Jumat, 05 Juni 2015

Nafas yang Mati

Nafas yang Mati

"Luar biasa, Man! Kau bisa menguasai 10 buku dalam dua hari. Kau memang amazing!" Chandra mengacungkan dua jempolnya saat melihat nama Aman di daftar paling atas mahasiswa yang mendapatkan beasiswa ke New York.
"Kau terlalu berlebihan, Ndra. Aku hanya mengulang dan mempelajari semua soal yang ada di 10 buku itu, bukan menguasai." kata Aman sambil pergi dari hadapan mading kampus yang mulai di kerumuni para mahasiswa.
"Ah, sama aja, dua malam kau asik dengan 10 buku pemberian pak Randa itu, tak kau pedulikan reonian anak-anak SMA kau yang sedang berlangsung malam itu. Kau patut mendapatkannya, Man." kali ini Chandra merangkul bahu Aman yang memang lima centi lebih tinggi darinya, sehingga ia sedikit berjinjit.
"Terserah kau saja lah," kata Aman tak ingin memperpanjang masalah sepele itu.
"AMAN!" teriakan yang berasal dari belakang itu, membuat kedua pria tampan itu menghentikan langkah mereka.
Aman dan Chandra membalikkan badan mereka, dan mendapati Dea sedang menuju ke arah mereka dengan sedikit berlari.
"Congrat, bro. Loe lulus ke New York. Gue nggak nyangka, seorang penipu dan pecontek ulung seperti loe, bisa lulus ke sana. Loe punya orang dalam sehingga bisa membocorkan soalnya ke loe? Wah....Luar biasa." kata-kata kasar Dea membuat wajah Aman memerah menahan marah. Lain hal nya dengan Chandra yang tak segan mencekal kerah jaket Dea.
"Loe kalau ngomong pakek bukti, bro. Gue nggak takut nyakitin loe, meskipun loe cewek." kata Chandra tegas.
"Siapa yang akan percaya, preman kampus yang terkenal tukang contek dan penipu itu bisa lulus di peringkat pertama ke New York?" tanya Dea tak mau kalah.
"Gue percaya," jawab Chandra santai sambil melepaskan kerah jaket Dea.
Cewek tomboy itu tertawa mengejek.
"Sudah lah, Dee. Aku tak berniat mengalahkanmu dalam bidang ini, tapi sungguh, aku belajar dua malam agar bisa ke sana, dan kamu lebih tau alasanku mengapa harus ke sana." kata Aman tenang.
"Omong kosong! Bullshit! Gue nggak kan pernah bisa percaya lagi sama loe, Man. Loe terlalu munafik untuk dipercayai."
PLAK!!
Sebuah tamparan keras membuat pipi Dea memerah, cap tangan itu terlihat jelas di wajahnya.
"Shaura?" kata Dea tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Shaura, sahabat dekatnya menamparnya di depan dua pria yang sangat di bencinya.
"Kamu keterlaluan, Dee. Seandainya kamu tau yang sebenarnya." kata Shaura dengan nada sendu.
Dea mengerutkan keningnya, Apa maksudnya? tanya hati Dea. Ia menatap Shaura bingung.
"Udah, Sha. Tak seharusnya kamu menampar Dea," kata Aman lembut sambil menatap Shaura yang kini sudah ingin menangis.
"Ada apa sebenarnya? Jelaskan padaku, Sha!" kata Dea datar.
Ekspresinya tak bisa terbaca, karena Dea nampak tenang namun, nada suaranya bergetar.
"Biar aku yang jelaskan, ikut aku!" kata Aman yang langsung menarik tangan Deaagar ikut dengannya.
Dea tak memberontak, sebenci apa pun ia terhadap mantan pacarnya itu, rasa penasaran yang kuat mengalahkan rasa benci itu

*****

Aman membawa Dea ke taman belakang kampus. Karena jam kuliah masih berjalan, taman ini sepi dari penghuni. Aman memilih merebahkan dirinya di atas rumput hijau yang tumbuh subur di bawah sebuah pohon cemara. Dea ikut duduk di sampingnya. 
"Sebelumnya, aku minta maaf atas semua yang pernah aku lakuin ke kamu. Mulai dari mengolok-olokmu saat pertama kamu masuk kampus, menjadikanmu taruhan, dan sampai mencoreng nama baikmu dengan menuduhmu mencuri soal ujian kampus, hingga kamu bisa membuktikan bahwa kamu tidak mencuri soal itu. Dan saat itu, aku sadar, hal itu sedikit keterlaluan untuk ngejailin kamu."
Aman berhenti sejenak, ia melirik Dea yang terlihat menerawang jauh sambil menatap lurus ke depan.
"Dee..." kata Aman lirih, ia melihat mata Dea mulai berkaca-kaca.
"Maafmu tak merubah keadaan yang udah terjadi, Man," kata Dea tenang.
"Aku ingin meluruskan kesalahfahaman yang terjadi di antara kita, Dee. Saat aku menjadikanmu barang taruhan, aku benar-benar suka kamu, tapi aku tak mau menuruti perasaanku, karena aku 'bos' mereka, dan aku tak ingin kemakan kata-kataku sendiri, bahwa aku takkan jatuh hati padamu."
Penjelasan Aman membuat Dea menghela nafas berat.
"Dan masalah beasiswa, aku tak bermaksud mencuri beasiswa ini darimu, kamu hanya bermimpi ingin kuliah di luar negeri, dan aku lihat, namamu juga tertera di barisan paling atas, hanya saja tidak di New York, tapi di New Zealand, itu juga di luar negeri. Aku berharap, kamu bisa mengerti, seberapa besar keinginanku Negara itu."
"Gue tau loe cerdas, tapi kenapa loe milih jadi preman kampus? Saat lulus, loe baru buktiin ke mereka semua bahwa loe bukan hanya penipu dan tukang contek, tapi loe memang bisa, dan lagi, kenapa loe mutusin hubungan kita sepihak?"
pertanyaan Dea yang bertubi itu membuat Aman tersenyum.
"Empat tahun yang lalu, semua bisa terjadi, karena aku memang ingin hal-hal yang baru. Aku bosan jadi anak baik-baik. Makanya aku memilih jalur brandalan, namun aku tetap perhatian dengan ilmu, meskipun aku dikenal tukang contek dan penipu, aku tak keberatan. Masalah hubungan kita, meski pun saat itu kamu terlanjur sayang sama aku hingga masalah taruhan pun tak kamu ambil pusing dan langsung memaafkanku, tapi bagiku, semua itu tak adil, kamu terlalu baik buatku . Oleh karena itu, aku tetap memutuskan hubungan kita," jelas Aman sambil menerawang ke atas langit, melihat matahari yang sembunyi di balik awan.
Dea tersenyum kecut.
Hening...
Keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, mengingat kembali memori yang terjalin indah itu, masa dimana keduanya berbagi rasa senang dan sedih bersama.
"Maafkan aku, Dee." kata Aman lirih, namun Dea mampu mendengarnya.
"Saat tau kamu juga mendaftar di universitas yang sama denganku, aku tak keberatan. Meski pun, hanya satu orang yang akan dikirimkan ke sana. Aku juga tak keberatan, saat tau kamu juga yang lulus ke sana, tapi yang aku kecewakan adalah, kamu ke sana dengan tujuan yang lain,” kata Dea menatap Aman sendu.
“Kalau kamu meminta agar aku tak meneruskan perusahaan ayahku di sana, aku minta maaf, aku tak bisa mengabulkannya, Dee,” kata Aman tegas.
Dea masih menatap Aman sedih. Amna tak mempedulikan tatapan itu. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Tapi, Man…” kata-kata Dea terhenti saat tiga orang berjas hitam tiba-tiba mendekati mereka.
“Ada apa?” Tanya Aman saat ketiga orang yang juga berkacamata hitam itu telah berdiri di hadapannya.
“Keberangkatan anda sejam lagi. Kami di minta menjemput anda sekarang,” kata salah seorang dari mereka.
“Ok, aku berangkat sekarang ya, Dee. Salam buat Shaura dan Chandra,” kata Aman yang akhirnya pergi meninggalkan Dea.
“Selamat jalan, Man. Semoga Tuhan selalu meridhai langkahmu, Amin,” kata Dea dalam kesendirian, karena Aman telah menghilang dari hadapannya.

*****

                                                                          To be continue...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar