Jumat, 04 September 2015

Tak Terduga

Jangan paksa aku untuk jadi seperti kamu, Ka!” nada tinggi yang dikeluarkan Fiyo mengundang banyak perhatian. Kini semua mata pengunjung Restoran Sun itu tertuju pada dua perempuan cantik yang duduk di sudut Restoran dekat jendela kaca.
“Kecilkan suaramu, Fi. Kau tau aku tak suka jadi perhatian banyak orang,” kata Hika pelan.
Hening, tak ada yang bersuara. Kedua perempuan berambut pendek itu kini diam, dan dengan sendirinya, pandangan yang sempat tertuju kepada mereka pun menghilang. Restoran yang ramai itu kembali diriuhkan dengan mereka yang asik dengan pasangan atau pun teman-teman mereka sendiri, hanya Fiyo dan Hika yang masih diam.
“Aku nggak pernah maksa kau jadi seperti aku, Fi. Rajin berlatih, terus berusaha dan kau percaya akan usahamu sendiri, cukup itu saja yang harus kau lakukan,” kata Hika sambil menyeruput Cuppocino dingin miliknya.
Fiyo masih diam, ia hanya menatap Hika datar.
“Perlu kau ingat satu hal, Fi, aku takkan mengalah hanya karena kau ditimpa musibah,” kata Hika sambil memainkan Hp-nya.
 “Aku butuh uang itu, Ka,” Lirih Fiyo, namun Hika tak mengubrisnya. Hika hendak bangun dari duduknya, tapi isakan lirih Fiyo menghentikannya.
“Fi, kau menangis?” tanya Hika heran.
Fiyo terkenal cewek tomboy yang tak bisa menangis, sekeras apapun teman-teman berusaha membuatnya menangis, ia tetap tak bisa menangis.
“Hika, aku mohon, jika kau mundur, maka dengan sendirinya, aku akan menjadi juara 1 dan mendapatkan uang itu,” kata Fiyo sambil menghapus air matanya.
“Oh Tuhan… kau masih tak mengerti maksudku, Fi?! Kau masuk semi final dalam perlombaan bulu tangkis tunggal itu membuktikan bahwa kau bisa. Kau hanya harus mengalahkanku, tapi kau malah memohon agar aku mundur?!” kata Hika datar.
“Aku mohon…, Ka,” kembali Fiyo mencicit, tapi Hika keburu pergi meninggalkan Fiyo yang masih menundukkan wajahnya.
***
Penonton memenuhi gedung tempat permainan bulu tangkis berlangsung. Meskipun ini hanya pertandingan antar Universitas, tapi mampu membuat barisan tempat duduk penonton penuh. Kini, mereka menantikan, siapa yang akan menjadi bintang bulu tangkis putri.
Pendukung dari dua kubu masih ribut dengan yel-yel yang mereka kumandangkan untuk masing-masing idola mareka hingga sampai saat ke dua pemain memasuki lapangan hijau itu. Wasit yang duduk di sisi kiri tepat di tengah net lapangan pun mulai memberi aba-aba kepada ke dua pemain.
“Ya, baiklah, kini ke dua pemain telah memasuki lapangan, dan dalam hitungan detik, keduanya akan melangsungkan pertandingan semi final ini, mari kita beri semangat bagi kedua pemain kita,” seru komentator yang duduk di lantai dua namun mampu melihat lapangan dengan jelas.
Seketika gedung olah raga itu riuh oleh tepuk tangan dan siulan. Kini wasit mulai hitung mundur, sebelum akhirnya, ia pun menurunkan tangannya, tanda pertandingan sudah bisa dimulai.
“Ya, pemukul pertama jatuh kepada Hika perwakilan dari Universitas Elite International, dengan pukulan yang cukup keras sehingga membuat Fiyo perwakilan dari Universitas Darussalam sedikit kesusahan menangkapnya, permulaan yang cukup panas ya, pak Diman?” kata komentator yang mewakili dua Universitas.
“Iya pak Jey, kalau kita perhatikan permainan yang baru beberapa menit berlangsung ini, kita bisa melihat, ini terlalu cepat untuk membuat sebuah permainan menjadi seru dan ‘panas’. Tapi, tak bisa dipungkiri, keduanya pernah memenangkan perlombaan bulu tangkis ganda pada priode tahun lalu, bukankah itu sesuatu yang tak mengherankan, jika keduanya langsung memulai permainan ini dengan keras,” tanggapan pak Diman sambil tersenyum.
“Iya, pak, dan kita lihat sekarang, bagaimana Fiyo nampak kewalahan berlari ke sana-sini untuk membalas pukulan Hika,” kata pak Jey dengan suara yang di buat sendu.
“Dan sepertinya, Hika tak memberikan celah bagi Fiyo untuk sedikit bernafas. Kita lihat bagaimana keduanya tak ada yang berniat untuk mengalah, dan Ah! Akhirnya, Fiyo yang tak siap dengan smash yang tiba-tiba dilontarkan Hika, membuat Hika mendapatkan angak di menit ke 15 ini, bagaimana menurut anda, pak?” timpal pak Diman semangat.
“Pukulan Hika memang terkenal keras dan tak beraturan, sehingga susah di tebak. Dan Fiyo semestinya lebih tau itu. Mereka ternyata tak sedekat yang kita fikirkan, hahaha,”
“Hahaha, ah si bapak bisa saja. Permainan masih belum selesai, pak,”
Dua komentator itu terus memberikan komentar mereka terhadap dua pemain. Para penonton dan penyemangat masing-masing pihak pun masih terus bersorak riya.
Pertandingan terus berlangsung, dan Hika masih unggul di depan, hingga permainan selesai pun, Hika masih unggul dengan skor 15-20. Pihak UEI dan seluruh penonton dan penyemangatnya turun berhamburan ke lapangan demi memeluk dan memberi selamat kepada Hika yang akhirnya menjadi pemenang di pertandingan ini.
Sedangkan pihak UDs juga melakukan hal yang sama, namun tidak semeringah para pemenang. Mereka tetap memeluk dan mengucapkan kata-kata penyemangat bagi Fiyo.
***
“Fiyo!!” teriakan itu menghentikan langkah Fiyo yang mulai keluar dari gedung olah raga itu.
Semua penonton maupun kru dari maisng-masing Universitas telah kembali ke rutinitas mereka. Hanya tinggal beberapa dari para sahabat ke dua pemain yang masih tinggal di gedung itu.
 “Hika?” Fiyo menatap Hika heran.
Hika berjalan mendekati Fiyo, ke duanya kini berdiri berhadapan, tepat di depan gedung tersebut.
“Kenapa kau lesu begitu? Kau benar-benar membuatku kecewa, Fi. Kenapa permainanmu seperti itu?! Kau tak serius dalam permainanmu barusan. Aku tak puas,” kata Hika kesal sambil berkacak pinggang.
“Aku tak punya semangat lagi, Ka. Maaf kalau aku membuatmu tak puas dengan permainan ini, tapi aku terlanjut putus asa, Ka,” kata Fiyo sambil menundukkan kepalanya.
“Kau…” Hika tak melanjutkan kata-katanya. Ia menatap Fiyo tak percaya, kenapa sahabatnya itu bisa sebegitu putus asanya, hingga tanpa sengaja mengundang kekalahannya sendiri.
“Kau tau, Fi? Aku sengaja tak memberitahukanmu bahwa biaya operasi ibumu telah di lunasi papa, dan aku baru dapat kabar bahwa ibumu telah berhasil melewati operasi jantungnya,” kata Hika dengan nada lembut dan tulus.
“Kamu serius, Ka?” tanya Fiyo tak percaya.
“Kau kira aku main-main dengan hal seperti ini?! Aku tau ini sangat penting bagimu. Aku sengaja tak memberitahumu tentang ini, aku mau lihat, sejauh mana kau akan berusaha untuk mendapatkan hadiah itu demi ibumu. Ternyata aku salah menilaimu, Fi,” Hika mundur dengan senyum kecewa. Ia kembali pergi meninggalkan Fiyo yang tak mampu berkata-kata.
“Hika…” lirih Fiyo yang kembali menangis, sebelum akhirnya ia melanjutkan kata-katanya yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri, “Maaf dan terima kasih,”
 
                                                                                   
                                                                                                                         
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar