Kamis, 10 Desember 2015

Wisata Kuliner Aceh

Terletak di Lampulo, Banda Aceh. Galeri ini berdiri tepat di depan Boet di Atas Rumah. 
Selain makanan khas Aceh, kamu juga bisa menikmati bagaimana kondisi Boet di Atas Rumah hasil Tsunami 11 Tahun yang lalu.
Jika kamu juga berminat foto memakai baju adat Aceh dan berdiri di Pelaminan Aceh, kamu juga bisa mendapatkannya di dalam Galeri tersebut.
Selahkan berkunjung ke Galeri serba ada ini.
Unik dan menyenangkan ^^








Jumat, 04 Desember 2015

Paris dan Cinta



Apa hubungan kota Paris dengan cinta?
Katakan aku memang tidak romantis atau apalah, aku hanya tidak suka kota Paris. Aku menolak saat Alfin tunanganku mengajakku ke sana, katanya ia ingin mengabadikan foto kita di sana, di bawah menara Eiffel, biar romantis. Setelah aku menolak ajakannya, ia bersikeras agar setelah menikah, ia ingin bulan madu ke sana. Oh Tuhan... apa sebenarnya yang ia inginkan di sana?
Aku sering bertengkar dengan tunanganku yang maniak menara Eiffel Paris itu. Hanya karena masalah sepele, ia sering kali marah-marah tak jelas, meskipun begitu, ia tidak pernah memukulku. Aku tak pernah suka lelaki yang main pukul sesuka hatinya, dan itu yang kusuka dari Al, semarah apapun dia ke aku, ia tak pernah memukulku.
Hingga suatu hari, tepat ulang tahunku yang ke 24. Ia menculikku dan membawaku ke Paris. Aku begitu terkejut saat menyadari diriku kini berada di kota Paris. Aku marah besar padanya, tapi aku tak pernah menyumpah-serapah dia, aku hanya mendiamkannya. Ia tahu aku marah, tapi ia memilih untuk tidak menghiraukan kemarahanku.
Aku mulai tak sabar dan ingin pulang untuk merayakan ulang tahunku bersama keluargaku dan sahabat-sahabatku. Aku berbicara dengannya, memintanya untuk kembali. Tapi aku tak menyangka, ia marah besar, aku tak tahu alasannya kenapa. Baru kali itu aku melihatnya seperti itu.
"Kenapa aku yang harus selalu mengalah, Ra? Aku itu tunanganmu, aku yang akan menjadi suamimu, seharusnya kau yang mematuhiku dan mengalah atas keputusanku, buka aku!!" katanya membentakku sambil mengacak-acak rambutnya.
"Aku tak pernah memintamu mengalah, Gio. Aku hanya.."
kata-kataku terputus, kaget karena Gio membanting botol minuman yang sedang dipegangnya.
"Semenjak kecil, kau sudah terikat perjodohan denganku. Aku mau melakukan perjodohan itu karena sangat menguntungkan bagiku dan keluargaku. Kau canti bak peri di kayangan, kaya, mapan meskipun umurmu masih muda, kau jenius dan mampu membawa perusahaan milik almarhum papamu menjadi salah satu perusahaan ternama hingga ke luar negeri. Kau tak pernah kekurangan apapun. Aku dimabukkan oleh kecantikan dan kemewahan hidupmu. Aku lupa, kau takkan pernah bisa hidup mengalah," katanya diiringi tawa hambar yang menyedihkan.
Aku mematung mendengar kata-katanya. Ia mau menerima perjodohan ini karena itu? Ia tidak mencintaiku? Oh Tuhan... hatiku menjerit, sakit. Aku begitu mencintainya. Ku kira ia mengalah karena ia mencintaiku, tapi ternyata,..
"Kau mau kemana?!" tanyanya saat aku bergerak mengemasi pakaianku ke dalam koperku.
Tak kujawab pertanyaannya.
"Ku tanya, KAU MAU KEMANA?!" suaranya kian meninggi. Tak kuhiraukan ia hingga aku selesai mengepak bajuku.
PLAK!!
sakit, pipiku ditamparnya dengan sangat kuat, aku rasa sisi bibirku mengeluarkan darah, perih. Aku memegang pipiku yang memerah. Aku menatapnya nanar. Ia sepertinya juga terkejut dengan perbuatannya. Tapi aku tak menghiraukannya, aku tak tahu kenapa ia menamparku, akhirnya aku memilih pergi meninggalkannya yang masih membisu di tempatnya.

Kamis, 03 Desember 2015

Tips Menulis Santai, Siap dan Diterbitkan


Kalau beberapa blog atau pun buku menyediakan tentang tips menulis, blog ini juga menyediakan tips menulis, tapi dengan santai, siap dan diterbitkan. Untuk pemula, juga bisa mencoba tips menulis ini, gampang kalau kita punya kemauan kuat untuk menulis, dan susah bagi siapa pun yang masih takut untuk mencoba.
Jom! simak tips di bawah ini ^____^

##) Tips menulis santai:

1. Cobalah menulis,
2. Menulis apapun yang ada di sekitar kita atau sesuatu yang kita tahu
3. Lakukan di waktu senggang, dan
4. Tidak dalam keadaan lelah.

##) Tips menulis Siap;

1. Berusahalah untuk komitmen, 
2. Tetapkan niat yang kuat untuk menulis
3. Siapkan satu waktu yang konsiten untuk menulis
4. Dilarang mood2tan dalam menulis, karena bisa menghambat siapnya tulisan

##) Tips menulis diterbitkan

1. Pelajari genre sang penerbit
2. Kirimkan tulisan ke penerbit yang sesuai dengan genre tulisan kita
3. Jika penerbit pertama tidak bersedia, maka kirimkan ke penerbit ke dua, jika tidak diterbitkan juga, kembali kirimkan ke penerbit ke tiga, jika ke tiga juga gagal, maka telusuri kembali tulisan kita, minta salah satu temanmu yang ahli dalam genre tulisanmu untuk memberi kritikan atas tulisanmu.
4. Tetap semangat!! ^____^





Selasa, 17 November 2015

Tertulis Untukkmu

Dalam hembusan nafas, doaku selalu untukmu
Dalam derap langkah, juga ada doa untukmu
Dalam keheningan malam, tak henti doa untukmu
Karena cintaku abadi untukmu

Kuhentikan tulisanku untukmu hanya sampai di sini. Aku tak ingin mengusikmu dengan panjangnya tulisanku. Aku haya ingin agar kau bahagia membaca tulisan-tulisanku. Maaf, jika selama ini aku tak pernah ada untukmu, jauh darimu, dan tak pernah membalas pesan-pesanmu. Aku hanya ingin kita bisa sama-sama menahan rasa ini hingga kita halal kelak. Bukannya aku sok naif, tapi aku hanya ingin menjalankan sunnah Rasulullah. Pacaran setelah menikah itu akan sangat indah dan tentu saja jauh dari dosa.
Apa harapanku salah? Atau terlalu berlebihan? Aku hanya ingin seperti mereka, yang mampu menjaga hubungan mereka dengan jalan halal. Aku harap kau mengerti dan membantuku mewujudkan impian ini.

                              Zataluna

"Serius amat, Zan? Surat dari siapa?" pertanyaan Surya membuatku langsung menutup lembaran itu dan memasukkannya ke saku celanaku.
"Dari Luna. Ngapain kau ke sini, Ya? Ada yang bisa kubantu?" tanyaku sambil merebahkan diriku di atas kasurku.
"Aku tak ingin kau membantuku, tapi aku ingin kau ikut denganku sekarang," kata cowok bertubuh tinggi itu sambil menarikku keluar dari kamarku. Dengan sedikit kesal kuikuti langkahnya keluar rumah.
"Mau kemana, sih?" tanyaku kesal saat Surya membuatku masuk ke mobilnya.

Kamis, 05 November 2015

Jalan Hidup



Perjalanan hidup itu masih panjang, kata pamanku tempo hari. Tidak bagiku, perjalanan hidup bagiku pendek. Aku tak begitu mengerti mengapa pamanku mengatakan seperti itu, apa karena ia telah hidup berpuluh-puluh tahun, atau karena ia yakin, bahwa ia takkan meninggal dengan cepat. Bukannya aku mendoakan agar pamanku cepat meninggal, tapi aku hanya ingin mengatakan bahwa mati itu tak ada yang bisa memprediksikannya.
Aku tak bisa memprediksikan apa yang akan terjadi semenit kemudian, apakah aku masih hidup esok, atau tidak. Oleh karena itu, aku mengatakan bahwa perjalanan hidup itu pendek. Meski kita selalu berdoa agar diberikan panjang umur, tapi tetap saja kita tak bisa tahu apa besok kita masih hidup.
"Saat doa kamu ucapkan, kamu harus yakin satu hal, positive thinking sama Tuhanmu, bahwa umurmu akan panjang, begitu pun dengan perjalanan hidupmu," kata sahabatku Jun saat aku mengutarakan pendapatku tentang perjalanan hidup bagiku pendek.
"Aku selalu percaya, Allah tuhanku selalu mendengar doa kami, tapi aku mengatakan itu karena aku tak bisa memprediksikan apa yang akan terjani semenit kemudian," kataku sambil menerawang jauh ke ujung pantai yang sedang kami kunjungi.
"Oke, kalau itu pendapatmu, tapi jangan salahkan mereka juga yang mengatakan bahwa perjalanan itu panjang, karena mereka juga memiliki alasan tersendiri mengapa mereka mengatakan demikian," kata Jun sambil melemparkan batu ke pantai yang sepi dari pengunjung itu.
"Aku tak terima, mereka mengatakan itu seakan mereka bisa memprediksikan bahwa mereka memiki umur panjang, itu salah menurutku, Jun," kataku menatap sahabat bertopi itu tajam.
"Terserah katamu, Nad, aku masih tak mengerti, mengapa kamu bisa berpikiran pendek seperti itu," kata Jun kembali melemparkan batu ke pantai.
Aku diam, hening.
Lama kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku masih duduk di pasir putih dan menikmati angin yang berhembus membawaku menerawang jauh.
"Nadin," suara lirih Jun membuatku menatapnya yang kini duduk di sisiku.

Rabu, 16 September 2015

1 Nyawa



Tet...
Tet...
Tet...

Bel rumahku terdengar nyaring, membuatku harus bangun dari tidurku, meski sebenarnya aku masih sangat mengantuk. Kulirik jam weker yang bertenggeng di atas meja dekat tempat tidurku, baru jam lima pagi, siapa yang menggangguku sepagi ini?! awas saja kalau orang yang tidak penting, akan kubunuh dia. Sebutlah aku lebay, aku tak peduli, aku tak pernah suka jika ada orang yang mengganggu tidurku.
 
Klik
"Assalamu'alaikum cantik. Maaf mengganggumu sepagai ini tapi, aku tak tau harus membawanya kemana lagi, hanya rumahmu yang paling dekat dengan lokasi tempat Al balapan," penjelasan Edi sambil membawa masuk Alvin itu masih membuatku bingung.
"Wa'alaikumsalam,"
Aku tak menghalangi Edi yang sedang menidurkan Alvin yang penuh dengan luka dan lecet-lecet itu di atas sofa ruang TV.
"Apa kau punya kotak P3K?" tanyanya menyadarkanku dari kebingunganku.
kulangkahkan kakiku ke bopet yang ada di dekat pintu dapur, kuambilkan kotak P3K dan segelas air hangat. Kuberikan kotak itu ke Edi dan meletakkan segelas air hangat itu di atas meja. Kuperhatikan Edi yang sedang mencoba membuat Alvin terbangun dari pingsannya.
"Semalam Alvin balapan seperti biasanya, tapi kali ini ia kalah karena rem motornya blong, sehingga membuatnya seperti sekarang ini. Syukur nggak aparah," penjelasan Edi yang masih sibuk menciumkan minyak kayu putih ke hidung Alvin itu membuatku geleng-geleng kepala.
"Sudah seratus kali dibilangin, jangan balapan. Masih juga seperti itu. Aku udah nyerah, Di," kataku sedih.
"Nggeee..." Alvin sedikit mengerang.
"Kau baik-baik saja? Apa yang kau rasakan?" tanya Edi khawatir.
"A...aku dimana? Aku merasa seluruh tubuhku pegal-pegal, sakit, bro," kata Alvin pelan.
"Kau dirumah Nadin, aku tak berani ambil resiko membawamu pulang dengan kondisi seperti ini," kata Edi sambil memukul bahu Alvin pelan namun mampu membuat Alvin menatap Edi dengan tatapan membunuh.
Ke dua sahabatku itu memang tak perna akur.
"Al... mau sampai kapan kamu tetap menekuni obsesi bahayamu itu?" tanyaku sambil memberinya air hangat yang ku letakkan di atas meja tadi.
Ia menerima air hangat itu, dan meneguknya hingga setengah gelas, kemudian memberinya pada Edi yang langsung menghabiskannya.
"Sampai aku puas, Nad," jawabnya sambil tersenyum tipis.
Aku hanya menghela nafas beratku. Bukan hanya aku yang dibuatnya selalu dalam keadaan khawatir saat ia mulai balapan, tapi juga ke dua orang tuanya yang baru-baru ini tau tentang obsesinya itu.
"Ya sudah kalau begitu, aku pamit dulu, ya. Ku titipkan dia padamu, Nad," kata Edi yang membuat mataku melotot.
"EDI! Kau gila, aku tak mau mengurusnya. Lebih baik antarkan ia kerumahnya," kataku jutek.
Tapi dengan sendirinya Alvin bangun dari tidurnya, aku sempat memegangnya saat ia hampir jatuh, Edi langsung mendekat dan ikut membantu Alvin berjalan.
"Aku ikut kau, Di. Aku tak ingin di sini, bisa-bisa aku berbuat yang tidak-tidak pada gadis cantik itu," kata Alvin dengan seringai jailnya. Aku menatapnya dengan tatapan membunuh dan itu hanya membuat ke dua sahabatku itu tertawa. Dasar! Gila!
"Kau yakin ikut aku pulang, aku tak menjamin kalau keluargamu tak akan marah melihatmu seperti ini, bro," kata Edi sambil membantu Alvin berjalan keluar rumah, ku ikuti mereka dari belakang.
"Aku yakin, mereka tak akan marah, karena mereka sangat menyayangiku," kata Alvin tersenyum bangga.
"Jangan terlalu yakin, bro. Lihat saja Nadin yang juga sayang padamu malah tak ingin mengurusmu, apa lagi orang tuamu," kata Edi yang mampu membuatku kembali cemberut dan Alvin menatapku lembut.
"Dia bukannya tak ingin mengurusku, hanya saja kau tahu, kami belum menikah, ya wajar saja kalau dia menolak mengurusku," kata Alvin yang tak melepas pandangannya padaku. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Oke oke, terserah kau saja, ayo kita pulang, Nad, kami pamit, ya. Terima kasih," kata Edi sambil membuka pintu mobilnya dan membantu Alvin untuk masuk ke mobil, kemudian ia pun ikut masuk ke mobil.
aku berjalan menghampiri mereka, aku berdiri di samping pintu mobil tempat Alvin duduk.
"Nyawamu hanya satu, Al. Kalau kamu tak menjaganya baik-baik, kamu akan menyesal jika kamu harus kehilangannya saat kamu tahu arti dari hidupmu yang sangat berarti itu," kataku tersenyum lembut ke arahnya.
Ia terlihat tertegun mendengar ucapanku.
Mobil itu pun melaju cepat, menghilang dari hadapanku.
 
 


Jumat, 04 September 2015

Tak Terduga

Jangan paksa aku untuk jadi seperti kamu, Ka!” nada tinggi yang dikeluarkan Fiyo mengundang banyak perhatian. Kini semua mata pengunjung Restoran Sun itu tertuju pada dua perempuan cantik yang duduk di sudut Restoran dekat jendela kaca.
“Kecilkan suaramu, Fi. Kau tau aku tak suka jadi perhatian banyak orang,” kata Hika pelan.
Hening, tak ada yang bersuara. Kedua perempuan berambut pendek itu kini diam, dan dengan sendirinya, pandangan yang sempat tertuju kepada mereka pun menghilang. Restoran yang ramai itu kembali diriuhkan dengan mereka yang asik dengan pasangan atau pun teman-teman mereka sendiri, hanya Fiyo dan Hika yang masih diam.
“Aku nggak pernah maksa kau jadi seperti aku, Fi. Rajin berlatih, terus berusaha dan kau percaya akan usahamu sendiri, cukup itu saja yang harus kau lakukan,” kata Hika sambil menyeruput Cuppocino dingin miliknya.
Fiyo masih diam, ia hanya menatap Hika datar.
“Perlu kau ingat satu hal, Fi, aku takkan mengalah hanya karena kau ditimpa musibah,” kata Hika sambil memainkan Hp-nya.
 “Aku butuh uang itu, Ka,” Lirih Fiyo, namun Hika tak mengubrisnya. Hika hendak bangun dari duduknya, tapi isakan lirih Fiyo menghentikannya.
“Fi, kau menangis?” tanya Hika heran.

Selasa, 25 Agustus 2015

The End



“Bodoh! Berapa kali harus aku katakana padamu, aku tak akan pernah mengkhianatimu, kau masih tak bisa percaya padaku?” Haru masih diam.

“Haru! Aku sangat mencintaimu, aku bahkan membantumu menemukan siapa pembunuh itu, meskipun ternyata pembunuh itu dibawah suruhan papa, aku tetap memilihmu, kau mau bukti apa lagi?” Haru masih menunduk dan menatap ujung sepatunya.

“Kenapa, Za? Kenapa kau memberikan file rahasia itu kepada papamu? Padahal kau tau, itu kartu as yang bisa memenangkan aku di persidangan nanti.”

Zaura kaget. Ia terdiam seribu bahasa. Hingga beberapa menit berlalu dalam keheningan, hanya suara riak ombak di laut yang terdengar. Zaura bangun dari duduknya, dan menatap Haru serius.

Minggu, 09 Agustus 2015

Masihkah hati itu untukku

MASIHKAH HATI ITU UNTUKKU

Dunia masih berputar, dan hidup Keyna akan tetap berjalan, meski dirinya telah tiada, meninggalkan gadis itu sendiri dalam luka dan kesedihan. Keyna masih menatap pusaranya yang masih basah itu, pikirannya kembali ke sepuluh jam yang lalu.
“Aku cuma mau kamu perhatian sama aku, Ri!”
“Maaf sayang, aku beneran sibuk di sana. Aku harap kamu bisa ngertiin aku.”
“Sibuk dengan wanita lain sampe-sampe kamu nggak sempat hubungi aku. Ini udah hampir sebulan, dan kamu nggak ada kabar sama sekali.”
“Kamu jangan nuduh sembarangan, aku di sini kerja, bukan main wanita lain!”
“Kamu marah sama aku? Harusnya aku yang marah sama kamu. Kamu keterlaluan, Ri”
 Klik

Selasa, 28 Juli 2015

Senyum Inspirasi

Satu
“Putra!!! Kembalikan buku gambarku!!” teriakan Riana membuat seisi kelas tertawa.
Mengapa tidak, Putra memampangkan dengan jelas apa yang di gambar Riana di dalam buku gambarnya, dan sungguh itu adalah gambar terjelek yang pernah mereka lihat
“Ria!! Kenapa kamu bisa masuk kelas khusus menggambar ini?! Gambarmu saja tidak jelas begitu!! Hahaha…” kata seseorang yang duduk di kursi paling depan
“Pasti karena dia ikut-ikuttan, kan, hahaha.” Sambung yang lainnya.
Riana hanya terdiam.
“Benarkan, Ri. Udah lah, kamu tak pantas ada di dalam kelas ini, kamu keluar saja. Hahaha” kata yang lainnya.
“Buat malu kelas khusus ini saja!! Hahaha.”
Ejekan demi ejekan terus saja menghujani Riana yang masih duduk diam tak menyahut apa pun.

Selasa, 07 Juli 2015

Sesuci Ramadhan

Meratapi nasib yang berjalan tak searah dengan tuntutan...
Menangisi takdir yang jauh di atas keinginan..
Menegaskan bahwa diri tak pantas..
Bahkan memaki kelahiran diri...

Ramadhan datang...
Membasuh tubuh dengan air kesejukan..
Membenamkan wajah dalam sujud...
Menjadikan diri sesuci Ramadhan..

Tak sedikit penyesalan diri akan dosa
Yang akan terus membekas..
Bagai luka yang takkan pernah sembuh..
Meski terobati Ramadhan suci..

Jumat, 05 Juni 2015

Nafas yang Mati

Nafas yang Mati

"Luar biasa, Man! Kau bisa menguasai 10 buku dalam dua hari. Kau memang amazing!" Chandra mengacungkan dua jempolnya saat melihat nama Aman di daftar paling atas mahasiswa yang mendapatkan beasiswa ke New York.
"Kau terlalu berlebihan, Ndra. Aku hanya mengulang dan mempelajari semua soal yang ada di 10 buku itu, bukan menguasai." kata Aman sambil pergi dari hadapan mading kampus yang mulai di kerumuni para mahasiswa.
"Ah, sama aja, dua malam kau asik dengan 10 buku pemberian pak Randa itu, tak kau pedulikan reonian anak-anak SMA kau yang sedang berlangsung malam itu. Kau patut mendapatkannya, Man." kali ini Chandra merangkul bahu Aman yang memang lima centi lebih tinggi darinya, sehingga ia sedikit berjinjit.
"Terserah kau saja lah," kata Aman tak ingin memperpanjang masalah sepele itu.
"AMAN!" teriakan yang berasal dari belakang itu, membuat kedua pria tampan itu menghentikan langkah mereka.
Aman dan Chandra membalikkan badan mereka, dan mendapati Dea sedang menuju ke arah mereka dengan sedikit berlari.
"Congrat, bro. Loe lulus ke New York. Gue nggak nyangka, seorang penipu dan pecontek ulung seperti loe, bisa lulus ke sana. Loe punya orang dalam sehingga bisa membocorkan soalnya ke loe? Wah....Luar biasa." kata-kata kasar Dea membuat wajah Aman memerah menahan marah. Lain hal nya dengan Chandra yang tak segan mencekal kerah jaket Dea.

Rabu, 03 Juni 2015

Sayap-sayap Rindu, lanjutan...

to be continue....

Setelah makan dan beristirahat di rumah makan Padang, Dimas mengajakku ke restaurant yang cukup terkenal di Bogor itu. Sesampainya di restaurant yang tak jauh dari rumah makan padang tadi, aku yang lapar bergegas memesan spagethi dan lemon tea, dua makanan kesukaanku, dan Dimas sangat itu .
Setelah makan dan ngobrol, aku dan Dimas kembali melanjutkan perjalanan kami yang masih jauh. Aku mulai mengantuk, namun Dimas tak mengizinkanku untuk tidur.
"Ayolah, Ran....jika kau tidur, aku juga akan bosan sendiri," Dimas merengek manja.
"Aku ngantuk banget, Di." kataku masih memelas.
Aku menghidupkan TV mini yang di pasang Dimas di mobilnya, ku putar USB yang terpasang di sana, mulai lah lagu Maroon 5 terdengar memenuhi mobil. Dimas hanya tersenyum tipis saat melihatku mulai menarik selimut bersiap untuk tidur.
"Kau curang, Ran."
Hanya itu kata-kata terakhir yang ku dengar sebelum akhirnya masuk ke alam mimpi.

>>>>>

Dimas POV

Aku hanya bisa tersenyum melihatt si cantik itu tidur dengan pulas nya. Berusaha menikmati lagu yang diputarkannya tapi, tetap  aku tak bisa, karena pikiranku dipenuhi dengan kata-kata Rani tadi.
"Sebenarnya, ada yang aku suka. Tapi, dia sudah ada yang punya,"
"Sejak sekarang, saat kau bertanya, adakah pria yang aku sukai. Dan aku baru menyadari satu hal, kalau ada satu pria yang begitu setia padaku, sahabatku sendiri, Dimas Pramata."
Ran, tahukah kau, hatiku mulai ragu. Dan aku tak tau, sampai kapan aku bisa bertahan dengan melihatmu seperti ini. Aku memang mencintai Dinda, tapi aku juga menyayangimu, kau yang mempertemukanku dengan Dinda dan mempersatukan kami. Aku tak yakin kau jujur dengan perasaanmu yang tek menyukaiku lebih dari sekedar sahabat.  Ah! Dimas! Berhenti berfikir yang tidak-tidak, fokus lah pada Dinda yang sebentar lagi akan kau nikahi!

<<<<<

Rani POV

"Ran, bangun, kita sudah sampai." suara familiar itu membuatku menggeliat, dan mulai membuka mataku.
"Kita sudah sampai." ulangnya saat melihatku tak bereaksi untuk sekedar merenggangkan otot-ototku.
"Ayuk." ajaknya yang mulai turun dari mobil, aku pun mulai sadar sepenuhnya. Ku lihat rumah yang tak pernah berubah sejak aku pertama kali ke sini hingga sekarang.
Aku turun dari mobil dan membantu Dimas membawakan barang-barang ke dalam rumah yang memang sudah terbuka.
"Mama dan papamu di mana? apa mereka sudah tidur?" tanyaku saat kami sudah berada di dalam rumah.
"Kau tak tau jam brapa sekarang?"
Langsung ku perhatikan arlogiku, dan ternyata jam menunjukkan pukul 03.00 pagi. Wajar jika mereka tak menyambut anak satu-satunya ini.
"Hai, udah sampai, syukurlah." kata Dinda yang baru muncul itu sedikit membuatku kaget.
Dinda yang juga temanku sejak di bangku kuliah pun menyambutku dengan pelukan hangatnya.
"Yuk! Kamu butuh istirahat." kata Dinda yang langsung membawa koperku dan membawaku mengikutinya menuju kamar tamu.
"Besok kita akan berangkat ke Bali, jadi kamu harus benar-benar istirahat sekarang, ok, Rani." kata nya ramah.
"Iya, terima kasih, Dinda."
"Sama-sama. Aku keluar dulu, ya."
Aku hanya mengangguk.

<<<<<

Dimas POV

Sejak kapan Dinda di sini, kenapa dia tidak memberitahuku kalau dia menginap di rumah.
"Kamu pasti terkejut. Aku sengaja tak memberitahumu. Karena besok saat liburan ke Bali, aku takkan ikut." kata Dinda sambil duduk di sampingku.
"Lho, kenapa?"
"Karena aku sadar, aku telah menjadi orang ketiga di antara kalian."
"Maksudmu?"
"Saat kamu selalu meminta izinku untuk melindungi dan menjaga serta menghibur Rani, aku senang, karena kamu memang menganggapku sebagai kekasihmu, tapi di sisi lain, aku mulai menyadari satu hal, kalau seseorang yang ingin kamu lindungi dan hibur adalah Rani, bukan aku, Mas."
Pernyataan Dinda membautku sakit kepala, apa lagi ini?
"Aku lelah, Din, bisa kah kita bicara nya besok saja?"
"Ok, selamat istirahat."
Pamitnya sambil menuju ke kamar yang bersebelahan dengan kamar tamu yang kini ditempati Rani.
Kepalaku semakin tidak bisa di kontrol, ku putuskan untuk segera masuk ke kamarku yang terletak di lantai dua dan aku pun tidur.

Bangun Dari 'Tidur'

Hanya sebagai renungan semata...

 Bahagia itu sederhana, hanya positive thinking dan selalu bersyukur, yang harus di ingat adalah hal-hal yang menghambat kebahagiaanmu, satu, suka ikut campur urusan orang lain serta terus mengingat masa lalu yang kelam. Dalam kehidupan di dunia ini, tak ada manusia yang hidupnya bahagia selamanya dan juga sebaliknya.
 Bumi itu terus berputar, begitu pun kehidupan manusia yang terus berputar, tak selamanya bahagia, karena Allah SWT. menciptakan kesengsaraan dan kesedihan sebagai ujian dan cobaan, begitu pun sebaliknya, tak selamanya kehidupan itu selalu dalam kesengsaraan, karena Allah SWT. juga menciptakan kebahagian sebagai balasan bagi mereka yang sabar dan bersyukur namun, kebahagiaan itu tak hanya berfungsi sebagai hadian dariNya, terkadang kebahagiaan itu bisa berupa ujian dan cobaan pula bagi mereka.

Selasa, 02 Juni 2015

Sayap-sayap Rindu

Deru ombak menghantam pantai dengan keras, membuat pasir yang kering menjadi basah. Ku telusuri pasir yang basah itu, dengan cepat kakiku ikut dibasahi ombak pantai Ulee Lheu ini. Aku masih terus berjalan, meski mentari akan segera pulang ke peraduaanya, memberikan posisinya pada bulan untuk menyinari bumi.

"Rani!" seruan itu menghentikan langkahku.
"Apa yang kau lakukan di sini, ayo kita kembali, para kru yang lain sudah kembali ke tenda mereka," kata Dimas sedikit berteriak, karena jarak antara ia dan tempatku berdiri lumayan jauh.
Aku hanya mengangkat jempolku, tanda aku setuju kembali ke tenda sekarang. Dimas masih menungguku yang terus berjalan ke arahnya.
"Kau tak kedinginan?" tanya Dimas memperhatikan baju yang ku kenakan.
Hanya dengan kaos hitam polos dan tipis dengan celana jeans selutut.
Aku hanya menggelengkan kepala.

Kamis, 28 Mei 2015

Hijrah Cinta

Mulanya, aku masih berfikir dua kali untuk menjawab ‘iya’ dalam situasi yang buruk ini. Namun, aku juga tak ingin kehilangan orang yang paling kusayang. Aku hanya mampu menganggukkan kepalaku, menandakan bahwa aku bersedia menjadi pendamping hidupnya. Dan sekarang wanita yang berdiri dihadapanku kini menatapku tajam.
“Kamu serius, Sha?” Tatapan Kei membuatku hanya mampu tersenyum dan kembali menganggukkan kepalaku.
Dalam sekejab, Kei langsung menyentuh lembut kepalaku. Sikapnya yang seperti ini mampu mempuatku tersipu.
“Thanks.” Katanya lembut.
PLAK!!

Kamis, 21 Mei 2015

Aku & Para Inspirator



   Berangkat dari rumah pukul 13.30 WIB, dan aku mermarkirkan hondaku di parkiran gedung Sultan Selim II tepat pukul 14.30 WIB, kalau diperhitungkan, jarak dari rumahku ke genung ini, hanya menghabiskan 15 menit perjalanan, namun, karena aku lupa di mana gedung megah ini berada, akhirnya aku menemukannya saat aku hampir putus asa mencari dimana letak gedung indah ini.
Aku dan temamku, Ratna berjanji akan berangkat bersama ke gedung ini untuk menghadiri Seminar dan Peluncuran buku yang di adakan di lantai II gedung ini, namun karena satu dan dua hal, ia tak bisa berangkat bersamaku, aku sempat bertanya padanya, “Dimana letak gedung Sultan Selim II?” kataku saat teleponku tersambung dengannya, “Di belakang taman Putroe Phang.” Jawabnya cepat. Dan aku mulai mencari gedung itu, hingga aku sempat tiga kali putar-putar di jalan seputaran taman Putroe Phang itu. Saat aku hampir putus asa, aku menemukan Gapura bertuliskan nama Sultan Selim II tepat di depan taman Putroe Phang, dan dengan senyum semeringah, aku memasuki kawasan gedung tersebut.
Setelah parkir, aku langsung menuju ke lantai dua, dan ternyata seminar nya sedang berlangsung. Dengan cepat aku menulis namaku di buku tamu, kemudian mereka memberiku secarik kertas bertuliskan angka 74, aku sempat bertanya pada panitia, apa mereka menyediakan buku yang akan diluncurkan untuk di jual, namun mereka menerangkan bahwa secarik kertas itu yang akan membuatku memiliki buku yang akan diluncurkan itu secara gratis, dalam hati aku bersyukur.  suasana sepi menyelimuti ruangan berAC itu.
Setelah regristrasi, aku langsung memasuki ruangan berAC itu. Aku memilih duduk di deretan atas sebelah kiri, tempat yang masih sangat kosong. Sebelumnya, saat aku memasuki ruangan ini, aku melihat guru sekaligus pendiri Sekolah Hamzah Fansuri, bang Thayeb, duduk di kursi bawah paling depan. Sebenarnya hari ini kami para siswa Sekolah Hamzah Fansuri memiliki jadwa belajar hari ini, pada jam 15.00 WIB.
Namun, karena adanya acara seminar dan peluncuran buku tersebut, aku pun memilih mengikuti acara ini terlebih dahulu, sebelum pembelajaran dimulai. Dalam dudukku sambil memperhatikan pemateri yang bernama bapak Muhammad Fauzan Azim Syah itu, aku juga memperhatikan gerak guruku tersebut, jika beliau keluar tepat jam 3, aku pun akan keluar dari ruangan ini, agar aku tak ketinggalan pelajaran, pikirku.
Dalam materi yang di sampaikan oleh pak Fauzan tersebut menjelaskan sejarah singkat tentang pembangunan gedung ACC Sultan Selim II tersebut. “Gedung ini dapat digunakan oleh masyarakat dan terbuka untuk siapa saja,” ujar pak Fauzan. Para hadirin tampak menyimak dengan khidmat.
Direktur gedung ACC Sultan Selim II tersebut juga menerangkan bahwa, dalam kepemimpinan harus bisa menghormati orang lain, untuk menciptakan tim kerja yang tak perlu di pantau, dan menyeleksi tim kerja yang sesuai dengan bidangnya, serta mereka menyukai apa yang dikerjakan.
Di sela-sela apa yang di sampaikannya, Ratna, temanku datang dan duduk di sampingku. Tak berapa lama kemudian, ku perhatikan guruku telah keluar ruangan, dan dengan cepat, aku pun ikut keluar ruangan. Tapi, saat ingin menuruni tangga, aku berpas-pasan dengan beliau, aku bertanya, gimana dengan sekolah, kapan kita mulai belajar, beliau dengan tenang menjawab, “Kita ikuti acara ini dulu sebentar, kemudian kita baru mulai belajar.”
Aku pun mulai bingung juga malu, tadi dengan sedikit terburu, aku keluar dari ruangan itu dengan meninggalkan temanku sendirian, sekarang, aku harus masuk kembali. Aku fikir, lebih baik aku menunggu temanku yang katanya tadi sedang dalam perjalanan menuju gedung ini.
Tak berapa lama kemudian, ia pun hadir, dan dengan ramah aku tersenyum padanya sambil berkata, “Yang lain pada kemana, Mad?”, dengan santai, Rahmad menjawab, “Tadi aku ke Keudah dan dari sana aku langsung ke sini, jadi kami tidak barengan,” sambil tersenyum aku menambahkan, “Biasanya 4 serangkai nggak pernah pisah.” Ia hanya tersenyum menanggapi kata-kataku itu. 4 serangkai yang tak lain juga siswa Sekolah Hamzah Fansuri yaitu terdiri dari Rahmad, Kautsar, Nazar dan Reza.
Aku mulai kembali masuk ke ruangan, dan dia menyusulku, namun, kami duduk terpisah. Aku mulai kembali memperhatikan pemateri yang ternyata sudah berganti orang, kalau yang tadinya berbicara adalah pak Muhammad Fauzan Azim Syah, kini yang berbicara adalah seorang narasumber pemilik kedai Taufik Kupi Banda Aceh yang tak pernah sepi.
Menurut beliau, kita hidup harus berusaha, dan berpendidikan sederhana dengan S5 (Salam, senyum, sapa, sopan, dan santun). “Bekal utama kepemimpinan adalah kejujuran, sehat dan tenaga, serta salam, senyum, sapa, sopan, dan santun, atau S5,” kata pak Taufik. Tak lama kemudian, narasumber yang ke tiga ambil bagian.
Bapak Nahar Aba Hakeem menerangkan bahwa kepemimpinan adalah seorang yang berani mengambil tanggung jawab yang lebih atas orang lain. Dan dalam kepemimpinan juga butuh rasa empati, “Rasa empati terhadap orang lain juga sangat di butuhkan. Jangan menilai orang lain, sebelum merasakan apa yang mereka rasakan. Itu lah rasa empati.” Kata bapak pengamat sukarelawan dan kepemimpinan ini.
Saat narasumber ke tiga berbicara, Kautsar, Nazar dan Reza memasuki ruangan ini, dan mereka duduk terpisah, meskipun terlambat, namun mereka masih bisa menerima sedikit materi yang sempat di utarakan narasumber ke tiga tentang kepemimpinan dan sukarelawan.
Setelah ke tiga narasumber mengakhiri materinya, kini beralih ke sesi tanya-jawab. Ada tiga penanya yang bertanya tiga hal yang berbeda, mulai dari Zia anak biologi Unsyiah yang bertanya bagaimana mengahadapi tim kerja yang dalam bekerja tidak lagi mengerjakan hal yang telah di sepakati, dan pertanyaan tersebut ditanggapi pak Fauzan dengan mengatakan agar bisa bersikap tegas terhadap mereka. Hingga pertanyaan yang di tujukan kepada pak Taufik, bagaimana system dalam menjalankan kedai Taufik Kupi yang terlihat selalu ramai dengan pengunjung, dan pak Taufik menjawab bahwa, beliau hidup dengan S5 dan konsep hidup dengan apa yang sudah diberikan oleh Allah SWT. dan menjalaninya dengan baik.
Setelah sesi Tanya-jawab, Juanda Jamal sebagai pemandu acara menutup seson seminar tersebut, dan kemudian membuka seson peluncuran buku Istanbul warna ibukota dunia. Acara selanjutnya di pandu oleh salah satu Mc yang langsung mengambil alih panggung. Dengan sopan, Mc menyapa para hadirin sebelum akhirnya memanggil salah seorang dosen yang hadir dalam acara tersebut, Sulaiman Tripa, beliau menerangkan bahwa, “Buku ini menarik karena wartawan foto yang menulis, ini saya kira luar biasa, karena orang foto saja bisa menulis sebuah buku, apalagi jika wartawan tulis.” Ujar pak Sulaiman.
Mc kemudian memanggil sang wartawan foto yang telah berhasil menulis sebuah buku tersebut untuk naik ke atas panggung. Ariful Azmi Usman mengatakan bahwa ia  hanya sebulan di Turki, dan ia mulai menulis setelah kepulangannya ke Aceh, proses penulisan berlangsung dalam 3 bulan. Pemuda ini tidak takut menulis karena dengan menulis ia bisa merasa hidup 1000 tahun lagi. Siapa pun bisa menulis, jika ia mau. Pemuda yang kuliah di Unsyiah tersebut juga menegaskan bahwa, buku yang ditulisnya tidak di jual, jadi akan di bagikan secara gratis.
Peluncuran buku dilakukan secara simbolis hanya sekedar tanda tangan para pendukung besar serta panitia pelaksana acara. Acara kemudian di tutup setelah Mc mengabarkan bahwa buku akan di bagikan secara gratis bagi yang mendapat kupon saat registrasi.
Ke dua seson acara yang berlangsung pada Selasa (19/05/2015) sejak pukul 14.00 s/d selesai tersebut menjadi inspirasi tersendiri bagi kami siswa Sekolah Hamzah Fansuri serta para hadirin, baik itu tentang kepemimpinan, sukarelawan maupun tentang kepenulisan.

***

Setelah acara berakhir, aku bersama Ratna mengantri untuk mengambil buku Istanbul tersebut, setelah itu, aku yang akan mengikuti belajar kembali ke ruangan, sedangkan Ratna memilih untuk pulang. Saat aku kembali, aku mendekati ke empat pria teman sekolahku, saat hampir mendekati mereka, Rahmad mendekatiku dan langsung mengambil buku Istanbul dari tanganku dan membuka sampulnya, “Minta tanda tangan penulisnya langsung.” Katanya yang didukung anggukan dari teman-teman lainnya.  “Ok.”
Bergegas aku menuju kerumunan orang yang sedang mengerumuni sang penulis, cukup lama aku mengantri, sehingga aku tak menyadari bahwa ke empat teman-temanku telah keluar dari ruangan. Setelah bukuku di tanda-tangani, aku pun langsung keluar ruangan dan mendapati Nazar dan Reza sedang memandangi jalan di bawah melalui jendela kaca yang terletak di pertengahan tangga.
“Yang lain, kemana?” tanyaku sambil menuruni tangga.
“Shalat dulu, kata bg Muhajir,” jawab Nazar dan Reza barengan.
Ke dua nya menuju keluar gedung, sedangkan aku memilih shalat ashar di mushalla kecil yang terletak di bawah tangga. Setelah shalat, aku langsung ke luar dari gedung dan kudapati Kautsar dan Rahmad datang mendekati gedung.
“Mereka kemana?” Tanya Kautsar padaku.

After School

“Zinta tak pernah mengerti apa yang kamu bicarakan sekarang, Ranbir. Zinta hanya ingin menjadi lebih dari sahabat kamu, tapi kenapa jawaban kamu  membuat Zinta bingung?”
Cowok tanpan itu memperbaiki pecinya. Dan tersenyum sebelum akhirnya berkata, “Ok, aku akan lebih menghaluskan jawabanku. Zinta binti Hendra, saya, Ranbir menolak untuk menjadikanmu lebih dari seorang sahabat, maaf.”
Zinta terdiam, ia menatap Ranbir penuh kasih, Ranbir hanya tersenyum tak enak ke Zinta. Tak terasa air mata jatuh membasahi pipi Zinta. Ranbir terkejut melihatnya, begitupun Shena, Hira dan Deo yang ikut menyaksikan pengakuan Zinta tersebut, mereka tak menyangka bahwa Zinta akan menjatuhkan air mata demi cinta, karena Zinta terkenal ‘dingin’ dan susah menangis.
“Ok kalau itu jawabanmu, thanks pernah menjadi sahabat Zinta, sekalian, Zinta mau pamit. Sampai jumpa lagi, dan Zinta berharap kita masih bisa jadi teman, meskipun kita berjauhan.” Kata Zinta sambil tersenyum simpul.
“Lu mau kemana, Zi?” kali ini Hira yang berbicara dengan nada masih terkejut.
“Alhamdulillah Zinta lulus S2 di Turki.”
“Ouh…” sahut Ranbir dan Deo barengan.
“Gue juga lulus di sana, Zi.” Kata Hira sambil tersenyum tipis ke Zinta, ia tak menyadari kata-katanya membuat Deo, Shena dan Ranbir terkejut.
Ke lima mahasiswa yang belum lama menggenggam gelar S1 ini bukanlah sahabat dekat, hanya Ranbir dan Zinta serta Shena yang sahabat dekat, tidak dengan Hira, dan Deo. Mereka tak sengaja dipersatukan dalam kepanitiaan tasyakkuran bagi yang baru lulus S1. Saat itu lah, kebersamaan mereka dalam kepanitiaan membuat keakraban di antara mereka menjadi hangat dan serasa seperti memilik keluarga ke dua. Namun, mereka kembali dipisahkan, karena situasi yang berbeda-beda dan waktu yang terus berjalan.


to be continue...


Berawal Di Gunung Seulawah

Gunung Seulawah
“Bek bagah that mee Honda hai, Tya.!”[1] Lengkingan suara Rya membuat Tya tak melambatkan laju motornya.
“Tya, istirahat dulu, yuk.”
Kali ini Tya setuju dengan kata-kata Rya. Perjalanan mereka hampir mencapai tujuannya. Dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh mereka tempuh hanya dengan mengendarai motor Vario. Wajar jika mereka kelelahan. Perjalanan mereka hampir menempuh waktu 6 jam.
Keduanya singgah di salah satu tempat peristirahatan Bus atau mobil L300. Warung makan, mushalla, toilet serta pasar buah ada di sana. Rya dan Tya duduk di salah satu tempat makan, mereka memilih kursi yang terletak sedikit jauh dari pengunjung yang lain.
“Hei! Awak droe neuh agoe! Pajan trouh keuno?”[2] kata-kata itu membuat Tya dan Rya memaling menghadap ke arah suara berasal.
Empat cowok yang mereka kenal berdiri santai menatap keduanya sambil tersenyum senang. Mereka pun bergabung bersama Tya dan Rya. Percakapan mereka terdengar santai sambil makan.
“Rizkan kapan kembali dari Mesir, gimana kuliahnya di sana, lagi liburan semester, ya?” pertanyaan Tya membuat cowok manis dengan kulit kecoklatannya itu menatap Tya sambil tersenyum.
“Iya. Cukup menyenangkan kuliah di sana.” Jawabnya singkat.
“Ah, mimpi ke sana selalu tertunda, suatu hari nanti, pasti bisa ke sana.” Kata kautsar sambil menerawang jauh.
Obrolan mereka pun menjurus ke bagaimana gambaran kuliah di negeri timur tengah itu. Mereka benar-benar menikmati obrolan mereka, bercanda ria hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB.
Mereke pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Banda Aceh. Tak ada yang berubah, Rizkan tetap bersama Syukrijal, Kautsar dengan Muazar, dan Tya tetap bersama Rya. Perjalanan Tya dan Rya sedikit berbeda karena Rizkan dan Kautsar serasa mengawasi mereka, tetap menjaga jarak antara motor mereka dengan motor Tya dan Rya. Sedangkan motor Syukrijal dan Muazar telah jauh ke depan. Mereka kembali berhenti, namun sekarang mereka berhenti di Mesjid Seulimum, masjid yang tak jauh dari tempat mereka istirahat tadi.

Senin, 18 Mei 2015

PENCURI



Kriingg,,kriingg,,kriiing,,
Tepat pukul 05.15 WIB jam beker dalam kamar Amat berdering, memecah kesunyian. Amat menyingkap selimutnya, mengocek matanya yang masih kotor, dan sedikit menggerakkan anggota tubuhnya ke kanan dan kiri untuk meregangkan sendi-sendi otot tubuhnya. Tak lama kemudian, ia beranjak dari tempat tidurnya yang masih berserakan, ia menuju kamar mandi berdinding pohon rumbia yang berada dibelakang rumahnya. Amat mengambil air whuduk untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang Mukmin. Tak berapa lama kemudian, Amat larut dalam shalat nya.
Selepas shalat, Amat bergegas melepas sarung yang masih melekat dipinggangnya, menggantinya dengan celana dan menukar baju shalatnya dengan baju lengan panjang yang sudah kecoklatan karena hampir tiap hari di kenakan nya setiap kali ia sedang memotong pisang di kebun nya, hingga baju tersebut terkena cipratan getah pisang dan membuat baju nya berubah warna.
“Mat, bergegas lah ke kebun, mungkin durian ada yang jatuh, kalau kamu terlambat,  nanti durian nya bisa diambil orang,” ujar neneknya yang sedang memanaskan kuah asam keu’eung[1] didapur.
“Iya nek, aku akan ke kebun, sekarang,” jawab Amat yang langsung keluar dari rumah nya.
Udara masih sejuk, ujung rumput dan ilalang masih menampung butiran embun yang sedang menunggu jemputan cahaya pagi.  Ayam masih saling berkokok satu sama lain. Amat melangkahkan kakinya dijalan yang berbatuan, sesekali apabila sandal jepangnya bergeser posisi, maka tapak kaki kasarnya langsung kena jalan yg berbatu, “Duhh, sakit juga,” keluhnya setiap tapak kakinya meginjak batu-batu runcing di jalanan itu.

Kisah Tentang Razi


Seperti setiap hari Senin sejak tiga minggu yang lalu, Razi, Haris dan Kiki kembali membuka komunitas mereka- “Rimba Raya” di depan Museum kampus. Komunitas ini adalah komunitas yang baru di bentuk dan bertujuan untuk menarik minat baca masyarakat. Karena ini baru permulaan, jadi  mereka hanya menetapkan satu hari yaitu setiap hari Senin untuk membaca di komunitas mereka yang telah menyediakan buku-buku yang terdiri dari Novel dan Motivasi.  
Tak seperti hari-hari Senin sebelumnya, Senin kali ini komunitas tersebut sepi, meski ada dua orang pengunjung dari Sekolah Hamzah Fznsuri yang singgah di komunitas, namun kedua nya tak bertahan lama, karena ada kepentingan lain yang membuat mereka harus segera pergi dari komunitas tersebut.
Kini hanya tinggal Haris, Razi dan Kiki. Ke tiga nya mulai berbincang-bincang tentang ide yang sempat di utarakan Rahmad-tamu dari SHF, usul tentang sebuah komunitas menulis. Sedang asyik berbincang, Kiki pamit pergi ke toilet. Sekembalinya Kiki dari toilet, ia langsung melemparkan pertanyaan kepada dua temannya itu.
“Ada nggak cara untuk membuat suara menjadi lebih dewasa?” Tanya Kiki sambil duduk di atas spanduk yang dijadikan sebagai alas untuk duduk di bawah pohon rindang tempat mereka memamerkan beberapa Novel dan buku Motivasi tersebut.
“Ada, bangun pagi, makan cabe banyak-banyak,” jawab Razi sambil tertawa ringan, membuat Kiki ikut tertawa dan mengatakan “Ada pula,”
“Ada ni, makan jeruk nipis banyak-banyak,” kali ini Haris ikut menjawab sambil tersenyum simpul.
“Ah, serius dong.” Kiki sedikit kesal namun ia masih tersenyum.
“Ki, kalau ada seseorang yang komentar tentang DP mu di BBM, gimana?” Tanya Haris tiba-tiba mengganti topic pembicaraan.
“Biasa aja.” Jawab Kiki seadanya.

Jumat, 15 Mei 2015

Desiran angin rindu

Tertulis berjuta kata untukmu
Menuturkan rindu terpendam
Tak sampai waktu melihat
Adakah kau seirama
Lewat desiran angin..
Ku layangkan seribu rasa..
Tak terhingga masa
Tak tertutup fatamorgana
Kau selalu ku rindu..

Ku amankan kau
Dalam doa dan bangun malamku
Tak terbaca malam
Atau pun siang..
Hingga singgasana emas
Terpahat kita
Dalam bingkai halal dan abadi..

Amin...

"Tak terasa begitu lama ia pergi, Na. Tapi, hanya aku yang slalu mengirimkannya email, namun tak pernah ada balasan." ujar Sinta sambil menutup laptopnya dan merebahkan dirinya di sisi Nina yang masih asyik membaca bukunya.
"Liburan simester ini, kau susul saja dia ke sana, dia pasti senang." kata Nina sambil tersenyum.
"Tapi, dia tak mengizinkanku ke sana."
"Oh come on, Ta. Dia itu tunangan kau, tak seharusnya dia bersikap seperti ini padamu, kau susul dia ke sana, dan perjelas, mengapa dia tak pernah membalas email kau selama hampir lima tahu  ini." kali ini Nina sedikit meninggikan suaranya.
"Oke. Aku ke sana, dengan syarat, kau juga harus ikut."
"Oke."

To be continue....