Rabu, 17 Oktober 2012

SECRET NOTE




satu
Dari kecil hingga sekarang, gue nggak pernah percaya siapa pun didunia ini, karena memang nggak ada yang bisa dipercaya. Mama_ saat gue berusia 5 tahun, beliau berkata tak akan pernah ninggalin gue sendiri, karena papa telah lebih dulu diambil Tuhan, gue percaya dengan kata-kata mama, namun, saat gue berusia 6 tahun, beliau pergi, ninggalin gue sendiri di terminal kereta api, gue nyari kemana-mana, nggak ketemu juga, gue pulang jalan kaki ke rumah, sanggat amat capek, dan gue mulai stres saat gue lihat papan yang tertera di pintu pagar rumah gue, saat itu gue udah bisa ngebaca, sedikit tentang IQ gue, kata mama, gue jenius, tapi gue nggak ngerasa, kembali ke cerita, gue baca tulisan yang tertera di depan pintu pagar gue _ DIJUAL_ dan saat gue terbangun, gue berada disebuah rumah yang bisa dibilang besar, karena posisi gue saat itu tertidur di atas sofa, dan ruangan itu sangat luas. Ternyata pemilik rumah itu memuin gue yang pingsan didepan rumah gue, karena kasihan, sang tante yang bernama tante Mira ngebawa gue kerumahnya. Dia minta gue cerita, kenapa gue bisa pingsan, gue cerita semuanya, dan beliau bilang, ‘mulai detik ini, kamu anakku’, gue yang bingung, nggak ngejawab. Selain tante yang baik hati dan cantik itu, dirumah ini juga ada paman yang tak kalah baiknya, om Saif, kata beliau ‘mulai saat ini, panggil kami mama dan papa,’ gue nggak hanya mengangguk, beliau ngemasuin gue ke sekolah yang sama dengan anaknya, Cristal, karena gue setahun lebih tua darinya, gue dikelas yang berbeda dengannya. Cristal sangat cantik dan baik hati, dia anak satu-satunya, dan dia bersyukur gue mau tinggal dirumahnya. Gue juga bersyukur bisa bergabung bersama keluarga yang sangat baik ini. Gue mulai menyayangi keluarga ini, namun gue belum bisa percaya.
Sepuluh tahun telah berlalu, Cristal tumbuh menjadi cewek yang begitu manis, cantik, baik, ramah, dan memiliki banyak talenta, namun yang paling dia senangi adalah bernyanyi. Kami selalu satu sekolah, hingga sekarang. Keahlian Cristal dan vocalnya yang tinggi dan indah, membuatnya menjadi seorang penyanyi. Jadwalnya yang begitu padat, membuat jarak antara kami. Gue mulai ngerasa kehilangan dia, saat banyak waktu yang gue lalui tanpanya, gue ngerasa dia udah nggak butuh gue, terlebih saat gue tahu, dia udah punya pacar, Dio, seorang musisi muda. Gue ikut senang saat dia pulang membawa senyuman. Meski tak jarang juga dia pulang ngebawa repetan, kesal dan air mata. Disaat-saat itu, dia mulai sering cerita ke gue apa aja yang dia alami, saat di kelas, luar kelas maupun saat ngedate, semuanya. Gue kembali ngerasa dibutuhkan.
Setahun kemudian, dia putus, karena sang pacar ketahuan selingkuh, gue marah, bahkan tu cowok gue pukulin, tapi karena dia ngelarang, gue berhenti, kalau nggak, gue mampusin tu cowok, meski resikonya besar, mukulin seorang musisi terkenal. Kembali ke Cristal, dia mulai punya kepribadian baru, diam dan nggak banyak bicara. Kebiasaan barunya itu ngebuat gue mati kata, gue ajak main, dia diam, gue jailin, dia juga diam, gue nggak tahu mesti ngapain. Dan sekarang, dia berhenti nyanyi. Gue pusing, gue khawatir dengan keadaannya yang seperti ini, terlebih gimana gue mesti ngomong ke mama-papa yang memang ngarap gue bisa jaga dia selama mereka bertugas ke Paris. Sekarang gue benar-benar kehabisan akal untuk buat Cristal kembali kayak dulu, namun, gue terus bujuk dia agar kembali bernyanyi, kasihan menegernya pusing nyari penggantinya, vocal suaranya yang unik membuatnya beda dari penyanyi yang lain, dan nggak ada yang bisa ngegantiin dia. Gue terus mencoba buat ngomong, hingga akhirnya dia mulai mau kembali bernyanyi, gue senang banget, akhirnya dia bisa kembali tersenyum setelah sekian lama diam dan kaku tanpa senyuman, gue senang banget, tapi itu juga menimbulkan sedikit stress di otak gue, karena tingkahnya mulai menggila, manja berlebihan, minta perhatian lebih, bahkan yang ngebuat kepala gue hampir pecah, karena dia bilang, ‘gue sayang sama loe, gue suka sama loe, gue cinta sama loe, bukan sebagai adik-kakak, tapi sebagai seorang cewek ke cowok, gue nggak mau kehilangan loe, gue butuh loe!’, mampus gue! Huuft!! Gue stress!! Bagi gue, dia adik gue, nggak lebih, gue sayang sama dia, gue juga cinta dia, tapi nggak lebih dari sebatas adik, oh Tuhan. Hari demi hari gue mulai menjauh, tak ada respon, hingga suatu hari gue nemuin dia tergeletak dengan darah yang bercucuran dari lengan tangannya, gue shok! Hari itu, dia nelpon gue dan ngomong kalau dia ngerasa gue jauhi dia, gue nggak pulang ke rumah beberapa hari, dia ngerasa sendiri, dan mulai bosan, gue kurang ngeh dengan kata-katanya itu karena gue sibuk dengan lukisan gue, dan hari itu tepatnya siang, gue pulang ke rumah, dan ngelihat keadaannya yang seperti itu, gue langsung ngebawa dia ke rumah sakit, dan syukur banget, gue nggak terlambat, nyawanya tertolong. Saat gue duduk di samping ranjangnya, gue mulai mikir, apa sebaiknya gue buka hati gue sebagai cowok, tapi, gue nggak bisa. Gue putusin untuk cerita ke mama, dan esoknya, mama langsung sampai ke Jakarta.
Mama mulai menasehati Cristal baik-baik, gue hanya bisa diam. Cristal menangis, dan itu tangisan yang nggak biasanya, dia nangis tanpa suara, kalau biasanya, dia nangisnya bersuara dan lumanyan keras, kali ini beda. Gue ngerasa kepala gue semakin sakit saat mama bilang, `Van, kamu bukan anak kandung mama, jadi, nggak ada salahnya kalau kamu jadi cowoknya Cristal, mama lebih tenang nyerahin dia seutuhnya ke kamu.` gue hanya bisa diam, mama, papa dan Cristal juga nggak bisa dipercaya, kata mama papa, gue anak mereka dan nggak ada yang akan merubah itu, tapi sekarang, mereka sendiri yang merubahnya. Gue nggak tahu mesti jawab apa. Mereka yang udah ngerawat gue, nyekolahin gue, perhatian sama gue, kasih sayang, dan masih banyak hal dan kebahagiaan yang udah mereka ukir di hati gue, gue nggak bisa nolak, meski sakit, gue terima.
Catatan ini gue tulis, karena gue nggak yakin bisa hidup lebih lama. Meski ujungnya ni catatan bakal gue bakar juga, huuuft! Yang jelas, gue puas, udah ngungkapin semuanya disini, meski sekarang gue hanya terkapar di rumah sakit, nggak lama lagi juga gue bakal nggak ada.
Hmm..
Buat yang nemuin buku catatan ini, mohon dijaga ya, karena ini satu-satunya peninggalan gue, gue minta tolong, kalau loe nggak mau jaga, simpan kembali ditempat dimana loe ambil ni buku, siapa pun loe, jaga pesan gue, thanks.
Mama, papa, Cristal, terima kasih banyak dan maaf…
                            
                                                                                      Evan Pardian


Tidak ada komentar:

Posting Komentar