Kamis, 05 November 2015
Jalan Hidup
Perjalanan hidup itu masih panjang, kata pamanku tempo hari. Tidak bagiku, perjalanan hidup bagiku pendek. Aku tak begitu mengerti mengapa pamanku mengatakan seperti itu, apa karena ia telah hidup berpuluh-puluh tahun, atau karena ia yakin, bahwa ia takkan meninggal dengan cepat. Bukannya aku mendoakan agar pamanku cepat meninggal, tapi aku hanya ingin mengatakan bahwa mati itu tak ada yang bisa memprediksikannya.
Aku tak bisa memprediksikan apa yang akan terjadi semenit kemudian, apakah aku masih hidup esok, atau tidak. Oleh karena itu, aku mengatakan bahwa perjalanan hidup itu pendek. Meski kita selalu berdoa agar diberikan panjang umur, tapi tetap saja kita tak bisa tahu apa besok kita masih hidup.
"Saat doa kamu ucapkan, kamu harus yakin satu hal, positive thinking sama Tuhanmu, bahwa umurmu akan panjang, begitu pun dengan perjalanan hidupmu," kata sahabatku Jun saat aku mengutarakan pendapatku tentang perjalanan hidup bagiku pendek.
"Aku selalu percaya, Allah tuhanku selalu mendengar doa kami, tapi aku mengatakan itu karena aku tak bisa memprediksikan apa yang akan terjani semenit kemudian," kataku sambil menerawang jauh ke ujung pantai yang sedang kami kunjungi.
"Oke, kalau itu pendapatmu, tapi jangan salahkan mereka juga yang mengatakan bahwa perjalanan itu panjang, karena mereka juga memiliki alasan tersendiri mengapa mereka mengatakan demikian," kata Jun sambil melemparkan batu ke pantai yang sepi dari pengunjung itu.
"Aku tak terima, mereka mengatakan itu seakan mereka bisa memprediksikan bahwa mereka memiki umur panjang, itu salah menurutku, Jun," kataku menatap sahabat bertopi itu tajam.
"Terserah katamu, Nad, aku masih tak mengerti, mengapa kamu bisa berpikiran pendek seperti itu," kata Jun kembali melemparkan batu ke pantai.
Aku diam, hening.
Lama kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku masih duduk di pasir putih dan menikmati angin yang berhembus membawaku menerawang jauh.
"Nadin," suara lirih Jun membuatku menatapnya yang kini duduk di sisiku.
"Kalau kamu bersedia, maukah kamu menjadi guru bagiku?" tanyanya tak melihatku.
"Guru apa?"
"Guru agama, karena aku mulai tertarik dengan Islam, dan aku ingin mempelajarinya,"
"Kamu mau masuk Islam?"
"Bukan, tapi mempelajari agamamu, bagaimana, apa kamu setuju?"
...
"Kok diam?"
"Kenapa harus aku, kenapa kamu nggak meminta sama orang yang ngerti dan lebih pintar dariku?"
"Karena cuma kamu sahabat baikku yang beragama Islam,"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar