Selasa, 28 Juli 2015

Senyum Inspirasi

Satu
“Putra!!! Kembalikan buku gambarku!!” teriakan Riana membuat seisi kelas tertawa.
Mengapa tidak, Putra memampangkan dengan jelas apa yang di gambar Riana di dalam buku gambarnya, dan sungguh itu adalah gambar terjelek yang pernah mereka lihat
“Ria!! Kenapa kamu bisa masuk kelas khusus menggambar ini?! Gambarmu saja tidak jelas begitu!! Hahaha…” kata seseorang yang duduk di kursi paling depan
“Pasti karena dia ikut-ikuttan, kan, hahaha.” Sambung yang lainnya.
Riana hanya terdiam.
“Benarkan, Ri. Udah lah, kamu tak pantas ada di dalam kelas ini, kamu keluar saja. Hahaha” kata yang lainnya.
“Buat malu kelas khusus ini saja!! Hahaha.”
Ejekan demi ejekan terus saja menghujani Riana yang masih duduk diam tak menyahut apa pun.
“Kalian yang tak tahu arti dari sebuah gambar, jangan banyak ngomong.” Suara ‘dingin’ itu membuat seisi kelas menatap ke kursi paling belakang yang di duduki pria paling ganteng seantero SD ‘Hirata’ itu, Jun.
“Putra, kembalikan buku gambarnya. Apa kalian tahu arti dari gambar yang kalian sebut tak jelas itu?” suara datar itu di sambut gelengan kepala dari teman-temannya yang lain.
Jun bangun dari duduknya, mendekati Putra danmengambil buku gambar milik Riana, kembudian menggambarnya di kanvas besar milik bu guru yang ada di depan kelas.
Seisi kelas terdiam, termasuk Riana. Ia tak menyangka, Jun membelanya. Mereka memperhatikan apa yang Jun gambar di kanvas besar itu, dengan cekatan, Jun memindahkan gambar yang ada di buku gambar Riana ke kanvas, di warnainya beberapa bagian yang menurutnya harus di warnai.
Setelah selesai menggambar, Jun memperlihatkan isi dari buku gambar Riana dan mendampinginya dengan gambar yang ada di kanvas.
“Kita memang belum mempelajari bagian gambar ini, tapi inilah gambar yang di sebut gambar abstrak. Tak bisa di baca apa maknanya, kecuali kita menelitinya secara mendalam.”
Penjelasan Jun membuat yang lain terkagum, bahkan ada yang sampai melongo. Jun berjalan ke meja Riana, dan mengembalikan buku gambarnya.
“Aku pernah dengar gambar yang di sebut abstrak itu, tapi gambar Riana sama sekali tidak jelas, Jun. Memang sedikit mirip dengan gambar di kanvas, tapi gambar Riana memang nggak jelas sama sekali.” Kata Putra sambil duduk di atas mejanya.
“Itu karena kamu merebut buku gambarnya saat ia belum menyempurnakan gambarnya. Benar, kan, Ri?” kali ini Jun menatap Riana meminta persetujuan.
Riana hanya mengangguk, suaranya tak bisa keluar, karena sekarang Jun berdiri di dekatnya.
“Apa yang kalian ributkan ini, hah?! Mana gambar kalian, apa sudah selesai?!” kata bu Hani sambil berkacak pinggang di depan pintu kelas.
Langsung saja mereka kembali duduk di kursinya masing-masing.
“Kumpulkan gambar kalian sekarang.” Perintah itu membuat seisi kelas riuh, dan segera menyelesaikan tugas mereka.
Hanya Jun yang mengumpulkan gambarnya dan segera keluar dari ruangan itu. Tak lama kemudian, yang lain pun menyusulnya.

***

“Jun! Apa benar yang di gambar Riana itu adalah gambar abstrak?” tanya Putra yang sudah bisa menyamakan langkahnya dengan Jun.
Jun hanya menganggukkan kepalanya.
“Wah, Aku malah menertawakan gambarnya.” Sesal Putra sambil mengambil membuka kunci gembok di jari-jari sepedanya.
“Salah sendiri.” Kata Jun yang juga melakukan hal yang sama.
“Besok aku minta maaf, deh.” Kata Putra menggulumkan senyumnya.
“Aku juga, deh, Jun.” kali ini Gina ikut nimbrung.
“Kita juga akan minta maaf besok.” Kata yang lainnya yang juga sedang mengambil sepeda mereka di parkiran sekolah.
“Bagus lah.” Kata Jun ikut tersenyum sebelum akhirnya menjalankan sepedanya.
Tanpa di komando, yang lainnya pun mengikutinya keluar dari sekolah dan pulang ke rumah mereka masing-masing. Tanpa mereka sadari, di tempat yang tak jauh dari mereka, Riana sedang menatap mereka sedih.
“Pak Wirawan, apa ini tidak begitu tiba-tiba?” pertanyaan bu Hani hanya di sambut senyuman dari ayahnya Riana itu.
“Maafkan saya, bu. Kami tahu ini begitu tiba-tiba, tapi kami harap, ibu bisa memakluminya.”
“Baiklah, pak. Saya usahakan besok surat pindahnya sudah selesai.”
“Terima kasih, bu. Kami permisi dulu.”
“Iya, pak.”
Ayah Riana membawa Riana memasuki mobilnya yang langsung menghilang dari halaman sekolah dasar itu.

***

“Siapa yang tidak masuk hari ini?” tanya bu Hani sambil membuka buku absennya.
“Riana, bu.” Sahut seisi kelas.
“Apa dia tidak masuk karena marah sama kita?”
“Mungkin saja.”
“Ah, kenapa dia begitu sensitive, sih.”
“Anak-anak, harap tenang. Riana hari ini datang, tapi dia hanya akan berpamitan pada kalian, dia akan pindah.” Kata-kata bu Hani membuat seisi kelas riuh.
“Masuk lah Riana.”
Bu hani membuat Riana yang sedari tadi berdiri di luar kelas pun, masuk ke kelas.
“Selamat pagi teman-teman. Pagi ini aku pamit ya, maaf kalau aku banyak salah dan terima kasih sudah mau menjadi temanku.” Kata Riana sambil menatap satu demi satu teman-temannya.
“Riana, kami juga minta maaf atas sikap kami yang kemarin, ya. Kami harap kau mau memaafkan kami.” Kata Putra diiringi anggukanm teman-teman yang lainnya.
Riana menggangguk sambil tersenyum manis.
“Aku pamit ya teman-teman.” Kata Riana sambil membungkukkan badannya, kemudian ia keluar dari kelas dan menghilang ke dalam mobilnya.
“Gue baru sadar, senyum Ria ternyata manis juga, ya, Jun.” kata Putra sambil terus menatap kepergian Riana yang sudah tak terlihat.
“Telat.” Tanggapan Jun membuat Putra dengan cepat mengalihkan pandangannya menatap Jun yang duduk di sampingnya.
“Jangan bilang kamu sudah menyadari itu sejak lama, atau jangan-jangan, kamu malah suka dia?!”
“Jangan ngaco, Tra.”
“Hahaha, kali aja, kan, mana tahu tipe cewek idamanmu segemuk dia dengan senyum manisnya.” Kata Putra masih bergelak.
“Putra! Perhatikan ke depan, jangan asik tertawa!” teguran bu Hani langsung membuat Putra terdiam.


Dua
Tujuh tahun kemudian
“Ana!! Kembalikan bukuku!!” teriakan Tina membuat seisi kelas tertawa melihat tingkah kedua teman mereka yang sedang kejar-kejaran di dalam kelas.
“Kalian seperti anak SD aja, kembalikan bukunya, Na. Jangan seperti anak kecil begini, nggak baik. Meskipun guru kita tak masuk, jaga ketertiban kelas, dong.” Kata-kata Heru sebagai ketua kelas membuat seisi kelas menatapnya malas.
“Dengar tuh, Na.” kata Tina yang langsung merebut kembali buku diarynya yang sempat di sita Ana.
“Ah loe, Ru. Nggak seru banget! Tahu nggak, di dalam diary Tina ada surat cintanya.” Kata Ana sambil duduk di atas meja salah satu temannya.
“Benarkah itu, Na?!”
“Wah…gue jadi penasaran.”
“Kasih tau kita dong, Na. Apa isi surat cinta itu?”
“Untuk siapa, sih?!”
Teman-teman cewek maupun cowok langsung menyerbu Ana dengan berbagai pertanyaan. Mereka tak menyadari bahwa Tina sedang terduduk malu di belakang mereka.
“Isinya untuk Heru, lho.”
Jawaban Ana membuat seisi kelas menatap Heru dan Tina bergantian. Heru acuh, sedangkan Tina menggeleng-gelengkan kepalanya, menandakan bahwa itu tidak benar.
“Ana!!” seuran itu membuat Ana dan juga teman-temannya langsung terdiam dan kaget.
Ana dan beberapa teman lelakinya yang duduk di atas meja, langsung turun dan kembali duduk di kursi mereka masing-masing.
“Kalian masih saja tidak bisa tenang. Kali ini ibu harap, kalian bisa lebih tenang. Karena kalian kedatangan murid baru lulusan luar negeri, jadi..”
“Biasanya kalau ada murid baru, kami akan lebih tidak tenang, bu.” Kata Arman menyela perkataan gurunya.
“Arman! Nggak baik menyela perkataan guru! Berapa kali harus ibu peringatkan!”
“Maaf, bu.” Dengan tenang, Arman tersenyum manis tanpa rasa bersalah.
“Ayo, mari masuk sini, nak.”
Cowok tampan itu masuk ke kelas, dan disambut tatapan kagum dari kalangan cewek, tapi tatapan iri dari deretan cowok.
“Perkenalkan dirimu.”
“Nama saya Juni Albert, kalian bisa memanggil saya Al atau Jun.” kata cowok bermata coklat itu datar.
“Salam kenal, Al.” sambut teman-teman cewek dengan senang.
“Semoga kalian bisa berteman baik. Baik lah, kamu bisa duduk di belakang Arman.” Kata bu Hella sambil tersenyum manis.
“Ok anak-anak, kerjakan tugas kalian dengan baik, ibu kembali lagi lima menit sebelum pelajaran berakhir, dan kalian harus sudah mengumpulkan tugas kalian. Buat kamu, Al, kamu bisa meminta soalnya sama siapa saja. Ibu harap kalian mengerjakan tugasnya dengan tenang.”
Setelah ibu Hella menghilang dari kelas, cewek-cewek langsung mengurumuni Al untuk menyerahkan soal. Al bingung melihat tingkah mereka dan tak mengambil satu pun lembaran soal yang mereka tawarkan.
“Kalian kembali ke tempat duduk kalian, atau aku panggilkan bu Hella.” Kata-kata Heru membuat cewek-cewek yang tadinya mengurumuni Al, kembali duduk di kursinya masing-masing dan mengerjakan tugas mereka dengan tenang. Mereka tahu Heru tak pernah main-main dengan ancamannya yang tegas dan karena itu lah ia terpilih menjadi ketua kelas III IPA-1 itu.
“Arman, boleh minta soalnya?” Al menyapa teman yang duduk di depannya.
“Tadi di tawarin para cewek, nggak loe ambil?” tanya Arman bingung sambil menaikkan kaca matanya yang merosot.
Al hanya menggelengkan kepalanya.
“Ya salah sendiri, dong.” Kata Arman cuek dan kembali mengerjakan tugasnya.
Al menatap teman-teman yang cowok, semua sedang focus dan tak ada yang menghiraukannya. Lain halnya saat ia menatap ke arah para cewek, ada yang meliriknya malu-malu, ada yang focus mengerjakan tugas mereka sambil sesekali mencuri pandang kepadanya, dan ada juga yang focus sambil senyum-senyum nggak jelas.
Al melirik kursi paling belakang, cewek berkaca mata yang dengan cekatan dan cepat mengerjakan semua tugasnya. Al merasa familiar dengan tingkah itu, seseorang yang begitu focus saat sedang mengerjakan tugasnya, Riana. Ingatan Al menyebut nama yang sering jadi pusat perhatiannya saat SD, karena tingkah Riana yang sama persis dengan yang sedang dilakukan cewek yang duduk di bangku paling belakang itu.
“Finish!” seru Ana sambil tersenyum senang.
Ia merenggangkan badannya dan memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan, melepaskan kaca matanya dan mulai duduk santai. Ia melihat teman-temannya yang lainn dan tatapannya berhenti pada Al yang juga sedang melihatnya dengan tatapan aneh.
Tanpa di duga, Ana bangun dari duduknya dan meletakkan lembaran soal di atas meja Al.
“Selamat bekerja.” Kata Ana sambil tersenyum manis.
Al menahan nafas saat melihat senyum itu, senyum yang menjadi daya tarik bagi Al saat SD dulu. Oh Tuhan, apa mungkin dia Riana? Tanya Al dalam hati.
“Jangan liatin gue kayak gitu, kalau loe nggak siapin ni tugas, loe bisa berurusan dengan bu Hella yang cerewet.” Kata Ana datar sebelum akhirnya kembali ke mejanya dan tidur berpangku ke dua lengannya.

***

“Maaf, karena tadi aku bersikap cuek padamu. Ke kantin, yuk.” Ajak Arman ramah sambil duduk di atas meja Al.
“Boleh.” Kata Al sambil bangun dari duduknya.
“Ri, Na, Ru ayo!” kata Arman sambil menatap ke Ana, Heru dan Ari yang masih duduk di meja mereka.
Ari merangkul Heru yang baru bangun dari duduknya.
“Ayo.” Kata Ari sambil berlalu mendahului Arman dan Al.
“Ana, ayo!” kata Arman sambil merangkul Al dan membawanya keluar kelas diikuti Ana dengan males.
Kantin
“Rame banget, penuh, ni, Na.” kata Arman sambli menyenggol lengan Ana.
“Sudut tempat biasa kita nongkrong, juga penuh, tuh.” Kata Heru dingin.
Dengan santai Ari mendekati meja yang sudah menjadi tempat ia dan teman-teman sejatinya yang tak lain adalah Heru, Arman dan Ana, sering duduk itu.
“Ouh, kak Ari, maaf, tadi kami tak kebagian tempat duduk, jadi kami numpang di sini sebentar.” Kata salah satu cewek yang duduk di kursi itu.
“Kami sudah selesai kok, kak. Yok masuk!” kata yang cowoknya sambil bangun dari duduknya dan diikuti ke enam temannya yang lain.
Setelah mereka pergi dan meja bekas mereka makan di bersihkan, baru lah, Ari, Arman, Heru, Ana dan Al yang juga di ajak ikut ke kantin duduk di kursi tersebut.
Tak berapa lama mereka memesan makanan mereka, tiga cowok dan satu cewek lain muncul di hadapan mereka, dan langsung bergabung dengan mereka.
“Wah…sepertinya ada anak baru, ni, Ri.” Kata Deo berambut cepak dan berkulit kecoklatan.
“Oia, perkenalkan, namanya Al, gue lupa nama panjangnya, yang jelas, dia rekrutan baru dalam tim ini.” Kata Ari datar sambil menyantap batagor pesanannya.
“Salam kenal.” Sapa ke empat orang asing yang baru di lihat Al.
Al mengangguk dan tersenyum tipis.
“Gue Deo anak IPS-II, ini Romi anak IPA-II, ini Ferhat IPS-I dan gadis manis itu, Karin IPA-II, kami semua seangkatan, senang punya anggota baru.” Kata Deo memperkenalkan teman-temannya.
“Gini Al, tim kita namanya tim Angkasa, kita terdiri dari ketua beberapa bidang osis, tentunya itu dulu, karena sekarang, junior telah mengambil alih semuanya. Jadi, karena loe anak baru dan masuk ke kelas kami, loe termasuk dalam tim agar yang lainnya tak mengganggu loe.” Penjelasan Arman menjawab semua kebingungan Al.
“BTW, loe tanggung banget pindah ke sini, Al? Sebentar lagi try out di mulai dan UN juga sudah dekat, apa loe yakin nggak salah pindah ni, bukannya gue ngeremehin loe, tapi, di sini tingkat kesulitan belajarnya itu cukup tinggi, lho.” Kata Romi yang masih terbawa sikapnya dalam mewawancara orang lain, wajar saja, karena dia dulunya adalah ketua mading.
“Dia lulusan SMP luar negeri, bro.” kata Arman mewakili Al yang hanya diam.
“Kualitas luar negeri tidak semuanya menjamin kualitas didikannya, Man.” Kali ini Deo yang angkat bicara.
“Kualitas pendidikan di luar negeri juga harus sesuai dengan kemampuan muridnya, dan kualitas murid itu sendiri.” Karin angkat bicara.
“Tapi setau gue, pendidikan di luar negeri mampu membuat seseorang yang tidak berkualitas menjadi seseorang yang berkuallitas, bahkan bisa lebih tinggi.” Kata Ana sambil menyuruput minumannya.
“Benar tuh, kata si Ana.” Kata Arman setuju dengan Ana.
“Iya juga sih, Na. Oke gini aja, biar semuanya nggak penasaran, gimana kalau kita uji saja kemampuannya Al.” Kata Ari datar.
Semua yang duduk di kursi itu menatap Ari bingung, sebelum akhirnya mereka mengangguk setuju. Al yang bingung memilih diam.
“Kapan, Ri?” tanya Deo semangat.
“Sepulang sekolah, kita kumpul di markas tempat biasa.” Kata Ari sambil tersenyum.
“Boleh.” Sahut yang lainnya setuju.
“Gimana, Jun, bisa?”
Pertanyaan Ana yang menyebut nama Al dengan sebutan Jun mendapat tanggapan bingung dan heran dari teman-temannya dan tentunya Al sendiri ikut bingung.
“Wah, Na, loe mau jadi orang istimewa ya, sampai panggilannya aja berbeda.” Kata Karin sedikit sinis, namun tersenyum jahil.
“Hmm, mungkin karena terbiasa aja.” Jawaban polos Ana semakin membuat yang lainnya bingung, terlebih Al sendiri.
“Dulu, gue se-SD sama ni anak, dan kami semua memanggilnya dengan sebutan, Jun. Mungkin karena itu, gue nggak terbiasa dengan sebutan, Al itu.”
Penjelasn Ana sambil tersenyum itu di sambut kata ‘oh..’ dari teman-temannya. Lain halnya dengan Al yang masih menatap Ana tak percaya.
“Loe…?” Al melanjutkan kata-katanya, karena Ana tersenyum ke arahnya.
“Gue Riana, si gendut, Jun.” kata Ana yang masih tersenyum.
“Kok bisa kurus?” pertanyaan spontanitas itu membuat yang lainnya tertawa lepas.
“Biasa, pertumbuhan.” Jawab Ana yang masih dengan senyum mautnya.
Ia tak menyadari efek senyum itu bagi Al yang masih menahan nafas karenanya.
“Jadi, loe bersedia di tes selepas sekolah nanti?”
Al hanya menganggukkan kepalanya.
Tet….tet…tet…
Bel tanda istirahat berakhir membuat mereka pun bubar dan kembali ke kelas mereka masing-masing.


Tiga
Markas yang di sebut Ari adalah sebuah ruko yang sudah lama tak di pakai, letaknya tak jauh dari sekolah. Meski pintunya tidak ada, tapi ruko itu aman dan tenang, karena penduduk di sekitarnya pun tak terganggu dengan adanya mereka di sana.
Ari duduk di depan sambil memegang spidol, kaca yang lumayan besar terpampang di depan Al duduk tempat mengahap kaca tersebut. Sedangkan teman-temannya yang lain hanya duduk berpencar, ada yang duduk di atas tumpukan besi, ada yang di atas tumpuan batu bata, ada juga yang duduk si kursi, dan si atas meja yang ada dalam ruko tersebut.
“Baiklah, kita mulai.” Kata Ari sambil menulis beberapa soal matematika yang menjadi keahliannya.
Setelah tiga soal yang menurut Ari paling sulit di selesaikan itu tertulis rapi di depan kaca, Ari melemparkan spidol putih itu ke Al yang langsung di tangkap dengan spontanitas.
“Waktu loe 10 menit.” Kata Ari membuat yang lainnya geleng-geleng kepala.
Ari yang juara umum setiap tahunnya itu tak tanggung-tanggung jika ingin menguji seseorang.
Al berjalan ke depan kaca, dan mulai menuliskan semua jawaban soal tersebut, sedangkan yang lainnya terkagum di buatnya, karena Al menjawab dengan rumus yang berbeda, namun dengan hasil yang sama.
Selesai dalam waktu kurang dari 10 menit membuat yang lain semeringah dan bertepuk tangan riuh. Ari tersenyumm simpul. Al kembali menyerahkan spidol itu ke Ari.
Ari menghapus soal matematika, dan menggantikannya dengan soal kimia, 3 soal dengan tempo waktu yang sama. Al kembali bisa menjawab soal itu tepat waktu. Begitu pun yang terjadi terhadap soal Fisika, Geografi, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, namun berbeda dengan soal Sejarah. Al hanya mampu menyelesaikan dua soal dari tiga soal.
“Kenapa berhenti, Jun? loe nggak tahu jawabannya?” tanya Ana yang duduk di atas meja di sudut ruangan.
“Jun!!” teriakan histeris Ana yang juga di sambut keterkejutan teman-temannya yang lain saat melihat Al jatuh pingsan.

***

Al perlahan membuka matanya, ia menatap ruangan putih itu dengan pandangan bingung.
“Al…loe udah sadar, syukurlah.” Kata Ari yang berdiri di samping ranjang tidur temapat Al dibaringkan.
“Gue di rumah sakit?” tanya Al yang langsung bangun dari tidurnya.
“Puskesmas tepatnya. Kata dokter, loe nggak boleh kecapean, Al.” kali ini Karin yang angkat suara.
“Iya, gue tahu.”
“kenapa loe nggak bilang ke kita kalau loe nggak boleh capek pikiran.” Kata Heru geleng-geleng kepala.
“Iya, kalau tahu, kita nggak akan ngetes loe seperti tadi.” Kata Deo ikutan geleng-geleng kepala.
“Ya udah, yang penting Jun udah sadar, kan. Balik yuk, udah mau magrib, ni.”
Ana langsung bangun dari duduknya dan siap keluar dari ruangan itu, tapi Ari menahannya.
“Al gimana?” tanya Karin dengan nada khawatir.
“Gue nggak apa-apa, kok. Gue bisa ikut pulang, kok, ayo.” Kata Al yang langsung bangun dari ranjang itu dan keluar dari ruangan itu, yang lain pun mengikutinya.

***

Pagi ini mentari memilih bersembunyi di balik awan, dan hal itu mengakibatkan sebagian manusia enggan bangun dari tempat tidurnya, tak terkecuali Ana.
Tok tok tok
“Ana! Bangun! Kamu udah terlambat sekolah!” kata mama sambil terus menggedor pintu kamar putri sulungnya itu.
“Iya, ma.” Sahutan dari dalam kamar membuat mama langsung kembali ke dapur dan menyelesaikan perkejaannya menyiapkan sarapan hanya untuk putri sulungnya itu, karena papa sudah lebih dulu sarapan dan langsung berangkat kerja.
“Assalamu’alaikum.” Salam dari depan rumah membuat mamanya Ana kembali meninggalkan pekerjaannya.
“Wa’alaikumsalam, ouh..nak Ari, mari masuk dulu, Ana nya sedang berbenah.” Sambutan hangat itu membuat Ari tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya sambil masuk ke rumah Ana.
“Tante tinggal ke belakang dulu, ya. Oia, kamu udah sarapan?”
“Udah tante.”
“Oke, tante ke belakang dulu, ya.”
“Iy tante.”
“Ma, aku berangkat sekarang ya, udah telat ni.” Kata Ana yang tiba-tiba sudah ada di ruang tamu.
“Sarapan?”
“Ntar di sekolah, Assalamu’alaikum.” Pamit Ana sambil mencium punggung mamanya, di susul Ari yang juga melakukan hal yang sama.
Keduanya langsung memasuki mobil Jazz hitam milik Ari yang langsung dilajukan Ari dengan kecepatan tinggi.
“Kok pakek mobil, Ri?”
“Mendung, Na.”
“Ouh..”
Keduanya kembali diam. Ari yang terkenal pendiam dan Ana yang cuek membuat keadaan mobil hening. Meskipun keduanya tinggal satu komplek, tapi hanya beberapa kali mereka saling main ke rumah masing-masing dan antar-jemput seperti sekarang ini.
“Na..”
“Hmm..”
“Al dulu seperti apa?”
“Hmm, gue kurang tau, sih, Ri. Soalnya, dulu kita nggak dekat, dan bahkan gue fikir dia nggak kenal sama gue. Yang gue tahu, sih, dia pintar banget, dan jago ngelukis juga lho, tapi dia pendiam, dan cuek. Kenapa, tumben loe penasaran sama orang lain?”
“Nggak ada, gue ngerasa kalau dia punya feel sama loe.”
“Hah? Yang benar aja? Nggak usah ngaco deh.”
“Gue cowok, Na, dan gue tahu, cowok mana yang tertarik dengan cewek hanya dengan melihat cara si cowok ngelihat si cewek itu. Dan asal loe tahu, Na, pandangan Al tak pernah lepas dari loe saat kita di puskesmas tadi.”
“Wah, seperhatian itu kah loe ke dia, nggak nyangka gue, Ri.” Kata Ana sambil tersenyum jahil.
“Ana! Nggak usah jahil, ya. Gue serius, ni.”
“Oke, sorry, trus, kalau dia punya feel sama gue, kenapa? Masalah buat loe?”
“Loe nggak lupa dengan peraturan ke lima dalam tim Angkasa, kan?!”
“Oh Tuhan, hampir lupa. Terus gimana, dong?”
“Ya, kita harus kasih tahu lembar perjanjian itu ke dia. Itu pun kalau loe setuju.”
“Gue setuju-setuju aja, kenapa memangnya?”
“Kali aja loe juga suka dia, nggak?”
“Hmm, gue nggak tahu, Ri. Karena selama bergabung dengan tim, yang gue tahu cuma cinta sahabat, dan nggak tahu selebihnya.”
“Oke, gini aja, kita tetap kasih tahu dia tentang itu, tapi kalau memang loe juga punya feel sama dia, loe bebas, kok. Karena dia teman masa lalu loe.” Kata Ari datar.
Ana hanya menatap Ari bingung. Kenapa tiba-tiba ngebahas hal itu, sih, si Ari?! Seru Ana dalam hati. Suasana kembali hening hingga mobil Ari memasuki halaman parkir sekolah.

***

“Kalian terlambat, kenapa?” pertanyaan itu langsung di tuju bu Hella ke Ari dan Ana yang baru masuk kelas.
“Kesiangan, bu.” Jawab keduanya kompak.
“Kenapa bisa masuk parkiran, apa pak satpam nggak ngelarang kalian?”
“Ari kasih satu bungkus rokok, bu.” Kata Ana datar.
“Wah..hebat kalian, sekarang juga berdiri di luar kelas sampai pelajaran saya berakhir.”

to be countinue..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar