“Bodoh!
Berapa kali harus aku katakana padamu, aku tak akan pernah mengkhianatimu, kau
masih tak bisa percaya padaku?” Haru masih diam.
“Haru!
Aku sangat mencintaimu, aku bahkan membantumu menemukan siapa pembunuh itu,
meskipun ternyata pembunuh itu dibawah suruhan papa, aku tetap memilihmu, kau
mau bukti apa lagi?” Haru masih menunduk dan menatap ujung sepatunya.
“Kenapa,
Za? Kenapa kau memberikan file rahasia itu kepada papamu? Padahal kau tau, itu
kartu as yang bisa memenangkan aku di persidangan nanti.”
Zaura
kaget. Ia terdiam seribu bahasa. Hingga beberapa menit berlalu dalam
keheningan, hanya suara riak ombak di laut yang terdengar. Zaura bangun dari
duduknya, dan menatap Haru serius.