Tet...
Tet...
Tet...
Bel rumahku terdengar nyaring, membuatku harus bangun dari tidurku, meski sebenarnya aku masih sangat mengantuk. Kulirik jam weker yang bertenggeng di atas meja dekat tempat tidurku, baru jam lima pagi, siapa yang menggangguku sepagi ini?! awas saja kalau orang yang tidak penting, akan kubunuh dia. Sebutlah aku lebay, aku tak peduli, aku tak pernah suka jika ada orang yang mengganggu tidurku.
Klik
"Assalamu'alaikum cantik. Maaf mengganggumu sepagai ini tapi, aku tak tau harus membawanya kemana lagi, hanya rumahmu yang paling dekat dengan lokasi tempat Al balapan," penjelasan Edi sambil membawa masuk Alvin itu masih membuatku bingung.
"Wa'alaikumsalam,"
Aku tak menghalangi Edi yang sedang menidurkan Alvin yang penuh dengan luka dan lecet-lecet itu di atas sofa ruang TV.
"Apa kau punya kotak P3K?" tanyanya menyadarkanku dari kebingunganku.
kulangkahkan kakiku ke bopet yang ada di dekat pintu dapur, kuambilkan kotak P3K dan segelas air hangat. Kuberikan kotak itu ke Edi dan meletakkan segelas air hangat itu di atas meja. Kuperhatikan Edi yang sedang mencoba membuat Alvin terbangun dari pingsannya.
"Semalam Alvin balapan seperti biasanya, tapi kali ini ia kalah karena rem motornya blong, sehingga membuatnya seperti sekarang ini. Syukur nggak aparah," penjelasan Edi yang masih sibuk menciumkan minyak kayu putih ke hidung Alvin itu membuatku geleng-geleng kepala.
"Sudah seratus kali dibilangin, jangan balapan. Masih juga seperti itu. Aku udah nyerah, Di," kataku sedih.
"Nggeee..." Alvin sedikit mengerang.
"Kau baik-baik saja? Apa yang kau rasakan?" tanya Edi khawatir.
"A...aku dimana? Aku merasa seluruh tubuhku pegal-pegal, sakit, bro," kata Alvin pelan.
"Kau dirumah Nadin, aku tak berani ambil resiko membawamu pulang dengan kondisi seperti ini," kata Edi sambil memukul bahu Alvin pelan namun mampu membuat Alvin menatap Edi dengan tatapan membunuh.
Ke dua sahabatku itu memang tak perna akur.
"Al... mau sampai kapan kamu tetap menekuni obsesi bahayamu itu?" tanyaku sambil memberinya air hangat yang ku letakkan di atas meja tadi.
Ia menerima air hangat itu, dan meneguknya hingga setengah gelas, kemudian memberinya pada Edi yang langsung menghabiskannya.
"Sampai aku puas, Nad," jawabnya sambil tersenyum tipis.
Aku hanya menghela nafas beratku. Bukan hanya aku yang dibuatnya selalu dalam keadaan khawatir saat ia mulai balapan, tapi juga ke dua orang tuanya yang baru-baru ini tau tentang obsesinya itu.
"Ya sudah kalau begitu, aku pamit dulu, ya. Ku titipkan dia padamu, Nad," kata Edi yang membuat mataku melotot.
"EDI! Kau gila, aku tak mau mengurusnya. Lebih baik antarkan ia kerumahnya," kataku jutek.
Tapi dengan sendirinya Alvin bangun dari tidurnya, aku sempat memegangnya saat ia hampir jatuh, Edi langsung mendekat dan ikut membantu Alvin berjalan.
"Aku ikut kau, Di. Aku tak ingin di sini, bisa-bisa aku berbuat yang tidak-tidak pada gadis cantik itu," kata Alvin dengan seringai jailnya. Aku menatapnya dengan tatapan membunuh dan itu hanya membuat ke dua sahabatku itu tertawa. Dasar! Gila!
"Kau yakin ikut aku pulang, aku tak menjamin kalau keluargamu tak akan marah melihatmu seperti ini, bro," kata Edi sambil membantu Alvin berjalan keluar rumah, ku ikuti mereka dari belakang.
"Aku yakin, mereka tak akan marah, karena mereka sangat menyayangiku," kata Alvin tersenyum bangga.
"Jangan terlalu yakin, bro. Lihat saja Nadin yang juga sayang padamu malah tak ingin mengurusmu, apa lagi orang tuamu," kata Edi yang mampu membuatku kembali cemberut dan Alvin menatapku lembut.
"Dia bukannya tak ingin mengurusku, hanya saja kau tahu, kami belum menikah, ya wajar saja kalau dia menolak mengurusku," kata Alvin yang tak melepas pandangannya padaku. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Oke oke, terserah kau saja, ayo kita pulang, Nad, kami pamit, ya. Terima kasih," kata Edi sambil membuka pintu mobilnya dan membantu Alvin untuk masuk ke mobil, kemudian ia pun ikut masuk ke mobil.
aku berjalan menghampiri mereka, aku berdiri di samping pintu mobil tempat Alvin duduk.
"Nyawamu hanya satu, Al. Kalau kamu tak menjaganya baik-baik, kamu akan menyesal jika kamu harus kehilangannya saat kamu tahu arti dari hidupmu yang sangat berarti itu," kataku tersenyum lembut ke arahnya.
Ia terlihat tertegun mendengar ucapanku.
Mobil itu pun melaju cepat, menghilang dari hadapanku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar