Jumat, 23 September 2016

Hujan Kekeringan



"Aku ingin membina rumah tangga bersamamu, Ken," ujar Hana serius.
Kenan hanya membisu karena terkejut. Sejak kapan Hana bicara blak-blakan begini, apa ia perempuan yang suka blak-blakan? pikirnya.
Lelaki dengan lesung pipi dan belah dagunya itu hanya tersenyum. Mata elangnya menatap Hana sendu.
"Aku serius, Ken! Kita udah saling kenal, jadi aku fikir, tak ada salahnya kalau kita menikah. Aku tau kamu juga sedang mencari seorang pendamping, iya, kan?" Hana menatap Kenan lembut.
"Iya, aku memang sedang mencari pendamping hidup, tapi aku tidak memintamu, Na," lirih Kenan.
Hana terdiam, matanya mulai berkaca-kaca.
"Jangan menangis, Na. Oke! Aku mau tanya sama kamu, kenapa kamu memintaku untuk menjadi pendampingmu? Jujur, Na," 
"Aku sayang sama kamu, Ken," lirih Hana tapi Kenan masih bisa mendengarnya.
"Kamu yakin?" 
Hana hanya mengangguk sambil terus menunduk, ia menyembunyikan air matanya yang hampir tumpah.
"Tapi kita tidak begitu saling mengenal, Na. Baru dua bulan kalau tidak salah, karena kamu anak baru di kantor papaku, iya, kan, Na, terus bagaimana bisa kamu sayang sama aku secepat itu?" Kena mulai frustasi menghadapi perempuan yang baru dua bulan bekerja bersamanya.
"Kebersamaan kita selama dua bulan cukup membuatku yakin, kamu orang yang bisa menjadi imamku," ujar Hana tegas.
"Hana, kamu masih muda dan berbakat, kamu juga perempuan yang cantik, ramah dan pasti banyak karyawan lelaki yang melirikmu, kenapa kamu memilihku?"
"Kamu nggak mau?" Hana balik bertanya, Kenan terpaku. Bukannya ia tak menginginkan perempuan yang nyaris sempurna itu, tapi ia tak ingin bermasalah dengan kakaknya, Rayyan. Direktur muda itu telah jatuh hati pada Hana sejak pandangan pertama, dan Kenan menjadi tempat curhatnya selama ini. Bagaimana mungkin ia mengkhianati kakaknya sendiri.
"Kenapa tidak Rayyan, Na?" tanya Kenan hati-hati.
"Karena aku sayangnya sama kamu, Ken, bukan kakakmu," kali ini suara Hana sedikit meninggi, hingga beberapa mata di coffe tempat mereka bertemu sempat melirik mereka.
"Aku akan jujur sama kamu, Na. Aku tak bisa menerima kamu, karena kakakku Ray..." kata-kata Kenan terputus karena Rayyan kini berada tepat di hadapannya.

Selasa, 20 September 2016

Kenangan di langit Biru

Hari ini hujan kembali membasahi bumi, sudah seminggu sejak kau pergi, tak kunjung tanah mengering. Aku masih dengan kesibukan sehari-hari, hingga kerinduan melanda. Mulai kuulangi menjelajahi memori tentang kita, menelusuri semua kenangan yang pernah kita bina, sejak kita tak begitu akrab, hingga kita menjadi sahabat.
Ingin ku susul kau ke sana, namun apa daya, segala hal yang ku punya tak mendukung untuk ku bisa mengunjungi tempat dimana kau kini berada. Dulu, saat jarak kita masih bisa terjangkau via suara, aku tak begitu khawatir, karena aku masih bisa mendengar suaramu tapi, sekarang berbeda, aku tak bisa menjangkau wajahmu pun suaramu, bukan karena aku tak ingin tapi, lebih karena kau tak menginginkannya. 
Aku mengerti, tak selamanya aku bisa melepas kerinduan itu dengan memandang atau mendengarmu tapi, aku tak bisa menghilangkanmu dari pikiran dan hatiku. Aku tahu aku bukanlah yang terpenting bagimu, yang terbaik bagimu, yang teristimewa, tapi detidaknya, ingatlah aku yang pernah menjadi sahabatmu.
Kini aku kembali menjalani hari-hariku dengan tenang, dan masih membawa rinduku untukmu, aku tak berharap bisa melupakanmu, namun aku yakin, seiring waktu berjalan, tanpa adanya kamu dengan semua omonganmu, tingkahmu yang menyebalkan,  suaramu yang menenangkan, dan semua tingkahmu yang membuatku tersenyum, dengan sendirinya pula, aku membiarkan dirimu dengan hidupmu yang baru, meski tak kupungkiri, doa selalu ada untukmu.


By : Your Best Friend "Little Bro"