Satu
Gerbang
rumah itu sangat tinggi, nuansa mencekam segera merasuki tubuhku. Selain karena tak berpenghuni, halamannya
yang terlalu luas dan juga karena kisah misteri di balik rumah ini. Konon,
semua penghuni rumah ini meninggal dalam satu kecelakaan pesawat terbang, tapi
tidak satu pun dari mereka yang ditemukan jasadnya. Jadilah seluruh keluarga
besarnya meninggalkan rumah ini begitu saja, tanpa ada yang mengurusnya, hingga
dengan sendirinya rusak dimakan waktu.
Ku lirik sahabatku yang bersemangat, matanya berbinar
senang, seperti anak kecil yang baru mendapatkan hadiah ulang tahun, ia tersenyum
semeringah. Juan sangat menyukai hal-hal
yang berbau misteri, mistis dan horror. Baginya, semua itu adalah hal yang
harus ia taklukkan. Karena itu pula, sekarang aku, dan dua sahabat baikku,
Helena dan Erina berada di depan pagar rumah misteri ini.
“Kau tau Rin, kau memang selalu bisa diandalkan dalam segala hal,”
katanya tanpa melepas pandangannya dari rumah itu.
Ia baru
kembali dari luar negeri, seminggu di rumah kerjanya hanya tidur, makan, dan
bersenang-senang dengan teman-teman lamanya. Saat ia mulai merasa bosan, ia
kembali menjalani aktifitasnya menaklukkan setiap misteri yang ada. Kali ini,
ia memintaku untuk mencari tempat-tempat yang diselimuti misteri di kota ini, aku
langsung membawanya kesini. Awalnya aku ragu, apa aku bisa mengatasi rasa
takutku? Tapi setelah Helena dan Erina ikut bersamaku, kuberanikan diri untuk
ikut dengan Juan, melawan dan menaklukkan rasa takut.
“Terima kasih,” lirihku.
“Ju, Rin, aku
dan Erina kembali ke rumah ya, sepertinya aku tak ingin ikut campur dengan
rencanamu,” cicit Helena sambil
nyengir kuda padaku. Apa
maksudnya mereka mundur? Bukannya mereka udah janji ikut acara menaklukkan
ketakutan ini?
Juan hanya tertawa ringan menanggapi kata-kata Helena.
Selepas tawanya menghilang, ia menatapku dan Helena tajam.
“Kalian tidak akan kemana-mana,” tegasnya.
“Oh, ayolah, Ju, kamu tidak kasihan melihat wajah Rina yang sudah pucat banget,” lanjutnya lembut. Helena
menatapku penuh harap. Aku ingin marah, tapi karena kenyataannya memang Erina
pucat dan berkeringat, kuputuskan mengangguk. Tapi, sedetik kemudian, Juan
menatapku tajam. Aku tahu, kami sudah janji akan menemaninya hingga akhir tapi, aku tak
menyangka Erina akan
ketakutan seperti ini.
Juan masih menatapku tajam sebelum akhirnya ia berbisik
dengan sangat jelas ditelingaku, “Biarkan mereka pulang, dan kau tetap laksanakan janjimu,”
“Aku
tak berniat pulang, Ju!” sahutku kesal.
Kuberikan kunci mobilku pada Lena, dan mereka pun pulang.
***
Juan masih serius berjalan di depanku, ia membuka knop
pintu utama. Akhirnya kami masuk ke dalam rumah. Tak bisa kupungkiri, setelah saklarnya menyala, rumah
ini begitu indah. Tak ada satu debu pun yang ada di ruangan ini. Aku terkesima dibuatnya.
Di luar, rumah ini terlihat tak terurus tapi, lihat di dalam rumahnya, begitu
terurus. Siapa yang mengurus rumah ini?
Lukisan yang menghiasi ruang utama dan ruang-ruang
lainnya juga terlihat baru, dan sangat memukau tentunya. Setiap ruangan memiliki lukisan yang berbeda namun, ada yang aneh, letak semua lukisannya terbalik.
Kulihat Juan mulai menyentuh lukisan yang
ada di ruang tengah. “Rin, kemari,” katanya membuatku mendekatinya. Ia
menggenggam tanganku dan membawanya ikut menyentuh lukisan itu.
“Ini terbuat
dari serbuk kayu, tepung dan pasir,” Juan mulai membawa tanganku menyentuh
keseluruhan lukisan yang besar dan lebar itu.
“Dari
mana kau bisa tau, Ju?”
Ia
hanya tersenyum. Aku dan Juan sangat bertolak belakang, aku menyukai segala hal
yang menyangkut lukisan sedangkan, ia tidak. Melukis adalah hal yang paling
tidak disukai Juan sejak kecil tapi, kenapa ia mengetahui hal-hal yang berbau
dengan lukisan?
“Kalian
memasuki rumahku tanpa seizinku, sangat tidak sopan!”
Suara
tegas dan tajam itu membuat tangan Juan yang menggenggam tanganku lepas begitu
saja. Aku masih membatu, apa rumah ini
sebenarnya memiliki pemilik? Tapi, setahuku, tidak ada yang menempatinya sejak tujuh
tahun yang lalu. Aku dan Juan langsung berbalik menatap siapa yang berbicara.
Oh My God! Tak ada siapapun di belakang kami. Dengan cepat kugenggam tangan Juan dan bersembunyi di belakang punggungnya. Ia menggenggam erat tanganku, mungkin mau memberiku ketenangan, karena
wajahnya terlihat sangat tenang, ia tersenyum lembut padaku.
“Jangan hanya bersuara, kalau berani, tunjukkan wujudmu!”
katanya sedikit meninggikan suaranya.
“Kalian tidak tahu malu! Masuk tanpa izin, dan berteriak
di rumah orang! Sungguh kesan yang tidak bagus!” suara itu kembali bergema di
rumah ini.
Kulihat Juan masih tersenyum. Gila nih anak! Apa dia nggak punya rasa
takut sedikitpun!
“Oke oke, kita minta maaf sudah mengganggu tapi, setau
kami, rumah ini tidak berpenghuni,” katanya tenang dan dengan santai mengiringiku
untuk duduk di sofa, kemudian ia duduk di sisiku.
Tak ada suara lagi.
“Ju, kita keluar aja, yuk!”
Ajakku sambil mempererat genggaman tanganku padanya. Ia menatapku sambil tersenyum dan
menggelengkan kepalanya. Aku tahu ia pemberani dan senang melakukan petualangan
ke tempat-tempat angker tapi, please, untuk kali ini aja, jangan memasukkanku
ke dalam urusannya. Jika aku tahu keadaannya akan
seperti ini, aku tak ingin menepati
janjiku padanya. Ia masih menatapku dengan senyum ketenangan. Ia mengangguk,
tanda kalau aku harus mengikuti aturannya.
Tiba-tiba tercium bau daun jeruk, arrrght! Aku ingin
keluar dari rumah ini! Siapa saja tolong aku! Ku lihat Juan yang wajahnya mulai berubah serius. Apa kini ia merasa
takut?
“Kalian tidak akan keluar dengan selamat,” ucapan itu
terdengar begitu menyeramkan.
“Siapa yang bisa menjamin,” kali ini Ju sedikit terkekeh.
“Argth! Sakit, Rin,” katanya sambil mengelus perutnya yang mendapat cubitan dariku. Aku
menatapnya tajam.
Ia malah tertawa, “wajahmu pucat banget, Rin, tenang,” katanya di sela tawanya.
DOR!!!
Aku membatu mendengar suara tembakan itu. Kulihat Ju yang
masih duduk di sampingku, tawanya hilang dalam sekejab. Ia memegang kepala
belakangnya, dan seketika itu juga, ia terjatuh ke lantai. Tangan dan kepalanya
berlumuran darah.
“Ju, jangan bercanda, ini nggak lucu,” kataku sambil
menggoyang-goyangkan tubuhnya yang lemah. Wajahnya pucat banget. Apa aku
mimpi?! Kucubit tanganku sendiri, sakit! Ini bukan mimpi.
“Ri..., se...ge...ra, kelu...ar da..ri rum..ah i..ni,”
katanya terbata, tapi aku tahu, ia menyuruhku untuk keluar dari rumah ini, tapi
aku takkan keluar tanpanya.
“Rum....ah ini, menyim...pan...ba...rang ha...ram,
ja..ngan...me..nung..gu ku, Ka…rin,” aku tak bisa menahan air mataku. Kugenggam
tangannya yang makin melemah, ia tersenyum dan berkata dengan sangat lirih tapi, aku masih bisa mendengarnya,
“la…ri, dan maa..af,”
“Aku sudah memperingatkan, kalian takkan bisa keluar
dengan selamat,” suara itu masih menggema, dan makin membuatku takut, kesal dan marah.
“Kami tahu kami sudah lancang dan tidak sopan
tapi, apa kesalahan kami hingga kau harus
membunuh kami?!” teriakku serak.
“Rin...”
kulihat Juan mengisyaratkan agar aku diam saja dan segera pergi dari rumah ini.
“Aku takkan keluar tanpa kamu, Ju,” tegasku.
Juan tak bergeming, ia memejamkan matanya dengan tenang.
GUBRAK!!
“Jangan bergerak!!”
Riuh, suara riuh masih terdengar di telingaku, tapi
lambat laun aku tak bisa mendengar apa pun, dan semuanya berubah gelap.
***
Setelah
kejadian terbunuhnya Juanda Primata Hans, sahabat terbaikku. Aku masih
mengurung diriku di dalam kamar, aku tak berniat membukanya, apa pun alasannya.
Setelah Juan dikebumikan, aku tak lagi melihat sinar matahari, tak lagi
mengenal senyuman, aku seperti kehilangan jiwaku. Bahkan Helena dan Erina tak
kupedulikan.
Kutatap
fotoku dan Juan yang berpose layaknya detektif, saat itu kami masih berumur 10
tahun. Kami berpisah saat ia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di luar
negeri. Ia baru saja kembali, kami baru saja kembali melewati kebersamaan kami
tapi, begitu cepatnya ia harus pergi lagi, dan kali ini untuk selamanya, ia tak
akan kembali.
Air
mataku tak tertahan lagi, kuraih foto itu, kupeluk hingga tak sadar aku
tertidur. Saat kubuka mataku, malam telah berganti pagi. Perutku bunyi, minta
jatahnya. Aku hanya bisa menghembuskan nafas berat.
Tok tok tok…
“Sayang…buka
pintunya, Rin, ada teman kamu ni,” suara mama terdengar lembut ditelingaku.
Mama masih bersyukur aku mau berbicara dari dalam kamar, masih mau menyahut
semua perkataan dan pertanyaannya, mama tak pernah putus asa membujukku agar
mau keluar kamar.
“Chil…”
Suara
itu…
Hanya
dia satu-satunya yang memanggilku begitu. Dalam sekejap, aku bangun dari
tidurku, meski kepalaku sedikit sakit, aku tetap berjalan membuka pintu
kamarku. Dia berdiri tegap dan tersenyum dihadapanku.
“Boleh
aku masuk?” tanyanya masih tersenyum.
Aku
belum memberinya izin, tapi ia sudah memasuki kamarku. Pria berkaca mata itu
masih saja tidak tahu sopan santun. Si jenius ini masih saja menyebalkan. Aku
mengikutinya dari belakang, ia memutari kamarku yang cukup luas, diletakkannya
mapan makanan di atas meja belajarku, beralih ke jendela dan membuka tirai
kamarku, silau, sudah berapa lama aku tak melihat matahari?
“Kamarmu
seperti kamar mayat, Karin, dan begitu pun denganmu,” katanya dingin sambil
menyeretku ke depan cermin besar yang ada di ruang ganti baju. Rambut panjangku
kusut dan berantakan, mataku kembung dan dilingkari warna gelap, selain itu,
bajuku masih memakai maju dua hari yang lalu, kalau ingatanku masih bagus.
“Kamu terlihat seperti zombi,”
Kulihat sosoknya dari cermin, ia tersenyum, tapi matanya
menyiratkan kesedihan. Aku tahu, ia khawatir dan baru bisa menjengukku hari
ini, karena selain karena masih berkabung, ia juga kuliah, selain itu, pria ini
juga menjalankan bisnis cabang dari perusahaan papanya. Aku tahu ia sangat
sibuk, aku mengerti ia tak bisa ada disisiku kapan saja.
Aku langsung memutar badanku menghadapnya, dalam sekejap,
aku sudah ada dalam pelukannya. Tangisku kembali pecah, kali ini aku tak
menghiraukan jika jasnya harus basah karena air mataku.
“Menangislah sampai puas, setelah itu...kamu harus
mendengarkanku baik-baik, ok,” katanya lembut sambil terus mengelus kepalaku.
“Kakak...” lirihku.
“Kakak disini,” ia menguatkan pelukannya padaku.
to be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar