Selasa, 02 Juni 2015

Sayap-sayap Rindu

Deru ombak menghantam pantai dengan keras, membuat pasir yang kering menjadi basah. Ku telusuri pasir yang basah itu, dengan cepat kakiku ikut dibasahi ombak pantai Ulee Lheu ini. Aku masih terus berjalan, meski mentari akan segera pulang ke peraduaanya, memberikan posisinya pada bulan untuk menyinari bumi.

"Rani!" seruan itu menghentikan langkahku.
"Apa yang kau lakukan di sini, ayo kita kembali, para kru yang lain sudah kembali ke tenda mereka," kata Dimas sedikit berteriak, karena jarak antara ia dan tempatku berdiri lumayan jauh.
Aku hanya mengangkat jempolku, tanda aku setuju kembali ke tenda sekarang. Dimas masih menungguku yang terus berjalan ke arahnya.
"Kau tak kedinginan?" tanya Dimas memperhatikan baju yang ku kenakan.
Hanya dengan kaos hitam polos dan tipis dengan celana jeans selutut.
Aku hanya menggelengkan kepala.

Dimas, sahabatku sejak di bangku kuliah mengerti dengan kondisiku yang sekarang.
Aku yang menjadi pendiam sejak di tinggal ke dua orang tua ku, aku hanya tinggal sebatang kara di bumi ini merasa begitu kesepian. Meski pun kejadian maut yang menewaskan ke dua orang tua ku telah berlalu dua tahun yang lalu, tapi kepribadianku menjadi pendiam tak kunjung berubah.
Meski pun aku di kelilingi sahabat, fans dan rekan kerjaku, aku tetap merasa begitu kesepian. Aku tak tahu, hingga sampai kapan aku akan seperti ini.
"Ayo," Dimas merangkul bahuku dan membawaku kembali ke tenda.
Syuting untuk vidio klip sebuah lagu baru milik seorang penyanyi terkenal selesai tepat waktu, dan aku serta kru yang bekerja akan kembali ke kota kami masing-masing untuk liburan. Aku benci liburan, tak ada tempat yang bisa ku tuju saat berlibur. Pulang ke kampung halaman, tak ada siapa pun di sana, ke rumah nenek, mereka jugga tak di sana.

"Ikut ke rumahku?" pertanyaan Dimas membuatku berhenti memasukkan beberapa sepatu koleksiku ke dalam tasnya.
Ku lihat Dimas yang hanya tersenyum manis melihatku.
"Dinda tau, aku akan mengajakmu ikut berlibur dengan keluargaku, dan ia tidak keberatan. Kau jangan risau. Aku jamin, liburan kali ini akan menyenangkan," kata Dimas serius namun tetap tersenyum.
"Ok,"
Dimas langsung merangkulku dan sempat membuatku kaget.
"Ops! Sorry. Aku bantu, ya." kata Dimas yang akhirnya membantuku memasukkan beberapa perlengkapan lain ke dalam koper.
Setelah semuanya beres, kami pun berpisah dengan para kru yang menuju Jakarta, sedangkan kami, menuju Suka Bumi.

***

"Ran,"
"Hm,"
"Kapan kau akan nikah? Begitu banyak lelaki yang melamarmu lewat tante pirangmu itu, tak ada satu pun yang kau terima, mau sampai kapan, Ran?"
"Tanteku yang menyukai mereka, bukan aku."
"Lalu, seperti apa pria idamanmu? Aku bukannya mendesakmu untuk segera menikah, namun, aku yakin, jalan keluar dari permasalahanmu ini adalah menikah. Tak ada yang lain," penjelasan Dimas membuatku merenung dan mulai membenarkan kata-katanya.
"Bagaimana? Ada yang kau sukai?" tanya Dimas masih fokus dengan setir mobilnya.
Aku mulai berfikir, ternyata tak banyak dari teman laki-laki yang ku kenal. Mungkin aku terlalu pendiam, sehingga mereka pun jarang mengajakku ngobrol.
"Tak ada." jawabanku membuat Dimas mengerutkan dahinya.
"Kau tak suka sesama jenis, kan, Ran?!" kali ini Dimas menatapku sambil tersenyum geli.
"AW! Sakit sakit, Ran!"
Dimas meringis kesakitan karena cubitanku.
"Sebenarnya, ada yang aku suka. Tapi, dia sudah ada yang punya," kataku sedikit melirik ekspresi Dimas.
Dimas ikut melirikku sejenak, sebelum akhirnya mengatakan, "Kau menyukaiku?" tanyanya dengan nada yang cukup tenang.
Aku hanya mengangguk, mengiyakan. Dimas menatapku tak percaya. Aku hanya tersenyum tipis.
"Sejak kapan?" tanyanya diiringi senyumnya yang jail.
"Sejak sekarang, saat kau bertanya, adakah pria yang aku sukai. Dan aku baru menyadari satu hal, kalau ada satu pria yang begitu setia padaku, sahabatku sendiri, Dimas Pramata." ujarku yang juga tersenyum.
"Sebesar apa rasa sukamu padaku?" nada bicara Dimas mulai serius.
Oh Tuhan! Jangan katakan kalau dia suka padaku?! Aku hanya bercanda, karena sedari tadi Dimas juga bercanda, dan sekarang aku mulai takut, saat nada suaranya berubah menjadi seserius ini.
"Aku cuma bercanda, Di. Nggak perlu seserius itu juga kali." kataku sambil memukul ringan bahu nya.
"Aku serius, Ran." kata Dimas datar, aku tak bisa membaca ekspresi wajahnya.
Ia menghentikan mobilnya di salah satu rumah makan Padang, karena Dimas memang suka makanan itu.
"Kau lapar?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Dimas langsung turun tanpa menjawab pertanyaanku. Aku pun mengikuti nya keluar dari mobil dan masuk ke rumah makan Padang itu.
Setelah mengambil nasi seperti yang diinginkannya, Dimas mengambil tempat duduk di dekat jendela. Aku pun mengikutinya, namun aku tidak makan, karena aku tak suka masakan padang.
"Kau kenapa, Di? Marah sama aku?" tanyaku hati-hati.
Karena tak biasanya Dimas marah hanya karena becanda hal yang seperti ini.
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena kau mulai bercanda masalah hati, Ran. Dan asal kau tau, aku serius nanya, ada nggak pria yang kau suka, dan kau tau apa yang aku rasa saat kau bilang aku pria yang kau suka?" Dimas diam sejenak.
"Aku rela putusin Dinda demi kau, Ran. Asal kan kau bisa kembali menjadi Rani yang dulu, yang ceria dan selalu tersenyum, cerewet dan jail. Aku kangen sama Rani yang dulu, Ran." kata-kata Dimas mampu membuat mataku berkaca-kaca.
Sungguh, aku tak menyangka akan pikiran Dimas yang begitu tulus.
"Shuuut! Jangan nangis di sini, ntar difikir aku ngapa-ngapain kau lagi." kata Dimas membuatku tersenyum.
Kali ini Dimas ikut tersenyum. Begini lah cara kami menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi di antara kami. Selalu di bicarakan secara baik-baik, saling jujur dan terbuka, tak ada yang di rahasiakan. Mungkin karena hal itu juga persahabatan yang terjalin baru empat tahun ini seperti sudah bertahun-tahun lamanya.
"Sekarang jujur sama aku, kau menyukaiku, tidak?" kali ini Dimas menatapku intens.
Aku jadi tersenyum geli melihat tingkahnya.
"Aku memang suka kau, tapi hanya sebatas sahabat, udah, itu aja." jawabku sambil memegang tangannya.
"Kau yakin, tak lebih dari itu?" kali ini Dimas kembali serius.
Aku mengangguk yakin.
"Ok. Kita putuskan, kita tetap sahabat baik." kata Dimas sambil tersenyum tipis.

***

to be continue...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar