"Aku ingin membina rumah tangga bersamamu, Ken," ujar Hana serius.
Kenan hanya membisu karena terkejut. Sejak kapan Hana bicara blak-blakan begini, apa ia perempuan yang suka blak-blakan? pikirnya.
Lelaki dengan lesung pipi dan belah dagunya itu hanya tersenyum. Mata elangnya menatap Hana sendu.
"Aku serius, Ken! Kita udah saling kenal, jadi aku fikir, tak ada salahnya kalau kita menikah. Aku tau kamu juga sedang mencari seorang pendamping, iya, kan?" Hana menatap Kenan lembut.
"Iya, aku memang sedang mencari pendamping hidup, tapi aku tidak memintamu, Na," lirih Kenan.
Hana terdiam, matanya mulai berkaca-kaca.
"Jangan menangis, Na. Oke! Aku mau tanya sama kamu, kenapa kamu memintaku untuk menjadi pendampingmu? Jujur, Na,"
"Aku sayang sama kamu, Ken," lirih Hana tapi Kenan masih bisa mendengarnya.
"Kamu yakin?"
Hana hanya mengangguk sambil terus menunduk, ia menyembunyikan air matanya yang hampir tumpah.
"Tapi kita tidak begitu saling mengenal, Na. Baru dua bulan kalau tidak salah, karena kamu anak baru di kantor papaku, iya, kan, Na, terus bagaimana bisa kamu sayang sama aku secepat itu?" Kena mulai frustasi menghadapi perempuan yang baru dua bulan bekerja bersamanya.
"Kebersamaan kita selama dua bulan cukup membuatku yakin, kamu orang yang bisa menjadi imamku," ujar Hana tegas.
"Hana, kamu masih muda dan berbakat, kamu juga perempuan yang cantik, ramah dan pasti banyak karyawan lelaki yang melirikmu, kenapa kamu memilihku?"
"Kamu nggak mau?" Hana balik bertanya, Kenan terpaku. Bukannya ia tak menginginkan perempuan yang nyaris sempurna itu, tapi ia tak ingin bermasalah dengan kakaknya, Rayyan. Direktur muda itu telah jatuh hati pada Hana sejak pandangan pertama, dan Kenan menjadi tempat curhatnya selama ini. Bagaimana mungkin ia mengkhianati kakaknya sendiri.
"Kenapa tidak Rayyan, Na?" tanya Kenan hati-hati.
"Karena aku sayangnya sama kamu, Ken, bukan kakakmu," kali ini suara Hana sedikit meninggi, hingga beberapa mata di coffe tempat mereka bertemu sempat melirik mereka.
"Aku akan jujur sama kamu, Na. Aku tak bisa menerima kamu, karena kakakku Ray..." kata-kata Kenan terputus karena Rayyan kini berada tepat di hadapannya.
"Kalian sedang apa berduaan di sini? Handphone kalian tidak bisa di hubungi, syukur aku tau tempat biasa kamu kunjungi, Ken," kata Rayyan dingin sambil duduk di samping Kenan.
"Maaf, pak Ray, kami sedang membicarakan masalah pribadi, bisa bapak tidak duduk di sini untuk sementara?" pertanyaan Hana yang blak-blakan itu mampu membuat Rayyan membatu pun kenan.
"Hana, kenapa kamu jadi tidak sopan begini?"
"Aku tidak apa-apa, Ken. Kalian lanjutkan saja," kata Rayyan dingin sambil bangun dari duduknya dan pergi keluar coffe.
"Kamu keterlaluan, Na," Kenan ikut bangun dari duduknya, tapi Hana menahan tangannya dan memintanya untuk kembali duduk, Kenan meredam emosinya dan kembali duduk. Emosi hanya membawa bumerang, pikirnya.
"Masalah kita belum selesai, Ken," kata Hana tegas, sisa air mata telah bersih dari wajahnya.
"Kenan, maukah kamu menikah denganku?" kata Hana lembut.
"Apa kamu mau menerimaku seumur hidupmu, meskipun kamu belum mengenalku?" tanya Kenan tenang.
"Tentu,"
"Tapi sepertinya aku tidak bisa menerimamu, Na. Belum menikah saja kamu sudak bersikap demikian pada kakakku, bagaimana jika kita sudah menikah, mungkin sikapmu akan lebih berani dari ini,"
Hana terdiam.
"Meskipun kita belum lama saling mengenal, tapi aku ragu bisa menerima semua sikapmu yang akan aku tahu ketika kita sudah menikah,"
Hana masih terdiam.
"Kamu tahu, Na, menikah bukanlah menyatukan dua orang, tapi menyatukan dua keluarga dan sama-sama menerima dia dan menemaninya hingga maut memisahkan,"
Hana tetap diam, ia mendengarkan Kenan dengan baik, tanpa bantahan sedikit pun.
"Aku mau menikah denganmu, tapi izinkan aku mengenalmu lebih dulu, aku tidak masalah menikah dengan siapa pun, asalkan aku mengenalnya dengan baik dulu, karena aku masi meragukanmu,"
Kali ini Hana menatap Kenan dengan mata berbinar.
"Kalau kamu mau merubah sikapmu yang tadi, kita bisa melanjutkan hubungan yang mau kita mulai ini, bagaimana?" tawar Kenan masih dengan sikapnya yang tenang. Oke, mungkin aku sudah gila menerima perempuan ini, tapi sikapnya membuatku tertantang untuk mengenalnya lebih jauh, biarlah urusan Rayyan kufikirkan setelah ini, pikirnya.
"Jadi kamu mau aku berubah untukmu?" tanya Hana lesu.
"Bukan untukku, tapi untuk kebaikan kamu sendiri,"
"Oke, aku siap," kata Hana dengan wajah semeringah.
Kenan ikut tersenyum dan menatap Hana lembut.
"Butuh berapa lama kamu mau mengenalku hingga kamu bisa menerimaku?"
"Selama kamu bisa menjadi dirimu sendiri selama bersamaku, dengan begitu, aku bisa memutuskan, aku bisa menerimamu atau tidak,"
Jawaban Kenan membuat Hana tertunduk lesu. Perempuan bak bidadari itu menyadari dirinya tak sebaik perempuan yang aada di sekeliling Kenan, yang bahkan rela mati asal bisa bersama dengan lelaki itu, tapi ia akan berusaha menjadi yang terbaik, karena ia yang memilih dan meminta lelaki itu untuk menjadi imamnya.
"Baiklah, aku setuju," ujar Hana dengan tersenyum lembut.
"Untuk sekarang, kamu jumpai Ray dan minta maaf, setuju," pinta Kenan namun lebih kepada sebuah perintah yang tak bisa di tolak.
"Baiklah," jawab Hana lesu.
Kenan hanya bisa tersenyum melihat sikap perempuan yang kini menjadi calon istrinya.
To Be Continue..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar