MASIHKAH
HATI ITU UNTUKKU
Dunia masih
berputar, dan hidup Keyna akan tetap berjalan, meski dirinya telah tiada,
meninggalkan gadis itu sendiri dalam luka dan kesedihan. Keyna masih menatap
pusaranya yang masih basah itu, pikirannya kembali ke sepuluh jam yang lalu.
“Aku cuma
mau kamu perhatian sama aku, Ri!”
“Maaf
sayang, aku beneran sibuk di sana. Aku harap kamu bisa ngertiin aku.”
“Sibuk
dengan wanita lain sampe-sampe kamu nggak sempat hubungi aku. Ini udah hampir sebulan,
dan kamu nggak ada kabar sama sekali.”
“Kamu jangan
nuduh sembarangan, aku di sini kerja, bukan main wanita lain!”
“Kamu marah
sama aku? Harusnya aku yang marah sama kamu. Kamu keterlaluan, Ri”
Keyna memutuskan
sambungan teleponnya dengan Andri, pacarnya yang sudah dua tahun tak bersamanya.
Hpnya terus berdering, namun diacuhkannya, ia kembali sibuk dengan pekerjaannya
mengedit Novel yang baru dikirim ke redaksi tempatnya bekerja. Gadis berkaca
mata itu bekerja sebagai editor di perusahaan penerbit buku, Ellips.
Hpnya yang
terus berbunyi membuatnya tidak focus dalam bekerja, ia raih Hpnya yang
diletakkan tak jauh dari meja kerjanya, kemudian dengan kesal ia mengatakan,
“Ada apa, lagi?”
“Ini mama,
sayang. Jangan jemput mama, ya. Mama udah di rumah Andri sekarang, kamu buruan
ke sini, gih.” Kata mama Keyna terdengar sedih dan khawatir.
“Kenapa, ma?
Ada apa?” tanya Keyna bingung.
“Kamu ke
sini aja dulu, ntar mama ceritain ada apa. Mama tunggu di sini.” Kata mama
Keyna sebelum akhirnya memutuskan teleponnya.
“Apa yang
terjadi?” tanya Keyna dalam hati.
Dengan
terpaksa di matikan Laptopnya dan ia bergegas ke rumah Andri yang kebetulan tak
jauh dari kantornya.
“Apa Andri
udah kembali dari Malaysia? Ah, nggak mungkin, tadi barusan ia menelponku dari
sana. Atau jangan-jangan, dia membohongiku?” hati Keyna terus bertanya-tanya
hingga mobilnya terparkir rapi di halaman rumah Andri yang sedang di hujani
banyak orang, ‘apa yang sebenarnya sedang terjadi?’ kembali hati Keyna
penasaran dibuatnya.
Keyna berjalan
memasuki rumah dan mendapati beberapa orang menatapnya dengan tatapan sedih,
Keyna terus berjalan ke dalam rumah, hingga ia akhirnya bertemu dengan mamanya
dan juga keluarga Andri, tapi tidak dengan Andri, ia taka da di ruangan itu.
“Keyna.”
Ucap mama Andri lirih sambil terus menangis.
Keyna duduk
di dekat mamanya, dan mulai meminta kejelasan ada apa sebenarnya.
“Andri
pingsan dan saat perjalanan ke rumah sakit, ia meninggal, Key. Kanker otak yang
dideritanya selama ini sudah tidak bisa disembuhkan lagi, dan tak ada satu pun
dari kita yang mengetahui penyakitnya itu, apa kamu tahu tentang kanker itu?”
kata mama Keyna menatap Keyna sedih.
“Aku juga
tidak tahu, ma. Aku baru saja menerima telepon darinya, ma. Nggak mungkin
banget dia sudah meninggal, mama pasti bohong, kan?! Mama, ini nggak lucu, ma.”
Kata Keyna tersenyum kecut sambil geleng-geleng kepala.
“Apa kamu
fikir mereka yang di sini juga bercanda? Kami sedang menunggu jasadnya.” Kata
mama Keyna dengan nada sedih.
“Sudahlah,
Nan, jangan kau marahi Keyna, dia mungkin masih syok dengan kabar ini.” Kali
ini Aman, papanya Andri menegur Nandi, mamanya Keyna.
“Key… hujan
semakin deras, mau sampai kapan kamu di sini, kita pulang, yuk.” Ajak Nandi
sambil memayungi Keyna yang masih menatap pusara Andri yang semakin basah
karena rintihan hujan.
“Maafkankan
aku, Ri.” Kata Keyna sebelum akhirnya pergi dari pemakaman umum yang tak jauh
dari rumah Andri.
***
Suasana
berkabung masih memenuhi rumah Andri, anak-anak pasantren yang di undang oleh
orang tuanya Andri membaca al-Quran dengan khusyu dan tawadhu, orang tua Andri
pun ikut membaca al-Quran, mengirimkan doa untuk anaknya yang telah lebih dulu
di panggil Tuhan.
“Key,” suara
lirih itu membuat Keyna menatap ke pintu masuk yang tak jauh dari tempatnya
berdiri.
“Bisa minta
waktunya sebentar?”
Keyna
berjalan mengikuti kemana arah perempuan berkerudung itu akan membawanya.
to be countinue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar