Belum terlalu lama Fajri meninggalkanku, ia kembali lagi ke hadapanku.
"Za, kalau ntar nyokap ngusir gua, gua tinggal di rumah loe ya, please...sekali ini aja, ya." katanya memelas.
"Iya. Udah, loe jujur aja dulu sama ngokab loe, urusan gimana reaksi nyokap loe ntar, itu urusan belakangan."
"Iya, bro. Udah, cepetan gih, sebelum ngokap loe pergi." kali ini Ammar menimpali perkataanku.
"Ok!"
Akhirnya, Fajri kembali berlari mengejar langkah mamanya yang baru saja meninggalkan gedung sekolah kami.
Ceritanya, mamanya Fajri di panggil ke sekolah, karena Fajri jarang masuk sekolah, padahal, dia selalu berangkat pagi-pagi sekali dari rumah menuju sekolah, namun, ternyata Fajri tidak ke sekolah, melainkan ke tempat rehabilitas untuk mengurus pacarnya.
Aku dan Ammar sudah berulang kali memperingatinya untuk fokus belajar dan membiarkan pacarnya di urus oleh pengurus di sana, dan dengan tegas juga Fajri mengatakan "Aku yang bertanggung jawab atas dirinya sepenuhnya.".
Wajar ia mengatakan seperti itu, karena Fajri lah yang memperkenalkan barang haram itu ke Nina, dan Nina mulai ketagihan hingga tak bisa hidup tanpa barang itu, lain halnya dengan Fajri, cowok gondrong itu juga memakainya, namun ia tak begitu parah, Fajri masih bisa hidup tanpa barang itu.
Kamis, 06 Desember 2012
Selasa, 04 Desember 2012
Rintihan
Hatiku
mulai menangis sendu, air mataku terus mengalir tanpa henti. Aku terduduk di
sisi pusara yang masih sangat basah itu. Aku masih menangis namun tak bersuara.
Ku sentuh pusara itu dengan lembut,
“Zhafran, mari kita pulang.” Tepukan
di bahuku membuatku terisak.
“Zhafran…” suara lembut dan halus
itu semakin membuatku tak mampu berhenti menangis.
Dan di sepersekian menit kemudian,
mereka meninggalkanku sendiri.
“Ma…” suaraku begitu berat dan
lirih, aku tak mampu mengeluarkan suara. Relung hatiku dipenuhi rasa bersalah dan
penyesalan yang luar biasa. Aku hanya mampu terisak sambil terus menatap pusara
itu.
Pusara di mana mamaku dimakamkan. Mamaku
yang mengasuhku sedari kecil itu kini tak lagi bernafas, tak lagi bersuara, tak
lagi bergerak. Mamaku yang sempat kumaki karena perbuatannya yang tak senonoh,
yang selalu pulang-pergi tengah malam, yang sempat kunasehati dengan kasar
karena terpancing oleh emosiku yang begitu memblundak karena pelanggarannya
terhadap agama dengan berduaan di dalam rumahku dengan lelaki asing.
Mamaku yang terima ku maki, ku
nasehati dengan kasar demi anaknya tidak khawatir akan penyakitnya yang begitu
parah, demi menyembunyikan penyakit penyebab kematiannya hari ini. Demi semua
itu, ia tak pernah marah padaku, ia tak pernah membenciku, ia tak pernah
memukuliku.
Lelaki asing yang sempat membuatku
marah besar itu ternyata dokter yang selama ini merawatnya, oh, betapa tak
perhatiannya aku, oh, betapa tak pedulinya aku, oh Tuhan. Aku kembali merintih
dia atas pusaranya.
Aku ingin agar waktu bisa berputar
kembali, kembali ke masa di mana aku begitu sibuk dengan pekerjaanku, begitu
sibuk dan tergila-gila dengan uang, hingga aku jarang bersamanya, jarang
memperhatikannya di masa-masanya menahan kesakitan akibat penyakit kanker otak
stadium 3 itu.
Oh Tuhan…
Bahkan aku tak ada disisinya saat ia
melepas nafas terakhirnya…
Betapa rakusnya aku akan kemewahan
dunia ini, hingga meninggalkan seseorang yang lebih berharga dari apapun di
dunia ini. Penyesalanku yang begitu besar pun takkan mampu mengembalikan
waktu-waktu itu.
“Mama…” suaraku semakin berat,
hingga tak ku dapati secercah cahaya pun di sisiku.
The end
Sky
lovers
Rabu, 28 November 2012
Suryaku Di sebalik Awan
Penerangku tak kunjung hadir
Tak terbeban akan tugasnya
Tak menyatu dengan alamku...
Suryaku...
Sedang apa kamu?
Dimanakah dirimu?
Apa yang harus kulakukan tanpamu?
Tak terbendung rasaku...
Inginku merasakan kehangatanmu...
Ingin ku kembali didalam cahayamu...
Namun...
Kau tak kunjung hadir...
Hari berganti hari...
Bulan berganti bulan...
Kau tetap tak hadir...
Tak menemaniku...
Tak menghangatkanku sekilas waktu pun...
Terpana akan waktu yang begitu lama...
Hingga detik-detik terakhir pun berdentang...
Saat itu...
Kudapati kau disebalik awan...
Tak terbeban akan tugasnya
Tak menyatu dengan alamku...
Suryaku...
Sedang apa kamu?
Dimanakah dirimu?
Apa yang harus kulakukan tanpamu?
Tak terbendung rasaku...
Inginku merasakan kehangatanmu...
Ingin ku kembali didalam cahayamu...
Namun...
Kau tak kunjung hadir...
Hari berganti hari...
Bulan berganti bulan...
Kau tetap tak hadir...
Tak menemaniku...
Tak menghangatkanku sekilas waktu pun...
Terpana akan waktu yang begitu lama...
Hingga detik-detik terakhir pun berdentang...
Saat itu...
Kudapati kau disebalik awan...
Ku terdiam tak mampu menyapa...
Tak mampu mengusik lingkaran yang mati...
Kini...
Ku mentapmu wahai cahayaku...
Namun...
Ku tak kuasa mendekatimu...
Oh suryaku yang bersahaja...
Oh suryaku yang damai...
Kau hanya terdiam di balik awan dengan cahayamu yang redup...
Ku hanya menatapmu dalam sendu...
_________________________________________________Sky lovers
Tak mampu mengusik lingkaran yang mati...
Kini...
Ku mentapmu wahai cahayaku...
Namun...
Ku tak kuasa mendekatimu...
Oh suryaku yang bersahaja...
Oh suryaku yang damai...
Kau hanya terdiam di balik awan dengan cahayamu yang redup...
Ku hanya menatapmu dalam sendu...
_________________________________________________Sky lovers
Senin, 26 November 2012
Suara langit yang menangisi bumi
Terbersit, inginku menjumpai sang langit, inginku menenangkan dirinya yang sedang gundah gulana memikirkan bumi yang telah begitu jauh darinya...
Memikirkan kabar tentang bumi yang mulai tak taat..
Inginku memberinya seulas senyuman...
Namun ku tak mampu . . .
Tak memiliki kuasa untuk menyapanya...
karena ku pun dalam kepiluan...
wahai sang langit yang mulai menangisi bumi...
janganlah kau tenggelam dalam keresahan . . .jagalah hatimu agar terus bertasbih,..
gemakan AsmaNya ...
semoga kesedihanmu hilang bersama angin...
Sandarkan dirimu sejenak...
Dan mulailah berfikir akan kebenaran kabar yang di bawa angin itu...
janganlah ada kecewa dalam kepercayaan yang maya..
Di sini, aku ikut mendoakanmu..
meski dalam kesakitan akan tingkahmu,..
Doaku tetap menyertaimu,..
Karena kau . . .
Sanubariku ikut menangis, melihatmu menangis...
Jiwaku merintih saat kau berteriak perih...
Aku membisu dalam kesungian malam...
menatapmu yang beradu dengan egomu...
wahai hati yang pernah singgah di jiwaku...
semoga Allah memberimu siecercah sinar...
Agar kau kembali . . .
Memikirkan kabar tentang bumi yang mulai tak taat..
Inginku memberinya seulas senyuman...
Namun ku tak mampu . . .
Tak memiliki kuasa untuk menyapanya...
karena ku pun dalam kepiluan...
wahai sang langit yang mulai menangisi bumi...
janganlah kau tenggelam dalam keresahan . . .jagalah hatimu agar terus bertasbih,..
gemakan AsmaNya ...
semoga kesedihanmu hilang bersama angin...
Sandarkan dirimu sejenak...
Dan mulailah berfikir akan kebenaran kabar yang di bawa angin itu...
janganlah ada kecewa dalam kepercayaan yang maya..
Di sini, aku ikut mendoakanmu..
meski dalam kesakitan akan tingkahmu,..
Doaku tetap menyertaimu,..
Karena kau . . .
Sanubariku ikut menangis, melihatmu menangis...
Jiwaku merintih saat kau berteriak perih...
Aku membisu dalam kesungian malam...
menatapmu yang beradu dengan egomu...
wahai hati yang pernah singgah di jiwaku...
semoga Allah memberimu siecercah sinar...
Agar kau kembali . . .
Jumat, 16 November 2012
Suryaku
Seindah mentari yang baru muncul
menyinari bumi, seindah itu pula mimpiku semalam. Aku tak ingin membuka mataku,
karena ku takut semua itu akan hilang begitu saja, dan ternyata benar, begitu
ku membuka mataku, semua itu menghilang begitu saja, keindahan itu hilang dalam
hitungan detik. Aku tak mampu untuk mengembalikannya seperti semula, semua
telah hilang dimakan waktu.
Untuk sepersekian menit, aku masih
terdiam, tak mampu bergerak. Ku tatapi sinar mentari yang memasuki ruang
kamarku. Begitu indah dan menawan. Mulai ku bangun dari rebahanku. Mulai
bersiap menghadapi hari-hariku yang selalu sama, bangun tidur, mandi, sarapan,
sekolah, belajar, les, kembali ke rumah, dan mengerjakan apa yang bisa
dikerjakan di rumah, hingga malam tiba dan kembali tidur, dan keesokannya,
kegiatanku masih sama, hingga hari ini.
Rabu, 17 Oktober 2012
Yakinlah, pasti bisa!
Salah satu stiker tim sepak bola SMAN
2 _ Ibal dan sahabatnya masih duduk di lapangan, meski lapangannya telah sepi.
“Bal, loe yakin kita bisa ngadapin mereka?” pertanyaan itu dilontarkan Candra
saat lampu gedung olah raga itu dipadamkan.
“Tahun lalu kita bisa, kenapa tahun ini nggak.” Kata Ibal sambil berdiri dan mulai berjalan keluar gedung, Candra mengikuti langkahnya.
“Kali ini lawan kita udah pernah ke nasional, Bal.”
“Terus?” tanggapan Ibal yang acuh itu membuat Candra menghadang langkahnya.
“Jangan ngeremehin lawan.” kata Candra dengan nada sedikit ditekan.
“Siapa yang ngeremehin? Berapa kali mesti kuingattin, jangan pernah takut sama
lawan.” Kata Ibal sambil memegang bahu Candra.
“Kamu selalu ngomong gitu, nah aku sampai sekarang tak tahu cara hilangin rasa
takutku ini.” Keluh Candra akhirnya muncul, dan Ibal hanya tersenyum tipis.
“Coba tinggiin rasa percaya dirimu, aku yakin kamu pasti bisa hilangin rasa
itu.” Kata Ibal sambil merangkul temannya itu. Candra hanya tersenyum
menanggapi kata-kata Ibal itu.
)( )( )( )(
Pertandingan yang dilaksanakan di Stadion Citarum,
Sejak menit awal, SMAN 1 mendominasi permainan. Serangan yang dibangun dari
lini belakang, lebih efektif dibanding permainan lawan, Taqin membuka
kemenangan timnya dengan mencetak gol di menit ketiga. Tendangan terarahnya tak
mampu dihalau kiper SMAN 2, Rico. Gol cepat itu sempat membuat mental anak-anak
SMAN 2 turun. Akibatnya, tekanan bertubi-tubi sempat melahirkan banyak peluang
bagi SMAN 1. Sepuluh menit berjalan, anak-anak SMAN 2 yang dilatih Wisnu mulai
bisa lepas dari tekanan. Bermain dengan semangat tinggi, Ibal cs berani
melakukan permainan terbuka. Tapi sayangnya, lemahnya koordinasi lini belakang
menjadi petaka bagi SMAN 2 , tepat di menit 29, striker SMAN 1, Bima lepas dari
kawalan pemain belakang. Dia lolos dari jebakan offside dan sukses mencetak gol
melalui tendangan melambung. Usai gol kedua, SMAN 2 berusaha mengejar
ketertinggalan. Sayangnya hingga dibunyikan peluit tanda babak pertama usai,
skor tetap bertahan 2-0 untuk keunggulan SMAN 1.
“Bal!”
Ibal yang sedang sendirian di toilet berpaling ke arah si empunya suara.
“Skor 2-0.” Kata Candra membuat wajah Ibal yang tadinya kusut kini
tersenyum tipis.
“Tenang, di babak ke dua kita balas.” Kata Ibal sambil berjalan ke luar dari
toilet.
“Kamu kenapa bisa tenang gini, sih? Orang udah panik juga.” Kata Candra sewot.
Ibal hanya tersenyum menanggapi kata-kata itu. Dirangkulnya Candra dan keluar dari toilet
itu. Tapi, dipersimpangan jalan,
langkah keduanya terhenti saat dilihatnya kapten musuh dan satu anggotanya juga melewati jalan yang sama.
Tatapan meremehkan dari Taqin membuat senyum Ibal menghilang, Candra hanya diam
saat Bima berkata lirih “Kita kok dilawan, nyerah aja dong.”
“Lebih baik kalau kalian nyerah dari sekarang, nggak ada gunanya ngelawan.”
Kata Taqin dengan nada meremehkan. Ibal hanya tersenyum tipis.
“Pertandingan belum berakhir, jadi kalian belum menang. Nggak perlu nyuruh kami
untuk nyerah, kami belum ngeluarin apa-apa tadi, kalau kalian menang dengan
cara itu, kalian yang rugi, yuk Ndra.” Kata Ibal sebelum akhirnya berlalu
meninggalkan kedua cowok yang memandang mereka dengan pandangan benci itu.
)( )( )( )(
Babak kedua dimulai, SMAN 2 melakukan
perubahan strategi. Kini mereka menguasai laga, pertahanan Ibal cs
menjadi kuat dan kini kesalahan yang terlihat dari SMAN 1 adalah pemain
belakangnya yang mulai lalai menjaga pertahanan, gelandang SMAN 2 Alfian sukses
mencetak gol pertama bagi timnya. Dia dengan mudah meneruskan umpan Bondan yang
menusuk dari sisi kanan pertahanan SMAN 1. Kini skor berubah 2-1, terlihat
wajah Taqin yang mulai was-was. Gerak Ibal yang begitu cepat dan gesit kembali
mencetak gol kedua untuk timnya, kali ini Taqin benar-benar takut. SMAN 1 mulai
memperketat penjagaan, namun di detik terakhir, Ibal berhasil mencolong bola
dari Taqin, dan dengan taktiknya mampu membawa mereka menjadi juara.
“Gila! Kita menang!” kata Bondan dengan semangat saat mereka menuju parkiran
dan siap untuk kembali ke sekolah.
“Alhamdulillah.” Kali ini seruan ke lima teman yang selalu bersamanya
membuatnya sedikit tersenyum malu.
Langkah ke enam cowok itu terhenti saat Taqin mendatangi mereka.
“Selamat ya, gue udah
salah menilai kalian.” Kata Taqin sambil tersenyum simpul.
“Ya ya ya,..” kata ke enam
cowok itu sambil tersenyum senang.
“Aku berharap kita bisa
jumpa di permainan Nasional, suatu saat, kutunggu kamu disana.” Kata Ibal
sambil berjabat tangan dengan Taqin, sedangkan yang lainnya hanya tersenyum
senang.
Hikmah
Hikmah
Menjelang Puasa
-Siang
*01/07/`12
Waktu
berlalu begitu cepat, nggak terasa bulan puasa udah diambang pintu. Aku yakin,
setiap orang yang beriman pasti senang dengan datangnya bulan suci itu, begitu
juga denganku dan orang-orang disekitarku. Saat bulan yang begitu penuh berkah
itu datang, kegiatanku setiap harinya pun berubah, yang dulunya setiap pagi
berangkat kuliah, dan pulangnya sore, saat bulan puasa, aku bisa membantu orang
tuaku membersihkan rumah, mencuci baju, dan hal lain sebagainya. Kegiatan
taddarus pun kembali kuperbanyak Insya Allah, karena di bulan itu, adalah bulan
yang begitu istimewa, dan hal yang paling berat adalah melawan hawa nafsu yang
nggak henti-hentinya menghasut dan meracuni kita dengan hal-hal yang tidak
baik, hal-hal yang mampu menjerumuskan kita ke dalam kesesatan. Na`uzubillahi
mindzalik, semoga kita bisa mampu mengontrol hawa nafsu kita, amin.*
“Kakak, ada tamu nyariin kakak, ni!”
suara adiknya yang cempreng itu mengagetkan Zaira yang sedang asyik menulis di
diarynya.
“Siapa?” tanya cewek berkerudung biru
itu sambil keluar dari kamarnya.
“Katanya teman kakak, nggak tahu
siapa.”
Cewek berlesung pipi itu melangkah
menuju ruang tamu. Dilihatnya teman-teman secampusnya duduk dengan rapi sambil
tersenyum ke arahnya yang baru tiba.
“Ngapain dirumah terus, kita mau
liburan bareng ni, mau ikut? Ikut aja, yuk!” seru Sarah sambil menarik Zaira
untuk duduk di dekatnya,
“Kali ini loe harus ikut, loe nggak
pernah gabung bareng kita, sekali ini aja kenapa, sih. Lagian kita liburannya
ke villa Sarah kok di Bandung, trus, kita nggak ngajak pacar-pacar kita kok,
jadi tenang aja dan sebelum puasa kita pulang, gimana, ikut ya…” kali ini
giliran Cika yang membujuk Zaira, yang menurut mereka sosok Zaira adalah sosok
yang begitu menjaga diri, Zaira tak pernah mau ikut jalan-jalan kalau mereka
berbarengan dengan pacar-pacar mereka, makanya Cika memilih sedikit berbohong,
padahal sebenarnya pacar-pacar mereka ikut berlibur bersama mereka.
“Iya, Aira ikut.” Kata Zaira sambil
tersenyum tipis, dengan sigab teman-temannya mulai dari Sarah, Cika, Rara, Kiki
dan Hena langsung memeluknya.
“Thanks ya sayang…” kata mereka
kompak.
Malam
dirumah Sarah
“Ray, Zaira ikut, jadi loe mesti cepat
sewa villa di seberang villa gue, kalau loe mau dapatin Zaira.” Kata Sarah
semangat.
“Iya, tapi, apa Zaira mau pacaran?”
tanya cowok yang juga teman secampus Zaira itu ragu-ragu.
“Tanang aja, itu bisa diolah.” Kata
Cika meyakinkan Ray.
“Ok kalau gitu, gue urus villa dulu ,
ya. Pamit.” Kata Ray sambil pemit dari rumah Sarah.
Paginya
di rumah Zaira
“Kak, kalau kakak pergi luburan, ntar
bawa pulang oleh-oleh ya,” seru Gina_adik Zaira dengan senangnya.
“Insya Allah, ya udah kakak jemput
ummi dulu ya.”
“Iya kak, hati-hati, ya.”
Zaira melajukan mobilnya sedikit lebih
cepat dari biasanya, karena ia diburu waktu untuk mengajar di TPA, namun
penyakit lambungnya yang kumat membuat konsentrasinya hilang, dan tanpa melihat
ke depan jalan, Zaira meraih sebotol minuman ringan yang terletak di jok
disampingnya, tanpa disadari, mobil beralih arah ke jalan yang berlawanan
darinya, Zaira menyadari hal itu namun terlambat untuk menghindari mobil yang
melaju cepat dari arah berlawanan dengannya, mobil itu menghantam mobil Zaira
dan membuat mobilnya terpelanting ke jurang di samping jalan.
Pastikan Ada Harapan
Satu
“Ipan! Tunggu! Awas
kalau loe lari lagi, gue bunuh beneran loe!”
Teriakan itu melah
membuat anak laki-laki gemuk yang bernama Ipan itu menjulurkan lidahnya sambil
terus berlari membawa selembar kertas bertulisan
Xin kalau tidur itu ngorok lho!!
Kwkwkwkw
Anak bernama Xin itu
terus mengejar Ipan, hingga Ipan kembali lolos.
“Awas aja kalau jumpa,
gue kurusin loe!” teriak Xin di depan gedung tua yang hamper roboh di belakang
rumah Ipan.
Suasana pagi minggu di
komplek De Ja Vu itu selalu ramai dengan anak-anak yang berkeliaran di setiap
lorong komplek, tak terkecuali lorong D, lorong rumah Ipan, Xin, Hena, Kiki,
Joy, dan si manis Shaura_anak yang begitu manis dari seluruh anak perempuan di
seluruh komplek, sifatnya yang ramah, baik dan tidak pelit itu membuatnya
disenangi banyak orang. Persahabatan antara ke enam anak-anak itu sudah sedari
kecil, bertahan hingga mereka memasuki sekolah SD yang sama, namun saat kelas 4
SD, salah satu dari mereka yang tak lain adalah Ipan, harus pindah ke luar
kota, karena tuntutan pekerjaan kedua orang tuanya. Mereka amat sedih, terutama
Joy, karena Ipan baginya sudah seperti adiknya sendiri.
“Ipan, jangan pernah
lupain kita ya.” Kata Hena lembut sambil memeluk Ipan.
“Iya, kamu harus terus
ingat kita, kalau ntar kamu udah gedek, main-main kesini lagi ya.” Kali ini
kata Shaura yang juga sambil memeluk Ipan.
“Gue tetap sedih loe
pergi, Pan. Nyampek sana jangan lupa hubungi kita-kita ya.” Kata Xin yang hanya
tersenyum tipis, Ipan mulai menitikkan air mata, namun tak bersuara, sedari
tadi ia hanya menganggukkan kepalanya.
Joy hanya memeluk Ipan
tanpa kata. Keduanya menangis, yang lain pun ikut menangis.
“Jaga diri baik-baik,
ya.” Kata mereka serentak saat mobil keluarga Ipan mulai melaju.
“Kenapa Ipan nggak
ngomong apa-apa, ya?” tanya Kiki sambil geleng-geleng kepala.
Mereka melambaikan
tangan hingga mobil itu menghilang dari pandangan mereka. Mereka memegang erat
barang pemberin Ipan. Barang yang amat disenanginya, gantungan kayu yang diukir
berbentuk kamera, dan masing-masing bertulisan nama mereka.
“Ipan, tadi mama
lihat, kenapa kamu diam terus, nggak ada yang mau kamu sampain ke mereka?”
tanya mama sambil mengelus rambut Ipan.
Ipan hanya
menggelengkan kepalanya.
“Efek dari sedih yang
mendalam, jadinya nggak bisa ngomong, tuh.” Kata Irul sambil tersenyum tipis.
“Udah dong, Pan, ntar
juga kita main-main ke komplek lagi kok.” Lanjut Irul sambil mengacak-ngacak
rambut adik satu-satunya itu. Ipan hanya bisa tersenyum kecut.
Perjalanan dari
Semarang ke Jakarta membutuhkan waktu yang cukup lama. Ipan, Irul maupun mama
dan juga papa tertidur lelap, sedangkan sang supir masih terjaga meski
sebenarnya sudah mulai mengantuk. Dipersimpangan jalan, sang supir memilih
ngebut agar cepat sampai ke tempat sebuah penginapan yang sudah tidak jauh dari
tempatnya berada sekarang, namun kecepatannya itu tak mampu dihentikan saat
seuah truk besar dari arah yang berlawanan melaju kearahnya. Dan mobil itu pun
meluncur dengan mulusnya ke bawah jurang yang begitu dalam.
&&&&&
6 tahun kemudian..
“Nggak ada yang perlu
dikhawatirkan, ini nggak berbahaya kok.” Kata sang dokter sambil tersenyum
tipis. Dan itu membuat Joy, Xin dan juga Shaura lega.
Saat ke sekolah bareng
Xin, Shaura, dan Joy keserempet motor yang melaju cukup cepat, tapi syukur
Shaura tak apa-apa.
“Syukur lah kalau
gitu. Terima kasih dok.” Kata Joy mewakili yang lain.
Mereka pun keluar dari
rumah sakit.
“Makanya, lain kali,
kalau jalan itu mesti hati-hati, ya.” Kata Joy lembut sambil tersenyum tipis.
“Iya.” Sahut Shaura sambil
mengangguk pelan.
“Ya udah, kita jalan
dulu ya, Joy. Udah mau masuk, ni.” Kata Xin sambil memopong Shaura pelan.
“Yupz, hati-hati ya.”
Joy menatap mereka
hingga mereka menghilang dari pandangannya.
&&&&&
“Loe yakin mau masuk
kelas, nggak pulang aja, istirahat di rumah?” tanya Xin saat mereka melewati
koridor sekolah yang sepi karena proses belajar-mengajar sedang berlangsung di
setiap kelas.
Gadis berlesung pipi
itu hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.
Tok tok
“Maaf pak, kami terlambat.”
Kata Xin saat masuk kelas, dan menemukan wajah wali kelasnya yang seram sedang
berada di kelasnya.
“Kali ini, apa karena
nenek kamu meninggal lagi?” tanya wali kelasnya ketus, namun menimbulkan
sedikit keriuhan di dalam kelas karena sebagian mereka tertawa mendengar hal
itu.
“Nggak pak, tadi
Shaura keserempet motor, jadi ke puskesmas dulu.” Kata Xin sedikit tersenyum.
“Ya sudah, kalian
boleh duduk.” Kata pak Dimas itu sambil geleng-geleng kepala.
Ke duanya kembali ke
tempat duduk mereka.
&&&&&
to be continue
Langganan:
Postingan (Atom)