“Jangan paksa aku untuk jadi seperti
kamu, Ka!” nada tinggi yang dikeluarkan Fiyo mengundang banyak perhatian. Kini
semua mata pengunjung Restoran Sun itu tertuju pada dua perempuan cantik yang
duduk di sudut Restoran dekat jendela kaca.
“Kecilkan suaramu, Fi. Kau tau aku tak suka jadi perhatian banyak
orang,” kata Hika pelan.
Hening, tak ada yang bersuara. Kedua perempuan berambut pendek itu
kini diam, dan dengan sendirinya, pandangan yang sempat tertuju kepada mereka
pun menghilang. Restoran yang ramai itu kembali diriuhkan dengan mereka yang
asik dengan pasangan atau pun teman-teman mereka sendiri, hanya Fiyo dan Hika
yang masih diam.
“Aku nggak pernah maksa kau jadi seperti aku, Fi. Rajin berlatih, terus
berusaha dan kau percaya akan usahamu sendiri, cukup itu saja yang harus kau
lakukan,” kata Hika sambil menyeruput Cuppocino dingin miliknya.
Fiyo masih diam, ia hanya menatap Hika datar.
“Perlu kau ingat satu hal, Fi, aku takkan mengalah hanya karena kau
ditimpa musibah,” kata Hika sambil memainkan Hp-nya.
“Aku butuh uang itu, Ka,”
Lirih Fiyo, namun Hika tak mengubrisnya. Hika hendak bangun dari duduknya, tapi
isakan lirih Fiyo menghentikannya.
“Fi, kau menangis?” tanya Hika heran.
Fiyo terkenal cewek tomboy yang tak bisa menangis, sekeras apapun
teman-teman berusaha membuatnya menangis, ia tetap tak bisa menangis.
“Hika, aku mohon, jika kau mundur, maka dengan sendirinya, aku akan
menjadi juara 1 dan mendapatkan uang itu,” kata Fiyo sambil menghapus air
matanya.
“Oh Tuhan… kau masih tak mengerti maksudku, Fi?! Kau masuk semi
final dalam perlombaan bulu tangkis tunggal itu membuktikan bahwa kau bisa. Kau
hanya harus mengalahkanku, tapi kau malah memohon agar aku mundur?!” kata Hika
datar.
“Aku mohon…, Ka,” kembali Fiyo mencicit, tapi Hika keburu pergi
meninggalkan Fiyo yang masih menundukkan wajahnya.
***
Penonton memenuhi gedung tempat permainan bulu tangkis berlangsung.
Meskipun ini hanya pertandingan antar Universitas, tapi mampu membuat barisan
tempat duduk penonton penuh. Kini, mereka menantikan, siapa yang akan menjadi
bintang bulu tangkis putri.
Pendukung dari dua kubu masih ribut dengan yel-yel yang mereka
kumandangkan untuk masing-masing idola mareka hingga sampai saat ke dua pemain
memasuki lapangan hijau itu. Wasit yang duduk di sisi kiri tepat di tengah net
lapangan pun mulai memberi aba-aba kepada ke dua pemain.
“Ya, baiklah, kini ke dua pemain telah memasuki lapangan, dan dalam
hitungan detik, keduanya akan melangsungkan pertandingan semi final ini, mari
kita beri semangat bagi kedua pemain kita,” seru komentator yang duduk di
lantai dua namun mampu melihat lapangan dengan jelas.
Seketika gedung olah raga itu riuh oleh tepuk tangan dan siulan.
Kini wasit mulai hitung mundur, sebelum akhirnya, ia pun menurunkan tangannya,
tanda pertandingan sudah bisa dimulai.
“Ya, pemukul pertama jatuh kepada Hika perwakilan dari Universitas
Elite International, dengan pukulan yang cukup keras sehingga membuat Fiyo
perwakilan dari Universitas Darussalam sedikit kesusahan menangkapnya, permulaan
yang cukup panas ya, pak Diman?” kata komentator yang mewakili dua Universitas.
“Iya pak Jey, kalau kita perhatikan permainan yang baru beberapa
menit berlangsung ini, kita bisa melihat, ini terlalu cepat untuk membuat
sebuah permainan menjadi seru dan ‘panas’. Tapi, tak bisa dipungkiri, keduanya
pernah memenangkan perlombaan bulu tangkis ganda pada priode tahun lalu,
bukankah itu sesuatu yang tak mengherankan, jika keduanya langsung memulai
permainan ini dengan keras,” tanggapan pak Diman sambil tersenyum.
“Iya, pak, dan kita lihat sekarang, bagaimana Fiyo nampak kewalahan
berlari ke sana-sini untuk membalas pukulan Hika,” kata pak Jey dengan suara
yang di buat sendu.
“Dan sepertinya, Hika tak memberikan celah bagi Fiyo untuk sedikit
bernafas. Kita lihat bagaimana keduanya tak ada yang berniat untuk mengalah,
dan Ah! Akhirnya, Fiyo yang tak siap dengan smash yang tiba-tiba dilontarkan
Hika, membuat Hika mendapatkan angak di menit ke 15 ini, bagaimana menurut
anda, pak?” timpal pak Diman semangat.
“Pukulan Hika memang terkenal keras dan tak beraturan, sehingga
susah di tebak. Dan Fiyo semestinya lebih tau itu. Mereka ternyata tak sedekat
yang kita fikirkan, hahaha,”
“Hahaha, ah si bapak bisa saja. Permainan masih belum selesai, pak,”
Dua komentator itu terus memberikan komentar mereka terhadap dua
pemain. Para penonton dan penyemangat masing-masing pihak pun masih terus
bersorak riya.
Pertandingan terus berlangsung, dan Hika masih unggul di depan,
hingga permainan selesai pun, Hika masih unggul dengan skor 15-20. Pihak UEI
dan seluruh penonton dan penyemangatnya turun berhamburan ke lapangan demi
memeluk dan memberi selamat kepada Hika yang akhirnya menjadi pemenang di
pertandingan ini.
Sedangkan pihak UDs juga melakukan hal yang sama, namun tidak semeringah
para pemenang. Mereka tetap memeluk dan mengucapkan kata-kata penyemangat bagi
Fiyo.
***
“Fiyo!!” teriakan itu menghentikan langkah Fiyo yang mulai keluar
dari gedung olah raga itu.
Semua penonton maupun kru dari maisng-masing Universitas telah kembali
ke rutinitas mereka. Hanya tinggal beberapa dari para sahabat ke dua pemain
yang masih tinggal di gedung itu.
“Hika?” Fiyo menatap Hika
heran.
Hika berjalan mendekati Fiyo, ke duanya kini berdiri berhadapan,
tepat di depan gedung tersebut.
“Kenapa kau lesu begitu? Kau benar-benar membuatku kecewa, Fi.
Kenapa permainanmu seperti itu?! Kau tak serius dalam permainanmu barusan. Aku
tak puas,” kata Hika kesal sambil berkacak pinggang.
“Aku tak punya semangat lagi, Ka. Maaf kalau aku membuatmu tak puas
dengan permainan ini, tapi aku terlanjut putus asa, Ka,” kata Fiyo sambil
menundukkan kepalanya.
“Kau…” Hika tak melanjutkan kata-katanya. Ia menatap Fiyo tak
percaya, kenapa sahabatnya itu bisa sebegitu putus asanya, hingga tanpa sengaja
mengundang kekalahannya sendiri.
“Kau tau, Fi? Aku sengaja tak memberitahukanmu bahwa biaya operasi
ibumu telah di lunasi papa, dan aku baru dapat kabar bahwa ibumu telah berhasil
melewati operasi jantungnya,” kata Hika dengan nada lembut dan tulus.
“Kamu serius, Ka?” tanya Fiyo tak percaya.
“Kau kira aku main-main dengan hal seperti ini?! Aku tau ini sangat
penting bagimu. Aku sengaja tak memberitahumu tentang ini, aku mau lihat,
sejauh mana kau akan berusaha untuk mendapatkan hadiah itu demi ibumu. Ternyata
aku salah menilaimu, Fi,” Hika mundur dengan senyum kecewa. Ia kembali pergi
meninggalkan Fiyo yang tak mampu berkata-kata.
“Hika…” lirih Fiyo yang kembali menangis, sebelum akhirnya ia
melanjutkan kata-katanya yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri, “Maaf
dan terima kasih,”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar