Aku sempat kesal dengan Damar yang seenak jidatnya memasukkan namaku dalam daftar pemeran pria dalam drama ini, aku mulai menerimanya karena aku pikir, tak ada salahnya mencoba, aku pun tak yakin bisa menang. Tapi aku semakin jengkel dan kesal, saat aku tau, aku pemenangnya.
Kini aku tak bisa mundur lagi, drama ini akan berlangsung kurang dari tiga menit lagi, semua sudah siap dengan perannya masing-masing.
"Kau tak apa-apa, kan, Zan?" Damar menepuk bahuku, aku hanya tersenyum kecut. Ia malah terlihat mengulumkan senyum. Begitu pun dengan Surya yang hadir dibelakang Damar, ia malah nyengir nggak jelas.
"Tenang, bro, Luna ada di barisan paling belakang, dan papanya ada di barisan paling depan, kudoakan agar kau selamat ya, bro, good luck," kata Surya yang akhirnya tertawa ringan.
"Asem lu!!"
"Jelas aja, bau gue asem karena belum mandi," katanya lagi sambil melet dan akhirnya menghilang ke belakang gedung dengan tawanya yang di buat-buat.
"Bro, ada hal yang sampai sekarang ingin kutanyakan pada kau, aku penasaran, kenapa Luna menulis surat untuk kau? Padahal zaman secanggir sekarang, semua bisa melalui email atau medsos apa gitu, tapi ia memilih hal seribet itu?" kali ini Damar bertanya dengan tenang sambil merapikan cameranya.
"Aku juga nggak tau kenapa, ia mintanya seperti itu, ya aku terima aja, lagian, ia tak memintaku untuk membalas suratnya itu," jawabku tenang.
"Satu hal lagi, kenapa kau terima lamarannya?"
"Woi! Draama udah bisa siap-siap," suara Eko memutuskan perbincangan kami.
"Lain kali kita bahas lagi, aku siap-siap dulu," kataku yang langsung kabur menyusul teman-temanku.
Tepuk tangan membahana, memenuhi gedung ini. Aku dan teman-teman drama yang lain undur diri dan pamit, tapi siul-siul dan tepuk tangan masih terdengar jelas. Apa segitu bagusnya. Kulihat Nadia dan Jingga saling berpelukan dengan teman-teman yang ada di belakang layar, mereka terlihat terharu.
"Gila! Aku nggak nyangka, kau bisa berperan sebaik itu," Damar langsung memeluk bahuku.
"Keren banget, bro," kali ini giliran Surya yang juga merangkul bahuku.
"Mantap!" Eko mengacungkan jempolnya ke arahku.
Dan dalam sekejab, teman-teman yang lainnya mengerumuniklu dan menyiramku dengan air nggak jelas, apa-apaan ini?!
Aku menatap tajam mereka yang hanya ketawa dan nyengir. Bukan hanya itu, aku yang baru saja ingin meninggalkan tempat itu langsung dilempari tepung dan telor, GILA! Tanggal berapa hari ini, Oh TUHAN! Aku baru ingat, malam ini tepat pukul 00.00 WIB aku ulang tahun ke 22, pantes saja mereka mengerjaiku seperti ini.
"HAPPY BIRTHDAY FAUZAN! WISH YOU ALL THE BEST!" seru mereka kompak. Ah! Aku sampai terharu.
Aku hanya menundukkan badanku 90 derajat dan kuteriakkan "TERIMA KASIH SEMUA,"
Aku kembali berdiri seperti semula, mataku yang sedikit tertutupi tepung kucoba hapus bersih, karena ada cahaya lilin dan kue yang mendekat kepadaku.
Itu Luna, ia datang membawakan kue Tar bertingkat. Aku ngerasa seperti orang penting saja, hahaha. Kali ini mataku benar-benar ingin mengeluarkan air mata. Aku tak pernah diperlakukan seistimewa ini. Lahir tanpa orang tua, hidup dan besar di panti asuhan yang tak terlalu mementingkan ulang tahun. Kalau bukan karena kecerdasanku yang mendapatkan beasiswa di Universitas ini, aku mungkin ikut seperti anak-anak panti lainnya yang hanya menjadi pekerja buruh atau sejenisnya.
Kembali ke keadaan sekarang, Luna kini berdiri di hadapanku. Ia terlihat cantik dan angun dengan kerudung putihnya. Senyumnya membuatku sadar dan begitu bersyukur karena aku akan memilikinya.
"Berdoalah sebelum meniup lilinnya," katanya yang terdengar begitu merdu di telingaku.
Kupejamkan mataku, aku berharap agar bisa terus hidup dalam kebahagian yang diridhaiNya, amin. Kutiup lilin yang berjumlah dua puluh dua itu, dan seketika tepuk tangan meriah langsung terdengar.
Suasana gedung kembali riuh, karena band terkenal kini sedang menyanyikan lagunya di atas panggung. Ulang tahunku ini di rayakan di balik panggung, tepatnya di belakang gedung.
Setelah semua lilin di kue itu mati, semua teman-teman dan sahabatku langsung menyerbu kuenya, mereka membaginya rata.
"Apa doamu, boleh aku tau?" tanya Luna yang duduk di sampingku.
"Rahasia," kataku tersenyum senang.
"Pelit," katanya ketus dan bangun dari duduknya, ia ikut nimbrung dengan teman-teman yang lain.
Tak lama kemudian, aku pun melakukan hal yang sama.
***
"Kau tau, Zan. Aku kurang suka dengan kejadian semalam, saat Luna menyuruhmu berdoa sebelum meniup lilin, itu kan bukan ala kita," kata Surya skeptis.
"Apa-apaan sih kau, Ya. Tumben banget kritik masalah itu, kita aja nggak masalah sama hal itu, iya kan, Zan?" Damar menimpali.
"Setauku, Luna muslimah banget banget dah, kenapa harus meniru keadaan itu?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar