Satu
Tak ada yang medengar teriakanku. Jelas saja, karena ini tengah
malam, suasana gelap karena listrik padam, dan jalanan begitu sunyi. Aku masih
bersembunyi di balik lemari, saat suara kaki bersepatu bot itu mendekati lemari
ini. Kubungkam mulutku untuk menahan tangis yang ingin keluar, terus berdoa
agar lelaki itu tak menemukanku. Namun, sepertinya doaku belum dikabulakan,
karena sekarang, lelaki yang kukenal sebagai ayahku itu menatapku dengan
seringainya yang menjijikkan. Aku mentapnya tajam.
“Kemarilah sayang, kenapa kau ketakutan seperti itu pada ayahmu
ini, hah?!”
Suaranya membuatku membeku, ia mulai mendekat, dan menyentuh
kulitku dengan tangannya yang masih berlumuran darah ibu, sedangkan tangan
satunya lagi masih memegang pisau tajam yang merenggut nyawa ibu.
“Kenapa kau diam saja manis, apakah kau ingin disini terus seumur
hidupmu? Atau kau ingin menyusul ibu keparatmu itu, hah?! Jawab aku, cantik!!”
Ia menarikku keluar dari sudut lemari, dan menghempaskanku di
lantai yang penuh pecahan botol minuman keras miliknya. Aku meringis kesakitan,
namun tetap diam dan mulai waspada. Kuraih pecahan kaca yang cukup besar, aku
bertekad melawannya.
“Kau ingin melawanku, hah?! Kau fikir mampu?! Kau masih kecil
sayang, jangan membantah, dan diam saja!”
Ia kembali mendekatiku dan mulai membuka baju kemejanya yang juga
berlumuran darah ibu. Kuarahkan pecahan kaca itu padanya, aku bergetar,
meskipun ingin melawannya, tubuhku bergetar hebat. Ya Tuhan… tak ada lain
pelindung selaiMu, ya Rabb, tolonglah hambaMu ini, rintihku saat tangan
lelaki itu memegang erat lenganku, dan mengambil paksa pecahan kaca itu dari
tanganku.
DUBRAAK!!!
Suara dari depan rumah membuat ayahku terkejut, ia langsung berlari
keluar rumah melalui jendela kaca yang pecah. Aku masih tak beranjak dari
tempatku hingga sebuah pelukan membuatku sadar, aku telah selamat. Akhirnya air
mataku tumpah dalam pelukan tante yang terus mengelus rambutku.
“Semua baik-baik saja sayang, polisi ada di sini, kamu nggak akan
terluka,” tante menguatkankan pelukannya padaku hingga aku merintih karena perih
akibat tubuhku yang terkena beling kaca. Tante beserta beberapa polisi akhirnya
membaaqku ke rumah sakit untuk diobati.
***
Rumah tante Nina begitu besar dengan penghuninya yang hanya tiga
orang, tante Nina, om Erwin dan anaknya, Nova. Sedangkan yang lainnya, hanya
para pengawal yang setia mengawasi, dan menjaga rumah konglemerat itu.
Selainnya, ada pula para pelayan yang senantiasa mengurusnya. Aku tidak tahu
jumlahnya berapa, yang jelas, bagiku ini bukan rumah, tapi mension.
Setelah para polisi membawa mayat ibuku, tante tak ingin agar aku
menginap di rumah sakit, hingga ia mengajakku untuk istirahat dirumahnya, dan
disinilah aku sekarang. Meski masih ketakutan, aku tidak lagi bermanja padanya,
aku bisa berdiri sendiri, aku kuat, aku harus kuat.
“Masuklah, sayang, anggaplah seperti rumahmu sendiri,” katanya
sambil berjalan lebih dulu memasuki rumahnya.
“Nova nginap di rumah teman sekolahnya, sedangkan ommu masih di
kantornya. Mulai sekarang, ini adalah kamarmu dan anggaplah kami seperti orang
tuamu sendiri, bersihkan dirimu, dan ganti pakaianmu yang berdarah itu dengan
pakaian yang sudah ada dalam lemari, istirahatlah, besok kita akan fikirkan
lagi semua tentang malam ini, ok, sayang. Selamat malam,” katanya panjang
lebar, ia langsung meninggalkanku setelah mengecup keningku sayang.
Rasa takut langsung menyelimutiku saat melihat sekeliling kamar
yang begitu besar dan sepi, aku keluar dari kamar itu dengan cepat. Kupegangi
jantungku yang masih berdetak cepat. Bayangan kekejaman ayah masih begitu
melekat di pikiranku, bagaimana ia bisa menikam ibuku di depan mataku.
Kupejamkan mataku beberapa saat, mencoba menenangkan diri dan menghilangkan
bayangan keji itu, aku kaget saat sebuah tepukan menadarat di bahuku. Kutatap
orang yang telah menepukku, ternyata hanya seorang pelayan paruh baya. Bajunya
menandakan ia berbeda dari para pelayan yang lain, sepertinya ia ketua pelayan
di sini.
“Nona Naura, kenapa masih di luar kamar, ini sudah waktunya
istirahat, dan nona harus tidur sekarang,” ia menatapku lembut, tatapan
keibuan, bukan tatapan kasihan.
“Maaf, bi. Apa tidak ada kamar yang lebih kecil, aku hanya tak
terbiasa dengan kamar seluas ini,” jujurku.
“Tidak ada nona, nona pucat sekali, apa nona susah tidur? Nona
ingin minum coklat hangat, mungkin akan memudahkan nona untuk tidur,” si bibi terlihat
khawatir.
Aku hanya mengangguk dan mencoba tersenyum lembut agar ia tak
terlalu khawatir.
Kami menuruni anak tangga dalam diam, ternyata letak dapur cukup
jauh dengan kamarku. Kuperhatikan seisi rumah yang sepi, meski rumah ini luas
dan besar tapi, rumah ini seperti tidak berpenghuni.
“Apa rumah ini selalu seperti ini?” tanyaku memecah kesunyian.
“Maksud nona?”
“Sepi banget,”
“Benar nona, sejak tuan Bara ke luar negeri, rumah jadi sepi, ada
penghuni namun seperti tak ada,” jelas bibi itu dengan wajah sedikit murung.
“Bara? Sepertinya, aku tidak ingat memiliki sepupu bernama Bara,
siapa tuan Bara yang bibi maksud?” tanyaku sambil kembali mengingat sepupuku
dari sebelah ibu.
“Mungkin tidak apa-apa jika saya bercerita tentang keluarga ini
pada nona, toh nona keponaannya. Bara adalah tuan besar di rumah ini, beliau
anak pertama dari Mrs. Nina dan Mr. Diko, sebelum akhirnya beliau meninggal,
kemudian Mrs. Nina menikah kembali dengan Mr. Erwin, dan dari pernikahan
mereka, lahirlah nona Nova,” kata bibi sambil membuat coklat hangat.
Aku bersandar di meja makan yang ada di dapur, merenungkan
kata-kata bibi tadi. Aku baru tahu, ternyata om Erwin suami keduanya.
“Kalau saja tuan Bara masih di rumah, suasana akan hidup dan ramai,
selalu ada keributan ringan antara tuan Bara yang mengusili nona Nova, dan
disambut tawa ringan dari Mrs. Nina dan Mr. Erwin,” ia berhenti sejenak sambil
terus mengaduk coklat hangat.
“Mrs dan Mr selalu menyempatkan diri untuk berkumpul di ruang
makan, atau di ruang keluarga hanya untuk sekedar berbincang, meski pun dalam
waktu singkat. Mereka begitu akur meski terlahir sebagai saudara tiri,” ia
menatapku sejenak.
“Tapi, semenjak tuan pergi melanjutkan sekolahnya di luar negeri,
rumah ini ya seperti sekarang ini,” jelas bibi sambil meletakkan secangkir
coklat hangat dihadapanku.
***
Keluargaku dan tante Nina tidak begitu dekat, bahkan tante Nina
pindah ke Bandung sejak kuliah, ia pun menikah tanpa menghubungi keluarganya,
hanya saat menikah dengan om Erwin, aku dan mama diundang. Wajar saja aku tak
tahu apa pun tentang keluarga ini.
Saat kutanyakan, kenapa ibu tak pernah memberi tahuku tentang tante
Nina, ternyata jawabannya cukup mengejutkanku. Lain dengan tante Nina, lain
pula ibuku. Ibu nikah lari dengan lelaki itu dan pergi dari rumah. Karena
tindakan nekad itulah, ibu tak dianggap sebagai salah satu anggota keluarga Dermin.
Aku yang seharusnya memiliki kakek dan nenek serta seorang tante,
harus hidup sendiri dengan keluarga yang tidak bahagia. Sampai suatu ketika, tante
Nina mendatangi ibuku saat ia tahu bahwa adiknya tersebut tinggal di Bandung,
tante meminta ibu untuk kembali dan meminta maaf kepada kedua orang tuanya,
seperti yang sudah ia lakukan. Namun, ia menolak karena meskipun sering
disakiti ayah, ibu tetap mencintai ayah.
Kisah keluarga besar Dermin yang menyedihkan, aku pun termasuk,
meski sekarang aku memiliki tante dan merasakan kasih sayangnya, ak utetap
terlihat menyedihkan. Ibu yang tidak dianggap oleh keluarganya sendiri, dan
ayah yang membunuh ibu. Aku sungguh tidak menyangka, kehidupan yang semula
baik-baik saja berubah hanya karena ayah mabuk. Sekarang aku bingung, apa yang
harus aku lakukan?
“Nona, nona tidak apa-apa?” pertanyaan bibi membuyarkan lamunanku.
“Ah iya, bi. Aku nggak apa-apa kok,” kataku sambil meminum coklat
hangat itu, enak.
“Kembalilah ke kamarmu, dan tidurlah. Selamat malam,” pamit si bibi
sambil berlalu dari hadapanku.
“Bi, bolehkah bibi menemaniku tidur?” pertanyaan itu membuat bibi
menghentikan langkahnya. Ia terlihat berfikir sejenak, namun detik berikutnya
ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat. Meski ia hanya seorang
pelayan, ia tidak menganggapku istimewa, mungkin karena ia memang memiliki rasa
kasih sayang hingga ia tidak tega menolak pintaku.
Dua
Dua tahun kemudian…
Setahun yang lalu, kuputuskan untuk tinggal sendiri di sebuah rumah
kontrakan. Jauh dari tempat tinggalku. Kupilih untuk hidup terpisah dari tante,
ia bahkan memberiku sedikit dana untuk bisa hidup mandiri di kota ini. Om Erwin
pun mendukungku untuk mengadu nasib di sini.
Aku mendapat pekerjaan sebagai wartawan di salah satu media online
di kota ini. Sudah setahun lamanya aku bekerja di bidang ini. Pangkatku naik
menjadi redaktur dengan cepat, tapi aku masih juga meliput berita.
Meski aku masih baru di bidang ini, tapi para senior menganggapku
mampu dan sangat menghargai ide-ide yang kukeluarkan. Seperti saat ini, aku
sedang beradu argument dengan para petinggi itu tapi, tak ada dari mereka yang
merendahkanku. Keberanian beradu mulut dengan para senior itu dikarenakan aku
diutus ke daerah kelahiranku yang sedang berkecamuk. Kabarnya ada wabah virus
asing yang menyebar di sana, membuat
kami harus mengutus salah satu wartawan ke TKP, dan mereka memilih aku.
“Maaf, pak. Apa tidak bisa aku ditugaskan ke tempat lain? Setelah dua
tahun berlalu, sungguh aku tak bisa kembali ke kota itu, aku masih belum siap.
Bapak tahu bagaimana aku berusaha melupakan tempat itu. Aku mohon, pak. Aku mau
di tugaskan dimana saja, asal tidak di kota itu,”
Kuusahakan suaraku selembut mungkin, meskipun aku masih sangat
terkejut dengan tugas dari pak Darman ini. Setelah sekian lama, berfikir aku
akan kembali ke kota yang menoreh luka yang sangat mendalam dihatiku, tidak
pernah terbayangkan sedikitpun olehku.
“Kau tak sendiri di sana, Ra. Aku juga mengutus tim khusus untuk
menemanimu. Aku tau ini berat bagimu, tapi kita tak punya pilihan selain
mengirimmu ke sana,” katanya sambil masih sibuk dengan Laptopnya.
“Selain karena itu kota kelahiranmu, di sini hanya tersisa kamu
seorang yang tak ikut tim satu ke New York. Aku mohon padamu, Ra. Aku janji,
kami akan menjamin keselamatanmu di sana,” lanjutnya menatapku penuh harap,
namun suaranya masih menyiratkan ketegasan.
“Tim khusus sebentar lagi datang, dokter yang kita sewa juga
bersama mereka, aku hanya bisa berharap padamu, Ra. Mereka akan lebih mudah
karena mereka bisa tinggal bersamamu di rumah kamu yang dulu itu, iya, kan,”
Kutatap pak Darman tak percaya, apa dia juga telah mengurus agar
tempat yang kami tinggali di sana adalah rumahku?! Oh Tuhan!!
“Tenang, rumah itu sudah ku beli, jadi kita bisa aman, lagi pun,
semua isi di dalamnya telah kurubah. Kau tenang saja,” katanya sambil tersenyum
padaku.
“Aku me…” suaraku terputus saat segerombolan pria, dan seorang
perempuan memasuki ruangan itu.
Sepertinya mereka adalah tim khusus yang dibicarakan pak Darman
tadi, dan ada seorang dokter dengan dua asistennya yang sama-sama memakai baju
putih.
“Roni! Akhirnya kau sampai juga. Silahkan duduk, kita akan
bicarakan hal ini sambil minum, dan istirahat, santai saja,” pak Darman
menyambut mereka dengan semeringah.
“Oia, sebelumnya, perkenalkan, ini Naura, penduduk asli kota itu,” lanjutnya
sambil memperkenalkanku pada Roni, hmm.. masih cukup muda untuk seorang
reporter profesional dan sukses.
“Roni,” katanya sambil mengulurkan tangannya.
Sejak kejadian keji dua tahun lalu, aku tumbuh menjadi wanita yang
sangat membenci laki-laki tapi, aku dalam proses penyembuhan diri dari sifat
itu.
“Naura,” balasku tanpa menerima jabatan tangannya.
Ia tersenyum sambil melihat tangannya yang tak kuterima.
“Kau tak sopan,” katanya terdengar sinis.
“Ouh.. maafkan perilakunya, dia memang seperti itu. Mari, silahkan
duduk.”
Pak Darman membawa mereka duduk di meja rapat umum. Botol minuman
mineral tertata rapi di atas meja, tak lupa juga sekotak cemilan.
Mereka membicarakan bagaimana agar kita bisa mendapatkan informasi
tentang virus itu, dan dari mana asalnya. Virus yang masih belum diketahui apa
namanya itu kini mewabah, dan memakan banyak korban di kota kelahiranku itu.
Aku menyimaknya dengan seksama.
Setelah Roni dan yang lainnya setuju dengan usul pak Darman yang
intinya, kami mencari informasinya dikalangan mereka yang terserang virus, dan yang
belum terserang virus. Kami harus mewaspadai kontak fisik tanpa alas dengan
mereka, apa pun yang terjadi, jangan sampai kami ikut terkena virus itu. Oleh karena
itu, dokter khusus ahli dalam bidang virus, yang baru kutahu bernama Vidro diutus
ikut bersama kami.
“Aku harap, kau Naura bisa membantu kami menunjukkan lokasi-lokasi
tempat pengungsian, dan rumah-rumah para penduduk yang kau kenal, kau bisa, kan? Karena
akan lebih mudah jika mereka mengenal salah satu di antara kita, mereka bisa
berbica tanpa ada yang ditutupi,” Roni menatapku tajam.
“Akan kuusahakan,” jawabku nggak bersemangat.
“Baiklah, kita berangkat malam ini. Rasyid, temani Naura ke
rumahnya untuk berberes dan kembali ke sini tepat jam sepuluh, rapat kita tutup,”
kali ini pak Darman mengakhiri.
Mereka mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing, dan aku tak
kenal siapa itu Rasyid. Dia yang di utus untuk membawaku ke rumah. Aku hanya
bisa duduk terdiam di tempat.
“Ayo,” suara itu membuatku menegadahkan wajahku, dan aku cukup
terkejut, karena yang bernama Rasyid itu adalah Salim, sahabat kecilku.
“Salim?!” tanyaku sedikit memekik kaget.
“Kita tak punya banyak waktu, Na. Kau bisa bertanya apa pun di mobil,”
katanya sambil berjalan keluar kantor mendahuluiku.
Ia masih memanggilku dengan sebutan ‘Na’, ‘Nana’ adalah panggilanku
sejak kecil, dan saat pindah, aku menggantinya dengan sebutan Rara. Kuikuti
langkahnya yang cukup cepat. Ia masih tak berubah, hanya badannya yang semakin
tinggi dan atletis, dan penampilannya jadi sedikit berantakan.
***
“Kami tim khusus yang selalu di sewa untuk mencapai berita sejenis
ini, kami juga tidak berusaha untuk mendominasi pihak yang menyewa jasa kami,
jika pun kami tak di sewa, kami tetap meneliti dan mencari informasi berita
itu, hanya untuk sebuah kepuasan, dan bisa meliris buku baru,”
Jelasanya
saat kutanya, tim khusus apakah mereka? Jenis pekerjaan seperti apa yang
dijalaninya.
“Kami tak takut mati, Na. Kami akan melakukan apa saja demi untuk
mendapatkan berita yang akurat, meskipun nyawa taruhannya,”
“Apa berita yang ada dalam buku ‘Burung Palestina’ itu kalian yang
liput dan tulis?”
“Iya, tapi kami tetap memakai nama yang kami setujui, Gerhana,”
“Iya, buku itu pengarangnya Gerhana, aku pikir itu nama orang,
ternyata nama tim,”
“Iya, begitu lah. Sekarang, giliran aku yang bertanya, kenapa kau
bisa jadi pembina kami?” tanyanya penuh penekanan. Ia melirikku sejenak sebelum
kembali fokus mengemudikan mobilnya.
“Tim yang lain sedang di luar kota, karena aku satu-satunya yang
tinggal, jadi aku yang harus ikut jadi pembina kalian,” jawabku seadanya.
“Kenapa tak kau tolak?!” nada bicara Salim mulai meninggi.
“Udah, tapi tetap saja pak Darman seperti itu,” jawabku menunduk.
“Kau yakin tidak apa-apa?”
Kualihkan pandangaku menatap Salim yang masih fokus menyetir.
“Kenapa?” tanyanya yang sadar dengan tatapanku dan tak menjawab
pertanyaannya.
“Aku tak tahu, Lim. Mungkin ini salah satu cara agar aku mampu
terlepas dari bayangan itu, mengalahkan rasa takutku sendiri,” kualihkan
pandanganku ke luar jendela mobil.
“Seandainya aku bisa jujur dimana tempat tinggalku, pasti kau
takkan diikut sertakan ke sana,” gumamnya nyaris tak terdengar.
“Maksudmu, mereka tak tahu kalau kau juga berasal dari kota itu?”
Salim hanya menggukkan kepalanya. Oh Tuhan!
“Sesampainya di sana, jika para tetangga di sekitar rumah tak berubah,
mereka pasti akan mengenalmu,”
“Aku tak ikut ke sana, Na,”
“Apa?!”
“Aku hanya di tugaskan untuk menerima liputan dari sana,”
“Kau serius tak ikut?! Salim, please… ikut lah,” kataku sedikit
memelas.
Aku dan Salim Ar-Rasyid hidup bertetangga, kami bersahabat sejak
kecil, dan setelah tragedy itu, aku ikut tanteku, kemudian pindah ke kota ini. Dua
tahun tak bertemu, tanpa komunikasi dan berita apapun, kami dipertemukan dalam
situasi yang seperti ini, pun begitu, dia masih tetap sahabatku, dan betapa
leganya aku saat kutahu dia bagian dalam tim khusus itu. Tapi, kenapa dia tidak
ikut, aku tak bisa membayangkan, apa aku sanggup ke sana sendirian.
“Maaf, Na, aku tak bisa,”
“Kau tega membiarkanku sendirian di sana?!”
“Kau tak sendiri, Na,”
“Lim!”
“Kita sudah sampai. Turun lah, dan berkemas, akan aku jemput satu
jam kemudian,” katanya tanpa menlihatku.
Aku keluar dari mobilnya tanpa berkata apapun.
***
Perjalanan menuju kotaku memakan waktu sekitar sepuluh jam, jadi
kalau berangkat jam sepuluh, maka pagi kami akan sampai di tempat tujuan. Aku
dan Salim kembali ke kantor, kulihat Salim mulai berbicara dengan salah satu
staff di kantor, karena bosan menunggu yang lainnya, kulangkahkan kakiku menuju
beranda kantor di lantai dua, udara malam ini cukup dingin.
“Sepertinya kau begitu special bagi Rasyid, sampai-sampai ia mau
ikut serta ke kota itu. Aku bingung, apa kamu juga tertarik sama Rasyid pada
pandangan pertama? Seperti aku,” Roni yang tak kusadari sudah berdiri disisiku membuatku
sedikit terkejut dengan semua kata-katanya yang membingungkan.
“Thanks, karena sudah merubah pikiran si jenius bodoh itu,” Roni
tersenyum tipis sampai aku ragu, apa itu senyuman atau bukan. Tunggu!
“Apa?! Salim, oh maaf, maksudku Rasyid ikut kita ke kota itu?” kutatap
Roni kesal, apa ada yang lucu di sini hingga pria itu tertawa.
“Kamu itu loding banget, dasara!” pria itu menyentil keningku
hingga membuatku meringis sakit, dasar pria sakit jiwa!
“Rasyid bersikeras untuk tidak ikut serta, ia
hanya tinggal di sini, dan menunggu berita dari kita, tapi tiba-tiba ia
memutuskan untuk ikot, saat kutanya alasannya apa, ia tak menjawabnya,”
“Kenapa ia bisa berubah fikiran?” lirihku penasaran.
“Mungkin karena kamu, Na,” Roni menatapku lembut. Panggilannya itu
membuatku menatapnya curiga, kenapa ia tahu nama kecilku, siapa ia sebenarnya?
“Aku sahabatnya, Na. Tidak
ada rahasia antara aku dan dia, termasuk tentang kamu. Mungkin ada baiknya jika
dia ikut, paling tidak, kamu tidak benar-benar merasa sendiri,” ujarnya
tersenyum ramah.
Senyum ramahnya mampu membuatku ikut tersenyum. Ah, ternyata Salim
memiliki sahabat yang baik.
Percakapan kami berakhir karena tim sudah berkumpul dan siap
berangkat.
Tiga
Sepanjang perjalanan, aku terus berdoa. Salim terlelap di
sampingku. Kuperhatikan wajahnya yang terlihat lelah. Sebelum memutuskan
berangkat, ia mengatakan padaku agar aku tak pernah jauh dari jangkauannya. Ia
juga berjanji akan melindungiku. Aku sangat bersyukur dengan adanya dirinya
disisku sekarang.
“Berhenti menatapku seperti itu, kau akan membuat yang lainnya
salah faham,” katanya sambil sedikit tersenyum. Dari dulu tak pernah berubah,
selalu bisa merubah moodku dengan sesuka hatinya seperti ini, ia sungguh membuatku
jengkel, namun, aku tidak bisa benar-benar marah padanya, malahan sekarang aku
ikut tersenyum.
“Biarkan saja mereka salah faham, aku tidak keberatan,” kataku
sambil merebahkan kepalaku di kursi dan mulai memejamkan mataku.
“Kau tidak, tapi aku keberatan, kau tahu,” katanya lagi dan aku
memilih mengacuhkannya.
Jujur, sepanjang perjalanan aku tidak bisa tidur, meski mataku
terpejam, aku masih bisa merasakan dan mendengar apa saja yang mereka
bicarakan. Ada yang bertanya sampai kapan kita akan di kota berwabah virus itu?
suara yang kukenal sebagai Roni mengatakan bahwa waktunya tak terbatas. Itu
artinya, aku tetap di sana hingga aktu yang tak terbatas.
Ada juga yang bertanya, bagaimana jika salah satu di antara kita
terjangkit virus tersebut? Roni kembali menjawab akan diusahakan untuk dia bisa
mendapatkan penawarnya, ia juga berjanji akan mencari obat penawar jika virus
tersebut sudah diketahui berasal dari mana.
Tanpa kusadari, hari sudah pagi, mungkin aku sempat tertidur,
karena saat Salim membangunkanku, aku sedikit terkejut. Salim menatapku tenang,
ia mengatakan bahwa kami sudah berada di depan rumah.
Aku mengikutinya turun dari Bus, kulihat rumah bertingkat dua itu,
masih sama, hanya warnanya yang berbeda. Kapan pak Darman persisnya membeli
rumah ini?
***
“Kita bagi menjadi tiga tim, aku, Salim dan Vidro jalan di
sela-sela kota sebelah kiri, Damar, Andre dan Sinta di sebelah kanan, dan Hido
dan Gon tinggal di sini dan pantau situasi yang telah kita letakkan CCTVnya,
kita gerak sekarang,” kata Roni sebelum membubarkan rapat pagi.
Aku masih sedikit pusing, tapi kupaksakan untuk ikut mereka. Salim
dan Roni masih sibuk bertanya ke penduduk sekitar, aku hanya diam. Selama
sepuluh menit aku tidak bicara, hanya Salim dan Roni yang masih antusias. Aku
merasa sedikit mual hingga permisi ke toilet yang ada di sekitar daerah itu.
“Kau tau, Bar, penduduk di sini sudah sangat menipis, apa tidak
sebaiknya kita percepat saja penyelesaian pembumi hangusan mangsa kita di kota
ini? Dengan begitu, kita bisa lebih cepat membangun kota baru, seperti yang kau
mau,” penjelasan dari suara perempuan itu terdengar jelas ditelingaku, langsung
kuaktifkan record di rekaman kaca mata yang kupakai.
“Belom saatnya adik kecilku, masih ada yang harus kuselesaikan
sebelum menghancurkan mereka semua. Manusia biadab seperti mereka tidak akan ada
lagi di kota ini, kupastikan itu. tapi, sebelumnya, kita selesaikan urusan kita
dengan dewan tikus itu, setelah dana itu cair, semua akan selesai lebih cepat
dari yang kita duga,” suara baritone itu terdengar dingin dan kejam.
Hahaha
Tawa perempuan dan beberapa suara lelaki itu terdengar mengerikan, mereka
mampu membuaku merinding, dengan cepat aku keluar dari toilet kotor itu dan
langsung menemui Roni dan Salim yang duduk tidak jauh dari toilet tadi. Begitu
pantatku mendarat di sisi Salim, langsung kumasukkan heatset ke telinga Salim
dan juga Roni, mereka sempat terkejut karena sikapku, tapi aku hanya member
isyarat agar mereka diam dan mau mendengarkan hasil recorderku.
Wajah ke dua pria itu mengeras, terlihat jelas mereka sedang marah.
Setelah mendengarnya, keduanya melihatku penuh selidik.
“Mereka ada di belakang sana,” tunjukku ke arah tempat aku
mendengar percakapan itu.
Ke dua pria itu langsung bangun dan mendatangi tempat itu, aku
hanya bisa mengikuti mereka dalam diam, jujur aku takut, tapi apa daya, aku
lebih takut jika di tinggal sendiri.
Aku tak menyangka mereka masih di sana, ku perhatikan wajah mereka
dengan seksama, mereka berempat, dan dua diantaranya adalah wajah yang sangat
familiar bagiku. Itu adalah Bara dan Nova, dua sepupuku, ngapain mereka di
sini? Pikiranku mulai tidak tenang.
“Siapa kalian?” lelaki berambut panjang menatap kami tajam.
Jelas mereka tidak mengenaliku, karena aku memakai masker penutup
mulut.
“Aku dan ke dua temanku di sini ingin menanyakan apa yang baru saja
kalian bicarakan. Apa maksud kalian membumi hanguskan manusia yang ada di kota
ini?” Roni bertanya tanpa ada rasa takut sedikit pun.
“Ouh, jadi kau nguping pembiaraan kami? Berani banget kau?! Kau
tidak tau siapa aku?!” pertanyaan si rambut kriting terdengar mengejek.
“Siapa pun kalian, kalian tidak berhak mengambil nyawa seseorang
seperti itu,” Salim berjalan mendekati mereka tapi, Roni menahan agar Salim
tidak melangkah lebih jauh.
“Aku berhak atas setiap nyawa manusia di kota ini,” Bara menatap Salim
tajam.
Astagfirullah, apa itu Bara yang aku kenal, yang selalu
mengajarkanku tentang kemanusiaa n dan perdamaian? Bara yang selalu menemaniku
meski itu hanya sebatas via telepon atau vidio, Bara yang kukenal penyayang,
ramah, dan taat beribadah. Kenapa ia bisa berkata seperti itu? Apa yang
sebenarnya terjadi?
“Oke, mari kita berdamai saja, aku tak tahu apa alasanmu hingga kau
membuat virus mematikan itu tapi, kami tidak akan membiarkan hal itu terus
berlanjut,” Salim kembali mendekati Bara, kali ini Roni pun melakukan hal yang
sama. Bara masih tenang, si rambut keriting dan Nova terdiam bagai batu
sedangkan si rambut panjang masih duduk manis dengan sebatang rokok di jarinya.
“Siapa yang membuat virus mematikan itu?” Roni menatap mereka satu
persatu, suaranya yang tajam dan dingin mampu membuatku merinding namun, tidak
bagi wajah Bara dan teman-temannya, mereka masih tenang dan santai, terlalu
santai bagi penjahat yang tertangkap basah.
“Aku,” belum habis buluku merinding, kini aku membatu setelah
mendengar jawaban tenang Bara itu.
***
“Aku yang membuat virus itu. Kalian tenang saja, virus itu hanya
berlaku di kota ini, jika ada yang dari kota ini keluar kota, maka orang-orang
di luar kota ini tidak akan terjangkit,” penjelasan Bara membuat Salim dan Roni
mengerutkan keningnya, bingung, begitu pun aku.
“Aku hanya menyetel virusnya agar berfungsi di kota ini, karena
hanya penduduk di kota ini saja yang ingin kubasmi. Membersihkan orang-orang
biadab itu dan menggantinya dengan manusia-manusia yang penuh kebaikan,
bukannya itu hal baik? Oh ayolah, kalian juga tak ingin ada orang jahat di atas
permukaan bumi ini, iya, kan? Atau aku salah?” Bara tersenyum licik dan meremehkan,
ia memandang kami dengan tatapan tajamnya.
“Kau salah. Kau bukan hanya salah tapi berdosa. Tak semua dari
penduduk ini jahat, masih ada kalangan anak-anak, perempuan, tua renta,..”
“Bulshit! Persetan dengan anak-anak atau pun perempuan, nenek atau
kakek, keturunan para bajingan yang tidak tau siapa itu tetap akan musnah,
dengan begini, tak ada lagi penurus kejahatannya,”
“Kau salah Bara!” air mata yang sedari tadi kutahan kini mengalir tanpa
seizinku hingga membuat suaraku serak.
Terlihat jelas keterkejutan yang ada di wajah Baryang, kulirik Roni
dan Salim juga ikut terkejut, pun dengan
teman-teman Bara dan Nova. Kulepaskan maskerku, kutatap Bara dan ia pun kini
menatapku terkejut. Kulirik Nova yang berdiri di belakangnya, gadis itu hanya
menundukkan kepalanya setelah sebelumnya menatapku dengan mata bulatnya.
“Nana?! Apa itu kamu?” suara lembut itu semakin membuatku sakit, ekspresi
Bara yang menatapku lembut membuatku kecewa.
“Iya, ini aku, Bar,” suaraku masih serak.
Ia berjalan melewati Roni dan Salim, terus berjalan hingga ia
berada tepat dihadapanku. Ia masih menatapku, tapi tatapannya berubah sendu,
aku terkejut, dan semakin terkejut saat ia menyentuh kepalaku.
“Aku belum selesai membersihkan kotamu, Na, kenapa kamu sudah di
sini? Apa yang terjadi? Apa kamu tidak trauma lagi? Kenapa kamu tidak pernah
cerita padaku? Kamu menghilang sejak setahun yang lalu, kamu tak pernah
menghubungiku lagi, kenapa?” pertanyaan bertubi-tubi yang keluar dari bibirnya
yang bergetar membuatku terduduk lemah.
Salim dan Roni langsung mendekatiku.
“Apa yang terjadi? Apa yang ia ucapkan, Na?” Salim menyentuh
bahuku, ia menatapku khawatir.
Aku tersenyum sendu, kuusahakan agar kakiku tidak lemas, aku mulai
berdiri dibantu Salim, Bara masih menatapku sambil tersenyum sendu. Aku pun
ikut menatapnya, apa yang ia katakan tadi? Ia belum selesai membersihkan
kotaku? Ia melakukan itu untukku? Tapi, kenapa? Untuk apa?
“Aku nggak mau kalau kamu nggak bisa kembali menginjakkan kakimu
lagi di sini, jadi kuputuskan untuk membersihkan mereka semua, karena aku tidak
tau siapa si bajingan yang telah membuatmu setroma itu. Aku tidak punya pilihan
lain, Ra,”
Kugenggam lengan Salim kuat-kuat, aku sungguh tak sanggup berdiri
sendiri saat ini. Salim ikut membantuku dengan menguatkan pegangannya di
bahuku.
“A…aku…”
“Kamu tidak perlu mengatakan apa pun, Na. Semua ini akan selesai
setelah gubernur itu mencairkan dananya, setelah itu, kota ini akan bersih
kembali, Na, dan..”
“SUDAH CUKUP!” teriakanku membuatnya terdiam. Ia membatu, wajah
putihnya semakin pucat saat mendengar teriakanku.
“Aku tidak pernah memintamu untuk melakukan semua ini, Bar! Aku
sudah sangat sehat sekarang ini, bahkan aku mampu ke sini lagi! Aku bahkan
berencana mengabarimu setelah kepulanganku nanti, aku ingin membuatmu bangga
karena punya adik yang sanggup bangkit lagi, aku…” isakkan membuatku tak mampu
melanjutkan kata-kataku.
Aku menangis sejadi-jadinya, aku tak tahu harus bagaimana? Di satu
sisi, aku sangat kecewa padanya, di sisi lain, ia melakukan ini dengan niat
baik itu, hanya saja caranya yang salah.
“Katakan padaku, Na, apa aku salah?” pertanyaan lirih itu membuatku
menatapnya yang juga mulai menangis.
“Iya, Bar, kamu salah,”
PLAK!
Empat
PLAK!
Nova mendekatiku dan langsung menamparku, pipiku panas.
“Hei, apa-apaan ini!” Salim tidak terima.
“Kau tau apa yang sudah dilakukan kakakku demi kamu?! Ia dibutakan
dendam?! Aku memang mendukungnya seperti ini karena kalau tidak, ia akan
merekrut orang yang lebih gila dari si kribo di belakang itu, dan si psyco
berambut panjang! Aku yang meracik virus itu dan Bara membuat Systemnya
sedangkan si kribo yang menyebarkannya ke udara, si psyco yang mengontrol
atasan. Aku membuka semua ini karena aku tak punya alasan untuk menutupinya
lagi.Kau tahu, Na, kau yang bersalah di sini, jadi jangan salahkan kami!Oia, tanpa
kalian sadari, kalian pun telah mengidap virus itu sejak pertama kali kalian
memasuki kota ini tanpa masker di mulut kalian,”
Penjelasan gadir berambut panjang itu mampu membuatku terbelalak, pun
dengan Salim dan Roni yang ada di sampingku.
“Aku nggak mau rencana ini batal hanya karena kau sudah sembuh, aku
akan lakukan apa pun agar semua ini berhasil, kalau tidak, aku akan kehilangan
dolarku yang sudah aku keluarkan untuk semua ini, aku akan rugi besar tentunya,”
lanjut Nova santai kembali duduk dan bersandar di bahu si psyco berambut
panjang yang disebutnya tadi.
“Nova,” lirih Bara yang masih bisa kudengar.
“Apa?! Kau mau apa lagi, kak?! Aku udah ngorbanin semua tabungan
aku buat ngeracik virus itu, aku ikut aturanmu, tidak memakai uang papa sedikit
pun, aku juga udah ngebantu kamu …”
“Udah cukup, Va. Aku tidak ingin ada pertengkaran diantara kita.
Aku akan membayar semua uang yang kau keluarkan, dan masalah si gubernur itu,
aku yang akan mengurusnya, dan kau kribo dan Pscyo, kembalilah ke Negara kalian,
akan ku pastikan kalian aman,” kata Bara tenang sambil berjalan mendekatiku,
membuka jasnya dan memasangkan jas itu padaku, otomatis Salim melepas
pegangannya di bahuku.
Nova menatap Bara tak percaya, ia menghembuskan nafasnya kesal
sebelum pergi meninggalkan kami, pun dengan pria kribo dan psyco yang mengekori
Nova dari belakang. Bara membimbingku duduk di kursi, Salim dan Roni ikut
duduk.
***
“Ini penawar virusnya, minumlah,” Bara memberiku botol kecil berisi
air putih, aku tidak tau itu air putih mineral biasa atau bukan, yang pasti,
aku masih percaya Bara. Ia langsung memerintahkan teman-temannya untuk berhenti
bertindak setelah kehadiran diriku. Kuputuskan mengambil botol itu dan hendak meminumnya,
tapi tangan Salim menghalangiku. Kulihat Salim yang menatapku sambil
menggelengkan kepalanya.
“Kita sebaiknya menunggu Vidro, aku sudah menguhubungi mereka agar
berkumpul di sini,” kata Roni menjawab pertanyaan yang sempat muncul di
kepalaku.
Kulihat wajah Bara masih tenang dan menatapku hangat, ia tidak
tersinggung sedikitpun dengan ucapan Roni
“Kamu tau, Na, aku melakukannya untukmu, seandainya kamu tidak
hadir di sini, mungkin aku akan terus terperosok jauh ke dalam dendam itu,”
tulus ucapannya membuatku tersenyum.
“Aku…aku berterima kasih karena kamu ingin melakukan sesuatu
untukku, namun sangat disayangkan caramu itu salah, aku kecewa, tapi aku senang
kamu bisa membuatmu berhenti melanjutkan tindakan itu,” kataku menatapnya
lembut.
“Kamu memang adikku paling hebat, aku menyangka akan membuatmu
bahagia, jika kotamu ini bersih dari penduduk aslinya, tapi nyatanya aku salah,
entah setan apa yang telah merasukiku hingga bertindak seperti itu, kamu tau, Na,
Nova sempat menahanku untuk melakukan semua itu, sebelum akhirnya ia setuju
untuk membantuku,” suaranya berat, serat penyesalan.
“Penggaruhmu begitu kuat padaku, Na,” lanjutnya sambil mendorong
ringan kepalaku. Tawaku akhirnya keluar juga.
“Apa yang terjadi di sini? Di mana obat penawarnya?” pertanyaan Vidro
yang tiba-tiba sudah hadir dengan tim lainnya pun membuatku dan Bara ikut menghentikan
percakapan kami.
Roni memberikan botol yang tadi diberikan Bara ke aku. Vidro
membukanya dan mencium baunya, ia tersenyum dan mengatakan bahwa itu hanya air
miniral biasa. Kami semua kompak melihat Bara, pandangan meminta penjelasan
terlihat jelas dari wajah kami.
“Ehm, penawarnya memang hanya air mineral biasa. Virus yang
tersebar melalui udara kota ini juga sudah mencemari airnya, jika meminum air
mineral yang datang dari kota lain dengan lebel yang masih utuh, maka dengan
sendirinya ia akan sembuh dari virus itu, tapi…” ia menatap kami satu per satu.
“Selama kalian masih di sini dan menghirup udaranya, kalian akan
terus terkena virus itu, meski pun airnya menyembuhkan, tapi hanya sementara
sebelum kalian menghirup udara di kota ini lagi,”
Kami saling pandang.
“Lalu? Buat apa kau memberikan penawar tidak berfungsi seperti ini?
Virus jenis apa itu, Bar?”
“Virus BA, Black Air. Setelah kalian meminumnya, aku hanya akan
menghidupkan system udara baru di sekeliling kalian, dengan begitu kalian aman,”
Hening.
“Bagaimana dengan penduduk di sini? Apa kau bisa menyembuhkan
mereka dari wabah virus kau itu?” Vidro bertanya sambil menatap Bara tajam.
“Aku tidak tahu, persediaan air bersih ini tidak banyak,”
Bara merogoh saku jas yang ada padaku, ia mengeluarkan sebuah benda
tipis berbentuk persegi, terlihat seperi handphone, tapi tidak, itu bukan
telepon genggam. Benda itu bisa mengeluarkan layar tanpa ada penyangga, dengan
gerakan cepat, Bara mengoprasikan benda tersebut, tangannya dengan cekatan
menekan beberapa tombol yang ada di layar tembus pandang itu.
Beberapa menit tak ada suara yang keluar dari mulut kami. Kegiatan
Bara yang masih sibuk dengan benda itu mampu menyita perhatian kami lebih jauh.
Keringat dingin keluar dari pelipisnya. Wajahnya begitu serius.
“Nova sudah membersihkan virus di udara kota ini, prosesnya memang
cepat, karena selain air, udara sendiri juga bisa menjadi penawar, hanya saja,
Nova yang bisa menguasai hal itu. Aku baru saja memberinya perintah untuk
mengubah udara di kota ini, dengan begitu, sistemku bisa bekerja untuk
menyembuhkan mereka,”
Penjelasa Bara sambil tersenyum itu membuat kami bernafas lega.
Meskipun aku tidak mengerti bagaimana cara para jenius itu bekerja, tapi aku
bersyukur bisa menghentikan mereka berbuat lebih jauh lagi.
***
Matahari masih bersinar dengan teriknya, namun udara yang kami
rasakan di sini sangat dingin, kami sampai harus memakai jaket, itu yang kami
rasakan sebelum beraksi tadi, tapi sekarang,
udara yang kami rasakann sesuai dengan terik matahari, hangat.
Setelah mendengar penjelasan dari Bara, Vidro ikut duduk disampingku,
ia mengeluarkan alat pendeteksi virus dari dalam tas kecil yang dibawanya. Pria
berkaca mata itu memasukkan benda itu telinganya, setelah beberapa detik, benda
itu dikeluarkan dari telinga, terlihat dua garis biru di layar kecil yang ada
di dalam benda tersebut.
Kulihat Vidro tersenyum, ia menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya
menatap kami, satu per satu.
“Kita selamat, begitu pun dengan mereka,”
Vidro membuatku tersenyum senang dan lega mendengarnya. Kulihat
Sinta, Andre, Hido, Gon, dan Damar ikut tersenyum, tapi senyum itu sepertinya
tidak tertular pada Salim dan Roni. Mereka menatap Bara dengan tatapan dingin,
ada apa dengan ke dua pria ini?
“Bagaimana, Ron?” suara Salim memcahkan keheningan yang sempat
terjadi beberapa menit yang lalu.
“Meski pun aku tidak mengerti system apa yang kau gunakan, aku
ingin kau membuktikan bahwa penduduk di sini telah aman,” kata Roni dingin.
“Kau bisa membuktikannya dengan cara yang dilakukan pria itu tadi,”
jawab Bara tak kalah dinginnya.
“Sudahlah, tidak bisakah kau mempercayainya, Ron?” aku tidak tahan
dengan kecurigaan yang Roni lemparkan pada Bara, bagaimana pun, Bara telah
meruntuhkan rencananya untuk membunuh semua penduduk kota ini.
“Baiklah, aku akan berusaha percaya,” meski begitu, Roni masih
menatap Bara dengan tatapan tidak suka.
“Apa semua bisa terjadi semudah itu?” kali ini Salim yang masih
menaruh curiga.
“Iya,”
“Polisi telah mengamankan gubernur yang juga terlibat dalam hal
ini, kau juga akan di tahan, Nova adikmu, si rambut lurus dan si kribo juga
telah ditangkap, kalian haru menebus kesalahan kalian, bagaimana pun kalian tidak
bisa bebas begitu saja, kalian tidak tahu berapa nyawa yang hilang karena ulah
kalian,” tak kusangka Roni mengatakan semua itu.
“Aku akan menebus kesalahanku, akan kutanggung semuanya tapi, aku
minta satu hal, jangan libatkan Nova dan Kribo dalam hal ini, mereka tidak
bersalah, aku lah yang patut menerima semua ini,”
“Tidak bisa, mereka tetap ikut bersamamu ke penjara,” tegas Roni.
Keheningan kembali menyelimuti kami, aku menatap Bara yang
tertunduk lemas. Kugenggam tangannya erat, ia beralih menatapku, mata safirnya
menatapku lembut.
“Semua akan baik-baik saja,” senyumku mampu membuatnya ikut
tersenyum.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar