Kamis, 19 Desember 2013

Love Story

PESONA CINTA

Satu jam yang lalu
            “Maaf, An. Aku udah nggak bisa ngelanjutin hubungan ini. Aku sedang ingin sendiri.”
            Ucapan itu mengalun begitu lembut dari bibirnya. Tak ada keraguan di sana. Kata-kata itu begitu tegas, namun, tak bermakna. Dan sebutan nama itu telah berganti, dari sebutan abang, menjadi An akhir dari namaku_ Aan, aku sempat tersentak, namun semua masih bisa ku hadapi dengan tenang.
            “Ya udah, untuk saat ini, kamu sendiri aja dulu, abang janji, nggak bakalan ngeganggu kamu dulu.”
            “An, ku mohon. Aku benar-benar ingin sendiri, dan focus pada kuliahku, aku belum berfikir untuk serius menikah, jadi, aku harap kamu mengerti. Aku masih ada impian dan harapan yang masih belum tercapai, jadi, hubungan ini, kita cukupkan sampai di sini saja, ya. Maaf.”
            Tanpa menghiraukanku, ia pergi begitu saja setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya. Meninggalkanku yang masih terdiam membisu. Aku masih menatap kepergiannya hingga ia hilang di balik dinding kampusnya.
            Aku hanya tersenyum sambil melangkah pergi meninggalkan kampus itu. Aku memutar balik mobilku, dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Aku tak peduli, apa yang akan terjadi selanjutnya, yang jelas sekarang yang ku inginkan adalah mengadu padaNya. Aku tak butuh siapa-siapa sekarang, yang ku butuhkan hanya lah ketenangan.
Ketika kau hadir dalam hidupku, mengganggu pikiranku, dan merusak fokusku, aku tak keberatan. Saat kau hadir mengacaukan semua pekerjaanku, membuatku tak mampu berkutik, aku tak marah. Namun, saat kau hadir menghancurkan semua mimpiku, membuatku tersakiti begitu dalam, hingga untuk berdiripun aku tak mampu. Kau hadir dengan sejuta alasan agar kita putus. Aku tak menyangka, hanya sebatas itu kau menyayangiku, hanya sebesar itu cintamu padaku?? Begitu mudahnya kau menghancurkan semua yang telah terbina. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, dan begitu banyak kenangan yang telah tebingkai indah dalam memori. Tak ku sangka, kau mampu mengucapkan kata pisah hanya karena alasan, kau sedang ingin sendiri, aku tak percaya.
            Sepersekian menit kemudian, mobilku masuk jurang, aku tak tau bagaimana jelas kejadiannya, karena begitu cepatnya mobil yang ku kemudikan, aku tak tau, mengapa ini bisa terjadi, yang pasti sekarang aku begitu kesakitan hingga tak mampu bernafas, hanya suara segerombolan orang-orang yang terdengar di telingaku. Begitu dekat dan keras, namun perlahan suara itu memudar, hingga aku tak mampu mendengar apa pun.
Hening
Sepi
Hitam

Seminggu kemudian
“Aan…”
Suara itu terdengar lirih. Itu suara mama, perlahan ku mampu membuka mataku, samar-samar terlihat orang-orang di sekelilingku. Semakin jelas ku melihat, mereka keluargaku, mama, papa, dik Arin dan perempuan yang menyakitiku, Icha.
            “Sayang, kamu kenal mama, papa, dik Arin dan Icha, ingat nggak sayang?”
            Aku tak tahu apa penjelasan dokter tentangku hingga mama menanyakanku tentang mereka. Namun, ku fikir, ini ada bagusnya juga, jadi aku bisa pura-pura lupa ingatan tentang Icha.
            “Bang…” suaranya masih seindah dulu, namun, itu takkan membuatku merubah keputusanku.
            “Siapa?”
Wajahnya sedikit berubah saat aku bertanya siapa dirinya. Mungkin aku bisa dibilang cowok paling tega, karena jujur, mata Icha masih berkaca-kaca saat ia memanggilku, dan aku sama sekali tak menyangka, air matanya jatuh.
            “Maaf, tapi, aku benar-benar nggak tau.” Aku jadi nggak tega. Aku masih sangat menyayanginya, meski kata-kata yang diucapkan hari itu begitu menyakitiku.
            “Ma, berapa lama Aan tak sadarkan diri? Kenapa Aan bisa di sini?” ku alihkan pandanganku ke mama yang hanya tersenyum.
            “Seminggu sayang. Mobilmu jatuh ke jurang sepulang ngantar Icha ke kampusnya.” Jawab mama sambil mengelus rambutku.
            “Icha…?” suaraku lirih, kembali ku tatap wajah itu. Matanya sembab, dia hanya menunduk.
            “Dokter bilang, kamu hanya butuh istirahat penuh, karena kepalamu masih harus di ronsen, tak ada kemungkinan kamu lupa ingatan, An, jadi kamu masih baik-baik saja, hanya butuh istirahat penuh. Mamamu terlalu khawatir, makanya dia nanya ke kamu, apa masih kenal mama, papa, Arin dan Icha. Kamu, sih, kalau mengemudi itu, pasang sabuk pengaman, jadi kamu pun aman, ini, karena kecerobohanmu, kamu terlempar keluar mobil, hingga kepalamu membentur batu besar, syukur kamu selamat dan tak apa-apa.”
Penjelasan panjang papa itu membuatku membisu. Jadi, percuma aku pura-pura tak ingat Icha dong! Arrrgh! Kenapa jadi begini, sih.
“Udah papa. Sayang, papa, mama dan dik Arin  keluar sebentar ya, sayang. Sepertinya, kalian berdua harus bicara. “
            Mereka keluar dari ruanganku di rawat. Perlahan Icha mendekatiku. Ia duduk di sisi ranjang tempat ku berbaring. Aku benar-benar membeku, tak tahu harus bagaimana. Ketahuan bohong itu sama sekali tak enak.
            “Aku tau abang cuma pura-pura nggak kenal aku. Tapi, kalau memang itu yang abang mau, aku terima. Aku pantas dapatin perlakuan seperti itu, bahkan lebih, mungkin. Bang, aku benar-benar menyesal dan ingin meminta maaf. Aku udah nggak tau harus ngapain.”
            Ia berhenti sejenak sambil menyeka air matanya yang mulai kembali mengalir. Air mata itu adalah kelemahanku, Cha, dan kamu tau itu.
            “Aku mulai menyukai orang lain, bang. Aku mulai menyayanginya sebulan yang lalu, namun, aku tak berani bicara sama abang, aku takut abang marah dan tersakiti. Aku sayang abang, meski kita pacaran, tapi aku tak bisa membalas cinta abang yang begitu dalam untukku. Aku minta maaf bang.”
            Aku hanya mampu diam. Tak ada yang perlu ku katakana, Icha…
            “Tapi, saat abang masuk rumah sakit, aku baru sadar, ternyata orang yang paling kubutuhkan adalah abang, aku baru menyadari kalau abang adalah orang yang paling penting bagiku. Aku nggak mau yang lain, aku hanya ingin abang sembuh dan kembali ada untukku.”
            Kali ini aku hanya bisa tersenyum. Wajahnya memerah dan ia kembali menunduk. Isaknya masih terdengar.
            Hening…
            Tak ada lanjutan dari kata-katanya. Tangannya memainkan ujung kiri selimutku. Perlahan ku raih jemarinya, dan dengan otomatis, ia langsung menatapku. Hatiku begitu sakit saat melihatnya seperti ini.
            “Icha sayang abang, Icha nggak mau kehilangan abang.” Katanya lirih sambil mengenggam tanganku yang lebih dulu menyentuhnya.
            “Abang benci kamu.” Kataku sambil tersenyum kecut.
            Wajahnya langsung cemberut.
            “Nggak mungkin dong, abang juga sayang kamu, Cha.” Lanjutku diiringi tawa ringan yang mampu membuat hatiku sedikit nyeri, dan kembali susah bernafas.
            “Aish! Abang!”  ujarnya kesal sambil memukul lenganku ringan.
            “Outch! Sakit tau.”
            “Oups! Sorry.” Katanya yang langsung mengelus lembut lenganku.
            “Will you merry me?”
            Icha yang pemalu hanya mengangguk pelan, wajahnya memerah. Aku hanya bisa mengelus kepalanya pelan.
            Kami hanya saling diam dalam tatapan sayang dan senyuman kebahagian. Rasa sakitku kalah dengan rasa senangku yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Terima kasih Icha, kau telah sempurnakan cintaku. Terima kasih Tuhan, atas semua pemberianMu, terutama atas bidadari yang satu ini.
THE END

Sky Lover

Tidak ada komentar:

Posting Komentar