Jumat, 06 Desember 2013

Hujan

   "Alasan kamu suka aku apa?" Tanya Dani sedikit tersenyum.
Maria hanya diam, berusaha mengatur nafasnya, ia begitu gugup, saat Dani memintanya untuk berbicara 4 mata di salah satu ruang di kampus. 
   "Oke. Aku mulai suka kamu saat kita jalan bareng Alan, Damar, Karin dan Shaura ke event PKA. Tak tau kenapa, saat kamu pamit pulang dan tak ikut makan bareng kita, aku merasa ada yang hilang. Di tambah lagi dengan teman-teman di sekelilingku yang membuat hipotesa, kamu suka aku. Mereka melihat tingkahmu yang begitu super menggangguku, dan mereka mengganggap itu adalah cara kamu memperlihatkan rasa sukamu ke aku. Tapi kamu tenang aja, aku mulai belajar melupakan rasa itu, tapi, bagaimanapun, itu butuh waktu, dan tak secepat yang aku pikirkan. Kalau kamu terus bertanya, apa alasanku menyukaimu, aku tidak tahu." Jawaban itu membuat Dani tersenyum tipis. Maria hanya bisa bersikap acuh.
   "Ouh... jadi begitu. Bukannya kamu mulai suka aku, saat aku memberi gelar nama 'Korea' ke kamu? Aku nggak percaya, masak, sih, nggak ada alasan khusus. Kamu tau nggak, Karin juga sebenarnya suka aku, tapi dia memiliki alasan, mengapa dia suka aku, dia suka aku karena aku ahli dalam memainkan gitar, nah, kamu, masak, sih, nggak ada.?! "
   Suara Dani sedikit meninggi.
   "Jujur, aku juga nggak mau suka sama kamu, tapi aku juga nggak kuasa menghalangi rasa yang ada, yang masuk tanpa permisi. Udah lah, kamu juga udah nerangin dengan jelas, kalau kamu nggak suka sama aku. Ya udah."
   Maria bangun dari duduknya dan keluar dari ruangan itu.
   "Aku nggak ngerti." Kata Dani yang juga ikut keluar dari ruangan itu.
   Sepanjang perjalanan pulang, Maria hanya diam. Brina yang mengemudikan mobil, juga tak ikut bertanya dan berbicara. Hingga sampai di rumah.
   "Aku benci Dani!" Teriakan Maria itu sedikit keras, dan mampu menyita perhatian Shaura yang juga tinggal serumah dengan Brina.
   "Kenapa, Ri. Udah, jangan dipikirkan lagi, dia itu nggak pantas buat kamu, kamu itu terlalu baik bbuat dia, Ri. Udah, jangan nangis, Ri."
   Kata Shaura sambil mengelus pundak Maria yang mulai berguncang karena terisak tangis yang dalam. Brina hanya menatapnya sedih.
   "Aku mau ngelupain dia, Ra. Tapi itu sulit banget, karena dai selalu ada di sekitarku."
   "Iya, Ri. Kamu pasti bisa kok, seiring berjalannya waktu."
   "Amin, semoga bisa secepatnya."
   "Udahan nangisnya dong, Ri. Di luar juga hujan tuh, langit ikut nangis juga lihat kamu nangis, Ri."
   "Ntar, jemuranku nggak kering, Ri. Nggak sayang?"
   pertanyaan Brina membuat seulas senyuman muncul di bibir Maria.
   "Ah, Na. Emang, kalau aku berhenti nangis, hujan juga bakal berhenti, gitu."
   "Bisa jadi."
   Senyuman Brina membuat Maria ikut tersenyum.
   "Thanks."
   "Itulah gunanya teman."
   
-----

   "Apa kabar hatimu hari ini?"
   "Lebih baik."
   Maria berjalan memasuki kampus dengan senyum ria di wajahnya, bercanda ria dengan teman-temannya. Tak ada yang berubah dari sisi luarnya yang ceria dan having fun terus bawaannya. Jailnya pun tetap ada. 
   Meskipun Dani tetap ada di sekitarnya, namun, Dani tak lagi mengganggunya seperti yang biasanya dia lakukan. Tak ada lagi seruan-seruan 'korea' di sekelilingnya. Tak ada lagi Dani yang bersuara menyerukan nama itu. Meski, di saat di butuhkan, dia tetap memanggil Maria dengan sebutan itu.
   Tak ada yang tau, bagaimana isi hati Dani sebenarnya, tapi yang jelas, Maria mulai berjalan tanpa menghiraukan Dani, dan meskipun Dani tetap mengganggunya sekali-kali waktu, dia sudah mampu menanggapinya dengan tenang.
   Hari demi hari terus berjalan, setelah kejadian di ruang tertutup itu, kini Maria kembali menjadi dirinya sendiri. Tak ada lagi air mata yang keluar karena lelaki bernama Dani. Meski hujan tetap turun di waktu-waktu tertentu, namun, Maria tak lagi menghiraukannya sebagai pengikut dirinya yang menangis, namun, Maria lebih menikmati, setiap butir-butir air yang turun membasahi bumi itu dengan senyuman. Karena hujan, mampu membersihkan rasa sakit di hatinya. Dan semakin hari, rasa itu sembuh dengan sendirinya.
   Hanya saja, Dani masih seperti dirinya sendiri, tanpa peduli dengan sekelilingnya. Ia masih menjadi sosok yang tak begitu menghiraukan apa yang terjadi, hanya saja, ia mulai sedikit menjadi sosok yang pendiam. Meski tak jarang juga, ia masih suka berbicara, namun, seiring berjalannya waktu, ada dimensi lain dalam kehidupan Dani yang tak mampu di pahami oleh siapapun, yang mampu membat Dani sedikit berubah menjadi lelaki yang mulai peka akan perasaan orang lain.
   Apakah Dani mulai memperhatikan Maria, dan mulai menyadari akan kehilangan orang yang selama ini di ganggunya, atau kah, Dani hanya merasa bersalah, telah bersikap sesuka hatinya yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya salah faham atas sikapnya itu? Hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang tau.

____________________________________________The End
sky lover


Tidak ada komentar:

Posting Komentar