“Bodoh!
Berapa kali harus aku katakana padamu, aku tak akan pernah mengkhianatimu, kau
masih tak bisa percaya padaku?” Haru masih diam.
“Haru!
Aku sangat mencintaimu, aku bahkan membantumu menemukan siapa pembunuh itu,
meskipun ternyata pembunuh itu dibawah suruhan papa, aku tetap memilihmu, kau
mau bukti apa lagi?” Haru masih menunduk dan menatap ujung sepatunya.
“Kenapa,
Za? Kenapa kau memberikan file rahasia itu kepada papamu? Padahal kau tau, itu
kartu as yang bisa memenangkan aku di persidangan nanti.”
Zaura
kaget. Ia terdiam seribu bahasa. Hingga beberapa menit berlalu dalam
keheningan, hanya suara riak ombak di laut yang terdengar. Zaura bangun dari
duduknya, dan menatap Haru serius.
“Aku
akan menjelaskan semuanya, tapi tidak sekarang, Ru. Percayalah padaku, hanya
itu yang bisa kukatakan sekarang.”
Zaura
meninggalkan Haru yang masih terdiam tak percaya dengan apa yang telah
dilakukan oleh kekasihnya itu.
“Aku
percaya padamu sepenuhnya. Aku tak menyangka, kau mengkhianatiku.” Lirih Haru
sambil menutup mukanya dengan tangannya.
Meskipun
Zaura ikut andil dalam membantu Haru untuk menemukan siapa sebenarnya pembunuh
keluarganya, namun di sisi lain, pembunuh itu sendiri adalah ayahnya, dan itu
yang membuat Haru maklum, tapi di balik semua itu, Haru tetaplah Haru yang
harus membuat agar pembunuh keluarganya itu menerima balasan yang setimpal.
“Kau sedang apa disini? Tadi aku bertemu
dengan Zaura di daerah ini, aku tak heran, jika kau pun berada disini. Tapi,
aku melihatnya menangis, Ru. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Haru
mengangkat kepalanya menatap sahabatnya baiknya sejak empat tahun yang lalu,
hingga sekarang Haru masih menganggapnya sahabat baiknya.
“Zaura
mencuri file untuk bukti besok dalam persidangan, Gi.” Gio menatap haru tak
percaya.
“Bagaimana
kita bisa menang tanpa file itu?” kali ini Gio mencoba berfikir. Itulah Gio,
tak pernah bertanya kelanjutan atau bagaimana file itu bisa di tangan musuh
mereka, tapi ia akan berfikir, apa yang harus mereka lakukan setelah semua itu
terjadi.
“Kita tak
bisa menyerah, Gi. Meskipun aku harus mati.” Kata Haru dingin.
“Jadi,
apa yang sedang kau fikirkan, apa kau punya ide?” tanya Gio sambil menatap jauh
ke ujung laut.
“Aku
tak tau, apa ini akan berhasil atau tidak, yang jelas, aku akan melakukannya,
meskipun tanpa kau, Gi, dan mati akan jadi resiko terbesar melihat siapa
papanya Zaura saat ini.”
“Ceritakan
padaku, ide gila apa yang beresiko mati?”
Dengan
nada sedikit bergetar, Haru menceritakan ide yang terlintas di pikirannya, Gio
ngeri mendengarnya, sempat menolak dan membantah, namun Gio tak bisa
meninggalkan sahabatnya untuk melakukan ide gila itu sendirian, akhirnya, ia
pun setuju.
***
“Kita
hanya bertiga, Ru, apa kau yakin, rencana kita akan berhasil? Pengawalnya
banyak banget.” pertanyaan yang mengandung keraguan itu membuat Haru menatap
Damar tajam. Sahabat yang ikut membantunya selain Gio itu memang sedikit
pengecut, tapi Gio tetap mengikutsertakannya, karena Damar pandai dalam acting,
dan itu sangat membantunya saat ini.
“Jika
kau ragu, belum terlambat untuk mundur, Mar.” kata Haru dingin.
“Oke
oke, aku akan mencoba mengelabui para pengawal, kita akan bertemu di sini tepat
satu jam kemudian, kan. Aku harap perkiraan kalian tepat.” Kata Damar mantap.
Entah dari mana datangnya keberanian itu, yang jelas, Haru dan Gio menatapnya kagum
dengan keberaniannya.
“Kau
tak hanya sandiwara, kan?!”
“Iya,
aku hanya memberanikan diri, jadi, cepatlah kalian kerja, dan jangan menimbulkan
masalah. Kalian mengerti, kan?! Kalau begitu, aku bergerak duluan, akan kubuat
para pengawal itu kewalahan menghadapiku.” Kata Damar yang langsung turun lebih
dulu dari Vios hitam itu kemudian harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah
Zaura.
“Dia
berakting seakan-akan kita ini FBI, detektif atau apa?! Dasar actor nyasa!”
kata Gio geleng-geleng kepala.
“Ayo,
Gi. Kita nggak punya banyak waktu.” Kata Haru sambil turun dari mobil dan
disusul Gio.
Dengan
pakaian serba hitam, plus penutup kepala yang juga hitam, kini ke dua pemuda
tampan itu bisa disamakan dengan pencuri berkelas, terlihat dari jam tangan ke
duanya yang mewah, sepatu bermerek dan bahkan semua perlengkapan yang mereka
pakai sekarang bernilai ratusan bahkan jutaan.
Tak ada
yang akan percaya, ke dua pemuda kaya, pintar serta tampan itu kini menyelinap
kerumah salah satu politikus Negara untuk mengambil file penting milik mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar