Kamis, 14 Desember 2017

TULUS

"Pergi!!" hardiknya keras.
"Aku tidak butuh bantuanmu!" lanjutnya sambil pergi dari hadapanku, meski langkahnya masih tertatih. Aku mengikutinya dari belakang, ia msih terus berjalan.
"Berhenti mengikutiku, Kin!" spontan langkahku terhenti. Ia masih memunggungiku, namun langkahnya kembali berlanjut. 
Aku memang keras kepala karena masih mengikuti gadisku yang ngambek. Kupercepat langkahku agar bisa mensejajarkan langkahnya.
"Aku minta maaf, Na, aku nggak mau kehilangan kamu dengan cara seperti ini, aku mohon kamu mau mendengar penjelasankku," kutatap matanya lembut, berusaha menyalurkan kasih sayangku padanya. Aku sangat mencintai gadisku ini, tapi sikap keras kepalanya yang tidak kalah denganku membuat hubungan kami kerap kali retak seperti sekarang ini.
"Aku mau pulang, Kin, kakiku rasanya keram," tiba-tiba sikapnya berubah manja, ia menatapku sendu, kemudian menunjukkan kakinya. 
"Kita bicarakan di rumahku kalau kamu mau," kataku sambil menahan senyum.
"Aku masih marah, Kin, aku belum memaafkanmu," katanya mulai berpegangan pada lenganku.
"Bukannya tadi kamu tidak butuh bantuanku?" godaku sambil memegang pinggangnya kuat agar ia tidak jatuh.
"Aku terpaksa, kalau bukan karena kakiku yang mulai ketulungan sakitnya, aku juga tidak akan memintamu menolongku," ujarnya kesal.
Aku memilih diam, ia masih kesal dan marah padaku dan aku tidak ingin menambah kekesalannya. 
Kami sampai di tempat dimana aku memarkirkan mobilku, aku membantunya untuk masuk ke mobil, aku pun menyusulnya, kulajukan mobilku dengan kecepatan ringan, aku masih ingin berlama-lama bersamanya.
"Ini diminum dulu tehnya, sayang," mama menyuduhkan teh hangat ke tangan Karina, dan aku masih menunggu situasi agar aku bisa bicara dengannya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya udah, mama tinggal dulu kebelakang, kamu makan malam disini saja ya, Na, mama masak makanan kesukaan kamu," mama mengelus rambut lurus itu sebelum akhirnya berlalu ke dapur.
"Aku nggak bermaksud untuk merendahkanmu, nggak sama sekali, Na. Aku tulus melakukannya hanya agar kamu tidak kesushan lagi. Aku nggak sanggup harus ngeliat kamu mencari kerja ke sana kemari untuk bisa membiayai kuliahmu. Setiap kita bertemu di kampus, atau saat aku menjemputmu di rumah, hampir setiap hari aku mendapatimu pucat, dan sangat terlihat kelelahan, aku nggak mau melihat hal itu lagi, Na," jelasku yang kini berpindah tempat duduk ke sisinya. Ia hanya diam sambil terus meminum teh hangat yang ada ditangannya.
"Berapa kali harus kukatakan, Kin, aku nggak mahu menerima uangmu atau bantuanmu, aku masih bisa mencarinya sendiri. Masalah kamu tidak sanggup melihatku kesusahan itu harus kamu hadapi sendiri, kontrol diri kamu agar kamu bisa menerima keputusanku itu," ia berkata dengan tenang.
Aku menatapnya kesal.
Kupegang bahunya dan membuatnya menatapku seutuhnya.
"Bagaimana jika aku yang ada di posisi kamu? aku yang terus bekerja dan selalu terlihat lelah hingga tidak fokus belajar, aku yang selalu pucat dan tidak sehat, apa yang akan kamu lakukan jika itu yang kamu lihat dari diriku hampir setiap hari?" tanyaku menatapnya dalam. 
Tubuhnya membeku, ia juga menatapku, iris abu-abu miliknya mulai melunak, ia menunduk lesu, melepaskan tanganku dari bahunya.
"Aku..."
Aku masih menunggu apa yang akan ia katakan.
"Mungkin aku juga akan bersikap sepertimu," lirihnya.
Aku mengulum senyumku.
"Kita sama, Na," kini aku memberanikan diri memeluk bahunya.
Hening.
"Apa ini artinya, kita sudah baikan?" tanyaku hati-hati.
Jujur, sampai saat ini aku masih belum sepenuhnya mengerti dengan sikap Karina yang mudah sekali berubah, bisa saja ia baik, namun tidak tertutup kemungkinan detik berikutnya ia akan berubah dengan bersikap acuh, memang perempuan sangat sulit untuk dimengerti, tapi aku tidak akan menyerah pada gadisku ini, aku akan tetap mencoba untuk mengerti dia sepenuhnya.
Ia menganggukkan kepalanya yang bersandar di bahuku.
Situasi kembali hening, aku sangat menikmati saat-saat seperti ini, dan pikiran itu tiba-tiba saja muncul di benakku, hingga kuberanikan diri untuk mengutarakannya.
"Na, kita nikah aja yuk," bisikku di telinganya.
Ia terlonjak kaget, kemudian menatapku dengan dahi berkerut. Aku hanya menampakkan deretan gigi rapiku padanya.
"Kamu sedang melamarku?" tanyanya masih menatapku heran dan dengan seketika wajahnya berubah kesal. Aku belum menjawab pertanyaannya tapi ia sudah bangun dari duduknya.
"Na, maaf, aku hanya berfikir, dengan begitu aku bisa bertanggung jawab atas dirimu seutuhnya, aku_"
"Aku nggan mau kamu lamar seperti ini, Kin, aku bermimpi saat kamu melamarku di tempat istimewa, lampu-lampu dan bunga , tapi kenyataannya, kamu malah mengatakannya dalam situasi seperti ini, apa-apaan kamu CEO nggak peka?!" katanya kembali kesal, ia menatapku tajam.
Oh ya ampun, kufikir ia menolakku, tapi apa ini? Aku sangat gemas melihatnya seperti ini, ia semakin terlihat manis dengan matanya yang bulat, bibir pink tipisnya, wajahnya yang digembungkan hingga lesung pipinya tidak terlihat sama sekali. Oh Tuhan, sepertinya aku sangat memuja gadis ini, lihat sekarang, aku malah asik menatapnya di saat ia sedang kesal padaku.
Aku bangun dari dudukku dan langsung memeluknya.
"Kita langsung nikah aja ya, Na, sepertinya aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi," kataku lembut.
"Tapi aku maunya tunangan dulu," katanya dengan nada masih kesal.
"Tidak ada penolakan, Na," kataku serak sambil melepaskan pelukanku, menatapnya lembut.
"Baiklah, kau memang bos keras kepala," katanya sambil tersenyum manis menampakkan lesung pipnya.
"KIta akan menikah sebulan lagi, ok," 
"APA?!" teriaknya sambil melepas utuh pelukanku.
"Bagaimana bisa secepat itu?" tanyanya tidak percaya.
"Kamu lupa siapa aku? Aku bukan mahasiswa biasa, Na, aku CEO KIN yang memimpin salah satu perusahaan besar di kota ini, dan hal itu sangat mudah bagiku untuk mengatur pernikahan kita dengan cepat," kataku tersenyum angkuh.
"Sombong..." ia pun kembali memelukku.
"Sepertinya papa kamu harus segera pulang ke sini, ya, Kin," perkataan mama membuatku langsung melepaskan pelukanku.
"Selamat datang di keluarga Giendra ya sayang," mama langsung memeluk Karina dengan senyum kebahagiaan.
"Terima kasih, tante," 
"Mama, mulai saat ini kamu harus membiasakan memanggilku mama, sayang,"
Ke dua perempuan itu tersenyum, dan aku berjanji akan melakukan apa pun agar senyum di bibir dua ratu dalam hidupku itu akan terus terjaga, selamanya.

The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar