Kamis, 06 Desember 2012

Pesan tersirat

Belum terlalu lama Fajri meninggalkanku, ia kembali lagi ke hadapanku.
"Za, kalau ntar nyokap ngusir gua, gua tinggal di rumah loe ya, please...sekali ini aja, ya." katanya memelas.
"Iya. Udah, loe jujur aja dulu sama ngokab loe, urusan gimana reaksi nyokap loe ntar, itu urusan belakangan."
"Iya, bro. Udah, cepetan gih, sebelum ngokap loe pergi." kali ini Ammar menimpali perkataanku.
"Ok!"
Akhirnya, Fajri kembali berlari mengejar langkah mamanya yang baru saja meninggalkan gedung sekolah kami.
Ceritanya, mamanya Fajri di panggil ke sekolah, karena Fajri jarang masuk sekolah, padahal, dia selalu berangkat pagi-pagi sekali dari rumah menuju sekolah, namun, ternyata Fajri tidak ke sekolah, melainkan ke tempat rehabilitas untuk mengurus pacarnya.
Aku dan Ammar sudah berulang kali memperingatinya untuk fokus belajar dan membiarkan pacarnya di urus oleh pengurus di sana, dan dengan tegas juga Fajri mengatakan "Aku yang bertanggung jawab atas dirinya sepenuhnya.".
Wajar ia mengatakan seperti itu, karena Fajri lah yang memperkenalkan barang haram itu ke Nina, dan Nina mulai ketagihan hingga tak bisa hidup tanpa barang itu, lain halnya dengan Fajri, cowok gondrong itu juga memakainya, namun ia tak begitu parah, Fajri masih bisa hidup tanpa barang itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar