
Satu jam yang lalu
“Maaf, An. Aku udah nggak bisa ngelanjutin hubungan ini.
Aku sedang ingin sendiri.”
Ucapan itu mengalun begitu lembut dari bibirnya. Tak ada
keraguan di sana. Kata-kata itu begitu tegas, namun, tak bermakna. Dan sebutan
nama itu telah berganti, dari sebutan abang, menjadi An akhir dari namaku_ Aan,
aku sempat tersentak, namun semua masih bisa ku hadapi dengan tenang.
“Ya udah, untuk saat ini, kamu sendiri aja dulu, abang
janji, nggak bakalan ngeganggu kamu dulu.”
“An, ku mohon. Aku benar-benar ingin sendiri, dan focus
pada kuliahku, aku belum berfikir untuk serius menikah, jadi, aku harap kamu
mengerti. Aku masih ada impian dan harapan yang masih belum tercapai, jadi,
hubungan ini, kita cukupkan sampai di sini saja, ya. Maaf.”
Tanpa menghiraukanku, ia pergi begitu saja setelah
kata-kata itu keluar dari mulutnya. Meninggalkanku yang masih terdiam membisu.
Aku masih menatap kepergiannya hingga ia hilang di balik dinding kampusnya.
Aku hanya tersenyum sambil melangkah pergi meninggalkan
kampus itu. Aku memutar balik mobilku, dan melajukannya dengan kecepatan
tinggi. Aku tak peduli, apa yang akan terjadi selanjutnya, yang jelas sekarang
yang ku inginkan adalah mengadu padaNya. Aku tak butuh siapa-siapa sekarang,
yang ku butuhkan hanya lah ketenangan.
Ketika
kau hadir dalam hidupku, mengganggu pikiranku, dan merusak fokusku, aku tak
keberatan. Saat kau hadir mengacaukan semua pekerjaanku, membuatku tak mampu
berkutik, aku tak marah. Namun, saat kau hadir menghancurkan semua mimpiku,
membuatku tersakiti begitu dalam, hingga untuk berdiripun aku tak mampu. Kau
hadir dengan sejuta alasan agar kita putus. Aku tak menyangka, hanya sebatas
itu kau menyayangiku, hanya sebesar itu cintamu padaku?? Begitu mudahnya kau
menghancurkan semua yang telah terbina. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat,
dan begitu banyak kenangan yang telah tebingkai indah dalam memori. Tak ku
sangka, kau mampu mengucapkan kata pisah hanya karena alasan, kau sedang ingin
sendiri, aku tak percaya.
Sepersekian menit kemudian, mobilku masuk jurang, aku tak
tau bagaimana jelas kejadiannya, karena begitu cepatnya mobil yang ku
kemudikan, aku tak tau, mengapa ini bisa terjadi, yang pasti sekarang aku
begitu kesakitan hingga tak mampu bernafas, hanya suara segerombolan
orang-orang yang terdengar di telingaku. Begitu dekat dan keras, namun perlahan
suara itu memudar, hingga aku tak mampu mendengar apa pun.
Hening
Sepi
Hitam
Seminggu kemudian
“Aan…”
Suara
itu terdengar lirih. Itu suara mama, perlahan ku mampu membuka mataku,
samar-samar terlihat orang-orang di sekelilingku. Semakin jelas ku melihat,
mereka keluargaku, mama, papa, dik Arin dan perempuan yang menyakitiku, Icha.
“Sayang, kamu kenal mama, papa, dik Arin dan Icha, ingat
nggak sayang?”
Aku tak tahu apa penjelasan dokter tentangku hingga mama
menanyakanku tentang mereka. Namun, ku fikir, ini ada bagusnya juga, jadi aku
bisa pura-pura lupa ingatan tentang Icha.
“Bang…” suaranya masih seindah dulu, namun, itu takkan
membuatku merubah keputusanku.
“Siapa?”
Wajahnya
sedikit berubah saat aku bertanya siapa dirinya. Mungkin aku bisa dibilang
cowok paling tega, karena jujur, mata Icha masih berkaca-kaca saat ia memanggilku,
dan aku sama sekali tak menyangka, air matanya jatuh.
“Maaf, tapi, aku benar-benar nggak tau.” Aku jadi nggak
tega. Aku masih sangat menyayanginya, meski kata-kata yang diucapkan hari itu
begitu menyakitiku.
“Ma,
berapa lama Aan tak sadarkan diri? Kenapa Aan bisa di sini?” ku alihkan
pandanganku ke mama yang hanya tersenyum.
“Seminggu sayang. Mobilmu jatuh ke jurang sepulang ngantar
Icha ke kampusnya.” Jawab mama sambil mengelus rambutku.
“Icha…?” suaraku lirih, kembali ku tatap wajah itu.
Matanya sembab, dia hanya menunduk.
“Dokter bilang, kamu hanya butuh istirahat penuh, karena
kepalamu masih harus di ronsen, tak ada kemungkinan kamu lupa ingatan, An, jadi
kamu masih baik-baik saja, hanya butuh istirahat penuh. Mamamu terlalu
khawatir, makanya dia nanya ke kamu, apa masih kenal mama, papa, Arin dan Icha.
Kamu, sih, kalau mengemudi itu, pasang sabuk pengaman, jadi kamu pun aman, ini,
karena kecerobohanmu, kamu terlempar keluar mobil, hingga kepalamu membentur
batu besar, syukur kamu selamat dan tak apa-apa.”
Penjelasan
panjang papa itu membuatku membisu. Jadi, percuma aku pura-pura tak ingat Icha
dong! Arrrgh! Kenapa jadi begini, sih.
“Udah
papa. Sayang, papa, mama dan dik Arin
keluar sebentar ya, sayang. Sepertinya, kalian berdua harus bicara. “
Mereka keluar dari ruanganku di rawat. Perlahan Icha
mendekatiku. Ia duduk di sisi ranjang tempat ku berbaring. Aku benar-benar
membeku, tak tahu harus bagaimana. Ketahuan bohong itu sama sekali tak enak.
“Aku tau abang cuma pura-pura nggak kenal aku. Tapi,
kalau memang itu yang abang mau, aku terima. Aku pantas dapatin perlakuan
seperti itu, bahkan lebih, mungkin. Bang, aku benar-benar menyesal dan ingin
meminta maaf. Aku udah nggak tau harus ngapain.”
Ia berhenti sejenak sambil menyeka air matanya yang mulai
kembali mengalir. Air mata itu adalah kelemahanku, Cha, dan kamu tau itu.
“Aku mulai menyukai orang lain, bang. Aku mulai
menyayanginya sebulan yang lalu, namun, aku tak berani bicara sama abang, aku
takut abang marah dan tersakiti. Aku sayang abang, meski kita pacaran, tapi aku
tak bisa membalas cinta abang yang begitu dalam untukku. Aku minta maaf bang.”
Aku hanya mampu diam. Tak ada yang perlu ku katakana,
Icha…
“Tapi, saat abang masuk rumah sakit, aku baru sadar,
ternyata orang yang paling kubutuhkan adalah abang, aku baru menyadari kalau abang
adalah orang yang paling penting bagiku. Aku nggak mau yang lain, aku hanya
ingin abang sembuh dan kembali ada untukku.”
Kali ini aku hanya bisa tersenyum. Wajahnya memerah dan
ia kembali menunduk. Isaknya masih terdengar.
Hening…
Tak ada lanjutan dari kata-katanya. Tangannya memainkan
ujung kiri selimutku. Perlahan ku raih jemarinya, dan dengan otomatis, ia
langsung menatapku. Hatiku begitu sakit saat melihatnya seperti ini.
“Icha sayang abang, Icha nggak mau kehilangan abang.”
Katanya lirih sambil mengenggam tanganku yang lebih dulu menyentuhnya.
“Abang benci kamu.” Kataku sambil tersenyum kecut.
Wajahnya langsung cemberut.
“Nggak mungkin dong, abang juga sayang kamu, Cha.” Lanjutku
diiringi tawa ringan yang mampu membuat hatiku sedikit nyeri, dan kembali susah
bernafas.
“Aish! Abang!”
ujarnya kesal sambil memukul lenganku ringan.
“Outch! Sakit tau.”
“Oups! Sorry.” Katanya yang langsung mengelus lembut
lenganku.
“Will you merry me?”
Icha yang pemalu hanya mengangguk pelan, wajahnya
memerah. Aku hanya bisa mengelus kepalanya pelan.
Kami hanya saling diam dalam tatapan sayang dan senyuman
kebahagian. Rasa sakitku kalah dengan rasa senangku yang tak mampu diungkapkan
dengan kata-kata. Terima kasih Icha, kau telah sempurnakan cintaku. Terima kasih
Tuhan, atas semua pemberianMu, terutama atas bidadari yang satu ini.
THE END
Sky
Lover
Tidak ada komentar:
Posting Komentar