satu
Dari kecil hingga sekarang, gue nggak pernah
percaya siapa pun didunia ini, karena memang nggak ada yang bisa dipercaya.
Mama_ saat gue berusia 5 tahun, beliau berkata tak akan pernah ninggalin gue
sendiri, karena papa telah lebih dulu diambil Tuhan, gue percaya dengan
kata-kata mama, namun, saat gue berusia 6 tahun, beliau pergi, ninggalin gue
sendiri di terminal kereta api, gue nyari kemana-mana, nggak ketemu juga, gue
pulang jalan kaki ke rumah, sanggat amat capek, dan gue mulai stres saat gue lihat
papan yang tertera di pintu pagar rumah gue, saat itu gue udah bisa ngebaca,
sedikit tentang IQ gue, kata mama, gue jenius, tapi gue nggak ngerasa, kembali
ke cerita, gue baca tulisan yang tertera di depan pintu pagar gue _ DIJUAL_ dan
saat gue terbangun, gue berada disebuah rumah yang bisa dibilang besar, karena
posisi gue saat itu tertidur di atas sofa, dan ruangan itu sangat luas.
Ternyata pemilik rumah itu memuin gue yang pingsan didepan rumah gue, karena
kasihan, sang tante yang bernama tante Mira ngebawa gue kerumahnya. Dia minta
gue cerita, kenapa gue bisa pingsan, gue cerita semuanya, dan beliau bilang,
‘mulai detik ini, kamu anakku’, gue yang bingung, nggak ngejawab. Selain tante
yang baik hati dan cantik itu, dirumah ini juga ada paman yang tak kalah
baiknya, om Saif, kata beliau ‘mulai saat ini, panggil kami mama dan papa,’ gue
nggak hanya mengangguk, beliau ngemasuin gue ke sekolah yang sama dengan
anaknya, Cristal, karena gue setahun lebih tua darinya, gue dikelas yang
berbeda dengannya. Cristal sangat cantik dan baik hati, dia anak satu-satunya,
dan dia bersyukur gue mau tinggal dirumahnya. Gue juga bersyukur bisa bergabung
bersama keluarga yang sangat baik ini. Gue mulai menyayangi keluarga ini, namun
gue belum bisa percaya.
Sepuluh tahun telah berlalu, Cristal tumbuh
menjadi cewek yang begitu manis, cantik, baik, ramah, dan memiliki banyak talenta,
namun yang paling dia senangi adalah bernyanyi. Kami selalu satu sekolah, hingga
sekarang. Keahlian Cristal dan vocalnya yang tinggi dan indah, membuatnya
menjadi seorang penyanyi. Jadwalnya yang begitu padat, membuat jarak antara
kami. Gue mulai ngerasa kehilangan dia, saat banyak waktu yang gue lalui
tanpanya, gue ngerasa dia udah nggak butuh gue, terlebih saat gue tahu, dia
udah punya pacar, Dio, seorang musisi muda. Gue ikut senang saat dia pulang
membawa senyuman. Meski tak jarang juga dia pulang ngebawa repetan, kesal dan
air mata. Disaat-saat itu, dia mulai sering cerita ke gue apa aja yang dia
alami, saat di kelas, luar kelas maupun saat ngedate, semuanya. Gue kembali
ngerasa dibutuhkan.
Setahun kemudian, dia putus, karena sang
pacar ketahuan selingkuh, gue marah, bahkan tu cowok gue pukulin, tapi karena
dia ngelarang, gue berhenti, kalau nggak, gue mampusin tu cowok, meski
resikonya besar, mukulin seorang musisi terkenal. Kembali ke Cristal, dia mulai
punya kepribadian baru, diam dan nggak banyak bicara. Kebiasaan barunya itu
ngebuat gue mati kata, gue ajak main, dia diam, gue jailin, dia juga diam, gue
nggak tahu mesti ngapain. Dan sekarang, dia berhenti nyanyi. Gue pusing, gue
khawatir dengan keadaannya yang seperti ini, terlebih gimana gue mesti ngomong
ke mama-papa yang memang ngarap gue bisa jaga dia selama mereka bertugas ke
Paris. Sekarang gue benar-benar kehabisan akal untuk buat Cristal kembali kayak
dulu, namun, gue terus bujuk dia agar kembali bernyanyi, kasihan menegernya
pusing nyari penggantinya, vocal suaranya yang unik membuatnya beda dari
penyanyi yang lain, dan nggak ada yang bisa ngegantiin dia. Gue terus mencoba
buat ngomong, hingga akhirnya dia mulai mau kembali bernyanyi, gue senang
banget, akhirnya dia bisa kembali tersenyum setelah sekian lama diam dan kaku
tanpa senyuman, gue senang banget, tapi itu juga menimbulkan sedikit stress di
otak gue, karena tingkahnya mulai menggila, manja berlebihan, minta perhatian
lebih, bahkan yang ngebuat kepala gue hampir pecah, karena dia bilang, ‘gue
sayang sama loe, gue suka sama loe, gue cinta sama loe, bukan sebagai
adik-kakak, tapi sebagai seorang cewek ke cowok, gue nggak mau kehilangan loe,
gue butuh loe!’, mampus gue! Huuft!! Gue stress!! Bagi gue, dia adik gue, nggak
lebih, gue sayang sama dia, gue juga cinta dia, tapi nggak lebih dari sebatas
adik, oh Tuhan. Hari demi hari gue mulai menjauh, tak ada respon, hingga suatu
hari gue nemuin dia tergeletak dengan darah yang bercucuran dari lengan
tangannya, gue shok! Hari itu, dia nelpon gue dan ngomong kalau dia ngerasa gue
jauhi dia, gue nggak pulang ke rumah beberapa hari, dia ngerasa sendiri, dan
mulai bosan, gue kurang ngeh dengan kata-katanya itu karena gue sibuk dengan
lukisan gue, dan hari itu tepatnya siang, gue pulang ke rumah, dan ngelihat
keadaannya yang seperti itu, gue langsung ngebawa dia ke rumah sakit, dan
syukur banget, gue nggak terlambat, nyawanya tertolong. Saat gue duduk di
samping ranjangnya, gue mulai mikir, apa sebaiknya gue buka hati gue sebagai
cowok, tapi, gue nggak bisa. Gue putusin untuk cerita ke mama, dan esoknya,
mama langsung sampai ke Jakarta.
Mama mulai menasehati Cristal baik-baik, gue
hanya bisa diam. Cristal menangis, dan itu tangisan yang nggak biasanya, dia
nangis tanpa suara, kalau biasanya, dia nangisnya bersuara dan lumanyan keras,
kali ini beda. Gue ngerasa kepala gue semakin sakit saat mama bilang, `Van,
kamu bukan anak kandung mama, jadi, nggak ada salahnya kalau kamu jadi cowoknya
Cristal, mama lebih tenang nyerahin dia seutuhnya ke kamu.` gue hanya bisa
diam, mama, papa dan Cristal juga nggak bisa dipercaya, kata mama papa, gue
anak mereka dan nggak ada yang akan merubah itu, tapi sekarang, mereka sendiri
yang merubahnya. Gue nggak tahu mesti jawab apa. Mereka yang udah ngerawat gue,
nyekolahin gue, perhatian sama gue, kasih sayang, dan masih banyak hal dan
kebahagiaan yang udah mereka ukir di hati gue, gue nggak bisa nolak, meski
sakit, gue terima.
Catatan ini gue tulis, karena gue nggak yakin
bisa hidup lebih lama. Meski ujungnya ni catatan bakal gue bakar juga, huuuft!
Yang jelas, gue puas, udah ngungkapin semuanya disini, meski sekarang gue hanya
terkapar di rumah sakit, nggak lama lagi juga gue bakal nggak ada.
Hmm..
Buat yang nemuin buku catatan ini, mohon
dijaga ya, karena ini satu-satunya peninggalan gue, gue minta tolong, kalau loe
nggak mau jaga, simpan kembali ditempat dimana loe ambil ni buku, siapa pun
loe, jaga pesan gue, thanks.
Mama, papa, Cristal, terima kasih banyak dan
maaf…
Evan
Pardian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar