Senin, 06 Maret 2017

RINDU



Bukankah pada kelopak matamu yang selalu ceria, negeri mimpiku dimulai?
Menyusuri tiap teori abstrak tak terumus, melambat, menjemu membunuhi semua kenangan yang ada di ujung gerutuku
Menata pesona dalam kelutnya jiwa
Hanya akan membuat lungkrah jiwa
Dan itu seperti istana pasir yang tergerus ombak membadai, menghancurkan layaknya abrasi di tepian pantai

Sungguh, tak sanggup aku mencari padanan yang terlampau membuyarkan degan pasti, dengan pasi yang lebih pucat dari purnama
Kau menjelma layaknya bidadari kesunyian dalam kalut di gelombang abadi

Jika kelak terbersit tanya dalam pikiranmu yang ragu itu, dari apa hati para penyair terbuat?
Maka hadapilah bayangan pada kaca yang tak menyimpan dusta,
Embun menjelma pada matamu,
Celoteh khas jagoanmu bersemayam pada bibir ranummu,
Dan matahari di bulan Februari melesap pada hatimu
 Dan kia
Dan, kupastikan semua itu tak terampas darimu
Lantas air mata, yang tak serupa apapun dalam dirimu, maka ambilah, karena hanya ia yang tersisa
Agar tiap kata yang keluar dari ujung penaku menjadi genap dan yang tertulis menjadi tetap

Aku tidak tahu pasti kapan cintaku padamu ini hadir, seperti setiap orang yang bertanya
Kapan detik pertama kehidupan dimulai?

Aku hanya tahu satu hal yang pasti, bahwa aku semestinya mampu membangun bahtera dan mempercayakan satu dayung padamu, dan kita akan melaju tiap detik pada waktu yang akan kita lukis dengan warna rindu – Aamiin ^_^

#kebogiras

Tidak ada komentar:

Posting Komentar