Senin, 24 Juli 2017

TAMAT



Ia menatapku datar, tatapan yang sudah sering kulihat. Ia tak pernah menampakkan ekspresi apapun dalam tatapannya itu, selama lima tahun hidup bersama, aku sudah terbiasa dengannya. Pria tampan itu melihat jam tangannya, mengehembuskan nafas beratnya, seakan ia menanggung beban yang berat. Aku tahu ia duduk di sini ingin berbicara serius denganku tapi, lima belas menit hanya kami lewatkan dalam keheningan. Aku tak berani membuka suaraku, meski kami hidup sebagai suami-istri, tak ada cinta darinya untukku.
Wajah maskulinnya terlihat cemas, ia masih setia diam tanpa menatapku sama sekali. Apa yang terjadi dengannya? Sejak ia duduk di hadapanku, pakaiannya yang sudah tak rapi, rambut yang acak-acakan, semakin menambah ketampanannya, dan kaca mata yang sudah dilepaskannya, membuatku sangat penasaran, apa yang telah terjadi di kantornya?
Suara getaran hp di atas meja membuatnya dengan cepat mengambilnya dan mulai serius membaca isi pesan tersebut. Rahang dan wajahnya mengeras, mata itu menyipit, ia sedang menahan kemarahannya. Sebenarnya, apa yang terjadi, Juan?
 “Aku hanya ngomong sekali, dengar baik-baik,” tiba-tiba suara bariton itu membuatku beku. Ia menyimpan kembali hpnya, kemudian menatapku sendu. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk mengerti.

 “Jangan senyum-senyum!” suaranya naik beberapa oktaf, sempat membuatku terkejut, dan dalam sekejab senyumku menghilang.
Meski kami tak hidup dalam cinta, ia tak pernah berbuat kasar pun meneriakiku. Tatapannya berubah tajam, membuatku merinding.
“Dengar, kita nggak bisa nerusin hubungan palsu ini jadi, mulai saat ini, aku talak kamu dengan  talak satu!”
APA?!
Apa telingaku tak salah dengar? Ia baru saja menceraikanku? Apa maksudnya? Tapi, kenapa? Tadi pagi, kami masih baik-baik saja. Apa yang terjadi, kenapa ia menceraikanku?
Aku bergetar, lututku lemas, seandainya aku tidak sedang duduk, bisa kupastikan aku sudah terduduk lemas di lantai. Aku tak menyangka, ia baru saja menceraikanku. Aku fikir, kenpa ia mengajakku makan siang di luar? Aku sempat berharap bahwa perasaan cintaku terbalas, tapi yang terjadi malah sebaliknya.
“Dengan secepatnya, aku akan mengirimkan surat cerai padamu, dan ingat, jangan memperlambat proses ini, mengerti!” ia mengeluarkan dua lembar uang seratusan sebelum pegi meninggalkanku.
“Kenapa?”
Air mata ku sudah akan tumpah, kutatap wajahnya yang mulai melembut begitu pun tatapannya.
“Papa memintaku menceraikanmu, karena perusahaan sudah kembali membaik, dan papa ingin aku menikah dengan perempuan yang aku cintai. Kau tau, aku tak pernah bisa membantah si tua itu,” katanya sambil menunduk lesu.
“Boleh aku bertanya untuk terakhir kalinya?”
Ia hanya mengangguk dan menatapku sendu.
“Apa kau pernah mencintaiku?” akhirnya pertanyaan itu tersmpaikan, dan bening itu pun jatuh. Aku tak kuat menahan air mata ini lebih lama.
Aku sanggup jika ia tak pernah mencintaiku, bahkan tak pernah pula menyentuhku. Aku bisa bertahan di sisinya meski tak jarang ia tak pulang ke rumah. Aku bisa mengerti ia tak bisa membuatku merasa seperti istri yang sangat dicintai suami tapi, asalkan aku bisa mengurus semua keperluannya, dan memastikan bahwa dia selalu baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku. Aku bisa bernafas lega setiap mendapatinya pulang dalam keadaan baik-baik saja. Aku memang bodoh, menerima pernikahan bisnis ini meski tanpa cinta, tapi rasa itu hadir tanpa izinku, masuk begitu dalam hingga aku tak sanggup hidup jika tak melihatnya.
“Aku tidak tahu,” jawabnya sambil bangun dan pergi meninggalkanku yang masih terisak.
***
Ya Rabb, apa salahku hingga aku tak bisa bersamanya lagi? Apa ini memang takdirmu untukku? Aku hanya mengadu padaMu, hanya meminta padaMu. Selama ini aku selalu taat padamu juga pada mantan suamiku itu, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Mesjid yang sekarang kudatangi telah sepi, tapi aku masih duduk dengan Al Quran di tanganku. Aku terisak dalam melantunkan ayat-ayat suci itu, suaraku mulai serak. Aku masih berusaha untuk bisa tenang, tapi tidak bisa. Ini terlalu tiba-tiba. Aku tidak siap ya Rabb.
“Bisa kamu hentikan isakanmu? Itu sangat menggangguku,”
Suara itu seperti bisikan, tapi aku  bisa mendengarnya dengan jelas.
“Jika kamu sedang patah hati atau apapun yang bisa membuatmu menangis di Mesjid ini, maka yang kamu butuhkan adalah keluar dari sini, dan carilah sesuatu yang membuatmu tenang tanpa harus mengganggu ketenangan orang lain, jika kamu menangis karena patah hati, keluarlah, lihatlah lebih jauh, di sana masih banyak lelaki yang bisa kamu jadikan sandaran, jangan berlarut dalam kesedihan, karena itu hanya akan sia-sia,” suara itu membuatku kesal, ingin rasanya aku membuka tirai pembatas antara jamaah perempuan dan laki-laki itu dan menampar siapa pun ia.
“Percayalah, Allah akan selalu bersamamu kemanapun kamu pergi, dan semua kejadian yang membuatmu menangis itu pasti akan digantikanNya dengan senyuman kebahagiaan kelak, tapi itu akan terjadi jika kamu percaya padaNya,”
Aku tertegun. Ia benar, aku tak bisa terus berlarut dalam kesedihan ini, jalanku masih panjang meski kini aku janda, cerita hidupku belum tamat.
“Terima kasih,” ujarku tulus sebelum memilih meninggalkan mesjid dengan hati yang lebih tenang.

The End


Tidak ada komentar:

Posting Komentar