Selasa, 25 Agustus 2015

The End



“Bodoh! Berapa kali harus aku katakana padamu, aku tak akan pernah mengkhianatimu, kau masih tak bisa percaya padaku?” Haru masih diam.

“Haru! Aku sangat mencintaimu, aku bahkan membantumu menemukan siapa pembunuh itu, meskipun ternyata pembunuh itu dibawah suruhan papa, aku tetap memilihmu, kau mau bukti apa lagi?” Haru masih menunduk dan menatap ujung sepatunya.

“Kenapa, Za? Kenapa kau memberikan file rahasia itu kepada papamu? Padahal kau tau, itu kartu as yang bisa memenangkan aku di persidangan nanti.”

Zaura kaget. Ia terdiam seribu bahasa. Hingga beberapa menit berlalu dalam keheningan, hanya suara riak ombak di laut yang terdengar. Zaura bangun dari duduknya, dan menatap Haru serius.

“Aku akan menjelaskan semuanya, tapi tidak sekarang, Ru. Percayalah padaku, hanya itu yang bisa kukatakan sekarang.”

Zaura meninggalkan Haru yang masih terdiam tak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh kekasihnya itu.

“Aku percaya padamu sepenuhnya. Aku tak menyangka, kau mengkhianatiku.” Lirih Haru sambil menutup mukanya dengan tangannya.

Meskipun Zaura ikut andil dalam membantu Haru untuk menemukan siapa sebenarnya pembunuh keluarganya, namun di sisi lain, pembunuh itu sendiri adalah ayahnya, dan itu yang membuat Haru maklum, tapi di balik semua itu, Haru tetaplah Haru yang harus membuat agar pembunuh keluarganya itu menerima balasan yang setimpal.

 “Kau sedang apa disini? Tadi aku bertemu dengan Zaura di daerah ini, aku tak heran, jika kau pun berada disini. Tapi, aku melihatnya menangis, Ru. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Haru mengangkat kepalanya menatap sahabatnya baiknya sejak empat tahun yang lalu, hingga sekarang Haru masih menganggapnya sahabat baiknya.

“Zaura mencuri file untuk bukti besok dalam persidangan, Gi.” Gio menatap haru tak percaya.

“Bagaimana kita bisa menang tanpa file itu?” kali ini Gio mencoba berfikir. Itulah Gio, tak pernah bertanya kelanjutan atau bagaimana file itu bisa di tangan musuh mereka, tapi ia akan berfikir, apa yang harus mereka lakukan setelah semua itu terjadi.

“Kita tak bisa menyerah, Gi. Meskipun aku harus mati.” Kata Haru dingin.

“Jadi, apa yang sedang kau fikirkan, apa kau punya ide?” tanya Gio sambil menatap jauh ke ujung laut.

“Aku tak tau, apa ini akan berhasil atau tidak, yang jelas, aku akan melakukannya, meskipun tanpa kau, Gi, dan mati akan jadi resiko terbesar melihat siapa papanya Zaura saat ini.”

“Ceritakan padaku, ide gila apa yang beresiko mati?”

Dengan nada sedikit bergetar, Haru menceritakan ide yang terlintas di pikirannya, Gio ngeri mendengarnya, sempat menolak dan membantah, namun Gio tak bisa meninggalkan sahabatnya untuk melakukan ide gila itu sendirian, akhirnya, ia pun setuju.

***

“Kita hanya bertiga, Ru, apa kau yakin, rencana kita akan berhasil? Pengawalnya banyak banget.” pertanyaan yang mengandung keraguan itu membuat Haru menatap Damar tajam. Sahabat yang ikut membantunya selain Gio itu memang sedikit pengecut, tapi Gio tetap mengikutsertakannya, karena Damar pandai dalam acting, dan itu sangat membantunya saat ini.

“Jika kau ragu, belum terlambat untuk mundur, Mar.” kata Haru dingin.

“Oke oke, aku akan mencoba mengelabui para pengawal, kita akan bertemu di sini tepat satu jam kemudian, kan. Aku harap perkiraan kalian tepat.” Kata Damar mantap. Entah dari mana datangnya keberanian itu, yang jelas, Haru dan Gio menatapnya kagum dengan keberaniannya.

“Kau tak hanya sandiwara, kan?!”

“Iya, aku hanya memberanikan diri, jadi, cepatlah kalian kerja, dan jangan menimbulkan masalah. Kalian mengerti, kan?! Kalau begitu, aku bergerak duluan, akan kubuat para pengawal itu kewalahan menghadapiku.” Kata Damar yang langsung turun lebih dulu dari Vios hitam itu kemudian harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah Zaura.

“Dia berakting seakan-akan kita ini FBI, detektif atau apa?! Dasar actor nyasa!” kata Gio geleng-geleng kepala.

“Ayo, Gi. Kita nggak punya banyak waktu.” Kata Haru sambil turun dari mobil dan disusul Gio.

Dengan pakaian serba hitam, plus penutup kepala yang juga hitam, kini ke dua pemuda tampan itu bisa disamakan dengan pencuri berkelas, terlihat dari jam tangan ke duanya yang mewah, sepatu bermerek dan bahkan semua perlengkapan yang mereka pakai sekarang bernilai ratusan bahkan jutaan.

Tak ada yang akan percaya, ke dua pemuda kaya, pintar serta tampan itu kini menyelinap kerumah salah satu politikus Negara untuk mengambil file penting milik mereka.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar