Minggu, 04 Desember 2016

The Miracle

Satu
Gerbang rumah itu sangat tinggi, nuansa mencekam segera merasuki tubuhku. Selain karena tak berpenghuni, halamannya yang terlalu luas dan juga karena kisah misteri di balik rumah ini. Konon, semua penghuni rumah ini meninggal dalam satu kecelakaan pesawat terbang, tapi tidak satu pun dari mereka yang ditemukan jasadnya. Jadilah seluruh keluarga besarnya meninggalkan rumah ini begitu saja, tanpa ada yang mengurusnya, hingga dengan sendirinya rusak dimakan waktu.
Ku lirik sahabatku yang bersemangat, matanya berbinar senang, seperti anak kecil yang baru mendapatkan hadiah ulang tahun, ia tersenyum semeringah. Juan sangat menyukai hal-hal yang berbau misteri, mistis dan horror. Baginya, semua itu adalah hal yang harus ia taklukkan. Karena itu pula, sekarang aku, dan dua sahabat baikku, Helena dan Erina berada di depan pagar rumah misteri ini.
“Kau tau Rin, kau memang selalu bisa diandalkan dalam segala hal,” katanya tanpa melepas pandangannya dari rumah itu.
Ia baru kembali dari luar negeri, seminggu di rumah kerjanya hanya tidur, makan, dan bersenang-senang dengan teman-teman lamanya. Saat ia mulai merasa bosan, ia kembali menjalani aktifitasnya menaklukkan setiap misteri yang ada. Kali ini, ia memintaku untuk mencari tempat-tempat yang diselimuti misteri di kota ini, aku langsung membawanya kesini. Awalnya aku ragu, apa aku bisa mengatasi rasa takutku? Tapi setelah Helena dan Erina ikut bersamaku, kuberanikan diri untuk ikut dengan Juan, melawan dan menaklukkan rasa takut.
“Terima kasih,” lirihku.
“Ju, Rin, aku dan Erina kembali ke rumah ya, sepertinya aku tak ingin ikut campur dengan rencanamu,”  cicit Helena sambil nyengir kuda padaku. Apa maksudnya mereka mundur? Bukannya mereka udah janji ikut acara menaklukkan ketakutan ini?
Juan hanya tertawa ringan menanggapi kata-kata Helena. Selepas tawanya menghilang, ia menatapku dan Helena tajam.
“Kalian tidak akan kemana-mana,” tegasnya.
“Oh, ayolah, Ju, kamu tidak kasihan melihat wajah Rina yang sudah pucat banget,” lanjutnya lembut. Helena menatapku penuh harap. Aku ingin marah, tapi karena kenyataannya memang Erina pucat dan berkeringat, kuputuskan mengangguk. Tapi, sedetik kemudian, Juan menatapku tajam. Aku tahu, kami sudah janji akan menemaninya hingga akhir tapi, aku tak menyangka Erina akan ketakutan seperti ini.
Juan masih menatapku tajam sebelum akhirnya ia berbisik dengan sangat jelas ditelingaku, “Biarkan mereka pulang, dan kau tetap laksanakan janjimu,”
“Aku tak berniat pulang, Ju!” sahutku kesal.
Kuberikan kunci mobilku pada Lena, dan mereka pun pulang.

***
Juan masih serius berjalan di depanku, ia membuka knop pintu utama. Akhirnya kami masuk ke dalam rumah. Tak bisa kupungkiri, setelah saklarnya menyala, rumah ini begitu indah. Tak ada satu debu pun yang ada di ruangan ini. Aku terkesima dibuatnya. Di luar, rumah ini terlihat tak terurus tapi, lihat di dalam rumahnya, begitu terurus. Siapa yang mengurus rumah ini?
Lukisan yang menghiasi ruang utama dan ruang-ruang lainnya juga terlihat baru, dan sangat memukau tentunya. Setiap ruangan memiliki lukisan yang berbeda namun, ada yang aneh, letak semua lukisannya terbalik.
Kulihat Juan mulai menyentuh lukisan yang ada di ruang tengah. “Rin, kemari,” katanya membuatku mendekatinya. Ia menggenggam tanganku dan membawanya ikut menyentuh lukisan itu.
“Ini terbuat dari serbuk kayu, tepung dan pasir,” Juan mulai membawa tanganku menyentuh keseluruhan lukisan yang besar dan lebar itu.
“Dari mana kau bisa tau, Ju?”
Ia hanya tersenyum. Aku dan Juan sangat bertolak belakang, aku menyukai segala hal yang menyangkut lukisan sedangkan, ia tidak. Melukis adalah hal yang paling tidak disukai Juan sejak kecil tapi, kenapa ia mengetahui hal-hal yang berbau dengan lukisan?
“Kalian memasuki rumahku tanpa seizinku, sangat tidak sopan!”
Suara tegas dan tajam itu membuat tangan Juan yang menggenggam tanganku lepas begitu saja. Aku masih membatu, apa rumah ini sebenarnya memiliki pemilik? Tapi, setahuku, tidak ada yang menempatinya sejak tujuh tahun yang lalu. Aku dan Juan langsung berbalik menatap siapa yang berbicara. Oh My God! Tak ada siapapun di belakang kami. Dengan cepat kugenggam tangan Juan dan bersembunyi di belakang punggungnya. Ia menggenggam erat tanganku, mungkin mau memberiku ketenangan, karena wajahnya terlihat sangat tenang, ia tersenyum lembut padaku.
“Jangan hanya bersuara, kalau berani, tunjukkan wujudmu!” katanya sedikit meninggikan suaranya.
“Kalian tidak tahu malu! Masuk tanpa izin, dan berteriak di rumah orang! Sungguh kesan yang tidak bagus!” suara itu kembali bergema di rumah ini.
Kulihat Juan masih tersenyum. Gila nih anak! Apa dia nggak punya rasa takut sedikitpun!
“Oke oke, kita minta maaf sudah mengganggu tapi, setau kami, rumah ini tidak berpenghuni,” katanya tenang dan dengan santai mengiringiku untuk duduk di sofa, kemudian ia duduk di sisiku.
Tak ada suara lagi.
“Ju, kita keluar aja, yuk!”
Ajakku sambil mempererat genggaman tanganku padanya. Ia menatapku sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Aku tahu ia pemberani dan senang melakukan petualangan ke tempat-tempat angker tapi, please, untuk kali ini aja, jangan memasukkanku ke dalam urusannya. Jika aku tahu keadaannya akan seperti ini, aku tak ingin menepati janjiku padanya. Ia masih menatapku dengan senyum ketenangan. Ia mengangguk, tanda kalau aku harus mengikuti aturannya.
Tiba-tiba tercium bau daun jeruk, arrrght! Aku ingin keluar dari rumah ini! Siapa saja tolong aku! Ku lihat Juan yang wajahnya mulai berubah serius. Apa kini ia merasa takut?
“Kalian tidak akan keluar dengan selamat,” ucapan itu terdengar begitu menyeramkan.
“Siapa yang bisa menjamin,” kali ini Ju sedikit terkekeh.
“Argth! Sakit, Rin,” katanya sambil mengelus perutnya yang mendapat cubitan dariku. Aku menatapnya tajam.
Ia malah tertawa, “wajahmu pucat banget, Rin, tenang,” katanya di sela tawanya.
DOR!!!
Aku membatu mendengar suara tembakan itu. Kulihat Ju yang masih duduk di sampingku, tawanya hilang dalam sekejab. Ia memegang kepala belakangnya, dan seketika itu juga, ia terjatuh ke lantai. Tangan dan kepalanya berlumuran darah.
“Ju, jangan bercanda, ini nggak lucu,” kataku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya yang lemah. Wajahnya pucat banget. Apa aku mimpi?! Kucubit tanganku sendiri, sakit! Ini bukan mimpi.
“Ri..., se...ge...ra, kelu...ar da..ri rum..ah i..ni,” katanya terbata, tapi aku tahu, ia menyuruhku untuk keluar dari rumah ini, tapi aku takkan keluar tanpanya.
“Rum....ah ini, menyim...pan...ba...rang ha...ram, ja..ngan...me..nung..gu ku, Ka…rin,” aku tak bisa menahan air mataku. Kugenggam tangannya yang makin melemah, ia tersenyum dan berkata dengan sangat lirih tapi, aku masih bisa mendengarnya, “la…ri, dan maa..af,”
“Aku sudah memperingatkan, kalian takkan bisa keluar dengan selamat,” suara itu masih menggema, dan makin membuatku takut, kesal dan marah.
“Kami tahu kami sudah lancang dan tidak sopan tapi, apa kesalahan kami hingga kau harus membunuh kami?!” teriakku serak.
“Rin...” kulihat Juan mengisyaratkan agar aku diam saja dan segera pergi dari rumah ini.
“Aku takkan keluar tanpa kamu, Ju,” tegasku.
Juan tak bergeming, ia memejamkan matanya dengan tenang.
GUBRAK!!
“Jangan bergerak!!”
Riuh, suara riuh masih terdengar di telingaku, tapi lambat laun aku tak bisa mendengar apa pun, dan semuanya berubah gelap.
***
Setelah kejadian terbunuhnya Juanda Primata Hans, sahabat terbaikku. Aku masih mengurung diriku di dalam kamar, aku tak berniat membukanya, apa pun alasannya. Setelah Juan dikebumikan, aku tak lagi melihat sinar matahari, tak lagi mengenal senyuman, aku seperti kehilangan jiwaku. Bahkan Helena dan Erina tak kupedulikan.
Kutatap fotoku dan Juan yang berpose layaknya detektif, saat itu kami masih berumur 10 tahun. Kami berpisah saat ia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Ia baru saja kembali, kami baru saja kembali melewati kebersamaan kami tapi, begitu cepatnya ia harus pergi lagi, dan kali ini untuk selamanya, ia tak akan kembali.
Air mataku tak tertahan lagi, kuraih foto itu, kupeluk hingga tak sadar aku tertidur. Saat kubuka mataku, malam telah berganti pagi. Perutku bunyi, minta jatahnya. Aku hanya bisa menghembuskan nafas berat.
Tok tok tok…
“Sayang…buka pintunya, Rin, ada teman kamu ni,” suara mama terdengar lembut ditelingaku. Mama masih bersyukur aku mau berbicara dari dalam kamar, masih mau menyahut semua perkataan dan pertanyaannya, mama tak pernah putus asa membujukku agar mau keluar kamar.
“Chil…”
Suara itu…
Hanya dia satu-satunya yang memanggilku begitu. Dalam sekejap, aku bangun dari tidurku, meski kepalaku sedikit sakit, aku tetap berjalan membuka pintu kamarku. Dia berdiri tegap dan tersenyum dihadapanku.
“Boleh aku masuk?” tanyanya masih tersenyum.
Aku belum memberinya izin, tapi ia sudah memasuki kamarku. Pria berkaca mata itu masih saja tidak tahu sopan santun. Si jenius ini masih saja menyebalkan. Aku mengikutinya dari belakang, ia memutari kamarku yang cukup luas, diletakkannya mapan makanan di atas meja belajarku, beralih ke jendela dan membuka tirai kamarku, silau, sudah berapa lama aku tak melihat matahari?
“Kamarmu seperti kamar mayat, Karin, dan begitu pun denganmu,” katanya dingin sambil menyeretku ke depan cermin besar yang ada di ruang ganti baju. Rambut panjangku kusut dan berantakan, mataku kembung dan dilingkari warna gelap, selain itu, bajuku masih memakai maju dua hari yang lalu, kalau ingatanku masih bagus.
“Kamu terlihat seperti zombi,”
Kulihat sosoknya dari cermin, ia tersenyum, tapi matanya menyiratkan kesedihan. Aku tahu, ia khawatir dan baru bisa menjengukku hari ini, karena selain karena masih berkabung, ia juga kuliah, selain itu, pria ini juga menjalankan bisnis cabang dari perusahaan papanya. Aku tahu ia sangat sibuk, aku mengerti ia tak bisa ada disisiku kapan saja.
Aku langsung memutar badanku menghadapnya, dalam sekejap, aku sudah ada dalam pelukannya. Tangisku kembali pecah, kali ini aku tak menghiraukan jika jasnya harus basah karena air mataku.
“Menangislah sampai puas, setelah itu...kamu harus mendengarkanku baik-baik, ok,” katanya lembut sambil terus mengelus kepalaku.
“Kakak...” lirihku.
“Kakak disini,” ia menguatkan pelukannya padaku.


to be continue...













Tidak ada komentar:

Posting Komentar