
Ketika
kau hadir dalam hidupku, mengganggu pikiranku, dan merusak fokusku, aku tak
keberatan. Saat kau hadir mengacaukan semua pekerjaanku, membuatku tak mampu
berkutik, aku tak marah. Namun, saat kau hadir menghancurkan semua mimpiku,
membuatku tersakiti begitu dalam, hingga untuk berdiripun aku tak mampu. Kau
hadir dengan sejuta alasan agar kita putus. Aku tak menyangka, hanya sebatas
itu kau menyayangiku, hanya sebesar itu cintamu padaku?? Begitu mudahnya kau
menghancurkan semua yang telah terbina. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat,
dan begitu banyak kenangan yang telah tebingkai indah dalam memori. Tak ku
sangka, kau mampu mengucapkan kata pisah hanya karena alasan, kau sedang ingin
sendiri, aku tak percaya.
Satu
jam yang lalu
“Maaf, Lan. Aku udah nggak bisa
ngelanjutin hubungan ini. Aku sedang ingin sendiri.”
Ucapan itu mengalun begitu lembut
dari bibirnya. Tak ada keraguan di sana. Kata-kata itu begitu tegas, namun, tak
bermakna. Dan sebutan nama itu telah berganti, dari sebutan kakak menjadi Lan
akhir dari namaku_ Alan, aku sempat tersentak, namun semua masih bisa ku hadapi
dengan tenang.
“Ya udah, untuk saat ini, kamu
sendiri aja dulu, kakak janji, nggak bakalan ngeganggu kamu dulu.”
“Alan, ku mohon. Aku benar-benar
ingin sendiri, dan focus pada kuliahku, aku belum berfikir untuk serius
menikah, jadi, aku harap kamu mengerti. Aku masih ada impian dan harapan yang
masih belum tercapai, jadi, hubungan ini, kita cukupkan sampai di sini saja,
ya. Maaf.”
Tanpa menghiraukanku, ia pergi
begitu saja setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya. Meninggalkanku yang
masih terdiam membisu. Aku masih menatap kepergiannya hingga ia hilang di balik
dinding kampusnya.
Aku hanya tersenyum sambil melangkah
pergi meninggalkan kampusnya. Aku memutar balik mobilku, dan melajukannya
dengan kecepatan tinggi. Aku tak peduli, apa yang akan terjadi selanjutnya,
yang jelas sekarang yang ku inginkan adalah mengadu padaNya. Aku tak butuh
siapa-siapa sekarang, yang ku butuhkan hanya lah ketenangan.
Ketika
kau hadir dalam hidupku, mengganggu pikiranku, dan merusak fokusku, aku tak
keberatan. Saat kau hadir mengacaukan semua pekerjaanku, membuatku tak mampu
berkutik, aku tak marah. Namun, saat kau hadir menghancurkan semua mimpiku,
membuatku tersakiti begitu dalam, hingga untuk berdiripun aku tak mampu. Kau
hadir dengan sejuta alasan agar kita putus. Aku tak menyangka, hanya sebatas
itu kau menyayangiku, hanya sebesar itu cintamu padaku?? Begitu mudahnya kau
menghancurkan semua yang telah terbina. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat,
dan begitu banyak kenangan yang telah tebingkai indah dalam memori. Tak ku
sangka, kau mampu mengucapkan kata pisah hanya karena alasan, kau sedang ingin
sendiri, aku tak percaya.
Sepersekian menit kemudian, mobilku
masuk jurang, aku tak tau bagaimana jelas kejadiannya, karena begitu cepatnya
mobil yang ku kemudikan, aku tak tau, mengapa ini bisa terjadi, yang pasti
sekarang aku begitu kesakitan hingga tak mampu bernafas, hanya suara
segerombolan orang-orang yang terdengar di telingaku. Begitu dekat dan keras,
namun perlahan suara itu memudar, hingga aku tak mampu mendengar apa pun.
Hening
Sepi
Hitam
Seminggu
kemudian
“Alan…”
Suara
itu terdengar lirih. Itu suara mama, perlahan ku mampu membuka mataku,
samar-samar terlihat orang-orang di sekelilingku. Semakin jelas ku melihat,
mereka keluargaku, mama, papa, dik Arini dan perempuan yang menyakitiku, Aira.
“Sayang, kamu ingat mama, ini papa,
dik Arin dan Aira, ingat nggak sayang?”
Aku tak tahu apa penjelasan dokter
tentangku hingga mama menanyakanku tentang mereka. Namun, ku fikir, ini ada
bagusnya juga, jadi aku bisa pura-pura lupa ingatan tentang Aira.
“Kak…” suaranya masih seindah dulu,
namun, itu takkan membuatku merubah keputusanku.
“Siapa?”
Wajahnya
sedikit berubah saat aku bertanya siapa dirinya. Mungkin aku bisa dibilang
cowok paling tega, karena jujur, mata Aira masih berkaca-kaca saat ia menegurku
tadi, dan aku sama sekali tak menyangka, air matanya jatuh.
“Maaf, tapi, aku benar-benar nggak
tau.” Aku jadi nggak tega. Aku masih sangat menyayanginya, meski kata-kata yang
diucapkan hari itu begitu menyakitiku.
“Ma,
berapa lama Alan tak sadarkan diri? Kenapa Alan bisa di sini?” ku alihkan
pandanganku ke mama yang hanya tersenyum.
“Seminggu sayang. Mobilmu jatuh ke
jurang sepulang ngantar Aira ke kampusnya.” Jawab mama sambil mengelus
rambutku.
“Aira…” suaraku lirih, kembali ku
tatap wajah itu. Matanya sembab, dia hanya menunduk.
“Dokter bilang, kamu hanya butuh
istirahat penuh, karena kepalamu masih harus di ronsen, tak ada kemungkinan
kamu lupa ingatan, Lan, jadi kamu masih baik-baik saja, hanya butuh istirahat
penuh. Kamu, sih, kalau mengemudi itu, pasang sabuk pengaman, jadi kamu pun
aman, ini, karena kecerobohanmu, kamu terlempar keluar mobil, hingga kepalamu
membentur batu besar, syukur kamu selamat dan taka pa-apa.”
Penjelasan
panjang papa itu membuatku membisu. Jadi, percuma aku pura-pura tak ingat Aira
dong! Arrrgh! Kenapa jadi begini, sih.
“Udah
papa. Sayang, papa, mama dan dik Arin
keluar sebentar ya, sayang. Sepertinya, kalian harus bicara berdua. “
Mereka keluar dari ruanganku di
rawat. Perlahan Aira mendekatiku. Ia duduk di sisi ranjang tempat ku berbaring.
Aku benar-benar membeku, tak tahu harus bagaimana. Ketahuan bohong itu sama
sekali tak enak.
“Aku tau kakak cuma pura-pura nggak
kenal aku, kak. Tapi, kalau memang itu yang kakak mau, aku terima. Aku pantas
dapatin perlakuan seperti itu, bahkan lebih, mungkin. Kak, aku benar-benar
menyesal dan ingin meminta maaf dari kakak. Aku udah nggak tau harus ngapain.”
Ia berhenti sejenak sambil menyeka
air matanya yang mulai mengalir. Air mata itu adalah kelemahanku, Ra, dan kamu
tau itu.
“Aku mulai menyukai orang lain, kak.
Aku mulai menyayanginya sebulan yang lalu, namun, aku tak berani bicara sama
kakak, aku takut kakak marah dan kecewa padaku. Aku sayang kakak, tapi aku tak
bisa membalas cinta kakak yang begitu dalam untukku. Aku minta maaf kak.”
Aku hanya mampu diam. Tak ada yang
perlu ku katakana. Aira…
“Tapi, saat kakak masuk rumah sakit,
aku baru sadar, ternyata orang yang paling kubutuhkan adalah kakak, aku baru
menyadari, kalau kakak adalah orang yang paling penting bagiku. Aku nggak mau
yang lain, aku hanya ingin kakak sembuh dan kembali ada untukku.”
Kali ini aku hanya bisa tersenyum.
Wajahnya memerah dan ia kembali menunduk. Isaknya masih terdengar.
Hening…
Tak ada lanjutan dari kata-katanya.
Tangannya memainkan ujung kiri selimutku. Perlahan ku raih jemarinya, dan
dengan otomatis, ia langsung menatapku. Hatiku begitu sakit saat melihatnya
seperti ini.
“Aira sayang kakak, Aira nggak mau
kehilangan kakak.” Katanya lirih sambil mengenggam tanganku yang lebih dulu
menyentuhnya. Kata-kata manjanya mulai keluar.
“Kakak benci kamu.” Kataku sambil
tersenyum kecut.
Wajahnya langsung cemberut.
“Nggak mungkin dong, kakak juga
sayang kamu, Ra.” Lanjutku diiringi tawa ringan yang mampu membuat hatiku
sedikit nyeri.
“Aish! Kakak!” ujarnya kesal sambil memukul lenganku ringan.
“Outch! Sakit tau.”
“Oups! Sorry.” Katanya yang langsung
mengelus lembut lenganku.
“Will you merry me?”
Aira yang pemalu hanya mengangguk
pelan, wajahnya memerah. Aku hanya bisa mengelus kepalanya pelan.
Kami hanya saling diam dalam tatapan
sayang dan senyuman kebahagian. Rasa sakitku kalah dengan rasa senangku yang
tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Terima kasih Aira, kau telah
sempurnakan cintaku. Terima kasih Tuhan, atas semua pemberianMu, terutama atas
bidadari yang satu ini.
THE
END
Skylover
Tidak ada komentar:
Posting Komentar