Jumat, 17 November 2017

RENUNGAN JUMAT

Dalam perjalanan menemukan jati diri, kita akan menghadapi berbagai macam cobaan, cobaan tingkat rendah atau pun tinggi, hingga bisa membuat kita susah bernafas hingga menyesakkan dada dan ingin mati. Kerikil jalanan, banjir bandang, longsor, dan gempa bumi hingga tsunami bisa saja menghadang langkah kita.
Ketika kita memilih tetap maju dan terus melangkah, mencari kemenangan diri, menerjang dan menghadapi segalanya dengan berani tapa putus asa, hingga mendapati diri yang telah berubah, menjadi lebih baik, sejatinya manusia, meski kesalahan tetap terjadi tapi, bisa kita hadapi dengan seharusnya. Ketahuilah, saat itu telah terjadi pada diri, maka di sanalah letak kemenangan diri yang kita dapatkan.
Tapi, jika kita memutuskan mundur, berhenti melanjutkan perjalanan itu, menyerah pada keadaan diri, yang semestinya mampu menjadi lebih dari yang sebelumnya, memilih berhenti dan berdiri tegak di atas langkah kaki yang nyaman, tanpa ingin maju, maka saat itulah, kita telah kalah oleh diri kita sendiri, dan kalah menghadapi dunia.

Note:

"YAKINLAH,  HASIL TIDAK AKAN PERNAH MENGKHIANATI PROSES, TENTU DENGAN DOA DAN USAHA DI DALAMNYA"

SKY LOVER, IN THE RAIN 
11/17/2017

Rabu, 08 November 2017

SAVE ME


 
Satu
Tak ada yang medengar teriakanku. Jelas saja, karena ini tengah malam, suasana gelap karena listrik padam, dan jalanan begitu sunyi. Aku masih bersembunyi di balik lemari, saat suara kaki bersepatu bot itu mendekati lemari ini. Kubungkam mulutku untuk menahan tangis yang ingin keluar, terus berdoa agar lelaki itu tak menemukanku. Namun, sepertinya doaku belum dikabulakan, karena sekarang, lelaki yang kukenal sebagai ayahku itu menatapku dengan seringainya yang menjijikkan. Aku mentapnya tajam.
“Kemarilah sayang, kenapa kau ketakutan seperti itu pada ayahmu ini, hah?!”
Suaranya membuatku membeku, ia mulai mendekat, dan menyentuh kulitku dengan tangannya yang masih berlumuran darah ibu, sedangkan tangan satunya lagi masih memegang pisau tajam yang merenggut nyawa ibu.
“Kenapa kau diam saja manis, apakah kau ingin disini terus seumur hidupmu? Atau kau ingin menyusul ibu keparatmu itu, hah?! Jawab aku, cantik!!”
Ia menarikku keluar dari sudut lemari, dan menghempaskanku di lantai yang penuh pecahan botol minuman keras miliknya. Aku meringis kesakitan, namun tetap diam dan mulai waspada. Kuraih pecahan kaca yang cukup besar, aku bertekad melawannya.
“Kau ingin melawanku, hah?! Kau fikir mampu?! Kau masih kecil sayang, jangan membantah, dan diam saja!”
Ia kembali mendekatiku dan mulai membuka baju kemejanya yang juga berlumuran darah ibu. Kuarahkan pecahan kaca itu padanya, aku bergetar, meskipun ingin melawannya, tubuhku bergetar hebat. Ya Tuhan… tak ada lain pelindung selaiMu, ya Rabb, tolonglah hambaMu ini, rintihku saat tangan lelaki itu memegang erat lenganku, dan mengambil paksa pecahan kaca itu dari tanganku.
DUBRAAK!!!