Apa hubungan kota Paris dengan cinta?
Katakan aku memang tidak romantis atau apalah, aku hanya tidak suka kota Paris. Aku menolak saat Alfin tunanganku mengajakku ke sana, katanya ia ingin mengabadikan foto kita di sana, di bawah menara Eiffel, biar romantis. Setelah aku menolak ajakannya, ia bersikeras agar setelah menikah, ia ingin bulan madu ke sana. Oh Tuhan... apa sebenarnya yang ia inginkan di sana?
Aku sering bertengkar dengan tunanganku yang maniak menara Eiffel Paris itu. Hanya karena masalah sepele, ia sering kali marah-marah tak jelas, meskipun begitu, ia tidak pernah memukulku. Aku tak pernah suka lelaki yang main pukul sesuka hatinya, dan itu yang kusuka dari Al, semarah apapun dia ke aku, ia tak pernah memukulku.
Hingga suatu hari, tepat ulang tahunku yang ke 24. Ia menculikku dan membawaku ke Paris. Aku begitu terkejut saat menyadari diriku kini berada di kota Paris. Aku marah besar padanya, tapi aku tak pernah menyumpah-serapah dia, aku hanya mendiamkannya. Ia tahu aku marah, tapi ia memilih untuk tidak menghiraukan kemarahanku.
Aku mulai tak sabar dan ingin pulang untuk merayakan ulang tahunku bersama keluargaku dan sahabat-sahabatku. Aku berbicara dengannya, memintanya untuk kembali. Tapi aku tak menyangka, ia marah besar, aku tak tahu alasannya kenapa. Baru kali itu aku melihatnya seperti itu.
"Kenapa aku yang harus selalu mengalah, Ra? Aku itu tunanganmu, aku yang akan menjadi suamimu, seharusnya kau yang mematuhiku dan mengalah atas keputusanku, buka aku!!" katanya membentakku sambil mengacak-acak rambutnya.
"Aku tak pernah memintamu mengalah, Gio. Aku hanya.."
kata-kataku terputus, kaget karena Gio membanting botol minuman yang sedang dipegangnya.
"Semenjak kecil, kau sudah terikat perjodohan denganku. Aku mau melakukan perjodohan itu karena sangat menguntungkan bagiku dan keluargaku. Kau canti bak peri di kayangan, kaya, mapan meskipun umurmu masih muda, kau jenius dan mampu membawa perusahaan milik almarhum papamu menjadi salah satu perusahaan ternama hingga ke luar negeri. Kau tak pernah kekurangan apapun. Aku dimabukkan oleh kecantikan dan kemewahan hidupmu. Aku lupa, kau takkan pernah bisa hidup mengalah," katanya diiringi tawa hambar yang menyedihkan.
Aku mematung mendengar kata-katanya. Ia mau menerima perjodohan ini karena itu? Ia tidak mencintaiku? Oh Tuhan... hatiku menjerit, sakit. Aku begitu mencintainya. Ku kira ia mengalah karena ia mencintaiku, tapi ternyata,..
"Kau mau kemana?!" tanyanya saat aku bergerak mengemasi pakaianku ke dalam koperku.
Tak kujawab pertanyaannya.
"Ku tanya, KAU MAU KEMANA?!" suaranya kian meninggi. Tak kuhiraukan ia hingga aku selesai mengepak bajuku.
PLAK!!
sakit, pipiku ditamparnya dengan sangat kuat, aku rasa sisi bibirku mengeluarkan darah, perih. Aku memegang pipiku yang memerah. Aku menatapnya nanar. Ia sepertinya juga terkejut dengan perbuatannya. Tapi aku tak menghiraukannya, aku tak tahu kenapa ia menamparku, akhirnya aku memilih pergi meninggalkannya yang masih membisu di tempatnya.