Satu
“Putra!!!
Kembalikan buku gambarku!!” teriakan Riana membuat seisi kelas tertawa.
Mengapa
tidak, Putra memampangkan dengan jelas apa yang di gambar Riana di dalam buku
gambarnya, dan sungguh itu adalah gambar terjelek yang pernah mereka lihat
“Ria!!
Kenapa kamu bisa masuk kelas khusus menggambar ini?! Gambarmu saja tidak jelas
begitu!! Hahaha…” kata seseorang yang duduk di kursi paling depan
“Pasti
karena dia ikut-ikuttan, kan, hahaha.” Sambung yang lainnya.
Riana
hanya terdiam.
“Benarkan,
Ri. Udah lah, kamu tak pantas ada di dalam kelas ini, kamu keluar saja. Hahaha”
kata yang lainnya.
“Buat
malu kelas khusus ini saja!! Hahaha.”
“Kalian
yang tak tahu arti dari sebuah gambar, jangan banyak ngomong.” Suara ‘dingin’
itu membuat seisi kelas menatap ke kursi paling belakang yang di duduki pria paling
ganteng seantero SD ‘Hirata’ itu, Jun.
“Putra,
kembalikan buku gambarnya. Apa kalian tahu arti dari gambar yang kalian sebut
tak jelas itu?” suara datar itu di sambut gelengan kepala dari teman-temannya
yang lain.
Jun
bangun dari duduknya, mendekati Putra danmengambil buku gambar milik Riana,
kembudian menggambarnya di kanvas besar milik bu guru yang ada di depan kelas.
Seisi
kelas terdiam, termasuk Riana. Ia tak menyangka, Jun membelanya. Mereka
memperhatikan apa yang Jun gambar di kanvas besar itu, dengan cekatan, Jun
memindahkan gambar yang ada di buku gambar Riana ke kanvas, di warnainya
beberapa bagian yang menurutnya harus di warnai.
Setelah
selesai menggambar, Jun memperlihatkan isi dari buku gambar Riana dan
mendampinginya dengan gambar yang ada di kanvas.
“Kita
memang belum mempelajari bagian gambar ini, tapi inilah gambar yang di sebut
gambar abstrak. Tak bisa di baca apa maknanya, kecuali kita menelitinya secara
mendalam.”
Penjelasan
Jun membuat yang lain terkagum, bahkan ada yang sampai melongo. Jun berjalan ke
meja Riana, dan mengembalikan buku gambarnya.
“Aku
pernah dengar gambar yang di sebut abstrak itu, tapi gambar Riana sama sekali
tidak jelas, Jun. Memang sedikit mirip dengan gambar di kanvas, tapi gambar
Riana memang nggak jelas sama sekali.” Kata Putra sambil duduk di atas mejanya.
“Itu
karena kamu merebut buku gambarnya saat ia belum menyempurnakan gambarnya. Benar,
kan, Ri?” kali ini Jun menatap Riana meminta persetujuan.
Riana
hanya mengangguk, suaranya tak bisa keluar, karena sekarang Jun berdiri di
dekatnya.
“Apa
yang kalian ributkan ini, hah?! Mana gambar kalian, apa sudah selesai?!” kata
bu Hani sambil berkacak pinggang di depan pintu kelas.
Langsung
saja mereka kembali duduk di kursinya masing-masing.
“Kumpulkan
gambar kalian sekarang.” Perintah itu membuat seisi kelas riuh, dan segera
menyelesaikan tugas mereka.
Hanya
Jun yang mengumpulkan gambarnya dan segera keluar dari ruangan itu. Tak lama
kemudian, yang lain pun menyusulnya.
***
“Jun!
Apa benar yang di gambar Riana itu adalah gambar abstrak?” tanya Putra yang
sudah bisa menyamakan langkahnya dengan Jun.
Jun
hanya menganggukkan kepalanya.
“Wah,
Aku malah menertawakan gambarnya.” Sesal Putra sambil mengambil membuka kunci
gembok di jari-jari sepedanya.
“Salah
sendiri.” Kata Jun yang juga melakukan hal yang sama.
“Besok
aku minta maaf, deh.” Kata Putra menggulumkan senyumnya.
“Aku
juga, deh, Jun.” kali ini Gina ikut nimbrung.
“Kita
juga akan minta maaf besok.” Kata yang lainnya yang juga sedang mengambil
sepeda mereka di parkiran sekolah.
“Bagus
lah.” Kata Jun ikut tersenyum sebelum akhirnya menjalankan sepedanya.
Tanpa
di komando, yang lainnya pun mengikutinya keluar dari sekolah dan pulang ke
rumah mereka masing-masing. Tanpa mereka sadari, di tempat yang tak jauh dari
mereka, Riana sedang menatap mereka sedih.
“Pak
Wirawan, apa ini tidak begitu tiba-tiba?” pertanyaan bu Hani hanya di sambut
senyuman dari ayahnya Riana itu.
“Maafkan
saya, bu. Kami tahu ini begitu tiba-tiba, tapi kami harap, ibu bisa
memakluminya.”
“Baiklah,
pak. Saya usahakan besok surat pindahnya sudah selesai.”
“Terima
kasih, bu. Kami permisi dulu.”
“Iya,
pak.”
Ayah
Riana membawa Riana memasuki mobilnya yang langsung menghilang dari halaman
sekolah dasar itu.
***
“Siapa
yang tidak masuk hari ini?” tanya bu Hani sambil membuka buku absennya.
“Riana,
bu.” Sahut seisi kelas.
“Apa
dia tidak masuk karena marah sama kita?”
“Mungkin
saja.”
“Ah,
kenapa dia begitu sensitive, sih.”
“Anak-anak,
harap tenang. Riana hari ini datang, tapi dia hanya akan berpamitan pada
kalian, dia akan pindah.” Kata-kata bu Hani membuat seisi kelas riuh.
“Masuk
lah Riana.”
Bu
hani membuat Riana yang sedari tadi berdiri di luar kelas pun, masuk ke kelas.
“Selamat
pagi teman-teman. Pagi ini aku pamit ya, maaf kalau aku banyak salah dan terima
kasih sudah mau menjadi temanku.” Kata Riana sambil menatap satu demi satu
teman-temannya.
“Riana,
kami juga minta maaf atas sikap kami yang kemarin, ya. Kami harap kau mau
memaafkan kami.” Kata Putra diiringi anggukanm teman-teman yang lainnya.
Riana
menggangguk sambil tersenyum manis.
“Aku
pamit ya teman-teman.” Kata Riana sambil membungkukkan badannya, kemudian ia
keluar dari kelas dan menghilang ke dalam mobilnya.
“Gue
baru sadar, senyum Ria ternyata manis juga, ya, Jun.” kata Putra sambil terus
menatap kepergian Riana yang sudah tak terlihat.
“Telat.”
Tanggapan Jun membuat Putra dengan cepat mengalihkan pandangannya menatap Jun
yang duduk di sampingnya.
“Jangan
bilang kamu sudah menyadari itu sejak lama, atau jangan-jangan, kamu malah suka
dia?!”
“Jangan
ngaco, Tra.”
“Hahaha,
kali aja, kan, mana tahu tipe cewek idamanmu segemuk dia dengan senyum manisnya.”
Kata Putra masih bergelak.
“Putra!
Perhatikan ke depan, jangan asik tertawa!” teguran bu Hani langsung membuat Putra
terdiam.
Dua
Tujuh
tahun kemudian
“Ana!!
Kembalikan bukuku!!” teriakan Tina membuat seisi kelas tertawa melihat tingkah
kedua teman mereka yang sedang kejar-kejaran di dalam kelas.
“Kalian
seperti anak SD aja, kembalikan bukunya, Na. Jangan seperti anak kecil begini,
nggak baik. Meskipun guru kita tak masuk, jaga ketertiban kelas, dong.”
Kata-kata Heru sebagai ketua kelas membuat seisi kelas menatapnya malas.
“Dengar
tuh, Na.” kata Tina yang langsung merebut kembali buku diarynya yang sempat di
sita Ana.
“Ah
loe, Ru. Nggak seru banget! Tahu nggak, di dalam diary Tina ada surat
cintanya.” Kata Ana sambil duduk di atas meja salah satu temannya.
“Benarkah
itu, Na?!”
“Wah…gue
jadi penasaran.”
“Kasih
tau kita dong, Na. Apa isi surat cinta itu?”
“Untuk
siapa, sih?!”
Teman-teman
cewek maupun cowok langsung menyerbu Ana dengan berbagai pertanyaan. Mereka tak
menyadari bahwa Tina sedang terduduk malu di belakang mereka.
“Isinya
untuk Heru, lho.”
Jawaban
Ana membuat seisi kelas menatap Heru dan Tina bergantian. Heru acuh, sedangkan
Tina menggeleng-gelengkan kepalanya, menandakan bahwa itu tidak benar.
“Ana!!”
seuran itu membuat Ana dan juga teman-temannya langsung terdiam dan kaget.
Ana
dan beberapa teman lelakinya yang duduk di atas meja, langsung turun dan
kembali duduk di kursi mereka masing-masing.
“Kalian
masih saja tidak bisa tenang. Kali ini ibu harap, kalian bisa lebih tenang.
Karena kalian kedatangan murid baru lulusan luar negeri, jadi..”
“Biasanya
kalau ada murid baru, kami akan lebih tidak tenang, bu.” Kata Arman menyela
perkataan gurunya.
“Arman!
Nggak baik menyela perkataan guru! Berapa kali harus ibu peringatkan!”
“Maaf,
bu.” Dengan tenang, Arman tersenyum manis tanpa rasa bersalah.
“Ayo,
mari masuk sini, nak.”
Cowok
tampan itu masuk ke kelas, dan disambut tatapan kagum dari kalangan cewek, tapi
tatapan iri dari deretan cowok.
“Perkenalkan
dirimu.”
“Nama
saya Juni Albert, kalian bisa memanggil saya Al atau Jun.” kata cowok bermata
coklat itu datar.
“Salam
kenal, Al.” sambut teman-teman cewek dengan senang.
“Semoga
kalian bisa berteman baik. Baik lah, kamu bisa duduk di belakang Arman.” Kata
bu Hella sambil tersenyum manis.
“Ok
anak-anak, kerjakan tugas kalian dengan baik, ibu kembali lagi lima menit
sebelum pelajaran berakhir, dan kalian harus sudah mengumpulkan tugas kalian.
Buat kamu, Al, kamu bisa meminta soalnya sama siapa saja. Ibu harap kalian
mengerjakan tugasnya dengan tenang.”
Setelah
ibu Hella menghilang dari kelas, cewek-cewek langsung mengurumuni Al untuk
menyerahkan soal. Al bingung melihat tingkah mereka dan tak mengambil satu pun
lembaran soal yang mereka tawarkan.
“Kalian
kembali ke tempat duduk kalian, atau aku panggilkan bu Hella.” Kata-kata Heru
membuat cewek-cewek yang tadinya mengurumuni Al, kembali duduk di kursinya
masing-masing dan mengerjakan tugas mereka dengan tenang. Mereka tahu Heru tak
pernah main-main dengan ancamannya yang tegas dan karena itu lah ia terpilih
menjadi ketua kelas III IPA-1 itu.
“Arman,
boleh minta soalnya?” Al menyapa teman yang duduk di depannya.
“Tadi
di tawarin para cewek, nggak loe ambil?” tanya Arman bingung sambil menaikkan
kaca matanya yang merosot.
Al
hanya menggelengkan kepalanya.
“Ya
salah sendiri, dong.” Kata Arman cuek dan kembali mengerjakan tugasnya.
Al
menatap teman-teman yang cowok, semua sedang focus dan tak ada yang
menghiraukannya. Lain halnya saat ia menatap ke arah para cewek, ada yang meliriknya
malu-malu, ada yang focus mengerjakan tugas mereka sambil sesekali mencuri
pandang kepadanya, dan ada juga yang focus sambil senyum-senyum nggak jelas.
Al
melirik kursi paling belakang, cewek berkaca mata yang dengan cekatan dan cepat
mengerjakan semua tugasnya. Al merasa familiar dengan tingkah itu, seseorang
yang begitu focus saat sedang mengerjakan tugasnya, Riana. Ingatan Al menyebut
nama yang sering jadi pusat perhatiannya saat SD, karena tingkah Riana yang
sama persis dengan yang sedang dilakukan cewek yang duduk di bangku paling
belakang itu.
“Finish!”
seru Ana sambil tersenyum senang.
Ia
merenggangkan badannya dan memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan, melepaskan
kaca matanya dan mulai duduk santai. Ia melihat teman-temannya yang lainn dan
tatapannya berhenti pada Al yang juga sedang melihatnya dengan tatapan aneh.
Tanpa
di duga, Ana bangun dari duduknya dan meletakkan lembaran soal di atas meja Al.
“Selamat
bekerja.” Kata Ana sambil tersenyum manis.
Al
menahan nafas saat melihat senyum itu, senyum yang menjadi daya tarik bagi Al
saat SD dulu. Oh Tuhan, apa mungkin dia Riana? Tanya Al dalam hati.
“Jangan
liatin gue kayak gitu, kalau loe nggak siapin ni tugas, loe bisa berurusan
dengan bu Hella yang cerewet.” Kata Ana datar sebelum akhirnya kembali ke
mejanya dan tidur berpangku ke dua lengannya.
***
“Maaf,
karena tadi aku bersikap cuek padamu. Ke kantin, yuk.” Ajak Arman ramah sambil
duduk di atas meja Al.
“Boleh.”
Kata Al sambil bangun dari duduknya.
“Ri,
Na, Ru ayo!” kata Arman sambil menatap ke Ana, Heru dan Ari yang masih duduk di
meja mereka.
Ari
merangkul Heru yang baru bangun dari duduknya.
“Ayo.”
Kata Ari sambil berlalu mendahului Arman dan Al.
“Ana,
ayo!” kata Arman sambil merangkul Al dan membawanya keluar kelas diikuti Ana
dengan males.
Kantin
“Rame
banget, penuh, ni, Na.” kata Arman sambli menyenggol lengan Ana.
“Sudut
tempat biasa kita nongkrong, juga penuh, tuh.” Kata Heru dingin.
Dengan
santai Ari mendekati meja yang sudah menjadi tempat ia dan teman-teman
sejatinya yang tak lain adalah Heru, Arman dan Ana, sering duduk itu.
“Ouh,
kak Ari, maaf, tadi kami tak kebagian tempat duduk, jadi kami numpang di sini
sebentar.” Kata salah satu cewek yang duduk di kursi itu.
“Kami
sudah selesai kok, kak. Yok masuk!” kata yang cowoknya sambil bangun dari
duduknya dan diikuti ke enam temannya yang lain.
Setelah
mereka pergi dan meja bekas mereka makan di bersihkan, baru lah, Ari, Arman,
Heru, Ana dan Al yang juga di ajak ikut ke kantin duduk di kursi tersebut.
Tak
berapa lama mereka memesan makanan mereka, tiga cowok dan satu cewek lain
muncul di hadapan mereka, dan langsung bergabung dengan mereka.
“Wah…sepertinya
ada anak baru, ni, Ri.” Kata Deo berambut cepak dan berkulit kecoklatan.
“Oia,
perkenalkan, namanya Al, gue lupa nama panjangnya, yang jelas, dia rekrutan
baru dalam tim ini.” Kata Ari datar sambil menyantap batagor pesanannya.
“Salam
kenal.” Sapa ke empat orang asing yang baru di lihat Al.
Al
mengangguk dan tersenyum tipis.
“Gue
Deo anak IPS-II, ini Romi anak IPA-II, ini Ferhat IPS-I dan gadis manis itu,
Karin IPA-II, kami semua seangkatan, senang punya anggota baru.” Kata Deo
memperkenalkan teman-temannya.
“Gini
Al, tim kita namanya tim Angkasa, kita terdiri dari ketua beberapa bidang osis,
tentunya itu dulu, karena sekarang, junior telah mengambil alih semuanya. Jadi,
karena loe anak baru dan masuk ke kelas kami, loe termasuk dalam tim agar yang
lainnya tak mengganggu loe.” Penjelasan Arman menjawab semua kebingungan Al.
“BTW,
loe tanggung banget pindah ke sini, Al? Sebentar lagi try out di mulai dan UN
juga sudah dekat, apa loe yakin nggak salah pindah ni, bukannya gue ngeremehin
loe, tapi, di sini tingkat kesulitan belajarnya itu cukup tinggi, lho.” Kata
Romi yang masih terbawa sikapnya dalam mewawancara orang lain, wajar saja,
karena dia dulunya adalah ketua mading.
“Dia
lulusan SMP luar negeri, bro.” kata Arman mewakili Al yang hanya diam.
“Kualitas
luar negeri tidak semuanya menjamin kualitas didikannya, Man.” Kali ini Deo
yang angkat bicara.
“Kualitas
pendidikan di luar negeri juga harus sesuai dengan kemampuan muridnya, dan
kualitas murid itu sendiri.” Karin angkat bicara.
“Tapi
setau gue, pendidikan di luar negeri mampu membuat seseorang yang tidak
berkualitas menjadi seseorang yang berkuallitas, bahkan bisa lebih tinggi.”
Kata Ana sambil menyuruput minumannya.
“Benar
tuh, kata si Ana.” Kata Arman setuju dengan Ana.
“Iya
juga sih, Na. Oke gini aja, biar semuanya nggak penasaran, gimana kalau kita
uji saja kemampuannya Al.” Kata Ari datar.
Semua
yang duduk di kursi itu menatap Ari bingung, sebelum akhirnya mereka mengangguk
setuju. Al yang bingung memilih diam.
“Kapan,
Ri?” tanya Deo semangat.
“Sepulang
sekolah, kita kumpul di markas tempat biasa.” Kata Ari sambil tersenyum.
“Boleh.”
Sahut yang lainnya setuju.
“Gimana,
Jun, bisa?”
Pertanyaan
Ana yang menyebut nama Al dengan sebutan Jun mendapat tanggapan bingung dan
heran dari teman-temannya dan tentunya Al sendiri ikut bingung.
“Wah,
Na, loe mau jadi orang istimewa ya, sampai panggilannya aja berbeda.” Kata Karin
sedikit sinis, namun tersenyum jahil.
“Hmm,
mungkin karena terbiasa aja.” Jawaban polos Ana semakin membuat yang lainnya
bingung, terlebih Al sendiri.
“Dulu,
gue se-SD sama ni anak, dan kami semua memanggilnya dengan sebutan, Jun. Mungkin
karena itu, gue nggak terbiasa dengan sebutan, Al itu.”
Penjelasn
Ana sambil tersenyum itu di sambut kata ‘oh..’ dari teman-temannya. Lain halnya
dengan Al yang masih menatap Ana tak percaya.
“Loe…?”
Al melanjutkan kata-katanya, karena Ana tersenyum ke arahnya.
“Gue
Riana, si gendut, Jun.” kata Ana yang masih tersenyum.
“Kok
bisa kurus?” pertanyaan spontanitas itu membuat yang lainnya tertawa lepas.
“Biasa,
pertumbuhan.” Jawab Ana yang masih dengan senyum mautnya.
Ia
tak menyadari efek senyum itu bagi Al yang masih menahan nafas karenanya.
“Jadi,
loe bersedia di tes selepas sekolah nanti?”
Al
hanya menganggukkan kepalanya.
Tet….tet…tet…
Bel
tanda istirahat berakhir membuat mereka pun bubar dan kembali ke kelas mereka
masing-masing.
Tiga
Markas
yang di sebut Ari adalah sebuah ruko yang sudah lama tak di pakai, letaknya tak
jauh dari sekolah. Meski pintunya tidak ada, tapi ruko itu aman dan tenang,
karena penduduk di sekitarnya pun tak terganggu dengan adanya mereka di sana.
Ari
duduk di depan sambil memegang spidol, kaca yang lumayan besar terpampang di
depan Al duduk tempat mengahap kaca tersebut. Sedangkan teman-temannya yang
lain hanya duduk berpencar, ada yang duduk di atas tumpukan besi, ada yang di
atas tumpuan batu bata, ada juga yang duduk si kursi, dan si atas meja yang ada
dalam ruko tersebut.
“Baiklah,
kita mulai.” Kata Ari sambil menulis beberapa soal matematika yang menjadi
keahliannya.
Setelah
tiga soal yang menurut Ari paling sulit di selesaikan itu tertulis rapi di
depan kaca, Ari melemparkan spidol putih itu ke Al yang langsung di tangkap
dengan spontanitas.
“Waktu
loe 10 menit.” Kata Ari membuat yang lainnya geleng-geleng kepala.
Ari
yang juara umum setiap tahunnya itu tak tanggung-tanggung jika ingin menguji
seseorang.
Al
berjalan ke depan kaca, dan mulai menuliskan semua jawaban soal tersebut,
sedangkan yang lainnya terkagum di buatnya, karena Al menjawab dengan rumus
yang berbeda, namun dengan hasil yang sama.
Selesai
dalam waktu kurang dari 10 menit membuat yang lain semeringah dan bertepuk
tangan riuh. Ari tersenyumm simpul. Al kembali menyerahkan spidol itu ke Ari.
Ari
menghapus soal matematika, dan menggantikannya dengan soal kimia, 3 soal dengan
tempo waktu yang sama. Al kembali bisa menjawab soal itu tepat waktu. Begitu
pun yang terjadi terhadap soal Fisika, Geografi, Bahasa Inggris, Bahasa
Indonesia, namun berbeda dengan soal Sejarah. Al hanya mampu menyelesaikan dua
soal dari tiga soal.
“Kenapa
berhenti, Jun? loe nggak tahu jawabannya?” tanya Ana yang duduk di atas meja di
sudut ruangan.
“Jun!!”
teriakan histeris Ana yang juga di sambut keterkejutan teman-temannya yang lain
saat melihat Al jatuh pingsan.
***
Al
perlahan membuka matanya, ia menatap ruangan putih itu dengan pandangan
bingung.
“Al…loe
udah sadar, syukurlah.” Kata Ari yang berdiri di samping ranjang tidur temapat
Al dibaringkan.
“Gue
di rumah sakit?” tanya Al yang langsung bangun dari tidurnya.
“Puskesmas
tepatnya. Kata dokter, loe nggak boleh kecapean, Al.” kali ini Karin yang
angkat suara.
“Iya,
gue tahu.”
“kenapa
loe nggak bilang ke kita kalau loe nggak boleh capek pikiran.” Kata Heru
geleng-geleng kepala.
“Iya,
kalau tahu, kita nggak akan ngetes loe seperti tadi.” Kata Deo ikutan geleng-geleng
kepala.
“Ya
udah, yang penting Jun udah sadar, kan. Balik yuk, udah mau magrib, ni.”
Ana
langsung bangun dari duduknya dan siap keluar dari ruangan itu, tapi Ari
menahannya.
“Al
gimana?” tanya Karin dengan nada khawatir.
“Gue
nggak apa-apa, kok. Gue bisa ikut pulang, kok, ayo.” Kata Al yang langsung
bangun dari ranjang itu dan keluar dari ruangan itu, yang lain pun
mengikutinya.
***
Pagi
ini mentari memilih bersembunyi di balik awan, dan hal itu mengakibatkan
sebagian manusia enggan bangun dari tempat tidurnya, tak terkecuali Ana.
Tok
tok tok
“Ana!
Bangun! Kamu udah terlambat sekolah!” kata mama sambil terus menggedor pintu
kamar putri sulungnya itu.
“Iya,
ma.” Sahutan dari dalam kamar membuat mama langsung kembali ke dapur dan
menyelesaikan perkejaannya menyiapkan sarapan hanya untuk putri sulungnya itu,
karena papa sudah lebih dulu sarapan dan langsung berangkat kerja.
“Assalamu’alaikum.”
Salam dari depan rumah membuat mamanya Ana kembali meninggalkan pekerjaannya.
“Wa’alaikumsalam,
ouh..nak Ari, mari masuk dulu, Ana nya sedang berbenah.” Sambutan hangat itu
membuat Ari tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya sambil masuk ke rumah
Ana.
“Tante
tinggal ke belakang dulu, ya. Oia, kamu udah sarapan?”
“Udah
tante.”
“Oke,
tante ke belakang dulu, ya.”
“Iy
tante.”
“Ma,
aku berangkat sekarang ya, udah telat ni.” Kata Ana yang tiba-tiba sudah ada di
ruang tamu.
“Sarapan?”
“Ntar
di sekolah, Assalamu’alaikum.” Pamit Ana sambil mencium punggung mamanya, di
susul Ari yang juga melakukan hal yang sama.
Keduanya
langsung memasuki mobil Jazz hitam milik Ari yang langsung dilajukan Ari dengan
kecepatan tinggi.
“Kok
pakek mobil, Ri?”
“Mendung,
Na.”
“Ouh..”
Keduanya
kembali diam. Ari yang terkenal pendiam dan Ana yang cuek membuat keadaan mobil
hening. Meskipun keduanya tinggal satu komplek, tapi hanya beberapa kali mereka
saling main ke rumah masing-masing dan antar-jemput seperti sekarang ini.
“Na..”
“Hmm..”
“Al
dulu seperti apa?”
“Hmm,
gue kurang tau, sih, Ri. Soalnya, dulu kita nggak dekat, dan bahkan gue fikir
dia nggak kenal sama gue. Yang gue tahu, sih, dia pintar banget, dan jago
ngelukis juga lho, tapi dia pendiam, dan cuek. Kenapa, tumben loe penasaran
sama orang lain?”
“Nggak
ada, gue ngerasa kalau dia punya feel sama loe.”
“Hah?
Yang benar aja? Nggak usah ngaco deh.”
“Gue
cowok, Na, dan gue tahu, cowok mana yang tertarik dengan cewek hanya dengan
melihat cara si cowok ngelihat si cewek itu. Dan asal loe tahu, Na, pandangan
Al tak pernah lepas dari loe saat kita di puskesmas tadi.”
“Wah,
seperhatian itu kah loe ke dia, nggak nyangka gue, Ri.” Kata Ana sambil
tersenyum jahil.
“Ana!
Nggak usah jahil, ya. Gue serius, ni.”
“Oke,
sorry, trus, kalau dia punya feel sama gue, kenapa? Masalah buat loe?”
“Loe
nggak lupa dengan peraturan ke lima dalam tim Angkasa, kan?!”
“Oh
Tuhan, hampir lupa. Terus gimana, dong?”
“Ya,
kita harus kasih tahu lembar perjanjian itu ke dia. Itu pun kalau loe setuju.”
“Gue
setuju-setuju aja, kenapa memangnya?”
“Kali
aja loe juga suka dia, nggak?”
“Hmm,
gue nggak tahu, Ri. Karena selama bergabung dengan tim, yang gue tahu cuma cinta
sahabat, dan nggak tahu selebihnya.”
“Oke,
gini aja, kita tetap kasih tahu dia tentang itu, tapi kalau memang loe juga
punya feel sama dia, loe bebas, kok. Karena dia teman masa lalu loe.” Kata Ari
datar.
Ana
hanya menatap Ari bingung. Kenapa tiba-tiba ngebahas hal itu, sih, si Ari?!
Seru Ana dalam hati. Suasana kembali hening hingga mobil Ari memasuki halaman
parkir sekolah.
***
“Kalian
terlambat, kenapa?” pertanyaan itu langsung di tuju bu Hella ke Ari dan Ana
yang baru masuk kelas.
“Kesiangan,
bu.” Jawab keduanya kompak.
“Kenapa
bisa masuk parkiran, apa pak satpam nggak ngelarang kalian?”
“Ari
kasih satu bungkus rokok, bu.” Kata Ana datar.
“Wah..hebat
kalian, sekarang juga berdiri di luar kelas sampai pelajaran saya berakhir.”
to be countinue..
to be countinue..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar