
Salah satu stiker tim sepak bola SMAN
2 _ Ibal dan sahabatnya masih duduk di lapangan, meski lapangannya telah sepi.
“Bal, loe yakin kita bisa ngadapin mereka?” pertanyaan itu dilontarkan Candra
saat lampu gedung olah raga itu dipadamkan.
“Tahun lalu kita bisa, kenapa tahun ini nggak.” Kata Ibal sambil berdiri dan mulai berjalan keluar gedung, Candra mengikuti langkahnya.
“Kali ini lawan kita udah pernah ke nasional, Bal.”
“Terus?” tanggapan Ibal yang acuh itu membuat Candra menghadang langkahnya.
“Jangan ngeremehin lawan.” kata Candra dengan nada sedikit ditekan.
“Siapa yang ngeremehin? Berapa kali mesti kuingattin, jangan pernah takut sama
lawan.” Kata Ibal sambil memegang bahu Candra.
“Kamu selalu ngomong gitu, nah aku sampai sekarang tak tahu cara hilangin rasa
takutku ini.” Keluh Candra akhirnya muncul, dan Ibal hanya tersenyum tipis.
“Coba tinggiin rasa percaya dirimu, aku yakin kamu pasti bisa hilangin rasa
itu.” Kata Ibal sambil merangkul temannya itu. Candra hanya tersenyum
menanggapi kata-kata Ibal itu.
)( )( )( )(
Pertandingan yang dilaksanakan di Stadion Citarum,
Sejak menit awal, SMAN 1 mendominasi permainan. Serangan yang dibangun dari
lini belakang, lebih efektif dibanding permainan lawan, Taqin membuka
kemenangan timnya dengan mencetak gol di menit ketiga. Tendangan terarahnya tak
mampu dihalau kiper SMAN 2, Rico. Gol cepat itu sempat membuat mental anak-anak
SMAN 2 turun. Akibatnya, tekanan bertubi-tubi sempat melahirkan banyak peluang
bagi SMAN 1. Sepuluh menit berjalan, anak-anak SMAN 2 yang dilatih Wisnu mulai
bisa lepas dari tekanan. Bermain dengan semangat tinggi, Ibal cs berani
melakukan permainan terbuka. Tapi sayangnya, lemahnya koordinasi lini belakang
menjadi petaka bagi SMAN 2 , tepat di menit 29, striker SMAN 1, Bima lepas dari
kawalan pemain belakang. Dia lolos dari jebakan offside dan sukses mencetak gol
melalui tendangan melambung. Usai gol kedua, SMAN 2 berusaha mengejar
ketertinggalan. Sayangnya hingga dibunyikan peluit tanda babak pertama usai,
skor tetap bertahan 2-0 untuk keunggulan SMAN 1.
“Bal!”
Ibal yang sedang sendirian di toilet berpaling ke arah si empunya suara.
“Skor 2-0.” Kata Candra membuat wajah Ibal yang tadinya kusut kini
tersenyum tipis.
“Tenang, di babak ke dua kita balas.” Kata Ibal sambil berjalan ke luar dari
toilet.
“Kamu kenapa bisa tenang gini, sih? Orang udah panik juga.” Kata Candra sewot.
Ibal hanya tersenyum menanggapi kata-kata itu. Dirangkulnya Candra dan keluar dari toilet
itu. Tapi, dipersimpangan jalan,
langkah keduanya terhenti saat dilihatnya kapten musuh dan satu anggotanya juga melewati jalan yang sama.
Tatapan meremehkan dari Taqin membuat senyum Ibal menghilang, Candra hanya diam
saat Bima berkata lirih “Kita kok dilawan, nyerah aja dong.”
“Lebih baik kalau kalian nyerah dari sekarang, nggak ada gunanya ngelawan.”
Kata Taqin dengan nada meremehkan. Ibal hanya tersenyum tipis.
“Pertandingan belum berakhir, jadi kalian belum menang. Nggak perlu nyuruh kami
untuk nyerah, kami belum ngeluarin apa-apa tadi, kalau kalian menang dengan
cara itu, kalian yang rugi, yuk Ndra.” Kata Ibal sebelum akhirnya berlalu
meninggalkan kedua cowok yang memandang mereka dengan pandangan benci itu.
)( )( )( )(
Babak kedua dimulai, SMAN 2 melakukan
perubahan strategi. Kini mereka menguasai laga, pertahanan Ibal cs
menjadi kuat dan kini kesalahan yang terlihat dari SMAN 1 adalah pemain
belakangnya yang mulai lalai menjaga pertahanan, gelandang SMAN 2 Alfian sukses
mencetak gol pertama bagi timnya. Dia dengan mudah meneruskan umpan Bondan yang
menusuk dari sisi kanan pertahanan SMAN 1. Kini skor berubah 2-1, terlihat
wajah Taqin yang mulai was-was. Gerak Ibal yang begitu cepat dan gesit kembali
mencetak gol kedua untuk timnya, kali ini Taqin benar-benar takut. SMAN 1 mulai
memperketat penjagaan, namun di detik terakhir, Ibal berhasil mencolong bola
dari Taqin, dan dengan taktiknya mampu membawa mereka menjadi juara.
“Gila! Kita menang!” kata Bondan dengan semangat saat mereka menuju parkiran
dan siap untuk kembali ke sekolah.
“Alhamdulillah.” Kali ini seruan ke lima teman yang selalu bersamanya
membuatnya sedikit tersenyum malu.
Langkah ke enam cowok itu terhenti saat Taqin mendatangi mereka.
“Selamat ya, gue udah
salah menilai kalian.” Kata Taqin sambil tersenyum simpul.
“Ya ya ya,..” kata ke enam
cowok itu sambil tersenyum senang.
“Aku berharap kita bisa
jumpa di permainan Nasional, suatu saat, kutunggu kamu disana.” Kata Ibal
sambil berjabat tangan dengan Taqin, sedangkan yang lainnya hanya tersenyum
senang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar