Kamis, 21 November 2013

Pesona Cinta



Pesona Cinta

Ketika kau hadir dalam hidupku, mengganggu pikiranku, dan merusak fokusku, aku tak keberatan. Saat kau hadir mengacaukan semua pekerjaanku, membuatku tak mampu berkutik, aku tak marah. Namun, saat kau hadir menghancurkan semua mimpiku, membuatku tersakiti begitu dalam, hingga untuk berdiripun aku tak mampu. Kau hadir dengan sejuta alasan agar kita putus. Aku tak menyangka, hanya sebatas itu kau menyayangiku, hanya sebesar itu cintamu padaku?? Begitu mudahnya kau menghancurkan semua yang telah terbina. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, dan begitu banyak kenangan yang telah tebingkai indah dalam memori. Tak ku sangka, kau mampu mengucapkan kata pisah hanya karena alasan, kau sedang ingin sendiri, aku tak percaya.
Satu jam yang lalu
            “Maaf, Lan. Aku udah nggak bisa ngelanjutin hubungan ini. Aku sedang ingin sendiri.”
            Ucapan itu mengalun begitu lembut dari bibirnya. Tak ada keraguan di sana. Kata-kata itu begitu tegas, namun, tak bermakna. Dan sebutan nama itu telah berganti, dari sebutan kakak menjadi Lan akhir dari namaku_ Alan, aku sempat tersentak, namun semua masih bisa ku hadapi dengan tenang.
            “Ya udah, untuk saat ini, kamu sendiri aja dulu, kakak janji, nggak bakalan ngeganggu kamu dulu.”
            “Alan, ku mohon. Aku benar-benar ingin sendiri, dan focus pada kuliahku, aku belum berfikir untuk serius menikah, jadi, aku harap kamu mengerti. Aku masih ada impian dan harapan yang masih belum tercapai, jadi, hubungan ini, kita cukupkan sampai di sini saja, ya. Maaf.”
            Tanpa menghiraukanku, ia pergi begitu saja setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya. Meninggalkanku yang masih terdiam membisu. Aku masih menatap kepergiannya hingga ia hilang di balik dinding kampusnya.
            Aku hanya tersenyum sambil melangkah pergi meninggalkan kampusnya. Aku memutar balik mobilku, dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Aku tak peduli, apa yang akan terjadi selanjutnya, yang jelas sekarang yang ku inginkan adalah mengadu padaNya. Aku tak butuh siapa-siapa sekarang, yang ku butuhkan hanya lah ketenangan.
Ketika kau hadir dalam hidupku, mengganggu pikiranku, dan merusak fokusku, aku tak keberatan. Saat kau hadir mengacaukan semua pekerjaanku, membuatku tak mampu berkutik, aku tak marah. Namun, saat kau hadir menghancurkan semua mimpiku, membuatku tersakiti begitu dalam, hingga untuk berdiripun aku tak mampu. Kau hadir dengan sejuta alasan agar kita putus. Aku tak menyangka, hanya sebatas itu kau menyayangiku, hanya sebesar itu cintamu padaku?? Begitu mudahnya kau menghancurkan semua yang telah terbina. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, dan begitu banyak kenangan yang telah tebingkai indah dalam memori. Tak ku sangka, kau mampu mengucapkan kata pisah hanya karena alasan, kau sedang ingin sendiri, aku tak percaya.
            Sepersekian menit kemudian, mobilku masuk jurang, aku tak tau bagaimana jelas kejadiannya, karena begitu cepatnya mobil yang ku kemudikan, aku tak tau, mengapa ini bisa terjadi, yang pasti sekarang aku begitu kesakitan hingga tak mampu bernafas, hanya suara segerombolan orang-orang yang terdengar di telingaku. Begitu dekat dan keras, namun perlahan suara itu memudar, hingga aku tak mampu mendengar apa pun.
Hening
Sepi
Hitam

Seminggu kemudian
“Alan…”
Suara itu terdengar lirih. Itu suara mama, perlahan ku mampu membuka mataku, samar-samar terlihat orang-orang di sekelilingku. Semakin jelas ku melihat, mereka keluargaku, mama, papa, dik Arini dan perempuan yang menyakitiku, Aira.
            “Sayang, kamu ingat mama, ini papa, dik Arin dan Aira, ingat nggak sayang?”
            Aku tak tahu apa penjelasan dokter tentangku hingga mama menanyakanku tentang mereka. Namun, ku fikir, ini ada bagusnya juga, jadi aku bisa pura-pura lupa ingatan tentang Aira.
            “Kak…” suaranya masih seindah dulu, namun, itu takkan membuatku merubah keputusanku.
            “Siapa?”
Wajahnya sedikit berubah saat aku bertanya siapa dirinya. Mungkin aku bisa dibilang cowok paling tega, karena jujur, mata Aira masih berkaca-kaca saat ia menegurku tadi, dan aku sama sekali tak menyangka, air matanya jatuh.
            “Maaf, tapi, aku benar-benar nggak tau.” Aku jadi nggak tega. Aku masih sangat menyayanginya, meski kata-kata yang diucapkan hari itu begitu menyakitiku.
            “Ma, berapa lama Alan tak sadarkan diri? Kenapa Alan bisa di sini?” ku alihkan pandanganku ke mama yang hanya tersenyum.
            “Seminggu sayang. Mobilmu jatuh ke jurang sepulang ngantar Aira ke kampusnya.” Jawab mama sambil mengelus rambutku.
            “Aira…” suaraku lirih, kembali ku tatap wajah itu. Matanya sembab, dia hanya menunduk.
            “Dokter bilang, kamu hanya butuh istirahat penuh, karena kepalamu masih harus di ronsen, tak ada kemungkinan kamu lupa ingatan, Lan, jadi kamu masih baik-baik saja, hanya butuh istirahat penuh. Kamu, sih, kalau mengemudi itu, pasang sabuk pengaman, jadi kamu pun aman, ini, karena kecerobohanmu, kamu terlempar keluar mobil, hingga kepalamu membentur batu besar, syukur kamu selamat dan taka pa-apa.”
Penjelasan panjang papa itu membuatku membisu. Jadi, percuma aku pura-pura tak ingat Aira dong! Arrrgh! Kenapa jadi begini, sih.
“Udah papa. Sayang, papa, mama dan dik Arin  keluar sebentar ya, sayang. Sepertinya, kalian harus bicara berdua. “
            Mereka keluar dari ruanganku di rawat. Perlahan Aira mendekatiku. Ia duduk di sisi ranjang tempat ku berbaring. Aku benar-benar membeku, tak tahu harus bagaimana. Ketahuan bohong itu sama sekali tak enak.
            “Aku tau kakak cuma pura-pura nggak kenal aku, kak. Tapi, kalau memang itu yang kakak mau, aku terima. Aku pantas dapatin perlakuan seperti itu, bahkan lebih, mungkin. Kak, aku benar-benar menyesal dan ingin meminta maaf dari kakak. Aku udah nggak tau harus ngapain.”
            Ia berhenti sejenak sambil menyeka air matanya yang mulai mengalir. Air mata itu adalah kelemahanku, Ra, dan kamu tau itu.
            “Aku mulai menyukai orang lain, kak. Aku mulai menyayanginya sebulan yang lalu, namun, aku tak berani bicara sama kakak, aku takut kakak marah dan kecewa padaku. Aku sayang kakak, tapi aku tak bisa membalas cinta kakak yang begitu dalam untukku. Aku minta maaf kak.”
            Aku hanya mampu diam. Tak ada yang perlu ku katakana. Aira…
            “Tapi, saat kakak masuk rumah sakit, aku baru sadar, ternyata orang yang paling kubutuhkan adalah kakak, aku baru menyadari, kalau kakak adalah orang yang paling penting bagiku. Aku nggak mau yang lain, aku hanya ingin kakak sembuh dan kembali ada untukku.”
            Kali ini aku hanya bisa tersenyum. Wajahnya memerah dan ia kembali menunduk. Isaknya masih terdengar.
            Hening…
            Tak ada lanjutan dari kata-katanya. Tangannya memainkan ujung kiri selimutku. Perlahan ku raih jemarinya, dan dengan otomatis, ia langsung menatapku. Hatiku begitu sakit saat melihatnya seperti ini.
            “Aira sayang kakak, Aira nggak mau kehilangan kakak.” Katanya lirih sambil mengenggam tanganku yang lebih dulu menyentuhnya. Kata-kata manjanya mulai keluar.
            “Kakak benci kamu.” Kataku sambil tersenyum kecut.
            Wajahnya langsung cemberut.
            “Nggak mungkin dong, kakak juga sayang kamu, Ra.” Lanjutku diiringi tawa ringan yang mampu membuat hatiku sedikit nyeri.
            “Aish! Kakak!”  ujarnya kesal sambil memukul lenganku ringan.
            “Outch! Sakit tau.”
            “Oups! Sorry.” Katanya yang langsung mengelus lembut lenganku.
            “Will you merry me?”
            Aira yang pemalu hanya mengangguk pelan, wajahnya memerah. Aku hanya bisa mengelus kepalanya pelan.
            Kami hanya saling diam dalam tatapan sayang dan senyuman kebahagian. Rasa sakitku kalah dengan rasa senangku yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Terima kasih Aira, kau telah sempurnakan cintaku. Terima kasih Tuhan, atas semua pemberianMu, terutama atas bidadari yang satu ini.


THE END

Skylover

Tidak ada komentar:

Posting Komentar