Jumat, 05 Juni 2015

Nafas yang Mati

Nafas yang Mati

"Luar biasa, Man! Kau bisa menguasai 10 buku dalam dua hari. Kau memang amazing!" Chandra mengacungkan dua jempolnya saat melihat nama Aman di daftar paling atas mahasiswa yang mendapatkan beasiswa ke New York.
"Kau terlalu berlebihan, Ndra. Aku hanya mengulang dan mempelajari semua soal yang ada di 10 buku itu, bukan menguasai." kata Aman sambil pergi dari hadapan mading kampus yang mulai di kerumuni para mahasiswa.
"Ah, sama aja, dua malam kau asik dengan 10 buku pemberian pak Randa itu, tak kau pedulikan reonian anak-anak SMA kau yang sedang berlangsung malam itu. Kau patut mendapatkannya, Man." kali ini Chandra merangkul bahu Aman yang memang lima centi lebih tinggi darinya, sehingga ia sedikit berjinjit.
"Terserah kau saja lah," kata Aman tak ingin memperpanjang masalah sepele itu.
"AMAN!" teriakan yang berasal dari belakang itu, membuat kedua pria tampan itu menghentikan langkah mereka.
Aman dan Chandra membalikkan badan mereka, dan mendapati Dea sedang menuju ke arah mereka dengan sedikit berlari.
"Congrat, bro. Loe lulus ke New York. Gue nggak nyangka, seorang penipu dan pecontek ulung seperti loe, bisa lulus ke sana. Loe punya orang dalam sehingga bisa membocorkan soalnya ke loe? Wah....Luar biasa." kata-kata kasar Dea membuat wajah Aman memerah menahan marah. Lain hal nya dengan Chandra yang tak segan mencekal kerah jaket Dea.

Rabu, 03 Juni 2015

Sayap-sayap Rindu, lanjutan...

to be continue....

Setelah makan dan beristirahat di rumah makan Padang, Dimas mengajakku ke restaurant yang cukup terkenal di Bogor itu. Sesampainya di restaurant yang tak jauh dari rumah makan padang tadi, aku yang lapar bergegas memesan spagethi dan lemon tea, dua makanan kesukaanku, dan Dimas sangat itu .
Setelah makan dan ngobrol, aku dan Dimas kembali melanjutkan perjalanan kami yang masih jauh. Aku mulai mengantuk, namun Dimas tak mengizinkanku untuk tidur.
"Ayolah, Ran....jika kau tidur, aku juga akan bosan sendiri," Dimas merengek manja.
"Aku ngantuk banget, Di." kataku masih memelas.
Aku menghidupkan TV mini yang di pasang Dimas di mobilnya, ku putar USB yang terpasang di sana, mulai lah lagu Maroon 5 terdengar memenuhi mobil. Dimas hanya tersenyum tipis saat melihatku mulai menarik selimut bersiap untuk tidur.
"Kau curang, Ran."
Hanya itu kata-kata terakhir yang ku dengar sebelum akhirnya masuk ke alam mimpi.

>>>>>

Dimas POV

Aku hanya bisa tersenyum melihatt si cantik itu tidur dengan pulas nya. Berusaha menikmati lagu yang diputarkannya tapi, tetap  aku tak bisa, karena pikiranku dipenuhi dengan kata-kata Rani tadi.
"Sebenarnya, ada yang aku suka. Tapi, dia sudah ada yang punya,"
"Sejak sekarang, saat kau bertanya, adakah pria yang aku sukai. Dan aku baru menyadari satu hal, kalau ada satu pria yang begitu setia padaku, sahabatku sendiri, Dimas Pramata."
Ran, tahukah kau, hatiku mulai ragu. Dan aku tak tau, sampai kapan aku bisa bertahan dengan melihatmu seperti ini. Aku memang mencintai Dinda, tapi aku juga menyayangimu, kau yang mempertemukanku dengan Dinda dan mempersatukan kami. Aku tak yakin kau jujur dengan perasaanmu yang tek menyukaiku lebih dari sekedar sahabat.  Ah! Dimas! Berhenti berfikir yang tidak-tidak, fokus lah pada Dinda yang sebentar lagi akan kau nikahi!

<<<<<

Rani POV

"Ran, bangun, kita sudah sampai." suara familiar itu membuatku menggeliat, dan mulai membuka mataku.
"Kita sudah sampai." ulangnya saat melihatku tak bereaksi untuk sekedar merenggangkan otot-ototku.
"Ayuk." ajaknya yang mulai turun dari mobil, aku pun mulai sadar sepenuhnya. Ku lihat rumah yang tak pernah berubah sejak aku pertama kali ke sini hingga sekarang.
Aku turun dari mobil dan membantu Dimas membawakan barang-barang ke dalam rumah yang memang sudah terbuka.
"Mama dan papamu di mana? apa mereka sudah tidur?" tanyaku saat kami sudah berada di dalam rumah.
"Kau tak tau jam brapa sekarang?"
Langsung ku perhatikan arlogiku, dan ternyata jam menunjukkan pukul 03.00 pagi. Wajar jika mereka tak menyambut anak satu-satunya ini.
"Hai, udah sampai, syukurlah." kata Dinda yang baru muncul itu sedikit membuatku kaget.
Dinda yang juga temanku sejak di bangku kuliah pun menyambutku dengan pelukan hangatnya.
"Yuk! Kamu butuh istirahat." kata Dinda yang langsung membawa koperku dan membawaku mengikutinya menuju kamar tamu.
"Besok kita akan berangkat ke Bali, jadi kamu harus benar-benar istirahat sekarang, ok, Rani." kata nya ramah.
"Iya, terima kasih, Dinda."
"Sama-sama. Aku keluar dulu, ya."
Aku hanya mengangguk.

<<<<<

Dimas POV

Sejak kapan Dinda di sini, kenapa dia tidak memberitahuku kalau dia menginap di rumah.
"Kamu pasti terkejut. Aku sengaja tak memberitahumu. Karena besok saat liburan ke Bali, aku takkan ikut." kata Dinda sambil duduk di sampingku.
"Lho, kenapa?"
"Karena aku sadar, aku telah menjadi orang ketiga di antara kalian."
"Maksudmu?"
"Saat kamu selalu meminta izinku untuk melindungi dan menjaga serta menghibur Rani, aku senang, karena kamu memang menganggapku sebagai kekasihmu, tapi di sisi lain, aku mulai menyadari satu hal, kalau seseorang yang ingin kamu lindungi dan hibur adalah Rani, bukan aku, Mas."
Pernyataan Dinda membautku sakit kepala, apa lagi ini?
"Aku lelah, Din, bisa kah kita bicara nya besok saja?"
"Ok, selamat istirahat."
Pamitnya sambil menuju ke kamar yang bersebelahan dengan kamar tamu yang kini ditempati Rani.
Kepalaku semakin tidak bisa di kontrol, ku putuskan untuk segera masuk ke kamarku yang terletak di lantai dua dan aku pun tidur.

Bangun Dari 'Tidur'

Hanya sebagai renungan semata...

 Bahagia itu sederhana, hanya positive thinking dan selalu bersyukur, yang harus di ingat adalah hal-hal yang menghambat kebahagiaanmu, satu, suka ikut campur urusan orang lain serta terus mengingat masa lalu yang kelam. Dalam kehidupan di dunia ini, tak ada manusia yang hidupnya bahagia selamanya dan juga sebaliknya.
 Bumi itu terus berputar, begitu pun kehidupan manusia yang terus berputar, tak selamanya bahagia, karena Allah SWT. menciptakan kesengsaraan dan kesedihan sebagai ujian dan cobaan, begitu pun sebaliknya, tak selamanya kehidupan itu selalu dalam kesengsaraan, karena Allah SWT. juga menciptakan kebahagian sebagai balasan bagi mereka yang sabar dan bersyukur namun, kebahagiaan itu tak hanya berfungsi sebagai hadian dariNya, terkadang kebahagiaan itu bisa berupa ujian dan cobaan pula bagi mereka.

Selasa, 02 Juni 2015

Sayap-sayap Rindu

Deru ombak menghantam pantai dengan keras, membuat pasir yang kering menjadi basah. Ku telusuri pasir yang basah itu, dengan cepat kakiku ikut dibasahi ombak pantai Ulee Lheu ini. Aku masih terus berjalan, meski mentari akan segera pulang ke peraduaanya, memberikan posisinya pada bulan untuk menyinari bumi.

"Rani!" seruan itu menghentikan langkahku.
"Apa yang kau lakukan di sini, ayo kita kembali, para kru yang lain sudah kembali ke tenda mereka," kata Dimas sedikit berteriak, karena jarak antara ia dan tempatku berdiri lumayan jauh.
Aku hanya mengangkat jempolku, tanda aku setuju kembali ke tenda sekarang. Dimas masih menungguku yang terus berjalan ke arahnya.
"Kau tak kedinginan?" tanya Dimas memperhatikan baju yang ku kenakan.
Hanya dengan kaos hitam polos dan tipis dengan celana jeans selutut.
Aku hanya menggelengkan kepala.