Dalam hembusan nafas, doaku selalu untukmu
Dalam derap langkah, juga ada doa untukmu
Dalam keheningan malam, tak henti doa untukmu
Karena cintaku abadi untukmu
Kuhentikan tulisanku untukmu hanya sampai di sini. Aku tak ingin mengusikmu dengan panjangnya tulisanku. Aku haya ingin agar kau bahagia membaca tulisan-tulisanku. Maaf, jika selama ini aku tak pernah ada untukmu, jauh darimu, dan tak pernah membalas pesan-pesanmu. Aku hanya ingin kita bisa sama-sama menahan rasa ini hingga kita halal kelak. Bukannya aku sok naif, tapi aku hanya ingin menjalankan sunnah Rasulullah. Pacaran setelah menikah itu akan sangat indah dan tentu saja jauh dari dosa.
Apa harapanku salah? Atau terlalu berlebihan? Aku hanya ingin seperti mereka, yang mampu menjaga hubungan mereka dengan jalan halal. Aku harap kau mengerti dan membantuku mewujudkan impian ini.
Zataluna
"Serius amat, Zan? Surat dari siapa?" pertanyaan Surya membuatku langsung menutup lembaran itu dan memasukkannya ke saku celanaku.
"Dari Luna. Ngapain kau ke sini, Ya? Ada yang bisa kubantu?" tanyaku sambil merebahkan diriku di atas kasurku.
"Aku tak ingin kau membantuku, tapi aku ingin kau ikut denganku sekarang," kata cowok bertubuh tinggi itu sambil menarikku keluar dari kamarku. Dengan sedikit kesal kuikuti langkahnya keluar rumah.
"Mau kemana, sih?" tanyaku kesal saat Surya membuatku masuk ke mobilnya.
***
"Apa?! Fauzan ikot ke sini juga?" kata-kata Nadia dengan nada terkejut itu membuatku menghentikan langkahku.
"Surya, sebernarnya apa tujuanmu membawaku ke sini?" tanyaku tajam menatap sahabatku itu.
Kami masih di luar ruangan teater di kampusku.
"Mereka memintaku untuk menjemputmu. Kau tau kan, kau yang terpilih menjadi pangeran dalam teater ini." kata Surya males.
Tak kuhiraukan lagi apa yang dikatakannya. Kuputuskan untuk memasuki ruang teater yang mulai riuh itu.
"Aku tak ingin Fauzan yang menjadi pangerannya, dia saja tidak menghiraukan teater ini, mengapa harus dia yang menang, sih?" kata Yuna sambil turun dari panggung. Mereka belum menyadari kedatanganku.
Aku terus berjalan meskipun mereka kini mulai terdiam. Aku menaiki panggung utama dan menatap mereka yang kini terdiam. Kuperhatiakan mereka satu per satu, tak ada yang mulai berbicara. Meskipun mereka terlihat tak menghiraukanku, tapi kuputuskan untuk bicara.
"Maaf semua teman-teman, aku ingin bicara sebentar, bisa?" kataku datar dan sedikit keras.
Sebenarnya ruangan ini sudah sangat sepi untuk mereka mendengar suaraku, namun aku sedikit meninggikan suaraku agar mereka memperhatikanku. Karena mereka semuanya diam, aku memilih untuk melanjutkan kata-kataku.
"Aku ingin kalian tahu, aku tak pernah mengikuti teater apapun sebelumnya, dan aku memenangkan pemilihan sebagai pangeran pun bukan aku yang memintanya, jadi aku harap kalian bisa menerima apa pun keputusanku," kataku jujur, karena aku tak ingin mengikuti teater bodoh ini.
"Terus, apa keputusanmu?" tanya Damar si ketua acara,
"Aku mengundurkan diri,"
Seisi ruangan mulai riuh.
"Siapa yang kau tunjukan untuk menggantikanmu?" Damar kembali bertanya, tapi kali ini dengan nada yang sedikit kecewa.
Damar salah satu sahabat dekatku, aku tau dia kecewa dengan keputusanku, tapi apa boleh buat, aku tak ingin masuk dalam drama romantis bodoh ini.
"Surya," kataku sambil menatap Surya yang berdiri di bawah panggung. Ia kini menatapku tajam.
"Tak bisa, Surya harus fokus pada kelengkapan bahan yang di butuhkan untuk acara. Lain?" tanya Damar sambil menaiki panggung. Ia mulai mendekatiku dan menatapku tajam.
"Sudahlah Fauzan, aku tau kau tak suka teater romantis, tapi aku tak bisa menerima keputusan sepihak ini. Kau tetap akan menjadi pangeran dalam teater ini, titik," katanya sambil memberikan naskah di tanganku.
***
Surya menatapku mengejek. Tak kuacuhkan tatapannya. Aku masih menatap naskah teater yang ada di tanganku. Judul untuk teater di malam penutupan PENSI (Pentas Seni) di Universitasku ini adalah Ayat-Ayat Cinta. Aku tersenyum miris. Sejak kapan aku pernah bermain teater? Tak pernah sekalipun. Tapi, kenapa sekarang aku harus ikut? kenapa harus aku? Apa tak ada cowok lain di Universitas sebesar ini? Ya Tuhan, aku harus bagaimana?
"Mukamu pucat banget, bro," kata Surya masih tersenyum mengejek.
"Kau sakit?" kali ini tanya Damar.
Kami sedang menikmati semangkuk bakso di tempat biasa kami kunjungi saat ingin makan bakso. Aku menatap Damar dan Surya bergantian. Mereka akhirnya tertawa keras karena telah berhasil membuatku jengkel setengah mati.
"Sabar, bro. Hanya satu malam kok," kata Damar di sela tawanya.
"Satu malam untuk seumur hidup," timpal Surya yang masih tertawa.
Aku tak meladeni mereka. Ku putuskan untuk menyantap bakso yang baru saja di sajikan di atas meja kami.
Mereka ikut diam saat menatap pesanan mereka terhidang di atas meja, dan tanpa aba-aba, mereka ikut menyantap makanan mereka masing-masing.
"Zan, kau akan bersanding dengan Jingga, apa kau siap? Apa Luna akan marah?" tanya Surya menatapku iba.
Apa-apaan pertanyaannya itu, dan kenapa juga dia harus menatapku seperti itu.
"Jelas Luna akan marah, dan itu akan sangat menarik bukan," kata Damar tersenyum bangga.
"Wah, aku sangat menunggu akan datangnya hari itu," kata Surya ikut tersenyum jail.
Gila! Itu dua sahabat atau dua musuh? Ah terserah, aku kembali tak mengacuhkan mereka. Luna adalah tunanganku, tepatnya tiga hari yang lalu, dan seluruh mahasiswa di Universitasku tau hal itu. Bukan karena aku yang memenangkan gelar pangeran kampus, tapi lebih ke Luna, yang bertittle putri sulung Rektor kampus sekaligus gadis tercantik seantero Universitas ini.
"Zan, aku yakin, Luna pasti akan mendukung dan akan mengerti tentang ini. Ok, bro," kata Damar sambil tersenyum terlihat ingin menenangkanku.
"Semoga," kataku dingin.
Ke dua sahabatku tak lagi berbicara. Mereka kembali fokus dengan makanan mereka.
***
Malam puncak pun tiba. Selama seminggu ini aku mengikuti instruksi Damar dengan mengikuti latihan dengan rajin dan fokus. Jingga pun mengerti saat aku katakan, aku tak ingin bersentuhan dengannya seperti dalam Novel Ayat-ayat Cinta itu. Tapi lagi-lagi Damar tak terima, dan akhirnya aku pun melakukan yang diperintaknya.
Huuuft! Malam ini malam yang paling berat bagiku. Aku hanya berharap agar aku tak lagi mendapat tulisan atau surat dari Luna untukku karena masalah ini. Aku tahu, Luna sangat menjaga dirinya, tapi aku tak bisa menjaga diriku hingga aku harus berperan seperti ini.
to be countinue....
Sebenarnya ruangan ini sudah sangat sepi untuk mereka mendengar suaraku, namun aku sedikit meninggikan suaraku agar mereka memperhatikanku. Karena mereka semuanya diam, aku memilih untuk melanjutkan kata-kataku.
"Aku ingin kalian tahu, aku tak pernah mengikuti teater apapun sebelumnya, dan aku memenangkan pemilihan sebagai pangeran pun bukan aku yang memintanya, jadi aku harap kalian bisa menerima apa pun keputusanku," kataku jujur, karena aku tak ingin mengikuti teater bodoh ini.
"Terus, apa keputusanmu?" tanya Damar si ketua acara,
"Aku mengundurkan diri,"
Seisi ruangan mulai riuh.
"Siapa yang kau tunjukan untuk menggantikanmu?" Damar kembali bertanya, tapi kali ini dengan nada yang sedikit kecewa.
Damar salah satu sahabat dekatku, aku tau dia kecewa dengan keputusanku, tapi apa boleh buat, aku tak ingin masuk dalam drama romantis bodoh ini.
"Surya," kataku sambil menatap Surya yang berdiri di bawah panggung. Ia kini menatapku tajam.
"Tak bisa, Surya harus fokus pada kelengkapan bahan yang di butuhkan untuk acara. Lain?" tanya Damar sambil menaiki panggung. Ia mulai mendekatiku dan menatapku tajam.
"Sudahlah Fauzan, aku tau kau tak suka teater romantis, tapi aku tak bisa menerima keputusan sepihak ini. Kau tetap akan menjadi pangeran dalam teater ini, titik," katanya sambil memberikan naskah di tanganku.
***
Surya menatapku mengejek. Tak kuacuhkan tatapannya. Aku masih menatap naskah teater yang ada di tanganku. Judul untuk teater di malam penutupan PENSI (Pentas Seni) di Universitasku ini adalah Ayat-Ayat Cinta. Aku tersenyum miris. Sejak kapan aku pernah bermain teater? Tak pernah sekalipun. Tapi, kenapa sekarang aku harus ikut? kenapa harus aku? Apa tak ada cowok lain di Universitas sebesar ini? Ya Tuhan, aku harus bagaimana?
"Mukamu pucat banget, bro," kata Surya masih tersenyum mengejek.
"Kau sakit?" kali ini tanya Damar.
Kami sedang menikmati semangkuk bakso di tempat biasa kami kunjungi saat ingin makan bakso. Aku menatap Damar dan Surya bergantian. Mereka akhirnya tertawa keras karena telah berhasil membuatku jengkel setengah mati.
"Sabar, bro. Hanya satu malam kok," kata Damar di sela tawanya.
"Satu malam untuk seumur hidup," timpal Surya yang masih tertawa.
Aku tak meladeni mereka. Ku putuskan untuk menyantap bakso yang baru saja di sajikan di atas meja kami.
Mereka ikut diam saat menatap pesanan mereka terhidang di atas meja, dan tanpa aba-aba, mereka ikut menyantap makanan mereka masing-masing.
"Zan, kau akan bersanding dengan Jingga, apa kau siap? Apa Luna akan marah?" tanya Surya menatapku iba.
Apa-apaan pertanyaannya itu, dan kenapa juga dia harus menatapku seperti itu.
"Jelas Luna akan marah, dan itu akan sangat menarik bukan," kata Damar tersenyum bangga.
"Wah, aku sangat menunggu akan datangnya hari itu," kata Surya ikut tersenyum jail.
Gila! Itu dua sahabat atau dua musuh? Ah terserah, aku kembali tak mengacuhkan mereka. Luna adalah tunanganku, tepatnya tiga hari yang lalu, dan seluruh mahasiswa di Universitasku tau hal itu. Bukan karena aku yang memenangkan gelar pangeran kampus, tapi lebih ke Luna, yang bertittle putri sulung Rektor kampus sekaligus gadis tercantik seantero Universitas ini.
"Zan, aku yakin, Luna pasti akan mendukung dan akan mengerti tentang ini. Ok, bro," kata Damar sambil tersenyum terlihat ingin menenangkanku.
"Semoga," kataku dingin.
Ke dua sahabatku tak lagi berbicara. Mereka kembali fokus dengan makanan mereka.
***
Malam puncak pun tiba. Selama seminggu ini aku mengikuti instruksi Damar dengan mengikuti latihan dengan rajin dan fokus. Jingga pun mengerti saat aku katakan, aku tak ingin bersentuhan dengannya seperti dalam Novel Ayat-ayat Cinta itu. Tapi lagi-lagi Damar tak terima, dan akhirnya aku pun melakukan yang diperintaknya.
Huuuft! Malam ini malam yang paling berat bagiku. Aku hanya berharap agar aku tak lagi mendapat tulisan atau surat dari Luna untukku karena masalah ini. Aku tahu, Luna sangat menjaga dirinya, tapi aku tak bisa menjaga diriku hingga aku harus berperan seperti ini.
to be countinue....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar