah bernafas hingga menyesakkan dada dan ingin mati. Kerikil jalanan, banjir bandang, longsor, dan gempa bumi hingga tsunami bisa saja menghadang langkah kita.
Ketika kita memilih tetap maju dan terus melangkah, mencari kemenangan diri, menerjang dan menghadapi segalanya dengan berani tapa putus asa, hingga mendapati diri yang telah berubah, menjadi lebih baik, sejatinya manusia, meski kesalahan tetap terjadi tapi, bisa kita hadapi dengan seharusnya. Ketahuilah, saat itu telah terjadi pada diri, maka di sanalah letak kemenangan diri yang kita dapatkan.
Tapi, jika kita memutuskan mundur, berhenti melanjutkan perjalanan itu, menyerah pada keadaan diri, yang semestinya mampu menjadi lebih dari yang sebelumnya, memilih berhenti dan berdiri tegak di atas langkah kaki yang nyaman, tanpa ingin maju, maka saat itulah, kita telah kalah oleh diri kita sendiri, dan kalah menghadapi dunia.

Note:

"YAKINLAH,  HASIL TIDAK AKAN PERNAH MENGKHIANATI PROSES, TENTU DENGAN DOA DAN USAHA DI DALAMNYA"

SKY LOVER, IN THE RAIN 
11/17/2017

Rabu, 08 November 2017

SAVE ME


 
Satu
Tak ada yang medengar teriakanku. Jelas saja, karena ini tengah malam, suasana gelap karena listrik padam, dan jalanan begitu sunyi. Aku masih bersembunyi di balik lemari, saat suara kaki bersepatu bot itu mendekati lemari ini. Kubungkam mulutku untuk menahan tangis yang ingin keluar, terus berdoa agar lelaki itu tak menemukanku. Namun, sepertinya doaku belum dikabulakan, karena sekarang, lelaki yang kukenal sebagai ayahku itu menatapku dengan seringainya yang menjijikkan. Aku mentapnya tajam.
“Kemarilah sayang, kenapa kau ketakutan seperti itu pada ayahmu ini, hah?!”
Suaranya membuatku membeku, ia mulai mendekat, dan menyentuh kulitku dengan tangannya yang masih berlumuran darah ibu, sedangkan tangan satunya lagi masih memegang pisau tajam yang merenggut nyawa ibu.
“Kenapa kau diam saja manis, apakah kau ingin disini terus seumur hidupmu? Atau kau ingin menyusul ibu keparatmu itu, hah?! Jawab aku, cantik!!”
Ia menarikku keluar dari sudut lemari, dan menghempaskanku di lantai yang penuh pecahan botol minuman keras miliknya. Aku meringis kesakitan, namun tetap diam dan mulai waspada. Kuraih pecahan kaca yang cukup besar, aku bertekad melawannya.
“Kau ingin melawanku, hah?! Kau fikir mampu?! Kau masih kecil sayang, jangan membantah, dan diam saja!”
Ia kembali mendekatiku dan mulai membuka baju kemejanya yang juga berlumuran darah ibu. Kuarahkan pecahan kaca itu padanya, aku bergetar, meskipun ingin melawannya, tubuhku bergetar hebat. Ya Tuhan… tak ada lain pelindung selaiMu, ya Rabb, tolonglah hambaMu ini, rintihku saat tangan lelaki itu memegang erat lenganku, dan mengambil paksa pecahan kaca itu dari tanganku.
DUBRAAK!!!

Sabtu, 29 Juli 2017

THE AMAZING JOURNEY



Gemuruh ombak dan angin kencang menemani empat manusia yang sedang duduk di jembatan dipenuhi lautan di bawahnya. Dua perempuan dan lelaki itu mulanya hanya berfoto dan menikmati keadaan sejuk dengan awan mendung. Mereka berhenti mengambil gambar dan mulai berbagi cerita. Panggil saja perempuan yang pertama dengan sebutan Anggi, selanjutnya Aira, Fai dan terakhir George.
Anggi, Aira dan Faiz berasal dari Negara yang kini sedang mereka nikmati alamnya, sedangkan lelaki yang satunya lagi, George adalah teman yang datang dari benua lain, tepatnya dari benua Afrika. Kedatangan teman jauh itu membuat mereka harus berbiara menggunakan bahasa asing, yaitu bahasa Inggris.
Percakapan mereka masih seputaran nama, tempat tinggal, dan tempat belajar George. Pria tinggi putih itu menjawab semua pertanyaan dari tiga temannya dengan tenang. Ia mengatakan bahwa ia tinggal di Afrika Utara, namun ia sekolah di Cina. Ia menceritakan sedikit tentang penduduk Cina yang awet muda.
Kebanyakan penduduk Negeri itu tenaga maupun wajahnya terlihat lebih muda dari usianya, bahkan sampai ke titik yang tidak bisa kita bayangkan, contoh katanya, ada nenek-nenek yang sudah berumur empat puluh tahun, namun masih terlihat seperti dua puluh tahunn lebih muda. Ada pula yang berusia lima puluh tahun terlihat seperti baru tiga puluh tahun.
Setelah percakapan singkat yang terjadi di sisi pantai Ulee Lheu, mereka beralih ke coffee. Mempertimbangkan bahwa George suka ngopi, ke tiga lainnya pun setuju membawa George ke salah satu Coffee yang terkenal di daerahnya.
***
Interior coffeenya yang indah dengan jendela-jendela kaca, kursi-kursi sofa, kayu, semua tertada rapi. Wallpaper dengan gambar bangunan itu membuat nuansa coffee semakin nyaman. Anggi, Aira, Faiz maupun George kompak masuk dan masih berdiri melihat di mana posisi duduk yang bisa membuat mereka nyaman.
Dengan pasti Fai memilihg satu set tempat duduk dengan meja yang sedikit sempit. Ia duduk dan dengan otomatis, ke tiga lainnya pun ikut duduk. Mereka mulai memesan minuman kesukaan mereka. Sambil menunggu pesanan, Anggi angkat bicara, ia mengatakan bahwa tempat duduk sofa di samping mereka akan sitinggalkan oleh pengunjung yang duduk di sana, perempuan berkaca mata itu mengusulkan agar mereka pindah duduk ke sofa, dan yang lainnya pun setuju.
Pesanan kami pun sampai, sambil menikmati minuman kami, cerita pun kembali berlanjut. Anggi mulai bertanya tentang apa yang membuatnya penasaran, yaitu tentang George yang baru saja masuk Islam setahun silam. Ia bertanya, kenapa pria itu mau memeluk agama Islam, apa yang membuatnya interest pada Islam?

Selasa, 25 Juli 2017

Jangan Salahkan Aku

Pasal pertama, perempuan nggak pernah salah, pasal ke dua, kalau perempuan salah, maka harus kembali ke pasal pertama. Dua pasal yang dinobatkan kebanyakan pria bagi wanita. Jujur, aku kurang setuju dengan pasal tersebut, mengapa? Karena perempuan juga manusia, dan manusia tidak pernah luput dari kesalahan.
Mungkin, pasal di atas muncul dikarenakan sikap para anita itu sendiri. Kebanyakan dari mereka tanpa sengaja telah menganut hal itu. Perihal yang bisa menimbulkan sebuah kehancuran. Tak ingin disalahkan meski ia salah itu suatu sikap yang egois, dan  bisa menimbulkan permasalahan lainnya. 
Memang dalam realita, tak semua perempuan menganut pasal yang sedemikan itu, hanya saja, kebanyakan lelaki mengakui hal itu. 
Bukan hanya bagian pasal di atas, perempuan terkadang juga membuat para lelaki kesal dan jengkel karena sikap mereka yang ribet. Tak perlu jauh, sangat banyak contoh yang kita temui dalam keseharian kita tentang sikap ribet itu, salah satunya, saat terjadi sesuatu dengan si perempuan, maka ia akan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, meski telah ditanyai dan diperhatikan, tapi ia tetap kekeuh untuk tidka mengakui bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Karena sikap itu, lelaki atau perempuan yang memberikan perhatian kepada si perempuan yang memiliki masalah tersebut akan meninggalkannya begitu saja, dan saat itu terjadi, tak jarang si yang terkena masalah menganggap bahwa mereka tidak peduli, dan akhirnya memendam kemarahan lainnya lagi.
Selain dua hal di atas, ada juga tipekal cewek yang cuek, luar biasa cuek. Tipe yang begini juga sering membuat orang lain jengkel, meski pun orang asing yang tidak saling kenal, akan lebih baik jika mereka bertanya maka setidaknya kita menjawab. Jangan sampai mengacuhkan bahkan meninggalkan mereka begitu saja, padahal ia dengar dan melihat satu sama lain.

Sikap, etika, dan norma memang telah di atur sedemikian rupa. Kesemua itu telah ada dalam diri manusia, hanya tinggal bagaimana cara mereka menggunakan dan membudidayakan kesemuanya itu dalam visi dan misi positif, bisa bermanfaat bagi mereka dan orang lain.

*skylover, 12:34 PM

Senin, 24 Juli 2017

SINAR DI BALIK AWAN


I
Darel duduk di atas gedung sekolah dengan menjulurkan kedua kaki ke bawah dan sebatang rokok di tangan kiri yang tinggal setengah. Kemeja biru bertengger manis di bahu kiri sedang ia kini hanya mengenakan kaos biru pekat dengan tulisan Be Mine. Rambut yang semula tertata rapi kini acak-acakan, kulitnya yang berwarna putih pucat berubah sedikit memerah karena menahan emosi, bola mata berwarna hitam pekat itu menatap sayu ke bawah gedung. Cowok yang terkenal jenius ini terus larut dalam dunia fikirannya sendiri hingga ia tak menyadari seseorang telah berdiri di sampingnya.
“Kamu belum pulang? Sekolah sudah sepi, pesta kelulusan pun sudah berakhir, apa kamu berniat untuk menginap di sekolah?” pertanyaan itu membawa Darel kembali ke dunia nyata.
Ia tak langsung menjawab, dihisap habis rokok yang tinggal sedikit, kemudian memadamkan api dan melemparnya ke bawah gedung.
“Aku masih memikirkan sesuatu,” ucapan Darel mampu membuat orang disisinya itu ikut duduk.
“Apa yang kamu fikirkan? Masa depan yang sudah papa tentukan untukmu?”
Tebakan cowok yang memiliki wajah yang sama dengan Darel itu hanya mendapat anggukan darinya.
“Aku tau papa hanya menumpukkan semua harapan masa depan perusahaan itu padamu, tapi menurutku itu yang terbaik bagimu, kak,” Darel menatap kembarannya tajam.
Cowok yang masih rapi itu dengan tenang melanjukan kata-katanya.
“Aku akan sangat berterima kasih jika kamu memenuhi harapan papa,” ucap Farel menatap Darel dengan tersenyum hangat. Hal itu membuat Darel semakin emosi.
“Apa kamu melakukan sesuatu?! Apa yang kamu katakan pada papa hingga papa memberiku pesan seperti itu?!” tanya Darel dengan suara meninggi.
“Aku hanya mengatakan pada papa bahwa kamu bersedia menggantikan papa mengurus perusahaan,” jawaban Farel semakin membuat Darel hilang kendali.
“Kamu tahu aku sudah mendaftar di Art University di Paris, dan aku lulus beasiswa. Kamu ikut senang mendengarnya tapi, kenapa sekarang kamu melakukan ini? Apa saat itu kamu hanya berpura-pura?” suara Darel mulai serak, matanya memerah menahan agar air matanya tak jatuh. Ia bangun dari duduknya.
“Kamu kakakku, dan sudah seharusnya kamu tidak bermimpi untuk melarikan diri dari tanggung jawab seorang penerus, kamu harus dan wajib menanggungnya, kak,” kata Farel sambil ikut berdiri. Ia menatap Darel datar.
“Aku tidak pernah berpura-pura saat itu, aku ikut bahagia tentunya. Tapi, keadaan yang membuatku harus melakukan hal itu, kak,” kata Farel menekankan.
“Apa alasan yang membuatmu ikut campur dalam hal itu?” tanya Darel datar. Ia mulai bisa menguasai emosinya, bagaimana pun, mereka berada di tempat yang memungkinkan mereka kehilangan nyawa mereka,  jika saja mereka salah langkah, meski gedungnya hanya sampai 3 tingkat.
“Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di Jepang, dan aku tak mau jika harus meninggalkan mimpiku hanya untuk menggantikanmu di perusahaan,” jujur Farel sambil pergi, Darel menatapnya tak percaya.
“Aku pulang naik taxi,” lanjutnya sebelum menghilang dari pandangan Darel.
Farel sangat mencintai dunia tekhnologi dan mesin, sedangkan Darel sangat mencintai dunia seni, lebih ke arah seni lukis, mereka sama-sama mencintai mimpi mereka. Namun, perusahaan orang tuanya yang terjun di bidang produksi makanan ringan dan softdrink membuat keduanya tidak tertarik untuk menggantikan posisi papa mengurus perusahaan itu.
Darel kemudian turun dari tembok pembatas dengan pikiran yang masih kacau balau. Ia tau, Farel sama egois dengan dirinya tapi, ia pun tak ingin kalau Farel harus meninggalkan mimpinya. Ia begitu menyayangi adiknya itu.
Ia masih teringat dengan perkataan Farel tadi yang terlihat egois, ia tak pernah menyangka kalau kembarannya itu mengatakan semua dengan tenang. Meski sejak dulu mereka akur, saling membantu, lepih tepatnya, Darel yang sering membantu Farel mengatasi semua masalah yang ia lakukan saat di sekolah, agar tidak diketahui papa mereka. Darel sering menggantikan Farel mengerjakan hukumannya. Semua itu ia lakukan semata karena ia menyayangi Farel dan tak ingin Farel kena hukuman apapun, hatinya yang lebih lembut jelas tak ingin adiknya lelah atau pun sakit.
“Apa selama ini aku terlalu memanjakan dan mengabulkan semua keinginannya hingga ia bisa berkata demikian dengan mudahnya?” lirih Darel sambil menuruni tangga menuju ke parkiran.
 ***

TAMAT



Ia menatapku datar, tatapan yang sudah sering kulihat. Ia tak pernah menampakkan ekspresi apapun dalam tatapannya itu, selama lima tahun hidup bersama, aku sudah terbiasa dengannya. Pria tampan itu melihat jam tangannya, mengehembuskan nafas beratnya, seakan ia menanggung beban yang berat. Aku tahu ia duduk di sini ingin berbicara serius denganku tapi, lima belas menit hanya kami lewatkan dalam keheningan. Aku tak berani membuka suaraku, meski kami hidup sebagai suami-istri, tak ada cinta darinya untukku.
Wajah maskulinnya terlihat cemas, ia masih setia diam tanpa menatapku sama sekali. Apa yang terjadi dengannya? Sejak ia duduk di hadapanku, pakaiannya yang sudah tak rapi, rambut yang acak-acakan, semakin menambah ketampanannya, dan kaca mata yang sudah dilepaskannya, membuatku sangat penasaran, apa yang telah terjadi di kantornya?
Suara getaran hp di atas meja membuatnya dengan cepat mengambilnya dan mulai serius membaca isi pesan tersebut. Rahang dan wajahnya mengeras, mata itu menyipit, ia sedang menahan kemarahannya. Sebenarnya, apa yang terjadi, Juan?
 “Aku hanya ngomong sekali, dengar baik-baik,” tiba-tiba suara bariton itu membuatku beku. Ia menyimpan kembali hpnya, kemudian menatapku sendu. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk mengerti.

MENGAPA HARUS MENULIS?


Menulis bisa dilakukan oleh siapa saja, dengan berbagai alasan kenapa ia harus menulis. Penulis itu sendiri terkadang tidak mau ambil pusing dengan alasan kenapa ia harus menulis, baginya menulis saja hingga selesai, sudah cukup sampai di situ saja. Meski begitu, banyak juga dari penulis yang peduli dengan semua itu.
Mengapa kita harus menulis?
Pertanyaan diatas membuat saya berfikir kembali, apa alasan saya menulis, dan mengapa harus menulis. Setelah berkutat dengan pemikiran saya,  banyak jawaban yang saya temukan. Dengan ini, saya ingin berbagi tentang jawaban dari pertanyaan di atas, semoga bermanfaat.
Ada beberapa alasan mengapa kita harus menulis, di antaranya;
v  Sebagai Media Dakwah
Dakwah kebaikan tak hanya bisa dengan cara berdiri di atas podium dan berceramah, dakwah juga bisa dilakukan dengan menulis. Tak sedikit pembaca yang tergerak hatinya jika membaca tentang kebaikan maupun keburukan. Maka dari itu, menulis berbagai hal tentang kebaikan dan mengandung unsur positif lainnya bisa bermanfaat bagi pembaca jika mereka bisa tergerak untuk berbuat baik.
v  Tempat Menyalurkan Ide dan Pikiran
Isi pikiran yang terlalu banyak dan tak bisa diungkapkan dengan berbicara, bisa diungkapkan dengan cara menulis. Menulis dapat membuat kita mengurangi beban-beban pikiran hingga kita bisa mengekspresikan diri dengan bebas.
v  Karya Nyata
Menulis bisa menjadi sejarah nyata bahwa kita pernah menulis. Dengan menulis, maka kita telah meninggalkan sebuah sejarah nyata tentang diri kita. Menghasilkan karya yang bisa member manfaat bagi banyak orang akan menjadi amal tersendiri bagi kita.
Dengan membaca, kita bisa mengenal dunia.
Dengan menulis, kita akan dikenal dunia.

Tetap semangat, dan terus berjuang, karena sukses itu ‘mahal’.

Minggu, 18 Juni 2017

UTUH

Hidup
Bercerita tentang banyak hal 
Suka, duka, senang, sedih, tawa dan tangisan, ...

Hidup
Mengajarkan banyak hal
tentang kemanusiaan, prilaku, adat, ...

Hidup
Menumbuhkan segala rasa
Bahagia, sedih, marah, benci, cinta, ...

Hidup
dengan hidup, kamu telah utuh
Tumbuh berkembang, belajar, dan mampu bercerita

Hidup
masih ada jalan menempuh segalanya
karena kita hidup

Terlahir ke dunia dengan nafas yang masih berhembus hingga jarak panjang yang tidak diketahui akhirnya...
misteri kehidupan masa depan, takdir, nasib, semua akan dirasakan
karena kita hidup.

Hidup membuat kita utuh
sia-sia jika membunuh keberuntungan hidup.

Senin, 15 Mei 2017

KEPERCAYAAN

Hubungan
Sempurna itu mustahil, karena hubungan pasti mengalami pasang-surut
Meski ada hubungan yang berjalan datar dan aman-aman saja, tapi tak tertutup kemungkinan tetap ada masalah.

Dalam hubungan
Menggabungkan dua keluarga dengan ikatan pernikahan
Membangun keharmonisan dan mencetak kader cerdas kedepan

Dalam kebahagiaan
Taqwa, kunci bahagia hakiki
Saling percaya, setia, dan mengerti

Dalam keretakan
Egois, marah dan merasa tak cukup
Tak puas membuat sebuah hubungan retak

dan keretakan bisa berhujung kehancuran

Bahagia itu pilihan
Jika ingin bahagia, usahakan yang terbaik baik bagi hubungan
Usaha dan doa tak akan sia-sia
jika berhujung dengan masalah pula pun
semua untuk kebahagian hakiki kelak

Percayalah, yakin, janjiNya itu pasti.


Minggu, 09 April 2017

Balasan Abadi

Durasi waktu terus berjalan
tak menghirau pejalan kaki yang letih
tanpa perhitungan, terus berdetik
hingga mereka melaju

Dalam perjalanan jauh
pejalan kaki terus mengukir langkah
merajut asa 
menghapus peluh

Tanpa arah jelas terlihat
tak berhujung
jalinan waktu dan jarak
seperti kompak menyiksa

tak sedikit rintihan terdengar
jeritan lelah pun menggema
terasa asin air di lidah
tak tertelan butir nasi dan ikan

Tuhan Mendengar!
Tuhan Melihat!
Hanya mencoba
sejauh mana mereka mampu

telapak kaki terbakar aspal
kepala terebus mentari
tak henti 
hingga detik itu berhenti
saat
jembatan iris rambut terlihat

bukan helaan lega yang terdengar
bukan senyuman yang tergambar
pun
bukan pula kebahagiaan

mereka terus meratapi
nasib lalu yang keji
hingga balasan yang Dijanji
terlihat jelas di depan mata

tak mampu menghindar
berlari menjauh, mustahil
hanya kaki yang kembali melangkah 
hingga ketetapanNya berhujung nyata

 


Senin, 06 Maret 2017

RINDU



Bukankah pada kelopak matamu yang selalu ceria, negeri mimpiku dimulai?
Menyusuri tiap teori abstrak tak terumus, melambat, menjemu membunuhi semua kenangan yang ada di ujung gerutuku
Menata pesona dalam kelutnya jiwa
Hanya akan membuat lungkrah jiwa
Dan itu seperti istana pasir yang tergerus ombak membadai, menghancurkan layaknya abrasi di tepian pantai

Sungguh, tak sanggup aku mencari padanan yang terlampau membuyarkan degan pasti, dengan pasi yang lebih pucat dari purnama
Kau menjelma layaknya bidadari kesunyian dalam kalut di gelombang abadi

Jika kelak terbersit tanya dalam pikiranmu yang ragu itu, dari apa hati para penyair terbuat?
Maka hadapilah bayangan pada kaca yang tak menyimpan dusta,
Embun menjelma pada matamu,
Celoteh khas jagoanmu bersemayam pada bibir ranummu,
Dan matahari di bulan Februari melesap pada hatimu
 Dan kia
Dan, kupastikan semua itu tak terampas darimu
Lantas air mata, yang tak serupa apapun dalam dirimu, maka ambilah, karena hanya ia yang tersisa
Agar tiap kata yang keluar dari ujung penaku menjadi genap dan yang tertulis menjadi tetap

Aku tidak tahu pasti kapan cintaku padamu ini hadir, seperti setiap orang yang bertanya
Kapan detik pertama kehidupan dimulai?

Aku hanya tahu satu hal yang pasti, bahwa aku semestinya mampu membangun bahtera dan mempercayakan satu dayung padamu, dan kita akan melaju tiap detik pada waktu yang akan kita lukis dengan warna rindu – Aamiin ^_^

#kebogiras

Jumat, 03 Maret 2017

KATA DALAM DIAM


Kata-kataku keruh, membeku bersama seribu harapan kepadamu
Mengiba di satu titik ketidak-mampuanku
Dan tak lekang waktu menampilkan bayangan semu

Puisi sendu menjadi teman karibku
Kala sunyi menyanyi dengan piku
Membuat hati kian gelisah mendayu-dayu
Terhunus cinta, hingga lelah terbelenggu rindu
Malam-malam yang kulalui tanpamu
Menjadi tempat bercengkrama bagi kalbu

Tak pernah usai meski kelam berlalu
Hingga menjelang pagi pun, aku masih mengenangmu
Hanya Tuhan yang tau keinginan hati
Saat hati hanya bisa merasa perih
Mungkin, diriku yang tak pernah memahami realita

Tentang perasaanmu kepadaku saat ini
Duka apapun, aku takkan pernah peduli itu
Bilapun berakibat buruk untukku suatu hari nanti
Aku kan tetap mencintai dan menyayangi
Dengan rasa yang indah meski kelak tersakiti

Aku rela menjadi butiran debu demi dirimu
Debu yang dapat kau sentuh meski bukan ragaku
Agar engkau mengerti betapa besar rasa cintaku ini
Bersama seribu harapan yang kugenggam di dasar hati

#kebogiras, rinaihujan. 2 Mar 17



KERIKIL JALANAN


Kepulan asap rokokku meredam
Tak terasa ternyata aku terlelap
Kuhidupkan lagi rokok di tangan ini
Lalu kucoba melirikkan lagu lama
Yang berisikan janji-janji basi

Indonesia bebas banjir
Indonesia anti korupsi
Rakyat akan pension dari kemiskinan

Dalam benakku hati ini bertanya
Jidat ini keluar banyak kata
Tapi aku bingung
Pada siapakah kubertanya?

Aku belum bicara, dia sudah tutup telinga
Aku tatap dia, dia berlagak bodoh menatap ke samping

Ooo, andaikan saja aku jadi dia…
Pasti, pasti kutiduri kursi parlemen tuk 1825 malam..
Kan kubuat banjir gedung dengan liurku..
Lalu saat aku bangun..
Aku akan pidato di depan 130 juta ummat manusia..
Dan terbahak-bahak melihat Indonesia bak kapal pecah..
Negaranya kembung!
Masyarakatnya linglung!
Mungkin seperti inilah ideology idaman.
Seperti hidupku yang dianggap kerikil jalanan

#kebogiras, kamargelap. 28 Feb 17