Ia
menatapku datar, tatapan yang sudah sering kulihat. Ia tak pernah menampakkan
ekspresi apapun dalam tatapannya itu, selama lima tahun hidup bersama, aku
sudah terbiasa dengannya. Pria tampan itu melihat jam tangannya, mengehembuskan
nafas beratnya, seakan ia menanggung beban yang berat. Aku tahu ia duduk di
sini ingin berbicara serius denganku tapi, lima belas menit hanya kami lewatkan
dalam keheningan. Aku tak berani membuka suaraku, meski kami hidup sebagai
suami-istri, tak ada cinta darinya untukku.
Wajah
maskulinnya terlihat cemas, ia masih setia diam tanpa menatapku sama sekali.
Apa yang terjadi dengannya? Sejak ia duduk di hadapanku, pakaiannya yang sudah
tak rapi, rambut yang acak-acakan, semakin menambah ketampanannya, dan kaca
mata yang sudah dilepaskannya, membuatku sangat penasaran, apa yang telah
terjadi di kantornya?
Suara
getaran hp di atas meja membuatnya dengan cepat mengambilnya dan mulai serius
membaca isi pesan tersebut. Rahang dan wajahnya mengeras, mata itu menyipit, ia
sedang menahan kemarahannya. Sebenarnya, apa yang terjadi, Juan?
“Aku hanya ngomong sekali, dengar baik-baik,” tiba-tiba
suara bariton itu membuatku beku. Ia menyimpan kembali hpnya, kemudian menatapku
sendu. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk mengerti.
“Jangan senyum-senyum!” suaranya naik beberapa
oktaf, sempat membuatku terkejut, dan dalam sekejab senyumku menghilang.
Meski
kami tak hidup dalam cinta, ia tak pernah berbuat kasar pun meneriakiku.
Tatapannya berubah tajam, membuatku merinding.
“Dengar,
kita nggak bisa nerusin hubungan palsu ini jadi, mulai saat ini, aku talak kamu
dengan talak satu!”
APA?!
Apa
telingaku tak salah dengar? Ia baru saja menceraikanku? Apa maksudnya? Tapi,
kenapa? Tadi pagi, kami masih baik-baik saja. Apa yang terjadi, kenapa ia
menceraikanku?
Aku
bergetar, lututku lemas, seandainya aku tidak sedang duduk, bisa kupastikan aku
sudah terduduk lemas di lantai. Aku tak menyangka, ia baru saja menceraikanku. Aku
fikir, kenpa ia mengajakku makan siang di luar? Aku sempat berharap bahwa
perasaan cintaku terbalas, tapi yang terjadi malah sebaliknya.
“Dengan
secepatnya, aku akan mengirimkan surat cerai padamu, dan ingat, jangan
memperlambat proses ini, mengerti!” ia mengeluarkan dua lembar uang seratusan
sebelum pegi meninggalkanku.
“Kenapa?”
Air
mata ku sudah akan tumpah, kutatap wajahnya yang mulai melembut begitu pun
tatapannya.
“Papa
memintaku menceraikanmu, karena perusahaan sudah kembali membaik, dan papa
ingin aku menikah dengan perempuan yang aku cintai. Kau tau, aku tak pernah bisa
membantah si tua itu,” katanya sambil menunduk lesu.
“Boleh
aku bertanya untuk terakhir kalinya?”
Ia
hanya mengangguk dan menatapku sendu.
“Apa
kau pernah mencintaiku?” akhirnya pertanyaan itu tersmpaikan, dan bening itu
pun jatuh. Aku tak kuat menahan air mata ini lebih lama.
Aku
sanggup jika ia tak pernah mencintaiku, bahkan tak pernah pula menyentuhku. Aku
bisa bertahan di sisinya meski tak jarang ia tak pulang ke rumah. Aku bisa
mengerti ia tak bisa membuatku merasa seperti istri yang sangat dicintai suami
tapi, asalkan aku bisa mengurus semua keperluannya, dan memastikan bahwa dia
selalu baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku. Aku bisa bernafas lega setiap
mendapatinya pulang dalam keadaan baik-baik saja. Aku memang bodoh, menerima
pernikahan bisnis ini meski tanpa cinta, tapi rasa itu hadir tanpa izinku,
masuk begitu dalam hingga aku tak sanggup hidup jika tak melihatnya.
“Aku
tidak tahu,” jawabnya sambil bangun dan pergi meninggalkanku yang masih
terisak.
***
Ya
Rabb, apa salahku hingga aku tak bisa bersamanya lagi? Apa ini memang takdirmu
untukku? Aku hanya mengadu padaMu, hanya meminta padaMu. Selama ini aku selalu
taat padamu juga pada mantan suamiku itu, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Mesjid
yang sekarang kudatangi telah sepi, tapi aku masih duduk dengan Al Quran di
tanganku. Aku terisak dalam melantunkan ayat-ayat suci itu, suaraku mulai
serak. Aku masih berusaha untuk bisa tenang, tapi tidak bisa. Ini terlalu
tiba-tiba. Aku tidak siap ya Rabb.
“Bisa
kamu hentikan isakanmu? Itu sangat menggangguku,”
Suara
itu seperti bisikan, tapi aku bisa
mendengarnya dengan jelas.
“Jika
kamu sedang patah hati atau apapun yang bisa membuatmu menangis di Mesjid ini,
maka yang kamu butuhkan adalah keluar dari sini, dan carilah sesuatu yang
membuatmu tenang tanpa harus mengganggu ketenangan orang lain, jika kamu
menangis karena patah hati, keluarlah, lihatlah lebih jauh, di sana masih
banyak lelaki yang bisa kamu jadikan sandaran, jangan berlarut dalam kesedihan,
karena itu hanya akan sia-sia,” suara itu membuatku kesal, ingin rasanya aku
membuka tirai pembatas antara jamaah perempuan dan laki-laki itu dan menampar
siapa pun ia.
“Percayalah,
Allah akan selalu bersamamu kemanapun kamu pergi, dan semua kejadian yang
membuatmu menangis itu pasti akan digantikanNya dengan senyuman kebahagiaan
kelak, tapi itu akan terjadi jika kamu percaya padaNya,”
Aku
tertegun. Ia benar, aku tak bisa terus berlarut dalam kesedihan ini, jalanku
masih panjang meski kini aku janda, cerita hidupku belum tamat.
“Terima
kasih,” ujarku tulus sebelum memilih meninggalkan mesjid dengan hati yang lebih
tenang.
The
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar