Satu
“Ipan! Tunggu! Awas
kalau loe lari lagi, gue bunuh beneran loe!”
Teriakan itu melah
membuat anak laki-laki gemuk yang bernama Ipan itu menjulurkan lidahnya sambil
terus berlari membawa selembar kertas bertulisan
Xin kalau tidur itu ngorok lho!!
Kwkwkwkw
Anak bernama Xin itu
terus mengejar Ipan, hingga Ipan kembali lolos.
“Awas aja kalau jumpa,
gue kurusin loe!” teriak Xin di depan gedung tua yang hamper roboh di belakang
rumah Ipan.
Suasana pagi minggu di
komplek De Ja Vu itu selalu ramai dengan anak-anak yang berkeliaran di setiap
lorong komplek, tak terkecuali lorong D, lorong rumah Ipan, Xin, Hena, Kiki,
Joy, dan si manis Shaura_anak yang begitu manis dari seluruh anak perempuan di
seluruh komplek, sifatnya yang ramah, baik dan tidak pelit itu membuatnya
disenangi banyak orang. Persahabatan antara ke enam anak-anak itu sudah sedari
kecil, bertahan hingga mereka memasuki sekolah SD yang sama, namun saat kelas 4
SD, salah satu dari mereka yang tak lain adalah Ipan, harus pindah ke luar
kota, karena tuntutan pekerjaan kedua orang tuanya. Mereka amat sedih, terutama
Joy, karena Ipan baginya sudah seperti adiknya sendiri.
“Ipan, jangan pernah
lupain kita ya.” Kata Hena lembut sambil memeluk Ipan.
“Iya, kamu harus terus
ingat kita, kalau ntar kamu udah gedek, main-main kesini lagi ya.” Kali ini
kata Shaura yang juga sambil memeluk Ipan.
“Gue tetap sedih loe
pergi, Pan. Nyampek sana jangan lupa hubungi kita-kita ya.” Kata Xin yang hanya
tersenyum tipis, Ipan mulai menitikkan air mata, namun tak bersuara, sedari
tadi ia hanya menganggukkan kepalanya.
Joy hanya memeluk Ipan
tanpa kata. Keduanya menangis, yang lain pun ikut menangis.
“Jaga diri baik-baik,
ya.” Kata mereka serentak saat mobil keluarga Ipan mulai melaju.
“Kenapa Ipan nggak
ngomong apa-apa, ya?” tanya Kiki sambil geleng-geleng kepala.
Mereka melambaikan
tangan hingga mobil itu menghilang dari pandangan mereka. Mereka memegang erat
barang pemberin Ipan. Barang yang amat disenanginya, gantungan kayu yang diukir
berbentuk kamera, dan masing-masing bertulisan nama mereka.
“Ipan, tadi mama
lihat, kenapa kamu diam terus, nggak ada yang mau kamu sampain ke mereka?”
tanya mama sambil mengelus rambut Ipan.
Ipan hanya
menggelengkan kepalanya.
“Efek dari sedih yang
mendalam, jadinya nggak bisa ngomong, tuh.” Kata Irul sambil tersenyum tipis.
“Udah dong, Pan, ntar
juga kita main-main ke komplek lagi kok.” Lanjut Irul sambil mengacak-ngacak
rambut adik satu-satunya itu. Ipan hanya bisa tersenyum kecut.
Perjalanan dari
Semarang ke Jakarta membutuhkan waktu yang cukup lama. Ipan, Irul maupun mama
dan juga papa tertidur lelap, sedangkan sang supir masih terjaga meski
sebenarnya sudah mulai mengantuk. Dipersimpangan jalan, sang supir memilih
ngebut agar cepat sampai ke tempat sebuah penginapan yang sudah tidak jauh dari
tempatnya berada sekarang, namun kecepatannya itu tak mampu dihentikan saat
seuah truk besar dari arah yang berlawanan melaju kearahnya. Dan mobil itu pun
meluncur dengan mulusnya ke bawah jurang yang begitu dalam.
&&&&&
6 tahun kemudian..
“Nggak ada yang perlu
dikhawatirkan, ini nggak berbahaya kok.” Kata sang dokter sambil tersenyum
tipis. Dan itu membuat Joy, Xin dan juga Shaura lega.
Saat ke sekolah bareng
Xin, Shaura, dan Joy keserempet motor yang melaju cukup cepat, tapi syukur
Shaura tak apa-apa.
“Syukur lah kalau
gitu. Terima kasih dok.” Kata Joy mewakili yang lain.
Mereka pun keluar dari
rumah sakit.
“Makanya, lain kali,
kalau jalan itu mesti hati-hati, ya.” Kata Joy lembut sambil tersenyum tipis.
“Iya.” Sahut Shaura sambil
mengangguk pelan.
“Ya udah, kita jalan
dulu ya, Joy. Udah mau masuk, ni.” Kata Xin sambil memopong Shaura pelan.
“Yupz, hati-hati ya.”
Joy menatap mereka
hingga mereka menghilang dari pandangannya.
&&&&&
“Loe yakin mau masuk
kelas, nggak pulang aja, istirahat di rumah?” tanya Xin saat mereka melewati
koridor sekolah yang sepi karena proses belajar-mengajar sedang berlangsung di
setiap kelas.
Gadis berlesung pipi
itu hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.
Tok tok
“Maaf pak, kami terlambat.”
Kata Xin saat masuk kelas, dan menemukan wajah wali kelasnya yang seram sedang
berada di kelasnya.
“Kali ini, apa karena
nenek kamu meninggal lagi?” tanya wali kelasnya ketus, namun menimbulkan
sedikit keriuhan di dalam kelas karena sebagian mereka tertawa mendengar hal
itu.
“Nggak pak, tadi
Shaura keserempet motor, jadi ke puskesmas dulu.” Kata Xin sedikit tersenyum.
“Ya sudah, kalian
boleh duduk.” Kata pak Dimas itu sambil geleng-geleng kepala.
Ke duanya kembali ke
tempat duduk mereka.
&&&&&
to be continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar