Rabu, 17 Oktober 2012

Pastikan Ada Harapan


Satu
            “Ipan! Tunggu! Awas kalau loe lari lagi, gue bunuh beneran loe!”
            Teriakan itu melah membuat anak laki-laki gemuk yang bernama Ipan itu menjulurkan lidahnya sambil terus berlari membawa selembar kertas bertulisan
Xin kalau tidur itu ngorok lho!!
Kwkwkwkw
            Anak bernama Xin itu terus mengejar Ipan, hingga Ipan kembali lolos.
            “Awas aja kalau jumpa, gue kurusin loe!” teriak Xin di depan gedung tua yang hamper roboh di belakang rumah Ipan.
            Suasana pagi minggu di komplek De Ja Vu itu selalu ramai dengan anak-anak yang berkeliaran di setiap lorong komplek, tak terkecuali lorong D, lorong rumah Ipan, Xin, Hena, Kiki, Joy, dan si manis Shaura_anak yang begitu manis dari seluruh anak perempuan di seluruh komplek, sifatnya yang ramah, baik dan tidak pelit itu membuatnya disenangi banyak orang. Persahabatan antara ke enam anak-anak itu sudah sedari kecil, bertahan hingga mereka memasuki sekolah SD yang sama, namun saat kelas 4 SD, salah satu dari mereka yang tak lain adalah Ipan, harus pindah ke luar kota, karena tuntutan pekerjaan kedua orang tuanya. Mereka amat sedih, terutama Joy, karena Ipan baginya sudah seperti adiknya sendiri.
            “Ipan, jangan pernah lupain kita ya.” Kata Hena lembut sambil memeluk Ipan.
            “Iya, kamu harus terus ingat kita, kalau ntar kamu udah gedek, main-main kesini lagi ya.” Kali ini kata Shaura yang juga sambil memeluk Ipan.
            “Gue tetap sedih loe pergi, Pan. Nyampek sana jangan lupa hubungi kita-kita ya.” Kata Xin yang hanya tersenyum tipis, Ipan mulai menitikkan air mata, namun tak bersuara, sedari tadi ia hanya menganggukkan kepalanya.  
            Joy hanya memeluk Ipan tanpa kata. Keduanya menangis, yang lain pun ikut menangis.
            “Jaga diri baik-baik, ya.” Kata mereka serentak saat mobil keluarga Ipan mulai melaju.
            “Kenapa Ipan nggak ngomong apa-apa, ya?” tanya Kiki sambil geleng-geleng kepala.
            Mereka melambaikan tangan hingga mobil itu menghilang dari pandangan mereka. Mereka memegang erat barang pemberin Ipan. Barang yang amat disenanginya, gantungan kayu yang diukir berbentuk kamera, dan masing-masing bertulisan nama mereka.
            “Ipan, tadi mama lihat, kenapa kamu diam terus, nggak ada yang mau kamu sampain ke mereka?” tanya mama sambil mengelus rambut Ipan.
            Ipan hanya menggelengkan kepalanya.
            “Efek dari sedih yang mendalam, jadinya nggak bisa ngomong, tuh.” Kata Irul sambil tersenyum tipis.
            “Udah dong, Pan, ntar juga kita main-main ke komplek lagi kok.” Lanjut Irul sambil mengacak-ngacak rambut adik satu-satunya itu. Ipan hanya bisa tersenyum kecut.
            Perjalanan dari Semarang ke Jakarta membutuhkan waktu yang cukup lama. Ipan, Irul maupun mama dan juga papa tertidur lelap, sedangkan sang supir masih terjaga meski sebenarnya sudah mulai mengantuk. Dipersimpangan jalan, sang supir memilih ngebut agar cepat sampai ke tempat sebuah penginapan yang sudah tidak jauh dari tempatnya berada sekarang, namun kecepatannya itu tak mampu dihentikan saat seuah truk besar dari arah yang berlawanan melaju kearahnya. Dan mobil itu pun meluncur dengan mulusnya ke bawah jurang yang begitu dalam.

&&&&&
6 tahun kemudian..
            “Nggak ada yang perlu dikhawatirkan, ini nggak berbahaya kok.” Kata sang dokter sambil tersenyum tipis. Dan itu membuat Joy, Xin dan juga Shaura lega.
            Saat ke sekolah bareng Xin, Shaura, dan Joy keserempet motor yang melaju cukup cepat, tapi syukur Shaura tak apa-apa.
            “Syukur lah kalau gitu. Terima kasih dok.” Kata Joy mewakili yang lain.
            Mereka pun keluar dari rumah sakit.
            “Makanya, lain kali, kalau jalan itu mesti hati-hati, ya.” Kata Joy lembut sambil tersenyum tipis.
            “Iya.” Sahut Shaura sambil mengangguk pelan.
            “Ya udah, kita jalan dulu ya, Joy. Udah mau masuk, ni.” Kata Xin sambil memopong Shaura pelan.
            “Yupz, hati-hati ya.”
            Joy menatap mereka hingga mereka menghilang dari pandangannya.

&&&&&
            “Loe yakin mau masuk kelas, nggak pulang aja, istirahat di rumah?” tanya Xin saat mereka melewati koridor sekolah yang sepi karena proses belajar-mengajar sedang berlangsung di setiap kelas.
            Gadis berlesung pipi itu hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.
            Tok tok
            “Maaf pak, kami terlambat.” Kata Xin saat masuk kelas, dan menemukan wajah wali kelasnya yang seram sedang berada di kelasnya.
            “Kali ini, apa karena nenek kamu meninggal lagi?” tanya wali kelasnya ketus, namun menimbulkan sedikit keriuhan di dalam kelas karena sebagian mereka tertawa mendengar hal itu.
            “Nggak pak, tadi Shaura keserempet motor, jadi ke puskesmas dulu.” Kata Xin sedikit tersenyum.
            “Ya sudah, kalian boleh duduk.” Kata pak Dimas itu sambil geleng-geleng kepala.
            Ke duanya kembali ke tempat duduk mereka.

&&&&&


 to be continue
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar