Gemuruh ombak dan angin kencang menemani empat manusia yang sedang
duduk di jembatan dipenuhi lautan di bawahnya. Dua perempuan dan lelaki itu
mulanya hanya berfoto dan menikmati keadaan sejuk dengan awan mendung. Mereka
berhenti mengambil gambar dan mulai berbagi cerita. Panggil saja perempuan yang
pertama dengan sebutan Anggi, selanjutnya Aira, Fai dan terakhir George.
Anggi, Aira dan Faiz berasal dari Negara yang kini sedang mereka
nikmati alamnya, sedangkan lelaki yang satunya lagi, George adalah teman yang
datang dari benua lain, tepatnya dari benua Afrika. Kedatangan teman jauh itu
membuat mereka harus berbiara menggunakan bahasa asing, yaitu bahasa Inggris.
Percakapan mereka masih seputaran nama, tempat tinggal, dan tempat
belajar George. Pria tinggi putih itu menjawab semua pertanyaan dari tiga
temannya dengan tenang. Ia mengatakan bahwa ia tinggal di Afrika Utara, namun
ia sekolah di Cina. Ia menceritakan sedikit tentang penduduk Cina yang awet
muda.
Kebanyakan penduduk Negeri itu tenaga maupun wajahnya terlihat lebih
muda dari usianya, bahkan sampai ke titik yang tidak bisa kita bayangkan,
contoh katanya, ada nenek-nenek yang sudah berumur empat puluh tahun, namun
masih terlihat seperti dua puluh tahunn lebih muda. Ada pula yang berusia lima
puluh tahun terlihat seperti baru tiga puluh tahun.
Setelah percakapan singkat yang terjadi di sisi pantai Ulee Lheu,
mereka beralih ke coffee. Mempertimbangkan bahwa George suka ngopi, ke tiga
lainnya pun setuju membawa George ke salah satu Coffee yang terkenal di
daerahnya.
***
Interior coffeenya yang indah dengan jendela-jendela kaca,
kursi-kursi sofa, kayu, semua tertada rapi. Wallpaper dengan gambar bangunan
itu membuat nuansa coffee semakin nyaman. Anggi, Aira, Faiz maupun George
kompak masuk dan masih berdiri melihat di mana posisi duduk yang bisa membuat
mereka nyaman.
Dengan pasti Fai memilihg satu set tempat duduk dengan meja yang
sedikit sempit. Ia duduk dan dengan otomatis, ke tiga lainnya pun ikut duduk.
Mereka mulai memesan minuman kesukaan mereka. Sambil menunggu pesanan, Anggi
angkat bicara, ia mengatakan bahwa tempat duduk sofa di samping mereka akan
sitinggalkan oleh pengunjung yang duduk di sana, perempuan berkaca mata itu
mengusulkan agar mereka pindah duduk ke sofa, dan yang lainnya pun setuju.
Pesanan kami pun sampai, sambil menikmati minuman kami, cerita pun
kembali berlanjut. Anggi mulai bertanya tentang apa yang membuatnya penasaran,
yaitu tentang George yang baru saja masuk Islam setahun silam. Ia bertanya,
kenapa pria itu mau memeluk agama Islam, apa yang membuatnya interest pada
Islam?
George mengatakan bahwa rasa penasaran itu tak mungkin muncul
begitu saja, pasti ada sebabnya. Hal itu terjadi pada dirinya saat ia memiliki
banyak teman yang beragama Islam dan rasa penasaran tentang Islam itu muncul saat
melihat teman-temannya melakukan ibadah Shalat dan mengaji.
Ia mulai mempelajari Islam, mencari tahu dan terus menari tahu. Ia hanya
terus berjalan lurus dengan apa yang ia mulai ketahui tentang Islam. Hingga akhirnya
hidayah itu menyapanya dan begitulah ia masuk Islam.
Ia juga mengatakan bahwa mereka tidak memiliki agama apapun, hanya
saja merak percaya bahwa tuhan itu satu. Ia percaya Tuhan hanya satu, tidak
memeluk agama apapun, hanya keyakinan itu yang terus ia percayai, sebelum Islam
menyapanya.
Anggi merasa terharu, hatinya bergemuruh. Ia menatap takjub George
yang masih tersenyum. Cerita masih terus berlanjut.
Kali ini giliran Aira yang bertanya, apakah George suka traveling,
dengan senyum semeringah, pria itu mejawab bahwa bahkan menintai hal itu.
Banyak Negara yang telah dikunjunginya. Aira kembali bertanya, apa ini pertama
kalinya George ke Negara ini? George mengatakan bahwa ini kali ke tiga ia
menginjakkan kakinya di Indonesia.
Karena azan magrib berkumandang, kami pun beristiraht sejenak untuk
melakukan ibadah shalat Magrib.
***
Selanjutnya, perjalanan mereka menuju warung makan, karena di
coffe tersebut hanya menyediakan makanan ringan, sedangkan mereka butuh makan
nasi yang mengenyangkan. Saat Faiz sedang sibuk membayar bill, Anggi, Aira dan
George keluar dari coffee tersebut, namun sebelum mereka berangkat ke tempat
makan, George mengambil alih bertanya pada Anggi dan Aira.
Ia bertanya bagaimana perasaan meraka tinggal di Indonesia,
khususnya Aceh. Anggi menjawab dengan antusias bahwa ia merasa aman dan tentram
tinggal di wilayah Aceh yang mayoritasnya umat Islam, meski ada juga Islam
hanya di KTP saja, ia tak memperdulikan hal itu, yang jelas, ia merasa
bersyukur masih bisa mendengar azan di setiap waktu shalat tiba, mesjid-mesjid
yang berdiri kokoh bisa dijumpai di setiap daerah.
Anggi juga menanggapi tentang cerita Faiz yang juga belajar di Cina,
bahwa ia harus shalat di tempat-tempat sepi dikarenakan tidak adanya mesjid di
sana, membawa sajadah di dalam tasnya, juga botol aqua agar ia mudah berwudhu,
Anggi merasa hal itu luar biasa, Faiz masih bisa menjaga semua itu meski ia di
Negara orang.
George menanggapinya dengan mengatakan bahwa di tempat mereka
belajar hanya ada empat mesjid, dan letaknya pun sangat jauh dari tempat
tinggal mereka. Pria berjenggot itu juga mengatakan tentang kota tempatnya
tinggal di Afrika, di sana juga banya mesjid-mesjid, meski tak sebanyak di
Aceh.
Percakapan mereka berakhir saat bapak yang bekerja sebagai tukang parkir
mengatakan bahwa malam sudah mulai gerimis, jika mereka tidak berangkat
sekarang, takutnya hujan akan turun dan membasahi mereka yang hanya menggunakan
sepeda motor.
***
Mereka sampai di tempat makan yang menyediakan beberapa makanan,
sate, nasi goring, mie, martabak, kerang rebus, dan juga berbagai macam jenis
minuman. Mereka mengambil tempat di tengah-tengah warung. Anggi dan Aira kompak
memesan makanan nasi goring, sedangkan Faiz dan George memesan sate yang
katanya enak banget. Minuman pesananan Aira dan Anggi yang hanya Aqua, pun
disediakan di atas meja mereka.
Namun, saat Aira telah mengambil satu botol miliknya, Anggi ingin
mengambil botol selanjutnya, tapi keduluan oleh George. Anggi tersenyum kecut,
Faiz yang menyadari hal itu juga ikut tersenyum, namun beberapa saat kemudian,
George menyodorkan botol Aqua yang telah terbuka tutup botolnya itu ke Anggi.
Faiz dan Anggi menatap heran George, tapi kemudian ia berkata bahwa
kebiasaan orang-orang di Cina yang sebesar Anggi tidak sanggup membuka tutup
botol Aqua itu, sontak Faiz dan Anggi tertawa ringan.
Anggi yang memang bertubuh kecil mengatakan bahwa ia memang kecil
tapi ia kuat untuk hanya bisa membuka tutup botol itu. Akhirnya George ikut
tersenyum, pun dengan Aira.
Setelah pesanan mereka tersedia lengkap di atas meja, mereka pun
menyantap makanan mereka dalam diam. Saat kegiatan itu masih berlangsung,
George mengatakan bahwa makanan si Aceh enak, dan rasanya berbeda-beda,
sedangkan di Cina, apapun yang dimakannya itu rasanya sama. Anggi dan Aira
hanya mengangguk tanda mengerti.
Faiz bahkan menawarkan sate yang sedang disantapnya, ia memberinya
peluang bagi Anggi dan Aira untuk mencoba sate. Dengan sedikit ragu, Anggi
mencoba bunbu yang ada di piring sate milik Faiz, Anggi tersenyum mengangguk,
ia mengatakan bahwa makanan itu memang enak, Aira pun mengambil lontong juga di
piring Faiz, perempuan cantik itu memakannya dan ikut menganggukkan kepalanya, setuju.
Setelah Faiz dan George mengakhiri kegiatan makan mereka, George
menerima telepon dari temannya, dan bahasa yang digunakannya adalah bahasa Portugal.
Faiz yang memang teman George mengatakan bahwa orang Afrika pintar-pintar,
mereka bisa dengan cepat menguasai satu bahasa. Cara mereka belajar bahasa
tidak menggunakan buku, hanya mempraktekkan apapun bahasa baru yang mereka
dapatkan dalam satu hari, dan jika mereka salah dalam mengucapkannya, mereka
langsung menadapat perbaikan, dan setelah itu, mereka kembali menggunakan
bahasa yang baru mereka perbaiki itu hingga melekat di kepala mereka.
Anggi dan Aira dibuat takjub dengan cara mereka belajar sebuah
bahasa. Dengan cara seperti itu, maka dengan sendirinya bahasa itu akan melekat
kuat, tanpa buku pun mereka bisa menguasai sebuah bahasa.
Setelah George mengakhiri percakapannya dengan teman di telepon
genggamnya, Anggi mulai kembali bertanya, berapa bahasa yang bisa dikuasai
George. Ia menguasai empat bahasa asing, Portugal, Cina, Inggris dan Prancis.
Ada juga beberapa bahasa asing lainnya yang sedang ia pelajari, seperti bahasa
Indonesia.
Hujan tiba-tiba turun, Anggi dan Aira mulai kesusahan menghabiskan
makanan mereka, George mengatakan bahwa kedua perempuan itu harus menghabiskan
makanan mereka, jika tidak itu akan menjadi mubazir. Faiz yang mendengarnya
sangat antusias dalam menodong kedua temannya itu karena mereka mendapat
peringatan dari orang yang baru saja masuk Islam, sedangkan keduanya adalah
muslimah sejak lahir.
Anggi dan Aira tersenyum kecut menanggapi ke dua pria di hadapan
mereka itu. Anggi hampir menghabiskan makanannya, sedangkan Aira telah
meninggalkan hampir seperempat makanan di piringnya, bahkan ia memindahkan
telor dadar dari piringnya ke piring Anggi, hal itu membuat George dan Faiz
tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Anggi jujur mengatakan bahwa ia tak sanggup menghabiskan telor
dadar itu. Aira bahkan mengatakan bahwa kapasitas nasi yang disediakan dengan
kapasitas perutnya itu terlalu berlebihan. Setelah mendengar hal itu, George
kembali berkata, bahwa jika memang seperti itu, lain kali jika ingin memesan
makanan, katakan pada penjualnya agar ia mengurangi kapasitas nasinya.
Lagi-lagi Faiz tertawa senang melihat Aira kembali mendapatkan
nasehat dari George, Anggi bahkan mengatakan bahwa Aira mendapatkan tambahan
sks dari George. Mereka hanya tertawa ringan melihat wajah Aira yang sedikit
cemberut.
Hujan mulai reda, malam pun semakin larut, mereka memutuskan untuk
pulang, tapi sebelumnya Anggi bercerita tentang dirinya yang ingin belajar
keluar negeri, namun orang tuanya melarang hal itu, alasannya karena mereka
tidak percaya pada Anggi. George menanggapinya dengan bijak, ia mengatakan
bahwa Anggi hanya harus menunjukkan seberapa besar keinginannya untuk belajar
di luar negeri, ia haru menunjukkan bahwa ia mampu belajar ke luar negeri.
Saat Anggi menanyakan bagaimana pendapat George tentang orang tua
yang seperti itu, ia mengatakan bahwa ia tidak memiliki alasan untuk menanggapi
hal itu, ia yakin bahwa orang tua memiliki alasn tersendiri tentang semua
keputusan mereka. Saat ia sudah memiliki anak, mungki ia akan tahu apa
alasannya.
Akhirnya, mereka pun berpisah, Anggi dan Aira kembali kerumah
mereka, sedangkan Faiz mengantarkan George fitting baju nikah yang akan
dilaksanakannya di Aceh bersama gadis Aceh pula.
To be continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar