Selasa, 04 Desember 2012

Rintihan

Hatiku mulai menangis sendu, air mataku terus mengalir tanpa henti. Aku terduduk di sisi pusara yang masih sangat basah itu. Aku masih menangis namun tak bersuara. Ku sentuh pusara itu dengan lembut,
            “Zhafran, mari kita pulang.” Tepukan di bahuku membuatku terisak.
            “Zhafran…” suara lembut dan halus itu semakin membuatku tak mampu berhenti menangis.
            Dan di sepersekian menit kemudian, mereka meninggalkanku sendiri.
            “Ma…” suaraku begitu berat dan lirih, aku tak mampu mengeluarkan suara. Relung hatiku dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan yang luar biasa. Aku hanya mampu terisak sambil terus menatap pusara itu.
            Pusara di mana mamaku dimakamkan. Mamaku yang mengasuhku sedari kecil itu kini tak lagi bernafas, tak lagi bersuara, tak lagi bergerak. Mamaku yang sempat kumaki karena perbuatannya yang tak senonoh, yang selalu pulang-pergi tengah malam, yang sempat kunasehati dengan kasar karena terpancing oleh emosiku yang begitu memblundak karena pelanggarannya terhadap agama dengan berduaan di dalam rumahku dengan lelaki asing.
            Mamaku yang terima ku maki, ku nasehati dengan kasar demi anaknya tidak khawatir akan penyakitnya yang begitu parah, demi menyembunyikan penyakit penyebab kematiannya hari ini. Demi semua itu, ia tak pernah marah padaku, ia tak pernah membenciku, ia tak pernah memukuliku.
            Lelaki asing yang sempat membuatku marah besar itu ternyata dokter yang selama ini merawatnya, oh, betapa tak perhatiannya aku, oh, betapa tak pedulinya aku, oh Tuhan. Aku kembali merintih dia atas pusaranya.
            Aku ingin agar waktu bisa berputar kembali, kembali ke masa di mana aku begitu sibuk dengan pekerjaanku, begitu sibuk dan tergila-gila dengan uang, hingga aku jarang bersamanya, jarang memperhatikannya di masa-masanya menahan kesakitan akibat penyakit kanker otak stadium 3 itu.
            Oh Tuhan…
            Bahkan aku tak ada disisinya saat ia melepas nafas terakhirnya…
            Betapa rakusnya aku akan kemewahan dunia ini, hingga meninggalkan seseorang yang lebih berharga dari apapun di dunia ini. Penyesalanku yang begitu besar pun takkan mampu mengembalikan waktu-waktu itu.
            “Mama…” suaraku semakin berat, hingga tak ku dapati secercah cahaya pun di sisiku.

                                                                                                                       
                                                                                                            The end

                                                                                                                                    Sky lovers
           
           

           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar