Kembali
kuamati instagram artis yang kubenci itu. Mengapa tidak? Bukan hanya satu
perempuan yang menjadi sasaran untuk dipatahkan hatinya, dasar playboy cap
kapak! Aku melihat satu foto yang di uploadnya tiga menit lalu, dia sedang
merangkul seorang cewek dan jelas-jelas itu bukan pacarnya, karena semalam dia
juga baru saja mengupload sebuah gambar mesra bersama pacarnya dengan caption, selamat
ulang tahun sayang. I love you so much, dan sekarang dia dengan cewek lain
dan captionya yang membuatku geram, selamat hari mawar, sayang, aku akan
selalu menyayangimu, berada disisimu, selamanya, karena kamu adalah pilihan
terakhirku.
Bagaimana
bisa seorang artis berganti pacar dalam waktu semalam? Apalagi dia termasuk
actor papan atas milik TI (TimeIn) menejemen. Aku menyukai artis-artis papan
atas dari TI, tapi tidak dengan lelaki satu ini, Juan Kinder. Dengan geram, kuputuskan
untuk mengirim komentar yang sedikit pedas.
Semalam
baru mengucapkan I love you so much pada pacar, tapi sekarang langsung dengan
pilihan yang lain, semoga langgeng dan semoga nanti malam tidak dengan love
yang lainnya lagi.
Sent.
“Hai,
kenapa senyum-senyum sendiri?” suara lembut itu membuatku langsung menutup
laman instagram.
“Lagi
isengin orang jahat,” aku masih tersenyum terlebih melihat pacarku yang
mengerutkan keningnya bingung.
“Siapa?”
biasanya cowok berkaca mata di hadapanku ini memilih cuek saat jawabanku
menbingungkannya, kenapa sekarang dia mulai penasaran.
“Aktor
playboy,” kulihat dirinya hanya menganggukkan kepalanya sambil melepas kaca
mata. Taqin tidak tahu siapa actor yang kumaksud, makanya dia memilih tidak
memperpanjang cerita ini.
“Udah
makan? Aku tadi udah makan di kantor, kamu tau sendiri kan, aku sangat
kelaparan jika lembur, dan aku baru tidur dua jam, aku sangat menyesal karena
lupa member tahumu, aku tidak bisa lama
menemanimu, sebisa mungkin aku harus segera kembali ke kantor,” curhatnya
panjang lebar.
Kutatap
wajahnya yang kelelahan, aku tahu pria ini workaholics, bahkan aku tidak pernah
diizinkan datang ke kantornya, karena kedatanganku akan merusak konsentrasinya
bekerja, begitu melihatku, maka dia dengan senang hati meninggalkan
pekerjaannya demi diriku. Aku menyukainya karena dia sangat perhatian padaku,
bahkan sesibuk apapun, dia akan menyempatkan dirinya untuk menemaniku makan,
seperti saat ini.
“Aku
menunggumu, biar kita bisa makan bareng. Aku tidak tahu kamu sudah makan siang,
dan buru-buru, aku tidak apa-apa jika kamu mau kembali ke kantor, aku bisa
makan sendiri,” kusuguhi senyum termanisku padanya agar dia merasa lega, dan
tidak terbebani olehku.
“Mana
bisa seperti itu, aku akan menemanimu makan, aku bisa mengulur waktuku sedikit,
pesanlah,” dia mulai mengedipkan matanya jahil. Aku tahu Taqin seorang menejer
utama di kantornya, tapi aku juga tahu kantor itu milik papanya yang terkenal
tegas dan disiplin.
“Baiklah,
aku tidak akan bertanggung jawab jika papamu memarahimu, oke,” aku langsung
memesan makanan dan minuman agar kekasihku ini bisa segera kembali ke
kantornya.
“Tenang
sayang, papa tidak akan marah jika alasanku adalah kamu,” dia mengelus pipiku
lembut. Aku merona karena malu dan bahagia. Aku hanya bisa berharap agar pria
tampan ini segera meresmikan hubungan kami ke jenjang lebih serius, aku sudah
terlalu mencintainya.
Aku
tersenyum saat hpnya bergetar, sepintas aku melihat nama Rerei di halaman
Hpnya. Sekertarisnya itu memang kerap kali mengganggu di saat seperti ini.
Kulihat wajah lelah dihadapanku berubah datar. Taqin langsung menolak panggilan
itu.
“Angkatlah,
Qin, sepertinya itu penting,” aku memang cemburu dengan perempuan yang selalu
menemani pria tampanku saat bekerja itu, tapi aku sangat percaya Taqin tidak
akan selingkuh.
“Baiklah,”
saat hpnya kembali berdering dan memang Rerei yang menelponnya, Taqin menjawab
panggilan itu. kulihat wajahnya sedikit tersenyum, apa yang dikatakan Rerei
hingga membuatnya tersenyum semanis itu.
“Baiklah,
letakkan berkas itu diatas mejaku, aku akan kembali sebentar lagi, terima
kasih, Rei,” Taqin mematikan hpnya dan masih tersenyum. Aku menatapnya
penasaran, dan saat tatapan kami bertemu, kulihat dia sedikit terkejut dan
wajahnya kembali terlihat senang. Aku mengerutkan keningku, bingung.
“Sepertinya
aku harus kembali sekarang, sayang, maafkan aku, sampai jumpa besok,” dia
memakai kembali kaca matanya dan mengelus kepalaku pelan sebelum pergi
meninggalkanku yang masih dilanda kebingungan, kenapa Taqin begitu mudah
meninggalkanku hanya karena telepon dari Rerei? Oh ayolah Yuzel, kamu tidak
boleh curiga.
“Silahkan
dinikmati,” suara pelayan membuatku memilih untuk melupakan kebingunganku dan
makan dengan tenang, semoga bisa.
***
Kuputuskan
untuk menghilangkan rasa penasaranku. Aku bisa menunggu hingga Taqin cerita apa
yang dikatakan Rei, tapi rasa ingin tahu ini lebih besar hingga aku tidak bisa
menunggu. Kumantapkan langkahku untuk masuk ke kantor Taqin. Resepsionis
menyapaku dengan ramah, kukatakan bahwa aku ingin bertemu Taqin, aku semakin
penasaran saat perempuan dengan name tag Hinanti itu mengatakan bahwa Taqin
baru saja keluar dengan sekertarisnya.
“Apa
mungkin mereka pergi karena kerjaan?” lirihku tapi mampu didengar oleh
resepsionis cantik didepanku ini. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu.
Dengan
kesal aku keluar dari gedung itu. Kuputuskan untuk kembali ke butikku. Aku
memang mendirikan sebuah butik yang tidak jauh dari kantor Taqin. Dengan jalan
kaki kulalui setiap gedung tinggi disekitar. Langkahku seketika terhenti saat
melihat sosok yang tak jauh dariku, lelaki dan perempuan yang masuk ke butikku,
kupercepat langkahku untuk sampai ke butik.
Saat
aku masuk ke butikku, lelaki itu menatapku datar, Lena yang berdiri di sisi
kirinya mendekatiku dan mengatakan bahwa mereka ingin melihat gaun pengantin di
butikku. Tak heran jika mereka memilih ke sini, karena memang kebanyakan artis
memilih gaunnya di sini. Bukannya sombong, tapi kualitas gaun yang kudesain dan
bahannya membuat nama butikku cukup terkenal di kalangan para artis dan model.
“Aku
suka yang desainnya seperti ini, tapi aku mau bahannya dingin, karena sekarang
lagi musim panas, aku tidak suka berkeringat,” seorang wanita cantik
menunjukkan sebuah gaun pengantin yang memang sudah dipajang di manekin, tapi
kuakui bahan gaun itu cukup panas dicuaca seperti ini.
“Baiklah,
kami akan menyiapkannya, apa hanya itu permintaannya? Dan kapan mau diambil?”
wanita yang kutanyai menatap lelaki yang masih duduk di sofa.
“Simple
tapi elegant, dan kami akan kembali dua hari lagi,” aktor satu itu
mengatakannya dengan senyum manis sambil menatapku. Sepertinya aku mulai bisa
menebak, bagaimana seorang Juan Kinder ini menjerat berbagai wanita
dipelukannya.
“Baiklah,
sampai ketemu dua hari kemudian,” kataku sambil membukakan pintu bagi mereka.
Sang perempuan menggandeng mesra lengan actor itu sambil berkata, “setelah ini
kita pilih cincin pernikahan kita, ya sayang,” dan actor itu hanya
menganggukkan kepalanya.
Setelah
mereka keluar dari butikku, aku menghela nafas. Belum tuntas kesalku karena
Taqin yang memilih keluar dengan sekertarisnya dari pada menemaniku makan, kini
aku semakin kesal karena actor yang baru keluar dari butikku adalah actor yang
tadi siang kukomentari kolom instagramnya. Oh Tuhan, aku tidak pernah
kedatangan artis yang kubenci.
Kebanyakan
dari pelangganku adalah artis yang menyenangkan dan baik, bahkan sebagian dari
mereka menjadi temanku di media sosial hingga kami juga sering berkumpul jika
ada perkumpulan. Baik artis atau actor langganan butikku ini menjadikanku teman
mereka. Apa Juan dan pacarnya itu juga akan beramah tamah denganku? Ayolah
Yuzel, apa yang kamu pikirkan? Sekarang waktunya bekerja. Fokus, Yu!
“Mbak,
itu bukannya actor playboy, yang mbak benci itu kan? Terus apa dia mau menikah?
Wah, akhirnya dia taubat juga mbak,” Lena mendekatiku dan langsung mengatakan
pendapatnya.
“Ya
semoga aja benar mau taubat, karena kalau tidak, aku sebagai perempuan mungkin
akan mengutuknya lebih parah lagi,” candaku sambil berjalan menuju ruangan khusus
milikku yang ada di lantai dua. Ruangan tempatku menghasilkan karya yang cukup
luar biasa.
“Mbak,
apa mbak nggak ingin menjahili actor itu? Tidak hanya dengan mengomentari kolom
instagramnya, tapi dengan lebih nyata,” tiba-tiba Gun masuk dengan gunting
ditangannya.
“Gun,
dia udah mau nikah, udah taubat,” Lena mengambil alih gunting yang dipegang Gun
dan meletakkannya di atas meja. Gun mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum
memilih untuk memasangkan beberapa kain ke manekin sesuai dengan desain, dan
itu pekerjaan yang belum diselesaikannya sejak tiga jam yang lalu.
“Baiklah,
karena ada beberapa pesanan yang belum kelar sedangkan waktunya mepet,
sepertinya kita harus lembur,” kukatakan dengan suara sedikit keras, karena ada
Salsa dan Rin yang juga sedang mengerjakan tugas mereka seperti Gun, mereka
hanya mengangguk dan kami pun kembali bergelut dengan kain dan pentol, sebelum
akhirnya menyempuarnakannya dengan mesin jahit.
***
Mataku
mulai lelah, kulihat Lena sedang bersiap untuk pulang bersama pacarnya yang
sudah menunggunya di depan. Sedangkan Salsa, Gun dan Rin sudah pulang limat
menit yang lalu, aku ingin pulang, tapi sepertinya aku harus menyelesaikan gaun
ini sekarang, karena besok sabtu, aku dan Taqin janji untuk beristirahat
sejenak ke pantai.
“Mbak,
aku duluan, ya,” Lena melambaikan tangannya sebelum akhirnya menghilang si
balik pintu ruanganku, dan aku masih fokus dengan pekerjaanku sambil menjawab
kata-kata Lena, “Ya, hati-hati di jalan,”.
Aku
terus fokus untuk menyelesaikan desain gaun pengantin milik sepupuku yang akan
menikah minggu depan, karena Senin dia akan berkunjung untuk melihat hasil
gaunnya, dan aku tidak ingin mengecewakannya. Kulirik jam dinding ruanganku,
jam 03.00 pagi, wah, sepertinya aku terlalu fokus.
Kuselesaikan
ukiran di sisi gaun dan akhirnya sempurna. Kulihat hasil karyaku dengan puas,
aku hanya bisa tersenyum, sebelum akhirnya kututup buku itu dan mulai mematikan
lampu ruanganku dan menguci pintu ruangan itu. Kuturuni tangga yang lumayan banyak,
sepertinya aku sangat lelah, kuputuskan untuk menginap di butik. Setelah
memastikan pintu utama dan jendela terkunci, aku pun masuk ke kamarku yang ada
di sudut ruangan lantai satu.
Setelah
shalat isya, dan siap tidur, aku seperti mendengar langkah kaki mendekati
kamarku, semakin lama suaranya semakin kuat, aku mulai merinding. Kuambil rol
kayu yang lumayan berat, dan kuputuskan untuk berdiri di belakang pintu. Tepat
saat itu, suaranya menghilang. Ya Allah, lindungi aku.
Kubuka
pintu kamarku yang memang tidak kukunci, tepat saat itu, seseorang langsung
masuk dan membekap mulutku kuat, aku tidak tinggal diam, kuayunkan tongkatku
untuk menghantam ujung kakinya, dan saat dia lengah, aku langsung meraih saklar
dan menghidupkan lampu agar aku bisa melihat siapa yang menorobos masuk ke kamarku.
“Hai
cantik, maaf aku masuk tanpa izin,” mulutku sedikit terbuka melihat siapa yang
ada di hadapanku ini. Juan Kinder, mau apa dia ke sini? Bagaimana caranya masuk
ke butik? Atau aku yang lupa mengunci pintu utamanya?
“Aku
tahu kamu membenciku, tapi aku tetap tidak suka jika laman instagramku diisi
dengan komentar kutukan seperti itu,” suaranya terdengar menyeramkan, aku
membekap erat rol di tanganku. Aku terdiam, takut dan merasa menyesal.
Dia
berjalan mendekatiku, perlahan senyum di wajahnya menghilang, dia menatapku
tajam dan seringai itu mampu membuatku membeku. Aku ingin lari, tapi bergerak
aja rasanya kakiku lemas. Sekarang posisinya tepat dihadapanku. Tangannya
terangkat mengelus pipiku, terus menjalar hingga leherku, dan seketika dia
mencekikku hingga suaraku tidak bisa keluar dari mulutku.
“Aku
ingin memotong tanganmu saat membaca komentarmu di laman igku, tapi kuputuskan
untuk menghilangkan orang sepertimu, aku yakin ini akan lebih baik, hehehe”
nafasku mulai tak teratur, awalnya dia mencekikku perlahan namun semakin lama
semakin kuat, rol kayu ditanganku terlepas begitu saja, kini aku berusaha
melepas tangannya dari leherku, tapi aku tidak mampu, tenagaku terlalu lemah.
KRIIING!
Suara
kerincing dari pintu utama membuat cekikan dari Juan melemah, dan saat itu juga
aku mengggit tangannya dan keluar dari kamarku. Aku melihat Lena dan pacarnya
yang berdiri di depan pintu yang menatapku bingung, dengan berlari aku langsung
memeluk Lena, dan terisak. Lena langsung memelukku, dan setelah itu, aku tidak
tahu apa yang terjadir selanjutnya, karena pandanganku berubah gelap.
Kurasakan
sesuatu menusuk hidungku, aku mulai membuka mata dan mengerjapkannya beberapa
kali hingga pandanganku bersih. Kulihat semua staffku berdiri dengan wajah
khawatir, dan Taqin yang duduk di sisiku langsung mencium tanganku lembut. Apa
yang terjadi? Kenapa semua berkum… tiba-tiba aku mengingat semua yang terjadi
semalam.
“Syukurlah
kamu udah sadar, Yu, aku sangat khawatir, kenapa tidak menelponku? Kenapa kamu
memilih menginap di butik? Oh Tuhan, aku tidak tahu bagaimana hidupku jika aku
harus kehilanganmu,” suara Taqin serak, dia masih menyembunyikan wajahnya
dengan menunduk di atas tanganku.
“Iya,
mbak, aku fikir semalam, mbak pulang dijemput mas Taqin seperti biasanya, mbak
nggak apa-apa, kan? Apa mbak ingat siapa yang membuat mbak seperti ini? Zefran,
tidak bisa menangkap pelakunya, saat dia masuk ke kamar mbak, orang itu sudah
pergi lewat jendela,” penjelasan Lena membuatku merinding.
“Len,
lebih baik jangan di bahas sekarang,” Zefran membuat Lena berhenti bercerita.
Tiba-tiba
dua pria berseragam memasuki kamarku tanpa izin, aku tahu mereka pasti
melaporkan kejadian ini ke pihak yang berwajib.
“Apa
anda sudah bisa_”
“Belum,
biarkan dia istirahat beberapa jam lagi,” Taqin memotong perkataan mereka.
“Baiklah,
pak, kami harap tidak terlalu lama, karena itu bisa memperlampat proses
penyelidikan kami,” mereka pun kembali keluar.
Para
staffku memilih ikut keluar dan membiarkanku berdua dengan Taqin. Pria
disampingku ini terlihat begitu lelah, aku bisa melihat dasi dan rambutnya
sangat berantakan. Dia menyentuh pipiku lembut, matanya menyiratkan bahwa dia
kurang tidur, dan ada sisa air mata di sana.
Dia
bangun dan mengambil segelas air putih dan membantuku meminumnya, kuhabiskan
minuman itu, kemudian Taqin kembali meletakkan gelas di atas nakas dan beralih
membawa semangkuk bubur yang kini siap disuapkan padaku. Kuterima suapan demi
suapan yang diberikannya padaku.
“Pintar,”
dia mengelus kepalaku lembut saat aku menghabiskan semangkuk bubur dan segelas
air putih. Jujur, aku memang lapar. Aku terbiasa hidup mandiri sejak kecil, karena
begitulah kami di didik dipanti asuhan, ya, aku salah satu anak panti asuhan
yang berhasil dengan jerih payahku sendiri.
“Istirahatlah,”
Taqin kembali duduk di sisiku dan mengelus punggung tanganku, memberikanku
ketenangan dan aku pun mulai memejamkan mataku, tapi saat itu juga kejadian
semalam kembali muncul, dengan cepat kubuka kembali mataku dan menggenggam erat
tangan Taqin. Bisa kulihat rahang Taqin mengeras karena marah, namun sedetik
kemudian, matanya melembut menatapku.
“Aku
di sini, jangan takut, dia tidak bisa mendekatimu, aku janji,” ucapan tegas dan
lembutnya membuatku kembali mencoba memejamkan mataku.
“Bayangkan
saat kita duduk di atas pelamina, bersanding, dan setahun kemudian, kita
dianugerahi seorang anak yang tampannya mirip aku banget, tapi aku akan sangat
bersyukur bila Tuhan membiarkan matanya mirip denganmu, karena aku sangat
menyukai matamu, Yu,” cerita itu membuatku tersenyum, dan mulai membayangkan
seorang bayi tampan yang mirip Taqin, dan matanya mirip denganku, aku seperti
masuk ke dalam mimpiku yang semakin indah.
***
“Akan
kupastikan dia mendekap di penjara, Mi. Kupastikan pula dia mendapatkan balasan
yang setimpal karena membuat Yuzelku tidur dalam keadaan ketakutan,” aku baru
keluar dari kamar mandi saat mendengar suara Taqin yang penuh kemarahan itu, aku
merasa menyesal telah membuatnya sekhawatir itu.
Kulangkahkan
kakiku mendekati mereka yang mulai diam, saat aku duduk di sisi Taqin, suasana
menjadi hening. Dua pria berseragam tadi pun ikut duduk di hadapanku. Mereka
mulai mengeluarkan notes dan pulpen. Taqin menggenggam tanganku lembut, kulihat
senyumnya yang mampu membuatku tenang. Aku harus bisa mengatakan yang
sebenarnya, aku tidak ingin menutupi apapun.
“Bagaimana
kejadian sebenarnya? Bisa anda ceritakan secara rinci?”
Kuceritakan
saat Lena mulai pulang dari butikku hingga saat Juan mencekik leherku, aku
mulai terdiam, tanganku mulai bergetar, dan Taqin pun merasakannya, dengan
masih tersenyum, dia mengelus tanganku, kembali menenangkanku.
“Baiklah,
anda pasti bisa melihat wajahnya saat lampu kamar anda hidupkan, apa dia
memiliki ciri khas di wajahnya, atau_”
“Pelakunya
Juan Kinder,” aku langsung memotong pertanyaan mereka. Suasana semakin hening.
Kulihat mereka satu per satu, aku tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran
mereka, bahkan aku tidak bisa membaca raut wajah Taqin.
“Mbak,
aku tahu mbak tidak suka dengan actor itu, tapi ini bukan waktunya bercanda
mbak,” Lena malah tersenyum ringan menanggapi pengakuanku.
“Iya
mbak, ini lelucon yang buruk,” kali ini Rin yang bicara.
“Apa
kamu tidak mengingat wajahnya dengan pasti, sayang?” bahkan Taqin tidak
mempercayaiku.
“Apa
anda bisa menjelaskan cirri-cirinya? Tingginya, matanya, rambut dan pakaian
yang digunakan sipelaku hari itu,” kali ini aku memilih diam dan hanya
menggelengkan kepalaku, aku tidak memperhatikan apa yang digunakannya saat itu,
yang aku rasakan hanya ketakutan. Tapi, tunggu, aku ingat parfum yang
dipakainya.
“Baiklah
kalau begitu, kami akan kembali lagi besok, mungkin ada yang anda ingat setelah
hari ini,” aku tahu mereka tida mempercayaiku.
“Dia
memakai parfum Black Axe,”
“Itu
belum cukup untuk menangkap pelakunya,”
“Aku
sudah mengatakan kalau pelakunya itu Juan Kinder,” kuulangi sekali lagi, tapi
mereka tak peduli, hingga dua polisi itu keluar dari rumahku.
“Qin,
bisa aku bicara empat mata dengannya?” kulihat pria berjaket kulit mendekatiku
dan Taqin.
“Baiklah,
dia Romi, detektif muda yang genius, mungkin dia ingin bertanya sesuatu padamu,
santai aja, ya, jangan takut,” Taqin menjawab pertanyaan Romi dan juga
mengenalkan siapa pria itu padaku. Dia mengelus pundakku sebelum meninggalkanku
dengan Romi di ruang tamu.
“Aku
langsung aja ke pertanyaan yang sedari tadi membuatku penasaran, kenapa kamu
bisa menuduh seorang actor menyerangmu? Pasti kamu punya alasan selain karena
kebencianmu padanya, dan satu lagi, kenapa dia harus menyerangmu? Apa alasan
seorang artis papan atas mencekik lehermu?”
Kulihat
Romi yang bertanya dengan sungguh-sungguh, dia percaya padaku, meski masih
menyebutku menuduh Juan, tapi sedari tadi tidak ada yang bertanya seperti itu.
Sebaliknya, yang lain tidak percaya padaku bahkan mereka memberiku waktu untuk
mengingat dengan betul bagaimana kejadian malam itu.
“Yu,
hei,” teguran itu membuyarkan lamunanku.
“Aku
pernah mengomentari post yang dimuat di laman instagram miliknya, sebentar,”
kuraih hp yang ada di atas nakas, kuperlihatkan komentarku yang terlihat jelas
di laman instagram milik Juan.
“Dan
dia tidak suka dengan komentar milikku, katanya ingin memotong tanganku, tapi
dia lebih memilih untuk membunuhku,”kulihat ekspresi terkejut dari wajah Romi.
Pria brewokan itu menatap jelas hpku.
“Ini
bisa jadi barang bukti, tapi tidak cukup. Kita harus menemukan bukti lebih
kuat, apa kamu memiliki cctv?” tanyanya semakin serius.
Aku
haya mengangguk. Kemudian dia memintaku menunjukkan ruang komputer yang
menyimpan semua rekaman yang direkam oleh cctv. Tapi sebelumnya, kami harus
kembali ke butik. Romi memanggil Taqin, dan menceritakan percakapanku dengannya
pada Taqin. Bisa kulihat rahang Taqin mengeras, wajahnya memerah.
“Apa
kamu sanggup kembali ke butik sekarang?” tanyanya lembut sambil sibuk dengan
hpnya.
“Sanggup,”
jawabanku membuat Taqin mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian dia berbicara
dengan seseorang di hpnya, aku tidak tahu itu siapa, yang aku tangkap dari
pembicaraan mereka bahwa aku akan ke butik bersamanya dan Romi.
Tanpa
banyak bicara, kami bergerak menuju Butik.
***
Butikku ditutup oleh garis kuning, menandakan
bahwa disini telah terjadi tindak kejahatan. Aku harus menunduk untuk bisa
masuk ke dalam, pun dengan yang lainnya. Aku tidak menyangka bahwa kejahatan
yang terjadi padaku tidak hanya diberitakan di surat kabar tapi juga di tv.
Beberapa artis yang dekat denganku mengatakan bahwa mereka mengkhawatirkan
keadaanku, namun kesibukan mereka membuat mereka tidak bisa menjengukku, dan
aku bersyukur dengan banyak doa dari mereka agar aku baik-baik saja.
Meski
masih ada beberapa polisi dan detektif lainnya di sekitaran butikku, aku hanya
bisa melewati mereka dan masuk ke ruang pengawas, dan hanya Gun yang sedang
duduk sambil memperhatikan satu per satu monitor di depannya.
Meski
dia juga seorang desainer, Gun sangat teliti dan ahli dalam hal seperti ini, dia
langsung memproses monitor untuk menampilkan cctv kemarin malam. Romi dan Taqin
menatap monitor dengan serius, dan sampailah pada aktu dimana Lena baru saja
meninggalkan butik, beberapa menit kemudian, ada seorang lelaki yang masuk ke
butik, berpakaian serba hitam dan memakai topi serta masker. Aku yakin itu
Juan, karena langkahnya langsung menuju ke kamarku, seakan dia sangat tahu
seluk beluk butikku. Kemudian tidak ada lagi rekaman apapun, Taqin dan Romi
saling pandang, kemudian keduanya kompak melihatku.
“Tidak
ada cctv di kamar,” kulihat wajah kecewa ke dua pria itu. Taqin menghela nafas
sambil duduk di samping Gun.
“Bisa
kamu memberikan rekaman itu padaku?” Romi memberikan flashdisknya pada Gun,
dengan cepat rekaman itu berpindah ke flashdisk.
“Gun,
saat kamu melihat rekaman itu, siapa yang terlintas di benakmu?” pertanyaan
tiba-tiba Taqin membuatku dan Romi melihat Gun yang masih tenang mengutak-atik
keybords.
“Juan
Kinder,” jawaban itu membuatku tersenyum, kulihat Romi dan Taqin saling
pandang. Kening keduanya berkerut.
“Kenapa
kamu bisa menebak Juan?” kulihat Taqin menganggukkan kepalanya setuju dengan
pertanyaan Romi.
“Karena
aku bertemu dengannya saat ingin kembali ke butik, kulihat dia keluar melalui
jendela kamar Yuzel,” Gun menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor,
dia tidak tahu bahwa ke dua pria di sisinya sedang memperhatikannya.
“Aku
kembali ke butik karena hpku tertinggal, aku dengar Lena juga kembali ke butik
dengan alasan yang sama,” kini Gun menatap Taqin dan Romi bergantian.
“Tapi
aku tidak memiliki bukti apapun, terlebih cctv di sekitar sini pun sedang
rusak,”
Setelah
penuturan Gun, tidak ada yang berbicara lagi, hening. Mungkin mereka sibuk
dengan pemikiran mereka masing-masing. Aku pun ikut diam saja. Taqin mulai
mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya, Romi mondar-mandir di depanku sambil
bersedekap, dan Gun masih serius dengan papan keybords.
“YES!”
hentakan suara Gun membuat Taqin dan Romi juga aku kaget, kami melihatnya yang
kembali sibuk. Aku tidak tahu apa yang sedang dikerjakannya, Taqin dan Romi
mulai memperhatikan monitor di depan mereka. Aku pun ikut saja, penasaran
dengan apa yang mereka perhatikan.
Tiba-tiba
di monitor menampakkan rekaman cctv milik Juan yang masuk ke butikku, dan satu
lagi video Juan yang sedang berjalan menuju mobilnya sambil memegang ujung
topinya, dan gaya itu sama persis dengan pria yang masuk ke butikku yang juga
sedang memegang ujung topinya.
“Perhatikan
cara keduanya memegang ujung topi, ke dua pria itu hanya menggunakan telunjuk
dan jempol, sedangkan tiga jari lainnya bebas, dan tidak semua orang memiliki
kebiasaan seperti ini,” penjelasn Gun membuatku semakin tersenyum, kulihat
wajah Taqin lega, tapi lain halnya dengan Romi, dia mengerutkan keningnya,
matanya masih belum lepas dari monitor, aku tahu dia mendengarkan penjelasan
Gun, meski dia tak menanggapinya.
“Satu
lagi, di sisi kiri masing-masing topi itu terdapat huruf J, meski sangat kecil,
tapi saat diperbesar, kita bisa melihatnya dengan jelas,” kali ini Romi
tersenyum. Menepuk bahu Gun dan memberikannya acungan jempol.
“Oke,
kita proses Juan besok, kupastikan dia nggak akan bisa mengelak,” Romi tampak
yakin dengan kata-katanya. Taqin menatapku tersenyum lembut, aku pun membalas
senyumnya.
Romi
memanggil anggota timnya untuk berdiskusi, aku masih diruang monitor, bersama
Taqin dan Gunawan. Kulihat Gun masih sibuk menggerakkan jemarinya di atas papan
keybords.
“Terima
kasih, Gun,” kataku lembut, pria berlesung pipi itu hanya mengacungkan
jempolnya tanpa menatapku.
Taqin
menarikku untuk keluar dari ruangan itu, dia berpamitan pada Gun dan Romi,
ingin mengantarku pulang katanya agar aku bisa kembali istirahat. Taqin tak
pernah melepaskan genggaman tangannya denganku. Pria yang memiliki gigi gingsul
itu tersenyum manis, menampakkan gigi rapinya, iris hitamnya menatapku lembut.
“Untuk
sementara, kamu tinggal dirumahku, ya, papa dan mama terus menerus bertanya
tentangmu, dan lagi, aku punya kejutan buatmu di sana,” aku hanya mengangguk
setuju.
Sepanjang
perjalanan, tak ada lagi yang berbicara, karena aku memutuskan untuk tidur,
jujur, aku masih takut memejamkan mataku, tapi karena tanganku masih dalam
genggamannya, aku merasa aman.
***
“Assalamu’alaikum,
ma, pa,” suara Taqin bergema di ruang tamu. Rumahnya cukup besar dan luas, aku
masih terpana dengan interior indah dan unik di rumah ini. Padahal ini bukan
pertama kalinya aku ke sini, tapi masih saja aku terbius oleh keindahannya.
“Wa’alaikum
salam sayang, oh akhirnya mama bisa melihatmu lagi, bagaimana keadaanmu sayang?
Apa ada yang luka? Sini-sini duduk dulu,” mama Taqin sudah aku anggap seperti
mamaku sendiri, dan beginilah mama, selalu saja khawatir berlebihan. Perempuan
yang masih cantik meski sudah berkepala empat itu mengiringku untuk duduk di
sofa. Beliau masih memelukku lembut, mengelus lenganku seakan takut melukaiku.
“Satu-satu
nanyanya, ma,” itu suara papa yang baru keluar dari ruang kerjanya yang tak
jauh dari ruang tamu. Aku tahu seluk beluk rumah ini karena memang aku sering
berkunjung, karena mama kerap kali mengundangku untuk sekedar menemaninya atau
pun berbelanja bersama. Semuanya bisa terjadi di saat aku tidak memiliki
pesanan gaun yang menumpuk.
“Syukurlah
kamu baik-baik saja, sayang,” oh Tuhan! Itu suara mama asuhku dip anti, kulihat
perempuan berkerudung putih itu mendekatiku. Mama langsung melepaskan
pelukannya, aku langsung bangun dari dudukku dan memeluk perempuan tercintaku
ini. Bisa kulihat Taqin mengedipkan matanya padaku, aku tahu, inilah kejutannya
buatku, kugerakkan mulutku untuk mengatakan terima kasih sayang namun tanpa
suara, karena sekarang aku masih memeluk mama asuhku.
Kami
duduk bersama di ruang tamu. Menceritakan kronologis kejadian yang kualami,
bisa kulihat papa yang menahan marah, sama banget seperti Taqin. Ke dua mamaku
itu langsung memelukku lembut, kehangatan yang kurasakan membuatku nyaman.
Kutatap Taqin yang menjauh dari kami karena tiba-tiba hpnya berdering.
Kuperhatikan gelagatnya yang terkejut kemudian dia mengusap kasar wajahnya
sambil memasukkan kembali hp ke saku celananya. Rambut acak-acakannya semakin
berantakan saat dia kembali duduk dan meremas rambutnya, sangat terlihat
wajahnya yang putus asa. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Kamu
kenapa, sayang? Telepon dari siapa?” mama bangun dan duduk di sisi putranya.
“Untuk
lebih jelas, kita ke ruang tv saja,”
Kami
mengikuti langkah Taqin menuju ruang tv, dia menghidupkannya dan kami duduk
untuk melihat apa yang membuat Taqin seputus asa itu.
Berita
selanjutnya datang dari artis papan atas TI menegemen, Juan Kinder. Actor
tampan itu ditemukan sudah tidak bernyawa di kamarnya saat rekan satu
menejement mengunjunginya. Mereka mengatakan, pria itu ditikam dengan tujuh
tusukan di perutnya. Meski pelakunya sudah ditangkap, tapi kejadian tragis ini
membuat dunia hiburan berduka…
Kepalaku
mulai pusing, pandanganku mulai kabur, hingga kegelapan kembali menyelimutiku.
Aku sadar saat tubuku dibaringkan di atas sofa, aku tahu mereka tidak membawaku
ke kamar, karena kesadaranku masih utuh, hanya saja aku tidak sanggup membuka
mataku karena kepalaku ranya seperti berputar.
“Yu,
kamu kenapa?” kudengar suara khawatir Taqin.
“Aku
hanya merasa kepalaku berputar, dan aku tak sanggup membuka mataku,”
“Telepon
dokter Indra, pa, suruh ke sini,”
Hening.
Aku hanya merasakan seseorang mengelus kepala dan tanganku, aku merasa nyaman,
namun kepalaku pasih pusing. Kuputuskan untuk tidur, lama ku tunggu agar bisa
terlelap, tapi nyatanya tidak.
“SHIT!”
itu suara Taqin, apa lagi sekarang?
“Kenapa
lagi, Qin?” itu suara papa.
“Rerei
hamil, pa, dan katanya itu anakku. Aku berani bersumpah demi Allah, pa, aku
tidak pernah tidur dengan perempuan mana pun, mama percaya padaku, kan, ma,” oh
ya Tuhan, aku tidak siap mendengar ini. Apa Taqin tidak takut aku marah
mendengarnya? Atau dia fikir aku sudah tidur.
“Sepertinya
si Rerei nggak bisa dibiarkan, ini masalah belum selesai, dia malah memperkeruh
keadaan, biar papa yang mengurus perempuan genit itu,” suara papa tegas.
Air
mataku keluar dengan sendirinya, aku tidak sanggup menahan ini semua. Kurasakan
sebuah tangan menghapus air mataku.
“Aku
tidak akan pernah menduakanmu, sayang, aku hanya mencintaimu, kamu
satu-satunya,” suara lembut dan serak itu menembus telingaku, apa Taqin ikut
menangis?
Suara
Taqin terdengar semakin samar-samar hingga menghilang.
***
Silau,
itu yang kurasakan saat mataku mulai terbuka lebar. Kulihat sekelilingku, ini
kamarku di rumah Taqin. Iya, aku baru ingat kalau aku sedang berada di
rumahnya. Berapa lama aku tidak sadarkan diri? Kulihat kalender di dinding
kamar, tiga hari?! Oh Tuhan, apa yang terjadi padaku, kulihat selang infuse di
tanggan kiriku.
KLIK!
“Syukurlah
kamu sudah sadar,” Taqin masuk dengan mapan makanan ditangannya.
Aku
hanya mampu tersenyum.
“Apa
yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri, Qin?” pertanyaanku membuat Taqin
menyuguhi minuman untuk ku minum, setelah air itu menyegarkan tenggorokanku,
aku masih menunggu jawabannya, tapi dia malah menyuapiku bubur. Kami hanya
diam, dia tidak menjawabku.
Setelah
mangkuk itu bersih, dia dengan telaten memberiku minum dan membersihkan mulutku
dengan tisu. Aku masih menatapnya yang kini duduk di sisi tempat tidurku.
“Aku
tahu kamu kuat, Yu, tapi, aku mohon sekali ini saja, biarkan dirimu istirahat
dulu, aku hanya tidak ingin melihatmu drop seperti ini lagi, kamu tidak tahu
betapa khawatirnya kami,” dia menatapku sendu.
“Aku
mohon, Qin, ceritakan padaku, aku berhak tahu, aku janji akan kuat,” sungguh
aku penasaran dengan apa yang terjadi, aku tidak tenang jika harus tidur tanpa
tahu apa yang telah kulewati.
“Oke.
Juan Kinder terbukti bersalah karena telah melakukan tindak kejahatan padamu,
namun dia pun telah meninggal, dan pelakunya tak lain adalah tukang bersih di
apartemennya, alasannya membunuh majikannya itu karena dia tidak tahan Juan
tidak pernah memberinya gaji selama tujuh bulan,” Taqin menatapku lembut.
“Meski
begitu, TI menejement telah meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan
oleh Juan. Mereka tidak menyangka artis mereka bisa bertindak seperti itu,” taqin
mengelus punggung tanganku lembut.
“Dan
Rerei sudah dikeluarkan secara tidak hormat dari perusahaanku, dia memang
keterlaluan dalam mendekatiku, dia tidak pernah mengandung. Saat kutanya kenapa
dia bertindak seperti itu, dia hanya ingin aku menjadi milikinya, padahal dia
sangat tahu, aku hanya mencintai satu wanita saja,” aku menatapnya tidak suka.
“Sangat
disayangkan karena dia teropsesi padaku hingga membuatnya harus keluar dari
perusahaanku, kalau boleh jujur, aku tidak ingin dia pergi, karena dia pekerja
yang jenius,” aku memalingkan wajahku dari Taqin. Tapi bukannya membujukku,
pria itu malah tertawa, aku kembali menatapnya tidak suka.
“Maafkan
aku sayang, aku hanya ingin membuatmu tersenyum, tapi sepertinya aku salah,”
dia mengelus pipiku lembut.
“Maafkan
aku yang akhir-akhir ini terus sibuk, maaf juga karena kemarin aku sempat
meninggalkanmu karena telepon dari Rerei, aku tahu kamu sangat penasaran kenapa
aku bisa pergi begitu saja setelah telepon darinya, itu karena proyek yang
sedang kukerjakan berbuah manis, bangunan itu telah selesai dan lusa menjadi
perayaan kesuksesan proyek besar itu,” aku masih menatapnya datar, dia sudah
menjahiliku tadi, tidak apa kan, kalau aku membalasnya. Aku hanya tersenyum di
dalam hati, dan tentu saja aku bersyukur bahwa Taqin tidak selingkuh.
“Yu,
senyum dong, aku kangen banget sama kamu, senyummu, tawamu, please,” begitu
mudahnya pria ini membuat senyumku mengembang, padahal aku sudah bertekad untuk
membuatnya kesal, tapi ternyata aku kalah.
“Yuzella
Natasya, maukah kamu menjadi pendampingku? Menjadi ibu dari anak-anakku dan
menjalani hari tua bersama?” apa ini? Apa Taqin sedang melamarku? Kulihat dia
menyematkan cincin di jari manisku, cincin itu begitu indah.
“Aku
belum menjawabmu, kenapa main langsung pasangin cincin?” tanyaku pura-pura
kesal.
“Karena
aku tahu, kamu nggak akan bisa menolakku,” jawabnya dengan sangat yakin. Aku
hanya tersenyum senang. Dia mencium punggung tanganku.
“Sepertinya
kita akan sibuk mengatur pernihakan mereka, Gina,” itu suara mama yang berdiri
di ambang pintu kamarku yang masih terbuka.
“Iya,
Karin, sepertinya kita harus menyegerakan pernikahan itu,” kali ini mama asuhku
menimpalinya sambil tersenyum.
Kedua
perempuan itu masuk ke kamarku dan mencium keningku lembut, senyum mereka
membuatku semakin membaik.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar