Minggu, 06 Mei 2018

REMORSE



PLAK!!!
Tamparan itu membuat wajahku berpaling ke kiri, panas, perih, dan pastinya membekas dipipiku, kuarahkan kembali wajahku menatap lelaki di depanku, mataku perih namun aku masih menahannya. Kutatap perempuan yang hanya menundukkan wajahnya di belakang tubuh tegap yang masih melindunginya dariku.
“Papa tidak bermaksud menamparmu, Yu, tapi kemu sendiri yang memintanya,” suara papa melembut, dan itu mampu membuat pertahananku jatuh.
“Apa foto ini tidak cukup menjadi bukti, pa?” lirihku sambil menunjukkan foto yang ada di dalam hpku.
“Kamu fikir papa tidak tahu, itu foto lama, dan sekarang perempuan itu telah menjadi pengganti mamamu, Yu,” papa masih bersikeras dengan pemikirannya.
“Perempuan yang papa nikahi itu bukan mamaku, dan aku tak sudi menganggap wanita jalang itu…”
PLAK!!!
Lagi.
Kali ini papa kembali menampar pipiku, di tempat yang sama.
“Sekali lagi kau mengatai mamamu dengan kata-kata kurang ajar, papa tidak akan segan-segan mengusirmu dari rumah ini,”
Aku terpaku mendengar ucapan papa yang tegas tanpa ragu. Kulihat mata papa yang menatapku tajam, aku putri satu-satunya yang ia miliki, apa ia tega melepasku demi wanita yang baru saja menjadi ibu tiriku setahun yang lalu itu? Bahkan wanita jalang itu tersenyum miring melihatku, ia masih seumuran denganku, dan foto yang kuambil dengan tanganku sendiri saat ia sedang bermesraan dengan pacarku menjadi bukti bahwa ia menduakan papaku. Jelas aku tidak akan melepaskan papaku untuknya. Aku telah kehilangan kekasihku karenanya, dan aku tak ingin kehilangan papa.
“Papa mau bukti lebih nyata tentang perselingkuhan istri papa dengan pacarku?” tanyaku menatap papa tanpa takut.
“Keluar kamu dari rumah ini dan begitu kamu sudah menyadari kesalahanmu dan minta maaf sama mamamu, kamu baru boleh kembali ke sini,” papa melangkah pergi, tapi sebelum ia sempat keluar rumah, ia kembali menatapku dan berkata, “tapi kamu jangan pernah lupa dengan tanggung jawabmu di kantor,” setelah itu, ia menghilang di balik pintu besar itu.
“Papamu sangat mencintaiku, Yu, ia tidak akan percaya dengan semua kata-katamu, dan jangan harap kamu bisa mengambil kembali perhatian papamu yang sudah tertuju padaku seutuhnya,” perempuan itu berkata lembut tapi licik, ia menyentuh pipiku yang masih memerah akibat tamparan papa.
“Kau bisa keluar dari rumah ini setelah mengompres pipi mulusmu ini, sayang,” lanjutnya sebelum tersenyum sinis.
Kulangkahkan kakiku dengan cepat menuju kamarku, kumasukkan beberapa baju yang aku beli dengan uangku sendiri, dan langsung keluar dari rumah ini.
***
Kuambil daun-daun yang menutupi pusara mama, kuusap papan nama yang berdiri tegak itu, air mataku jatuh dengan sendirinya. Aku tak sanggup jika harus menceritakan semua perlakuan papa padaku, tapi aku tidak juga mampu menahannya sendiri. Hanya mama satu-satunya sahabat tempat ku berbagi segala ceritaku. Saat aku senang, sedih bahkan saat aku galau karena pacarku.
Aku bukan orang yang ramah dan baik, bahkan aku terkenal cuek dan pendiam, sejak di bangku sekolah pun aku tidak memiliki banyak sahabat baik, hanya ada satu, tapi aku sudah kehilangan satu-satunya sahabat baikku itu. Kini di kantor pun aku hanya disegani dan dihormati sebagai atasan, meski ada yang bermanis muka denganku, itu hanya karena mereka ada maunya.
Aku muak dengan orang-orang munafik. Cukup sekali aku memiliki sahabat yang menusukku dari belakang, dan aku bersyukur kali ini aku tidak lagi melihat wajahnya, iya, dialah perempuan yang menjadi mama tiriku. Ia bahkan selingkuh dengan pacarku, aku tak tahu, apa yang merasukinya hingga ia menjadi seperti ini.
“Maaf ma, aku membawa kabar yang tidak baik, papa mengusirku dari rumah, aku tahu aku bisa dan mampu hidup sendiri, tapi aku tak ingin papa mencintai wanita yang salah, aku tidak mau tempat mama digantikan oleh wanita ular itu,” lirihku. Aku memang anak mama yang manja, tapi sekarang aku harus kuat demi papa.
“Aku janji sama mama, aku akan berusaha sekuat mungkin agar papa berpisah dengan wanita itu, aku janji ma,” tegasku sambil menghapus bersih sisa air mata di pipiku.
Tekadku sudah bulat, kutinggalkan makam mama dengan perasaan yang lebih tenang dan lega, terima kasih, ma, mama tetap menjadi tenagaku dimana pun mama berada.

***
Setalah makan siang, dan mencari apartemen yang akan kutempati, aku baru ingat kalau papa masih menungguku di kantor, segera kulajukan mobilku ke kantor, karena aku tak ingin mengambil resiko diusir dari kantor.
“Bu Yuzel, pak Hata telah menunggu diruangan ibu,” sekertarisku langsung mendekatiku saat aku baru keluar dari lift.
“Baik, terima kasih, Ima,” kulangkahkan kakiku dengan mantap untuk bertemu pak Hatana, atau papa.
KLIK!
“Bagus, bu Yuzella Natasyi,  kamu baru hadir sekarang, apa kamu lupa dengan jadwalmu? Syukur pak Iraz bisa menggantikanmu, kalau tidak, bisa dipastikan kerja sama kita akan batal dan perusahaan akan rugi besar,” papaku bersikap baik-baik saja seperti tidak pernah terjadi pertengkaran apapun diantara kami.
“Sebelumnya terima kasih pak Serfiraz atas bantuannya, dan pak Hata, saya terlambat karena baru menemukan apartemen yang harus saya tempati setelah anda mengusir saya tadi pagi,” kataku datar sambil duduk di kursi kebesaranku.
Satu lagi orang yang kubenci, Serfiraz. Anak mendiang sahabat papa yang kini menjadi anak kesayangan papa. Pria berlesung pipi itu bahkan memanggil papaku dengan sebutan papa. Aku tidak tahu kenapa papa sangat menyukainya, yang jelas ia salah satu orang yang telah merampas kasih sayang papa untukku. Jujur, aku memang anak manja yang tidak pernah bekerja, karena mama yang menyuruhku bekerja, akhirnya papa pun memberiku jabatan di perusahaannya. Aku mampu, tapi karena papa kurang percaya kepadaku, ia sering kali menyuruh Iraz untuk membantuku. Karena hal itu pula, aku bersaing dengan pria itu untuk mendapatkan promosi menjadi direktur utama di salah satu cabang perusahaan papa, dan aku berhasil.
Dengan susah payah aku mendapatkan kepercayaan, tapi Iraz dengan mudahnya bisa menjadi penasihatku dan itu artinya aku harus bekerja bersamanya. Kalian tahu, aku bahkan menghindari bertatap muka dengan Iraz jika tidak ada pekerjaan apapun yang harus kudiskusikan dengannya. Meski pria itu mampu membuat perempuan meleleh menatapnya, hal itu tidak terjadi padaku, karena bagiku, ia hanya sainganku.
“Raz, kamu jelaskan tentang kerja sama yang akan kita lakukan selama enam bulan ini pada ibu Yuzella, dan kamu, Yu, belajarlah untuk bersikap lebih professional,” papa keluar dari ruanganku, dan aku langsung menggebrakkan mejaku kesal.
“Zel, tenangkan dirimu, ini di kantor, kau tak ingin semua tahu tentang masalah ini, kan?” kutatap Iraz tajam, sungguh aku tidak menyukai pria ini. Ia melepas kaca matanya dan menatapku lembut, iris hazelnya membuatku merinding.
“Kalau kau mau, kau bisa memegang proyek itu hingga selesai, dan aku yakin, papa tidak akan keberatan,” kataku mengalihkan percakapan.
“Aku tahu,” jawabnya singkat.
“Ya sudah kalau kamu tahu, kamu bisa keluar dari ruanganku sekarang, aku masih banyak pekerjaan lainnya,” kataku sambil membuka berkas yang menumpuk di atas mejaku.
“Tapi, proyek itu milik kita, bukan punyaku,” katanya datar.
Kurebahkan diriku dikursi, ingin rasanya ku memeluk mama. Aku sangat merindukan perempuan terhebat itu.
“Zel, katakan kalau kau butuh bantuanku, aku akan dengan senang hati membantumu, kau tau itu,” kutatap pria yang kini tersenyum. Hanya pria ini yang memanggilku dengan panggilan Zel, meski aku sudah melarangnya, ia tetap keras kepala.
Aku tahu ia baik, tapi aku sudah terlanjur menganggapnya sebagai sainganku. Aku sama sekali tidak percaya padanya, meski sering kali ia membantu menyelesaikan masalah perusahaan yang seharusnya aku selesaikan, ia tak pernah keberatan dan memang benar adanya, ia selalu bisa membantuku. Tapi …
“Aku serius,” lanjutnya seperti tahu bahwa aku meragukannya.
“Perempuan itu selingkuh di belakang papa, dan selingkuhannya itu pacarku,” kataku sambil menunduk, tak ingin Iraz tahu bahwa aku lemah karena situasi ini.
“Terus?” tanyanya yang membuatku kembali melihatnya yang memang menunggu lanjutan dari ceritaku.
“Saat aku melihat mereka sedang berpelukan di taman tempat biasa aku dan pacarku itu bertemu, aku langsung merekam mereka dan juga mengambil beberapa foto, tapi saat aku memperlihatkannya ke papa, papa tidak percaya kepadaku bahkan ia mengusirku dari rumah,” aku sudah tidak peduli jika Iraz menganggapku lemah, dan aku juga tidak tahu mengapa aku bisa cerita panjang lebar dengan bebas padanya.
“Papa bahkan menamparmu,” katanya sambi menunjuk pipiku.
“Apa masih terlihat merah? Padahal aku sudah mengompresnya dengan es bahkan mengoles bedak lebih tebal,” kubuka cermin kecil yang ada di dalam tas tanganku, kuperhatikan pipiku yang ternyata masih memerah bahkan terlihat membengkak.
“Sini,” aku sedikit terkejut saat Iraz menarik tanganku dan membawaku duduk di sofa, Kuperhatikan langkahnya yang mulai mendekati kulkas kecil di sudut ruanganku, dan mengambil handuk kecil di ruang ganti. Ia kembali mendekatiku dan langsung meletakkan es yang terbungkus handuk kecil itu di pipiku. Baru sekali ini dia memperlakukanku selembut ini.
“Bantuan apa yang kamu butuhkan dariku?” aku masih menatapnya ragu, apa benar ini Iraz?
“Zel, Yuzella” tegurnya membuyarkan lamunanku.
“Aku mau kamu bisa membuat papa percaya bahwa perempuan itu tidak mencintainya, ia hanya ingin menguasai harta papa saja,” kataku sedikit memohon.
“Apa imbalan bagiku?”
“Apa?” tanyaku sedikit terkejut saat mendengar kata-katanya, mungkin telingaku sedikit bermasalah.
“Kalau aku bisa membuat papa menceraikan perempuan itu, apa yang akan kau berikan sebagai imbalanya? Biar kuperjelas, aku ingin imbalan yang seimbang, bagaimana?” katanya datar, tangannya masih setia mengompres pipiku. Aku masih tidak mengerti dengan maksudnya, ia tak pernah meminta imbalan saat membantuku.
“Aku akan melakukannya sendiri, keluarlah!” katakku kesal dan mengambil alih kompresan dari tangannya. Kulihat pria ini dengan tatapan tajam, tapi dia malah tertawa ringan. Tampan banget, oh ayolah Yu, dia Iraz, apa kamu sudah gila?! Pikiraku sepertinya mulai kacau.
“Aku hanya bercanda, jangan terlalu serius,” ia kembali mengambil kompresan dari tanganku dan meletakkannya di pipiku. Aku hanya bisa diam dan menerima tatapan dan senyumnya.
***
Aku dan Iraz kini berada di bawah sebuah gedung yang sedang direnovasi. Setelah puas melihat dan mendengar penjelasan mereka, aku dan Iraz memilih untuk beristirahat sejenak di rumah makan terdekat. Iraz sedang menikmati makan siangnya. Ia tidak peduli dengan perempuan di sekelilingnya yang menatapnya memuja. Bahkan sepertinya ia lupa ada aku di sini yang setia menunggunya makan, aku hanya memesan jus untuk menghilangkan hausku, sedangkan Iraz tanpa diskusi langsung memesan makanan dan melahapnya dengan semangat. Padahal sebelumnya jadwal kami harus segera kembali ke kantor.
“Aku tau aku tampan, kau tidak perlu menatapku sebegitunya,” katanya setelah meneguk habis minuman di gelasnya.
“Aku tidak seperti mereka yang menatapmu memuja, aku hanya kesal harus menemanimu makan,” kataku mengalihkan pandanganku darinya.
“Oh, jadi kau ingin bilang bahwa kau sama sekali tidak tertarik padaku, bagus, aku suka,” katanya datar sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Kau tahu manis, aku menyukai perempuan sepertimu, pinter, manja, apalagi wajahmu begitu indah, seperti bidadari mungkin, hahaha, terlebih kamu tidak langsung terpikat oleh ketampananku, bahkan kau menghindariku jika tidak ada kepentingan apa pun denganku, kau memang berbeda, dan aku suka,” aku menatapnya tidak percaya, kugeleng-gelengkan kepalaku saat ia menatapku sambil tersenyum manis, dan aku bahkan mendengar beberapa perempuan memekik senang melihat pria ini tersenyum.
Kualihkan tatapanku ke lain arah, dan saat itu juga kulihat Renaata, istri papaku yang sedang bermanja dilengan seorang pria, dan aku sangat mengenal pria itu.
“Raz, itu Renaata, aku mau kau mengambil foto mereka, tentunya dengan kameramu,” kataku sambil menggoyang-goyangkan tangannya, aku tak melihat reaksinya, karena mataku terus mengawasi ke dua manusia munafik itu.
“Oke,” kualihkan mataku menatap Iraz yang mulai mengoprasikan kameranya, dan ia mengklik beberapa kali dan setelah itu, ia memberikan kameranya padaku.
Aku tersenyum melihat hasil kerjanya, ia bahkan merekam mereka, dan aku tersenyum puas. Setelah melihat ini, apa papa bisa dengan mudah percaya?
“Bagaimana? Apa aku harus menunjukkan semua itu pada papa? Atau kita bisa menghubunginya sekarang dan bergabung bersama kita di sini,”
Aku hanya mengangguk setuju, dengan cepat Iraz mengambil handphoneku dan menelpon papa, kudengar ia menyebutkan alamat ini, dan sedetik kemudian ia kembali meletakkan hpku di atas meja.
“Papa sibuk,” wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam, ia memayunkan mulutnya dan menekuk wajahnya, dan itu terlihat lucu bagiku. Sepertinya tanpa kuminta pun, Iraz bakalan membantuku untuk memisahkan perempuan itu dari papa.
“Kenapa kau tersenyum, Zel? Apa kau tidak kesal?” tanyanya terlihat marah.
“Apa kamu benar-benar kesal atau hanya bercanda?” tanyaku masih dengan senyum yang terukir di bibirku.
“Aku rela bercanda seperti ini jika itu mampu mengukir kembali senyum di wajahmu, Zel,” seketika senyumku hilang, kulihat Iraz yang menatapku dalam, lama kami saling memandang dalam diam, hingga senyumnya membuatku sadar bahwa aku masih menatapnya, tatapanku seperti terkunci di dalam matanya.
“Kau tahu, Zel, meski saat ini kita hanya jalan berdua karena pekerjaan, bagiku cukup, hatiku sudah bahagia,” kata-kata lembutnya membuatku makin terpaku.
“Semudah itu aku bahagia karenamu, dan sesimple itu lah cintaku,” senyum manis itu membuat lesung pipinya terlihat jelas, sepertinya aku sudah terpikat kata-kata indahnya.
“Lebih baik kita kembali ke kantor, Zel,” lanjutnya sambil bangun dari duduknya, mengelus kepalaku sebelum beranjak keluar dari rumah makan itu. Setelah ia menghilang dari hadapanku, aku menghembuskan nafas lega, aku baru sadar kalau sejak tadi aku menahan nafasku.
Oh tuhan, apa yang terjadi padaku? Apa yang telah ia lakukan terhadapku?
***
“Pa, ini bukan rekayasa ataupun masa lalu seperti papa katakan, gambar dan rekaman ini baru saja terjadi tadi siang,” jelasku sambil memperhatikan raut wajah papa yang mulai marah.
Apa papa tidak percaya padaku? Apa papa akan marah lagi padaku? Pikiranku masih terus bertanya-tanya tentang apa tindakan papa selanjutnya.
“Apa kamu juga melihat hal ini tadi siang, Raz?” papa menatap Iraz penuh selidik. Pria yang berdiri di sampingku ini hanya menganggukkan kepalanya.
“Pa, percayalah, dia bukan istri yang baik buat papa,” lirihku.
“Yu, biarkan papa selesaikan ini dengan mamamu, kamu tidak perlu ikut campur lagi, sekarang keluarlah,” papa duduk di kursi kebesarannya dengan wajah sedih. Iraz menarik lenganku untuk ikut dengannya keluar dari ruangan itu.
Aku berdiri di atas gedung dan menatap jauh kebawah, kenapa aku tidak merasa bahagia? Kenapa aku sedih melihat papa seperti ini? Apa aku salah?
Sesuatu yang dingin menyentuh pipiku, kulihat sebuat minuman kaleng terarah kepadaku, aku langsung mengambilnya saat tau Iraz yang menawarkannya. Pria ini menarikku untuk duduk di kursi panjang yang tersedia di bawah pohon yang tersedia di taman yang ada di atas gedung. Aku ingat, dulu mama yang meminta papa untuk menciptakan taman buatan di atas gedung ini agar aku bisa lebih senang menunggu papa bekerja sambil bermain di sini, tentu saja ditemani mama.
“Apa aku salah, Raz?” kini hanya Iraz yang bisa menjadi pendengarku, aku tak tahu lagi dengan siapa harus berbagi cerita ini. Hidupku baik-baik saja saat mama masih ada, tapi setalah mama tiada, aku seperti kehilangan sebelah sayapku, aku tidak bisa terbang lagi.
“Tidak,” kulihat Iraz yang menatap jauh kedepan.
“Tapi kenapa aku tidak bahagia papa mengetahui semua ini?” aku masih menunggu jawaban Iraz, karena ini pertama kalinya aku bertanya padanya tentang masalah perasaan bukan masalah kantor.
“Semua juga tidak senang jika melihat orang tuanya sedih,” jawaban singkat itu membuatku mengerti, meski kebenaran yang aku katakan itu membuat papa sedih, tapi ini juga demi kebaikan papa.
“Papa hanya butuh waktu untuk menerima semua ini, aku yakin papa bisa menghadapinya, ia lelaki yang kuat,” Iraz menatapku sambil tersenyum manis, aku merasa tenang melihatnya. Ia menepuk bahuku seakan menyalurkan tenaganya padaku agar aku kembali tersenyum, dan ia berhasil.
***
“Berapa kali aku katakan jangan pernah bertemu dengan pria itu lagi! Sekarang kamu udan menjadi istriku, apa lagi yang kau harapkan?!” suara marah papa terdengar hingga ke pintu utama tempatku dan Iraz berdiri sekarang. Kami baru saja sampai di rumahku.
“Aku minta maaf, mas, ia yang memaksaku untuk bertemu dengannya, karena aku belum melunasi semua hutangku padanya, maafkan aku, mas,” tangis Renataa pun tak kalah kerasnya dengan suara papa.
“Tapi di foto dan video yang kulihat, kau malah terlihta sedang bermesraan dengannya, dan masalah hutang, bukannya kau bilang kau sudah melunasi semua hutangmu?! Aku sudah memberikan banyak uang untukmu bisa membayar hutangmu padanya, apa lagi alasan yang tidak masuk akal yang akan kau katakan?!” suara papa terdengar melemah.
Kulihat Iraz yang mulai masuk ke rumah, kuikuti langkahnya dengan ragu.
“Mulai sekarang, aku menceraikanmu Renataa, dan aku tak ingin melihat wajahmu lagi, keluar dari rumahku sekarang juga,” kulihat papa membelakangi Renataa yang duduk di lantai.
“Baiklah kalau itu keputusanmu, aku akan pergi, selamat tinggal, mas,” Renataa bangun dan melangkah melewatiku, tapi sebelumnya ia berhenti tepat disisiku.
“Kau sedang bermain api, manis, kupastikan kau akan menyesal telah mengeluarkanku dari rumah ini, ingat itu!” lirihnya tegas. Aku mantapnya sinis.
Ia kembali melangkah hingga keluar rumah, tak kuhiraukan perkataan perempuan itu, kini perhatianku sepenuhnya pada papa. Iraz menarikku untuk masuk ke kamarku.
“Kamu tunggu di sini, aku akan menemani papa, kamu tenang aja, jangan khawatir,” baru kali ini Iraz berkata menggunakan ‘kamu’, aku hanya menganggukkan kepalaku patuh.
“Kupercayakan papa padamu, aku tidak mau papa larut dalam sedihnya,” Iraz mengelus rambutku sambil tersenyum menenangkan, ia menganggukkan kepalanya sebelum keluar dari kamarku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, kuputuskan untuk beristirahat sejenak.
***
Kurasakan sentuhan halus dikepalaku, kucoba membuka mataku.
“Papa,” lirihku.
“Maafkan papa, sayang, papa bahkan menamparmu demi dia, maafkan papa,” papa menyentuh pipiku lembut, wajahnya terlihat jelas kesedihan yang mendalam dan penyesalan.
“Aku baik-baik saja, pa, yang terpenting sekarang, kita bisa bersama lagi,” kataku sambil menggenggam tangan papa lembut.
“Baiklah, lanjutkan istirahatmu, papa juga mau istirahat, oia, Iraz menitipkan ini untukmu, dan papa sangat setuju kalau kalian bersama,” papa meletakkan sebuah kotak di atas nakas sebelum pergi meninggalkanku.
Kuraih kotak dari atas nakas, kulangkahkan kakiku menuju balkon kamar, duduk di kursi santai yang bisa membuatku setengah berbaring sambil mentap langit. Kubuka kotak pemberian Iraz, didalamnya ada beberapa jenis biscuit coklat, dan permen, aku hanya bisa tersenyum melihatnya, dasar Serfiraz, dari mana pemikiran untuk mengirimku benda-benda ini? Kuraih secarik notes dan membukanya.
Aku tidak tau apa jenis cemilan dan permen yang kamu suka, jadi kumasukkan saja semuanya, semoga kamu suka. Makan yang manis-manis bisa mengurangi perasaan sedihmu.
By: Iraz
Senyumku semakin lebar, apa aku mulai termakan pesonanya? Kenapa ia memberiku sekotak cemilan dan permen? Apa karena ia tidak ingin aku sedih? Apa yang kufikirkan?
Tanpa pikir panjang, kuambil sebuah biscuit dan memakannya, aku ingin menghilangkan Iraz dari pikiranku, tapi semakin aku mengunyah biscuit ini, Iraz selalu hadir dipikiranku. Apa Iraz memberikan sesuatu di biscuit ini?
Drrrt drrrt drrrt
Kuraih hpku, sebuah chat dari nomor baru, langsung kubuka isi chatnya.
BRAK!
Hpku langsung terjatuh dari tanganku, pun biscuit yang kupegang. Aku terpaku, begitu kaget melihat apa yang dikirimkan oleh nomor baru itu.
Tok tok
***
Tok tok
Tak kuhiraukan ketukan pintu kamarku, aku masih terdiam, badanku bergetar, aku takut, sungguh.
“Zel?” tepukan Iraz dibahuku membuatku menatapnya dan air mata yang tadinya kutahan kini jatuh begitu saja.
“Hei, kenapa kamu menangis? Apa yang terjadi? Ini kenapa hpnya jatuh? Biskuitnya juga?” Iraz mengambil hp dan biscuit yang jauh, ia menatapku heran, aku masih menangis dalam diam.
“A…da…pes..an,” aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku, kubiarkan Iraz menatap hpku dan ia sama terkejutnya denganku. Rahangnya mengeras menahan mara, ia meremas hpku dan mungkin sebentar lagi ia akan melempar hpku ke sembarang arah, tapi nyatanya tidak, ia meletakkan hpku kembali ke nakas.
“Apa kamu pernah ngalamin hal ini sebelumnya?” tanya Iraz sambil duduk di hadapanku.
Aku hanya mampu menggelengkan kepalaku.
“Oke, jangan dihiraukan, kamu sangat pucat, Zel, lebih baik kamu istirahat dan jangan khawatir dengan foto itu, aku janji akan menemukan siapa pun yang mengirimkan gambar itu ke kamu,” Iraz membimbingku kembali ke tempat tidur, ia membaringkan tubuhku dan menyelimutiku.
“Sepertinya…aku tahu siapa orang yang mengirimkan foto itu,” kataku menghentikan langkah Iraz yang hendak keluar dari kamarku.
Ia kembali mendekatiku dan duduk di sisi tempat tidurku. Aku pun kembali bangun dan duduk menatapnya.
“Renataa, perempuan itu mengancam akan membuatku menyesal telah mengeluarkannya dari rumah ini, aku sangat yakin ini pasti perbuatannya,” Iraz mengerutkan keningnya, sepertinya ia meragukanku.
“Percayalah,” rajukku.
Ia hanya menganggukkan kepalanya sebelum kembali bangun hendak keluar.
“Tunggu, ada perlu apa kamu ke kamarku?” seingatku ini bukan jadwalnya bisa bertamu sesuka hatinya ke rumah ini, meski papa tidak pernah melarangnya, tapi lain halnya denganku. Dulu papa pernah menawarkan agar ia mau tinggal bersama kami, tapi karena ia tahu aku tidak menyukainya, ia pun memilih tinggal di apartemen.
“Aku hanya ingin melihat keadaanmu sebelum kembali ke apartemen, aku masih di sini saat kamu dan papa bicara, hanya saja aku tidak mau memberikan kotak itu secara langasung, dan satu hal, seharian ini aku tidak pernah tenang sebelum melihat senyummu, sepertinya kali ini aku tidak akan bisa tidur sebelum pemilik nomor itu tertangkap, jadi tidurlah, aku akan pastikan tidak akan ada yang bisa menyentuhmu, selamat malam, Zel,” setelah berkata panjang lebar, ia pun keluar dari kamarku.
Kenapa perkataannya mampu membuatku merasa aman? Meski seharian ini Iraz bertingkah aneh, oh Yuzella, berhenti memikirkannya dan tidurlah.
***
“Foto Yuzella diedit hingga menjadi berdarah dan kepalanya sampai terlepas dari lehernya, dan yang membuatku marah, foto itu mampu membuat Yuzel pucat dan menangis, shit! Brengsek!” Iraz terlihat begitu marah, aku tidak sengaja mendengar pembicaraannya entah dengan siapa, karena lawan bicaranya membelakangiku, aku hanya berdiri di depan pintu ruangannya saat mendengar Iraz berteriak marah, hingga kuputuskan untuk tidak masuk.
“Gua nggak mau tau, Ji, lu harus bisa melacak nomor itu, sejak semalam gua nggak bisa tidur meski orang-orang suruhan gua menjaga rumah mereka, tapi tetap saja aku nggak tenang sebelum orang itu ditemukan,” kulihat Iraz menatap orang yang panggil Ji itu tajam.
“Ini juga lagi dikerjain, Raz, sabar dong,” suara terdengar kesal.
Setelah melihat Iraz kembali duduk di hadapan lawan bicaranya, aku pun masuk setelah mengetuk pintunya terlebih dahulu.
“Sibuk, pak?” tanyaku mulai melangkahkan kakiku masuk dan duduk di sisi kiri Iraz. Kulihat Iraz tak merespon pertanyaanku, ia malah asik memperhatikanku.
“Hei,” aku melambaikan tanyanku di hadapannya, berharap ia menghentikan kegiatannya menatapku.
“Sorry, Zel, aku hanya ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja,” Iraz tersenyum tipis sebelum akhirnya kembali fokus memperhatikan lawan bicaranya yang setelah kulihat, memakai pakaian serba hitam, ditambah topi dan juga earphone yang terpasang ditelinga kirinya.
“YAP! Ketemu!” spontan Iraz bangun dan langsung duduk di sisi temannya, aku pun menyusulnya dan sekarang kami sama-sama menatap layar laptop temannya Iraz.
“Ini apaan, Ji?” tanya Iraz menatap Ji bingun, aku pun juga bingung, layar laptop Ji hanya menampakkan angka dan huruf tak beraturan.
“Nama pemilik kartu itu Renataa Jiandra, dan itu kartu sekali pake, sekarang sudah tidak aktif,” Iraz menatapku yang kini juga sedang menatapnya.
Drrrt drrrt drrrt
Getaran hp di saku rokku membuataku mengalihkan pandanganku dari Iraz, dan betapa terkejutnya aku saat melihat nomor yang tidak dikenal kembali mengirimiku pesan. Dengan cepat kuserahkan hpku ke Iraz yang masih bingung dengan tindakanku.
“Nomor yang tidak dikenal kembali mengirimiku pesan,” Iraz langsung mengambil alih hpku dan membukanya, wajah Iraz menegang. Ia memberikan hp itu ke Ji.
“Lacak nomor itu, pemiliknya beserta alamatnya,” baru pertama kalinya aku melihat Iraz berkata sedater itu.
“Sekarang, Panji!” bentakan Iraz membuat Panji yang tadinya masih duduk santai sambil melihat hpnya kini mulai kembali bekerja. Siapa sebenarnya Panji ini bagi Iraz, kenapa Panji kelihatannya takut dengan Iraz.
***
Aku masih duduk di sisi Panji sambil melihat caranya bekerja, meski sudah kuperhatikan, aku masih tidak bisa mengerti. Akhirnya kualihkan pandanganku melihat Iraz yang sedang berdiri mengahadap dinding kaca besar yang terletak di belakang kursi kebesarannya. Kulangkahkan kakiku mendekatinya dan bersiri disisinya.
“Apa isi pesan tadi, Raz?” tanyaku penasaran, meski aku takut melihatnya, tapi rasa ingin tahuku mengalahkan rasa takutku.
“Foto tubuh Renaata yang ditusuk, dipotong-potong, hingga dikubur,” kututup mulutku yang memekik kaget. Iraz langsung membimbingku untuk duduk saat aku mulai bersandar di dinding kaca tersebut. Dia memberiku air mineral dan langsung kuteguk setengah, aku butuh penetral tenggorokanku yang tercekat. Meski aku membenci Renaata, ia masih saja sahabatku, aku masih menginginkannya berubah seperti dulu, sekelebat kenangan indah yang kulewati dengannya terbayang indah dikepalaku, oh Tuhan, siapa yang tega melakukan hal itu?
“Dia disekitar kantor, Raz,” suara Panji membuatku dan Iraz saling bertatapan. Iraz langusng mendekati Panji, kali ini aku hanya duduk memperhatikan mereka.
“Aku meletakkan gps wireless di hpnya, jadi kita akan tahu dimana saja ia berada dan isi percakapannya,” Iraz menepuk bahu Panji.
“Bagus, lu selalu bisa buat gua puas, sekarang, hubungi Jion, kita butuh dia untuk penjagaan lebih ketat,” kulihat Panji langsung mengutak atik laptopnya sebelum akhirnya mengacungkan jempolnya ke Iraz.
“Raz,” lirihku memanggil Iraz, sepertinya aku mulai bergantung padanya. Iraz mendekatiku dan menepuk bahuku pelan.
“Semua kan baik-baik saja, kembalilah ke ruanganmu, aku akan mengabarimu jika aku menemukan pelakunya,” Iraz membimbingku agar kembali ke ruanganku.
“Tunggu, Raz, sebaiknya Yuzel di sini aja, pemilik nomor itu mulai masuk ke kantor,” kata Panji menghentikan langkahku dan Iraz.
Kami kembali duduk dan melihat layar laptop Panji yang menunjukkan denah gedung ini dan pion biru yang mulai bergerak memasuki lift. Hening, tak ada yang bersuara, hingga pion biru itu berhenti bergerak tepat di depan ruangan papa.
Dengan sigap Iraz lari keluar ruangan dan aku langsung menyusul langkahnya, kami sama-sama berlari ke ruangan papa, saat sampai di depan ruangan papa, Iraz langsung menerobos masuk pun denganku. Dan seketika tubuhku terduduk, melihat pemandangan di depanku.
“Papa…” lirihku tak percaya.
“Kau,”
“Hai Serfiraz dan Yuzella, selamat datang di dunia Prayoga, aku hanya ingin mengambil alih perusahaan ini, rencanaku ingin menikahi Yuzella dan dengan mudah bisa mewujudkan impianku, tapi Renaata merusak rencanaku, dan kini aku berhasil menyingkirkan wanita itu, dan sekarang, aku hanya perlu menyingkirkan kalian berdua,” kutatap pria yang sempat kucintai selama dua bulan itu. Tangan kanannya masih memegang senapan yang kuyakin baru saja digunakannya untuk menghabisi nyawa papa.
“Setelah kau membunuh kami, memangnya apa yang bisa kau dapatkan?” tanya Iraz meremehkan.
“Papamu baru saja menanda tangani surat wasiat yang menyatakan semua hak warisnya atas namaku,” tersirat kesombongan yang mendalam dari suara pembunuh itu.
“Hmm, bagaimana ceritanya bisa semudah itu?” Iraz terlihat sangat tenang, apa ia tidak takut mati? Senapan yang tidak memiliki bunyi saat pelatuknya ditarik itu sedang mengarah tepat ke jantungnya.
“Mudah saja, hanya dengan mengancam akan membunuh Yuzella, maka semua akan mudah, tapi papamu yang sedang dilanda kesedihan itu terlihat sangat menyedihkan, jadi kuputuskan untuk mengakhiri hidupnya saja, agar ia bisa bahagia di sana, hahaha,”
“Psikopat! Pembunuh!” aku berlari medekati pria itu dan menusuknya sengan tusuk konde yang kupakai untuk mengikat rambutku.
“YUZELLA!” suara terakhir yang aku dengar sebelum aku ambruk dan semua gelap.
***
“Zel, bangun, please…” suara itu terus masuk ke telingaku, tapi mataku tak sanggup untuk kubuka, kuusahakan menggerakkan tanganku, dan aku masih terus mencoba membuka mataku, hingga samar-samar terlihat ruangan putih dan dua pria yang berdiri di sisiku.
“Yuzella, akhirnya kamu sadar juga, syukurlah,” pandanganku semakin jelas, kulihat Iraz tersenyum lembut menatapku, dan disisinya ada Panji yang sudah membuka topinya,ia pun terlihat sangat lega.
“Apa yang terjadi, Raz? Aku dimana?”
“Kamu nggak perlu banyak ngomong dulu, sekarang yang penting, kamu harus sehat. Aku panggil dokter dulu buat ngecek kamu, ji, aku titip dia bentar ya,” dan Iraz keluar dari kamar ini.
“Ji, bisa kamu ceritakan apa yang terjadi sebenarnya, aku nggak bisa maksa Iraz untuk cerita, ia pasti tidak akan mau, kumohon,” kutatap Panji memohon.
“Ehem, baiklah, intinya di saat lu serang Yoga dengan tusuk konde, pria itu langsung memukul kepala lu dengan ujuk pistol yang dia pegang, selanjutnya, Jion masuk ke ruangan dan langsung menyergap Yoga yang sedang kesakitan, dan Iraz langsung ngebwa lu ke sini,” penjelasan Panji yang tenang dan datar membuatku faham, tapi sepetinya masih ada yang kurang dari ceritanya.
Tak lama keheningan yang menyelimutiku dan Panji, akhirnya Iraz masuk bersama dokter, dan aku sangat bersyukur karena kata dokter kepalaku tidak parah, hanya saja masih butuh nginap selama tiga hari untuk lebih memastikan bahwa kepalaku tidak menimbulkan muntah-munah atau pun demam.
Setelah dokter keluar, Panji pun izin pergi. Hanya Iraz yang masih duduk di sisiku sambil menatapku lembut. Senyum yang ia berikan padaku menyiratkan kesedihan, dan aku baru sadar, ada bekas air mata di pipinya.
“Kamu menangis, Raz?” tanyaku saat Iraz menggenggam tanganku yang bebes infuse.
“Iya, aku fikir aku bakal kehilangan orang yang kusayangi, lagi, untuk kesekian kalinya,” jawabnya tak menatapku, ia menunduk dalam. Suaranya terdengar serak, apa dia menangis? Dia menundukkan kepalanya di atas punggung tanganku yang bebas infuse, kurasakan setetes air membasahi punggung tanganku.
“Iraz…” lirihku. Apa benar kamu menyayangiku, Raz? Aku ingin bertanya, tapi suaraku tidak keluar.
“Aku sayang kamu, Zel, dan aku nggak ingin kehilangan kamu,” ia masih menunduk, suaranya masih serak, serat kesedihan.
“Kita nikah aja yuk!” kali ini ia menatapku lembut, pipinya masih basah. Aku menatapnya tidak percaya, bagaimana bisa ia menyayangiku sedang aku selalu berkata kasar padanya selama ini.
“Kamu bisa belajar menyukaiku, Zel, dan aku fikir, itu tidak akan butuh waktu lama,” Iraz menatapku sambil tersenyum manis, dan aku langsung tertular senyumnya.
“Mintalah pada papa,” kataku masih tersenyum, tapi senyum di wajah Iraz seketika hilang. Dan aku baru mengingat satu hal penting yang sempat kulupakan. Dengan segera kutatap Iraz dengan tatapan bertanya.
“Papa dimana? Apa papa selamat, Raz?”
Iraz yang menundukkan kepalanya membuatku mengerti, aku telah kehilangan papa. Aku sangat menyesal telah membuat papa dalam bahaya. Air mataku tak dapat kubendung, Iraz semakin mengeratkan genggamannya di tanganku, sebelum akhirnya memelukku, memberikan ketenangan dan kekuatan.
***
Tiga bulan kemudia…
“Saya terima nikah dan kawinnya Yuzella Natasyi binti Hata Natasyi dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai,” setelah kalimat itu terucap jelas, aku merasa lega dan gugupku hilang. Tante Mei langsung memelukku, dan membimbingku agar duduk di sisi Iraz.
Om Hatono memandangku tersenyum bahagia. Setelah pemakaman papa, adik satu-satunya papa itu menjadi waliku. Setelah menanda tangani buku nikah, dan memakai cincin dari Iraz serta mencium punggung tangannya, sekarang kami pun melakukan sungkeman, dan itu hanya ada tante Mei dan om Hatono.
“Jaga Yuzel baik-baik,”  pesan om Hatono di telinga Iraz terdengar jelas di telingaku, aku hanya tersenyum sambil masih memeluk tante Mei.
Tanteku setuju untuk tidak membuat wedding party besar-besaran, tapi karena om memaksa, jadi sekarang kami melanjutkan ke sesi wedding party yang di adakan di gedung mewah. Bagaimana tidak, perusahaan papa dan om terhitung perusahaan terbesar di Negeri ini, dan tamu undangan pun tidak sedikit. Tidak banyak yang ku kenal, tapi mereka semua mengenalku, lain halnya dengan Iraz, ia mengenal semua tamu yang hadir.
“Raz, bagaimana kamu bisa mengenal semua tamu undangan di sini?” tanyaku sambil menyikut lengannya.
“Papa selalu membawaku kemana pun dia pergi, dan hanya saat kamu membutuhkanku, baru papa melepasku, jeals aku mengenal mereka semua,” jawabnya sambil terus menyalami tamu yang naik ke atas pelaminan untuk memberikan ucapan selamat mereka pada kami.
“Panji dan Jion itu siapa?” akhirnya pertanyaan yang sempat membuatku penasaran itu tersampaikan juga.
“Mereka agen kepercayaanku sekaligus sahabatku, Jion seorang detektif dan Panji seorang Hacker,” aku hanya mangut-mangut.
“Aku masih penasaran dengan Yoga, Raz, bagaimana ia bisa mengenal Renaata, dan dimana Renaata sekarang?” kulihat Iraz menatapku tajam, aku sampai merinding dibuatnya.
“Berhenti penasaran dengan mereka, Zel, dan aku tidak akan pernah mau mendengar nama mereka lagi, aku harap kamu bisa mengerti,” kata-kata lembut Iraz hanya bisa membuatku nyengir, ia menyentuh pipiku lembut.
“Demi kebaikan kita, sayang,” aku sepertinya harus terbiasa dengan semua sikap manis ini. Aku jadi penasaran, bagaimana sikap Iraz lainnya, disaat ia marah mungkin, atau kesal atau…pikiranku beku saat sebuah kecupan mendarat di keningku, meski saat menikah tadi aku juga merasakannya, tapi saat ini rasanya berbeda. Kulihat Iraz yang menatapku lembut.
“Jangan mikirin apa-apa, sekarang nikmatin aja acara kita,” katanya mengelus keningku yang berkerut karena memikirkan banyak hal, padahal aku sedang memikirkannya. Aku hanya bisa tersenyum dan kembali fokus menerima salaman selamat dari para tamu, ini tamunya kapan habisnya?
“Dinikmatin aja, sabar ya sayang,” lagi-lagi suara Iraz membuatku tenang. Kalau boleh jujur, aku sangat lelah, tapi karena Iraz di sisiku, aku bisa betah lama-lama berdiri di sini. Sepertinya aku mulai menyukai suamiku ini, terima kasih papa, karenamu aku bisa bertemu dengannya, aku sayang papa.

Tamat








                                                                                                                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar