Rabu, 03 Juni 2015

Sayap-sayap Rindu, lanjutan...

to be continue....

Setelah makan dan beristirahat di rumah makan Padang, Dimas mengajakku ke restaurant yang cukup terkenal di Bogor itu. Sesampainya di restaurant yang tak jauh dari rumah makan padang tadi, aku yang lapar bergegas memesan spagethi dan lemon tea, dua makanan kesukaanku, dan Dimas sangat itu .
Setelah makan dan ngobrol, aku dan Dimas kembali melanjutkan perjalanan kami yang masih jauh. Aku mulai mengantuk, namun Dimas tak mengizinkanku untuk tidur.
"Ayolah, Ran....jika kau tidur, aku juga akan bosan sendiri," Dimas merengek manja.
"Aku ngantuk banget, Di." kataku masih memelas.
Aku menghidupkan TV mini yang di pasang Dimas di mobilnya, ku putar USB yang terpasang di sana, mulai lah lagu Maroon 5 terdengar memenuhi mobil. Dimas hanya tersenyum tipis saat melihatku mulai menarik selimut bersiap untuk tidur.
"Kau curang, Ran."
Hanya itu kata-kata terakhir yang ku dengar sebelum akhirnya masuk ke alam mimpi.

>>>>>

Dimas POV

Aku hanya bisa tersenyum melihatt si cantik itu tidur dengan pulas nya. Berusaha menikmati lagu yang diputarkannya tapi, tetap  aku tak bisa, karena pikiranku dipenuhi dengan kata-kata Rani tadi.
"Sebenarnya, ada yang aku suka. Tapi, dia sudah ada yang punya,"
"Sejak sekarang, saat kau bertanya, adakah pria yang aku sukai. Dan aku baru menyadari satu hal, kalau ada satu pria yang begitu setia padaku, sahabatku sendiri, Dimas Pramata."
Ran, tahukah kau, hatiku mulai ragu. Dan aku tak tau, sampai kapan aku bisa bertahan dengan melihatmu seperti ini. Aku memang mencintai Dinda, tapi aku juga menyayangimu, kau yang mempertemukanku dengan Dinda dan mempersatukan kami. Aku tak yakin kau jujur dengan perasaanmu yang tek menyukaiku lebih dari sekedar sahabat.  Ah! Dimas! Berhenti berfikir yang tidak-tidak, fokus lah pada Dinda yang sebentar lagi akan kau nikahi!

<<<<<

Rani POV

"Ran, bangun, kita sudah sampai." suara familiar itu membuatku menggeliat, dan mulai membuka mataku.
"Kita sudah sampai." ulangnya saat melihatku tak bereaksi untuk sekedar merenggangkan otot-ototku.
"Ayuk." ajaknya yang mulai turun dari mobil, aku pun mulai sadar sepenuhnya. Ku lihat rumah yang tak pernah berubah sejak aku pertama kali ke sini hingga sekarang.
Aku turun dari mobil dan membantu Dimas membawakan barang-barang ke dalam rumah yang memang sudah terbuka.
"Mama dan papamu di mana? apa mereka sudah tidur?" tanyaku saat kami sudah berada di dalam rumah.
"Kau tak tau jam brapa sekarang?"
Langsung ku perhatikan arlogiku, dan ternyata jam menunjukkan pukul 03.00 pagi. Wajar jika mereka tak menyambut anak satu-satunya ini.
"Hai, udah sampai, syukurlah." kata Dinda yang baru muncul itu sedikit membuatku kaget.
Dinda yang juga temanku sejak di bangku kuliah pun menyambutku dengan pelukan hangatnya.
"Yuk! Kamu butuh istirahat." kata Dinda yang langsung membawa koperku dan membawaku mengikutinya menuju kamar tamu.
"Besok kita akan berangkat ke Bali, jadi kamu harus benar-benar istirahat sekarang, ok, Rani." kata nya ramah.
"Iya, terima kasih, Dinda."
"Sama-sama. Aku keluar dulu, ya."
Aku hanya mengangguk.

<<<<<

Dimas POV

Sejak kapan Dinda di sini, kenapa dia tidak memberitahuku kalau dia menginap di rumah.
"Kamu pasti terkejut. Aku sengaja tak memberitahumu. Karena besok saat liburan ke Bali, aku takkan ikut." kata Dinda sambil duduk di sampingku.
"Lho, kenapa?"
"Karena aku sadar, aku telah menjadi orang ketiga di antara kalian."
"Maksudmu?"
"Saat kamu selalu meminta izinku untuk melindungi dan menjaga serta menghibur Rani, aku senang, karena kamu memang menganggapku sebagai kekasihmu, tapi di sisi lain, aku mulai menyadari satu hal, kalau seseorang yang ingin kamu lindungi dan hibur adalah Rani, bukan aku, Mas."
Pernyataan Dinda membautku sakit kepala, apa lagi ini?
"Aku lelah, Din, bisa kah kita bicara nya besok saja?"
"Ok, selamat istirahat."
Pamitnya sambil menuju ke kamar yang bersebelahan dengan kamar tamu yang kini ditempati Rani.
Kepalaku semakin tidak bisa di kontrol, ku putuskan untuk segera masuk ke kamarku yang terletak di lantai dua dan aku pun tidur.

*****

"Bangun, Di." suara lembut itu membuatku membuka sedikit mataku.
"Ran?"
Aku menatapnya yang sedang membuka jendela kamarku ambil tersenyum manis.
"Bangun, sarapan. Kau tak boleh tidur seharian. Kata nya kita mau liburan." ujarnya sambil tersenyum lembu.
"Iya, tapi, kenapa kau yang membangunkanku, bukannya, Dinda?" tanyaku heran sambil bangun dari tempat tidurku.
"Dinda sedang membantu tante buat sarapan dan juga bekal. Kita tak jadi ke Bali, karena besok papamu tiba-tiba harus kembali masuk kantor karena ada hal yang harus beliau luruuskan di sana. Udah, ayo cepat, bergegaslah mandi dan turun." jelasnya sebelum akhirnya meninggalkan kamarku.
Kalau boleh jujur, aku masih sangat ngantuk. Ah!

*****

"Pagi, ma, pa." sapaku sambil mencium pipi mama dan berjabat tangan dengan papa, jabat tangan khas kami.
"Pagi, sayang. Shalat Subuh nya di mana, sayang, di mimpi, ya?"
Seperti biasa, aku pasti akan di sambut dengan ceramah mama yang terus saja mengingatkanku agar tak melupakan kewajiban penting itu.
"Nggak kebangun, ma."
"Ya sudah, lain kali jangan di ulangi. Makan lah, ini masakan Dinda lho, kamu belum pernah coba masakannya, kan. Ayo di coba."
Wow! Dinda masak buat aku? Sejak kapan si tomboy itu suka masak. Ku cicipi satu sendok nasi goreng buatan Dinda itu.
"Hmm....lumayan, lain kali garamnya jangan terlalu banyak, ya. Asin." kata ku jujur.
Saat aku hendak memasukkan nasi ke mulutku, aku merasa sedikit heran, kenapa mereka diam dan menatapku jengkel, bahkan Ran pun.
"Kenapa?"
Dalam sekejap, mama memukul bahuku keras.
"Kamu itu, tak tau cara menghargai masakan orang lain, ya. Bicara nya langsung begitu." kata mama sambil geleng-geleng kepala.
"Nggak kok, Ma. Mungkin masakan aku memang asin."
Pembelaan dari Dinda membautku mengangguk setuju.
Tunggu dulu!
Apa tadi aku nggak salah dengar, Dinda menyebut mamaku dengan sebutan mama? Wah...sepertinya aku memang bakal menikahinya. Ada apa dengaku? Kenapa aku mulai ragu? Ot Tuhan! Ampuni aku.
"Tapi nggak gitu juga, Dinda, setidaknya dia bicara setelah menghabiskan masakannya." kali ini Rani di pihak mamaku.
"Nggak apa kok, Rani. Langsung kan lebih baik. Ayo makan, ntar keburu dingin nasinya." kata Dinda yang membuat kami diam dan mulai sarapan.

>>>>>

Rani POV

"Ran!" Panggilan itu membuatku menghentikan kegiatanku membantu tante Nina menyiapkan makan malam.
Kami sedang piknik ke salah satu Villa papanya Dimas di Bogor, dan karena tempatnya yang cukup jauh, sehingga kami baru sampai di sini sore hari.
"Apa?" tanyaku pada Dimas yang terlihat semeringah sambil terus mengayunkan tubuhnya yang sedang duduk di atas ayunan di halaman belakang Villa.
"Sini!"
"Udah, sana temanin dia, gih. Biar Dinda saja yang bantu tante, lagi pun, Dinda ingin belajar masak sama tante."
"Baik lah tante."
Setelah melepas celemek masak dari badanku, aku pun keluar dari dapur yang langsung berhadapan dengan halaman belakan Villa.
"Ada apa? Aku lagi bantu tante masak, kau tak punya kerjaan lain, ya?" tanyaku sambil duduk di ayunan sebelah Dimas.
"Kau senang?"
Pertanyaan itu membuatku menatap Dimas aneh, yang di tatap malah tersenyum.
"Aku mau nya kau senang, Ran."
"Aku senang, dan terima kasih." kataku sambil tersenyum senang ke arahnya.
"Ran..." suaranya melemah.
Aku menatapnya bingung. Namun, sebelum aku sempat bertanya, Dimas langsung bangun dari duduknya dan mengambil sebotol pilox dan mulai mendekatiku.
"Di, apa yang mau kau lakukan?" tanyaku semakin bingung, saat Dimas kembali mendekatiku dengan pilox di tangannya.
"Sini! Bajumu terlalu polos, biar aku lukis sesuatu, kau tahu, kan, aku jago lukis."
Wah...nggak iya, ni.
"Di, aku nggak mau main coret-coretan lho." kataku sambil bangun dari dudukku dan mulai menjauh dari Dimas. Tapi Dimas tak mundur, ia terus mengejarku, jadi lah kami kejar-kejaran.
Shuuuuut! Shuuuuut!
Dimas berhasil mengenaiku, dan ia tertawa puas. Aku yang tak mau kalah, ikut mengambil pilox yang memang tersedia banyak di samping dinding luar rumah. Kami kemabli kejar-kejaran, dan aku bertekad, aku harus bisa membalasnya.
Shuuuuut! Shuuuuut!
"Hahahaha, kena kau, Di. Makanya, jangan meremehkan ku."
Tawa ku senang saat melihat wajah Dimas di penuhi pilox hitam,.
"Kau, Ran! Aku menodai bajumu, bukan wajahmu." katanya ngambek.
Aku kembali tertawa di buatnya. Merasa geli dengan tingkahnya yang sekarang menuju keran air yang tak jauh dari tempatnya berdiri, dan mulai membersihkan wajahnya.
Karena merasa sedikit terlalu berlebihan, aku pun masuk ke dapur, dan mengambil handuk bersih di salah satu lemari di dapur sebelum akhirnya aku kembali mendekati Dimas yang ternyata sudah duduk manis di ayunannya.
"Ni!" aku melemparkan handuk kecil itu ke wajahnya.
"Bersihin dong!"perintahnya sambil mengembalikan handuk kecil itu padaku.
"Ok." kataku yang akhirnya membersihkan wajahnya dengan cepat dan terburu-buru, kemudian ku acak rambutnya sebelum akhirnya aku letakkan handuk kecil itu di lehernya.
"Selesai." kataku sambil menahan tawa karena sekarang, wajah Dimas bersih namun rambutnya berantakan, dan itu membuatnya cemberut, namun hal itu lucu banget.
"Hahahaha! Sumpah, loe keren banget, bro." kataku yang akhirnya melepaskan tawaku yang sudah tak bisa tertahankan.
Aku terus tertawa tanpa memperhatikan ekspresinya. Setelah aku puas tertawa, aku pun mengatur nafasku agar kembali teratur.
"Maaf ya, Di." kataku sambil duduk di sebelah Dimas.
"Tunggu saja pembalasanku." ujarnya dingin, namun ia menatapku lembut.

<<<<<

Dimas POV

Aku terlalu bahagia untuk menghentikan tawa gadis ini. Oh Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Aku menatapnya lembut, aku tak ingin menyakitinya sedikit pun, aku ingin menjaga dan terus membuatnya tertawa lepas tanpa beban. Aku serius ingin melindunginya, dan sekarang, aku harus bagaimana? Melepaskan perempuan yang begitu mencintaiku dan mendapatkan orang yang sesungguhnya ingin aku lindungi?

"Dimas, Rani! Ayo masuk, sudah mau Azan Magrib, tidak baik di luar terus." seruan mama membuatku melepaskan pandanganku dari Rani.
"Ayo masuk." ajakku melihat Rani yang masih bingung, dan itu lucu banget, wajahnya yang kebingungan, membuatnya semakin manis.
"Ran, Ayo masuk" kuulangi ajakanku.
Rani akhirnya bangun dari duduknya dan tanpa memperdulikanku, ia sedikit berlari masuk ke dalam. Aku yang di tinggal di belakang, tak mempercepat langkahku. Aku kembali berfikir, apa yang terjadi denganku?
Lagi-lagi tak ku dapatkan jawabannya.

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar