Nafas yang Mati
"Luar biasa, Man! Kau bisa
menguasai 10 buku dalam dua hari. Kau memang amazing!" Chandra
mengacungkan dua jempolnya saat melihat nama Aman di daftar paling atas
mahasiswa yang mendapatkan beasiswa ke New York.
"Kau terlalu berlebihan, Ndra.
Aku hanya mengulang dan mempelajari semua soal yang ada di 10 buku itu, bukan
menguasai." kata Aman sambil pergi dari hadapan mading kampus yang mulai
di kerumuni para mahasiswa.
"Ah, sama aja, dua malam kau
asik dengan 10 buku pemberian pak Randa itu, tak kau pedulikan reonian
anak-anak SMA kau yang sedang berlangsung malam itu. Kau patut mendapatkannya,
Man." kali ini Chandra merangkul bahu Aman yang memang lima centi lebih
tinggi darinya, sehingga ia sedikit berjinjit.
"Terserah kau saja lah,"
kata Aman tak ingin memperpanjang masalah sepele itu.
"AMAN!" teriakan yang
berasal dari belakang itu, membuat kedua pria tampan itu menghentikan langkah
mereka.
Aman dan Chandra membalikkan badan mereka, dan mendapati
Dea sedang menuju ke arah mereka dengan sedikit berlari.
"Congrat, bro. Loe lulus ke
New York. Gue nggak nyangka, seorang penipu dan pecontek ulung seperti loe,
bisa lulus ke sana. Loe punya orang dalam sehingga bisa membocorkan soalnya ke
loe? Wah....Luar biasa." kata-kata kasar Dea membuat wajah Aman memerah
menahan marah. Lain hal nya dengan Chandra yang tak segan mencekal kerah jaket
Dea.
"Loe kalau ngomong pakek
bukti, bro. Gue nggak takut nyakitin loe, meskipun loe cewek." kata
Chandra tegas.
"Siapa yang akan percaya,
preman kampus yang terkenal tukang contek dan penipu itu bisa lulus di
peringkat pertama ke New York?" tanya Dea tak mau kalah.
"Gue percaya," jawab
Chandra santai sambil melepaskan kerah jaket Dea.
Cewek tomboy itu tertawa mengejek.
"Sudah lah, Dee. Aku tak
berniat mengalahkanmu dalam bidang ini, tapi sungguh, aku belajar dua malam
agar bisa ke sana, dan kamu lebih tau alasanku mengapa harus ke sana."
kata Aman tenang.
"Omong kosong! Bullshit! Gue
nggak kan pernah bisa percaya lagi sama loe, Man. Loe terlalu munafik untuk
dipercayai."
PLAK!!
Sebuah tamparan keras membuat pipi Dea memerah, cap tangan
itu terlihat jelas di wajahnya.
"Shaura?" kata Dea tak
percaya dengan apa yang dilihatnya.
Shaura, sahabat dekatnya menamparnya di depan dua pria yang
sangat di bencinya.
"Kamu keterlaluan, Dee.
Seandainya kamu tau yang sebenarnya." kata Shaura dengan nada sendu.
Dea mengerutkan keningnya, Apa maksudnya? tanya hati
Dea. Ia menatap Shaura bingung.
"Udah, Sha. Tak seharusnya
kamu menampar Dea," kata Aman lembut sambil menatap Shaura yang kini sudah
ingin menangis.
"Ada apa sebenarnya? Jelaskan
padaku, Sha!" kata Dea datar.
Ekspresinya tak bisa terbaca, karena Dea nampak tenang
namun, nada suaranya bergetar.
"Biar aku yang jelaskan, ikut
aku!" kata Aman yang langsung menarik tangan Deaagar ikut dengannya.
Dea tak memberontak, sebenci apa pun ia terhadap mantan
pacarnya itu, rasa penasaran yang kuat mengalahkan rasa benci itu
*****
Aman membawa Dea ke taman belakang kampus. Karena jam
kuliah masih berjalan, taman ini sepi dari penghuni. Aman memilih merebahkan
dirinya di atas rumput hijau yang tumbuh subur di bawah sebuah pohon cemara.
Dea ikut duduk di sampingnya.
"Sebelumnya, aku minta maaf
atas semua yang pernah aku lakuin ke kamu. Mulai dari mengolok-olokmu saat
pertama kamu masuk kampus, menjadikanmu taruhan, dan sampai mencoreng nama
baikmu dengan menuduhmu mencuri soal ujian kampus, hingga kamu bisa membuktikan
bahwa kamu tidak mencuri soal itu. Dan saat itu, aku sadar, hal itu sedikit
keterlaluan untuk ngejailin kamu."
Aman berhenti sejenak, ia melirik Dea yang terlihat
menerawang jauh sambil menatap lurus ke depan.
"Dee..." kata Aman lirih,
ia melihat mata Dea mulai berkaca-kaca.
"Maafmu tak merubah keadaan
yang udah terjadi, Man," kata Dea tenang.
"Aku ingin meluruskan
kesalahfahaman yang terjadi di antara kita, Dee. Saat aku menjadikanmu barang
taruhan, aku benar-benar suka kamu, tapi aku tak mau menuruti perasaanku,
karena aku 'bos' mereka, dan aku tak ingin kemakan kata-kataku sendiri, bahwa
aku takkan jatuh hati padamu."
Penjelasan Aman membuat Dea
menghela nafas berat.
"Dan masalah beasiswa, aku tak
bermaksud mencuri beasiswa ini darimu, kamu hanya bermimpi ingin kuliah di luar
negeri, dan aku lihat, namamu juga tertera di barisan paling atas, hanya saja
tidak di New York, tapi di New Zealand, itu juga di luar negeri. Aku berharap,
kamu bisa mengerti, seberapa besar keinginanku Negara itu."
"Gue tau loe cerdas, tapi
kenapa loe milih jadi preman kampus? Saat lulus, loe baru buktiin ke mereka
semua bahwa loe bukan hanya penipu dan tukang contek, tapi loe memang bisa, dan
lagi, kenapa loe mutusin hubungan kita sepihak?"
pertanyaan Dea yang bertubi itu membuat Aman tersenyum.
"Empat tahun yang lalu, semua
bisa terjadi, karena aku memang ingin hal-hal yang baru. Aku bosan jadi anak
baik-baik. Makanya aku memilih jalur brandalan, namun aku tetap perhatian
dengan ilmu, meskipun aku dikenal tukang contek dan penipu, aku tak keberatan.
Masalah hubungan kita, meski pun saat itu kamu terlanjur sayang sama aku hingga
masalah taruhan pun tak kamu ambil pusing dan langsung memaafkanku, tapi
bagiku, semua itu tak adil, kamu terlalu baik buatku . Oleh karena itu, aku
tetap memutuskan hubungan kita," jelas Aman sambil menerawang ke atas
langit, melihat matahari yang sembunyi di balik awan.
Dea tersenyum kecut.
Hening...
Keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing,
mengingat kembali memori yang terjalin indah itu, masa dimana keduanya berbagi
rasa senang dan sedih bersama.
"Maafkan aku, Dee." kata
Aman lirih, namun Dea mampu mendengarnya.
"Saat tau kamu juga mendaftar
di universitas yang sama denganku, aku tak keberatan. Meski pun, hanya
satu orang yang akan dikirimkan ke sana. Aku juga tak keberatan, saat tau kamu
juga yang lulus ke sana, tapi yang aku kecewakan adalah, kamu ke sana dengan
tujuan yang lain,” kata Dea menatap Aman sendu.
“Kalau kamu meminta agar aku tak
meneruskan perusahaan ayahku di sana, aku minta maaf, aku tak bisa
mengabulkannya, Dee,” kata Aman tegas.
Dea masih menatap Aman sedih. Amna
tak mempedulikan tatapan itu. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Tapi, Man…” kata-kata Dea terhenti
saat tiga orang berjas hitam tiba-tiba mendekati mereka.
“Ada apa?” Tanya Aman saat ketiga
orang yang juga berkacamata hitam itu telah berdiri di hadapannya.
“Keberangkatan anda sejam lagi.
Kami di minta menjemput anda sekarang,” kata salah seorang dari mereka.
“Ok, aku berangkat sekarang ya,
Dee. Salam buat Shaura dan Chandra,” kata Aman yang akhirnya pergi meninggalkan
Dea.
“Selamat jalan, Man. Semoga Tuhan selalu
meridhai langkahmu, Amin,” kata Dea dalam kesendirian, karena Aman telah
menghilang dari hadapannya.
*****
To be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar