Minggu, 06 Mei 2018

HATER



Kembali kuamati instagram artis yang kubenci itu. Mengapa tidak? Bukan hanya satu perempuan yang menjadi sasaran untuk dipatahkan hatinya, dasar playboy cap kapak! Aku melihat satu foto yang di uploadnya tiga menit lalu, dia sedang merangkul seorang cewek dan jelas-jelas itu bukan pacarnya, karena semalam dia juga baru saja mengupload sebuah gambar mesra bersama pacarnya dengan caption, selamat ulang tahun sayang. I love you so much, dan sekarang dia dengan cewek lain dan captionya yang membuatku geram, selamat hari mawar, sayang, aku akan selalu menyayangimu, berada disisimu, selamanya, karena kamu adalah pilihan terakhirku.
Bagaimana bisa seorang artis berganti pacar dalam waktu semalam? Apalagi dia termasuk actor papan atas milik TI (TimeIn) menejemen. Aku menyukai artis-artis papan atas dari TI, tapi tidak dengan lelaki satu ini, Juan Kinder. Dengan geram, kuputuskan untuk mengirim komentar yang sedikit pedas.
Semalam baru mengucapkan I love you so much pada pacar, tapi sekarang langsung dengan pilihan yang lain, semoga langgeng dan semoga nanti malam tidak dengan love yang lainnya lagi.
Sent.
“Hai, kenapa senyum-senyum sendiri?” suara lembut itu membuatku langsung menutup laman instagram.
“Lagi isengin orang jahat,” aku masih tersenyum terlebih melihat pacarku yang mengerutkan keningnya bingung.
“Siapa?” biasanya cowok berkaca mata di hadapanku ini memilih cuek saat jawabanku menbingungkannya, kenapa sekarang dia mulai penasaran.
“Aktor playboy,” kulihat dirinya hanya menganggukkan kepalanya sambil melepas kaca mata. Taqin tidak tahu siapa actor yang kumaksud, makanya dia memilih tidak memperpanjang cerita ini.
“Udah makan? Aku tadi udah makan di kantor, kamu tau sendiri kan, aku sangat kelaparan jika lembur, dan aku baru tidur dua jam, aku sangat menyesal karena lupa member tahumu,  aku tidak bisa lama menemanimu, sebisa mungkin aku harus segera kembali ke kantor,” curhatnya panjang lebar.
Kutatap wajahnya yang kelelahan, aku tahu pria ini workaholics, bahkan aku tidak pernah diizinkan datang ke kantornya, karena kedatanganku akan merusak konsentrasinya bekerja, begitu melihatku, maka dia dengan senang hati meninggalkan pekerjaannya demi diriku. Aku menyukainya karena dia sangat perhatian padaku, bahkan sesibuk apapun, dia akan menyempatkan dirinya untuk menemaniku makan, seperti saat ini.
“Aku menunggumu, biar kita bisa makan bareng. Aku tidak tahu kamu sudah makan siang, dan buru-buru, aku tidak apa-apa jika kamu mau kembali ke kantor, aku bisa makan sendiri,” kusuguhi senyum termanisku padanya agar dia merasa lega, dan tidak terbebani olehku.
“Mana bisa seperti itu, aku akan menemanimu makan, aku bisa mengulur waktuku sedikit, pesanlah,” dia mulai mengedipkan matanya jahil. Aku tahu Taqin seorang menejer utama di kantornya, tapi aku juga tahu kantor itu milik papanya yang terkenal tegas dan disiplin.
“Baiklah, aku tidak akan bertanggung jawab jika papamu memarahimu, oke,” aku langsung memesan makanan dan minuman agar kekasihku ini bisa segera kembali ke kantornya.
“Tenang sayang, papa tidak akan marah jika alasanku adalah kamu,” dia mengelus pipiku lembut. Aku merona karena malu dan bahagia. Aku hanya bisa berharap agar pria tampan ini segera meresmikan hubungan kami ke jenjang lebih serius, aku sudah terlalu mencintainya.
Aku tersenyum saat hpnya bergetar, sepintas aku melihat nama Rerei di halaman Hpnya. Sekertarisnya itu memang kerap kali mengganggu di saat seperti ini. Kulihat wajah lelah dihadapanku berubah datar. Taqin langsung menolak panggilan itu.
“Angkatlah, Qin, sepertinya itu penting,” aku memang cemburu dengan perempuan yang selalu menemani pria tampanku saat bekerja itu, tapi aku sangat percaya Taqin tidak akan selingkuh.
“Baiklah,” saat hpnya kembali berdering dan memang Rerei yang menelponnya, Taqin menjawab panggilan itu. kulihat wajahnya sedikit tersenyum, apa yang dikatakan Rerei hingga membuatnya tersenyum semanis itu.
“Baiklah, letakkan berkas itu diatas mejaku, aku akan kembali sebentar lagi, terima kasih, Rei,” Taqin mematikan hpnya dan masih tersenyum. Aku menatapnya penasaran, dan saat tatapan kami bertemu, kulihat dia sedikit terkejut dan wajahnya kembali terlihat senang. Aku mengerutkan keningku, bingung.
“Sepertinya aku harus kembali sekarang, sayang, maafkan aku, sampai jumpa besok,” dia memakai kembali kaca matanya dan mengelus kepalaku pelan sebelum pergi meninggalkanku yang masih dilanda kebingungan, kenapa Taqin begitu mudah meninggalkanku hanya karena telepon dari Rerei? Oh ayolah Yuzel, kamu tidak boleh curiga.
“Silahkan dinikmati,” suara pelayan membuatku memilih untuk melupakan kebingunganku dan makan dengan tenang, semoga bisa.
***

Kuputuskan untuk menghilangkan rasa penasaranku. Aku bisa menunggu hingga Taqin cerita apa yang dikatakan Rei, tapi rasa ingin tahu ini lebih besar hingga aku tidak bisa menunggu. Kumantapkan langkahku untuk masuk ke kantor Taqin. Resepsionis menyapaku dengan ramah, kukatakan bahwa aku ingin bertemu Taqin, aku semakin penasaran saat perempuan dengan name tag Hinanti itu mengatakan bahwa Taqin baru saja keluar dengan sekertarisnya.
“Apa mungkin mereka pergi karena kerjaan?” lirihku tapi mampu didengar oleh resepsionis cantik didepanku ini. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu.
Dengan kesal aku keluar dari gedung itu. Kuputuskan untuk kembali ke butikku. Aku memang mendirikan sebuah butik yang tidak jauh dari kantor Taqin. Dengan jalan kaki kulalui setiap gedung tinggi disekitar. Langkahku seketika terhenti saat melihat sosok yang tak jauh dariku, lelaki dan perempuan yang masuk ke butikku, kupercepat langkahku untuk sampai ke butik.
Saat aku masuk ke butikku, lelaki itu menatapku datar, Lena yang berdiri di sisi kirinya mendekatiku dan mengatakan bahwa mereka ingin melihat gaun pengantin di butikku. Tak heran jika mereka memilih ke sini, karena memang kebanyakan artis memilih gaunnya di sini. Bukannya sombong, tapi kualitas gaun yang kudesain dan bahannya membuat nama butikku cukup terkenal di kalangan para artis dan model.
“Aku suka yang desainnya seperti ini, tapi aku mau bahannya dingin, karena sekarang lagi musim panas, aku tidak suka berkeringat,” seorang wanita cantik menunjukkan sebuah gaun pengantin yang memang sudah dipajang di manekin, tapi kuakui bahan gaun itu cukup panas dicuaca seperti ini.
“Baiklah, kami akan menyiapkannya, apa hanya itu permintaannya? Dan kapan mau diambil?” wanita yang kutanyai menatap lelaki yang masih duduk di sofa.
“Simple tapi elegant, dan kami akan kembali dua hari lagi,” aktor satu itu mengatakannya dengan senyum manis sambil menatapku. Sepertinya aku mulai bisa menebak, bagaimana seorang Juan Kinder ini menjerat berbagai wanita dipelukannya.
“Baiklah, sampai ketemu dua hari kemudian,” kataku sambil membukakan pintu bagi mereka. Sang perempuan menggandeng mesra lengan actor itu sambil berkata, “setelah ini kita pilih cincin pernikahan kita, ya sayang,” dan actor itu hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah mereka keluar dari butikku, aku menghela nafas. Belum tuntas kesalku karena Taqin yang memilih keluar dengan sekertarisnya dari pada menemaniku makan, kini aku semakin kesal karena actor yang baru keluar dari butikku adalah actor yang tadi siang kukomentari kolom instagramnya. Oh Tuhan, aku tidak pernah kedatangan artis yang kubenci.
Kebanyakan dari pelangganku adalah artis yang menyenangkan dan baik, bahkan sebagian dari mereka menjadi temanku di media sosial hingga kami juga sering berkumpul jika ada perkumpulan. Baik artis atau actor langganan butikku ini menjadikanku teman mereka. Apa Juan dan pacarnya itu juga akan beramah tamah denganku? Ayolah Yuzel, apa yang kamu pikirkan? Sekarang waktunya bekerja. Fokus, Yu!
“Mbak, itu bukannya actor playboy, yang mbak benci itu kan? Terus apa dia mau menikah? Wah, akhirnya dia taubat juga mbak,” Lena mendekatiku dan langsung mengatakan pendapatnya.
“Ya semoga aja benar mau taubat, karena kalau tidak, aku sebagai perempuan mungkin akan mengutuknya lebih parah lagi,” candaku sambil berjalan menuju ruangan khusus milikku yang ada di lantai dua. Ruangan tempatku menghasilkan karya yang cukup luar biasa.
“Mbak, apa mbak nggak ingin menjahili actor itu? Tidak hanya dengan mengomentari kolom instagramnya, tapi dengan lebih nyata,” tiba-tiba Gun masuk dengan gunting ditangannya.
“Gun, dia udah mau nikah, udah taubat,” Lena mengambil alih gunting yang dipegang Gun dan meletakkannya di atas meja. Gun mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum memilih untuk memasangkan beberapa kain ke manekin sesuai dengan desain, dan itu pekerjaan yang belum diselesaikannya sejak tiga jam yang lalu.
“Baiklah, karena ada beberapa pesanan yang belum kelar sedangkan waktunya mepet, sepertinya kita harus lembur,” kukatakan dengan suara sedikit keras, karena ada Salsa dan Rin yang juga sedang mengerjakan tugas mereka seperti Gun, mereka hanya mengangguk dan kami pun kembali bergelut dengan kain dan pentol, sebelum akhirnya menyempuarnakannya dengan mesin jahit.
***
Mataku mulai lelah, kulihat Lena sedang bersiap untuk pulang bersama pacarnya yang sudah menunggunya di depan. Sedangkan Salsa, Gun dan Rin sudah pulang limat menit yang lalu, aku ingin pulang, tapi sepertinya aku harus menyelesaikan gaun ini sekarang, karena besok sabtu, aku dan Taqin janji untuk beristirahat sejenak ke pantai.
“Mbak, aku duluan, ya,” Lena melambaikan tangannya sebelum akhirnya menghilang si balik pintu ruanganku, dan aku masih fokus dengan pekerjaanku sambil menjawab kata-kata Lena, “Ya, hati-hati di jalan,”.
Aku terus fokus untuk menyelesaikan desain gaun pengantin milik sepupuku yang akan menikah minggu depan, karena Senin dia akan berkunjung untuk melihat hasil gaunnya, dan aku tidak ingin mengecewakannya. Kulirik jam dinding ruanganku, jam 03.00 pagi, wah, sepertinya aku terlalu fokus.
Kuselesaikan ukiran di sisi gaun dan akhirnya sempurna. Kulihat hasil karyaku dengan puas, aku hanya bisa tersenyum, sebelum akhirnya kututup buku itu dan mulai mematikan lampu ruanganku dan menguci pintu ruangan itu. Kuturuni tangga yang lumayan banyak, sepertinya aku sangat lelah, kuputuskan untuk menginap di butik. Setelah memastikan pintu utama dan jendela terkunci, aku pun masuk ke kamarku yang ada di sudut ruangan lantai satu.
Setelah shalat isya, dan siap tidur, aku seperti mendengar langkah kaki mendekati kamarku, semakin lama suaranya semakin kuat, aku mulai merinding. Kuambil rol kayu yang lumayan berat, dan kuputuskan untuk berdiri di belakang pintu. Tepat saat itu, suaranya menghilang. Ya Allah, lindungi aku.
Kubuka pintu kamarku yang memang tidak kukunci, tepat saat itu, seseorang langsung masuk dan membekap mulutku kuat, aku tidak tinggal diam, kuayunkan tongkatku untuk menghantam ujung kakinya, dan saat dia lengah, aku langsung meraih saklar dan menghidupkan lampu agar aku bisa melihat siapa yang menorobos masuk ke kamarku.
“Hai cantik, maaf aku masuk tanpa izin,” mulutku sedikit terbuka melihat siapa yang ada di hadapanku ini. Juan Kinder, mau apa dia ke sini? Bagaimana caranya masuk ke butik? Atau aku yang lupa mengunci pintu utamanya?
“Aku tahu kamu membenciku, tapi aku tetap tidak suka jika laman instagramku diisi dengan komentar kutukan seperti itu,” suaranya terdengar menyeramkan, aku membekap erat rol di tanganku. Aku terdiam, takut dan merasa menyesal.
Dia berjalan mendekatiku, perlahan senyum di wajahnya menghilang, dia menatapku tajam dan seringai itu mampu membuatku membeku. Aku ingin lari, tapi bergerak aja rasanya kakiku lemas. Sekarang posisinya tepat dihadapanku. Tangannya terangkat mengelus pipiku, terus menjalar hingga leherku, dan seketika dia mencekikku hingga suaraku tidak bisa keluar dari mulutku.
“Aku ingin memotong tanganmu saat membaca komentarmu di laman igku, tapi kuputuskan untuk menghilangkan orang sepertimu, aku yakin ini akan lebih baik, hehehe” nafasku mulai tak teratur, awalnya dia mencekikku perlahan namun semakin lama semakin kuat, rol kayu ditanganku terlepas begitu saja, kini aku berusaha melepas tangannya dari leherku, tapi aku tidak mampu, tenagaku terlalu lemah.
KRIIING!
Suara kerincing dari pintu utama membuat cekikan dari Juan melemah, dan saat itu juga aku mengggit tangannya dan keluar dari kamarku. Aku melihat Lena dan pacarnya yang berdiri di depan pintu yang menatapku bingung, dengan berlari aku langsung memeluk Lena, dan terisak. Lena langsung memelukku, dan setelah itu, aku tidak tahu apa yang terjadir selanjutnya, karena pandanganku berubah gelap.
Kurasakan sesuatu menusuk hidungku, aku mulai membuka mata dan mengerjapkannya beberapa kali hingga pandanganku bersih. Kulihat semua staffku berdiri dengan wajah khawatir, dan Taqin yang duduk di sisiku langsung mencium tanganku lembut. Apa yang terjadi? Kenapa semua berkum… tiba-tiba aku mengingat semua yang terjadi semalam.
“Syukurlah kamu udah sadar, Yu, aku sangat khawatir, kenapa tidak menelponku? Kenapa kamu memilih menginap di butik? Oh Tuhan, aku tidak tahu bagaimana hidupku jika aku harus kehilanganmu,” suara Taqin serak, dia masih menyembunyikan wajahnya dengan menunduk di atas tanganku.
“Iya, mbak, aku fikir semalam, mbak pulang dijemput mas Taqin seperti biasanya, mbak nggak apa-apa, kan? Apa mbak ingat siapa yang membuat mbak seperti ini? Zefran, tidak bisa menangkap pelakunya, saat dia masuk ke kamar mbak, orang itu sudah pergi lewat jendela,” penjelasan Lena membuatku merinding.
“Len, lebih baik jangan di bahas sekarang,” Zefran membuat Lena berhenti bercerita.
Tiba-tiba dua pria berseragam memasuki kamarku tanpa izin, aku tahu mereka pasti melaporkan kejadian ini ke pihak yang berwajib.
“Apa anda sudah bisa_”
“Belum, biarkan dia istirahat beberapa jam lagi,” Taqin memotong perkataan mereka.
“Baiklah, pak, kami harap tidak terlalu lama, karena itu bisa memperlampat proses penyelidikan kami,” mereka pun kembali keluar.
Para staffku memilih ikut keluar dan membiarkanku berdua dengan Taqin. Pria disampingku ini terlihat begitu lelah, aku bisa melihat dasi dan rambutnya sangat berantakan. Dia menyentuh pipiku lembut, matanya menyiratkan bahwa dia kurang tidur, dan ada sisa air mata di sana.
Dia bangun dan mengambil segelas air putih dan membantuku meminumnya, kuhabiskan minuman itu, kemudian Taqin kembali meletakkan gelas di atas nakas dan beralih membawa semangkuk bubur yang kini siap disuapkan padaku. Kuterima suapan demi suapan yang diberikannya padaku.
“Pintar,” dia mengelus kepalaku lembut saat aku menghabiskan semangkuk bubur dan segelas air putih. Jujur, aku memang lapar. Aku terbiasa hidup mandiri sejak kecil, karena begitulah kami di didik dipanti asuhan, ya, aku salah satu anak panti asuhan yang berhasil dengan jerih payahku sendiri.
“Istirahatlah,” Taqin kembali duduk di sisiku dan mengelus punggung tanganku, memberikanku ketenangan dan aku pun mulai memejamkan mataku, tapi saat itu juga kejadian semalam kembali muncul, dengan cepat kubuka kembali mataku dan menggenggam erat tangan Taqin. Bisa kulihat rahang Taqin mengeras karena marah, namun sedetik kemudian, matanya melembut menatapku.
“Aku di sini, jangan takut, dia tidak bisa mendekatimu, aku janji,” ucapan tegas dan lembutnya membuatku kembali mencoba memejamkan mataku.
“Bayangkan saat kita duduk di atas pelamina, bersanding, dan setahun kemudian, kita dianugerahi seorang anak yang tampannya mirip aku banget, tapi aku akan sangat bersyukur bila Tuhan membiarkan matanya mirip denganmu, karena aku sangat menyukai matamu, Yu,” cerita itu membuatku tersenyum, dan mulai membayangkan seorang bayi tampan yang mirip Taqin, dan matanya mirip denganku, aku seperti masuk ke dalam mimpiku yang semakin indah.
***
“Akan kupastikan dia mendekap di penjara, Mi. Kupastikan pula dia mendapatkan balasan yang setimpal karena membuat Yuzelku tidur dalam keadaan ketakutan,” aku baru keluar dari kamar mandi saat mendengar suara Taqin yang penuh kemarahan itu, aku merasa menyesal telah membuatnya sekhawatir itu.
Kulangkahkan kakiku mendekati mereka yang mulai diam, saat aku duduk di sisi Taqin, suasana menjadi hening. Dua pria berseragam tadi pun ikut duduk di hadapanku. Mereka mulai mengeluarkan notes dan pulpen. Taqin menggenggam tanganku lembut, kulihat senyumnya yang mampu membuatku tenang. Aku harus bisa mengatakan yang sebenarnya, aku tidak ingin menutupi apapun.
“Bagaimana kejadian sebenarnya? Bisa anda ceritakan secara rinci?”
Kuceritakan saat Lena mulai pulang dari butikku hingga saat Juan mencekik leherku, aku mulai terdiam, tanganku mulai bergetar, dan Taqin pun merasakannya, dengan masih tersenyum, dia mengelus tanganku, kembali menenangkanku.
“Baiklah, anda pasti bisa melihat wajahnya saat lampu kamar anda hidupkan, apa dia memiliki ciri khas di wajahnya, atau_”
“Pelakunya Juan Kinder,” aku langsung memotong pertanyaan mereka. Suasana semakin hening. Kulihat mereka satu per satu, aku tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran mereka, bahkan aku tidak bisa membaca raut wajah Taqin.
“Mbak, aku tahu mbak tidak suka dengan actor itu, tapi ini bukan waktunya bercanda mbak,” Lena malah tersenyum ringan menanggapi pengakuanku.
“Iya mbak, ini lelucon yang buruk,” kali ini Rin yang bicara.
“Apa kamu tidak mengingat wajahnya dengan pasti, sayang?” bahkan Taqin tidak mempercayaiku.
“Apa anda bisa menjelaskan cirri-cirinya? Tingginya, matanya, rambut dan pakaian yang digunakan sipelaku hari itu,” kali ini aku memilih diam dan hanya menggelengkan kepalaku, aku tidak memperhatikan apa yang digunakannya saat itu, yang aku rasakan hanya ketakutan. Tapi, tunggu, aku ingat parfum yang dipakainya.
“Baiklah kalau begitu, kami akan kembali lagi besok, mungkin ada yang anda ingat setelah hari ini,” aku tahu mereka tida mempercayaiku.
“Dia memakai parfum Black Axe,”
“Itu belum cukup untuk menangkap pelakunya,”
“Aku sudah mengatakan kalau pelakunya itu Juan Kinder,” kuulangi sekali lagi, tapi mereka tak peduli, hingga dua polisi itu keluar dari rumahku.
“Qin, bisa aku bicara empat mata dengannya?” kulihat pria berjaket kulit mendekatiku dan Taqin.
“Baiklah, dia Romi, detektif muda yang genius, mungkin dia ingin bertanya sesuatu padamu, santai aja, ya, jangan takut,” Taqin menjawab pertanyaan Romi dan juga mengenalkan siapa pria itu padaku. Dia mengelus pundakku sebelum meninggalkanku dengan Romi di ruang tamu.
“Aku langsung aja ke pertanyaan yang sedari tadi membuatku penasaran, kenapa kamu bisa menuduh seorang actor menyerangmu? Pasti kamu punya alasan selain karena kebencianmu padanya, dan satu lagi, kenapa dia harus menyerangmu? Apa alasan seorang artis papan atas mencekik lehermu?”
Kulihat Romi yang bertanya dengan sungguh-sungguh, dia percaya padaku, meski masih menyebutku menuduh Juan, tapi sedari tadi tidak ada yang bertanya seperti itu. Sebaliknya, yang lain tidak percaya padaku bahkan mereka memberiku waktu untuk mengingat dengan betul bagaimana kejadian malam itu.
“Yu, hei,” teguran itu membuyarkan lamunanku.
“Aku pernah mengomentari post yang dimuat di laman instagram miliknya, sebentar,” kuraih hp yang ada di atas nakas, kuperlihatkan komentarku yang terlihat jelas di laman instagram milik Juan.
“Dan dia tidak suka dengan komentar milikku, katanya ingin memotong tanganku, tapi dia lebih memilih untuk membunuhku,”kulihat ekspresi terkejut dari wajah Romi. Pria brewokan itu menatap jelas hpku.
“Ini bisa jadi barang bukti, tapi tidak cukup. Kita harus menemukan bukti lebih kuat, apa kamu memiliki cctv?” tanyanya semakin serius.
Aku haya mengangguk. Kemudian dia memintaku menunjukkan ruang komputer yang menyimpan semua rekaman yang direkam oleh cctv. Tapi sebelumnya, kami harus kembali ke butik. Romi memanggil Taqin, dan menceritakan percakapanku dengannya pada Taqin. Bisa kulihat rahang Taqin mengeras, wajahnya memerah.
“Apa kamu sanggup kembali ke butik sekarang?” tanyanya lembut sambil sibuk dengan hpnya.
“Sanggup,” jawabanku membuat Taqin mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian dia berbicara dengan seseorang di hpnya, aku tidak tahu itu siapa, yang aku tangkap dari pembicaraan mereka bahwa aku akan ke butik bersamanya dan Romi.
Tanpa banyak bicara, kami bergerak menuju Butik.
***
 Butikku ditutup oleh garis kuning, menandakan bahwa disini telah terjadi tindak kejahatan. Aku harus menunduk untuk bisa masuk ke dalam, pun dengan yang lainnya. Aku tidak menyangka bahwa kejahatan yang terjadi padaku tidak hanya diberitakan di surat kabar tapi juga di tv. Beberapa artis yang dekat denganku mengatakan bahwa mereka mengkhawatirkan keadaanku, namun kesibukan mereka membuat mereka tidak bisa menjengukku, dan aku bersyukur dengan banyak doa dari mereka agar aku baik-baik saja.
Meski masih ada beberapa polisi dan detektif lainnya di sekitaran butikku, aku hanya bisa melewati mereka dan masuk ke ruang pengawas, dan hanya Gun yang sedang duduk sambil memperhatikan satu per satu monitor di depannya.
Meski dia juga seorang desainer, Gun sangat teliti dan ahli dalam hal seperti ini, dia langsung memproses monitor untuk menampilkan cctv kemarin malam. Romi dan Taqin menatap monitor dengan serius, dan sampailah pada aktu dimana Lena baru saja meninggalkan butik, beberapa menit kemudian, ada seorang lelaki yang masuk ke butik, berpakaian serba hitam dan memakai topi serta masker. Aku yakin itu Juan, karena langkahnya langsung menuju ke kamarku, seakan dia sangat tahu seluk beluk butikku. Kemudian tidak ada lagi rekaman apapun, Taqin dan Romi saling pandang, kemudian keduanya kompak melihatku.
“Tidak ada cctv di kamar,” kulihat wajah kecewa ke dua pria itu. Taqin menghela nafas sambil duduk di samping Gun.
“Bisa kamu memberikan rekaman itu padaku?” Romi memberikan flashdisknya pada Gun, dengan cepat rekaman itu berpindah ke flashdisk.
“Gun, saat kamu melihat rekaman itu, siapa yang terlintas di benakmu?” pertanyaan tiba-tiba Taqin membuatku dan Romi melihat Gun yang masih tenang mengutak-atik keybords.
“Juan Kinder,” jawaban itu membuatku tersenyum, kulihat Romi dan Taqin saling pandang. Kening keduanya berkerut.
“Kenapa kamu bisa menebak Juan?” kulihat Taqin menganggukkan kepalanya setuju dengan pertanyaan Romi.
“Karena aku bertemu dengannya saat ingin kembali ke butik, kulihat dia keluar melalui jendela kamar Yuzel,” Gun menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor, dia tidak tahu bahwa ke dua pria di sisinya sedang memperhatikannya.
“Aku kembali ke butik karena hpku tertinggal, aku dengar Lena juga kembali ke butik dengan alasan yang sama,” kini Gun menatap Taqin dan Romi bergantian.
“Tapi aku tidak memiliki bukti apapun, terlebih cctv di sekitar sini pun sedang rusak,”
Setelah penuturan Gun, tidak ada yang berbicara lagi, hening. Mungkin mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Aku pun ikut diam saja. Taqin mulai mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya, Romi mondar-mandir di depanku sambil bersedekap, dan Gun masih serius dengan papan keybords.
“YES!” hentakan suara Gun membuat Taqin dan Romi juga aku kaget, kami melihatnya yang kembali sibuk. Aku tidak tahu apa yang sedang dikerjakannya, Taqin dan Romi mulai memperhatikan monitor di depan mereka. Aku pun ikut saja, penasaran dengan apa yang mereka perhatikan.
Tiba-tiba di monitor menampakkan rekaman cctv milik Juan yang masuk ke butikku, dan satu lagi video Juan yang sedang berjalan menuju mobilnya sambil memegang ujung topinya, dan gaya itu sama persis dengan pria yang masuk ke butikku yang juga sedang memegang ujung topinya.
“Perhatikan cara keduanya memegang ujung topi, ke dua pria itu hanya menggunakan telunjuk dan jempol, sedangkan tiga jari lainnya bebas, dan tidak semua orang memiliki kebiasaan seperti ini,” penjelasn Gun membuatku semakin tersenyum, kulihat wajah Taqin lega, tapi lain halnya dengan Romi, dia mengerutkan keningnya, matanya masih belum lepas dari monitor, aku tahu dia mendengarkan penjelasan Gun, meski dia tak menanggapinya.
“Satu lagi, di sisi kiri masing-masing topi itu terdapat huruf J, meski sangat kecil, tapi saat diperbesar, kita bisa melihatnya dengan jelas,” kali ini Romi tersenyum. Menepuk bahu Gun dan memberikannya acungan jempol.
“Oke, kita proses Juan besok, kupastikan dia nggak akan bisa mengelak,” Romi tampak yakin dengan kata-katanya. Taqin menatapku tersenyum lembut, aku pun membalas senyumnya.
Romi memanggil anggota timnya untuk berdiskusi, aku masih diruang monitor, bersama Taqin dan Gunawan. Kulihat Gun masih sibuk menggerakkan jemarinya di atas papan keybords.
“Terima kasih, Gun,” kataku lembut, pria berlesung pipi itu hanya mengacungkan jempolnya tanpa menatapku.
Taqin menarikku untuk keluar dari ruangan itu, dia berpamitan pada Gun dan Romi, ingin mengantarku pulang katanya agar aku bisa kembali istirahat. Taqin tak pernah melepaskan genggaman tangannya denganku. Pria yang memiliki gigi gingsul itu tersenyum manis, menampakkan gigi rapinya, iris hitamnya menatapku lembut.
“Untuk sementara, kamu tinggal dirumahku, ya, papa dan mama terus menerus bertanya tentangmu, dan lagi, aku punya kejutan buatmu di sana,” aku hanya mengangguk setuju.
Sepanjang perjalanan, tak ada lagi yang berbicara, karena aku memutuskan untuk tidur, jujur, aku masih takut memejamkan mataku, tapi karena tanganku masih dalam genggamannya, aku merasa aman.
***
“Assalamu’alaikum, ma, pa,” suara Taqin bergema di ruang tamu. Rumahnya cukup besar dan luas, aku masih terpana dengan interior indah dan unik di rumah ini. Padahal ini bukan pertama kalinya aku ke sini, tapi masih saja aku terbius oleh keindahannya.
“Wa’alaikum salam sayang, oh akhirnya mama bisa melihatmu lagi, bagaimana keadaanmu sayang? Apa ada yang luka? Sini-sini duduk dulu,” mama Taqin sudah aku anggap seperti mamaku sendiri, dan beginilah mama, selalu saja khawatir berlebihan. Perempuan yang masih cantik meski sudah berkepala empat itu mengiringku untuk duduk di sofa. Beliau masih memelukku lembut, mengelus lenganku seakan takut melukaiku.
“Satu-satu nanyanya, ma,” itu suara papa yang baru keluar dari ruang kerjanya yang tak jauh dari ruang tamu. Aku tahu seluk beluk rumah ini karena memang aku sering berkunjung, karena mama kerap kali mengundangku untuk sekedar menemaninya atau pun berbelanja bersama. Semuanya bisa terjadi di saat aku tidak memiliki pesanan gaun yang menumpuk.
“Syukurlah kamu baik-baik saja, sayang,” oh Tuhan! Itu suara mama asuhku dip anti, kulihat perempuan berkerudung putih itu mendekatiku. Mama langsung melepaskan pelukannya, aku langsung bangun dari dudukku dan memeluk perempuan tercintaku ini. Bisa kulihat Taqin mengedipkan matanya padaku, aku tahu, inilah kejutannya buatku, kugerakkan mulutku untuk mengatakan terima kasih sayang namun tanpa suara, karena sekarang aku masih memeluk mama asuhku.
Kami duduk bersama di ruang tamu. Menceritakan kronologis kejadian yang kualami, bisa kulihat papa yang menahan marah, sama banget seperti Taqin. Ke dua mamaku itu langsung memelukku lembut, kehangatan yang kurasakan membuatku nyaman. Kutatap Taqin yang menjauh dari kami karena tiba-tiba hpnya berdering. Kuperhatikan gelagatnya yang terkejut kemudian dia mengusap kasar wajahnya sambil memasukkan kembali hp ke saku celananya. Rambut acak-acakannya semakin berantakan saat dia kembali duduk dan meremas rambutnya, sangat terlihat wajahnya yang putus asa. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Kamu kenapa, sayang? Telepon dari siapa?” mama bangun dan duduk di sisi putranya.
“Untuk lebih jelas, kita ke ruang tv saja,”
Kami mengikuti langkah Taqin menuju ruang tv, dia menghidupkannya dan kami duduk untuk melihat apa yang membuat Taqin seputus asa itu.
Berita selanjutnya datang dari artis papan atas TI menegemen, Juan Kinder. Actor tampan itu ditemukan sudah tidak bernyawa di kamarnya saat rekan satu menejement mengunjunginya. Mereka mengatakan, pria itu ditikam dengan tujuh tusukan di perutnya. Meski pelakunya sudah ditangkap, tapi kejadian tragis ini membuat dunia hiburan berduka…
Kepalaku mulai pusing, pandanganku mulai kabur, hingga kegelapan kembali menyelimutiku. Aku sadar saat tubuku dibaringkan di atas sofa, aku tahu mereka tidak membawaku ke kamar, karena kesadaranku masih utuh, hanya saja aku tidak sanggup membuka mataku karena kepalaku ranya seperti berputar.
“Yu, kamu kenapa?” kudengar suara khawatir Taqin.
“Aku hanya merasa kepalaku berputar, dan aku tak sanggup membuka mataku,”
“Telepon dokter Indra, pa, suruh ke sini,”
Hening. Aku hanya merasakan seseorang mengelus kepala dan tanganku, aku merasa nyaman, namun kepalaku pasih pusing. Kuputuskan untuk tidur, lama ku tunggu agar bisa terlelap, tapi nyatanya tidak.
“SHIT!” itu suara Taqin, apa lagi sekarang?
“Kenapa lagi, Qin?” itu suara papa.
“Rerei hamil, pa, dan katanya itu anakku. Aku berani bersumpah demi Allah, pa, aku tidak pernah tidur dengan perempuan mana pun, mama percaya padaku, kan, ma,” oh ya Tuhan, aku tidak siap mendengar ini. Apa Taqin tidak takut aku marah mendengarnya? Atau dia fikir aku sudah tidur.
“Sepertinya si Rerei nggak bisa dibiarkan, ini masalah belum selesai, dia malah memperkeruh keadaan, biar papa yang mengurus perempuan genit itu,” suara papa tegas.
Air mataku keluar dengan sendirinya, aku tidak sanggup menahan ini semua. Kurasakan sebuah tangan menghapus air mataku.
“Aku tidak akan pernah menduakanmu, sayang, aku hanya mencintaimu, kamu satu-satunya,” suara lembut dan serak itu menembus telingaku, apa Taqin ikut menangis?
Suara Taqin terdengar semakin samar-samar hingga menghilang.
***
Silau, itu yang kurasakan saat mataku mulai terbuka lebar. Kulihat sekelilingku, ini kamarku di rumah Taqin. Iya, aku baru ingat kalau aku sedang berada di rumahnya. Berapa lama aku tidak sadarkan diri? Kulihat kalender di dinding kamar, tiga hari?! Oh Tuhan, apa yang terjadi padaku, kulihat selang infuse di tanggan kiriku.
KLIK!
“Syukurlah kamu sudah sadar,” Taqin masuk dengan mapan makanan ditangannya.
Aku hanya mampu tersenyum.
“Apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri, Qin?” pertanyaanku membuat Taqin menyuguhi minuman untuk ku minum, setelah air itu menyegarkan tenggorokanku, aku masih menunggu jawabannya, tapi dia malah menyuapiku bubur. Kami hanya diam, dia tidak menjawabku.
Setelah mangkuk itu bersih, dia dengan telaten memberiku minum dan membersihkan mulutku dengan tisu. Aku masih menatapnya yang kini duduk di sisi tempat tidurku.
“Aku tahu kamu kuat, Yu, tapi, aku mohon sekali ini saja, biarkan dirimu istirahat dulu, aku hanya tidak ingin melihatmu drop seperti ini lagi, kamu tidak tahu betapa khawatirnya kami,” dia menatapku sendu.
“Aku mohon, Qin, ceritakan padaku, aku berhak tahu, aku janji akan kuat,” sungguh aku penasaran dengan apa yang terjadi, aku tidak tenang jika harus tidur tanpa tahu apa yang telah kulewati.
“Oke. Juan Kinder terbukti bersalah karena telah melakukan tindak kejahatan padamu, namun dia pun telah meninggal, dan pelakunya tak lain adalah tukang bersih di apartemennya, alasannya membunuh majikannya itu karena dia tidak tahan Juan tidak pernah memberinya gaji selama tujuh bulan,” Taqin menatapku lembut.
“Meski begitu, TI menejement telah meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan oleh Juan. Mereka tidak menyangka artis mereka bisa bertindak seperti itu,” taqin mengelus punggung tanganku lembut.
“Dan Rerei sudah dikeluarkan secara tidak hormat dari perusahaanku, dia memang keterlaluan dalam mendekatiku, dia tidak pernah mengandung. Saat kutanya kenapa dia bertindak seperti itu, dia hanya ingin aku menjadi milikinya, padahal dia sangat tahu, aku hanya mencintai satu wanita saja,” aku menatapnya tidak suka.
“Sangat disayangkan karena dia teropsesi padaku hingga membuatnya harus keluar dari perusahaanku, kalau boleh jujur, aku tidak ingin dia pergi, karena dia pekerja yang jenius,” aku memalingkan wajahku dari Taqin. Tapi bukannya membujukku, pria itu malah tertawa, aku kembali menatapnya tidak suka.
“Maafkan aku sayang, aku hanya ingin membuatmu tersenyum, tapi sepertinya aku salah,” dia mengelus pipiku lembut.
“Maafkan aku yang akhir-akhir ini terus sibuk, maaf juga karena kemarin aku sempat meninggalkanmu karena telepon dari Rerei, aku tahu kamu sangat penasaran kenapa aku bisa pergi begitu saja setelah telepon darinya, itu karena proyek yang sedang kukerjakan berbuah manis, bangunan itu telah selesai dan lusa menjadi perayaan kesuksesan proyek besar itu,” aku masih menatapnya datar, dia sudah menjahiliku tadi, tidak apa kan, kalau aku membalasnya. Aku hanya tersenyum di dalam hati, dan tentu saja aku bersyukur bahwa Taqin tidak selingkuh.
“Yu, senyum dong, aku kangen banget sama kamu, senyummu, tawamu, please,” begitu mudahnya pria ini membuat senyumku mengembang, padahal aku sudah bertekad untuk membuatnya kesal, tapi ternyata aku kalah.
“Yuzella Natasya, maukah kamu menjadi pendampingku? Menjadi ibu dari anak-anakku dan menjalani hari tua bersama?” apa ini? Apa Taqin sedang melamarku? Kulihat dia menyematkan cincin di jari manisku, cincin itu begitu indah.
“Aku belum menjawabmu, kenapa main langsung pasangin cincin?” tanyaku pura-pura kesal.
“Karena aku tahu, kamu nggak akan bisa menolakku,” jawabnya dengan sangat yakin. Aku hanya tersenyum senang. Dia mencium punggung tanganku.
“Sepertinya kita akan sibuk mengatur pernihakan mereka, Gina,” itu suara mama yang berdiri di ambang pintu kamarku yang masih terbuka.
“Iya, Karin, sepertinya kita harus menyegerakan pernikahan itu,” kali ini mama asuhku menimpalinya sambil tersenyum.
Kedua perempuan itu masuk ke kamarku dan mencium keningku lembut, senyum mereka membuatku semakin membaik.

TAMAT





Tidak ada komentar:

Posting Komentar