Jumat, 08 Desember 2017

Jaringan Cinta

Emosi yang terus kutahan  kini mulai meluap.
PLAK!
Tamparan keras dariku membuat wajah tampan itu meringgis, ia memegang pipinya yang memerah.
"Akira?" ia menatapku sendu.
"Selama ini aku selalu sabar menerima semua kebohonganmu, Vin, dan aku sudah muak memberikanmu uang yang terus kau pakai untuk bermain dengan wanita lain di belakangku, kau fikir aku tidak tahu, selama aku pergi ke luar kota, kau asik-asikkan bermain dengan wanita simpananmu itu," ia menundukkan kepalannya dalam.
"Kamu tetap tidak bisa berpisah dariku, Ra, karena aku tau, kamu hanya mencintaiku," aku memalingkan wajahku darinya.
Ia sangat tahu tentang perasaanku, entah kenapa perasaanku tetap tidak bisa berubah, aku tidak bisa benar-benar membencinya, aku sangat membenci diriku sendiri, ingin rasanya aku bunuh perasaan cinta ini, tapi aku tetap jatuh dihadapannya. Oh Tuhan!
"Aku sangat meridukanmu, Ra, alasan semua itu kulakukan karena aku sangat merindukanmu, bisakah kamu meninggalkan pekerjaanmu, dan hanya fokus padaku? Aku menginginkan kehadiran tawa bayi di rumah ini, Ra. Kamu selalu menolak itu, dan aku tidak punya pilihan lain selain bermain dengan wanita manapun yang ingin memiliki anak denganku, aku bahkan tidak keberatan saat Keila mengatakan bahwa ia mengandung bayiku, aku bahagia mendengarnya, namun aku tak menyadari bahwa hatiku menangis, kenapa bukan kamu yang mengandung bayiku, kamu adalah wanita sahku, sedangkan Keila hanya wanita yang kunikahi karena kesalahan fatal itu, dan sekarang kamu marah karena berita ini?"
Aku masih terdiam di dalam pelukannya yang hangat. Apa sebesar itu keinginannya untuk memiliki bayi? Apa aku salah karena membiarkannya mengurus rumah sedangkan aku bekerja?  
"Aku memenuhi semua keinginanmu, termasuk melepaskan pekerjaanku hanya karena aku ingin kamu bahagia, dan sekarang aku tanya padamu, apa kamu bahagia dengan keadaan kita sekarang? Terlebih dengan kehadiran Keila dan bayi kami?" 
Aku masih diam. Ia semakin mengeratkan pelukannya, aku mulai merasa akan kehilangan pria yang selalu ada untukku dan memenuhi semua keinginanku ini, aku tidak mahu, kubalas pelukannya dan semakin menenggelamkan wajahku di dada bidangnya, kuhirup aroma tubuhnya yang begitu kurindukan, aku tak ingin berpisah darinya, aku ingin dia selalu ada untukku setiap kali aku pulang kerja dan kami akan menghabiskan waktu dengan menonton tv sambil bercanda hingga aku tertidur di dalam pelukannya.
"Jangan pernah lepaskan aku, Vin, aku sangat mencintaimu, aku membutuhkanmu," serakku yang mulai menangis. Biasanya ia akan luluh jika aku menangis.
"Maafkan aku, Ra, pernikahan ini memang kita lakukan dengan cinta, tapi, kepergiaanmu keluar kota yang hampir sebulan, bahkan kamu seprti lupa padaku, meski sesekali kamu menyempatkan diri meneleponku, itu tidak cukup, Ra," suaranya serak, apa ia juga menangis?
"Kalau begitu, aku tidak akan lupa untuk selalu memberi kabar jika aku bekerja di luar negeri lagi, aku akan sering skype denganmu, jadi jangan tinggalkan aku, ya," kulepaskan pelukannya dan menatapnya lembut.
"Aku minta maaf telah marah, aku tahu aku salah, tapi masih ingin bekerja dan aku masih ingin kamu tetap di sisiku, Vin, aku tahu aku egois karena tidak ingin memiliki bayi, tapi ini demi pekerjaanku, apa kamu mau aku sedih karena selalu meninggalkan bayiku demi pekerjaanku kelak, tentu tidak, kan, jadi,"
"CUKUP!" 
Bentakannya membuatku terkejut. Ia mundur beberapa langkah dan masih menatapku sendu. Air mataku masih mengalir, menatapnya memohon.
"Akira Cintiana, aku Kevin Dianto dengan ini resmi mentalak satu kamu, kita sah berpisah, maaf, Ra, aku harus pergi,"
Aku membeku. Ia pergi dari rumah ini tanpa berpaling. Kutatap punggungnya hingga ia menghilang. Tubuhku lemas, kulihat semua foto-foto lelaki yang kucintai yang sedang merangkul perempuan lain, bahkan mereka keluar dari sebuah rumah sakit dengan Kevin menggendong wanita itu.
Apa aku salah tidak ingin memiliki bayi? Apa Kevin sudah tidak mencintaiku lagi? Apa aku pantas diperlakukan seperti ini setelah aku membiayai hidupnya? 
Air mataku masih terus mengalir hingga membuat kepalaku pusing dan akhirnya aku memilih menutup pintu rumah dan masuk ke kamarku untuk tidur, semoga saat aku bangun, ini hanya mimpi burukku.
mataku masih tidak bisa dipejamkan, wajah Kevin yang penuh dengan kesedihan sekaligus kebencian membuat hatiku remuk. Aku tahu Kevin masih mencintaiku, tapi kenapa ia memilih untuk melepaskanku, meninggalkanku sendiri? Kenapa? Siapa sih wanita bernama Keila itu? Kenapa ia bisa membuat Kevin berpaling padanya? Apa karena bayi? Aku tidak peduli, aku tidak boleh kalah, aku akn mencoba menemui Kevin lagi besok, tapi aku harus mencarinya dimana?
Pikiranku semakin penuh dengan Kevin, hingga aku tidak sadar jam telah menunjukkan tengah malam, kembali kucoba memejamkan mata, memaksakan diriku untuk tidur.
***

Aku masih menunggu kedatangan Kevin di pengadilan agama, ia mengirimiku surat cerai yang harus aku tanda tangani, dan itu adalah file terkutuk yang aku temukan saat pertama kali aku kembali menginjakkan kakiku di kantor pusat yang aku pimpin.
Akin pengacara pribadiku setia mendampingiku. Ia masih sibuk membaca file tuntutan cerai dari Kevin.
"Apa benar kamu menolak untuk memiliki bayi, Ra?"
pertanyaannya membuatku menatapnya datar.
"Dulu ia tidak mempermasalahkan hal itu, hanya sekarang ia menggunakan itu untuk menggugat ceraiku,"
"Kamu tau, Ra, pria tidak akan selamanya sama, bisa saja kali ini dia memang menginginkan seorang bayi," aku menatap pria itu tajam, ia hanya membalas tatapanku datar.
"Di sini kamu itu pengacaraku, aku tidak ingin perceraian ini, A, dan kamu harus membantuku,"
Pria berkaca mata itu hanya diam.
Kulihat ke pintu masuk, tepat saat itu Kevin masuk dengan didampingi dua wanita di belakannya, kulihat ia mengiring perempuan berbando untuk duduk di seberang kiri kami, dan wanita lainnya duduk di sisi lein Kevin yang masih kosong.

Selama persidangan berjalan, Akin tidak banyak membantu, hingga kami resmi bercerai. Kulihat Kevin kembali mendekati perempuan berbando untuk menggandengnya sambil keluar dari ruang mencekam ini.
"Kamu sama sekali tidak membantu, A!" marahku sambil pergi meninggalkan Akin yang masih juga mengikutiku.
Akin dan aku kembali ke kantor. Dalam perjalanan kami hanya diam, aku tak menyadari ternyata AKin membawaku ke pantai. Mobil diparkirnya dengan rapi di parkiran, ia menyuruhku untuk turun, aku mengikutinya berjalan mendekati pantai.
Sepi, hanya ada beberapa orang di dekat pantai, karena memang ini masih siang dengan cuaca yang mendung.
Kurebahkan bokongku di atas pasir, Akin pun ikut duduk di sisiku. Kutatap jauh ke pantai yang tak bertepi, kenangan demi kenangan bersama Kevin terus berputar seperti fiml singkat yang menyita perhatianku. Tak terasa air mataku jatuh membasahi pipiku.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu tenang," kutatap Akin yang menatap jauh ke depan.
"Apa salahku, A? Kenapa ia tega meninggalkanku?" serakku.
"Karena pria itu memang seorang pemimpin juga imam, dan kesalahan terbesarmu adalah membuat seorang pemimpin dan imam itu menjadi pengikutmu. Aku yakin, Kevin melakukan semua keinginanmu hanya untuk melihatmu bahagia, meski nyatanya ia tidak ikut bahagia bersamamu, pria itu terlalu mencintaimu hingga ia lupa tentang kebahagiaannya sendiri, mungkin saat kamu tidak di sampingnya, ia menyadari satu hal, ia juga butuh bahagia, dan itu tidak ia temukan ketika bersamamu,"
"Tapi Kevin selalu tersenyum bahagia saat bersamaku, atau itu semua hanya sebuah topeng?"
"Aku juga tidak terlalu mengerti, Ra, tapi yang jelas, semua lelaki memiliki arga diri yang tinggi, dan aku fikir, Kevin mulai bertindak tegas demi mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini,"
"Bayi,"
Akin diam, aku kembali memandang jauh ke depan.
"Mencobalah untuk menerima kenyataan bahwa kamu memang salah, adan kamulah yang menyebabkannya memilih untuk berpisah darimu,"
Aku menatap Akin tajam.
"Jangan menatapku seperti itu, Ra, kamu sangat tahu, bagaimana peran seorang istri dalam agamamu,"
Aku sangat terkejut mendengar kata-kata Akin, aku tahu ia berbeda agama denganku. Ia selalu setuju dengan apa pun pendapatku, tapi kenapa ia sekarang menohokku tentang peran seorang istri di dalam agamaku.
"Apa yang kamu tahu tentang itu?" tanyaku tajam.
"Aku tahu, Ra, karena selama sebulan kepergianmu, aku mulai mempelajari tentang Islam dan memilih berpindah agama, aku mulai mencari tahu bagaimana menjadi pribadi yang baik untuk menjadi seorang suami, dan aku juga mempelajari bagaimana sikap seorang istri terhadap suami,"
Aku terkejut bukan main, kulihat Akin yang tersenyum tipis sambil menatapku.
"Apa yang membuatmu berpindah agama, A? Apa ada seorang gadis yang kamu suka hingga kamu harus mempelajari itu semua dan aku benar-benar tak menduga tentang hal itu, kenapa kamu baru memberi tahuku sekarang?" aku sungguh antusias mendengar kabar itu. Akin berhasil membuat air mataku berhenti.
"Aku memang tertarik dengan Islam sejak mengenal perempuan itu, dan aku sangat ingin memilikinya, hingga aku putuskan untuk menghalalkannya dan berpindah ke agamanya," senyum dan sinar mata bahagia Akin membuatku ikut tersenyum.
"Ia perempuan shaleha yang sangat penurut dan taat pada agamanya, darinyalah aku tahu, bahwa apa yang selama ini kamu lakukan itu adalah salah, Ra. Aku ingin kamu merubah mindsetmu tentang seorang perempuan dalam bekerja, aku tak ingin bahagia sedangkan sahabatku dalam kesedihan, aku akan menikah dua bulan lagi, dan aku ingin kamu ikut bahagia, Ra," katanya sambil menatapku dengan tatapan yang aku benci. Ia kasihan dengagn kehidupanku.
"Apa aku semenyedihkan itu?" air mataku kembali mengalir, bukan hanya Kevin yang membuatku sedih, kini satu-satunya sahabatku pun membuatku sedih.
"Kamu sudah memiliki segalanya, Ra, perusahaan, citra, kejayaan, tapi kamu tidak bisa mempertahankan kebahagiaanmu. Aku hanya ingin kamu bahagia, Ra,"
"Selama ini aku bahagia, A, kamu lihat sendiri, aku bahagia bersama Kevin, tapi sekarang Kevinlah yang menghancurkan kebahagiaanku," teriakku histeris, aku tidak menerima kenyataan yang mengatakan bahwa selama ini aku tidak bahagia.
"Terserah padamu, Ra, aku hanya bisa menasehatimu sebagai sahabat,"
Akin bangun dari duduknya.
"Apa kamu mau ikut shalat dhuhur di mesjid? Atau kamu masih melupakan kewajibanmu itu?"
Kuputuskan untuk mengikuti Akin. Aku memang muslim, tapi tak jarang aku melupakan kewajiban itu, aku merasa bisa menggantinya suatu saat jika aku memiliki waktu lebih, jabatan sebagai direktur utama itu sangat menyita waktuku hingga aku lebih sering meninggalkan hal itu.

Mesjid itu penuh dengan pria, wanita, tua, muda, hingga anak-anak yang masuk ke dalamnya. Kulangkahkan kakiku ke tempat wudhu, membiarkan air itu mengalir di wajah, tangan hingga kakiku, aku masih ingat cara berwudhu, setelah selesai, aku pun masuk ke mesjid dan menggunakan mukena, dan tentu saja mengikuti shalat dhuhur berjamaah.
Setelah itu, aku hendak membuka mukena saat seseorang menepuk pundakku, kulihat seorang paruh baya menatapku sambil tersenyum, aku pun membalas senyumnya.
"Ketahuilah nak, Allah maha pemaaf dan penerima taubat, jika kamu ingin kembali dan memohon pengampunannya, in sya Allah, Ia akan menuntunmu kembali ke jalanNya, dan yakinlah, kebahagiaan itu terletak pada iman dan syukurmu pada Rabbmu, jadi, kembalilah nak, karena kamu juga pantas untuk mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya,"
Kata-katanya membuat hatiku bergetar, apa ia aku sudah sangat berdosa? Apa ia aku sudah jauh dari jalanNya? Ya Allah...
Tak terasa air mataku tumpah. Kulihat wanita itu mulai meninggalkanku sendiri. Aku masih menangis, hatiku teriris. Aku melupakan ajaran mama dan papa yang sudah meninggal. Mereka mengajarkanku tentang agamaku, aku percaya Allah tuhanku dan Muhammad nabiku, tapi saat Allah mengambil mereka dan meninggalkanku sendiri di dunia ini, aku pun sudah tidak peduli dengan ajaran dan kewajibanku. Aku malah memilih untuk tidak terlalu peduli dengan ajaran itu, hingga aku terjurumus terlalu dalam, Kevin sering mengingatkanku untuk ikut beribadah bersamanya, tapi aku selalu menolaknya, ia pun tidak memaksaku, aku bersujud, air mataku masih terus mengalir, aku telah berdosa.
Hingga tak sadar aku tertidur dan baru sadar saat seseorang mengguncang bahuku. Kulihat seorang wanita berkerudung tersenyum ke arahku, ia mengatakan bahwa aku harus bangun, karena waktu sudah menunjukkan shalat Ashar, akuk teringat, tadi aku ke sini dengan Akin, apa Akin tidak mencariku. Aku bangun dan memilih duduk di sudut mesjid, dan meraih hpku, kulihat beberapa panggilan dari Akin dan satu pesan darinya yang mengatakan ia akan menungguku keluar dari mesjid.
Bergegas aku menghubunginya, dan ia mengatakan bahwa ia akan pulang setelah shalat ashar berjamaah, aku pun mengikuti hal itu.


"Akin, aku sudah memutuskan untuk berubah, dan aku ingin kamu membimbingku, apa kamu mau?" kulihat Akin menatapku terkejut. Aku tahu ia akan menikah dua bulan lagi, tapi aku ingin ia menemaniku menjalani taubattku, aku sudah tidak memiliki siapa pun selain dirinya.
"Kamu yakin, Ra?" tatapannya begitu datar, aku tidak bisa membaca ekspresinya, sedari kecil mengenalnya hingga sekarang, aku masih belum bisa membaca apa yang sedang ia pikirkan.
Aku mengangguk meyakinkannya bahwa aku yakin dengan apa yang aku katakan tadi.
"Kalau begitu, kita akan menikah besok," ujarnya sambil melajukan mobilnya meninggalkan mesjid. Aku menatapnya tidak percaya.
"Tapi bagaimana dengan perempuan yang akan kamu nikahi dua bulan lagi itu?" tanyaku to the point.
"Aku baru berencana melamarnya, Ra, dan sepertinya, aku lebih memilih untuk menjagamu dan berjuang untuk mencapai cintaNya bersamamu," ujarnya sambil tersenyum.
"Terima kasih, A," Ia hanya menatapku tersenyum dan kembali fokus melajukan mobilnya.
Aku tidak tahu bagaimana kehidupan kami nantinya, tapi aku yakin, Allah akan membantu kami untuk berjuang mencapai cintaNya.

The End


Tidak ada komentar:

Posting Komentar