Senin, 24 Juli 2017

SINAR DI BALIK AWAN


I
Darel duduk di atas gedung sekolah dengan menjulurkan kedua kaki ke bawah dan sebatang rokok di tangan kiri yang tinggal setengah. Kemeja biru bertengger manis di bahu kiri sedang ia kini hanya mengenakan kaos biru pekat dengan tulisan Be Mine. Rambut yang semula tertata rapi kini acak-acakan, kulitnya yang berwarna putih pucat berubah sedikit memerah karena menahan emosi, bola mata berwarna hitam pekat itu menatap sayu ke bawah gedung. Cowok yang terkenal jenius ini terus larut dalam dunia fikirannya sendiri hingga ia tak menyadari seseorang telah berdiri di sampingnya.
“Kamu belum pulang? Sekolah sudah sepi, pesta kelulusan pun sudah berakhir, apa kamu berniat untuk menginap di sekolah?” pertanyaan itu membawa Darel kembali ke dunia nyata.
Ia tak langsung menjawab, dihisap habis rokok yang tinggal sedikit, kemudian memadamkan api dan melemparnya ke bawah gedung.
“Aku masih memikirkan sesuatu,” ucapan Darel mampu membuat orang disisinya itu ikut duduk.
“Apa yang kamu fikirkan? Masa depan yang sudah papa tentukan untukmu?”
Tebakan cowok yang memiliki wajah yang sama dengan Darel itu hanya mendapat anggukan darinya.
“Aku tau papa hanya menumpukkan semua harapan masa depan perusahaan itu padamu, tapi menurutku itu yang terbaik bagimu, kak,” Darel menatap kembarannya tajam.
Cowok yang masih rapi itu dengan tenang melanjukan kata-katanya.
“Aku akan sangat berterima kasih jika kamu memenuhi harapan papa,” ucap Farel menatap Darel dengan tersenyum hangat. Hal itu membuat Darel semakin emosi.
“Apa kamu melakukan sesuatu?! Apa yang kamu katakan pada papa hingga papa memberiku pesan seperti itu?!” tanya Darel dengan suara meninggi.
“Aku hanya mengatakan pada papa bahwa kamu bersedia menggantikan papa mengurus perusahaan,” jawaban Farel semakin membuat Darel hilang kendali.
“Kamu tahu aku sudah mendaftar di Art University di Paris, dan aku lulus beasiswa. Kamu ikut senang mendengarnya tapi, kenapa sekarang kamu melakukan ini? Apa saat itu kamu hanya berpura-pura?” suara Darel mulai serak, matanya memerah menahan agar air matanya tak jatuh. Ia bangun dari duduknya.
“Kamu kakakku, dan sudah seharusnya kamu tidak bermimpi untuk melarikan diri dari tanggung jawab seorang penerus, kamu harus dan wajib menanggungnya, kak,” kata Farel sambil ikut berdiri. Ia menatap Darel datar.
“Aku tidak pernah berpura-pura saat itu, aku ikut bahagia tentunya. Tapi, keadaan yang membuatku harus melakukan hal itu, kak,” kata Farel menekankan.
“Apa alasan yang membuatmu ikut campur dalam hal itu?” tanya Darel datar. Ia mulai bisa menguasai emosinya, bagaimana pun, mereka berada di tempat yang memungkinkan mereka kehilangan nyawa mereka,  jika saja mereka salah langkah, meski gedungnya hanya sampai 3 tingkat.
“Aku juga berhasil mendapatkan beasiswa di Jepang, dan aku tak mau jika harus meninggalkan mimpiku hanya untuk menggantikanmu di perusahaan,” jujur Farel sambil pergi, Darel menatapnya tak percaya.
“Aku pulang naik taxi,” lanjutnya sebelum menghilang dari pandangan Darel.
Farel sangat mencintai dunia tekhnologi dan mesin, sedangkan Darel sangat mencintai dunia seni, lebih ke arah seni lukis, mereka sama-sama mencintai mimpi mereka. Namun, perusahaan orang tuanya yang terjun di bidang produksi makanan ringan dan softdrink membuat keduanya tidak tertarik untuk menggantikan posisi papa mengurus perusahaan itu.
Darel kemudian turun dari tembok pembatas dengan pikiran yang masih kacau balau. Ia tau, Farel sama egois dengan dirinya tapi, ia pun tak ingin kalau Farel harus meninggalkan mimpinya. Ia begitu menyayangi adiknya itu.
Ia masih teringat dengan perkataan Farel tadi yang terlihat egois, ia tak pernah menyangka kalau kembarannya itu mengatakan semua dengan tenang. Meski sejak dulu mereka akur, saling membantu, lepih tepatnya, Darel yang sering membantu Farel mengatasi semua masalah yang ia lakukan saat di sekolah, agar tidak diketahui papa mereka. Darel sering menggantikan Farel mengerjakan hukumannya. Semua itu ia lakukan semata karena ia menyayangi Farel dan tak ingin Farel kena hukuman apapun, hatinya yang lebih lembut jelas tak ingin adiknya lelah atau pun sakit.
“Apa selama ini aku terlalu memanjakan dan mengabulkan semua keinginannya hingga ia bisa berkata demikian dengan mudahnya?” lirih Darel sambil menuruni tangga menuju ke parkiran.
 ***


Suasana rumah besar itu sunyi, hanya dentingan suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar menemani makan malam keluarga Bramantio Oni. Mereka seperti asik dengan pikiran mereka masing-masing.
Bramantio Oni seorang yang sangat tegas, ia mendidik kedua putranya dengan banyak tuntutan. Mulai dari SD hingga mereka lulus dengan peringkat terbaik dari SMA ternama dikotanya, mereka selalu memenuhi tuntutan Bramantio dengan menjadi murid jenius serba bisa dan tidak pernah membuat masalah, meski ada, itu tak pernah berakibat fatal. Keduanya menjadi idola di sekolah pun tidak menjadi masalah bagi Bramantio asalkan mereka tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan mana pun. Karenanya pula, Darel maupun Farel tak pernah pacaran meski tak jarang mereka membuat cewek-cewek di sekolah patah hati.
Kini, saat mereka memiliki mimpi mereka masing-masing, Bramantio dengan tegas meminta pada keduanya untuk mengurus cabang perusahaan yang dibangunnya. Baik Darel atau pun Farel tetap dipaksa untuk tidak kuliah di bidang selain bidang bisnis dan managemen pemasaran, ia ingin keduanya bisa mengembangkan perusahaannya. Ia tak peduli meski keduanya telah diterima beasiswa di luar negeri. Ia tahu hal itu, hanya saja, pria yang tak muda lagi itu memilih untuk tetap egois.
“Pa,” suara Darel memecah kesunyian makan malam mereka.
“Hm,” sahut papanya masih dengan mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya, sedangkan Farel hanya memperhatikan apa yang akan diucapkan Darel.
“Aku akan berangkat ke Paris, besok,” Darel sudah memutuskan untuk mengatakan keputusannya, ia ingin semuanya jelas sekarang.
Sontak Bramantio menghentikan aktifitasnya yang ingin memasukkan sedikit minuman ke mulutnya, dan Farel menatap Darel terkejut., bagaimana bisa ia mengatakan hal itu, fikirnya.
“Kak,” lirih Farel menatap Darel tak percaya, sedangkan yang ditatap hanya memasang wajah  dingin dan sedikit membuat Farel merinding, baru kali ini Farel melihat tatapan tenang namun tajam itu.
“Kalau kamu keluar dari rumah ini, maka jangan pernah kembali! Papa akan melepaskanmu seutuhnya, jika itu keputusanmu, fikirkan baik-baik, setelah itu,..”
“Aku sudah memutuskannya, pa,” kata Darel tegas memotong perkataan Bramantio. Farel semakin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang, kakaknya yang amat patuh membantah papa bahkan memotong perkataannya. Mulut Farel sampai terbuka melihat Darel yang masih tenang.
“Baik! Mulai sekarang, kamu bukan lagi bagian dari keluarga ini! Detik ini juga, tinggalkan rumah ini, dan jangan berani membawa apa pun yang pernah kamu dapatkan dengan uangku!” Bramantio mengebrak meja makan sebelum meninggalkan mereka.
Terlihat jelas kemarahan di wajah Bramantio sebelum menghilang dari pandangan dua anaknya itu, suara tegas diiringi kemarahan masih terngiang jelas di kepala Darel atau pun Farel, keduanya tak pernah melihat kemarahan papanya secara langsung, meski mereka pernah mendengar rumor tentang papanya yang sangat mengerikan jika sedang marah.
“Kak, apa kamu serius? Tolong fikirkan kembali, kak,” kata Farel mencoba tenang, meski suaranya terdengar jelas gemetaran.
“Maaf, Farel. Aku harus pergi,” Darel meninggalkan Farel begitu saja.
Hati Farel sakit, apa sebuah mimpi itu sangat berharga hingga kamu dengan mudahnya membuang ikatan keluarga, kak? tanya hati Farel yang masih menatap punggung Darel yang semakin menjauh hingga menghilang di balik pintu kamarnya.
Farel duduk termenung, ia masih menata perasaannya yang beberapa kali terkejut malam ini, mulai dari kelakuan Darel yang berubah dingin padanya, dan kemarahan papa yang baru pertama kali dilihatnya.
Tak lama ia pun bangun dari duduknya, berjalan ke kamar Darel. Sejak kecil, mereka memiliki kamar pribadi masing-masing. Rumah besar Bramantio tak akan kehabisan kamar jika pun mereka membiarkan teman-teman sekelas mereka menginap.
Tok tok tok
Klik!
“Tenang saja, aku hanya membawa pakaian serta barang-barang yang kudapatkan dengan uangku sendiri,” kata Darel tenang sambil melewati Farel yang masih mematung di depan pintu kamar Darel.
Dengan cepat Farel mengejar langkah Darel yang sudah mencapai pintu utama. Ia menghalangi tangan Darel yang mau mencapai kenop pintu. Ditatapnya Darel dengan lembut, tatapan memelas, senyum memohon terlihat jelas di wajah Farel, lesung pipinya yang dalam tercetak seiring dengan senyumnya yang semakin melebar, ia genggam tangan kiri itu cukup kuat, ia bertingkah memohon seperti biasa saat dulu meminta Darel untuk membantunya.
“Kamu juga bisa mengambil keputusan sepertiku jika kamu mau, Farel, dengan begitu papa akan tau, kalau ia tak selamanya bisa mengatur kita untuk menjadi seperti yang ia inginkan. Aku sudah lelah, Fa,” Farel melepaskan genggamannya, senyumnya menghilang.
Darel menepuk bahu kiri Farel, “Aku pergi,” kata-kata dingin itu terdengar jelas di telinganya.
“Kenapa?”
Darel menghentikan langkahnya, tanpa berbalik ia mengatakan dengan suara berat dan serak, “Karena bukan hanya kamu yang ingin mimpimu terwujud,” ia pun menghilang di balik pintu.

II
Sepuluh Tahun Kemudian
Sebuah rumah bertingkat dua dengan papan di depannya yang bertuliskan “Art’s D House”, serta beberapa papan bunga di depan pagar dengan tulisan “Grand Opening Art’s D House”, terlihat jelas bahwa sebuah galeri seni baru di buka di kota ini, ada beberapa papan bunga lainnya dengan tulisan yang serupa yang letaknya di seberang jalan.
Rumah itu berdiri di sebuah halaman kosong dengan perkarangan yang asri serta di dampingi sebuah coffee mini disisi kiri ruang utama. Rumah itu memiliki arsitektur minimalis berwarna biru dipadu dengan putih dan hitam, sangat menarik untuk disinggahi, selain bisa menikmati beberpa jenis lukisan yang ada di dalam ruang utama, para pelanggan juga di suguhi tempat yang nyaman untuk istirahat sejenak.
Hal itu tak luput dari pandangan Farel yang baru saja sampai untuk melihat seberapa uniknya tempat itu, hingga membuat kekasihnya merajuk jika saja Farel tak memenuhi keinginanya untuk ikut melihat rumah lukis itu. Karina, perempuan yang sudah dinikahinya dua tahun lalu itu menariknya keluar kantor beberapa detik setelah rapatnya selesai.
Farel turun dari mobilnya, ia terpaku membaca tulisan di papan bunga yang ada di depannya, apa itu Darel? Pikirnya, tapi mana mungkin lelaki kejam itu di sini? Bukannya ia masih di Paris, kabar terakhir yang aku dapat, ia masih belum sukses di sana, atau mungkin kabar yang aku dapat itu bohong? Farel masih terus dengan fikirannya hingga sebuah tepukan di bahu kiri menyadarkannya.
“Apa yang kamu pikirkan, sayang? Kenapa masih berdiri di sini, ayo ke dalam, aku sudah tidak sabar ingin melihat isi ruangan itu,” kata Karina sambil menarik tangan Farel dengan antusias.
Farel mengikuti langkah istrinya memasuki Art’s D House, ia menangkap kebahagiaan di wajah perempuan tercintanya saat mereka berkeliling ruangan. Tak hanya pengunjung yang mulai ramai sehingga membuat rumah itu sedikit berisik, Karina pun tak kalah antusia saat melihat berbagai macam seni yang tertata rapi di ruangan luas itu.
Ruangan itu menyediakan berbagai macam seni untuk membuat para pengunjung tertarik, mulai dari seni lukisan abstrak, lukisan rupa, pemandangan, dan ada pula seni lukisan di atas air dan lukisan di atas pasir meski hanya bisa melihat hal itu melalui layar monitor 45 inci yang terpampang jelas di tengah-tengah ruangan. Pengunjung sangat terlihat puas menikmati hal itu pun dengan Karina dan Farel yang ikut takjub melihatnya.
***

Karina terlalu serius berjalan sambil melihat-lihat lukisan di sekeliling ruangan, senyum yang membuatnya semakin cantik tak lepas dari bibirnya. Perempuan berkerudung biru itu tak sadar bahwa suami tercintanya tak lagi di sisinya, ia masih sibuk mengagumi beberapa lukisan abstrak yang membuatnya terpukau. Kini ia hanya berdiri di depan sebuah lukisan abstrak bertema Retak.
“Perpaduan warna pelangi di letakkan begitu indahnya, namun garis-gasir pemisah dengan goresan tak lurus membuatnya benar-benar terlihat hampir hancur, retak, cocok dengan namanya,” gumam Karina sambil kembali tersenyum. Diarahkan jemarinya untuk menyentuh lukisan itu, betapa terkejut ia dibuatnya saat lukisan yang di sentuhnya itu kini berubah gambar menjadi kepingan-kepingan.
“Itu bukan lukisan abstrak biasa,” perkataan itu membuat Karina berpaling melihat ke kirinya. Senyumnya kembali terukir, tapi hanya sepersekian detik karena kini dahinya berkerut, menatap pria di sampingnya dengan aneh.
“Sayang, kapan kamu pergi mengganti pakaianmu ini? Dan… kaca mata, mana kaca mata kamu?” dua pertanyaan Karina berhasil membuat pria di sisinya yang tadi hanya menatap datar lukisan di depan mereka, kini beralih menatap Karina terkejut.
“Haha, kamu jangan jauh-jauh dari aku, aku sampai tidak tahu kapan kamu menghilang untuk berganti pakaian seperti ini, oia satu lagi, sejak kapan kamu suka pakai lenca, warna mata coklat terang itu rasanya lebih indah dari pada lenca ini, sayang,” lagi-lagi pria itu dibuat terkejut dengan tingkah Karina yang sekarang bergelut manja di lengan sang pria.
“Maaf mbak, sepertinya anda salah orang, saya belum punya kekasih dan mata saya memang berwarna hitam gelap,” jujur pria berambut sedikit acak-acakan itu sambil melepaskan tangan Karina dari lengannya.
“Sayang, candaan kamu ini nggak lucu, tau! Istrinya di sini malah ngakunya belum punya kekasih, jahat kamu, mas,” rajuknya sambil membuang muka.
“Darel?” suara yang tiba-tiba hadir dari belakang mereka membuat Karina memutar tubuhnya melihat si pemilik suara, betapa terkejutnya ia melihat prianya kini sedang menatap mereka, lebih tepatnya menatap pria di sampingnya.
Karina melihat tatapan Farel ke pria di sampingnya, tatapan terkejut sekaligus menyimpan sejuta kemarahan dan kerinduan di saat yang bersamaan. Karina berganti menatap pria yang kini juga sedang menatap lelakinya. Mereka berdua mirip banget, apa mereka kembar, tapi, kenapa Farel tak pernah cerita kalau memang benar ia memiliki kembaran? Fikiran itu terus mengganggu Karina.
“Arel, Arel Wijaya,” pria itu menjulurkan tangannya ke Farel dengan tatapan dingin dan senyum tipisnya.
“Farel, Farel Bramantio Oni,” kata Farel dingin sambil menyambut uluran tangan itu.
Dingin, tak ada lagi kehangatan di tangan orang yang dulu pernah menjadi orang paling penting dalam hidupnya. Dengan cepat ia melepas jabatan tangan itu, ia tak ingin berlama lagi di tempat yang mulai membuatnya sesak nafas.
“Karina, kita pulang sekarang,” katanya yang langsung menarik tangan perempuan yang masih setengah sadar itu keluar dari rumah seni tersebut.
“Kamu terlihat berbeda, Fa.  Sepertinya papa mewarisi segalanya padamu, bahkan aku baru tau kalau kamu ternyata sudah menikah, kamu benar-benar melupakanku, Fa,” kata Darel serat kesedihan.
“A! (bacanya dengan menyebut huruf vocal berbahasa inggris ya ^_^),” panggilan Jion membuat Darel mengalihkan pandangannya dari Farel. Jion kini berada di dekatnya, ia juga menatap kepergian Farel, dari jauh sebenarnya ia sudah memperhatikan mereka, hanya saja ia tak ingin masuk dalam situasi seperti tadi.
Itu Farel? Terlihat lebih dewasa, kaca mata yang ia kenakan menegaskan perbedaan denganmu, dan aura kalian pun sangat berbeda,” kata Jion membandingkan Farel dan Darel.
“Kamu benar, Ji, aku takkan tau jika tak melihatnya langsung seperti tadi,” kali ini ucapan Kee yang tiba-tiba sudah berada di sisi kiri Jion.
“Sudahlah, kembali kerja!” perintah Darel tegas.
Jika sudah berkata tegas begini, Jion dan Kee memilih kembali berkerja, bagaimana pun, Darel adalah pemimpipin yang dinyatakan misterius tadi, Darel hanya tak ingin orang-orang tahu tentang dirinya yang sebenarnya.

III
Darel merebahkan dirinya di atas kasur empuk milik Jion. Ia memutuskan untuk menginap malam ini. Kee pun ikut menginap. Ketiga pria itu kini merebahkan diri mereka di atas kasur King size milik Jion.
“Kamu yakin tetap tak ingin kembali, apa kamu tak merindukan mereka?” pertanyaan Jion membuat Darel memejamkan matanya.
“Iya, A. bukan untuk pulang, hanya berkunjung,” kata Kee yang mendapat anggukan setuju dari Jion, meski Darel tak melihatnya menganggukkan kepalanya, tapi ia tetap melakukannya.
“Aku nggak akan pernah kembali!” suara Darel yang serak menandakan bahwa ia menangis.
Join dan Kee yang paham situasi setiap kali Darel menangis, ia pasti ingin ditinggal sendiri. Apartemen yang Jion beli lumayan besar yang memiliki dua kamar tidur, dan kedua pria itu pun memilih untuk meninggalkan Darel sendirian.
Jion dan Kee adalah dua sahabatnya saat SMA, mereka sama-sama menyukai seni hingga berhasil lulus beasiswa ke Paris, kini perusahaan ternama yang mereka bangun dari nol membawa mereka harus kembali ke Indonesia. Jion dan Kee masih berhubungan baik dengan keluarga mereka, hanya Darel yang tak pernah lagi membahas tentang keluarganya, Jion dan Kee sangat tahu kondisi Darel, hingga mereka ingin kembali mencoba membujuk Darel agar pulang ke rumahnya.
Sepeninggal Jion dan Kee, Darel bangun dan mengambil Hp di atas nakas dekat tempat tidur. Ia menatap wallpaper Hpnya lama, disana ada wajahnya, Farel dan papa, mereka bertiga sedang memancing di suatu minggu pagi, tawa ketiganya terlihat jelas di gambar, begitu lepas dan begitu bahagia.
“Aku sangat merindukanmu, pa, Fa, apa kalian baik-baik saja, semoga. Aku selalu mendoakanmu, papa,” lirih Darel sambil menunduk memeluk Hpnya.
“Seandainya mama masih ada, mungkin semua ini nggak akan terjadi,” isakannya semakin dalam.
“Ma… apa yang harus Darel lakukan? Apa ini waktunya Darel untuk kembali dan membuat ayah bangga memiliki anak seperti Darel? Atau Darel akan terus hidup sebagai Arel Wijaya, yang ntah dimana orang tuanya,”
Darel terus berfikir dan menimbang apa yang akan ia lakukan hingga ia tertidur.
***
Darel masih diam di dalam mobil, keraguan tercetak jelas di wajahnya. Jion memegang bahunya, seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, tapi ia melihat rumah lamanya tak berubah sedikitpun, hanya pekarangan rumah yang terlihat lebih asri dan banyak di hiasi oleh tanaman bunga mawar.
“Turunlah, aku yakin kamu bisa menghadapinya sendiri, berjuanglah, bro!” kata Jion sebelum akhirnya pergi kembali ke galeri.
Darel menghembuskan nafas berat yang sedari tadi mengganggunya. Ia masih gugup, ini bukan seperti yang ia bayangkan, tak pernah terlintas ia akan berdiri di sini hari ini, jika bukan karena bujukan Rei, selamanya ia takkan pernah kembali, mungkin.
Darel membuka kaca mata hitamnya, ia berjalan pelan dan menekan bel di pintu, dengan cepat seseorang yang masih sangat diingatnya membukakan pagar itu untuknya. Wajah mang Aang terlihat lebih tua, Darel tersenyum menyambut matanya mang Aang yang memandanga terkejut serta tidak percaya, matanya berkaca-kaca.
“Den Darel,” katanya penuh kesedihan.
“Iya, mang. Papa ada di dalam?” Darel langsung ke pokok objek yang dia tuju. Pria itu mencoba tersenyum, lain halnya dengan mang Aang, pria paruh baya itu hanya diam sebelum akhirnya membawa Darel masuk ke rumah.
Darel duduk di ruang tamu, ia merasa seperti tamu dirumahnya sendiri.  Diedarkan pandangannya melihat sekeliling rumah, tak ada yang berubah, hanya saja ia merasa sakit dan sedih saat melihat tak ada satu pun fotonya yang tergantung di dinding ruangan itu.
Ia mulai bangun dari duduknya, berjalan ke ruang tv, sama, ia tak menemukan fotonya, ruang kelarga pun nihil, apa aku sudah benar-benar tidak dianggap sebagai bagian dari keluarga ini lagi? Fikirnya sedih.
Mulanya ia mulai percaya diri tapi, setelah melihat situasi ini, ia rasanya telah mengambil keputusan yang salah.
“Mang Aang! Aku dengar ada yang menekan bel tadi, tamunya siap...a?” suara Farel terputus saat matanya menangkap Darel berdiri tepat di bawah tangga.
Hening. Keduanya tak ada yang membuka suara, baik Darel yang menatap sedih Farel, atau pun Farel yang menatap benci Darel.
“Siapa, sayang?” pertanyaan Karina yang hadir di sebelah Farel membuatnya berjalan menuruni tangga. Karina hanya mengikutinya dari belakang, ia tak ingin membuka suaranya saat tau siapa tamu mereka.
Semalam Farel sudah menceritakan semuanya tentang Darel, dan bagi Karina itu adalah tindakan egois bocah yang baru lulus SMA untuk menggapai mimpinya, ia meminta Farel agar memahami kakaknya tersebut, dan jika kelak Darel kembali, berilah maaf padanya. Karina berharap agar Farel menjalankan nasehatnya itu.
***
Ruang kerja itu masih sama seperti terkhir kali Darel lihat, hanya bedanya siapa yang menduduki bangku besar itu saat ini. Farel berjalan santai dan duduk di kursi itu, sedangkan Darel hanya berdiri di depannya.
“Aku ingin bertemu dengan papa,” Darel tak gentar dengan perasaan sedih yang menyelimuti hatinya.
“Siapa yang kau sebut papa di sini?” pertanyaan Farel terdengar dingin dan menusuk. Darel tak ingin membuat masalah baru dengan kembarannya itu, tujuannya ke sini hanya ingin meminta maaf.
“Aku ingin minta maaf sama papa, juga padamu, Fa,”
Farel merasakan ketulusan dari permohonan itu, tapi ia masih diselimuti kemarahan yang besar.
“Maaf?” suara Farel mengejek, ia bangun dari duduknya, didekatinya Darel sambil tersenyum mengejek.
“Setelah sekian lama, setelah kau sukses, setelah sekian lama, kau baru datang dan meminta maaf?! Untuk apa?! Kau menghilang bagai ditelan bumi, bahkan kau mengganti namamu, hingga orang-orang suruhanku memberi informasi tentang orang yang salah!! Aku fikir kau membuang kami seutuhnya! Tapi, lihat sekarang, kau di sini, meminta maaf, untuk apa?!” Farel menekankan setiap katanya sambil menunjuk-nunjuk telunjuknya di dada Darel hinga pria yang hanya menunduk itu mundur beberapa langkah.
“Aku...”
“Kau tau! Setelah kau pergi, papa jatuh sakit! Aku langsung mengambil alih perusahaan, aku berusaha untuk mencintai perusahaan papa, aku bahkan meninggalkan orang yang aku cintai demi menyelamatkan perusahaan papa! Apa kau tau apa yang aku alami selama ini?! Tidak! Kau tak pernah tau!”
Lagi-lagi Farel berteriak di depan Darel, ia menggebrak meja, menjatuhkan semua yang ada di atas meja kerjanya itu. Sedangkan Darel masih terdiam. Baru kali ini ia melihat Farel semarah ini, jelas ia tak heran, karena ia lah penyebab semuanya. Ia mengaku salah.
“Kamu tau, betapa frustasinya aku ketika papa menjodohkanku agar perusahaan ini tertolong, pernikahan bisnis! Oh Shit! Aku hampir gila karena harus menyakiti perempuan yang ingin aku nikahi! Kau takkan tau bagaimana penderitaanku selama ini, Darel Bramantio Oni!!” teriak Farel frustasi.
Ia menjambak rambutnya sebelum akhirnya menatap Darel mengejek dengan matanya yang memerah karena marah dan terlihat jelas ia sangat tersakiti.
“Oia, aku lupa, namamu Arel Wijaya, kan? Hahaha, sepertinya keluarga barumu itu begitu menyayangimu hingga kau begitu sukses sekarang. Kalau memang begitu ceritamu, KENAPA KAU HARUS KEMBALI DAN MEMINTA MAAF!”
Air mata Farel tumpah, Darel pun demikian.
“Kau tau aku begitu tersiksa, tak ada lagi orang yang bisa membantuku berdiri, aku hampir terpuruk jauh jika saja perempuan yang dijodohkan papa untukku tidak sabar menghadapiku. Aku begitu memebutuhkanmu! TAPI, KAU...” Farel sengsegukan, ia terduduk di lantai.
Darel ingin memeluk kembarannya itu, ia ingin agar kebencian itu menghilang bersama teriakan-teriakannya yang sedari tadi membuatnya sakit. Ia mendekat, duduk di sisi Farel, disentuhnya tubuh Farel yang bergetar.
“Papa udah nggak ada,”
Darel membatu.
Perkataan Farel serak dan serat kesakitan membuat Darel menutup mulutnya, air matanya semakin meluncur deras.
“Ia memohon padaku untuk membawamu kembali di detik-detik menjelang kematiannya, papa juga minta maaf karena keegoisannya, dan kau tau, saat kau pergi, papa menangis di ruang kerjanya,” penjelasan selanjutnya dari Farel semakin membuat Darel diserang penyesalan yang luar biasa.
“Kapan?” akhirnya Darel bisa kembali mengeluarkan suaranya.
“Setahun yang lalu,”
***
 Darel, Farel dan Karina duduk diam di samping dua pusara yang baru saja dibasahi air, ketiganya larut dalam doa yang diantarkan untuk kedua orang yang kini tenang di alam sana.
“Pa, maafkan Darel,” lirih Darel yang kembali menangis tanpa suara.
Farel yang dengan lapang dada memaafkan kakaknya itu hanya merangkul bahu Darel. Karina hanya tersenyum melihat pemandangan itu.
“Papa udah maafin kamu, kak,”
Farel melepaskan rangkulannya, mendapat tatapan mengejek dari Farel membuat Darel memalingkan wajahnya.
“Kamu tak pernah berubah, masih saja cengeng seperti dulu,” Farel tertawa ringan, mendapati ejekan dari Farel membuat Darel mengetok kepala Farel keras.
“DAREL!”
Darel yang sudah berlari ke mobil langsung dikejar Farel di belakangnya, sedangkan Karina hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
“Ma, pa, kami sekarang sudah lengkap dan aku yakin, mereka akan baik-baik saja, selamanya,” ujar Karina sebelum mengikuti langkah dua pria yang lebih dulu darinya untuk masuk ke mobil.
Matahari yang berpulang ke peraduannya membuat jingga hadir dengan indahnya, meski gelap juga akan hadir, namun matahari, jingga dan juga bulan akan selalu menghiasi langit.


Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar