Rabu, 08 November 2017

SAVE ME


 
Satu
Tak ada yang medengar teriakanku. Jelas saja, karena ini tengah malam, suasana gelap karena listrik padam, dan jalanan begitu sunyi. Aku masih bersembunyi di balik lemari, saat suara kaki bersepatu bot itu mendekati lemari ini. Kubungkam mulutku untuk menahan tangis yang ingin keluar, terus berdoa agar lelaki itu tak menemukanku. Namun, sepertinya doaku belum dikabulakan, karena sekarang, lelaki yang kukenal sebagai ayahku itu menatapku dengan seringainya yang menjijikkan. Aku mentapnya tajam.
“Kemarilah sayang, kenapa kau ketakutan seperti itu pada ayahmu ini, hah?!”
Suaranya membuatku membeku, ia mulai mendekat, dan menyentuh kulitku dengan tangannya yang masih berlumuran darah ibu, sedangkan tangan satunya lagi masih memegang pisau tajam yang merenggut nyawa ibu.
“Kenapa kau diam saja manis, apakah kau ingin disini terus seumur hidupmu? Atau kau ingin menyusul ibu keparatmu itu, hah?! Jawab aku, cantik!!”
Ia menarikku keluar dari sudut lemari, dan menghempaskanku di lantai yang penuh pecahan botol minuman keras miliknya. Aku meringis kesakitan, namun tetap diam dan mulai waspada. Kuraih pecahan kaca yang cukup besar, aku bertekad melawannya.
“Kau ingin melawanku, hah?! Kau fikir mampu?! Kau masih kecil sayang, jangan membantah, dan diam saja!”
Ia kembali mendekatiku dan mulai membuka baju kemejanya yang juga berlumuran darah ibu. Kuarahkan pecahan kaca itu padanya, aku bergetar, meskipun ingin melawannya, tubuhku bergetar hebat. Ya Tuhan… tak ada lain pelindung selaiMu, ya Rabb, tolonglah hambaMu ini, rintihku saat tangan lelaki itu memegang erat lenganku, dan mengambil paksa pecahan kaca itu dari tanganku.
DUBRAAK!!!

Suara dari depan rumah membuat ayahku terkejut, ia langsung berlari keluar rumah melalui jendela kaca yang pecah. Aku masih tak beranjak dari tempatku hingga sebuah pelukan membuatku sadar, aku telah selamat. Akhirnya air mataku tumpah dalam pelukan tante yang terus mengelus rambutku.
“Semua baik-baik saja sayang, polisi ada di sini, kamu nggak akan terluka,” tante menguatkankan pelukannya padaku hingga aku merintih karena perih akibat tubuhku yang terkena beling kaca. Tante beserta beberapa polisi akhirnya membaaqku ke rumah sakit untuk diobati.
***
Rumah tante Nina begitu besar dengan penghuninya yang hanya tiga orang, tante Nina, om Erwin dan anaknya, Nova. Sedangkan yang lainnya, hanya para pengawal yang setia mengawasi, dan menjaga rumah konglemerat itu. Selainnya, ada pula para pelayan yang senantiasa mengurusnya. Aku tidak tahu jumlahnya berapa, yang jelas, bagiku ini bukan rumah, tapi mension.
Setelah para polisi membawa mayat ibuku, tante tak ingin agar aku menginap di rumah sakit, hingga ia mengajakku untuk istirahat dirumahnya, dan disinilah aku sekarang. Meski masih ketakutan, aku tidak lagi bermanja padanya, aku bisa berdiri sendiri, aku kuat, aku harus kuat.
“Masuklah, sayang, anggaplah seperti rumahmu sendiri,” katanya sambil berjalan lebih dulu memasuki rumahnya.
“Nova nginap di rumah teman sekolahnya, sedangkan ommu masih di kantornya. Mulai sekarang, ini adalah kamarmu dan anggaplah kami seperti orang tuamu sendiri, bersihkan dirimu, dan ganti pakaianmu yang berdarah itu dengan pakaian yang sudah ada dalam lemari, istirahatlah, besok kita akan fikirkan lagi semua tentang malam ini, ok, sayang. Selamat malam,” katanya panjang lebar, ia langsung meninggalkanku setelah mengecup keningku sayang.
Rasa takut langsung menyelimutiku saat melihat sekeliling kamar yang begitu besar dan sepi, aku keluar dari kamar itu dengan cepat. Kupegangi jantungku yang masih berdetak cepat. Bayangan kekejaman ayah masih begitu melekat di pikiranku, bagaimana ia bisa menikam ibuku di depan mataku. Kupejamkan mataku beberapa saat, mencoba menenangkan diri dan menghilangkan bayangan keji itu, aku kaget saat sebuah tepukan menadarat di bahuku. Kutatap orang yang telah menepukku, ternyata hanya seorang pelayan paruh baya. Bajunya menandakan ia berbeda dari para pelayan yang lain, sepertinya ia ketua pelayan di sini.
“Nona Naura, kenapa masih di luar kamar, ini sudah waktunya istirahat, dan nona harus tidur sekarang,” ia menatapku lembut, tatapan keibuan, bukan tatapan kasihan.
“Maaf, bi. Apa tidak ada kamar yang lebih kecil, aku hanya tak terbiasa dengan kamar seluas ini,” jujurku.
“Tidak ada nona, nona pucat sekali, apa nona susah tidur? Nona ingin minum coklat hangat, mungkin akan memudahkan nona untuk tidur,” si bibi terlihat khawatir.
Aku hanya mengangguk dan mencoba tersenyum lembut agar ia tak terlalu khawatir.
Kami menuruni anak tangga dalam diam, ternyata letak dapur cukup jauh dengan kamarku. Kuperhatikan seisi rumah yang sepi, meski rumah ini luas dan besar tapi, rumah ini seperti tidak berpenghuni.
“Apa rumah ini selalu seperti ini?” tanyaku memecah kesunyian.
“Maksud nona?”
“Sepi banget,”
“Benar nona, sejak tuan Bara ke luar negeri, rumah jadi sepi, ada penghuni namun seperti tak ada,” jelas bibi itu dengan wajah sedikit murung.
“Bara? Sepertinya, aku tidak ingat memiliki sepupu bernama Bara, siapa tuan Bara yang bibi maksud?” tanyaku sambil kembali mengingat sepupuku dari sebelah ibu.
“Mungkin tidak apa-apa jika saya bercerita tentang keluarga ini pada nona, toh nona keponaannya. Bara adalah tuan besar di rumah ini, beliau anak pertama dari Mrs. Nina dan Mr. Diko, sebelum akhirnya beliau meninggal, kemudian Mrs. Nina menikah kembali dengan Mr. Erwin, dan dari pernikahan mereka, lahirlah nona Nova,” kata bibi sambil membuat coklat hangat.
Aku bersandar di meja makan yang ada di dapur, merenungkan kata-kata bibi tadi. Aku baru tahu, ternyata om Erwin suami keduanya.
“Kalau saja tuan Bara masih di rumah, suasana akan hidup dan ramai, selalu ada keributan ringan antara tuan Bara yang mengusili nona Nova, dan disambut tawa ringan dari Mrs. Nina dan Mr. Erwin,” ia berhenti sejenak sambil terus mengaduk coklat hangat.
“Mrs dan Mr selalu menyempatkan diri untuk berkumpul di ruang makan, atau di ruang keluarga hanya untuk sekedar berbincang, meski pun dalam waktu singkat. Mereka begitu akur meski terlahir sebagai saudara tiri,” ia menatapku sejenak.
“Tapi, semenjak tuan pergi melanjutkan sekolahnya di luar negeri, rumah ini ya seperti sekarang ini,” jelas bibi sambil meletakkan secangkir coklat hangat dihadapanku.
***
Keluargaku dan tante Nina tidak begitu dekat, bahkan tante Nina pindah ke Bandung sejak kuliah, ia pun menikah tanpa menghubungi keluarganya, hanya saat menikah dengan om Erwin, aku dan mama diundang. Wajar saja aku tak tahu apa pun tentang keluarga ini.
Saat kutanyakan, kenapa ibu tak pernah memberi tahuku tentang tante Nina, ternyata jawabannya cukup mengejutkanku. Lain dengan tante Nina, lain pula ibuku. Ibu nikah lari dengan lelaki itu dan pergi dari rumah. Karena tindakan nekad itulah, ibu tak dianggap sebagai salah satu anggota keluarga Dermin.
Aku yang seharusnya memiliki kakek dan nenek serta seorang tante, harus hidup sendiri dengan keluarga yang tidak bahagia. Sampai suatu ketika, tante Nina mendatangi ibuku saat ia tahu bahwa adiknya tersebut tinggal di Bandung, tante meminta ibu untuk kembali dan meminta maaf kepada kedua orang tuanya, seperti yang sudah ia lakukan. Namun, ia menolak karena meskipun sering disakiti ayah, ibu tetap mencintai ayah.
Kisah keluarga besar Dermin yang menyedihkan, aku pun termasuk, meski sekarang aku memiliki tante dan merasakan kasih sayangnya, ak utetap terlihat menyedihkan. Ibu yang tidak dianggap oleh keluarganya sendiri, dan ayah yang membunuh ibu. Aku sungguh tidak menyangka, kehidupan yang semula baik-baik saja berubah hanya karena ayah mabuk. Sekarang aku bingung, apa yang harus aku lakukan?
“Nona, nona tidak apa-apa?” pertanyaan bibi membuyarkan lamunanku.
“Ah iya, bi. Aku nggak apa-apa kok,” kataku sambil meminum coklat hangat itu, enak.
“Kembalilah ke kamarmu, dan tidurlah. Selamat malam,” pamit si bibi sambil berlalu dari hadapanku.
“Bi, bolehkah bibi menemaniku tidur?” pertanyaan itu membuat bibi menghentikan langkahnya. Ia terlihat berfikir sejenak, namun detik berikutnya ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat. Meski ia hanya seorang pelayan, ia tidak menganggapku istimewa, mungkin karena ia memang memiliki rasa kasih sayang hingga ia tidak tega menolak pintaku.

Dua
Dua tahun kemudian…
Setahun yang lalu, kuputuskan untuk tinggal sendiri di sebuah rumah kontrakan. Jauh dari tempat tinggalku. Kupilih untuk hidup terpisah dari tante, ia bahkan memberiku sedikit dana untuk bisa hidup mandiri di kota ini. Om Erwin pun mendukungku untuk mengadu nasib di sini.
Aku mendapat pekerjaan sebagai wartawan di salah satu media online di kota ini. Sudah setahun lamanya aku bekerja di bidang ini. Pangkatku naik menjadi redaktur dengan cepat, tapi aku masih juga meliput berita.
Meski aku masih baru di bidang ini, tapi para senior menganggapku mampu dan sangat menghargai ide-ide yang kukeluarkan. Seperti saat ini, aku sedang beradu argument dengan para petinggi itu tapi, tak ada dari mereka yang merendahkanku. Keberanian beradu mulut dengan para senior itu dikarenakan aku diutus ke daerah kelahiranku yang sedang berkecamuk. Kabarnya ada wabah virus asing  yang menyebar di sana, membuat kami harus mengutus salah satu wartawan ke TKP, dan mereka memilih aku.
“Maaf, pak. Apa tidak bisa aku ditugaskan ke tempat lain? Setelah dua tahun berlalu, sungguh aku tak bisa kembali ke kota itu, aku masih belum siap. Bapak tahu bagaimana aku berusaha melupakan tempat itu. Aku mohon, pak. Aku mau di tugaskan dimana saja, asal tidak di kota itu,”
Kuusahakan suaraku selembut mungkin, meskipun aku masih sangat terkejut dengan tugas dari pak Darman ini. Setelah sekian lama, berfikir aku akan kembali ke kota yang menoreh luka yang sangat mendalam dihatiku, tidak pernah terbayangkan sedikitpun olehku.
“Kau tak sendiri di sana, Ra. Aku juga mengutus tim khusus untuk menemanimu. Aku tau ini berat bagimu, tapi kita tak punya pilihan selain mengirimmu ke sana,” katanya sambil masih sibuk dengan Laptopnya.
“Selain karena itu kota kelahiranmu, di sini hanya tersisa kamu seorang yang tak ikut tim satu ke New York. Aku mohon padamu, Ra. Aku janji, kami akan menjamin keselamatanmu di sana,” lanjutnya menatapku penuh harap, namun suaranya masih menyiratkan ketegasan.
“Tim khusus sebentar lagi datang, dokter yang kita sewa juga bersama mereka, aku hanya bisa berharap padamu, Ra. Mereka akan lebih mudah karena mereka bisa tinggal bersamamu di rumah kamu yang dulu itu, iya, kan,”
Kutatap pak Darman tak percaya, apa dia juga telah mengurus agar tempat yang kami tinggali di sana adalah rumahku?! Oh Tuhan!!
“Tenang, rumah itu sudah ku beli, jadi kita bisa aman, lagi pun, semua isi di dalamnya telah kurubah. Kau tenang saja,” katanya sambil tersenyum padaku.
“Aku me…” suaraku terputus saat segerombolan pria, dan seorang perempuan memasuki ruangan itu.
Sepertinya mereka adalah tim khusus yang dibicarakan pak Darman tadi, dan ada seorang dokter dengan dua asistennya yang sama-sama memakai baju putih.
“Roni! Akhirnya kau sampai juga. Silahkan duduk, kita akan bicarakan hal ini sambil minum, dan istirahat, santai saja,” pak Darman menyambut mereka dengan semeringah.
“Oia, sebelumnya, perkenalkan, ini Naura, penduduk asli kota itu,” lanjutnya sambil memperkenalkanku pada Roni, hmm.. masih cukup muda untuk seorang reporter profesional dan sukses.
“Roni,” katanya sambil mengulurkan tangannya.
Sejak kejadian keji dua tahun lalu, aku tumbuh menjadi wanita yang sangat membenci laki-laki tapi, aku dalam proses penyembuhan diri dari sifat itu.
“Naura,” balasku tanpa menerima jabatan tangannya.
Ia tersenyum sambil melihat tangannya yang tak kuterima.
“Kau tak sopan,” katanya terdengar sinis.
“Ouh.. maafkan perilakunya, dia memang seperti itu. Mari, silahkan duduk.”
Pak Darman membawa mereka duduk di meja rapat umum. Botol minuman mineral tertata rapi di atas meja, tak lupa juga sekotak cemilan.
Mereka membicarakan bagaimana agar kita bisa mendapatkan informasi tentang virus itu, dan dari mana asalnya. Virus yang masih belum diketahui apa namanya itu kini mewabah, dan memakan banyak korban di kota kelahiranku itu. Aku menyimaknya dengan seksama.
Setelah Roni dan yang lainnya setuju dengan usul pak Darman yang intinya, kami mencari informasinya dikalangan mereka yang terserang virus, dan yang belum terserang virus. Kami harus mewaspadai kontak fisik tanpa alas dengan mereka, apa pun yang terjadi, jangan sampai kami ikut terkena virus itu. Oleh karena itu, dokter khusus ahli dalam bidang virus, yang baru kutahu bernama Vidro diutus ikut bersama kami.
“Aku harap, kau Naura bisa membantu kami menunjukkan lokasi-lokasi tempat pengungsian, dan rumah-rumah para penduduk yang kau kenal, kau bisa, kan? Karena akan lebih mudah jika mereka mengenal salah satu di antara kita, mereka bisa berbica tanpa ada yang ditutupi,” Roni menatapku tajam.
“Akan kuusahakan,” jawabku nggak bersemangat.
“Baiklah, kita berangkat malam ini. Rasyid, temani Naura ke rumahnya untuk berberes dan kembali ke sini tepat jam sepuluh, rapat kita tutup,” kali ini pak Darman mengakhiri.
Mereka mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing, dan aku tak kenal siapa itu Rasyid. Dia yang di utus untuk membawaku ke rumah. Aku hanya bisa duduk terdiam di tempat.
“Ayo,” suara itu membuatku menegadahkan wajahku, dan aku cukup terkejut, karena yang bernama Rasyid itu adalah Salim, sahabat kecilku.
“Salim?!” tanyaku sedikit memekik kaget.
“Kita tak punya banyak waktu, Na. Kau bisa bertanya apa pun di mobil,” katanya sambil berjalan keluar kantor mendahuluiku.
Ia masih memanggilku dengan sebutan ‘Na’, ‘Nana’ adalah panggilanku sejak kecil, dan saat pindah, aku menggantinya dengan sebutan Rara. Kuikuti langkahnya yang cukup cepat. Ia masih tak berubah, hanya badannya yang semakin tinggi dan atletis, dan penampilannya jadi sedikit berantakan.
***
“Kami tim khusus yang selalu di sewa untuk mencapai berita sejenis ini, kami juga tidak berusaha untuk mendominasi pihak yang menyewa jasa kami, jika pun kami tak di sewa, kami tetap meneliti dan mencari informasi berita itu, hanya untuk sebuah kepuasan, dan bisa meliris buku baru,”
Jelasanya saat kutanya, tim khusus apakah mereka? Jenis pekerjaan seperti apa yang dijalaninya.
“Kami tak takut mati, Na. Kami akan melakukan apa saja demi untuk mendapatkan berita yang akurat, meskipun nyawa taruhannya,”
“Apa berita yang ada dalam buku ‘Burung Palestina’ itu kalian yang liput dan tulis?”
“Iya, tapi kami tetap memakai nama yang kami setujui, Gerhana,”
“Iya, buku itu pengarangnya Gerhana, aku pikir itu nama orang, ternyata nama tim,”
“Iya, begitu lah. Sekarang, giliran aku yang bertanya, kenapa kau bisa jadi pembina kami?” tanyanya penuh penekanan. Ia melirikku sejenak sebelum kembali fokus mengemudikan mobilnya.
“Tim yang lain sedang di luar kota, karena aku satu-satunya yang tinggal, jadi aku yang harus ikut jadi pembina kalian,” jawabku seadanya.
“Kenapa tak kau tolak?!” nada bicara Salim mulai meninggi.
“Udah, tapi tetap saja pak Darman seperti itu,” jawabku menunduk.
“Kau yakin tidak apa-apa?”
Kualihkan pandangaku menatap Salim yang masih fokus menyetir.
“Kenapa?” tanyanya yang sadar dengan tatapanku dan tak menjawab pertanyaannya.
“Aku tak tahu, Lim. Mungkin ini salah satu cara agar aku mampu terlepas dari bayangan itu, mengalahkan rasa takutku sendiri,” kualihkan pandanganku ke luar jendela mobil.
“Seandainya aku bisa jujur dimana tempat tinggalku, pasti kau takkan diikut sertakan ke sana,” gumamnya nyaris tak terdengar.
“Maksudmu, mereka tak tahu kalau kau juga berasal dari kota itu?”
Salim hanya menggukkan kepalanya. Oh Tuhan!
“Sesampainya di sana, jika para tetangga di sekitar rumah tak berubah, mereka pasti akan mengenalmu,”
“Aku tak ikut ke sana, Na,”
“Apa?!”
“Aku hanya di tugaskan untuk menerima liputan dari sana,”
“Kau serius tak ikut?! Salim, please… ikut lah,” kataku sedikit memelas.
Aku dan Salim Ar-Rasyid hidup bertetangga, kami bersahabat sejak kecil, dan setelah tragedy itu, aku ikut tanteku, kemudian pindah ke kota ini. Dua tahun tak bertemu, tanpa komunikasi dan berita apapun, kami dipertemukan dalam situasi yang seperti ini, pun begitu, dia masih tetap sahabatku, dan betapa leganya aku saat kutahu dia bagian dalam tim khusus itu. Tapi, kenapa dia tidak ikut, aku tak bisa membayangkan, apa aku sanggup ke sana sendirian.
“Maaf, Na, aku tak bisa,”
“Kau tega membiarkanku sendirian di sana?!”
“Kau tak sendiri, Na,”
“Lim!”
“Kita sudah sampai. Turun lah, dan berkemas, akan aku jemput satu jam kemudian,” katanya tanpa menlihatku.
Aku keluar dari mobilnya tanpa berkata apapun.

***
Perjalanan menuju kotaku memakan waktu sekitar sepuluh jam, jadi kalau berangkat jam sepuluh, maka pagi kami akan sampai di tempat tujuan. Aku dan Salim kembali ke kantor, kulihat Salim mulai berbicara dengan salah satu staff di kantor, karena bosan menunggu yang lainnya, kulangkahkan kakiku menuju beranda kantor di lantai dua, udara malam ini cukup dingin.
“Sepertinya kau begitu special bagi Rasyid, sampai-sampai ia mau ikut serta ke kota itu. Aku bingung, apa kamu juga tertarik sama Rasyid pada pandangan pertama? Seperti aku,” Roni yang tak kusadari sudah berdiri disisiku membuatku sedikit terkejut dengan semua kata-katanya yang membingungkan.
“Thanks, karena sudah merubah pikiran si jenius bodoh itu,” Roni tersenyum tipis sampai aku ragu, apa itu senyuman atau bukan. Tunggu!
“Apa?! Salim, oh maaf, maksudku Rasyid ikut kita ke kota itu?” kutatap Roni kesal, apa ada yang lucu di sini hingga pria itu tertawa.
“Kamu itu loding banget, dasara!” pria itu menyentil keningku hingga membuatku meringis sakit, dasar pria sakit jiwa!
Rasyid bersikeras untuk tidak ikut serta, ia hanya tinggal di sini, dan menunggu berita dari kita, tapi tiba-tiba ia memutuskan untuk ikot, saat kutanya alasannya apa, ia tak menjawabnya,”
“Kenapa ia bisa berubah fikiran?” lirihku penasaran.
“Mungkin karena kamu, Na,” Roni menatapku lembut. Panggilannya itu membuatku menatapnya curiga, kenapa ia tahu nama kecilku, siapa ia sebenarnya?
 “Aku sahabatnya, Na. Tidak ada rahasia antara aku dan dia, termasuk tentang kamu. Mungkin ada baiknya jika dia ikut, paling tidak, kamu tidak benar-benar merasa sendiri,” ujarnya tersenyum ramah.
Senyum ramahnya mampu membuatku ikut tersenyum. Ah, ternyata Salim memiliki sahabat yang baik.
Percakapan kami berakhir karena tim sudah berkumpul dan siap berangkat.

Tiga
Sepanjang perjalanan, aku terus berdoa. Salim terlelap di sampingku. Kuperhatikan wajahnya yang terlihat lelah. Sebelum memutuskan berangkat, ia mengatakan padaku agar aku tak pernah jauh dari jangkauannya. Ia juga berjanji akan melindungiku. Aku sangat bersyukur dengan adanya dirinya disisku sekarang.
“Berhenti menatapku seperti itu, kau akan membuat yang lainnya salah faham,” katanya sambil sedikit tersenyum. Dari dulu tak pernah berubah, selalu bisa merubah moodku dengan sesuka hatinya seperti ini, ia sungguh membuatku jengkel, namun, aku tidak bisa benar-benar marah padanya, malahan sekarang aku ikut tersenyum.
“Biarkan saja mereka salah faham, aku tidak keberatan,” kataku sambil merebahkan kepalaku di kursi dan mulai memejamkan mataku.
“Kau tidak, tapi aku keberatan, kau tahu,” katanya lagi dan aku memilih mengacuhkannya.
Jujur, sepanjang perjalanan aku tidak bisa tidur, meski mataku terpejam, aku masih bisa merasakan dan mendengar apa saja yang mereka bicarakan. Ada yang bertanya sampai kapan kita akan di kota berwabah virus itu? suara yang kukenal sebagai Roni mengatakan bahwa waktunya tak terbatas. Itu artinya, aku tetap di sana hingga aktu yang tak terbatas.
Ada juga yang bertanya, bagaimana jika salah satu di antara kita terjangkit virus tersebut? Roni kembali menjawab akan diusahakan untuk dia bisa mendapatkan penawarnya, ia juga berjanji akan mencari obat penawar jika virus tersebut sudah diketahui berasal dari mana.
Tanpa kusadari, hari sudah pagi, mungkin aku sempat tertidur, karena saat Salim membangunkanku, aku sedikit terkejut. Salim menatapku tenang, ia mengatakan bahwa kami sudah berada di depan rumah.
Aku mengikutinya turun dari Bus, kulihat rumah bertingkat dua itu, masih sama, hanya warnanya yang berbeda. Kapan pak Darman persisnya membeli rumah ini?
***
“Kita bagi menjadi tiga tim, aku, Salim dan Vidro jalan di sela-sela kota sebelah kiri, Damar, Andre dan Sinta di sebelah kanan, dan Hido dan Gon tinggal di sini dan pantau situasi yang telah kita letakkan CCTVnya, kita gerak sekarang,” kata Roni sebelum membubarkan rapat pagi.
Aku masih sedikit pusing, tapi kupaksakan untuk ikut mereka. Salim dan Roni masih sibuk bertanya ke penduduk sekitar, aku hanya diam. Selama sepuluh menit aku tidak bicara, hanya Salim dan Roni yang masih antusias. Aku merasa sedikit mual hingga permisi ke toilet yang ada di sekitar daerah itu.
“Kau tau, Bar, penduduk di sini sudah sangat menipis, apa tidak sebaiknya kita percepat saja penyelesaian pembumi hangusan mangsa kita di kota ini? Dengan begitu, kita bisa lebih cepat membangun kota baru, seperti yang kau mau,” penjelasan dari suara perempuan itu terdengar jelas ditelingaku, langsung kuaktifkan record di rekaman kaca mata yang kupakai.
“Belom saatnya adik kecilku, masih ada yang harus kuselesaikan sebelum menghancurkan mereka semua. Manusia biadab seperti mereka tidak akan ada lagi di kota ini, kupastikan itu. tapi, sebelumnya, kita selesaikan urusan kita dengan dewan tikus itu, setelah dana itu cair, semua akan selesai lebih cepat dari yang kita duga,” suara baritone itu terdengar dingin dan kejam.
Hahaha
Tawa perempuan dan beberapa suara lelaki itu terdengar mengerikan, mereka mampu membuaku merinding, dengan cepat aku keluar dari toilet kotor itu dan langsung menemui Roni dan Salim yang duduk tidak jauh dari toilet tadi. Begitu pantatku mendarat di sisi Salim, langsung kumasukkan heatset ke telinga Salim dan juga Roni, mereka sempat terkejut karena sikapku, tapi aku hanya member isyarat agar mereka diam dan mau mendengarkan hasil recorderku.
Wajah ke dua pria itu mengeras, terlihat jelas mereka sedang marah. Setelah mendengarnya, keduanya melihatku penuh selidik.
“Mereka ada di belakang sana,” tunjukku ke arah tempat aku mendengar percakapan itu.
Ke dua pria itu langsung bangun dan mendatangi tempat itu, aku hanya bisa mengikuti mereka dalam diam, jujur aku takut, tapi apa daya, aku lebih takut jika di tinggal sendiri.
Aku tak menyangka mereka masih di sana, ku perhatikan wajah mereka dengan seksama, mereka berempat, dan dua diantaranya adalah wajah yang sangat familiar bagiku. Itu adalah Bara dan Nova, dua sepupuku, ngapain mereka di sini? Pikiranku mulai tidak tenang.
“Siapa kalian?” lelaki berambut panjang menatap kami tajam.
Jelas mereka tidak mengenaliku, karena aku memakai masker penutup mulut.
“Aku dan ke dua temanku di sini ingin menanyakan apa yang baru saja kalian bicarakan. Apa maksud kalian membumi hanguskan manusia yang ada di kota ini?” Roni bertanya tanpa ada rasa takut sedikit pun.
“Ouh, jadi kau nguping pembiaraan kami? Berani banget kau?! Kau tidak tau siapa aku?!” pertanyaan si rambut kriting terdengar mengejek.
“Siapa pun kalian, kalian tidak berhak mengambil nyawa seseorang seperti itu,” Salim berjalan mendekati mereka tapi, Roni menahan agar Salim tidak melangkah lebih jauh.
“Aku berhak atas setiap nyawa manusia di kota ini,” Bara menatap Salim tajam.
Astagfirullah, apa itu Bara yang aku kenal, yang selalu mengajarkanku tentang kemanusiaa n dan perdamaian? Bara yang selalu menemaniku meski itu hanya sebatas via telepon atau vidio, Bara yang kukenal penyayang, ramah, dan taat beribadah. Kenapa ia bisa berkata seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi?
“Oke, mari kita berdamai saja, aku tak tahu apa alasanmu hingga kau membuat virus mematikan itu tapi, kami tidak akan membiarkan hal itu terus berlanjut,” Salim kembali mendekati Bara, kali ini Roni pun melakukan hal yang sama. Bara masih tenang, si rambut keriting dan Nova terdiam bagai batu sedangkan si rambut panjang masih duduk manis dengan sebatang rokok di jarinya.
“Siapa yang membuat virus mematikan itu?” Roni menatap mereka satu persatu, suaranya yang tajam dan dingin mampu membuatku merinding namun, tidak bagi wajah Bara dan teman-temannya, mereka masih tenang dan santai, terlalu santai bagi penjahat yang tertangkap basah.
“Aku,” belum habis buluku merinding, kini aku membatu setelah mendengar jawaban tenang Bara itu.
***
“Aku yang membuat virus itu. Kalian tenang saja, virus itu hanya berlaku di kota ini, jika ada yang dari kota ini keluar kota, maka orang-orang di luar kota ini tidak akan terjangkit,” penjelasan Bara membuat Salim dan Roni mengerutkan keningnya, bingung, begitu pun aku.
“Aku hanya menyetel virusnya agar berfungsi di kota ini, karena hanya penduduk di kota ini saja yang ingin kubasmi. Membersihkan orang-orang biadab itu dan menggantinya dengan manusia-manusia yang penuh kebaikan, bukannya itu hal baik? Oh ayolah, kalian juga tak ingin ada orang jahat di atas permukaan bumi ini, iya, kan? Atau aku salah?” Bara tersenyum licik dan meremehkan, ia memandang kami dengan tatapan tajamnya.
“Kau salah. Kau bukan hanya salah tapi berdosa. Tak semua dari penduduk ini jahat, masih ada kalangan anak-anak, perempuan, tua renta,..”
“Bulshit! Persetan dengan anak-anak atau pun perempuan, nenek atau kakek, keturunan para bajingan yang tidak tau siapa itu tetap akan musnah, dengan begini, tak ada lagi penurus kejahatannya,”
“Kau salah Bara!” air mata yang sedari tadi kutahan kini mengalir tanpa seizinku hingga membuat suaraku serak.
Terlihat jelas keterkejutan yang ada di wajah Baryang, kulirik Roni dan Salim  juga ikut terkejut, pun dengan teman-teman Bara dan Nova. Kulepaskan maskerku, kutatap Bara dan ia pun kini menatapku terkejut. Kulirik Nova yang berdiri di belakangnya, gadis itu hanya menundukkan kepalanya setelah sebelumnya menatapku dengan mata bulatnya.
“Nana?! Apa itu kamu?” suara lembut itu semakin membuatku sakit, ekspresi Bara yang menatapku lembut membuatku kecewa.
“Iya, ini aku, Bar,” suaraku masih serak.
Ia berjalan melewati Roni dan Salim, terus berjalan hingga ia berada tepat dihadapanku. Ia masih menatapku, tapi tatapannya berubah sendu, aku terkejut, dan semakin terkejut saat ia menyentuh kepalaku.
“Aku belum selesai membersihkan kotamu, Na, kenapa kamu sudah di sini? Apa yang terjadi? Apa kamu tidak trauma lagi? Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku? Kamu menghilang sejak setahun yang lalu, kamu tak pernah menghubungiku lagi, kenapa?” pertanyaan bertubi-tubi yang keluar dari bibirnya yang bergetar membuatku terduduk lemah.
Salim dan Roni langsung mendekatiku.
“Apa yang terjadi? Apa yang ia ucapkan, Na?” Salim menyentuh bahuku, ia menatapku khawatir.
Aku tersenyum sendu, kuusahakan agar kakiku tidak lemas, aku mulai berdiri dibantu Salim, Bara masih menatapku sambil tersenyum sendu. Aku pun ikut menatapnya, apa yang ia katakan tadi? Ia belum selesai membersihkan kotaku? Ia melakukan itu untukku? Tapi, kenapa? Untuk apa?
“Aku nggak mau kalau kamu nggak bisa kembali menginjakkan kakimu lagi di sini, jadi kuputuskan untuk membersihkan mereka semua, karena aku tidak tau siapa si bajingan yang telah membuatmu setroma itu. Aku tidak punya pilihan lain, Ra,”
Kugenggam lengan Salim kuat-kuat, aku sungguh tak sanggup berdiri sendiri saat ini. Salim ikut membantuku dengan menguatkan pegangannya di bahuku.
“A…aku…”
“Kamu tidak perlu mengatakan apa pun, Na. Semua ini akan selesai setelah gubernur itu mencairkan dananya, setelah itu, kota ini akan bersih kembali, Na, dan..”
“SUDAH CUKUP!” teriakanku membuatnya terdiam. Ia membatu, wajah putihnya semakin pucat saat mendengar teriakanku.
“Aku tidak pernah memintamu untuk melakukan semua ini, Bar! Aku sudah sangat sehat sekarang ini, bahkan aku mampu ke sini lagi! Aku bahkan berencana mengabarimu setelah kepulanganku nanti, aku ingin membuatmu bangga karena punya adik yang sanggup bangkit lagi, aku…” isakkan membuatku tak mampu melanjutkan kata-kataku.
Aku menangis sejadi-jadinya, aku tak tahu harus bagaimana? Di satu sisi, aku sangat kecewa padanya, di sisi lain, ia melakukan ini dengan niat baik itu, hanya saja caranya yang salah.
“Katakan padaku, Na, apa aku salah?” pertanyaan lirih itu membuatku menatapnya yang juga mulai menangis.
“Iya, Bar, kamu salah,”
PLAK!



Empat
PLAK!
Nova mendekatiku dan langsung menamparku, pipiku panas.
“Hei, apa-apaan ini!” Salim tidak terima.
“Kau tau apa yang sudah dilakukan kakakku demi kamu?! Ia dibutakan dendam?! Aku memang mendukungnya seperti ini karena kalau tidak, ia akan merekrut orang yang lebih gila dari si kribo di belakang itu, dan si psyco berambut panjang! Aku yang meracik virus itu dan Bara membuat Systemnya sedangkan si kribo yang menyebarkannya ke udara, si psyco yang mengontrol atasan. Aku membuka semua ini karena aku tak punya alasan untuk menutupinya lagi.Kau tahu, Na, kau yang bersalah di sini, jadi jangan salahkan kami!Oia, tanpa kalian sadari, kalian pun telah mengidap virus itu sejak pertama kali kalian memasuki kota ini tanpa masker di mulut kalian,”
Penjelasan gadir berambut panjang itu mampu membuatku terbelalak, pun dengan Salim dan Roni yang ada di sampingku.
“Aku nggak mau rencana ini batal hanya karena kau sudah sembuh, aku akan lakukan apa pun agar semua ini berhasil, kalau tidak, aku akan kehilangan dolarku yang sudah aku keluarkan untuk semua ini, aku akan rugi besar tentunya,” lanjut Nova santai kembali duduk dan bersandar di bahu si psyco berambut panjang yang disebutnya tadi.
“Nova,” lirih Bara yang masih bisa kudengar.
“Apa?! Kau mau apa lagi, kak?! Aku udah ngorbanin semua tabungan aku buat ngeracik virus itu, aku ikut aturanmu, tidak memakai uang papa sedikit pun, aku juga udah ngebantu kamu …”
“Udah cukup, Va. Aku tidak ingin ada pertengkaran diantara kita. Aku akan membayar semua uang yang kau keluarkan, dan masalah si gubernur itu, aku yang akan mengurusnya, dan kau kribo dan Pscyo, kembalilah ke Negara kalian, akan ku pastikan kalian aman,” kata Bara tenang sambil berjalan mendekatiku, membuka jasnya dan memasangkan jas itu padaku, otomatis Salim melepas pegangannya di bahuku.
Nova menatap Bara tak percaya, ia menghembuskan nafasnya kesal sebelum pergi meninggalkan kami, pun dengan pria kribo dan psyco yang mengekori Nova dari belakang. Bara membimbingku duduk di kursi, Salim dan Roni ikut duduk.
***
“Ini penawar virusnya, minumlah,” Bara memberiku botol kecil berisi air putih, aku tidak tau itu air putih mineral biasa atau bukan, yang pasti, aku masih percaya Bara. Ia langsung memerintahkan teman-temannya untuk berhenti bertindak setelah kehadiran diriku. Kuputuskan  mengambil botol itu dan hendak meminumnya, tapi tangan Salim menghalangiku. Kulihat Salim yang menatapku sambil menggelengkan kepalanya.
“Kita sebaiknya menunggu Vidro, aku sudah menguhubungi mereka agar berkumpul di sini,” kata Roni menjawab pertanyaan yang sempat muncul di kepalaku.
Kulihat wajah Bara masih tenang dan menatapku hangat, ia tidak tersinggung sedikitpun dengan ucapan Roni
“Kamu tau, Na, aku melakukannya untukmu, seandainya kamu tidak hadir di sini, mungkin aku akan terus terperosok jauh ke dalam dendam itu,” tulus ucapannya membuatku tersenyum.
“Aku…aku berterima kasih karena kamu ingin melakukan sesuatu untukku, namun sangat disayangkan caramu itu salah, aku kecewa, tapi aku senang kamu bisa membuatmu berhenti melanjutkan tindakan itu,” kataku menatapnya lembut.
“Kamu memang adikku paling hebat, aku menyangka akan membuatmu bahagia, jika kotamu ini bersih dari penduduk aslinya, tapi nyatanya aku salah, entah setan apa yang telah merasukiku hingga bertindak seperti itu, kamu tau, Na, Nova sempat menahanku untuk melakukan semua itu, sebelum akhirnya ia setuju untuk membantuku,” suaranya berat, serat penyesalan.
“Penggaruhmu begitu kuat padaku, Na,” lanjutnya sambil mendorong ringan kepalaku. Tawaku akhirnya keluar juga.
“Apa yang terjadi di sini? Di mana obat penawarnya?” pertanyaan Vidro yang tiba-tiba sudah hadir dengan tim lainnya pun membuatku dan Bara ikut menghentikan percakapan kami.
Roni memberikan botol yang tadi diberikan Bara ke aku. Vidro membukanya dan mencium baunya, ia tersenyum dan mengatakan bahwa itu hanya air miniral biasa. Kami semua kompak melihat Bara, pandangan meminta penjelasan terlihat jelas dari wajah kami.
“Ehm, penawarnya memang hanya air mineral biasa. Virus yang tersebar melalui udara kota ini juga sudah mencemari airnya, jika meminum air mineral yang datang dari kota lain dengan lebel yang masih utuh, maka dengan sendirinya ia akan sembuh dari virus itu, tapi…” ia menatap kami satu per satu.
“Selama kalian masih di sini dan menghirup udaranya, kalian akan terus terkena virus itu, meski pun airnya menyembuhkan, tapi hanya sementara sebelum kalian menghirup udara di kota ini lagi,”
Kami saling pandang.
“Lalu? Buat apa kau memberikan penawar tidak berfungsi seperti ini? Virus jenis apa itu, Bar?”
“Virus BA, Black Air. Setelah kalian meminumnya, aku hanya akan menghidupkan system udara baru di sekeliling kalian, dengan begitu kalian aman,”
Hening.
“Bagaimana dengan penduduk di sini? Apa kau bisa menyembuhkan mereka dari wabah virus kau itu?” Vidro bertanya sambil menatap Bara tajam.
“Aku tidak tahu, persediaan air bersih ini tidak banyak,”
Bara merogoh saku jas yang ada padaku, ia mengeluarkan sebuah benda tipis berbentuk persegi, terlihat seperi handphone, tapi tidak, itu bukan telepon genggam. Benda itu bisa mengeluarkan layar tanpa ada penyangga, dengan gerakan cepat, Bara mengoprasikan benda tersebut, tangannya dengan cekatan menekan beberapa tombol yang ada di layar tembus pandang itu.
Beberapa menit tak ada suara yang keluar dari mulut kami. Kegiatan Bara yang masih sibuk dengan benda itu mampu menyita perhatian kami lebih jauh. Keringat dingin keluar dari pelipisnya. Wajahnya begitu serius.
“Nova sudah membersihkan virus di udara kota ini, prosesnya memang cepat, karena selain air, udara sendiri juga bisa menjadi penawar, hanya saja, Nova yang bisa menguasai hal itu. Aku baru saja memberinya perintah untuk mengubah udara di kota ini, dengan begitu, sistemku bisa bekerja untuk menyembuhkan mereka,”
Penjelasa Bara sambil tersenyum itu membuat kami bernafas lega. Meskipun aku tidak mengerti bagaimana cara para jenius itu bekerja, tapi aku bersyukur bisa menghentikan mereka berbuat lebih jauh lagi.
***
Matahari masih bersinar dengan teriknya, namun udara yang kami rasakan di sini sangat dingin, kami sampai harus memakai jaket, itu yang kami rasakan sebelum beraksi tadi, tapi sekarang,  udara yang kami rasakann sesuai dengan terik matahari, hangat.
Setelah mendengar penjelasan dari Bara, Vidro ikut duduk disampingku, ia mengeluarkan alat pendeteksi virus dari dalam tas kecil yang dibawanya. Pria berkaca mata itu memasukkan benda itu telinganya, setelah beberapa detik, benda itu dikeluarkan dari telinga, terlihat dua garis biru di layar kecil yang ada di dalam benda tersebut.
Kulihat Vidro tersenyum, ia menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya menatap kami, satu per satu.
“Kita selamat, begitu pun dengan mereka,”
Vidro membuatku tersenyum senang dan lega mendengarnya. Kulihat Sinta, Andre, Hido, Gon, dan Damar ikut tersenyum, tapi senyum itu sepertinya tidak tertular pada Salim dan Roni. Mereka menatap Bara dengan tatapan dingin, ada apa dengan ke dua pria ini?
“Bagaimana, Ron?” suara Salim memcahkan keheningan yang sempat terjadi beberapa menit yang lalu.
“Meski pun aku tidak mengerti system apa yang kau gunakan, aku ingin kau membuktikan bahwa penduduk di sini telah aman,” kata Roni dingin.
“Kau bisa membuktikannya dengan cara yang dilakukan pria itu tadi,” jawab Bara tak kalah dinginnya.
“Sudahlah, tidak bisakah kau mempercayainya, Ron?” aku tidak tahan dengan kecurigaan yang Roni lemparkan pada Bara, bagaimana pun, Bara telah meruntuhkan rencananya untuk membunuh semua penduduk kota ini.
“Baiklah, aku akan berusaha percaya,” meski begitu, Roni masih menatap Bara dengan tatapan tidak suka.
“Apa semua bisa terjadi semudah itu?” kali ini Salim yang masih menaruh curiga.
“Iya,”
“Polisi telah mengamankan gubernur yang juga terlibat dalam hal ini, kau juga akan di tahan, Nova adikmu, si rambut lurus dan si kribo juga telah ditangkap, kalian haru menebus kesalahan kalian, bagaimana pun kalian tidak bisa bebas begitu saja, kalian tidak tahu berapa nyawa yang hilang karena ulah kalian,” tak kusangka Roni mengatakan semua itu.
“Aku akan menebus kesalahanku, akan kutanggung semuanya tapi, aku minta satu hal, jangan libatkan Nova dan Kribo dalam hal ini, mereka tidak bersalah, aku lah yang patut menerima semua ini,”
“Tidak bisa, mereka tetap ikut bersamamu ke penjara,” tegas Roni.
Keheningan kembali menyelimuti kami, aku menatap Bara yang tertunduk lemas. Kugenggam tangannya erat, ia beralih menatapku, mata safirnya menatapku lembut.
“Semua akan baik-baik saja,” senyumku mampu membuatnya ikut tersenyum.


TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar