Minggu, 09 Agustus 2015

Masihkah hati itu untukku

MASIHKAH HATI ITU UNTUKKU

Dunia masih berputar, dan hidup Keyna akan tetap berjalan, meski dirinya telah tiada, meninggalkan gadis itu sendiri dalam luka dan kesedihan. Keyna masih menatap pusaranya yang masih basah itu, pikirannya kembali ke sepuluh jam yang lalu.
“Aku cuma mau kamu perhatian sama aku, Ri!”
“Maaf sayang, aku beneran sibuk di sana. Aku harap kamu bisa ngertiin aku.”
“Sibuk dengan wanita lain sampe-sampe kamu nggak sempat hubungi aku. Ini udah hampir sebulan, dan kamu nggak ada kabar sama sekali.”
“Kamu jangan nuduh sembarangan, aku di sini kerja, bukan main wanita lain!”
“Kamu marah sama aku? Harusnya aku yang marah sama kamu. Kamu keterlaluan, Ri”
 Klik
Keyna memutuskan sambungan teleponnya dengan Andri, pacarnya yang sudah dua tahun tak bersamanya. Hpnya terus berdering, namun diacuhkannya, ia kembali sibuk dengan pekerjaannya mengedit Novel yang baru dikirim ke redaksi tempatnya bekerja. Gadis berkaca mata itu bekerja sebagai editor di perusahaan penerbit buku, Ellips.
Hpnya yang terus berbunyi membuatnya tidak focus dalam bekerja, ia raih Hpnya yang diletakkan tak jauh dari meja kerjanya, kemudian dengan kesal ia mengatakan, “Ada apa, lagi?”
“Ini mama, sayang. Jangan jemput mama, ya. Mama udah di rumah Andri sekarang, kamu buruan ke sini, gih.” Kata mama Keyna terdengar sedih dan khawatir.
“Kenapa, ma? Ada apa?” tanya Keyna bingung.
“Kamu ke sini aja dulu, ntar mama ceritain ada apa. Mama tunggu di sini.” Kata mama Keyna sebelum akhirnya memutuskan teleponnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Keyna dalam hati.
Dengan terpaksa di matikan Laptopnya dan ia bergegas ke rumah Andri yang kebetulan tak jauh dari kantornya.
“Apa Andri udah kembali dari Malaysia? Ah, nggak mungkin, tadi barusan ia menelponku dari sana. Atau jangan-jangan, dia membohongiku?” hati Keyna terus bertanya-tanya hingga mobilnya terparkir rapi di halaman rumah Andri yang sedang di hujani banyak orang, ‘apa yang sebenarnya sedang terjadi?’ kembali hati Keyna penasaran dibuatnya.
Keyna berjalan memasuki rumah dan mendapati beberapa orang menatapnya dengan tatapan sedih, Keyna terus berjalan ke dalam rumah, hingga ia akhirnya bertemu dengan mamanya dan juga keluarga Andri, tapi tidak dengan Andri, ia taka da di ruangan itu.
“Keyna.” Ucap mama Andri lirih sambil terus menangis.
Keyna duduk di dekat mamanya, dan mulai meminta kejelasan ada apa sebenarnya.
“Andri pingsan dan saat perjalanan ke rumah sakit, ia meninggal, Key. Kanker otak yang dideritanya selama ini sudah tidak bisa disembuhkan lagi, dan tak ada satu pun dari kita yang mengetahui penyakitnya itu, apa kamu tahu tentang kanker itu?” kata mama Keyna menatap Keyna sedih.
“Aku juga tidak tahu, ma. Aku baru saja menerima telepon darinya, ma. Nggak mungkin banget dia sudah meninggal, mama pasti bohong, kan?! Mama, ini nggak lucu, ma.” Kata Keyna tersenyum kecut sambil geleng-geleng kepala.
“Apa kamu fikir mereka yang di sini juga bercanda? Kami sedang menunggu jasadnya.” Kata mama Keyna dengan nada sedih.
“Sudahlah, Nan, jangan kau marahi Keyna, dia mungkin masih syok dengan kabar ini.” Kali ini Aman, papanya Andri menegur Nandi, mamanya Keyna.
“Key… hujan semakin deras, mau sampai kapan kamu di sini, kita pulang, yuk.” Ajak Nandi sambil memayungi Keyna yang masih menatap pusara Andri yang semakin basah karena rintihan hujan.
“Maafkankan aku, Ri.” Kata Keyna sebelum akhirnya pergi dari pemakaman umum yang tak jauh dari rumah Andri.

***

Suasana berkabung masih memenuhi rumah Andri, anak-anak pasantren yang di undang oleh orang tuanya Andri membaca al-Quran dengan khusyu dan tawadhu, orang tua Andri pun ikut membaca al-Quran, mengirimkan doa untuk anaknya yang telah lebih dulu di panggil Tuhan.
“Key,” suara lirih itu membuat Keyna menatap ke pintu masuk yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Bisa minta waktunya sebentar?”
Keyna berjalan mengikuti kemana arah perempuan berkerudung itu akan membawanya.


to be countinue





Tidak ada komentar:

Posting Komentar