PLAK!!!
Tamparan
itu membuat wajahku berpaling ke kiri, panas, perih, dan pastinya membekas
dipipiku, kuarahkan kembali wajahku menatap lelaki di depanku, mataku perih
namun aku masih menahannya. Kutatap perempuan yang hanya menundukkan wajahnya di
belakang tubuh tegap yang masih melindunginya dariku.
“Papa
tidak bermaksud menamparmu, Yu, tapi kemu sendiri yang memintanya,” suara papa
melembut, dan itu mampu membuat pertahananku jatuh.
“Apa
foto ini tidak cukup menjadi bukti, pa?” lirihku sambil menunjukkan foto yang ada
di dalam hpku.
“Kamu
fikir papa tidak tahu, itu foto lama, dan sekarang perempuan itu telah menjadi
pengganti mamamu, Yu,” papa masih bersikeras dengan pemikirannya.
“Perempuan
yang papa nikahi itu bukan mamaku, dan aku tak sudi menganggap wanita jalang
itu…”
PLAK!!!
Lagi.
Kali
ini papa kembali menampar pipiku, di tempat yang sama.
“Sekali
lagi kau mengatai mamamu dengan kata-kata kurang ajar, papa tidak akan
segan-segan mengusirmu dari rumah ini,”
Aku
terpaku mendengar ucapan papa yang tegas tanpa ragu. Kulihat mata papa yang
menatapku tajam, aku putri satu-satunya yang ia miliki, apa ia tega melepasku
demi wanita yang baru saja menjadi ibu tiriku setahun yang lalu itu? Bahkan
wanita jalang itu tersenyum miring melihatku, ia masih seumuran denganku, dan
foto yang kuambil dengan tanganku sendiri saat ia sedang bermesraan dengan
pacarku menjadi bukti bahwa ia menduakan papaku. Jelas aku tidak akan
melepaskan papaku untuknya. Aku telah kehilangan kekasihku karenanya, dan aku
tak ingin kehilangan papa.
“Papa
mau bukti lebih nyata tentang perselingkuhan istri papa dengan pacarku?”
tanyaku menatap papa tanpa takut.
“Keluar
kamu dari rumah ini dan begitu kamu sudah menyadari kesalahanmu dan minta maaf
sama mamamu, kamu baru boleh kembali ke sini,” papa melangkah pergi, tapi
sebelum ia sempat keluar rumah, ia kembali menatapku dan berkata, “tapi kamu
jangan pernah lupa dengan tanggung jawabmu di kantor,” setelah itu, ia
menghilang di balik pintu besar itu.
“Papamu
sangat mencintaiku, Yu, ia tidak akan percaya dengan semua kata-katamu, dan
jangan harap kamu bisa mengambil kembali perhatian papamu yang sudah tertuju
padaku seutuhnya,” perempuan itu berkata lembut tapi licik, ia menyentuh pipiku
yang masih memerah akibat tamparan papa.
“Kau
bisa keluar dari rumah ini setelah mengompres pipi mulusmu ini, sayang,”
lanjutnya sebelum tersenyum sinis.
Kulangkahkan
kakiku dengan cepat menuju kamarku, kumasukkan beberapa baju yang aku beli
dengan uangku sendiri, dan langsung keluar dari rumah ini.
***
Kuambil
daun-daun yang menutupi pusara mama, kuusap papan nama yang berdiri tegak itu,
air mataku jatuh dengan sendirinya. Aku tak sanggup jika harus menceritakan
semua perlakuan papa padaku, tapi aku tidak juga mampu menahannya sendiri.
Hanya mama satu-satunya sahabat tempat ku berbagi segala ceritaku. Saat aku
senang, sedih bahkan saat aku galau karena pacarku.
Aku
bukan orang yang ramah dan baik, bahkan aku terkenal cuek dan pendiam, sejak di
bangku sekolah pun aku tidak memiliki banyak sahabat baik, hanya ada satu, tapi
aku sudah kehilangan satu-satunya sahabat baikku itu. Kini di kantor pun aku
hanya disegani dan dihormati sebagai atasan, meski ada yang bermanis muka
denganku, itu hanya karena mereka ada maunya.
Aku
muak dengan orang-orang munafik. Cukup sekali aku memiliki sahabat yang
menusukku dari belakang, dan aku bersyukur kali ini aku tidak lagi melihat
wajahnya, iya, dialah perempuan yang menjadi mama tiriku. Ia bahkan selingkuh
dengan pacarku, aku tak tahu, apa yang merasukinya hingga ia menjadi seperti
ini.
“Maaf
ma, aku membawa kabar yang tidak baik, papa mengusirku dari rumah, aku tahu aku
bisa dan mampu hidup sendiri, tapi aku tak ingin papa mencintai wanita yang
salah, aku tidak mau tempat mama digantikan oleh wanita ular itu,” lirihku. Aku
memang anak mama yang manja, tapi sekarang aku harus kuat demi papa.
“Aku
janji sama mama, aku akan berusaha sekuat mungkin agar papa berpisah dengan
wanita itu, aku janji ma,” tegasku sambil menghapus bersih sisa air mata di
pipiku.
Tekadku
sudah bulat, kutinggalkan makam mama dengan perasaan yang lebih tenang dan
lega, terima kasih, ma, mama tetap menjadi tenagaku dimana pun mama berada.
***
Setalah
makan siang, dan mencari apartemen yang akan kutempati, aku baru ingat kalau
papa masih menungguku di kantor, segera kulajukan mobilku ke kantor, karena aku
tak ingin mengambil resiko diusir dari kantor.
“Bu
Yuzel, pak Hata telah menunggu diruangan ibu,” sekertarisku langsung
mendekatiku saat aku baru keluar dari lift.
“Baik,
terima kasih, Ima,” kulangkahkan kakiku dengan mantap untuk bertemu pak Hatana,
atau papa.
KLIK!
“Bagus,
bu Yuzella Natasyi, kamu baru hadir
sekarang, apa kamu lupa dengan jadwalmu? Syukur pak Iraz bisa menggantikanmu,
kalau tidak, bisa dipastikan kerja sama kita akan batal dan perusahaan akan
rugi besar,” papaku bersikap baik-baik saja seperti tidak pernah terjadi
pertengkaran apapun diantara kami.
“Sebelumnya
terima kasih pak Serfiraz atas bantuannya, dan pak Hata, saya terlambat karena
baru menemukan apartemen yang harus saya tempati setelah anda mengusir saya
tadi pagi,” kataku datar sambil duduk di kursi kebesaranku.
Satu
lagi orang yang kubenci, Serfiraz. Anak mendiang sahabat papa yang kini menjadi
anak kesayangan papa. Pria berlesung pipi itu bahkan memanggil papaku dengan
sebutan papa. Aku tidak tahu kenapa papa sangat menyukainya, yang jelas ia
salah satu orang yang telah merampas kasih sayang papa untukku. Jujur, aku
memang anak manja yang tidak pernah bekerja, karena mama yang menyuruhku
bekerja, akhirnya papa pun memberiku jabatan di perusahaannya. Aku mampu, tapi
karena papa kurang percaya kepadaku, ia sering kali menyuruh Iraz untuk
membantuku. Karena hal itu pula, aku bersaing dengan pria itu untuk mendapatkan
promosi menjadi direktur utama di salah satu cabang perusahaan papa, dan aku
berhasil.
Dengan
susah payah aku mendapatkan kepercayaan, tapi Iraz dengan mudahnya bisa menjadi
penasihatku dan itu artinya aku harus bekerja bersamanya. Kalian tahu, aku
bahkan menghindari bertatap muka dengan Iraz jika tidak ada pekerjaan apapun
yang harus kudiskusikan dengannya. Meski pria itu mampu membuat perempuan
meleleh menatapnya, hal itu tidak terjadi padaku, karena bagiku, ia hanya sainganku.
“Raz,
kamu jelaskan tentang kerja sama yang akan kita lakukan selama enam bulan ini
pada ibu Yuzella, dan kamu, Yu, belajarlah untuk bersikap lebih professional,”
papa keluar dari ruanganku, dan aku langsung menggebrakkan mejaku kesal.
“Zel,
tenangkan dirimu, ini di kantor, kau tak ingin semua tahu tentang masalah ini,
kan?” kutatap Iraz tajam, sungguh aku tidak menyukai pria ini. Ia melepas kaca
matanya dan menatapku lembut, iris hazelnya membuatku merinding.
“Kalau
kau mau, kau bisa memegang proyek itu hingga selesai, dan aku yakin, papa tidak
akan keberatan,” kataku mengalihkan percakapan.
“Aku
tahu,” jawabnya singkat.
“Ya
sudah kalau kamu tahu, kamu bisa keluar dari ruanganku sekarang, aku masih
banyak pekerjaan lainnya,” kataku sambil membuka berkas yang menumpuk di atas
mejaku.
“Tapi,
proyek itu milik kita, bukan punyaku,” katanya datar.
Kurebahkan
diriku dikursi, ingin rasanya ku memeluk mama. Aku sangat merindukan perempuan
terhebat itu.
“Zel,
katakan kalau kau butuh bantuanku, aku akan dengan senang hati membantumu, kau
tau itu,” kutatap pria yang kini tersenyum. Hanya pria ini yang memanggilku
dengan panggilan Zel, meski aku sudah melarangnya, ia tetap keras kepala.
Aku
tahu ia baik, tapi aku sudah terlanjur menganggapnya sebagai sainganku. Aku
sama sekali tidak percaya padanya, meski sering kali ia membantu menyelesaikan
masalah perusahaan yang seharusnya aku selesaikan, ia tak pernah keberatan dan
memang benar adanya, ia selalu bisa membantuku. Tapi …
“Aku
serius,” lanjutnya seperti tahu bahwa aku meragukannya.
“Perempuan
itu selingkuh di belakang papa, dan selingkuhannya itu pacarku,” kataku sambil
menunduk, tak ingin Iraz tahu bahwa aku lemah karena situasi ini.
“Terus?”
tanyanya yang membuatku kembali melihatnya yang memang menunggu lanjutan dari
ceritaku.
“Saat
aku melihat mereka sedang berpelukan di taman tempat biasa aku dan pacarku itu
bertemu, aku langsung merekam mereka dan juga mengambil beberapa foto, tapi
saat aku memperlihatkannya ke papa, papa tidak percaya kepadaku bahkan ia
mengusirku dari rumah,” aku sudah tidak peduli jika Iraz menganggapku lemah,
dan aku juga tidak tahu mengapa aku bisa cerita panjang lebar dengan bebas padanya.
“Papa
bahkan menamparmu,” katanya sambi menunjuk pipiku.
“Apa
masih terlihat merah? Padahal aku sudah mengompresnya dengan es bahkan mengoles
bedak lebih tebal,” kubuka cermin kecil yang ada di dalam tas tanganku,
kuperhatikan pipiku yang ternyata masih memerah bahkan terlihat membengkak.
“Sini,”
aku sedikit terkejut saat Iraz menarik tanganku dan membawaku duduk di sofa, Kuperhatikan
langkahnya yang mulai mendekati kulkas kecil di sudut ruanganku, dan mengambil
handuk kecil di ruang ganti. Ia kembali mendekatiku dan langsung meletakkan es
yang terbungkus handuk kecil itu di pipiku. Baru sekali ini dia memperlakukanku
selembut ini.
“Bantuan
apa yang kamu butuhkan dariku?” aku masih menatapnya ragu, apa benar ini Iraz?
“Zel,
Yuzella” tegurnya membuyarkan lamunanku.
“Aku
mau kamu bisa membuat papa percaya bahwa perempuan itu tidak mencintainya, ia
hanya ingin menguasai harta papa saja,” kataku sedikit memohon.
“Apa
imbalan bagiku?”
“Apa?”
tanyaku sedikit terkejut saat mendengar kata-katanya, mungkin telingaku sedikit
bermasalah.
“Kalau
aku bisa membuat papa menceraikan perempuan itu, apa yang akan kau berikan
sebagai imbalanya? Biar kuperjelas, aku ingin imbalan yang seimbang, bagaimana?”
katanya datar, tangannya masih setia mengompres pipiku. Aku masih tidak
mengerti dengan maksudnya, ia tak pernah meminta imbalan saat membantuku.
“Aku
akan melakukannya sendiri, keluarlah!” katakku kesal dan mengambil alih
kompresan dari tangannya. Kulihat pria ini dengan tatapan tajam, tapi dia malah
tertawa ringan. Tampan banget, oh ayolah Yu, dia Iraz, apa kamu sudah gila?!
Pikiraku sepertinya mulai kacau.
“Aku
hanya bercanda, jangan terlalu serius,” ia kembali mengambil kompresan dari
tanganku dan meletakkannya di pipiku. Aku hanya bisa diam dan menerima tatapan
dan senyumnya.
***
Aku
dan Iraz kini berada di bawah sebuah gedung yang sedang direnovasi. Setelah
puas melihat dan mendengar penjelasan mereka, aku dan Iraz memilih untuk
beristirahat sejenak di rumah makan terdekat. Iraz sedang menikmati makan
siangnya. Ia tidak peduli dengan perempuan di sekelilingnya yang menatapnya
memuja. Bahkan sepertinya ia lupa ada aku di sini yang setia menunggunya makan,
aku hanya memesan jus untuk menghilangkan hausku, sedangkan Iraz tanpa diskusi
langsung memesan makanan dan melahapnya dengan semangat. Padahal sebelumnya
jadwal kami harus segera kembali ke kantor.
“Aku
tau aku tampan, kau tidak perlu menatapku sebegitunya,” katanya setelah meneguk
habis minuman di gelasnya.
“Aku
tidak seperti mereka yang menatapmu memuja, aku hanya kesal harus menemanimu
makan,” kataku mengalihkan pandanganku darinya.
“Oh,
jadi kau ingin bilang bahwa kau sama sekali tidak tertarik padaku, bagus, aku
suka,” katanya datar sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Kau
tahu manis, aku menyukai perempuan sepertimu, pinter, manja, apalagi wajahmu
begitu indah, seperti bidadari mungkin, hahaha, terlebih kamu tidak langsung
terpikat oleh ketampananku, bahkan kau menghindariku jika tidak ada kepentingan
apa pun denganku, kau memang berbeda, dan aku suka,” aku menatapnya tidak
percaya, kugeleng-gelengkan kepalaku saat ia menatapku sambil tersenyum manis,
dan aku bahkan mendengar beberapa perempuan memekik senang melihat pria ini
tersenyum.
Kualihkan
tatapanku ke lain arah, dan saat itu juga kulihat Renaata, istri papaku yang
sedang bermanja dilengan seorang pria, dan aku sangat mengenal pria itu.
“Raz,
itu Renaata, aku mau kau mengambil foto mereka, tentunya dengan kameramu,”
kataku sambil menggoyang-goyangkan tangannya, aku tak melihat reaksinya, karena
mataku terus mengawasi ke dua manusia munafik itu.
“Oke,”
kualihkan mataku menatap Iraz yang mulai mengoprasikan kameranya, dan ia
mengklik beberapa kali dan setelah itu, ia memberikan kameranya padaku.
Aku
tersenyum melihat hasil kerjanya, ia bahkan merekam mereka, dan aku tersenyum
puas. Setelah melihat ini, apa papa bisa dengan mudah percaya?
“Bagaimana?
Apa aku harus menunjukkan semua itu pada papa? Atau kita bisa menghubunginya
sekarang dan bergabung bersama kita di sini,”
Aku
hanya mengangguk setuju, dengan cepat Iraz mengambil handphoneku dan menelpon
papa, kudengar ia menyebutkan alamat ini, dan sedetik kemudian ia kembali
meletakkan hpku di atas meja.
“Papa
sibuk,” wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam, ia memayunkan mulutnya
dan menekuk wajahnya, dan itu terlihat lucu bagiku. Sepertinya tanpa kuminta
pun, Iraz bakalan membantuku untuk memisahkan perempuan itu dari papa.
“Kenapa
kau tersenyum, Zel? Apa kau tidak kesal?” tanyanya terlihat marah.
“Apa
kamu benar-benar kesal atau hanya bercanda?” tanyaku masih dengan senyum yang
terukir di bibirku.
“Aku
rela bercanda seperti ini jika itu mampu mengukir kembali senyum di wajahmu,
Zel,” seketika senyumku hilang, kulihat Iraz yang menatapku dalam, lama kami saling
memandang dalam diam, hingga senyumnya membuatku sadar bahwa aku masih
menatapnya, tatapanku seperti terkunci di dalam matanya.
“Kau
tahu, Zel, meski saat ini kita hanya jalan berdua karena pekerjaan, bagiku
cukup, hatiku sudah bahagia,” kata-kata lembutnya membuatku makin terpaku.
“Semudah
itu aku bahagia karenamu, dan sesimple itu lah cintaku,” senyum manis itu
membuat lesung pipinya terlihat jelas, sepertinya aku sudah terpikat kata-kata
indahnya.
“Lebih
baik kita kembali ke kantor, Zel,” lanjutnya sambil bangun dari duduknya,
mengelus kepalaku sebelum beranjak keluar dari rumah makan itu. Setelah ia
menghilang dari hadapanku, aku menghembuskan nafas lega, aku baru sadar kalau
sejak tadi aku menahan nafasku.
Oh
tuhan, apa yang terjadi padaku? Apa yang telah ia lakukan terhadapku?
***
“Pa,
ini bukan rekayasa ataupun masa lalu seperti papa katakan, gambar dan rekaman
ini baru saja terjadi tadi siang,” jelasku sambil memperhatikan raut wajah papa
yang mulai marah.
Apa
papa tidak percaya padaku? Apa papa akan marah lagi padaku? Pikiranku
masih terus bertanya-tanya tentang apa tindakan papa selanjutnya.
“Apa
kamu juga melihat hal ini tadi siang, Raz?” papa menatap Iraz penuh selidik.
Pria yang berdiri di sampingku ini hanya menganggukkan kepalanya.
“Pa,
percayalah, dia bukan istri yang baik buat papa,” lirihku.
“Yu,
biarkan papa selesaikan ini dengan mamamu, kamu tidak perlu ikut campur lagi,
sekarang keluarlah,” papa duduk di kursi kebesarannya dengan wajah sedih. Iraz
menarik lenganku untuk ikut dengannya keluar dari ruangan itu.
Aku
berdiri di atas gedung dan menatap jauh kebawah, kenapa aku tidak merasa
bahagia? Kenapa aku sedih melihat papa seperti ini? Apa aku salah?
Sesuatu
yang dingin menyentuh pipiku, kulihat sebuat minuman kaleng terarah kepadaku,
aku langsung mengambilnya saat tau Iraz yang menawarkannya. Pria ini menarikku
untuk duduk di kursi panjang yang tersedia di bawah pohon yang tersedia di
taman yang ada di atas gedung. Aku ingat, dulu mama yang meminta papa untuk menciptakan
taman buatan di atas gedung ini agar aku bisa lebih senang menunggu papa
bekerja sambil bermain di sini, tentu saja ditemani mama.
“Apa
aku salah, Raz?” kini hanya Iraz yang bisa menjadi pendengarku, aku tak tahu
lagi dengan siapa harus berbagi cerita ini. Hidupku baik-baik saja saat mama
masih ada, tapi setalah mama tiada, aku seperti kehilangan sebelah sayapku, aku
tidak bisa terbang lagi.
“Tidak,”
kulihat Iraz yang menatap jauh kedepan.
“Tapi
kenapa aku tidak bahagia papa mengetahui semua ini?” aku masih menunggu jawaban
Iraz, karena ini pertama kalinya aku bertanya padanya tentang masalah perasaan
bukan masalah kantor.
“Semua
juga tidak senang jika melihat orang tuanya sedih,” jawaban singkat itu
membuatku mengerti, meski kebenaran yang aku katakan itu membuat papa sedih,
tapi ini juga demi kebaikan papa.
“Papa
hanya butuh waktu untuk menerima semua ini, aku yakin papa bisa menghadapinya,
ia lelaki yang kuat,” Iraz menatapku sambil tersenyum manis, aku merasa tenang
melihatnya. Ia menepuk bahuku seakan menyalurkan tenaganya padaku agar aku
kembali tersenyum, dan ia berhasil.
***
“Berapa
kali aku katakan jangan pernah bertemu dengan pria itu lagi! Sekarang kamu udan
menjadi istriku, apa lagi yang kau harapkan?!” suara marah papa terdengar
hingga ke pintu utama tempatku dan Iraz berdiri sekarang. Kami baru saja sampai
di rumahku.
“Aku
minta maaf, mas, ia yang memaksaku untuk bertemu dengannya, karena aku belum
melunasi semua hutangku padanya, maafkan aku, mas,” tangis Renataa pun tak
kalah kerasnya dengan suara papa.
“Tapi
di foto dan video yang kulihat, kau malah terlihta sedang bermesraan dengannya,
dan masalah hutang, bukannya kau bilang kau sudah melunasi semua hutangmu?! Aku
sudah memberikan banyak uang untukmu bisa membayar hutangmu padanya, apa lagi
alasan yang tidak masuk akal yang akan kau katakan?!” suara papa terdengar
melemah.
Kulihat
Iraz yang mulai masuk ke rumah, kuikuti langkahnya dengan ragu.
“Mulai
sekarang, aku menceraikanmu Renataa, dan aku tak ingin melihat wajahmu lagi,
keluar dari rumahku sekarang juga,” kulihat papa membelakangi Renataa yang
duduk di lantai.
“Baiklah
kalau itu keputusanmu, aku akan pergi, selamat tinggal, mas,” Renataa bangun
dan melangkah melewatiku, tapi sebelumnya ia berhenti tepat disisiku.
“Kau
sedang bermain api, manis, kupastikan kau akan menyesal telah mengeluarkanku
dari rumah ini, ingat itu!” lirihnya tegas. Aku mantapnya sinis.
Ia
kembali melangkah hingga keluar rumah, tak kuhiraukan perkataan perempuan itu,
kini perhatianku sepenuhnya pada papa. Iraz menarikku untuk masuk ke kamarku.
“Kamu
tunggu di sini, aku akan menemani papa, kamu tenang aja, jangan khawatir,” baru
kali ini Iraz berkata menggunakan ‘kamu’, aku hanya menganggukkan kepalaku
patuh.
“Kupercayakan
papa padamu, aku tidak mau papa larut dalam sedihnya,” Iraz mengelus rambutku
sambil tersenyum menenangkan, ia menganggukkan kepalanya sebelum keluar dari
kamarku.
Aku
tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, kuputuskan untuk beristirahat sejenak.
***
Kurasakan
sentuhan halus dikepalaku, kucoba membuka mataku.
“Papa,”
lirihku.
“Maafkan
papa, sayang, papa bahkan menamparmu demi dia, maafkan papa,” papa menyentuh
pipiku lembut, wajahnya terlihat jelas kesedihan yang mendalam dan penyesalan.
“Aku
baik-baik saja, pa, yang terpenting sekarang, kita bisa bersama lagi,” kataku
sambil menggenggam tangan papa lembut.
“Baiklah,
lanjutkan istirahatmu, papa juga mau istirahat, oia, Iraz menitipkan ini
untukmu, dan papa sangat setuju kalau kalian bersama,” papa meletakkan sebuah
kotak di atas nakas sebelum pergi meninggalkanku.
Kuraih
kotak dari atas nakas, kulangkahkan kakiku menuju balkon kamar, duduk di kursi
santai yang bisa membuatku setengah berbaring sambil mentap langit. Kubuka
kotak pemberian Iraz, didalamnya ada beberapa jenis biscuit coklat, dan permen,
aku hanya bisa tersenyum melihatnya, dasar Serfiraz, dari mana pemikiran untuk
mengirimku benda-benda ini? Kuraih secarik notes dan membukanya.
Aku
tidak tau apa jenis cemilan dan permen yang kamu suka, jadi kumasukkan saja
semuanya, semoga kamu suka. Makan yang manis-manis bisa mengurangi perasaan
sedihmu.
By:
Iraz
Senyumku
semakin lebar, apa aku mulai termakan pesonanya? Kenapa ia memberiku sekotak cemilan
dan permen? Apa karena ia tidak ingin aku sedih? Apa yang kufikirkan?
Tanpa
pikir panjang, kuambil sebuah biscuit dan memakannya, aku ingin menghilangkan
Iraz dari pikiranku, tapi semakin aku mengunyah biscuit ini, Iraz selalu hadir
dipikiranku. Apa Iraz memberikan sesuatu di biscuit ini?
Drrrt
drrrt drrrt
Kuraih
hpku, sebuah chat dari nomor baru, langsung kubuka isi chatnya.
BRAK!
Hpku
langsung terjatuh dari tanganku, pun biscuit yang kupegang. Aku terpaku, begitu
kaget melihat apa yang dikirimkan oleh nomor baru itu.
Tok
tok
***
Tok
tok
Tak
kuhiraukan ketukan pintu kamarku, aku masih terdiam, badanku bergetar, aku takut,
sungguh.
“Zel?”
tepukan Iraz dibahuku membuatku menatapnya dan air mata yang tadinya kutahan
kini jatuh begitu saja.
“Hei,
kenapa kamu menangis? Apa yang terjadi? Ini kenapa hpnya jatuh? Biskuitnya
juga?” Iraz mengambil hp dan biscuit yang jauh, ia menatapku heran, aku masih
menangis dalam diam.
“A…da…pes..an,”
aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku, kubiarkan Iraz menatap hpku dan ia
sama terkejutnya denganku. Rahangnya mengeras menahan mara, ia meremas hpku dan
mungkin sebentar lagi ia akan melempar hpku ke sembarang arah, tapi nyatanya
tidak, ia meletakkan hpku kembali ke nakas.
“Apa
kamu pernah ngalamin hal ini sebelumnya?” tanya Iraz sambil duduk di hadapanku.
Aku
hanya mampu menggelengkan kepalaku.
“Oke,
jangan dihiraukan, kamu sangat pucat, Zel, lebih baik kamu istirahat dan jangan
khawatir dengan foto itu, aku janji akan menemukan siapa pun yang mengirimkan
gambar itu ke kamu,” Iraz membimbingku kembali ke tempat tidur, ia membaringkan
tubuhku dan menyelimutiku.
“Sepertinya…aku
tahu siapa orang yang mengirimkan foto itu,” kataku menghentikan langkah Iraz
yang hendak keluar dari kamarku.
Ia
kembali mendekatiku dan duduk di sisi tempat tidurku. Aku pun kembali bangun
dan duduk menatapnya.
“Renataa,
perempuan itu mengancam akan membuatku menyesal telah mengeluarkannya dari
rumah ini, aku sangat yakin ini pasti perbuatannya,” Iraz mengerutkan
keningnya, sepertinya ia meragukanku.
“Percayalah,”
rajukku.
Ia
hanya menganggukkan kepalanya sebelum kembali bangun hendak keluar.
“Tunggu,
ada perlu apa kamu ke kamarku?” seingatku ini bukan jadwalnya bisa bertamu
sesuka hatinya ke rumah ini, meski papa tidak pernah melarangnya, tapi lain
halnya denganku. Dulu papa pernah menawarkan agar ia mau tinggal bersama kami,
tapi karena ia tahu aku tidak menyukainya, ia pun memilih tinggal di apartemen.
“Aku
hanya ingin melihat keadaanmu sebelum kembali ke apartemen, aku masih di sini
saat kamu dan papa bicara, hanya saja aku tidak mau memberikan kotak itu secara
langasung, dan satu hal, seharian ini aku tidak pernah tenang sebelum melihat
senyummu, sepertinya kali ini aku tidak akan bisa tidur sebelum pemilik nomor
itu tertangkap, jadi tidurlah, aku akan pastikan tidak akan ada yang bisa
menyentuhmu, selamat malam, Zel,” setelah berkata panjang lebar, ia pun keluar
dari kamarku.
Kenapa
perkataannya mampu membuatku merasa aman? Meski seharian ini Iraz bertingkah
aneh, oh Yuzella, berhenti memikirkannya dan tidurlah.
***
“Foto
Yuzella diedit hingga menjadi berdarah dan kepalanya sampai terlepas dari
lehernya, dan yang membuatku marah, foto itu mampu membuat Yuzel pucat dan
menangis, shit! Brengsek!” Iraz terlihat begitu marah, aku tidak sengaja
mendengar pembicaraannya entah dengan siapa, karena lawan bicaranya
membelakangiku, aku hanya berdiri di depan pintu ruangannya saat mendengar Iraz
berteriak marah, hingga kuputuskan untuk tidak masuk.
“Gua
nggak mau tau, Ji, lu harus bisa melacak nomor itu, sejak semalam gua nggak
bisa tidur meski orang-orang suruhan gua menjaga rumah mereka, tapi tetap saja
aku nggak tenang sebelum orang itu ditemukan,” kulihat Iraz menatap orang yang
panggil Ji itu tajam.
“Ini
juga lagi dikerjain, Raz, sabar dong,” suara terdengar kesal.
Setelah
melihat Iraz kembali duduk di hadapan lawan bicaranya, aku pun masuk setelah
mengetuk pintunya terlebih dahulu.
“Sibuk,
pak?” tanyaku mulai melangkahkan kakiku masuk dan duduk di sisi kiri Iraz.
Kulihat Iraz tak merespon pertanyaanku, ia malah asik memperhatikanku.
“Hei,”
aku melambaikan tanyanku di hadapannya, berharap ia menghentikan kegiatannya
menatapku.
“Sorry,
Zel, aku hanya ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja,” Iraz tersenyum
tipis sebelum akhirnya kembali fokus memperhatikan lawan bicaranya yang setelah
kulihat, memakai pakaian serba hitam, ditambah topi dan juga earphone yang
terpasang ditelinga kirinya.
“YAP!
Ketemu!” spontan Iraz bangun dan langsung duduk di sisi temannya, aku pun
menyusulnya dan sekarang kami sama-sama menatap layar laptop temannya Iraz.
“Ini
apaan, Ji?” tanya Iraz menatap Ji bingun, aku pun juga bingung, layar laptop Ji
hanya menampakkan angka dan huruf tak beraturan.
“Nama
pemilik kartu itu Renataa Jiandra, dan itu kartu sekali pake, sekarang sudah
tidak aktif,” Iraz menatapku yang kini juga sedang menatapnya.
Drrrt
drrrt drrrt
Getaran
hp di saku rokku membuataku mengalihkan pandanganku dari Iraz, dan betapa
terkejutnya aku saat melihat nomor yang tidak dikenal kembali mengirimiku
pesan. Dengan cepat kuserahkan hpku ke Iraz yang masih bingung dengan
tindakanku.
“Nomor
yang tidak dikenal kembali mengirimiku pesan,” Iraz langsung mengambil alih
hpku dan membukanya, wajah Iraz menegang. Ia memberikan hp itu ke Ji.
“Lacak
nomor itu, pemiliknya beserta alamatnya,” baru pertama kalinya aku melihat Iraz
berkata sedater itu.
“Sekarang,
Panji!” bentakan Iraz membuat Panji yang tadinya masih duduk santai sambil
melihat hpnya kini mulai kembali bekerja. Siapa sebenarnya Panji ini bagi Iraz,
kenapa Panji kelihatannya takut dengan Iraz.
***
Aku
masih duduk di sisi Panji sambil melihat caranya bekerja, meski sudah
kuperhatikan, aku masih tidak bisa mengerti. Akhirnya kualihkan pandanganku
melihat Iraz yang sedang berdiri mengahadap dinding kaca besar yang terletak di
belakang kursi kebesarannya. Kulangkahkan kakiku mendekatinya dan bersiri
disisinya.
“Apa
isi pesan tadi, Raz?” tanyaku penasaran, meski aku takut melihatnya, tapi rasa
ingin tahuku mengalahkan rasa takutku.
“Foto
tubuh Renaata yang ditusuk, dipotong-potong, hingga dikubur,” kututup mulutku
yang memekik kaget. Iraz langsung membimbingku untuk duduk saat aku mulai
bersandar di dinding kaca tersebut. Dia memberiku air mineral dan langsung
kuteguk setengah, aku butuh penetral tenggorokanku yang tercekat. Meski aku
membenci Renaata, ia masih saja sahabatku, aku masih menginginkannya berubah
seperti dulu, sekelebat kenangan indah yang kulewati dengannya terbayang indah
dikepalaku, oh Tuhan, siapa yang tega melakukan hal itu?
“Dia
disekitar kantor, Raz,” suara Panji membuatku dan Iraz saling bertatapan. Iraz
langusng mendekati Panji, kali ini aku hanya duduk memperhatikan mereka.
“Aku
meletakkan gps wireless di hpnya, jadi kita akan tahu dimana saja ia berada dan
isi percakapannya,” Iraz menepuk bahu Panji.
“Bagus,
lu selalu bisa buat gua puas, sekarang, hubungi Jion, kita butuh dia untuk
penjagaan lebih ketat,” kulihat Panji langsung mengutak atik laptopnya sebelum
akhirnya mengacungkan jempolnya ke Iraz.
“Raz,”
lirihku memanggil Iraz, sepertinya aku mulai bergantung padanya. Iraz
mendekatiku dan menepuk bahuku pelan.
“Semua
kan baik-baik saja, kembalilah ke ruanganmu, aku akan mengabarimu jika aku
menemukan pelakunya,” Iraz membimbingku agar kembali ke ruanganku.
“Tunggu,
Raz, sebaiknya Yuzel di sini aja, pemilik nomor itu mulai masuk ke kantor,”
kata Panji menghentikan langkahku dan Iraz.
Kami
kembali duduk dan melihat layar laptop Panji yang menunjukkan denah gedung ini
dan pion biru yang mulai bergerak memasuki lift. Hening, tak ada yang bersuara,
hingga pion biru itu berhenti bergerak tepat di depan ruangan papa.
Dengan
sigap Iraz lari keluar ruangan dan aku langsung menyusul langkahnya, kami
sama-sama berlari ke ruangan papa, saat sampai di depan ruangan papa, Iraz
langsung menerobos masuk pun denganku. Dan seketika tubuhku terduduk, melihat
pemandangan di depanku.
“Papa…”
lirihku tak percaya.
“Kau,”
“Hai
Serfiraz dan Yuzella, selamat datang di dunia Prayoga, aku hanya ingin mengambil
alih perusahaan ini, rencanaku ingin menikahi Yuzella dan dengan mudah bisa
mewujudkan impianku, tapi Renaata merusak rencanaku, dan kini aku berhasil
menyingkirkan wanita itu, dan sekarang, aku hanya perlu menyingkirkan kalian
berdua,” kutatap pria yang sempat kucintai selama dua bulan itu. Tangan
kanannya masih memegang senapan yang kuyakin baru saja digunakannya untuk
menghabisi nyawa papa.
“Setelah
kau membunuh kami, memangnya apa yang bisa kau dapatkan?” tanya Iraz
meremehkan.
“Papamu
baru saja menanda tangani surat wasiat yang menyatakan semua hak warisnya atas
namaku,” tersirat kesombongan yang mendalam dari suara pembunuh itu.
“Hmm,
bagaimana ceritanya bisa semudah itu?” Iraz terlihat sangat tenang, apa ia
tidak takut mati? Senapan yang tidak memiliki bunyi saat pelatuknya ditarik itu
sedang mengarah tepat ke jantungnya.
“Mudah
saja, hanya dengan mengancam akan membunuh Yuzella, maka semua akan mudah, tapi
papamu yang sedang dilanda kesedihan itu terlihat sangat menyedihkan, jadi
kuputuskan untuk mengakhiri hidupnya saja, agar ia bisa bahagia di sana,
hahaha,”
“Psikopat!
Pembunuh!” aku berlari medekati pria itu dan menusuknya sengan tusuk konde yang
kupakai untuk mengikat rambutku.
“YUZELLA!”
suara terakhir yang aku dengar sebelum aku ambruk dan semua gelap.
***
“Zel,
bangun, please…” suara itu terus masuk ke telingaku, tapi mataku tak sanggup
untuk kubuka, kuusahakan menggerakkan tanganku, dan aku masih terus mencoba
membuka mataku, hingga samar-samar terlihat ruangan putih dan dua pria yang
berdiri di sisiku.
“Yuzella,
akhirnya kamu sadar juga, syukurlah,” pandanganku semakin jelas, kulihat Iraz
tersenyum lembut menatapku, dan disisinya ada Panji yang sudah membuka
topinya,ia pun terlihat sangat lega.
“Apa
yang terjadi, Raz? Aku dimana?”
“Kamu
nggak perlu banyak ngomong dulu, sekarang yang penting, kamu harus sehat. Aku
panggil dokter dulu buat ngecek kamu, ji, aku titip dia bentar ya,” dan Iraz
keluar dari kamar ini.
“Ji,
bisa kamu ceritakan apa yang terjadi sebenarnya, aku nggak bisa maksa Iraz
untuk cerita, ia pasti tidak akan mau, kumohon,” kutatap Panji memohon.
“Ehem,
baiklah, intinya di saat lu serang Yoga dengan tusuk konde, pria itu langsung
memukul kepala lu dengan ujuk pistol yang dia pegang, selanjutnya, Jion masuk
ke ruangan dan langsung menyergap Yoga yang sedang kesakitan, dan Iraz langsung
ngebwa lu ke sini,” penjelasan Panji yang tenang dan datar membuatku faham,
tapi sepetinya masih ada yang kurang dari ceritanya.
Tak
lama keheningan yang menyelimutiku dan Panji, akhirnya Iraz masuk bersama
dokter, dan aku sangat bersyukur karena kata dokter kepalaku tidak parah, hanya
saja masih butuh nginap selama tiga hari untuk lebih memastikan bahwa kepalaku
tidak menimbulkan muntah-munah atau pun demam.
Setelah
dokter keluar, Panji pun izin pergi. Hanya Iraz yang masih duduk di sisiku
sambil menatapku lembut. Senyum yang ia berikan padaku menyiratkan kesedihan,
dan aku baru sadar, ada bekas air mata di pipinya.
“Kamu
menangis, Raz?” tanyaku saat Iraz menggenggam tanganku yang bebes infuse.
“Iya,
aku fikir aku bakal kehilangan orang yang kusayangi, lagi, untuk kesekian
kalinya,” jawabnya tak menatapku, ia menunduk dalam. Suaranya terdengar serak,
apa dia menangis? Dia menundukkan kepalanya di atas punggung tanganku yang
bebas infuse, kurasakan setetes air membasahi punggung tanganku.
“Iraz…”
lirihku. Apa benar kamu menyayangiku, Raz? Aku ingin bertanya, tapi suaraku
tidak keluar.
“Aku
sayang kamu, Zel, dan aku nggak ingin kehilangan kamu,” ia masih menunduk,
suaranya masih serak, serat kesedihan.
“Kita
nikah aja yuk!” kali ini ia menatapku lembut, pipinya masih basah. Aku
menatapnya tidak percaya, bagaimana bisa ia menyayangiku sedang aku selalu
berkata kasar padanya selama ini.
“Kamu
bisa belajar menyukaiku, Zel, dan aku fikir, itu tidak akan butuh waktu lama,”
Iraz menatapku sambil tersenyum manis, dan aku langsung tertular senyumnya.
“Mintalah
pada papa,” kataku masih tersenyum, tapi senyum di wajah Iraz seketika hilang.
Dan aku baru mengingat satu hal penting yang sempat kulupakan. Dengan segera
kutatap Iraz dengan tatapan bertanya.
“Papa
dimana? Apa papa selamat, Raz?”
Iraz
yang menundukkan kepalanya membuatku mengerti, aku telah kehilangan papa. Aku
sangat menyesal telah membuat papa dalam bahaya. Air mataku tak dapat
kubendung, Iraz semakin mengeratkan genggamannya di tanganku, sebelum akhirnya
memelukku, memberikan ketenangan dan kekuatan.
***
Tiga
bulan kemudia…
“Saya
terima nikah dan kawinnya Yuzella Natasyi binti Hata Natasyi dengan mas kawin
seperangkat alat shalat dibayar tunai,” setelah kalimat itu terucap jelas, aku merasa
lega dan gugupku hilang. Tante Mei langsung memelukku, dan membimbingku agar
duduk di sisi Iraz.
Om
Hatono memandangku tersenyum bahagia. Setelah pemakaman papa, adik satu-satunya
papa itu menjadi waliku. Setelah menanda tangani buku nikah, dan memakai cincin
dari Iraz serta mencium punggung tangannya, sekarang kami pun melakukan
sungkeman, dan itu hanya ada tante Mei dan om Hatono.
“Jaga
Yuzel baik-baik,” pesan om Hatono di telinga
Iraz terdengar jelas di telingaku, aku hanya tersenyum sambil masih memeluk
tante Mei.
Tanteku
setuju untuk tidak membuat wedding party besar-besaran, tapi karena om memaksa,
jadi sekarang kami melanjutkan ke sesi wedding party yang di adakan di gedung
mewah. Bagaimana tidak, perusahaan papa dan om terhitung perusahaan terbesar di
Negeri ini, dan tamu undangan pun tidak sedikit. Tidak banyak yang ku kenal,
tapi mereka semua mengenalku, lain halnya dengan Iraz, ia mengenal semua tamu
yang hadir.
“Raz,
bagaimana kamu bisa mengenal semua tamu undangan di sini?” tanyaku sambil
menyikut lengannya.
“Papa
selalu membawaku kemana pun dia pergi, dan hanya saat kamu membutuhkanku, baru
papa melepasku, jeals aku mengenal mereka semua,” jawabnya sambil terus menyalami
tamu yang naik ke atas pelaminan untuk memberikan ucapan selamat mereka pada
kami.
“Panji
dan Jion itu siapa?” akhirnya pertanyaan yang sempat membuatku penasaran itu
tersampaikan juga.
“Mereka
agen kepercayaanku sekaligus sahabatku, Jion seorang detektif dan Panji seorang
Hacker,” aku hanya mangut-mangut.
“Aku
masih penasaran dengan Yoga, Raz, bagaimana ia bisa mengenal Renaata, dan
dimana Renaata sekarang?” kulihat Iraz menatapku tajam, aku sampai merinding
dibuatnya.
“Berhenti
penasaran dengan mereka, Zel, dan aku tidak akan pernah mau mendengar nama
mereka lagi, aku harap kamu bisa mengerti,” kata-kata lembut Iraz hanya bisa
membuatku nyengir, ia menyentuh pipiku lembut.
“Demi
kebaikan kita, sayang,” aku sepertinya harus terbiasa dengan semua sikap manis
ini. Aku jadi penasaran, bagaimana sikap Iraz lainnya, disaat ia marah mungkin,
atau kesal atau…pikiranku beku saat sebuah kecupan mendarat di keningku, meski
saat menikah tadi aku juga merasakannya, tapi saat ini rasanya berbeda. Kulihat
Iraz yang menatapku lembut.
“Jangan
mikirin apa-apa, sekarang nikmatin aja acara kita,” katanya mengelus keningku
yang berkerut karena memikirkan banyak hal, padahal aku sedang memikirkannya.
Aku hanya bisa tersenyum dan kembali fokus menerima salaman selamat dari para
tamu, ini tamunya kapan habisnya?
“Dinikmatin
aja, sabar ya sayang,” lagi-lagi suara Iraz membuatku tenang. Kalau boleh
jujur, aku sangat lelah, tapi karena Iraz di sisiku, aku bisa betah lama-lama
berdiri di sini. Sepertinya aku mulai menyukai suamiku ini, terima kasih papa,
karenamu aku bisa bertemu dengannya, aku sayang papa.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar