I
Darel
duduk di atas gedung sekolah dengan menjulurkan kedua kaki ke bawah dan
sebatang rokok di tangan kiri yang tinggal setengah. Kemeja biru bertengger
manis di bahu kiri sedang ia kini hanya mengenakan kaos biru pekat dengan tulisan
Be Mine. Rambut yang semula tertata rapi kini acak-acakan, kulitnya yang
berwarna putih pucat berubah sedikit memerah karena menahan emosi, bola mata
berwarna hitam pekat itu menatap sayu ke bawah gedung. Cowok yang terkenal jenius
ini terus larut dalam dunia fikirannya sendiri hingga ia tak menyadari
seseorang telah berdiri di sampingnya.
“Kamu
belum pulang? Sekolah sudah sepi, pesta kelulusan pun sudah berakhir, apa kamu
berniat untuk menginap di sekolah?” pertanyaan itu membawa Darel kembali ke
dunia nyata.
Ia
tak langsung menjawab, dihisap habis rokok yang tinggal sedikit, kemudian
memadamkan api dan melemparnya ke bawah gedung.
“Aku
masih memikirkan sesuatu,” ucapan Darel mampu membuat orang disisinya itu ikut
duduk.
“Apa
yang kamu fikirkan? Masa depan yang sudah papa tentukan untukmu?”
Tebakan
cowok yang memiliki wajah yang sama dengan Darel itu hanya mendapat anggukan darinya.
“Aku
tau papa hanya menumpukkan semua harapan masa depan perusahaan itu padamu, tapi
menurutku itu yang terbaik bagimu, kak,” Darel menatap kembarannya tajam.
Cowok
yang masih rapi itu dengan tenang melanjukan kata-katanya.
“Aku
akan sangat berterima kasih jika kamu memenuhi harapan papa,” ucap Farel
menatap Darel dengan tersenyum hangat. Hal itu membuat Darel semakin emosi.
“Apa
kamu melakukan sesuatu?! Apa yang kamu katakan pada papa hingga papa memberiku
pesan seperti itu?!” tanya Darel dengan suara meninggi.
“Aku
hanya mengatakan pada papa bahwa kamu bersedia menggantikan papa mengurus
perusahaan,” jawaban Farel semakin membuat Darel hilang kendali.
“Kamu
tahu aku sudah mendaftar di Art University di Paris, dan aku lulus beasiswa. Kamu
ikut senang mendengarnya tapi, kenapa sekarang kamu melakukan ini? Apa saat itu
kamu hanya berpura-pura?” suara Darel mulai serak, matanya memerah menahan agar
air matanya tak jatuh. Ia bangun dari duduknya.
“Kamu
kakakku, dan sudah seharusnya kamu tidak bermimpi untuk melarikan diri dari
tanggung jawab seorang penerus, kamu harus dan wajib menanggungnya, kak,” kata
Farel sambil ikut berdiri. Ia menatap Darel datar.
“Aku
tidak pernah berpura-pura saat itu, aku ikut bahagia tentunya. Tapi, keadaan
yang membuatku harus melakukan hal itu, kak,” kata Farel menekankan.
“Apa
alasan yang membuatmu ikut campur dalam hal itu?” tanya Darel datar. Ia mulai
bisa menguasai emosinya, bagaimana pun, mereka berada di tempat yang
memungkinkan mereka kehilangan nyawa mereka, jika saja mereka salah langkah, meski
gedungnya hanya sampai 3 tingkat.
“Aku
juga berhasil mendapatkan beasiswa di Jepang, dan aku tak mau jika harus
meninggalkan mimpiku hanya untuk menggantikanmu di perusahaan,” jujur Farel
sambil pergi, Darel menatapnya tak percaya.
“Aku
pulang naik taxi,” lanjutnya sebelum menghilang dari pandangan Darel.
Farel
sangat mencintai dunia tekhnologi dan mesin, sedangkan Darel sangat mencintai
dunia seni, lebih ke arah seni lukis, mereka sama-sama mencintai mimpi mereka.
Namun, perusahaan orang tuanya yang terjun di bidang produksi makanan ringan
dan softdrink membuat keduanya tidak tertarik untuk menggantikan posisi papa
mengurus perusahaan itu.
Darel
kemudian turun dari tembok pembatas dengan pikiran yang masih kacau balau. Ia
tau, Farel sama egois dengan dirinya tapi, ia pun tak ingin kalau Farel harus meninggalkan
mimpinya. Ia begitu menyayangi adiknya itu.
Ia
masih teringat dengan perkataan Farel tadi yang terlihat egois, ia tak pernah
menyangka kalau kembarannya itu mengatakan semua dengan tenang. Meski sejak
dulu mereka akur, saling membantu, lepih tepatnya, Darel yang sering membantu
Farel mengatasi semua masalah yang ia lakukan saat di sekolah, agar tidak
diketahui papa mereka. Darel sering menggantikan Farel mengerjakan hukumannya.
Semua itu ia lakukan semata karena ia menyayangi Farel dan tak ingin Farel kena
hukuman apapun, hatinya yang lebih lembut jelas tak ingin adiknya lelah atau
pun sakit.
“Apa
selama ini aku terlalu memanjakan dan mengabulkan semua keinginannya hingga ia
bisa berkata demikian dengan mudahnya?” lirih Darel sambil menuruni tangga
menuju ke parkiran.
***
Suasana
rumah besar itu sunyi, hanya dentingan suara sendok dan garpu yang beradu
dengan piring terdengar menemani makan malam keluarga Bramantio Oni. Mereka
seperti asik dengan pikiran mereka masing-masing.
Bramantio
Oni seorang yang sangat tegas, ia mendidik kedua putranya dengan banyak
tuntutan. Mulai dari SD hingga mereka lulus dengan peringkat terbaik dari SMA
ternama dikotanya, mereka selalu memenuhi tuntutan Bramantio dengan menjadi
murid jenius serba bisa dan tidak pernah membuat masalah, meski ada, itu tak
pernah berakibat fatal. Keduanya menjadi idola di sekolah pun tidak menjadi
masalah bagi Bramantio asalkan mereka tidak pernah menjalin hubungan dengan
perempuan mana pun. Karenanya pula, Darel maupun Farel tak pernah pacaran meski
tak jarang mereka membuat cewek-cewek di sekolah patah hati.
Kini,
saat mereka memiliki mimpi mereka masing-masing, Bramantio dengan tegas meminta
pada keduanya untuk mengurus cabang perusahaan yang dibangunnya. Baik Darel
atau pun Farel tetap dipaksa untuk tidak kuliah di bidang selain bidang bisnis
dan managemen pemasaran, ia ingin keduanya bisa mengembangkan perusahaannya. Ia
tak peduli meski keduanya telah diterima beasiswa di luar negeri. Ia tahu hal
itu, hanya saja, pria yang tak muda lagi itu memilih untuk tetap egois.
“Pa,”
suara Darel memecah kesunyian makan malam mereka.
“Hm,”
sahut papanya masih dengan mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya, sedangkan
Farel hanya memperhatikan apa yang akan diucapkan Darel.
“Aku
akan berangkat ke Paris, besok,” Darel sudah memutuskan untuk mengatakan keputusannya,
ia ingin semuanya jelas sekarang.
Sontak
Bramantio menghentikan aktifitasnya yang ingin memasukkan sedikit minuman ke
mulutnya, dan Farel menatap Darel terkejut., bagaimana bisa ia mengatakan hal
itu, fikirnya.
“Kak,”
lirih Farel menatap Darel tak percaya, sedangkan yang ditatap hanya memasang
wajah dingin dan sedikit membuat Farel
merinding, baru kali ini Farel melihat tatapan tenang namun tajam itu.
“Kalau
kamu keluar dari rumah ini, maka jangan pernah kembali! Papa akan melepaskanmu
seutuhnya, jika itu keputusanmu, fikirkan baik-baik, setelah itu,..”
“Aku
sudah memutuskannya, pa,” kata Darel tegas memotong perkataan Bramantio. Farel
semakin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang, kakaknya yang amat
patuh membantah papa bahkan memotong perkataannya. Mulut Farel sampai terbuka
melihat Darel yang masih tenang.
“Baik!
Mulai sekarang, kamu bukan lagi bagian dari keluarga ini! Detik ini juga,
tinggalkan rumah ini, dan jangan berani membawa apa pun yang pernah kamu
dapatkan dengan uangku!” Bramantio mengebrak meja makan sebelum meninggalkan
mereka.
Terlihat
jelas kemarahan di wajah Bramantio sebelum menghilang dari pandangan dua anaknya
itu, suara tegas diiringi kemarahan masih terngiang jelas di kepala Darel atau
pun Farel, keduanya tak pernah melihat kemarahan papanya secara langsung, meski
mereka pernah mendengar rumor tentang papanya yang sangat mengerikan jika
sedang marah.
“Kak,
apa kamu serius? Tolong fikirkan kembali, kak,” kata Farel mencoba tenang,
meski suaranya terdengar jelas gemetaran.
“Maaf,
Farel. Aku harus pergi,” Darel meninggalkan Farel begitu saja.
Hati
Farel sakit, apa sebuah mimpi itu sangat berharga hingga kamu dengan mudahnya
membuang ikatan keluarga, kak? tanya hati Farel yang masih menatap punggung
Darel yang semakin menjauh hingga menghilang di balik pintu kamarnya.
Farel
duduk termenung, ia masih menata perasaannya yang beberapa kali terkejut malam
ini, mulai dari kelakuan Darel yang berubah dingin padanya, dan kemarahan papa
yang baru pertama kali dilihatnya.
Tak
lama ia pun bangun dari duduknya, berjalan ke kamar Darel. Sejak kecil, mereka
memiliki kamar pribadi masing-masing. Rumah besar Bramantio tak akan kehabisan
kamar jika pun mereka membiarkan teman-teman sekelas mereka menginap.
Tok
tok tok
Klik!
“Tenang
saja, aku hanya membawa pakaian serta barang-barang yang kudapatkan dengan
uangku sendiri,” kata Darel tenang sambil melewati Farel yang masih mematung di
depan pintu kamar Darel.
Dengan
cepat Farel mengejar langkah Darel yang sudah mencapai pintu utama. Ia menghalangi
tangan Darel yang mau mencapai kenop pintu. Ditatapnya Darel dengan lembut, tatapan
memelas, senyum memohon terlihat jelas di wajah Farel, lesung pipinya yang
dalam tercetak seiring dengan senyumnya yang semakin melebar, ia genggam tangan
kiri itu cukup kuat, ia bertingkah memohon seperti biasa saat dulu meminta Darel
untuk membantunya.
“Kamu
juga bisa mengambil keputusan sepertiku jika kamu mau, Farel, dengan begitu
papa akan tau, kalau ia tak selamanya bisa mengatur kita untuk menjadi seperti
yang ia inginkan. Aku sudah lelah, Fa,” Farel melepaskan genggamannya,
senyumnya menghilang.
Darel
menepuk bahu kiri Farel, “Aku pergi,” kata-kata dingin itu terdengar jelas di
telinganya.
“Kenapa?”
Darel
menghentikan langkahnya, tanpa berbalik ia mengatakan dengan suara berat dan
serak, “Karena bukan hanya kamu yang ingin mimpimu terwujud,” ia pun menghilang
di balik pintu.
II
Sepuluh
Tahun Kemudian
Sebuah
rumah bertingkat dua dengan papan di depannya yang bertuliskan “Art’s D House”,
serta beberapa papan bunga di depan pagar dengan tulisan “Grand Opening Art’s D
House”, terlihat jelas bahwa sebuah galeri seni baru di buka di kota ini, ada
beberapa papan bunga lainnya dengan tulisan yang serupa yang letaknya di
seberang jalan.
Rumah
itu berdiri di sebuah halaman kosong dengan perkarangan yang asri serta di
dampingi sebuah coffee mini disisi kiri ruang utama. Rumah itu memiliki
arsitektur minimalis berwarna biru dipadu dengan putih dan hitam, sangat
menarik untuk disinggahi, selain bisa menikmati beberpa jenis lukisan yang ada
di dalam ruang utama, para pelanggan juga di suguhi tempat yang nyaman untuk
istirahat sejenak.
Hal
itu tak luput dari pandangan Farel yang baru saja sampai untuk melihat seberapa
uniknya tempat itu, hingga membuat kekasihnya merajuk jika saja Farel tak
memenuhi keinginanya untuk ikut melihat rumah lukis itu. Karina, perempuan yang
sudah dinikahinya dua tahun lalu itu menariknya keluar kantor beberapa detik setelah
rapatnya selesai.
Farel
turun dari mobilnya, ia terpaku membaca tulisan di papan bunga yang ada di
depannya, apa itu Darel? Pikirnya, tapi mana mungkin lelaki kejam itu di sini?
Bukannya ia masih di Paris, kabar terakhir yang aku dapat, ia masih belum
sukses di sana, atau mungkin kabar yang aku dapat itu bohong? Farel masih terus
dengan fikirannya hingga sebuah tepukan di bahu kiri menyadarkannya.
“Apa
yang kamu pikirkan, sayang? Kenapa masih berdiri di sini, ayo ke dalam, aku
sudah tidak sabar ingin melihat isi ruangan itu,” kata Karina sambil menarik
tangan Farel dengan antusias.
Farel
mengikuti langkah istrinya memasuki Art’s D House, ia menangkap kebahagiaan di
wajah perempuan tercintanya saat mereka berkeliling ruangan. Tak hanya
pengunjung yang mulai ramai sehingga membuat rumah itu sedikit berisik, Karina
pun tak kalah antusia saat melihat berbagai macam seni yang tertata rapi di
ruangan luas itu.
Ruangan
itu menyediakan berbagai macam seni untuk membuat para pengunjung tertarik, mulai
dari seni lukisan abstrak, lukisan rupa, pemandangan, dan ada pula seni lukisan
di atas air dan lukisan di atas pasir meski hanya bisa melihat hal itu melalui
layar monitor 45 inci yang terpampang jelas di tengah-tengah ruangan.
Pengunjung sangat terlihat puas menikmati hal itu pun dengan Karina dan Farel yang
ikut takjub melihatnya.
***
Karina
terlalu serius berjalan sambil melihat-lihat lukisan di sekeliling ruangan,
senyum yang membuatnya semakin cantik tak lepas dari bibirnya. Perempuan
berkerudung biru itu tak sadar bahwa suami tercintanya tak lagi di sisinya, ia
masih sibuk mengagumi beberapa lukisan abstrak yang membuatnya terpukau. Kini
ia hanya berdiri di depan sebuah lukisan abstrak bertema Retak.
“Perpaduan
warna pelangi di letakkan begitu indahnya, namun garis-gasir pemisah dengan
goresan tak lurus membuatnya benar-benar terlihat hampir hancur, retak, cocok
dengan namanya,” gumam Karina sambil kembali tersenyum. Diarahkan jemarinya
untuk menyentuh lukisan itu, betapa terkejut ia dibuatnya saat lukisan yang di
sentuhnya itu kini berubah gambar menjadi kepingan-kepingan.
“Itu
bukan lukisan abstrak biasa,” perkataan itu membuat Karina berpaling melihat ke
kirinya. Senyumnya kembali terukir, tapi hanya sepersekian detik karena kini
dahinya berkerut, menatap pria di sampingnya dengan aneh.
“Sayang,
kapan kamu pergi mengganti pakaianmu ini? Dan… kaca mata, mana kaca mata kamu?”
dua pertanyaan Karina berhasil membuat pria di sisinya yang tadi hanya menatap
datar lukisan di depan mereka, kini beralih menatap Karina terkejut.
“Haha,
kamu jangan jauh-jauh dari aku, aku sampai tidak tahu kapan kamu menghilang
untuk berganti pakaian seperti ini, oia satu lagi, sejak kapan kamu suka pakai
lenca, warna mata coklat terang itu rasanya lebih indah dari pada lenca ini,
sayang,” lagi-lagi pria itu dibuat terkejut dengan tingkah Karina yang sekarang
bergelut manja di lengan sang pria.
“Maaf
mbak, sepertinya anda salah orang, saya belum punya kekasih dan mata saya
memang berwarna hitam gelap,” jujur pria berambut sedikit acak-acakan itu
sambil melepaskan tangan Karina dari lengannya.
“Sayang,
candaan kamu ini nggak lucu, tau! Istrinya di sini malah ngakunya belum punya
kekasih, jahat kamu, mas,” rajuknya sambil membuang muka.
“Darel?”
suara yang tiba-tiba hadir dari belakang mereka membuat Karina memutar tubuhnya
melihat si pemilik suara, betapa terkejutnya ia melihat prianya kini sedang
menatap mereka, lebih tepatnya menatap pria di sampingnya.
Karina
melihat tatapan Farel ke pria di sampingnya, tatapan terkejut sekaligus
menyimpan sejuta kemarahan dan kerinduan di saat yang bersamaan. Karina
berganti menatap pria yang kini juga sedang menatap lelakinya. Mereka berdua
mirip banget, apa mereka kembar, tapi, kenapa Farel tak pernah cerita kalau
memang benar ia memiliki kembaran? Fikiran itu terus mengganggu Karina.
“Arel,
Arel Wijaya,” pria itu menjulurkan tangannya ke Farel dengan tatapan dingin dan
senyum tipisnya.
“Farel,
Farel Bramantio Oni,” kata Farel dingin sambil menyambut uluran tangan itu.
Dingin,
tak ada lagi kehangatan di tangan orang yang dulu pernah menjadi orang paling
penting dalam hidupnya. Dengan cepat ia melepas jabatan tangan itu, ia tak
ingin berlama lagi di tempat yang mulai membuatnya sesak nafas.
“Karina,
kita pulang sekarang,” katanya yang langsung menarik tangan perempuan yang
masih setengah sadar itu keluar dari rumah seni tersebut.
“Kamu
terlihat berbeda, Fa. Sepertinya papa
mewarisi segalanya padamu, bahkan aku baru tau kalau kamu ternyata sudah
menikah, kamu benar-benar melupakanku, Fa,” kata Darel serat kesedihan.
“A!
(bacanya dengan menyebut huruf vocal berbahasa inggris ya ^_^),” panggilan Jion
membuat Darel mengalihkan pandangannya dari Farel. Jion kini berada di
dekatnya, ia juga menatap kepergian Farel, dari jauh sebenarnya ia sudah
memperhatikan mereka, hanya saja ia tak ingin masuk dalam situasi seperti tadi.
“Itu Farel? Terlihat lebih dewasa, kaca
mata yang ia kenakan menegaskan
perbedaan denganmu, dan aura kalian pun sangat berbeda,”
kata Jion membandingkan Farel dan Darel.
“Kamu
benar, Ji, aku takkan tau jika tak melihatnya langsung seperti tadi,” kali ini
ucapan Kee yang tiba-tiba sudah berada di sisi kiri Jion.
“Sudahlah,
kembali kerja!” perintah Darel tegas.
Jika
sudah berkata tegas begini, Jion dan Kee memilih kembali berkerja, bagaimana
pun, Darel adalah pemimpipin yang dinyatakan misterius tadi, Darel hanya tak
ingin orang-orang tahu tentang dirinya yang sebenarnya.
III
Darel
merebahkan dirinya di atas kasur empuk milik Jion. Ia memutuskan untuk menginap
malam ini. Kee pun ikut menginap. Ketiga pria itu kini merebahkan diri mereka
di atas kasur King size milik Jion.
“Kamu
yakin tetap tak ingin kembali, apa kamu tak merindukan mereka?” pertanyaan Jion
membuat Darel memejamkan matanya.
“Iya,
A. bukan untuk pulang, hanya berkunjung,” kata Kee yang mendapat anggukan
setuju dari Jion, meski Darel tak melihatnya menganggukkan kepalanya, tapi ia
tetap melakukannya.
“Aku
nggak akan pernah kembali!” suara Darel yang serak menandakan bahwa ia
menangis.
Join
dan Kee yang paham situasi setiap kali Darel menangis, ia pasti ingin ditinggal
sendiri. Apartemen yang Jion beli lumayan besar yang memiliki dua kamar tidur,
dan kedua pria itu pun memilih untuk meninggalkan Darel sendirian.
Jion
dan Kee adalah dua sahabatnya saat SMA, mereka sama-sama menyukai seni hingga
berhasil lulus beasiswa ke Paris, kini perusahaan ternama yang mereka bangun
dari nol membawa mereka harus kembali ke Indonesia. Jion dan Kee masih
berhubungan baik dengan keluarga mereka, hanya Darel yang tak pernah lagi
membahas tentang keluarganya, Jion dan Kee sangat tahu kondisi Darel, hingga
mereka ingin kembali mencoba membujuk Darel agar pulang ke rumahnya.
Sepeninggal
Jion dan Kee, Darel bangun dan mengambil Hp di atas nakas dekat tempat tidur.
Ia menatap wallpaper Hpnya lama, disana ada wajahnya, Farel dan papa, mereka
bertiga sedang memancing di suatu minggu pagi, tawa ketiganya terlihat jelas di
gambar, begitu lepas dan begitu bahagia.
“Aku
sangat merindukanmu, pa, Fa, apa kalian baik-baik saja, semoga. Aku selalu
mendoakanmu, papa,” lirih Darel sambil menunduk memeluk Hpnya.
“Seandainya
mama masih ada, mungkin semua ini nggak akan terjadi,” isakannya semakin dalam.
“Ma…
apa yang harus Darel lakukan? Apa ini waktunya Darel untuk kembali dan membuat
ayah bangga memiliki anak seperti Darel? Atau Darel akan terus hidup sebagai
Arel Wijaya, yang ntah dimana orang tuanya,”
Darel
terus berfikir dan menimbang apa yang akan ia lakukan hingga ia tertidur.
***
Darel masih diam di dalam mobil, keraguan tercetak jelas
di wajahnya. Jion memegang bahunya, seakan mengatakan bahwa semua akan
baik-baik saja. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, tapi ia melihat rumah
lamanya tak berubah sedikitpun, hanya pekarangan rumah yang terlihat lebih asri
dan banyak di hiasi oleh tanaman bunga mawar.
“Turunlah, aku yakin kamu bisa menghadapinya sendiri,
berjuanglah, bro!” kata Jion sebelum akhirnya pergi kembali ke galeri.
Darel menghembuskan nafas berat yang sedari tadi
mengganggunya. Ia masih gugup, ini bukan seperti yang ia bayangkan, tak pernah
terlintas ia akan berdiri di sini hari ini, jika bukan karena bujukan Rei,
selamanya ia takkan pernah kembali, mungkin.
Darel membuka kaca mata hitamnya, ia berjalan pelan dan
menekan bel di pintu, dengan cepat seseorang yang masih sangat diingatnya
membukakan pagar itu untuknya. Wajah mang Aang terlihat lebih tua, Darel
tersenyum menyambut matanya mang Aang yang memandanga terkejut serta tidak
percaya, matanya berkaca-kaca.
“Den Darel,” katanya penuh kesedihan.
“Iya, mang. Papa ada di dalam?” Darel langsung ke pokok
objek yang dia tuju. Pria itu mencoba tersenyum, lain halnya dengan mang Aang,
pria paruh baya itu hanya diam sebelum akhirnya membawa Darel masuk ke rumah.
Darel duduk di ruang tamu, ia merasa seperti tamu
dirumahnya sendiri. Diedarkan
pandangannya melihat sekeliling rumah, tak ada yang berubah, hanya saja ia
merasa sakit dan sedih saat melihat tak ada satu pun fotonya yang tergantung di
dinding ruangan itu.
Ia mulai bangun dari duduknya, berjalan ke ruang tv,
sama, ia tak menemukan fotonya, ruang kelarga pun nihil, apa aku sudah
benar-benar tidak dianggap sebagai bagian dari keluarga ini lagi? Fikirnya
sedih.
Mulanya ia mulai percaya diri tapi, setelah melihat
situasi ini, ia rasanya telah mengambil keputusan yang salah.
“Mang Aang! Aku dengar ada yang menekan bel tadi, tamunya
siap...a?” suara Farel terputus saat matanya menangkap Darel berdiri
tepat di bawah tangga.
Hening. Keduanya tak ada yang membuka suara, baik Darel
yang menatap sedih Farel, atau pun Farel yang menatap benci Darel.
“Siapa, sayang?” pertanyaan Karina yang hadir di sebelah
Farel membuatnya berjalan menuruni tangga. Karina hanya mengikutinya dari
belakang, ia tak ingin membuka suaranya saat tau siapa tamu mereka.
Semalam Farel sudah menceritakan semuanya tentang Darel,
dan bagi Karina itu adalah tindakan egois bocah yang baru lulus SMA untuk
menggapai mimpinya, ia meminta Farel agar memahami kakaknya tersebut, dan jika
kelak Darel kembali, berilah maaf padanya. Karina berharap agar Farel
menjalankan nasehatnya itu.
***
Ruang kerja itu masih sama seperti terkhir kali Darel
lihat, hanya bedanya siapa yang menduduki bangku besar itu saat ini. Farel
berjalan santai dan duduk di kursi itu, sedangkan Darel hanya berdiri di
depannya.
“Aku ingin bertemu dengan papa,” Darel tak gentar dengan
perasaan sedih yang menyelimuti hatinya.
“Siapa yang kau sebut papa di sini?” pertanyaan Farel
terdengar dingin dan menusuk. Darel tak ingin membuat masalah baru dengan
kembarannya itu, tujuannya ke sini hanya ingin meminta maaf.
“Aku ingin minta maaf sama papa, juga padamu, Fa,”
Farel merasakan ketulusan dari permohonan itu, tapi ia
masih diselimuti kemarahan yang besar.
“Maaf?” suara Farel mengejek, ia bangun dari duduknya,
didekatinya Darel sambil tersenyum mengejek.
“Setelah sekian lama, setelah kau sukses, setelah sekian
lama, kau baru datang dan meminta
maaf?! Untuk apa?! Kau menghilang bagai ditelan bumi, bahkan
kau mengganti namamu, hingga orang-orang
suruhanku memberi informasi tentang orang yang salah!! Aku fikir kau membuang kami
seutuhnya! Tapi, lihat sekarang, kau di sini, meminta maaf, untuk apa?!” Farel menekankan setiap katanya sambil menunjuk-nunjuk
telunjuknya di dada Darel hinga pria yang hanya menunduk itu mundur beberapa
langkah.
“Aku...”
“Kau tau! Setelah kau pergi, papa jatuh sakit! Aku
langsung mengambil alih perusahaan, aku berusaha untuk mencintai perusahaan
papa, aku bahkan meninggalkan orang yang aku cintai demi menyelamatkan
perusahaan papa! Apa kau tau apa yang aku alami selama ini?! Tidak! Kau tak
pernah tau!”
Lagi-lagi Farel berteriak di depan Darel, ia menggebrak
meja, menjatuhkan semua yang ada di atas meja kerjanya itu. Sedangkan Darel
masih terdiam. Baru kali ini ia melihat Farel semarah ini, jelas ia tak heran,
karena ia lah penyebab semuanya. Ia mengaku salah.
“Kamu tau, betapa frustasinya aku ketika papa
menjodohkanku agar perusahaan ini tertolong, pernikahan bisnis! Oh Shit! Aku
hampir gila karena harus menyakiti perempuan yang ingin aku nikahi! Kau takkan
tau bagaimana penderitaanku selama ini, Darel Bramantio Oni!!” teriak Farel
frustasi.
Ia menjambak rambutnya sebelum akhirnya menatap Darel
mengejek dengan matanya yang memerah karena marah dan terlihat jelas ia sangat
tersakiti.
“Oia, aku lupa, namamu Arel Wijaya, kan? Hahaha, sepertinya
keluarga barumu itu begitu menyayangimu hingga kau begitu
sukses sekarang. Kalau memang begitu ceritamu, KENAPA KAU HARUS KEMBALI DAN
MEMINTA MAAF!”
Air mata Farel tumpah, Darel pun demikian.
“Kau tau aku begitu tersiksa, tak ada lagi orang yang
bisa membantuku berdiri, aku hampir terpuruk jauh jika saja perempuan yang
dijodohkan papa untukku tidak sabar menghadapiku. Aku begitu memebutuhkanmu! TAPI, KAU...” Farel sengsegukan, ia terduduk di lantai.
Darel ingin memeluk kembarannya itu, ia ingin agar
kebencian itu menghilang bersama teriakan-teriakannya yang sedari tadi
membuatnya sakit. Ia mendekat, duduk di sisi Farel, disentuhnya tubuh Farel
yang bergetar.
“Papa udah nggak ada,”
Darel membatu.
Perkataan Farel serak dan serat kesakitan membuat Darel
menutup mulutnya, air matanya semakin meluncur deras.
“Ia memohon padaku untuk membawamu kembali di detik-detik
menjelang kematiannya, papa juga minta maaf karena keegoisannya, dan kau tau,
saat kau pergi, papa menangis di ruang kerjanya,” penjelasan selanjutnya dari
Farel semakin membuat Darel diserang penyesalan yang luar biasa.
“Kapan?” akhirnya Darel bisa kembali mengeluarkan suaranya.
“Setahun yang lalu,”
***
Darel,
Farel dan Karina duduk diam di samping dua pusara yang baru saja dibasahi air,
ketiganya larut dalam doa yang diantarkan untuk kedua orang yang kini tenang di
alam sana.
“Pa, maafkan Darel,” lirih Darel yang kembali menangis
tanpa suara.
Farel yang dengan lapang dada memaafkan kakaknya itu
hanya merangkul bahu Darel. Karina hanya tersenyum melihat pemandangan itu.
“Papa udah maafin kamu, kak,”
Farel melepaskan rangkulannya, mendapat tatapan mengejek
dari Farel membuat Darel memalingkan wajahnya.
“Kamu tak pernah berubah, masih saja cengeng seperti
dulu,” Farel tertawa ringan, mendapati ejekan dari Farel membuat Darel mengetok
kepala Farel keras.
“DAREL!”
Darel yang sudah berlari ke mobil langsung dikejar Farel
di belakangnya, sedangkan Karina hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
“Ma, pa, kami sekarang sudah lengkap dan aku yakin,
mereka akan baik-baik saja, selamanya,” ujar Karina sebelum mengikuti langkah
dua pria yang lebih dulu darinya untuk masuk ke mobil.
Matahari
yang berpulang ke peraduannya membuat jingga hadir dengan indahnya, meski gelap
juga akan hadir, namun matahari, jingga dan juga bulan akan selalu menghiasi
langit.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar