to be continue....
Setelah makan dan beristirahat di rumah makan Padang, Dimas mengajakku ke restaurant yang cukup terkenal di Bogor itu. Sesampainya di restaurant yang tak jauh dari rumah makan padang tadi, aku yang lapar bergegas memesan spagethi dan lemon tea, dua makanan kesukaanku, dan Dimas sangat itu .
Setelah makan dan ngobrol, aku dan Dimas kembali melanjutkan perjalanan kami yang masih jauh. Aku mulai mengantuk, namun Dimas tak mengizinkanku untuk tidur.
"Ayolah, Ran....jika kau tidur, aku juga akan bosan sendiri," Dimas merengek manja.
"Aku ngantuk banget, Di." kataku masih memelas.
Aku menghidupkan TV mini yang di pasang Dimas di mobilnya, ku putar USB yang terpasang di sana, mulai lah lagu Maroon 5 terdengar memenuhi mobil. Dimas hanya tersenyum tipis saat melihatku mulai menarik selimut bersiap untuk tidur.
"Kau curang, Ran."
Hanya itu kata-kata terakhir yang ku dengar sebelum akhirnya masuk ke alam mimpi.
>>>>>
Dimas POV
Aku hanya bisa tersenyum melihatt si cantik itu tidur dengan pulas nya. Berusaha menikmati lagu yang diputarkannya tapi, tetap aku tak bisa, karena pikiranku dipenuhi dengan kata-kata Rani tadi.
"Sebenarnya, ada yang aku suka. Tapi, dia sudah ada yang punya,"
"Sejak sekarang, saat kau bertanya, adakah pria yang aku sukai. Dan aku baru menyadari satu hal, kalau ada satu pria yang begitu setia padaku, sahabatku sendiri, Dimas Pramata."
Ran, tahukah kau, hatiku mulai ragu. Dan aku tak tau, sampai kapan aku bisa bertahan dengan melihatmu seperti ini. Aku memang mencintai Dinda, tapi aku juga menyayangimu, kau yang mempertemukanku dengan Dinda dan mempersatukan kami. Aku tak yakin kau jujur dengan perasaanmu yang tek menyukaiku lebih dari sekedar sahabat. Ah! Dimas! Berhenti berfikir yang tidak-tidak, fokus lah pada Dinda yang sebentar lagi akan kau nikahi!
<<<<<
Rani POV
"Ran, bangun, kita sudah sampai." suara familiar itu membuatku menggeliat, dan mulai membuka mataku.
"Kita sudah sampai." ulangnya saat melihatku tak bereaksi untuk sekedar merenggangkan otot-ototku.
"Ayuk." ajaknya yang mulai turun dari mobil, aku pun mulai sadar sepenuhnya. Ku lihat rumah yang tak pernah berubah sejak aku pertama kali ke sini hingga sekarang.
Aku turun dari mobil dan membantu Dimas membawakan barang-barang ke dalam rumah yang memang sudah terbuka.
"Mama dan papamu di mana? apa mereka sudah tidur?" tanyaku saat kami sudah berada di dalam rumah.
"Kau tak tau jam brapa sekarang?"
Langsung ku perhatikan arlogiku, dan ternyata jam menunjukkan pukul 03.00 pagi. Wajar jika mereka tak menyambut anak satu-satunya ini.
"Hai, udah sampai, syukurlah." kata Dinda yang baru muncul itu sedikit membuatku kaget.
Dinda yang juga temanku sejak di bangku kuliah pun menyambutku dengan pelukan hangatnya.
"Yuk! Kamu butuh istirahat." kata Dinda yang langsung membawa koperku dan membawaku mengikutinya menuju kamar tamu.
"Besok kita akan berangkat ke Bali, jadi kamu harus benar-benar istirahat sekarang, ok, Rani." kata nya ramah.
"Iya, terima kasih, Dinda."
"Sama-sama. Aku keluar dulu, ya."
Aku hanya mengangguk.
<<<<<
Dimas POV
Sejak kapan Dinda di sini, kenapa dia tidak memberitahuku kalau dia menginap di rumah.
"Kamu pasti terkejut. Aku sengaja tak memberitahumu. Karena besok saat liburan ke Bali, aku takkan ikut." kata Dinda sambil duduk di sampingku.
"Lho, kenapa?"
"Karena aku sadar, aku telah menjadi orang ketiga di antara kalian."
"Maksudmu?"
"Saat kamu selalu meminta izinku untuk melindungi dan menjaga serta menghibur Rani, aku senang, karena kamu memang menganggapku sebagai kekasihmu, tapi di sisi lain, aku mulai menyadari satu hal, kalau seseorang yang ingin kamu lindungi dan hibur adalah Rani, bukan aku, Mas."
Pernyataan Dinda membautku sakit kepala,
apa lagi ini?
"Aku lelah, Din, bisa kah kita bicara nya besok saja?"
"Ok, selamat istirahat."
Pamitnya sambil menuju ke kamar yang bersebelahan dengan kamar tamu yang kini ditempati Rani.
Kepalaku semakin tidak bisa di kontrol, ku putuskan untuk segera masuk ke kamarku yang terletak di lantai dua dan aku pun tidur.