Rabu, 17 Oktober 2012

Yakinlah, pasti bisa!


Salah satu stiker tim sepak bola SMAN 2 _ Ibal dan sahabatnya masih duduk di lapangan, meski lapangannya telah sepi.
          “Bal, loe yakin kita bisa ngadapin mereka?” pertanyaan itu dilontarkan Candra saat lampu gedung olah raga itu dipadamkan.
          “Tahun lalu kita bisa, kenapa tahun ini nggak.” Kata Ibal sambil berdiri dan mulai berjalan keluar gedung, Candra mengikuti langkahnya.
          “Kali ini lawan kita udah pernah ke nasional, Bal.”
          “Terus?” tanggapan Ibal yang acuh itu membuat Candra menghadang langkahnya.
          “Jangan ngeremehin lawan.” kata Candra dengan nada sedikit ditekan.
          “Siapa yang ngeremehin? Berapa kali mesti kuingattin, jangan pernah takut sama lawan.” Kata Ibal sambil memegang bahu Candra.
          “Kamu selalu ngomong gitu, nah aku sampai sekarang tak tahu cara hilangin rasa takutku ini.” Keluh Candra akhirnya muncul, dan Ibal hanya tersenyum tipis.
          “Coba tinggiin rasa percaya dirimu, aku yakin kamu pasti bisa hilangin rasa itu.” Kata Ibal sambil merangkul temannya itu. Candra hanya tersenyum menanggapi kata-kata Ibal itu.

)( )( )( )(

 Pertandingan yang dilaksanakan di Stadion Citarum, Sejak menit awal, SMAN 1 mendominasi permainan. Serangan yang dibangun dari lini belakang, lebih efektif dibanding permainan lawan, Taqin membuka kemenangan timnya dengan mencetak gol di menit ketiga. Tendangan terarahnya tak mampu dihalau kiper SMAN 2, Rico. Gol cepat itu sempat membuat mental anak-anak SMAN 2 turun. Akibatnya, tekanan bertubi-tubi sempat melahirkan banyak peluang bagi SMAN 1. Sepuluh menit berjalan, anak-anak SMAN 2 yang dilatih Wisnu mulai bisa lepas dari tekanan. Bermain dengan semangat tinggi, Ibal cs berani melakukan permainan terbuka. Tapi sayangnya, lemahnya koordinasi lini belakang menjadi petaka bagi SMAN 2 , tepat di menit 29, striker SMAN 1, Bima lepas dari kawalan pemain belakang. Dia lolos dari jebakan offside dan sukses mencetak gol melalui tendangan melambung. Usai gol kedua, SMAN 2 berusaha mengejar ketertinggalan. Sayangnya hingga dibunyikan peluit tanda babak pertama usai, skor tetap bertahan 2-0 untuk keunggulan SMAN 1.

“Bal!”
          Ibal yang sedang sendirian di toilet berpaling ke arah si empunya suara.
          “Skor 2-0.” Kata Candra membuat wajah  Ibal yang tadinya kusut kini tersenyum tipis.
          “Tenang, di babak ke dua kita balas.” Kata Ibal sambil berjalan ke luar dari toilet.
          “Kamu kenapa bisa tenang gini, sih? Orang udah panik juga.” Kata Candra sewot.
          Ibal hanya tersenyum menanggapi kata-kata itu. Dirangkulnya Candra dan keluar dari toilet itu. Tapi, dipersimpangan jalan, langkah keduanya terhenti saat dilihatnya kapten musuh dan satu anggotanya juga melewati jalan yang sama.
          Tatapan meremehkan dari Taqin membuat senyum Ibal menghilang, Candra hanya diam saat Bima berkata lirih “Kita kok dilawan, nyerah aja dong.”
          “Lebih baik kalau kalian nyerah dari sekarang, nggak ada gunanya ngelawan.” Kata Taqin dengan nada meremehkan. Ibal hanya tersenyum tipis.
          “Pertandingan belum berakhir, jadi kalian belum menang. Nggak perlu nyuruh kami untuk nyerah, kami belum ngeluarin apa-apa tadi, kalau kalian menang dengan cara itu, kalian yang rugi, yuk Ndra.” Kata Ibal sebelum akhirnya berlalu meninggalkan kedua cowok yang memandang mereka dengan pandangan benci itu.

)( )( )( )(

Babak kedua dimulai, SMAN 2 melakukan perubahan strategi. Kini mereka  menguasai laga, pertahanan Ibal cs menjadi kuat dan kini kesalahan yang terlihat dari SMAN 1 adalah pemain belakangnya yang mulai lalai menjaga pertahanan, gelandang SMAN 2 Alfian sukses mencetak gol pertama bagi timnya. Dia dengan mudah meneruskan umpan Bondan yang menusuk dari sisi kanan pertahanan SMAN 1. Kini skor berubah 2-1, terlihat wajah Taqin yang mulai was-was. Gerak Ibal yang begitu cepat dan gesit kembali mencetak gol kedua untuk timnya, kali ini Taqin benar-benar takut. SMAN 1 mulai memperketat penjagaan, namun di detik terakhir, Ibal berhasil mencolong bola dari Taqin, dan dengan taktiknya mampu membawa mereka menjadi juara.
          “Gila! Kita menang!” kata Bondan dengan semangat saat mereka menuju parkiran dan siap untuk kembali ke sekolah.
          “Alhamdulillah.” Kali ini seruan ke lima teman yang selalu bersamanya membuatnya sedikit tersenyum malu.
          Langkah ke enam cowok itu terhenti saat Taqin mendatangi mereka.
            “Selamat ya, gue udah salah menilai kalian.” Kata Taqin sambil tersenyum simpul.
            “Ya ya ya,..” kata ke enam cowok itu sambil tersenyum senang.
            “Aku berharap kita bisa jumpa di permainan Nasional, suatu saat, kutunggu kamu disana.” Kata Ibal sambil berjabat tangan dengan Taqin, sedangkan yang lainnya hanya tersenyum senang.

Hikmah

Hikmah Menjelang Puasa
-Siang
*01/07/`12
Waktu berlalu begitu cepat, nggak terasa bulan puasa udah diambang pintu. Aku yakin, setiap orang yang beriman pasti senang dengan datangnya bulan suci itu, begitu juga denganku dan orang-orang disekitarku. Saat bulan yang begitu penuh berkah itu datang, kegiatanku setiap harinya pun berubah, yang dulunya setiap pagi berangkat kuliah, dan pulangnya sore, saat bulan puasa, aku bisa membantu orang tuaku membersihkan rumah, mencuci baju, dan hal lain sebagainya. Kegiatan taddarus pun kembali kuperbanyak Insya Allah, karena di bulan itu, adalah bulan yang begitu istimewa, dan hal yang paling berat adalah melawan hawa nafsu yang nggak henti-hentinya menghasut dan meracuni kita dengan hal-hal yang tidak baik, hal-hal yang mampu menjerumuskan kita ke dalam kesesatan. Na`uzubillahi mindzalik, semoga kita bisa mampu mengontrol hawa nafsu kita, amin.*
          “Kakak, ada tamu nyariin kakak, ni!” suara adiknya yang cempreng itu mengagetkan Zaira yang sedang asyik menulis di diarynya.
          “Siapa?” tanya cewek berkerudung biru itu sambil keluar dari kamarnya.
          “Katanya teman kakak, nggak tahu siapa.”
          Cewek berlesung pipi itu melangkah menuju ruang tamu. Dilihatnya teman-teman secampusnya duduk dengan rapi sambil tersenyum ke arahnya yang baru tiba.
          “Ngapain dirumah terus, kita mau liburan bareng ni, mau ikut? Ikut aja, yuk!” seru Sarah sambil menarik Zaira untuk duduk di dekatnya,
          “Kali ini loe harus ikut, loe nggak pernah gabung bareng kita, sekali ini aja kenapa, sih. Lagian kita liburannya ke villa Sarah kok di Bandung, trus, kita nggak ngajak pacar-pacar kita kok, jadi tenang aja dan sebelum puasa kita pulang, gimana, ikut ya…” kali ini giliran Cika yang membujuk Zaira, yang menurut mereka sosok Zaira adalah sosok yang begitu menjaga diri, Zaira tak pernah mau ikut jalan-jalan kalau mereka berbarengan dengan pacar-pacar mereka, makanya Cika memilih sedikit berbohong, padahal sebenarnya pacar-pacar mereka ikut berlibur bersama mereka.
          “Iya, Aira ikut.” Kata Zaira sambil tersenyum tipis, dengan sigab teman-temannya mulai dari Sarah, Cika, Rara, Kiki dan Hena langsung memeluknya.
          “Thanks ya sayang…” kata mereka kompak.
Malam dirumah Sarah
          “Ray, Zaira ikut, jadi loe mesti cepat sewa villa di seberang villa gue, kalau loe mau dapatin Zaira.” Kata Sarah semangat.
          “Iya, tapi, apa Zaira mau pacaran?” tanya cowok yang juga teman secampus Zaira itu ragu-ragu.
          “Tanang aja, itu bisa diolah.” Kata Cika meyakinkan Ray.
          “Ok kalau gitu, gue urus villa dulu , ya. Pamit.” Kata Ray sambil pemit dari rumah Sarah.
Paginya di rumah Zaira
          “Kak, kalau kakak pergi luburan, ntar bawa pulang oleh-oleh ya,” seru Gina_adik Zaira dengan senangnya.
          “Insya Allah, ya udah kakak jemput ummi dulu ya.”
          “Iya kak, hati-hati, ya.”
          Zaira melajukan mobilnya sedikit lebih cepat dari biasanya, karena ia diburu waktu untuk mengajar di TPA, namun penyakit lambungnya yang kumat membuat konsentrasinya hilang, dan tanpa melihat ke depan jalan, Zaira meraih sebotol minuman ringan yang terletak di jok disampingnya, tanpa disadari, mobil beralih arah ke jalan yang berlawanan darinya, Zaira menyadari hal itu namun terlambat untuk menghindari mobil yang melaju cepat dari arah berlawanan dengannya, mobil itu menghantam mobil Zaira dan membuat mobilnya terpelanting ke jurang di samping jalan.

         
           

the end.

Pastikan Ada Harapan


Satu
            “Ipan! Tunggu! Awas kalau loe lari lagi, gue bunuh beneran loe!”
            Teriakan itu melah membuat anak laki-laki gemuk yang bernama Ipan itu menjulurkan lidahnya sambil terus berlari membawa selembar kertas bertulisan
Xin kalau tidur itu ngorok lho!!
Kwkwkwkw
            Anak bernama Xin itu terus mengejar Ipan, hingga Ipan kembali lolos.
            “Awas aja kalau jumpa, gue kurusin loe!” teriak Xin di depan gedung tua yang hamper roboh di belakang rumah Ipan.
            Suasana pagi minggu di komplek De Ja Vu itu selalu ramai dengan anak-anak yang berkeliaran di setiap lorong komplek, tak terkecuali lorong D, lorong rumah Ipan, Xin, Hena, Kiki, Joy, dan si manis Shaura_anak yang begitu manis dari seluruh anak perempuan di seluruh komplek, sifatnya yang ramah, baik dan tidak pelit itu membuatnya disenangi banyak orang. Persahabatan antara ke enam anak-anak itu sudah sedari kecil, bertahan hingga mereka memasuki sekolah SD yang sama, namun saat kelas 4 SD, salah satu dari mereka yang tak lain adalah Ipan, harus pindah ke luar kota, karena tuntutan pekerjaan kedua orang tuanya. Mereka amat sedih, terutama Joy, karena Ipan baginya sudah seperti adiknya sendiri.
            “Ipan, jangan pernah lupain kita ya.” Kata Hena lembut sambil memeluk Ipan.
            “Iya, kamu harus terus ingat kita, kalau ntar kamu udah gedek, main-main kesini lagi ya.” Kali ini kata Shaura yang juga sambil memeluk Ipan.
            “Gue tetap sedih loe pergi, Pan. Nyampek sana jangan lupa hubungi kita-kita ya.” Kata Xin yang hanya tersenyum tipis, Ipan mulai menitikkan air mata, namun tak bersuara, sedari tadi ia hanya menganggukkan kepalanya.  
            Joy hanya memeluk Ipan tanpa kata. Keduanya menangis, yang lain pun ikut menangis.
            “Jaga diri baik-baik, ya.” Kata mereka serentak saat mobil keluarga Ipan mulai melaju.
            “Kenapa Ipan nggak ngomong apa-apa, ya?” tanya Kiki sambil geleng-geleng kepala.
            Mereka melambaikan tangan hingga mobil itu menghilang dari pandangan mereka. Mereka memegang erat barang pemberin Ipan. Barang yang amat disenanginya, gantungan kayu yang diukir berbentuk kamera, dan masing-masing bertulisan nama mereka.
            “Ipan, tadi mama lihat, kenapa kamu diam terus, nggak ada yang mau kamu sampain ke mereka?” tanya mama sambil mengelus rambut Ipan.
            Ipan hanya menggelengkan kepalanya.
            “Efek dari sedih yang mendalam, jadinya nggak bisa ngomong, tuh.” Kata Irul sambil tersenyum tipis.
            “Udah dong, Pan, ntar juga kita main-main ke komplek lagi kok.” Lanjut Irul sambil mengacak-ngacak rambut adik satu-satunya itu. Ipan hanya bisa tersenyum kecut.
            Perjalanan dari Semarang ke Jakarta membutuhkan waktu yang cukup lama. Ipan, Irul maupun mama dan juga papa tertidur lelap, sedangkan sang supir masih terjaga meski sebenarnya sudah mulai mengantuk. Dipersimpangan jalan, sang supir memilih ngebut agar cepat sampai ke tempat sebuah penginapan yang sudah tidak jauh dari tempatnya berada sekarang, namun kecepatannya itu tak mampu dihentikan saat seuah truk besar dari arah yang berlawanan melaju kearahnya. Dan mobil itu pun meluncur dengan mulusnya ke bawah jurang yang begitu dalam.

&&&&&
6 tahun kemudian..
            “Nggak ada yang perlu dikhawatirkan, ini nggak berbahaya kok.” Kata sang dokter sambil tersenyum tipis. Dan itu membuat Joy, Xin dan juga Shaura lega.
            Saat ke sekolah bareng Xin, Shaura, dan Joy keserempet motor yang melaju cukup cepat, tapi syukur Shaura tak apa-apa.
            “Syukur lah kalau gitu. Terima kasih dok.” Kata Joy mewakili yang lain.
            Mereka pun keluar dari rumah sakit.
            “Makanya, lain kali, kalau jalan itu mesti hati-hati, ya.” Kata Joy lembut sambil tersenyum tipis.
            “Iya.” Sahut Shaura sambil mengangguk pelan.
            “Ya udah, kita jalan dulu ya, Joy. Udah mau masuk, ni.” Kata Xin sambil memopong Shaura pelan.
            “Yupz, hati-hati ya.”
            Joy menatap mereka hingga mereka menghilang dari pandangannya.

&&&&&
            “Loe yakin mau masuk kelas, nggak pulang aja, istirahat di rumah?” tanya Xin saat mereka melewati koridor sekolah yang sepi karena proses belajar-mengajar sedang berlangsung di setiap kelas.
            Gadis berlesung pipi itu hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.
            Tok tok
            “Maaf pak, kami terlambat.” Kata Xin saat masuk kelas, dan menemukan wajah wali kelasnya yang seram sedang berada di kelasnya.
            “Kali ini, apa karena nenek kamu meninggal lagi?” tanya wali kelasnya ketus, namun menimbulkan sedikit keriuhan di dalam kelas karena sebagian mereka tertawa mendengar hal itu.
            “Nggak pak, tadi Shaura keserempet motor, jadi ke puskesmas dulu.” Kata Xin sedikit tersenyum.
            “Ya sudah, kalian boleh duduk.” Kata pak Dimas itu sambil geleng-geleng kepala.
            Ke duanya kembali ke tempat duduk mereka.

&&&&&


 to be continue
           

SECRET NOTE




satu
Dari kecil hingga sekarang, gue nggak pernah percaya siapa pun didunia ini, karena memang nggak ada yang bisa dipercaya. Mama_ saat gue berusia 5 tahun, beliau berkata tak akan pernah ninggalin gue sendiri, karena papa telah lebih dulu diambil Tuhan, gue percaya dengan kata-kata mama, namun, saat gue berusia 6 tahun, beliau pergi, ninggalin gue sendiri di terminal kereta api, gue nyari kemana-mana, nggak ketemu juga, gue pulang jalan kaki ke rumah, sanggat amat capek, dan gue mulai stres saat gue lihat papan yang tertera di pintu pagar rumah gue, saat itu gue udah bisa ngebaca, sedikit tentang IQ gue, kata mama, gue jenius, tapi gue nggak ngerasa, kembali ke cerita, gue baca tulisan yang tertera di depan pintu pagar gue _ DIJUAL_ dan saat gue terbangun, gue berada disebuah rumah yang bisa dibilang besar, karena posisi gue saat itu tertidur di atas sofa, dan ruangan itu sangat luas. Ternyata pemilik rumah itu memuin gue yang pingsan didepan rumah gue, karena kasihan, sang tante yang bernama tante Mira ngebawa gue kerumahnya. Dia minta gue cerita, kenapa gue bisa pingsan, gue cerita semuanya, dan beliau bilang, ‘mulai detik ini, kamu anakku’, gue yang bingung, nggak ngejawab. Selain tante yang baik hati dan cantik itu, dirumah ini juga ada paman yang tak kalah baiknya, om Saif, kata beliau ‘mulai saat ini, panggil kami mama dan papa,’ gue nggak hanya mengangguk, beliau ngemasuin gue ke sekolah yang sama dengan anaknya, Cristal, karena gue setahun lebih tua darinya, gue dikelas yang berbeda dengannya. Cristal sangat cantik dan baik hati, dia anak satu-satunya, dan dia bersyukur gue mau tinggal dirumahnya. Gue juga bersyukur bisa bergabung bersama keluarga yang sangat baik ini. Gue mulai menyayangi keluarga ini, namun gue belum bisa percaya.
Sepuluh tahun telah berlalu, Cristal tumbuh menjadi cewek yang begitu manis, cantik, baik, ramah, dan memiliki banyak talenta, namun yang paling dia senangi adalah bernyanyi. Kami selalu satu sekolah, hingga sekarang. Keahlian Cristal dan vocalnya yang tinggi dan indah, membuatnya menjadi seorang penyanyi. Jadwalnya yang begitu padat, membuat jarak antara kami. Gue mulai ngerasa kehilangan dia, saat banyak waktu yang gue lalui tanpanya, gue ngerasa dia udah nggak butuh gue, terlebih saat gue tahu, dia udah punya pacar, Dio, seorang musisi muda. Gue ikut senang saat dia pulang membawa senyuman. Meski tak jarang juga dia pulang ngebawa repetan, kesal dan air mata. Disaat-saat itu, dia mulai sering cerita ke gue apa aja yang dia alami, saat di kelas, luar kelas maupun saat ngedate, semuanya. Gue kembali ngerasa dibutuhkan.
Setahun kemudian, dia putus, karena sang pacar ketahuan selingkuh, gue marah, bahkan tu cowok gue pukulin, tapi karena dia ngelarang, gue berhenti, kalau nggak, gue mampusin tu cowok, meski resikonya besar, mukulin seorang musisi terkenal. Kembali ke Cristal, dia mulai punya kepribadian baru, diam dan nggak banyak bicara. Kebiasaan barunya itu ngebuat gue mati kata, gue ajak main, dia diam, gue jailin, dia juga diam, gue nggak tahu mesti ngapain. Dan sekarang, dia berhenti nyanyi. Gue pusing, gue khawatir dengan keadaannya yang seperti ini, terlebih gimana gue mesti ngomong ke mama-papa yang memang ngarap gue bisa jaga dia selama mereka bertugas ke Paris. Sekarang gue benar-benar kehabisan akal untuk buat Cristal kembali kayak dulu, namun, gue terus bujuk dia agar kembali bernyanyi, kasihan menegernya pusing nyari penggantinya, vocal suaranya yang unik membuatnya beda dari penyanyi yang lain, dan nggak ada yang bisa ngegantiin dia. Gue terus mencoba buat ngomong, hingga akhirnya dia mulai mau kembali bernyanyi, gue senang banget, akhirnya dia bisa kembali tersenyum setelah sekian lama diam dan kaku tanpa senyuman, gue senang banget, tapi itu juga menimbulkan sedikit stress di otak gue, karena tingkahnya mulai menggila, manja berlebihan, minta perhatian lebih, bahkan yang ngebuat kepala gue hampir pecah, karena dia bilang, ‘gue sayang sama loe, gue suka sama loe, gue cinta sama loe, bukan sebagai adik-kakak, tapi sebagai seorang cewek ke cowok, gue nggak mau kehilangan loe, gue butuh loe!’, mampus gue! Huuft!! Gue stress!! Bagi gue, dia adik gue, nggak lebih, gue sayang sama dia, gue juga cinta dia, tapi nggak lebih dari sebatas adik, oh Tuhan. Hari demi hari gue mulai menjauh, tak ada respon, hingga suatu hari gue nemuin dia tergeletak dengan darah yang bercucuran dari lengan tangannya, gue shok! Hari itu, dia nelpon gue dan ngomong kalau dia ngerasa gue jauhi dia, gue nggak pulang ke rumah beberapa hari, dia ngerasa sendiri, dan mulai bosan, gue kurang ngeh dengan kata-katanya itu karena gue sibuk dengan lukisan gue, dan hari itu tepatnya siang, gue pulang ke rumah, dan ngelihat keadaannya yang seperti itu, gue langsung ngebawa dia ke rumah sakit, dan syukur banget, gue nggak terlambat, nyawanya tertolong. Saat gue duduk di samping ranjangnya, gue mulai mikir, apa sebaiknya gue buka hati gue sebagai cowok, tapi, gue nggak bisa. Gue putusin untuk cerita ke mama, dan esoknya, mama langsung sampai ke Jakarta.
Mama mulai menasehati Cristal baik-baik, gue hanya bisa diam. Cristal menangis, dan itu tangisan yang nggak biasanya, dia nangis tanpa suara, kalau biasanya, dia nangisnya bersuara dan lumanyan keras, kali ini beda. Gue ngerasa kepala gue semakin sakit saat mama bilang, `Van, kamu bukan anak kandung mama, jadi, nggak ada salahnya kalau kamu jadi cowoknya Cristal, mama lebih tenang nyerahin dia seutuhnya ke kamu.` gue hanya bisa diam, mama, papa dan Cristal juga nggak bisa dipercaya, kata mama papa, gue anak mereka dan nggak ada yang akan merubah itu, tapi sekarang, mereka sendiri yang merubahnya. Gue nggak tahu mesti jawab apa. Mereka yang udah ngerawat gue, nyekolahin gue, perhatian sama gue, kasih sayang, dan masih banyak hal dan kebahagiaan yang udah mereka ukir di hati gue, gue nggak bisa nolak, meski sakit, gue terima.
Catatan ini gue tulis, karena gue nggak yakin bisa hidup lebih lama. Meski ujungnya ni catatan bakal gue bakar juga, huuuft! Yang jelas, gue puas, udah ngungkapin semuanya disini, meski sekarang gue hanya terkapar di rumah sakit, nggak lama lagi juga gue bakal nggak ada.
Hmm..
Buat yang nemuin buku catatan ini, mohon dijaga ya, karena ini satu-satunya peninggalan gue, gue minta tolong, kalau loe nggak mau jaga, simpan kembali ditempat dimana loe ambil ni buku, siapa pun loe, jaga pesan gue, thanks.
Mama, papa, Cristal, terima kasih banyak dan maaf…
                            
                                                                                      Evan Pardian