Hikmah
Menjelang Puasa
-Siang
*01/07/`12
Waktu
berlalu begitu cepat, nggak terasa bulan puasa udah diambang pintu. Aku yakin,
setiap orang yang beriman pasti senang dengan datangnya bulan suci itu, begitu
juga denganku dan orang-orang disekitarku. Saat bulan yang begitu penuh berkah
itu datang, kegiatanku setiap harinya pun berubah, yang dulunya setiap pagi
berangkat kuliah, dan pulangnya sore, saat bulan puasa, aku bisa membantu orang
tuaku membersihkan rumah, mencuci baju, dan hal lain sebagainya. Kegiatan
taddarus pun kembali kuperbanyak Insya Allah, karena di bulan itu, adalah bulan
yang begitu istimewa, dan hal yang paling berat adalah melawan hawa nafsu yang
nggak henti-hentinya menghasut dan meracuni kita dengan hal-hal yang tidak
baik, hal-hal yang mampu menjerumuskan kita ke dalam kesesatan. Na`uzubillahi
mindzalik, semoga kita bisa mampu mengontrol hawa nafsu kita, amin.*
“Kakak, ada tamu nyariin kakak, ni!”
suara adiknya yang cempreng itu mengagetkan Zaira yang sedang asyik menulis di
diarynya.
“Siapa?” tanya cewek berkerudung biru
itu sambil keluar dari kamarnya.
“Katanya teman kakak, nggak tahu
siapa.”
Cewek berlesung pipi itu melangkah
menuju ruang tamu. Dilihatnya teman-teman secampusnya duduk dengan rapi sambil
tersenyum ke arahnya yang baru tiba.
“Ngapain dirumah terus, kita mau
liburan bareng ni, mau ikut? Ikut aja, yuk!” seru Sarah sambil menarik Zaira
untuk duduk di dekatnya,
“Kali ini loe harus ikut, loe nggak
pernah gabung bareng kita, sekali ini aja kenapa, sih. Lagian kita liburannya
ke villa Sarah kok di Bandung, trus, kita nggak ngajak pacar-pacar kita kok,
jadi tenang aja dan sebelum puasa kita pulang, gimana, ikut ya…” kali ini
giliran Cika yang membujuk Zaira, yang menurut mereka sosok Zaira adalah sosok
yang begitu menjaga diri, Zaira tak pernah mau ikut jalan-jalan kalau mereka
berbarengan dengan pacar-pacar mereka, makanya Cika memilih sedikit berbohong,
padahal sebenarnya pacar-pacar mereka ikut berlibur bersama mereka.
“Iya, Aira ikut.” Kata Zaira sambil
tersenyum tipis, dengan sigab teman-temannya mulai dari Sarah, Cika, Rara, Kiki
dan Hena langsung memeluknya.
“Thanks ya sayang…” kata mereka
kompak.
Malam
dirumah Sarah
“Ray, Zaira ikut, jadi loe mesti cepat
sewa villa di seberang villa gue, kalau loe mau dapatin Zaira.” Kata Sarah
semangat.
“Iya, tapi, apa Zaira mau pacaran?”
tanya cowok yang juga teman secampus Zaira itu ragu-ragu.
“Tanang aja, itu bisa diolah.” Kata
Cika meyakinkan Ray.
“Ok kalau gitu, gue urus villa dulu ,
ya. Pamit.” Kata Ray sambil pemit dari rumah Sarah.
Paginya
di rumah Zaira
“Kak, kalau kakak pergi luburan, ntar
bawa pulang oleh-oleh ya,” seru Gina_adik Zaira dengan senangnya.
“Insya Allah, ya udah kakak jemput
ummi dulu ya.”
“Iya kak, hati-hati, ya.”
Zaira melajukan mobilnya sedikit lebih
cepat dari biasanya, karena ia diburu waktu untuk mengajar di TPA, namun
penyakit lambungnya yang kumat membuat konsentrasinya hilang, dan tanpa melihat
ke depan jalan, Zaira meraih sebotol minuman ringan yang terletak di jok
disampingnya, tanpa disadari, mobil beralih arah ke jalan yang berlawanan
darinya, Zaira menyadari hal itu namun terlambat untuk menghindari mobil yang
melaju cepat dari arah berlawanan dengannya, mobil itu menghantam mobil Zaira
dan membuat mobilnya terpelanting ke jurang di samping jalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar