Rabu, 17 Oktober 2012

Hikmah

Hikmah Menjelang Puasa
-Siang
*01/07/`12
Waktu berlalu begitu cepat, nggak terasa bulan puasa udah diambang pintu. Aku yakin, setiap orang yang beriman pasti senang dengan datangnya bulan suci itu, begitu juga denganku dan orang-orang disekitarku. Saat bulan yang begitu penuh berkah itu datang, kegiatanku setiap harinya pun berubah, yang dulunya setiap pagi berangkat kuliah, dan pulangnya sore, saat bulan puasa, aku bisa membantu orang tuaku membersihkan rumah, mencuci baju, dan hal lain sebagainya. Kegiatan taddarus pun kembali kuperbanyak Insya Allah, karena di bulan itu, adalah bulan yang begitu istimewa, dan hal yang paling berat adalah melawan hawa nafsu yang nggak henti-hentinya menghasut dan meracuni kita dengan hal-hal yang tidak baik, hal-hal yang mampu menjerumuskan kita ke dalam kesesatan. Na`uzubillahi mindzalik, semoga kita bisa mampu mengontrol hawa nafsu kita, amin.*
          “Kakak, ada tamu nyariin kakak, ni!” suara adiknya yang cempreng itu mengagetkan Zaira yang sedang asyik menulis di diarynya.
          “Siapa?” tanya cewek berkerudung biru itu sambil keluar dari kamarnya.
          “Katanya teman kakak, nggak tahu siapa.”
          Cewek berlesung pipi itu melangkah menuju ruang tamu. Dilihatnya teman-teman secampusnya duduk dengan rapi sambil tersenyum ke arahnya yang baru tiba.
          “Ngapain dirumah terus, kita mau liburan bareng ni, mau ikut? Ikut aja, yuk!” seru Sarah sambil menarik Zaira untuk duduk di dekatnya,
          “Kali ini loe harus ikut, loe nggak pernah gabung bareng kita, sekali ini aja kenapa, sih. Lagian kita liburannya ke villa Sarah kok di Bandung, trus, kita nggak ngajak pacar-pacar kita kok, jadi tenang aja dan sebelum puasa kita pulang, gimana, ikut ya…” kali ini giliran Cika yang membujuk Zaira, yang menurut mereka sosok Zaira adalah sosok yang begitu menjaga diri, Zaira tak pernah mau ikut jalan-jalan kalau mereka berbarengan dengan pacar-pacar mereka, makanya Cika memilih sedikit berbohong, padahal sebenarnya pacar-pacar mereka ikut berlibur bersama mereka.
          “Iya, Aira ikut.” Kata Zaira sambil tersenyum tipis, dengan sigab teman-temannya mulai dari Sarah, Cika, Rara, Kiki dan Hena langsung memeluknya.
          “Thanks ya sayang…” kata mereka kompak.
Malam dirumah Sarah
          “Ray, Zaira ikut, jadi loe mesti cepat sewa villa di seberang villa gue, kalau loe mau dapatin Zaira.” Kata Sarah semangat.
          “Iya, tapi, apa Zaira mau pacaran?” tanya cowok yang juga teman secampus Zaira itu ragu-ragu.
          “Tanang aja, itu bisa diolah.” Kata Cika meyakinkan Ray.
          “Ok kalau gitu, gue urus villa dulu , ya. Pamit.” Kata Ray sambil pemit dari rumah Sarah.
Paginya di rumah Zaira
          “Kak, kalau kakak pergi luburan, ntar bawa pulang oleh-oleh ya,” seru Gina_adik Zaira dengan senangnya.
          “Insya Allah, ya udah kakak jemput ummi dulu ya.”
          “Iya kak, hati-hati, ya.”
          Zaira melajukan mobilnya sedikit lebih cepat dari biasanya, karena ia diburu waktu untuk mengajar di TPA, namun penyakit lambungnya yang kumat membuat konsentrasinya hilang, dan tanpa melihat ke depan jalan, Zaira meraih sebotol minuman ringan yang terletak di jok disampingnya, tanpa disadari, mobil beralih arah ke jalan yang berlawanan darinya, Zaira menyadari hal itu namun terlambat untuk menghindari mobil yang melaju cepat dari arah berlawanan dengannya, mobil itu menghantam mobil Zaira dan membuat mobilnya terpelanting ke jurang di samping jalan.

         
           

the end.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar