Bukankah pada kelopak matamu yang selalu ceria,
negeri mimpiku dimulai?
Menyusuri tiap teori abstrak tak terumus,
melambat, menjemu membunuhi semua kenangan yang ada di ujung gerutuku
Menata pesona dalam kelutnya jiwa
Hanya akan membuat lungkrah jiwa
Dan itu seperti istana pasir yang tergerus ombak
membadai, menghancurkan layaknya abrasi di tepian pantai
Sungguh, tak sanggup aku mencari padanan yang terlampau
membuyarkan degan pasti, dengan pasi yang lebih pucat dari purnama
Kau menjelma layaknya bidadari kesunyian dalam
kalut di gelombang abadi
Jika kelak terbersit tanya dalam pikiranmu yang
ragu itu, dari apa hati para penyair terbuat?
Maka hadapilah bayangan pada kaca yang tak
menyimpan dusta,
Embun menjelma pada matamu,
Celoteh khas jagoanmu bersemayam pada bibir
ranummu,
Dan matahari di bulan Februari melesap pada
hatimu
Dan kia
Dan, kupastikan semua itu tak terampas darimu
Lantas air mata, yang tak serupa apapun dalam
dirimu, maka ambilah, karena hanya ia yang tersisa
Agar tiap kata yang keluar dari ujung penaku
menjadi genap dan yang tertulis menjadi tetap
Aku tidak tahu pasti kapan cintaku padamu ini
hadir, seperti setiap orang yang bertanya
Kapan detik pertama kehidupan dimulai?
Aku hanya tahu satu hal yang pasti, bahwa aku
semestinya mampu membangun bahtera dan mempercayakan satu dayung padamu, dan
kita akan melaju tiap detik pada waktu yang akan kita lukis dengan warna rindu –
Aamiin ^_^
#kebogiras

Tidak ada komentar:
Posting Komentar