Minggu, 04 Desember 2016

The Roses

Satu

“Mam…Pap…,” suaraku tercekat, kupandangi kedua tubuh yang terbujur kaku penuh darah di lantai rumahku, apa yang terjadi, aku tidak mampu bergerak.
“Ratu, kamu nggak apa-apa? Dimana tante dan om?” suara Ata yang menyadarkanku bahwa ini bukan mimpi.
Ata menjerit histeris, sedangkan Dea dan Jeni hanya mendekap kedua mulutnya. Aku mendekati mami dan papiku, kupegangi tangan papi yang dingin, air mataku sudah tak terbendung lagi, berhasil jatuh dengan derasnya, membasahi wajahku.
Wiuuuu wiuuu wiuuu…
Suara ambulan terdengar jelas di telingaku, kurasakan Dea memeluk tubuhku, sebelum orang-orang berbaju putih mengangkat ke dua orang yang paling kusanyangi itu. Aku sudah tak kuat menghadapi kenyataan ini, aku berharap semua ini hanyalah mimpi, dan aku ingin terbangun dari mimpi buruk ini. Aku terjatuh dalam pelukan Dea, dan semuanya gelap.
***

Perlahan kubuka mataku yang terasa berat, silau mentari langsung membuatku kembali memejamkan mataku. Kumiringkan badanku ke kiri hingga membelakangi cahaya menyilaukan yang masuk dari jendela kamarku itu. Aku teringat akan mimpiku semalam, syukurlah semua hanya mimpi. Dengan cepat kuraih handuk dan masuk ke kamar mandi, hari ini jam pertama ibu Diana, dan aku tidak boleh telat.
Tak butuh waktu lama untukku langsung turun menuju ruang makan tapi, langkah kakiku terhenti di depan pintu kamarku, kulihat para pelayanku lalu-lalang dan tidak satu pun dari mereka yang menyapaku, mereka semua berpakaian serba hitam, bukan pakaian kerja biasa.
“Nona, nona mau kemana?” pertanyaan Renni salah satu pelayan yang seumuran denganku itu membuatku menatapnya penuh tanya.
“Aku mau ke kampus, Ren, kenapa?” tanyaku menghilangkan rasa penasaranku, kenapa Renni yang hafal jadwal kuliahku malah bertanya seperti itu.
“Tapi non, ke dua orang tua nona baru sampai di sini, dan keluarga Hitomi beserta Jingga juga sudah berkumpul di bawah,” katanya kembali menghentikan langkahku.
“Ratu… sayangku, kamu tidak apa-apa, kan sayang, maafkan tante yang datang terlambat,” tiba-tiba tante Helena memelukku erat. Satu-satunya kakak perempuan mamiku ini menangis dipelikanku. Apa yang terjadi?
“Kamu yang sabar ya sayang, tante janji, kamu nggak akan sendirian,” katanya tegas sambil melepas pelukannya dan menatapku sendu.
“Sebenarnya apa yang terjadi tante, kenapa semua saudara datang dan berkumpul di sini? Bahkan om Hendri juga hadir,” tanyaku menatap tanteku serius. Kupandangi lantai bawah yang penuh dengan saudara dan tetangga ku pun hadir.
“Kamu nggak ingat sayang?”
Sepertinya tanteku enggan memberi tahuku. Sambil mengiringiku ke lantai bawah, tante bercerita tentang kejadian yang menimpa mami dan papiku, ternyata semua itu bukan mimpi, aku sekarang menjadi sebatang kara.
Saat semua mata menyadari kehadiranku, aku tahu mereka melihatku dengan aneh, karena aku memakai pakaian biasa yang kugunakan untuk ke kampus.
Aku terus berjalan mendekati dua mayat yang ada di ruang Mushalla kecil kami. Ku pandangi kedua orang tuaku. Letak mushalla kecil yang ada di dalam rumahku yang cukup besar ini berdekatan dengan ruang keluarga, dan aku bisa mendengar percakapan tante Helena dan om Hendri adik papiku.
“Apa sudah ada kabar dari kepolisian?” tanya tante Helena risau.
“Belum ada, Na. Tapi aku yakin, mereka pelakunya,” jawaban Hendri membuatku semakin menajamkan pendengaranku.
“Kenapa kau bisa seyakin itu, Aga pernah cerita tentang mereka padamu?”
“Siapa lagi yang meneror Aga selain pihak biadab itu, aku tak menyangka penjagaan Aga dan Arena bisa lengah dan kebobolan mereka,”
Aku menatap mami dan papiku, suara para pembaca ayat suci terdengar merdu dan sayu. Aku meraih mushah yang ada di meja kecil di sudut mushalla, kukenakan mukenaku, dan mulai membaca sutah Yasin, aku ingin mengiringi kepergian mereka dengan ayat-ayat suci ini, namu suaraku mulai hilang saat air mataku sudah tak terbendung lagi, aku mulai terisak, kupertahankan bacaanku hingga selesai.
Dea yang duduk di sampingku menggenggam tanganku, menyalurkan ketenangan, hingga bacaanku berakhir. Aku masih disisi kedua orang tuaku. Seluruh keluarga sepakat menunggu kakak tertua yang baru pulang dari Belanda.
Tak berapa lama, aku melihat sosok pria tampan memasuki rumah, dan berjalan cepat ke arahku, matanya sembab, ia menatapku sendu. Lelaki itu tak pernah pulang dua tahun terakhir, ia terlihat kurusan, apa menjadi dokter di Negara orang itu sangat melelahkan? Meski begitu, kakakku masih sama, tampan.
“Kak,” seruku saat kak Raja masih menatapku sendu.


***

Kata orang, aku hidup seperti namaku, Ratu Angelina. Diperlakukan seperti layaknya seorang Ratu saat aku di lingkungan keluarga, dan juga di sayangi teman-temanku yang ada dilingkungan sekolah. Aku hidup serba berkecukupan, dan tak pernah melakukan pekerjaan rumah, seperti memasak, menyapu, mencuci, semua itu dilakukan para pelayan yang siap melayaniku di rumah yang cukup besar bagiku dan kedua orang tuaku. Hanya para pelayan yang membuat rumah ini ramai dengan canda dan tawa mereka di saat papi dan mamiku sedang tugas di luar kota. Aku tak merasa kesepian karena para pelayan yang sebagian seumuran denganku sudah seperti teman bagiku, mereka selalu ada menemaniku.
 Aku tumbuh dengan keluarga yang utuh, kasih sayang yang tak pernah kurang dari mereka, meski tak jarang juga aku harus di tinggal sendiri di rumah mewah itu, tapi mereka tak benar-benar meninggalkanku, karena mereka selalu menyempatkan waktu menelepon atau vidio call dengaku, karena itu, aku sanggat bersyukur. Selain itu, aku juga mewarsi kecantikan mamiku, Arena Jingga, yang mereka sebut bak titisan bidadari, dan terkadang aku kewalahan karena warisan ini memancing minat agensi tempat mami bekerja sebagai artis. Pak Gunan selalu memintaku untuk mengikuti jejak mami sebagai artis papan atas yang berhasil. Aku sama sekali tidak tertarik dengan dunia pekerjaan mami tapi, aku lebih tertarik dengan dunia pekerjaan papi namun, aku tak bisa mengikutinya.
Aga Hitomi, seorang detektif yang tak pernah kalah, papi selalu bisa memecahkan masalah apa pun, dan sesulit apa pun itu, karena prinsipnya adalah tak ada kata mustahil untuk sebuah kebaikan, aku juga menganutnya, dan kecerdasanku yang di atas rata-rata itu kuwarisi darinya, aku kembali bersyukur. Rasanya hidupku memang seperti Ratu, haha, mungkin agak berlebihan, tapi itu lah aku. Terlebih dengan lingkungan yang mendukung kesempurnaan hidupku.
Sahabat-sahabatku semua dari kalangan yang sama denganku. Bukan karena aku pemilih dalam bersahabat, tapi karena ke tiga sahabatku ini  adalah anak-anak dari rekan kerja papiku yang juga tinggal di sebelah rumahku. Aku sering berkumpul dengan mereka, dan tak jarang kita juga belajar bareng. Meskipun kita anak-anak orang kaya, tapi keluarga kami tetap mengedepankan pendidikan, dan hasilnya, aku dan ke tiga sahabatku selalu menjadi juara kelas.
Aku, Dea, Jani, dan Ata selalu menduduki peringkat kedepan, sejak di bangku sekolah dasar, hingga sekarang. Meski kami bersahabat, kami tidak selalu sekelas, seperti sekarang. Kami masuk ke Universitas ternama di kota kami tapi dengan jurusan yang berbeda. Aku mengambil jurusan Kedokteran, karena aku menyukai bidang ini. Dea masuk jurusan Ekonomi, Jani bidang Desainer dan Ata di bidang Arsitektur. Ku fikir hidupku memang sempurna, dan aku bahagia menjalaninya.

***
"Ratu!" itu suara Ata, ia tak pernah sabar menungguku keluar dari kelas dan selalu memanggilku dengan suaranya yang khas kecowoan itu, ia memang seorang perempuan tapi, suaranya menyerupai suara laki-laki, aneh memang, tapi itulah kenyataannya.
Perempuan berambut pendek itu mendekati tempat dudukku.
"Kamu tahu nggak, ada dosen muda yang masuk kelas aku, dan dia juga arsitek muda yang terbilang sukses di dunia bisnis, Ra, yang lebih gilanya lagi, ia tampan banget, Ra, seperti titisan dewa yunani gitu," ceritanya semangat dengan wajah semeringah.
Aku hanya mendengarnya sambil terus merapikan buku dan memasukkannya ke dalam tasku.
"Aku juga tahu soal itu, Ta, tapi aku tak seheboh kamu," kali ini kata Jani dengan gayanya yang cuek, membuat aku dan Dea tersenyum sedangkan Ata menatapnya jengkel. Jani yang baru masuk dengan Dea ikot duduk di atas mejaku.
"Gosip itu memang sedang hotnya, udah seminggu yang lalu kali, Ta, kamu aja yang nggak hadir karena sakit, jadinya ketinggalan berita," kata Dea tenang sambil tersenyum.
"Kalian udah tahu dari seminggu tapi, kenapa nggak ngomong sama aku, dasar pelit," Ata ngambek.
Wajahnya kesal banget dan ia mulai diam.
Ata memang tomboy tapi, ia suka dengan lelaki yang pintar dan sukses, seperti dosen muda yang dia  bicarakan sekarang. Aku dan ke tiga perempuan yang sedang mengikutiku ke kantin ini memang masih single. Kenapa? Bukan karena tak ada yang menyukai kami tapi, lebih karena orang tua kami tidak mengiinkan kami pacaran hingga umur kami 17 tahun.
Tak jarang cowok yang menyukai kami harus menghapus harapannya untuk bisa memacari salah satu di antara kami karena alasan itu tapi, mereka tetap ramah dan menyukai kami dengan cara mereka sendiri.
“Ya sudahlah, Ta, lagi pun kamu masih bisa bertemu dosen itu setiap hari karena dia ngajar di kelas kamu, kan,” aku mencoba menenangkan.
Aku memilih meja yang dekat dengan jendela, dan mereka ikut duduk bersamaku. Universitas tempatku belajar ini memiliki fasilitas yang sangat lengkap, seperti halnya kantin yang terletak di lantai dua, dan ruangannya cukup besar dengan jendela kaca yang tembus pandang.
“Iya juga sih, Ra, aku senang akhirnya nemu juga pujaan hati,” Ata semeringah dan ia terus tersenyum.
“Kamu yakin dosen muda dan tampan itu belum ada pemiliknya?” Jeni mulai menjahili Ata.
Jeni memang jahil dan senang bergurau, perempuan berambut panjang itu memang senang menggoda Ata, selain karena Ata emosinya masih belum bisa dikontrol, juga karena Ata paling muda di antara kami, umurnya lebih muda satu tahun di bawah kami, tapi karena IQnya yang di atas rata-rata, ia pun setara dengan kami. Sejujurnya, aku pun demikian, namun karena perangaiku yang cukup dewasa, mereka lebih menghormatiku dari pada menjahiliku. Hahaha, ada untungnya juga bisa mengontrol emosi dan bersikap sedikit lebih dewasa.
“Dia belum ada yang punya selain orang tuanya kali, tadi di kelas sempat rebut nanyain statusnya,” kata Ata masih sambil tersenyum senang.
Kami kompak hanya bisa geleng-geleng kepala.
Pesanan kami sampai, dan kita mengakhiri obrolan tentang dosen muda tampan itu. Belum lama kita sedang asik menikmati makanan kita masing-masing, tiba-tiba kantin jadi gaduh dan riuh. Kami saling berpandangan, dan setelah melihat situasi, ternyata tokoh yang menjadi gosip hot di kampus ini sedang memasuki kantin dan memesan makanan.
“Udah jangan dilihatin terus dosennya, ntar lagi masuk lho, kalian nggak mau telat, kan?” kataku menahan senyum karena ke tiga temanku masih termangu menatap dosen itu.
“Nggak ada jam lanjutan, karena ada rapat, dan semua dosen mengikuti rapat itu,” suara ini membuatku terpaku.
Kulihat teman-temanku yang menatapku penuh tanya, ku alihkan pandanganku ke si empunya suara.
“Kamu Ratu, kan, bisa kita bicara sebentar, empat mata,”
Aku masih tak percaya, kenapa si tokoh gossip hot ini mengajakku bicara? Untuk apa?
“Aku tunggu di taman belakang, setelah selesai makan, aku harap kamu bisa menemuiku di sana, penting,”
Ia kemudian pergi. Kata-katanya membuatku merinding, ada apa ini?  Kembali kulihat teman-temanku yang makin menatapku penuh tanya.
“Jangan melihatku seperti itu, aku tak kenal dia dan aku pun tak tahu kenapa ia mengajakku berbicara,” kataku kesal.
“Dari pada kita diliput rasa penasaran, mending kamu ke sana sekarang, gih, kita sabar nunggu cerita kamu, kok,” kata Ata semangat. Kenapa dengan anak ini, apa ia tidak cemburu?
“Iya, Ra, kesana, gih, buruan, ntar dia kelamaan nunggunya,” kata Jeni memaksa.
“Ra, baiknya kamu selesain dulu makanan kamu, setelah itu, baru ke sana,”
Aku memberikan senyum termanisku untuk Dea, satu-satunya sahabatku yang bisa berfikir waras dalam situasi seperti ini.
“Ah, Dea nggak seru!!” kompak Jeni dan Ata menatap Dea kesal.
Aku dan Dea hanya tersenyum.

***

Taman belakang kampus nampak sepi, tak seperti biasanya. Ku lihat sekeliling taman, tapi sosok yang ku cari belum juga nampak. Ku coba mengelilingi taman dan mesih mencari, hingga akhirnya aku melihatnya sedang menikmati minumannya di salah satu bangku panjang di bawah pohon Beringin.
Aku masih berdiri di samping beliau yang sepertinya sedang melamun.
“Mau sampai kapan kamu mau berdiri di situ?” pertanyaannya membuatku terkejut, sejak kapan ia sadar aku sudah di sini?
Aku pun ikut duduk di sisinya. Di depan kami terpampanng jelas kolam ikan milik anak-anak perternakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar