Mulanya,
aku masih berfikir dua kali untuk menjawab ‘iya’ dalam situasi yang buruk ini.
Namun, aku juga tak ingin kehilangan orang yang paling kusayang. Aku hanya
mampu menganggukkan kepalaku, menandakan bahwa aku bersedia menjadi pendamping
hidupnya. Dan sekarang wanita yang berdiri dihadapanku kini menatapku tajam.
“Kamu
serius, Sha?” Tatapan Kei membuatku hanya mampu tersenyum dan kembali menganggukkan
kepalaku.
Dalam
sekejab, Kei langsung menyentuh lembut kepalaku. Sikapnya yang seperti ini
mampu mempuatku tersipu.
“Thanks.”
Katanya lembut.
Aku
terkejut dengan sikap wanita yang sedari tadi berdiri di samping Kei, ia
menampar Kei begitu keras, hingga pipinya memerah. Ia menatap Kei tajam, dan
aku bisa melihat dengan jelas matanya berkaca-kaca.
“Kei,
loe benar-benar keterlaluan! Jadi selama ini loe jalan sama gue cuma untuk
senang-senang doang?! Rese’ loe, Kei!!” Kata wanita itu menatap Kei penuh
kebencian sebelum akhirnya pergi meninggalkan kami yang masih diam.
“Kei,
sebaiknya kamu kejar dia, dan selesaikan semuanya, sebelum kita menikah, kamu
harus bisa bertanggung jawab dengan semua perbuatanmu, Kei.” Kataku sambil
menatapnya tenang.
Kei
menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya pergi mengejar perempuan yang tadi
menamparnya itu. Aku tak tahu apa yang terjadi antara Kei dengan perempuan itu,
namun, aku yakin, semua akan terselesaikan, semoga.
^^^
Pagi
ini begitu dingin, selain karena daerah pegunungan yang dingin, awan hitam juga
hadir menambah kedinginan. Ku pandangi sekelilingku dengan tersenyum, selain
karena pemandangannya yang indah, pegunungan ini juga memiliki aura kesejukan.
Drrrt….
Drrrt….
Drrrt….
Ku raih
hp ku yang tak jauh dari tempatku berdiri.
“Halo?”
tanyaku saat suara di seberang terdengar riuh.
“Maafkan
aku, Sha. Aku harus menikahi Ziya. Maafkan aku, Sha, setelah ini, jangan pernah
kamu mencoba menghubungi atau pun menemuiku, karena aku tak ingin menyakitimu
lebih dari ini. Sekali lagi, maafkan aku, Sha.”
Kata-kata
dari seberang nyaris membuatku tak mampu berdiri kalau saja aku tak menyandarkan
punggungku ke dinding.
“Selamat
tinggal, Sha.”
Tut…
Tut…
Tut…
Apa ini
hanya mimpi? Kenapa hal ini begitu cepat terjadi, belum penuh satu hari, aku
dilamar, kemudian dengan mudahnya dicampakkan. Aku seperti barang saja, dengan
mudah menyerahkan hatiku karena cinta, namun dengan mudah pula, ia
menghancurkan hatiku.
Apa yang
harus aku lakukan?! Sejenak ku pandangi sekelilingku. Tak ada siapa pun di
sini, taka da mama, papa bahkan Shichi sang adik kesayanganku yang selalu bisa
membuatku tersenyum hanya dengan menatapnya.
Aku merindukan
mereka. Mama… aku harus bagaimana?
Dengan cepat
aku hubungi mama, dan menceritakan kejadian semalam. Nasihat mama membuatku
tenang dan bertekat melakukan apa yang mama sarankan. Lakukanlah satu kegiatan
yang bisa membuatku melupakannya.
Setelah
menutup obrolanku dengan mama, aku bergegas memesan tiket bepergian ke Dubai. Selain
karena tempatnya yang jauh, Dubai juga menjadi tempat yang akan sangat
membantuku untuk melupakannya, fikirku.. Ini adalah perjalanan pertamaku dan
aku yakin, aku akan bisa melupakan semua yang terjadi di sini. Mungkin aku juga
bisa membuat kegiatanku lebih padat, dengan menulis. Ya! Aku akan menulis semua
perjalananku di Dubai.. Semoga aku bisa.
Hijrah
Cinta menjadi pilihan pertamaku untuk tulisanku. Aku pergi untuk melupakan
cintaku yang di sini, dan aku yakin, aku akan mendapatkan cinta yang lebih baik
lagi, suatu saat nanti, Amin.
The End…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar